Monday, June 09, 2014

Cara Membina Keluarga Bahagia


Cara Membina Keluarga Bahagia
TALAK BERAPA YANG TELAH TERJADI?

Assalamua'laikum Wr. Wb
Bismillahirrahmanirrahiim....

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada pengasuh layanan Konsultasi Agama Islam Ponpes Al-Khoirot, Malang, akhirnya saya dapat menemukan tempat untuk mencari jawaban atas ketidakpahaman dan kebingungan saya dalam menghadapi masalah rumah tangga saya dan semoga melalui layanan ini dapat membuka dan memberikan jawaban dan jalan yang terang bagi masa depan rumah tangga saya.

TOPIK KONSULTASI ISLAM
  1. TALAK BERAPA YANG TELAH TERJADI?
  2. CARA KONSULTASI SYARIAH ISLAM

Saya dan suami memiliki watak yg keras. Akhir2 ini kami seringkali bertengkar mulai dr hal kecil, kesalahan2 dia yg selalu diulang, saling mengejek, meremehkan satu sama lain, tidak menghargai, tidak mau disalahkan, merasa benar terus, dll. Selain itu masih banyak pemicu lainnya yang tidak bisa saya uraikan dalam email ini karena mungkin akan terlalu bertele-tele.

Puncaknya sekitar pertengahan Desember tahun lalu, kami bertengkar cukup hebat dikarenakan saya tidak bs terima dengan sikap suami saya yang tidak mau dikritik dan krn kritikan saya itu, dia berani membentak2 saya di depan orang tua (ibu) saya dgn bahasa yang menurut saya kurang pantas (ala suroboyoan).

Ibu saya (dikesempatan yg berbeda) mengatakan pada saya bahwa perasaannya ikut sakit melihat anaknya dibentak2 seperti itu dan saya tau sekali bahwa ibu saya menangis sedih karena harus menyaksikan/mendengar pertengkaran kami.
Saya hanya bisa meminta maaf pada beliau dan berkali2 ibu saya mengatakan, benar2 tidak menyangka kalau suami saya bisa seperti itu.. "mama yang melahirkan kamu aja gak pernah marah dan bentak2 seperti itu.... mama benar2 gak rela kamu dperlakukan seperti itu...kamu itu sudah bantu banyak buat keluarga....tp diperlakukan seperti keset"

Saya dan suami terus melanjutkan pertengkaran (tidak di depan ibu saya lagi) dan sampai akhirnya, keluar perkataan saya yang secara persisnya, saya sudah tidak ingat lagi tp intinya saya mengatakan "buyar aja...buyar aja kita".....kemudian suami saya mengiyakan "yo wes...buyar...kamu proses aja kan kamu yang minta". Saya beranggapan telah jatuh Talak 1 buat saya saat itu.

Dan seingat saya setelah sekian lama saling berdiam2an...tdk lebih dari sebulan (mungkin)... tanpa ada permintaan maaf atau basa-basi utk berbaikan...suami mengajak saya utk berhubungan, tetapi saya tolak....dia tidak menyadari perbuatannya yg sudah menyakitkan buat saya dan perkataannya sendiri yang sudah mengiyakan utk kita saling berpisah.. Seingat saya, saat itu dia marah lagi dan berucap...."sak karepmu wes...pisah ya pisah" Saat itu saya merasa bahwa sudah jatuh Talak 2 untuk saya, karena suami sudah menyatakan keinginan berpisah sebanyak 2x walaupun dengan kiasan.

Selang beberapa lama kemudian, dia akhirnya meminta maaf sambil meminta saya membaca artikel ttg TALAK dan menurut dia, kita masih bisa rujuk walaupun berbaikan berdua saja tanpa ada saksi. Karena pengetahuan agama saya kurang, saya membenarkan hal tsb dan kita sepakat untuk rujuk.

Tapi sekitar pertengahan Mei lalu, kembali lg kami bertengkar.....dan samar-samar saya mendengat perkataan suami yang marah "percuma rujuk-rujuk"....sambil berjalan pergi.... Kalimat itu saya artikan bahwa suami mengucapkan Talak 3 untuk saya.... karena dengan perkataan itu, artinya dia menghendaki perpisahan yg juga menggunakan bahasa yang tidak langsung/kiasan.

Saya benar2 merasa sakit hati dan benar2 bingung.. .saya tidak berani membicarakan hal ini kpd siapapun. Saya hanya terus berdoa dan meminta petunjuk Allah SWT, apakah benar ini artinya saya sudah diceraikan suami saya?

Dan saat saya melaksanakan sholat Dzhuhur pada hari Jum'at 2minggu lalu, seperti ada bisikan atau (saya tidak bisa menemukan kata2 yg tepat) terngiang2 terus dlm benak dan hati saya, bahwa itu tandanya saya benar sudah diceraikan
karena suami sudah menyesal dengan rujuk yang pernah dilakukan...

Saya menangis terus-menerus dalam sholat saya...dlm hati kecil, saya hanya pasrah jika ini memang benar petunjuk Allah SWT berarti saya harus menerima keadaan ini, walau teramat sangat berat rasanya...

Sejak kejadian itu...saya terus berdiam diri namun juga terus berharap bahwa suami saya akan meminta maaf kembali dan menyesali perbuatannya Akan tetapi, rupanya dia tidak menyadari perkataannya saat itu.... kembali lagi setelah sekian lama setelah kita berdiam2an dan bicara hanya seperlunya saja.... suami mengajak saya utk berhubungan. .saya tolak dia (karena saya mempercayai petunjuk yg saya terima saat sholat dzhuhur waktu itu)

waktu itu saya katakan bahwa "kamu itu sudah menceraikan saya..." dia berkata "kamu ngomong apa sih?....sempel (gila)..." dan saya ulangi perkataan yang pernah dia lontarkan waktu itu untuk mengingatkan dia, "waktu itu kamu bilang....percuma rujuk2....itu artinya apa, klo gak sama aja kamu pengen pisah dari aku.....kamu itu sudah menceraikan aku"

Tapi rupanya, dia tidak merasa bahwa dia mengucapkan kata2 itu..... "kapan aku ngomong gitu" .....

Saya hanya bisa menangis dan histeris...saat itu saya mengatakan... "kamu sama aja sudah menceraikan aku...kamu sudah bebas sekarang....secara agama kita udah berpisah, tp kamu gak usah ceraikan aku secara formal...aku gak mau anak2 sedih karena gak punya keluarga yang utuh....kita sandiwara aja tetap seperti suami istri.... gak usah ada orang tau...saya izinkan kamu kalau mau menikah lagi"

trus dia berkata "terserah koen ... sak karepmu" dan berjalan kebelakang meninggalkan saya setiap ada pertengkaran, selalu saja tidak langsung bisa kita selesaikan saat itu juga, termasuk pertengkaran sore itu....

Sebenarnya, setiap hari saya terus menunggu bahwa suami akan datang dan menyatakan penyesalannya, karena sesungguhnya saya merasakan sakit dan tidak kuat dengan keadaan ini. Tapi saat2 itu tidak juga kunjung datang.....

Sampai akhirnya, saya tulis surat dan mengeluarkan semua unek2 dan perasaan saya... Tapi suami tetap tidak bergeming....

Ketika saya mempertanyakan reaksinya atas surat tsb....suami saya malah mencibir "bisikan apa sih yg kamu maksud itu?....bisikan jin?...katanya kamu gak bisa tau isi hatinya orang koq sekarang malah percaya sama bisikan2.. aneh kamu itu. aku lho bener2 gak merasa ngomong itu ke kamu....gak pernah aku ngomong...cerai..cerai...cerai aku anggap ini ya masalah kecil....gak perlu dibesar2kan....gak usah disebul asap supaya gak jadi api"...inti perkataannya seperti itu

Ya Allah....apa yang harus saya perbuat saat ini. Saya ingin menarik perkataan saya tentang perceraian...tentang bersandiwara tetap seperti suami istri....dan benar2 tidak ingin mempercayai yang ada dalam hati saya....

Pengasuh yang terhormat, apakah semua yang ada dalam pikiran dan hati saya ini benar? Benarkan sudah jatuh Talak 1, Talak 2 dan Talak 3 untuk saya? Saat ini, posisi saya sudah bercerai secara agama? Atau justru suami saya yang sesungguhnya benar, bahwa dia belum menceraikan saya? Apa yang harus saya lakukan untuk melanjutkan kehidupan rumah tangga saya ini?

Saya terlalu sakit dan kalut sehingga emosi saya tidak bisa saya kendalikan dan akhirnya sering mengeluarkan kata-kata yang saya sesali kemudian. Sebenarnya saya benar2 berharap adanya perdamaian di antara kita....terutama permohonan maaf dari suami saya dan saya ingin dia benar2 menyadari kesalahannya.

Selama ini sy dianggap sebagai istri dan ibu yang tidak baik, dia selalu mengatakan itu, padahal dia sendiri masih belum bisa menjadi suami dan kepala rumah tangga yang baik pula.

Saya bekerja dan ikut menafkahi keluarga. Tapi suami saya sepertinya tidak menyadari itu. Sampai saat ini, hampir 10 tahun usia pernikahan kita & sudah dikaruniai 2 orang putri, saya belum pernah menerima secara rutin uang untuk memenuhi kebutuhan sehari2 ataupun kebutuhan sandang....untuk kebutuhan papan/KPR baru bisa dibayarkan langsung dari suami saya 2-3 thn belakangan ini. Saya merasa bisa menggunakan uang penghasilan saya utk pengeluran2 rumah tangga tsb, saya pun sebenarnya tidak mempermasalahkan hal itu. Tapi ada kalanya (seringkali bahkan) dia meminta uang kepada saya untuk keperluan2nya yang lain atau uang untuk membayar cicilan rumah karena uang nya sudah digunakan yang saya tidak tau jelas pengeluaran2nya digunakan kemana, berapa dan untuk apa... Hal2 inilah yang terkadang memicu pertengkaran di antara kami dan masih ada pemicu lainnya yang tidak bisa saya sebutkan semua.

Tolong beri penjelasan kepada saya.
1. Bagaimana sebenarnya dalam agama Islam keadaan pernikahan kami? Jika masih ada solusi yang bisa kami lakukan, langkah yang seperti apa dan bagaimana cara memperbaikinya?
2. Bagaimana menyadarkan suami dari kekhilafannya ataupun bagaimana cara saya untuk memperbaiki diri?

Mohon segera di respon email saya. Saya tidak bisa berkonsentrasi dlm pekerjaan dan juga resah setiap hari akan keadaan keluarga saya ini. Wassalamualaikum Wr. Wb


JAWABAN

1. Hal pertama yang ingin kami tanggapi adalah tiga perkataan suami saat bertengkar dengan anda dan apakah itu berakibat perceraian secara agama:

(a) Perkataan suami pertama pada istri "yo wes...buyar, kamu proses aja kan kamu yang minta" -> perkataan ini termasuk dalam kategori talak kinayah (cerai implisit / tidak langsung). Hukum talak kinayah adalah ia jatuh talak apabila saat mengatakan itu disertai niat oleh suami. Oleh karena itu, silahkan tanya pada suami, apakah ia berniat menceraikan anda saat mengeluarkan pernyataan tersebut. Kalau tidak ada niat, maka talak tidak terjadi.

(b) Perkataan kedua dari suami "sak karepmu wes...pisah ya pisah" -> Perkataan ini masuk kategori talak sharih (cerai eksplisit / langsung). Hukum talaknya sah dan terjadi. Dan betul kata suami anda, bahwa untuk rujuk tidak perlu ada saksi, cukup suami mengatakan "Aku rujuk" maka sah-lah rujuknya.

(c) Perkataan ketiga dari suami "percuma rujuk-rujuk" -> kalimat dari suami ini sama sekali tidak ada arah atau indikasi ke perceraian. Sehingga talak tidak terjadi.

Kesimpulannya adalah: bahwa suami anda baru menceraikan anda hanya talak 1 (satu) yang pasti. Yakni pada perkataan kedua (poin 'b'). Sedangkan pada perkataan suami yang pertama, belum tentu terjadi talak kalau tidak ada niat dari suami. Kalaupun disertai niat, baru baru terjadi talak 2 (dua) antara anda berdua.

Dengan demikian, maka anda dan suami masih sah statusnya sebagai suami istri seandainya pun talak kinayah-nya disertai dengan niat. Apalagi kalau ternyata tidak ada niat talak dari suami pada kasus pertama. Lebih detail baca: Talak dalam Islam (Panduan Lengkap).

Baca juga:

- Hukum Talak yang Diucapkan Saat Sedang Sangat Marah
- Suami Sering Mengucapkan Kata Cerai
- Cara Suami Rujuk ke Istri yang Talak Raj'i

2. Untuk memperbaiki kehidupan rumah tangga atau keluarga yang sedang dilanda konflik, yang diperlukan adalah kesadaran kedua belah pihak dengan saling menyadari posisi masing-masing dan konsisten untuk berusaha saling mengalah dan tidak memperbesar masalah. Ada baiknya hal ini dimulai dari pihak istri terlebih dahulu dengan bersikap "memberi" bukan "meminta".

Yang dimaksud memberi di sini adalah: (a) selalu berusaha meminta maaf setiap melakukan kesalahan sekecil apapun pada suami dan tidak terlalu menuntut maaf dari suami yang melakukan kesalahan; (b) selalu berusaha menghargai dan mensyukuri hal baik yang dilakukan suami untuk keluarga sekecil apapun itu, serta hindari mengatakan hal buruk; (c) berusaha diam saat suami memarahi istri, atau tinggalkan suami apabila tidak tahan untuk melawan ucapannya.

InsyaAllah kalau istri sudah "memberi" hal-hal baik pada suami, maka suami akan juga ikut memberikan egonya pada istri dengan cara yang sama.

Untuk panduan lebih detail untuk meraih kedamaian rumah tangga, lihat kumpulan artikel di link berikut:
Silahkan pilih artikel yang paling anda butuhkan saat ini terlebih dahulu.

- Merajut Keluarga Bahagia
- Mencapai Keluarga Sakinah



Cari artikel lain:




Copy link berikut untuk referensi kutipan:

Jangan lupa baca yang ini juga ..