Monday, April 18, 2016

Siksa dan Nikmat Kubur: Ruh atau Jasad?


Siksa dan Nikmat Kubur: Ruh atau Jasad?

YANG DAPAT AZAB KUBUR ITU ROH ATAU JASADNYA?

Bagaimana hal penyiksaan azab kubur? Sedangkan si mayit sudah tidak bernyawa, bagaimana dia merasakan azab kubur? Sedangkan jasadnya saja sudah hancur.

1. Pertanyaan saya : apanyakah yang di azab? Apakah nyawanya yang sudah ada di alam ghaib?
Mohon penjelasan nya , terima kasih .

TOPIK SYARIAH ISLAM
  1. YANG DAPAT AZAB KUBUR ITU ROH ATAU JASADNYA?
  2. MATI SURI DALAM ISLAM
  3. ANTARA INFAK KE MASJID ATAU PESANTREN TAHFIDZ
  4. MENERIMA IKLAN PROMOSI GEREJA
  5. AKAD JUAL BELI DUA KALI APA BOLEH?
  6. CARA KONSULTASI AGAMA


JAWABAN

1. Alam kubur disebut juga dengan alam barzakh. Ulama berbeda pendapat soal ini. Sebagian menyatakan ruhnya saja yang disiksa. Sebagian lagi menyatakan yang disiksa roh dan jasadnya. Sebagian lagi menyatakan ruhnya saja namun terkadang jasadnya juga merasakannya.

Pendapat yang sahih di kalangan Ahlussunnah Wal Jamaah menyatakan bahwa azab atau nikmat kubur itu dirasakan oleh badan dan rohnya.

Imam Nawawi dalam Syarah Muslim, hlm. 17/201, menyatakan penggambaran siksa atau nikmat kubur sebagai berikut:

فان قيل : فنحن نشاهد الميت على حاله في قبره فكيف يُسأل ويُقعد ويضرب بمطارق من حديد ولا يظهر له أثر ، فالجواب : أن ذلك غير ممتنع بل له نظر في العادة وهو النائم ، فإنه يجد لذة وآلاما لا نحس نحن شيئا منها ، وكذا يجد اليقظان لذة وآلما لما يسمعه أو يفكر فيه ولا يشاهد ذلك جليسه منه ، وكذا كان جبرئيل يأتي النبي صلى الله عليه وسلم فيخبره بالوحي الكريم ولا يدركه الحاضرون ، وكل هذا ظاهر جلى .

Artinya: Apabila ditanyakan: "Kami melihat keadaan mayit di kuburnya, bagaimana (mungkin) ia ditanya, didudukkan, dipukul dengan pukulan besi padahal tidak ada bekas apapun?" Jawabnya adalah: "Hal itu tidak mencegah (bukan berarti tidak terjadi). Bisa saja ia melihat dalam kebiasaan ketika ia sedang tidur di mana ia merasakan kenikmatan atau tersiksa yang tidak kita rasakan sama sekali darinya. Begitu juga orang yang sadar merasa nikmat atau sakit ketika ia mendengar atau berfikir padahal teman di sekitarnya tidak melihat hal itu. Begitu juga, malaikat Jibril datang pada Nabi menurunkan wahyu dan hal itu tidak diketahui oleh orang-orang yang hadir di sekitarnya. Ini semua sangat jelas."

Dari penjelasan Imam Nawawi di atas, dapat disimpulkan bahwa adanya siksa dan nikmat kubur itu terjadi pada ruh dan jasad manusia di alam barzakh (alam kubur). Baca juga: Keadaan Di Alam Kubur Bagi Muslim Dan Kafir

______________________


MATI SURI DALAM ISLAM

Terimakasih ustadz atas jawabannya

saya mau nanya lagi tentang mati suri.
1. dalam Islam itu ada istilah mati suri atau tidak
2. dan menurut agama Islam apa itu mati suri sebenarnya?

JAWABAN

1. Tidak ada mati suri dalam Islam. Yang ada adalah hidup atau mati beneran. Dua hal ini yang membedakan orang muslim akan kewajiban agama dan akhir dari kewajiban agama. Selama orang itu masih hidup, maka ia wajib melaksanakan perintah agama dan menjauhi larangannya. Dan kewajiban itu berakhir saat seseorang itu sudah menghembuskan nafas terakhirnya dan dimakamkan di tempat terakhirnya.

Adapun mati suri dalam pengertian orang yang mengalami pengalaman seperti orang yang mati (near death experience - NDE), maka tidak ada pembahasan khusus soal itu dalam Islam. Islam hanya mengenal ajaran bahwa orang yang sudah meninggal, maka ia akan (a) mengalami nikmat atau siksa kubur di alam barzakh atau alam kubur; dan (b) ia akan dibangkitkan kembali dari alam kubur pada hari kiamat dan akan diadili amal perbuatannya dan setelah itu akan ditentukan apakah dia masuk surga atau neraka.

Namun, kalau mati suri itu dialami pada sebagian orang, maka hal itu adalah suatu kemungkinan yang bukan mustahil. Namun apakah itu terjadi atau tidak, tidak berpengaruh pada pelaksanaan syariah Islam: yakni bahwa kalau orang yang mengalami mati suri dan hidup kembali maka ia kembali harus menjalani aturan syariah Islam karena ia dianggap orang yang masih hidup. Baca juga: Karma dalam Islam

______________________


ANTARA INFAK KE MASJID ATAU PESANTREN TAHFIDZ

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

Yth. pak Ustad,
Saya mohon informasi, mana yang lebih baik, lebih mulia, lebih banyak pahalanya, lebih banyak manfaatnya :

Seandainya, punya uang 2.000.000,-
1. di infak-kan melalui kotak amal di masjid dekat rumah, setiap hari 20.000,- selama 100 hari berturut-turut.
Masjid tersebut untuk dalam waktu dekat ini belum ada rencana untuk dibangun,
Dana yang diperoleh digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, seperti bayar listrik dan petugas kebersihan, dan untuk kebutuhan operasional lainnya.

2. Uang 2.000.000,- di sedekahkan ke pengelola rumah tahfidz sekaligus
misalnya ke : PPPA Daarul Qur'an (Program Pembibitan Penghafal Al-Quran Daarul Qur'an)

dari kedua pilihan itu mana yang lebih baik, lebih mulia, lebih banyak pahalanya, lebih banyak manfaatnya.

dengan hormat, mohon pula dijelaskan apa sebabnya.

JAWABAN

Menginfakkan harta untuk masjid dan untuk kalangan individu yang sangat membutuhkan, termasuk pada santri program tahfidz, adalah sama baiknya. Terkait pembangunan masjid, Allah menyebut secara khusus dalam QS An-Nur :36. Dan hadis sahih riwayat Muslim Nabi bersabda: "Barangsiapa membangun masjid, maka Allah membangun baginya masjid yang serupa di surga." Allah juga menyebut secara khusus orang yang membantu orang miskin seperti disebut dalam QS Al-Balad :16.

Oleh karena itu, akan lebih baik kalau anda membagi dua infak tersebut: untuk masjid dan untuk pesantren tahfidz. Tentu saja masjid yang disumbang tidak harus masjid yang berada di dekat anda, bisa saja masjid lain yang saat ini sedang sangat membutuhkan bantuan anda. Baca detail: Beda Infak, Sedekah dan Zakat

______________________


MENERIMA IKLAN PROMOSI GEREJA

Assalam Alaikum Wr. Wb.

Ustadz, saya ingin bertanya.
Saya ingin membuat mading untuk umum yang siapa saja boleh memasukkan poster kedalamnya dan tentu saja telah difilter. Lalu bagaimana ketika ada yang ingin menempelkan poster tentang sumbangan untuk gereja dimading saya?.
1. Apakah saya berdosa karena ikut memfasilitasi kelancaran pembangunan tempat ibadah lain atau tidak?. dan bagaimana hukumnya?.

JAWABAN

1. Ya, menurut mayoritas ulama (madzhab Syafi'i, Maliki, Hanbali), ikut terlibat dalam kelancaran pembangunan tempat ibadah umat lain itu berdosa. Imam Syafi'i dalam Al-Umm, hlm. 4/213, menyatakan:

وأكره للمسلم أن يعمل بنّاء، أو نجاراً، أو غير ذلك في كنائسهم التي لصلاتهم

Artinya: Aku tidak suka seorang muslim bekerja sebagai tukang bangunan atau tukang kayu atau lainnya untuk pembangunan gereja yang digunakan untuk ibadah mereka.

Kata "aku tidak suka" bisa bermakna dua: yakni makruh tahrim atau haram. Terlepas dari itu, kedua makna itu menunjukkan tidak baik. Baca: Makna Makruh Tahrim dan Tanzih

______________________


AKAD JUAL BELI DUA KALI APA BOLEH?

Dengan Uang senilai Rp X si A membeli sejumlah bibit pohon kepada si B (akad pertama) selaku penyedia bibit dengan beberapa fasilitas seperti :
- Pencarian lahan yg sesuai
- Pengurusan legalitas
- Perawatan (mengelola sampai panen kayunya)
- Penyedia tenaga ahli
- Jasa pelaporan perkembangan pertumbuhan pohon.

Setelah itu si A selaku pemilik bibit pohon melakukan perjanjian kerjasama penggunaan lahan (akad kedua) dengan si C selaku pemilik lahan untuk menanam bibit pohon tersebut.
Tetapi si A tidak membayar lagi kepada si C karena uang Rp X tersebut sudah termasuk pembelian bibit pohon, sewa lahan, upah pekerja, perawatan, dll sampai panen pohon (kayu) nya. Semuanya dikelola oleh si B. Pembagian hasil panen adalah A : B : C = 70% : 10%
: 20%.

Pertanyaan :
1. Apakah transaksi tersebut (akad pertama dan akad kedua) sudah syar'i? Artinya apakah transaksi tersebut tidak termasuk 2 akad dalam 1 transaksi?
2. Apakah sebaiknya akad kedua itu dilakukan antara B dan C saja?
Syukran.

JAWABAN

1. Akad tersebut sah.
2. Terserah para pihak. Kalau cara itu dilakukan karena sama-sama rela maka tidak ada masalah.

DUA AKAD DALAM 1 TRANSAKSI

Istilah dua akad dalam 1 transaksi berasal dari sebuah hadis riwayat Malik dan Tirmidzi :

أنه نهى عن بيعتين في بيعة
Artinya: Nabi melarang dua akad dalam satu akad

Dalam hadis riwayat Al-Hakim Nabi bersabda:

من باع بيعتين في بيعة فله أوكسهما أو الربا
Artinya: Barangsiapa menjual dengan 2 baiah dalam 1 baiah, maka ia harus memilih harga yang paling rendah atau riba.

Madzhab Syafi'i menjelaskan maksud hadits ini gambarannya adalah: seorang menjual barang, lalu ia berkata: "Kontan harganya sekian" "Hutang harganya sekian" yakni dengan harga yang lebih tinggi dari harga pertama.

Kesimpulan: haram menetapkan dua harga (di mana harga tunai lebih rendah dari harga kredit) dan melakukan jual beli tanpa memilih salah satu dari kedua harga tersebut. Tapi, apabila penjual dan pembeli sepakat dengan salah satu harga (baik harga tunai atau harga kredit) maka jual beli seperti ini sah. Baca detail: Bisnis dalam Islam



Cari artikel lain:




Copy link berikut untuk referensi kutipan:

Jangan lupa baca yang ini juga ..