Friday, December 04, 2015

Konsultasi Bahasa Arab


Konsultasi Bahasa Arab
Konsultasi Bahasa Arab modern dan klasik bagi yang ingin belajar bahasa Al-Quran meliputi tanya jawab terkait ilmu nahwu, sharaf, dan balaghah termasuk ma'any, bayan badi'. Yang juga dapat ditanyakan adalah makna suatu kosa kata (mufradat) baik yang bermakna tunggal, muradif (anonim) atau musytarak. Yang qiyasi maupun non-qiyasi. Bahasa Arab modern (al-lughah al-haditsah) atau Arab Al-Quran atau klasik (al-lughah al-turatsiyah) Kirim pertanyaan via email ke: alkhoirot@gmail.com dengan menuliskan kata [Bahasa Arab] dalam subyek email.

TOPIK BAHASA ARAB
  1. Panduan Umum Bahasa Arab
  2. Kajian Khusus Gramatika Bahasa Arab
  3. Studi Kasus
    1. Ataf Dan Maktuf Alaih Fi'il Apakah Harus Sama?
    2. Belajar Kitab Nahwu Terbaik
    3. Athaf Fi'il Amar Ke Fi'il Madhi, Bolehkah?
    4. Isim Ghoiru Munsharif Karena Alif Ta'nits Ikut Wazan Apa Saja?
  4. CARA KONSULTASI SYARIAH ISLAM

PANDUAN UNTUK BELAJAR BAHASA ARAB

Berikut artikel yang membahas tentang panduan umum dalam belajar bahasa Arab mulai tingkat dasar, yakni belajar gramatika, sampai bimbingan mengikuti pelajaran bahasa Arab modern dan klasik melalui internet.

- Belajar Bahasa Arab bagi Pemula
- Kursus Bahasa Arab
- Belajar Bahasa Arab Modern via Internet
- Cara Cepat Membaca Kitab Kuning


KAJIAN KHUSUS

Berikut artikel bagi pelajar bahasa Arab tingkat lanjut yang ingin memahami gramtika bahasa Arab secara lebih mendalam.

- Kata Benda (Isim) Bahasa Arab
- Kata Kerja (Fiil) Bahasa Arab
- Kata Tugas Harf (Partikel) dan Ikrob Ma, Man, Mata
- Huruf Lam dalam Bahasa Arab
- Ustadz Definisi dan Asal Mula Kata


STUDI KASUS

Beberapa konsultasi yang ditanyakan pembaca KSIA tentang bahasa Arab dapat dilihat dalam tulisan di bawah:


ATAF DAN MAKTUF ALAIH FI'IL APAKAH HARUS SAMA?

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas jawabannya.

Mohon ma’af bukan bermasud mendebat, hanya ingin lebih tahu saja. Saya dapat penjelasan link yang ditunjukkan kepada saya seperti ini:

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مُعْرِضُونَ

Contoh diatas menunjukkan bahwa antara fi’il yang menjadi ma’thuf tidak harus sama dengan fiil yang menjadi ma’thuf alaih. Misalnya saja fiil madhi bisa ma’thuf kepada fiil amr atau fiil mudhari.

Jadi fiil madhi تَوَلَّيْتُمْ menjadi ma’thuf kepada fi'il amr آتُوا yang menjadi ma’thuf alaih.

Sedangkan menurut jawaban Tim Alkhoirot bahwa fi’il yang menjadi ma’thuf harus sama dengan ma’thuf alaih.

1. Apakah lantas dengan keterangan diatas fi'il amr "barik" boleh athaf kepada fi'il madhi "sholla"?

Mohon penjelasan.

JAWABAN

1. Aturan dasarnya tetap seperti itu dalam soal ataf yakni bahwa ataf harus sama dengan maktuf alaih (yang diikuti) dalam segi i'rab dan jenis kata (isim atau fi'il)-nya. Dalam segi fi'il, maka kesamaan itu harus meliputi zaman dan jenis. Hasan Abbas dalam Al-Nahw Al-Wafi 1/62 menyatakan:

ويشترط لعطف الفعل على الفعل أمران:
أولهما: اتحادهما في الزمن؛ بأن يكون زمنهما معا ماضيا، أو حالا، أو مستقبلا؛ سواء أكانا متحدين في النوع "أي: ماضيين، أو: مضارعين" أم مختلفين: فلا يمنع من عطف أحدهما على الآخر تخالفهما في النوع. وإذا اتحدا زمانا.

ثانيهما: اتحادهما إن كان مضارعين في العلامة الدالة على الإعراب -"من حركة أو سكون، أو غيرهما"- ويتبع هذا اتحاد معنيهما في النفي والإثبات؛ فإذا كان المعطوف عليه" مضارعا مرفوعا، أو منصوبا، أو مجزوما، وجب أن يكون المضارع "المعطوف". كذلك وأن يكون معنى المعطوف كالمعطوف عليه في النفي والإثبات؛ فكما يتبعه في علامات الإعراب يتبعه فيهما معنى

Artinya: Syarat dalam ataf fi'il pada fi'il ada dua. Pertama, harus sama dalam zamannya yakni sama-sama madhi (past tense), hal (present tense), mustaqbal (future tense). Baik sama dalam segi jenisnya yakni sama-sama madhi, mudharik atau berbeda. Maka tidak terlarang atafnya salah satunya pada yang lain yang berbeda dalam segi jenis asalkan sama dari segi zaman.

Kedua, apabila mudharik harus sama dalam segi i'rabnya, yakni harkat, sukun atau lainnya, dan mengikuti kesamaan makna keduanya dalam segi positif atau negatif. Apabila maktuf alaih mudharik rafak, atau nashab, atau jazm, maka wajib mudharik yang ataf begitu juga. Dan makna ataf harus seperti maktuf alaih dalam segi nafi (negatif) dan isbat (positif).

Kalau ternyata tidak sama, misalnya fi'il madhi ataf pada fi'il mudharik atau sebaliknya, maka ataf harus ditakwil supaya sama dengan maktuf alaih dalam segi zaman.

Adapun ketidaksamaan antara ataf dan maktuf alaih yang fi'il - yakni penakwilan dan ketidaksamaan- hanya terjadi pada Al-Quran, sedangkan dalam grammatika umum kesamaan itu harus dan biasa diberlakukan secara pasti sesuai aturan yang berlaku.

Jadi, dalam konteks pertanyaan anda, susunan menurut gramatika Arab yang berlaku adalah apabila kalimat pertama dimulai dengan sholla, maka kalimat berikutnya hendaknya memakai kata baaroka (sama-sama fi'il madhi). Apabila kalimat pertama adalah sholli, maka kalimat berikutnya hendaknya memakai kata baarik (sama-sama fi'il amar). Lebih detail lihat di sini.

_____________________


BELAJAR KITAB NAHWU TERBAIK

Assalamualaikum Mas, mau tanya ni.
1. Untuk belajar nahwu yg paling dasar, itu di mulai dari mana Mas. Sebab materi di ponpes udah ketinggalan.
Terima kasih sebelumnya.

JAWABAN

1. Kami beranggapan, kitab Jurumiyah tetap yang terbaik untuk belajar Nahwu dasar. Baca: Terjemah Kitab Jurumiyah

_____________________


ATHAF FI'IL AMAR KE FI'IL MADHI

Assalamu 'alaikum.
Ada ustadz ketika menutup do'anya dengan kalimat:

"WA SHOLLALLOOHU 'ALA SAYYIDINAA MUHAMMADIN WA 'ALAA AALIHI WA SHOHBIHI WA BAAROKA WASALLAM"

Ada juga ustadz lain yang menutup do'anya dengan kalimat:

"WA SHOLLALLOOHU 'ALA SAYYIDINAA MUHAMMADIN WA 'ALAA AALIHI WA SHOHBIHI WA BAARIK WASALLAM"

Ketika saya bertanya kepada Ustadz yang menggunakan lafadz "wa baaroka" beliau menjawab karena lafadz wa baaroka di 'athofkan kepada lafadz "sholla'

Dan ketika saya bertanya kepada Ustadz yang menggunakan lafadz "wa baarik" beliau mengatakan hal itu juga boleh namun beliau tidak memberikan alasannya kepada saya.

Manakah yang benar dari salah satunya tersebut?

Assalamu "alaikum.

JAWABAN

Kata sholla dan baaroka adalah fi'il madhi (kata kerja bentuk lampau). Sedangkan kata sholli dan baarik adalah fi'il amar (kata perintah).

Apabila kalimat pertama dimulai dengan sholla, maka kalimat berikutnya hendaknya memakai kata baaroka (sama-sama fi'il madhi).

Apabila kalimat pertama dimulai dengan sholli (fi'il amar), maka kalimat berikutnya hendaknya memakai kata baarik (sama-sama fi'il amar).

Kalau kalimat pertama memakai kalimat sholla (fi'il madhi), lalu kalimat kedua memakai baarik (fi'il amar), maka itu tidak benar menurut pendapat yang sahih. Walalupun ada pendapat yang membolehkan. Dalam ilmu nahwu ataf harus mengikuti ma'tuf alaih (yang diikuti). Contoh dalam QS Al-Baqarah 2:37 فتلقى آدم من ربه كلمات فتاب عليه Kata talaqqa adalah fi'il madhi. Kata yang jatuh setelahnya (ataf) yakni kata 'taaba' juga fi'il madhi.


_____________________


ISIM GHOIRU MUNSHARIF KARENA ALIF TA'NITS MAQSHUROH DAN MAMDUDAH IKUT WAZAN APA SAJA?

Assalamu alaikum Wr.Wb.
Isim goiru Munshorif yang mempunyai illat satu yaitu Alif ta'nis mamdudah dan Alif

ta'nis maqsuroh keduanya mempunyai berapa wazan.
Mohon jawabannya. Syukron Wassalamu Alaikum Wr.Wb.

JAWABAN

WAZAN ALIF TA'NIS MAQSUROH

Fa'la (فعلي), fi'la (فعلي), fu'la (فعلي),

Contoh:

سلمى ، وذكرى ، وليلى ، ودنيا ، ورضوى ، وحبلى ، ونجوى, ليلى ، ورضوى جرحى ، وقتلى

WAZAN ALIF TA'NIS MAMDUDAH

fa'la' (فعلاء), fu'ala' (فعلاء), fa'aliya' (فعلياء), af'ila' (أفعلاء),

Contoh:


صحراء , زكرياء , شعراء ، وأصدقاء حمراء ، وبيضاء

CATATAN:

Syarat ghoiru munsharif dengan alif ta'nis mamdudah adalah alif ta'nis-nya harus berada di urusan keempat atau lebih dalam susunan kata.

Apabila alif ta'nits berada di urutan ketiga, maka bukan ghoiru munshorif.
Contoh:

هواء ، وسماء ، ودعاء ، ورجاء ، ومواء ، وعواء

Adapun kata أشياء dianggap ghoiru munshorif tanpa ikut qiyas, detailnya lihat di sini



Cari artikel lain:




Copy link berikut untuk referensi kutipan:

Jangan lupa baca yang ini juga ..