Status Musafir Orang Yg Kerja Di Lain Kota

Status Musafir Orang Pegawai

Status musafir orang yang 2 (Dua) hari di rumah 5 (lima) hari di tempat kerja di kota lain yang cukup jauh.

PERTANYAAN
Assalamu'alaikum Wr. Wb

Saya sebelumnya tinggal di Kota A, berhubung pekerjaan saya pindah ke Kota B yang jaraknya 225 km, namun rumah dan keluarga saya (Istri dan anak) masih di Kota A, setiap hari Sabtu dan Minggu saya kembali ke Kota A dan hari Senin - Jum'at saya di Kota B, bagaimanakah status musafir saya apakah di Kota A atau Kota B.

Wa'alaikumsalam Wr. Wb
Muhammad Amril jihadi

JAWABAN
Assalamu'alaikum Wr. Wb

Kota A adalah rumah anda bersama keluarga karena itu status Anda di kota A adalah mukim. Bukan musafir.

Sedangkan kota B yang berjarak 225 km tempat Anda bekerja selama 5 hari setiap minggunya itu diperinci sebagai berikut:

(a) Selama dalam perjalanan dari rumah menuju kota B, status anda adalah musafir dan mendapat kemudahan atau keringanan syariah (rukhsoh) layaknya seorang musafir dalam arti dapat (i) mengqashar dan (ii) menjamak shalat.
Selagi tidak berniat tinggal (mukim) di tempat kerja tersebut, maka Anda tetap berstatus sebagai musafir walaupun tinggalnya cukup lama. Menurut Ibnu Mundzir ini pendapat mayoritas ulama fiqih.

(b) Apabila berniat untuk tinggal di kota B -- tempat kerja Anda, maka ulama fiqih berbeda pendapat tentang berapa hari status kemusafiran Anda berbuab menjadi mukim atau penduduk tetap, rinciannya sbb:

(i) Madzhab Syafi'i dan Maliki berpendapat: seorang musafir apabila berniat tinggal di suatu tempat selama 4 (empat) hari-- selain hari berangkat dan pulangnya-- maka dia statusnya menjadi mukim dan tidak mendapat rukhsah jamak dan qashar shalat. Dalam sebuah hadits sahih riwayat Bukhari Muslim (muttafaq alaih) Nabi bersabda: يقيم المهاجر بمكة بعد قضاء نسكه ثلاثاً
Artinya: Orang muhajir (berstatus) mukim di Makkah setelah selesai ibadah hajinya pada hari ketiga.

Ulama fiqih dari kedua madzhab memaknai hadits ini sebagai perubahan status musafir menjadi mukim setelah tinggal di suatu tempat selama 3 hari.

(ii) Madzhab Hanafi: seorang musafir menjadi mukim apabila dia berniat mukim atau tinggal di suatu tempat selama 15 hari atau lebih. Artinya, apabila seorang musafir berniat tinggal di bawah 15 hari, maka statusnya tetap musafir dan mendapat kemudahan shalat. Sedang apabila berniat tinggal lebih dari 15 hari maka statusnya menjadi mukim dan shalatnya sebagaimana shalatnya mukim.

(iii) Madzhab Hanbali: seorang musafir berubah statusnya menjadi mukim apabila berniat tinggal di tempat yang baru lebih dari 4 hari atau lebih dari 20 shalat fardhu. Dihitung waktu 4 hari adalah masa berangkat dan pulangnya.

KESIMPULAN

Status Anda adalah mukim di kota A. Dan musafir di kota B asal tidak lebih dari 4 hari menurut pendapat yang rajih (unggul).

Untuk langganan artikel Alkhoirot Net via Email gratis, klik di sini!

No comments:

Post a Comment

Kirim konsultasi Agama ke: alkhoirot@gmail.com Cara Konsultasi lihat di sini!