Saturday, April 16, 2016

Sukses Bisnis dengan Kerja dan Doa


Sukses Bisnis dengan Kerja dan Doa
BERBISNIS DENGAN KERJA ATAU DOA ATAU KOMBINASI

Assalaamu’alaikum.

Pak ustadz, saya mau bertanya. Dalam usaha memperoleh rezeki, pendekatan seperti apa yang harus kita jalani. Yang saya ketahui selama ini, sebutlah sebagai PENDEKATAN PERTAMA, kita bekerja keras dan “bersih”, dan melengkapi diri dengan ilmu yang dibutuhkan untuk pelaksnaan pekerjaan tersebut.

Namun, belakangan ini saya terinfokan adanya pendekatan yang berbeda, sebutlah sebagai PENDEKATAN KEDUA. Dalam pendekatan itu, kita tidak usah terlalu memikirkan pekerjaan kita. Yang dipentingkan adalah pelaksanaan ibadah-ibadah kepada Allah dilaksanakan semaksimal dan sebaik mungkin. Misalnya, sholat 5 waktu dikerjakan di awal waktu, ditambah dengan berjama’ah, tahiyatul masjid, qobliyah, ba’diah. Ditambah lagi dengan sholat tahajjud dan dhuha sebanyak mungkin, tidak sekedar 2 rakaat. Ditambah lagi dengan membaca Al Qur’an tiap hari dan sebanyak mungkin. Ditambah lagi dengan puasa sunnah. Ditambah lagi dengan infaq, yang sedapat mungkin sebesar mungkin. Dari pelaksanaan semua ini nantinya diharapkan Allah akan menurunkan rezekinya. Apalagi dengan dilakukannya infaq, maka sudah dipastikan Allah akan membalas sebanyak 700 kali lipat dari apa yang kita keluarkan. Jadi, pada pendekatan ini, dalam mencari rezeki, perilaku kita bukan ditujukan kepada mekanisme & proses pencarian rezekinya, tetapi lebih diarahkan untuk “memantaskan “ diri kita di hadapan Pemilik Rezeki.

TOPIK SYARIAH ISLAM
  1. BERBISNIS DENGAN KERJA ATAU DOA ATAU KOMBINASI
  2. WARISAN UNTUK CUCU
  3. MIMPI TEMAN MEMINTA MAAF
  4. CARA KONSULTASI AGAMA

Mungkin sebagai ilustrasi, saya mencoba membuat analogi begini. Kita ingin pergi ke bulan. Pada pendekatan pertama, kita sibuk mempelajari ilmu mekanika untuk gerak roket, astrofisika untuk memahami posisi bumi & bulan, metalurgi untuk bahan logam roket, ilmu elektronika dan komputer untuk pengendalian penerbangan roket, ilmu kimia untuk bahan bakar roket, dan sebagainya. Sementara, pada pendekatan kedua, kita berkurung diri di musholla, sibuk dengan segala macam ibadah, termasuk berinfaq sebesar-besarnya. Nantinya, tiba-tiba orang Kristen/Amerika membuat roket dengan berbekal berbagai ilmu di atas, lalu entah karena apa dan bagaimana roket tersebut diserahkan kepada kita untuk kita gunakan pergi ke bulan. Jadi di sini kita memiliki “tangan bersih”, namun dapat memanfaatkan roket tersebut. Yang “kerja kotor” biar saja orang Kristen/Amerika tersebut.

Selama ini saya condong kepada pendekatan pertama, walaupun apa yang dianjur oleh pendekatan kedua juga sudah saya lakukan. Tetapi tidak ngotot dan maksimal. Misalnya sholat 5 waktu tidak selalu di awal waktu. Qabliyah, ba’diyah, puasa sunnah, sholat tahajjud, sholat dhuha tidak selalu dan/atau tidak tiap hari saya kerjakan. Membaca Al Qur’an, juga tidak tiap hari. Jadi yang saya kerjakan selama ini lebih ‘longgar’, sementara pada pendekatan kedua dikerjakan dengan ‘ngotot’ dan semaksimal mungkin.

1. Nah, yang ingin saya tanyakan, dalam menjalani kehidupan ini, khususnya dalam mencari rezeki, pendekatan yang mana yang seharusnya kita gunakan ? Apakah dengan pola pendekatan pertama digenapi pendekatan kedua secara lebih longgar, atau pendekatan kedua yang dilaksanakan dengan ketat ? Mohon pencerahannya pak.

Terima kasih. Wassalam.


JAWABAN

1. Jelas pendekatan pertama (digenapi pendekatan kedua secara lebih longgar) yang diajarkan Islam kepada kita dalam mencari rejeki. Pertama, berdasarkan pada QS Al-Jumah 62:9 dan 10
Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.

Dalam kedua ayat ini jelas Allah meminta kita agar berperilaku seimbang antara ibadah dan muamalah (mencari rejeki) dengan keseimbangan secara proporsional. Yang dimaksud proporsional adalah keseimbangan yang bersifat kualitatif, bukan kuantitatif (tidak harus sama dalam jumlah waktunya). Itulah sebabnya, dalam ayat Al-Jumah 62:9 dan 10 di atas, kita diperintahkan untuk berhenti sejenak -- sekitar 30 menit -- dari pekerjaan duniawi untuk melaksakan ibadah ukhrawi yaitu shalat Jumat. Setelah itu pada ayat 10 kita diperintahkan atau dibolehkan untuk melanjutkan kegiatan duniawi kita sampai selesai. Itu artinya, waktu siang selama 12 jam itu tidak sampai 10% yang digunakan untuk ibadah. Namun itu sudah cukup menurut Al-Quran. Waktu 30 menit atau paling lama 60 menit untuk ibadah Jumat itu sudah dianggap proporsional menyeimbangi kerja duniawi selama 11 jam.

Pendekatan kedua yang anda sebutkan adalah pendekatan yang dipelopori oleh Ustadz Yusuf Mansyur. Dalam pendekatan tersebut terdapat beberapa hal yang perlu dievaluasi, antara lain: (a) Memberikan infak sedekah dengan harapan mendapat balasan berlipat secara langsung di dunia; dan banyak beribadah sunnah dengan harapan lancar rejeki. Kedua hal ini (infak dan shalat sunnah) adalah ibadah murni yang semestinya dilakukan secara ikhlas untuk mendapatkan ridho Allah semata, bukan untuk tujuan duniawi. (b) Mencari rejeki duniawi dengan cara ukhrawi (shalat sunnah dan sedekah) agak sedikit bertentangan dengan sunnatullah atau pakem yang berlaku dalam masalah duniawi. Di mana Allah jelas menyuruh manusia untuk bekerja secara fisik seperti disebut dalam ayat 62:10 di atas. Ustadz YM sendiri sebagai pelopor gerakan ini juga lebih banyak bekerja (sebagai penceramah di samping berbisnis) daripada beribadah.

Kelancaran memperoleh harta bisa didapat dengan kerja keras bahkan tanpa ibadah. Dan itu nyata terjadi dalam sejarah masa lalu dan masa sekarang. Banyak orang kaya walaupun dia non-muslim; atau muslim yang fasiq. Oleh karena itu, ibadah hendaknya dijadikan sebagai penyeimbang dan penguat batin agar bisa mengontrol harta yang diperoleh dan tetap taat dalam gemerlapnya dunia, bukan dibuat untuk dijadikan alat mencari rejeki.

Dan beribadah sebagai sarana untuk penguat iman dan hati dalam rangka untuk memperbaiki akhlak pada Allah dan sesama manusia adalah tujuan utama seorang muslim. Dalam hadis sahih riwayat Al-Bazzar dari Abu Hurairah Nabi bersabda:

إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق
Artinya: Aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.

Dalam hadits riwayat Tirmidzi dan Hakim Nabi bersabda:

أكثر ما يدخل الناس الجنة، تقوى اللّه وحسن الخلق
Artinya: Perkara yang membuat manusia masuk surga adalah takwa dan akhlak yang baik.

Baca juga:

- Mengapa Kafir Kaya Raya Sedang Muslim Hidup Sengsara?
- Rejeki, Jodoh, Mati Sudah Ditentukan?
- Doa Lancar Rejeki

______________________


WARISAN UNTUK CUCU

Assalamu'alaikum we. wb
Maaf sebelumnya, saya ingin bertanya, saya laki-laki dari temanggung-jawa tengah, orang tua saya punya anak 4, 3 laki2 &1 perempuan, yang anak pertama laki2, kedua perempuan, ketiga laki2 (saya ), keempat laki, semua dah berkeluarga dan punya anak,

Kemudian pada tahun 1991 anak orang tua saya yang pertama meninggal dunia, dan punya anak 1 perempuan, jadi anak orang tua saya tinggal tiga orang, 1 perempuan, dua laki,

Kemudian pada tahun 2015 ayah saya meninggal , yang akan saya tanyakan adalah tentang pembagian warisan,

1. apakah cucu perempuan dari anak laki2/anak pertama yang meninggal dari orang tua saya, mendapatkan warisan atau tidak, kalau dapat, berapa bagiannya,
2. terus ibu saya dapat berapa
Mohon penjelasannya, terimakasih sebelumnya

Wassalamu alaikum wr wb.

JAWABAN

1. Cucu tidak mendapat warisan dari harta kakeknya selagi masih ada anak kandung.
2. Ibu anda dengan status sebagai istri almarhum mendapat bagian 1/8 Baca detail: Hukum Waris Islam

______________________


MIMPI TEMAN MEMINTA MAAF

bismillahirrohmanirrohim
assalamu'alaikum .

saya ingin konsultasi mengenai mimpi saya. saya bermimpi sahabat yang kini berseteru dengan saya ,ia sadar dan menyadari kesalahannya, seperti minta maaf dan meyakini saya. namun, anehnya ia tidak mengenakan hijabnya. apakah maksud dari mimpi saya ?
mohon jawabannya.

syukron.

JAWABAN

Ia ingin berbaik hati dengan anda asalkan anda melakukan pendekatan yang baik dengan dia. Baca detail: Mimpi dalam Islam




Cari artikel lain:




Copy link berikut untuk referensi kutipan:

Jangan lupa baca yang ini juga ..