Friday, August 30, 2019

Aurat Perempuan dan Laki-laki dalam Islam

Aurat Perempuan dan Laki-laki dalam Islam

Aurat dalam syariah Islam adalah anggota badan yang harus ditutup. Ketika dikatakan 'Aurat perempuan atau wanita' maka maksudnya adalah anggota tubuh wanita yang harus ditutup saat dia di depan laki-laki atau sesama perempuan. Laki-laki juga memiliki anggota tubuh yang harus disembunyikan dari pandangan wanita mahram, non-muhrim atau dari sesama pria.

DAFTAR ISI

  1. Aurat Perempuan
    1. Aurat Perempuan dengan Sesama Wanita
    2. Aurat Anak Perempuan (Belum Baligh)
    3. Aurat Wanita dengan Laki-laki Bukan Mahram
    4. Aurat Wanita Dengan Laki-laki Mahram Muhrim
    5. Aurat Perempuan Ketika Shalat
  2. Aurat Laki-laki
    1. Aurat Laki-laki dengan Sesama Laki-laki
    2. Aurat Laki-laki dengan Perempuan
    3. Aurat Laki-laki Saat Shalat
  3. Hukum Shalat Orang Yang Terbuka Auratnya
  4. Hukum Laki-laki Memandang Wajab Perempuan
  5. CARA KONSULTASI SYARIAH ISLAM

Aurat PEREMPUAN

Aurat perempuan atau anggota tubuh yang harus ditutupi itu berbeda sesuai dengan situasi atau kondisi dengan siapa dia berkumpul atau bertemu: apakah dengan sesama wanita, dengan laki-laki bukan mahram, dengan pria yang mahram/muhrim atau saat shalat. Penjelasan ini berdasarkan pandangan ulama fiqih madzhab empat yaitu Syafi'i, Hanafi, Maliki, Hanbali.


Aurat PEREMPUAN DENGAN SESAMA WANITA MUSLIMAH

Jumhur (mayoritas) Ulama berpendapat bahwa Aurat wanita di depan perempuan lain sama dengan Auratnya laki-laki yaitu antara pusar sampai lutut. Dalam kitab Al-Mausu'ah al Fiqhiyah dikatakan:
ذهب الفقهاء إلى أن عورة المرأة بالنسبة للمرأة هي كعورة الرجل إلى الرجل، أي ما بين السرة والركبة، ولذا يجوز لها النظر إلى جميع بدنها عدا ما بين هذين العضوين ، وذلك لوجود المجانسة وانعدام الشهوة غالبا ، ولكن يحرم ذلك مع الشهوة وخوف الفتنة.
Artinya: Para ahli fiqih berpendapat bahwa Aurat wanita dengan sesama perempuan itu sama dengan Aurat laki-laki yaitu antara pusar sampai lutut. Oleh karena itu wanita boleh memandang seluruh tubuh wanita lain kecuali antara pusar dan lutu. Hal itu disebabkan karena sesama jenis dan tidak umumnya tidak ada syahwat. Akan tetapi haram hukumnya apabila melihat disertai syahwat dan takut terjadi fitnah.

Namun menurut suatu pendapat dalam madzhab Maliki dan Hanbali, Aurat wanita dengan wanita lain adalah kedua kemaluan depan dan belakang saja. Menurut Al-Mardawi dalam kitab Al-Inshaf, ini adalah salah satu pendapat dalam madzhab Hanbali.


Aurat ANAK PEREMPUAN (BELUM BALIGH)

Anak kecil perempuan usia di bawah 4 (empat) tahun maka tidak Aurat baginya menurut madzhab Hanafi, Maliki dan Hanbali.

Anak kecil wanita usia di atas 4 (empat) tahun dan belum mengundang syahwat maka Auratnya adalah depan dan belakang (farji dan dubur) menurut madzhab Hanafi. Apabila mengundang syahwat, maka Auratnya sama dengan perempuan dewasa walaupun usianya di bawah 10 tahun menurut madzhab Syafi'i, Hanafi, Maliki.

Usia 7 (tujuh) tahun ke atas, Auratnya di depan laki-laki bukan mahram adalah seluruh tubuh menurut madzhab Hanbali kecuali wajah, leher, kepala, tangan sampai siku, kaki.

Anak usia 10 tahun Auratnya sama dengan wanita usia dewasa yakni seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan menurut madzhab Syafi'i, Hanafi, Hanbali.


Aurat PEREMPUAN DENGAN LAKI-LAKI BUKAN MAHRAM

Madzhab Syafi'i:

Di depan laki-laki yang bukan mahram seluruh tubuh wanita adalah Aurat (harus ditutup) kecuali wajah, telapak tangan dan telapak kaki. Dalam Al-Umm I/89 Imam Syafi'i berkata:

وكل المرأة عورة، إلا كفيها ووجهها. وظهر قدميها عورة
Artinya: Seluruh tubuh wanita itu Aurat kecuali kedua telapak tangan dan wajah. Sedang bagian atas kaki adalah Aurat (berarti, telapak kaki bukan Aurat).

Madzhab Maliki:

Madzhab Maliki sama dengan Syafi'i bahwa Aurat wanita itu adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.

Imam Iyadh berkata bahwa kewajiban menutupi wajah itu khusus untuk istri Rasulullah saja. Teks Arab:

ولا خلاف أن فرض ستر الوجه مما اختص به أزواج النبي صلى الله عليه وسلم
Artinya: Tidak ada perbedaan ulama bahwa wajibnya menutupi wajah wanita itu termasuk salah satu kekhususan para istri Nabi.

Madzhab Hanafi:

Seluruh ulama madzhab Hanafi berpendapat bahwa wajah dan kedua tangan perempuan boleh terbuka artinya bukan Aurat. Dan laki-laki boleh memandang wajah perempuan asal tidak syahwat. Abu Jafar At-Tahawi dalam Syarh Ma'ani al-Atsar II/392 menyatakan:
أبيح للناس أن ينظروا إلى ما ليس بمحرَّم عليهم من النساء إلى وجوههن وأكفهن، وحرم ذلك عليهم من أزواج النبي r. وهو قول أبي حنيفة وأبي يوسف ومحمد رحمهم الله تعالى

Madzhab Hanbali:

Madzhab Hanbali termasuk yang paling ketat dalam masalah Aurat wanita. Imam Ahmad bin Hanbal pendiri madzhab ini berpendapat dalam salah satu riwayat bahwa seluruh tubuh wanita adalah Aurat termasuk kukunya baik saat shalat maupun di luar solat. Namun dalam riwayat yang lain Imam Ahmad bin Hanbal menyatakan bahwa wajah dan telapak tangan wanita bukan mahram. Al-Mardawi dalam kitab Al-Inshaf I/452 berkata bahwa yang benar dari madzhab Hanbali adalah pendapat terakhir yaitu bahwa wajah bukan Aurat
(الصحيح من المذهب أن الوجه ليس من العورة).

Aurat PEREMPUAN DENGAN LAKI-LAKI MAHRAM

Madzhab Syafi'i:

Aurat wanita saat bersama dengan laki-laki yang ada hubungan mahram adalah antara pusar sampai lutut. Itu berarti sama dengan Aurat wanita dengan sesama wanita. Berdasarkan keterangan Khatib Asy-Syarbni dalam kitab Mughnil Muhtaj I/185 dan III/131.

Madzhab Maliki dan Hanbali:

Ulama dalam Madzhab Maliki berpendapat bahwa Aurat perempuan di depan laki-laki mahram adalah selain wajah dan sekitar wajah yakni kepala dan leher. Madzhab Hanbali memberi batasan yaitu bagian tubuh selain wajah, kepala, leher, tangan dan saq (antara lutut sampai telapak kaki). Seperti keterangan Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Mughni VI/554; Kasyaful Qina' V/11; Ad Dasuqi III/214.

Madzhab Hanafi:

Menurut madzhab Hanafi Aurat wanita di depan laki-laki mahram adalah sama dengan pendapat madzhab Maliki dan Hanbali yaitu selain wajah, kepala dan leher plus dada. Dalam madzhab Hanafi laki-laki boleh memandang dada wanita mahram. Tentu saja apabila tidak syahwat. Berdasarkan keterangan dalam kitab Hasyiyah Ibnu Abidin I/271.


Aurat PEREMPUAN KETIKA SHALAT

Menutupi Aurat ketika shalat adalah wajib dilakukan sejak awal sampai akhir shalat. Apabila Aurat terbuka di tengah solat tanpa sengaja, maka shalatnya tidak batal asalkan sedikit dan segera ditutup. Apabila tebrukanya secara sengaja maka salatnya batal dan wajib mengulangi.

Batas Aurat wanita saat shalat menurut madzhab yang 4 (empat) adalah sbb:

Madzhab Syafi'i:

Ketika shalat, seluruh tubuh wanita adalah Aurat kecuali wajah dan telapak tangan luar dan dalam menurut madzhab Syafi'i.

Madzhab Hanafi:

Saat sedang shalat, Aurat perempuan adalah seluruh tubuh kecuali (a) telapak tangan bagian dalam sedang luar telapak tangan termasuk Aurat. Dan kecuali (b) bagian luar telapak kaki, sedang telapak kaki bagian dalam adalah Aurat.

Madzhab Hanbali:

Aurat perempuan shalat menurut madzhab Hanbali adalah seluruh tubuh kecuali wajah.

Madzhab Maliki:

Madzhab Maliki membagi Aurat wanita menjadi 2 (dua) yaitu mugholladzah (berat) dan mukhoffafah (ringan) dan masing-masing memiliki hukum tersendiri.

Aurat mugholladzoh adalah seluruh anggota tubuh selain seputar kepala, dada dan punggung. Atau antara pusar sampai lutut.

Aurat mukhoffafah (ringat) adalah seluruh tubuh selain dada, punggung, leher, lengan (antara siku sampai pergelangan tangan), dari lutut sampai akhir telapak kaki. Atau selain pusar sampai lutut.

Jadi, wajah dan kedua telapak tangan luar dan dalamnya bukan Aurat menurut madzhab Maliki.

Terbukanya Aurat mughalladzah ketika shalat dapat membatalkan shalat. Sedang terbukanya Aurat mukhaffafah tidak membatalkan shalat. Walaupun terbukanya itu haram atau makruh dan haram orang lain memandangnya. Akan tetapi disunnahkan mengulangi shalat apabila waktu mencukupi.


Aurat LAKI-LAKI

Laki-laki sebagaimana perempuan diwajibkan menjaga Auratnya. Menutupi anggota tubuh yang termasuk Aurat adalah wajib dan tidak melakukannya adalah dosa.


Aurat LAKI-LAKI DENGAN SESAMA LAKI-LAKI

Aurat atau anggota tubuh yang wajib ditutupi bagi laki-laki dengan sesama laki-laki adalah antara pusar dan lutut. Oleh karena itu, laki-laki tidak boleh membuka bagian tubuh yang termasuk Aurat walaupun aman dari syahwat. Hal ini berdasarkan pada hadits riwayat Hakim di mana Nabi bersabda: عورة الرجل ما بين سرته إلى ركبته

Tapi menurut pendapat Ibnu Hazm, paha laki-laki bukan termasuk Aurat. Pendapat ini menurut jumhur ulama lemah karena ada hadits yang menyatakan الفخذ عورة (Paha itu Aurat).


Aurat LAKI-LAKI DI DEPAN PEREMPUAN

Aurat laki-laki di depan perempuan adalah anggota tubuh yang berada di antara pusar dan lutut. Baik saat bersama dengan perempuan mahram atau wanita lain yang bukan mahram.


HUKUM SHOLAT ORANG YANG TERBUKA AuratNYA

Seperti disebut di atas, saat sholat Aurat laki-laki dan perempuan harus dalam keadaan tertutup. Apabila Aurat terbuka di tengah shalat, maka batal shalatnya dengan perincian sbb:

Madzhab Syafi'i:

Imam Nawawi dalam Al-Majmuk menyatakan
فإن انكشف شيء من عورة المصلي لم تصح صلاته سواء أكثر المنكشف أم قل، ولو كان أدنى جزء، وهذا إذا لم يسترها في الحال.
Artinya: Apabila sebagian Aurat orang yang shalat terbuka maka shalatnya tidak sah baik yang terbuka itu banyak atau sedikit. Hal ini apabila tidak langsung menutupnya.

Madzhab Hanbali:

Apabila Aurat yang terbuka waktu shalat itu sedikit maka shalatnya tidak batal. Apabila banyak, maka hukum shalatnya batal. Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni mengatakan:

فإن انكشف من العورة يسير. لم تبطل صلاته. نص عليه أحمد

Madzhab Hanafi:

Madzhab Hanafi menyatakan bahwa shalat seseorang batal apabila seperempat Auratnya terbuka dengan masa satu gerakan rukun shalat. Apabila terbukanya Aurat itu kurang dari satu gerakan shalat maka tidak batal. Ibnu Abidin menyatakan argumennya:

لأن الانكشاف الكثير في الزمان القليل عفو كالانكشاف القليل في الزمن الكثير

HUKUM LAKI-LAKI MEMANDANG WAJAH PEREMPUAN

Anggota tubuh yang harus tertutup bagi laki-laki saat shalat sama dengan saat di luar shalat yaitu antara pusar dan lutut ini pendapat seluruh ulama madzhab yang empat.

PENDAPAT MAZHAB ULAMA MAZHAB SYAFI'I TENTANG WAJAH PEREMPUAN

Mayoritas Ulama mazhab Syafi'i sepakat bahwa wajah perempuan bukan aurat. Namun mereka ada perbedaan tentang apakah boleh memandang wajah perempuan tanpa ada keperluan atau haram?

PENDAPAT YANG MEMBOLEHKAN MEMANDANG WAJAH WANITA ASALKAN AMAN DARI FITNAH (TIDAK SYAHWAT)

Walaupun wajah wanita bukan termasuk Aurat, akan tetapi laki-laki dianjurkan untuk tidak memandang wajah perempuan apabila dikuatirkan menimbulkan fitnah.

1. Al-Baghawi dalam Syarh as-Sunnah IX/23 mengatakan:
فإن كانت أجنبية حرة، فجميع بدنها عورة في حق الرجل. لا يجوز له أن ينظر إلى شيء منها، إلا الوجه واليدين إلى الكوعين. وعليه غض البصر عن النظر إلى وجهها ويديها أيضاً عند خوف الفتنة

Artinya: Aurat seorang perempuan adalah seluruh tubuhnya bagi laki-laki. Tidak boleh bagi pria melihatnya kecuali wajah dan telapak tangan sampai pergelangan. Dan seorang laki-laki harus menutup matanya saat melihat wajah dan tubuh perempuan apabila kuatir terjadi fitnah.

2. Imam Nawawi (wafat 676 hijriah) dalam Minhajul Abidin menyatakan
ويحرم نظر فحل بالغ إلى عورة حرة كبيرة أجنبية وكذا وجهها وكفها عند خوف الفتنة

Artinya: Haram melihat aurat wanita bukan mahram .. begitu juga haram melihat wajah wanita dan telapak tangannya apabila takut terjadi fitnah.

3. Ibnu Hajar Al-Haitami dalam Tuhfatul Muhtaj hlm. 7/193 menyatakan:
مَنْ تَحَقَّقَتْ نَظَرَ أَجْنَبِيٍّ لَهَا يَلْزَمُهَا سَتْرُ وَجْهِهَا عَنْهُ وَإِلَّا كَانَتْ مُعِينَةً لَهُ عَلَى حَرَامٍ فَتَأْثَمُ

Artinya: Perempuan yang menjadi obyek pandangan lawan jenis maka hendaknya dia menutup wajahnya, kalau tidak maka ia telah membantu lelaki melakukan perkara haram maka perempuan itu ikut berdosa.

4. Zakariya Al-Anshari (w. 926 H.) dalam kitabnya Asna Al-Mathalib Fi Syarhi Raudh Al-Thalib, hlm. 1/76, menyatakan:

(وَعَوْرَةُ الْحُرَّةِ فِي الصَّلَاةِ وَعِنْدَ الْأَجْنَبِيِّ) وَلَوْ خَارِجَهَا (جَمِيعُ بَدَنِهَا إلَّا الْوَجْهَ وَالْكَفَّيْنِ) ظَهْرًا وَبَطْنًا إلَى الْكُوعَيْنِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى {وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا} [النور: 31] قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَغَيْرُهُ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَجْهُهَا وَكَفَّاهَا وَإِنَّمَا لَمْ يَكُونَا عَوْرَةً؛ لِأَنَّ الْحَاجَةَ تَدْعُو إلَى إبْرَازِهِمَا وَإِنَّمَا حُرِّمَ النَّظَرُ إلَيْهِمَا؛ لِأَنَّهُمَا مَظِنَّةُ الْفِتْنَةِ

Artinya: Aurat perempuan merdeka di dalam shalat dan ketika di depan lelaki non mahram, walaupun di luar shalat adalah seluruh badannya kecuali wajah dan kedua telapak tangannya; bagian punggung maupun dalamnya sampai pergelangan tangan. Hal ini berdasarkan firman Allah, Hendaknya mereka (perempuan) tidak menampakkan perhiasannya kecuali anggota tubuh yang biasa tampak (Qs. Al-Nur: 31). Ibnu Abbas dan lainnya berkata, maksud anggota tubuh yang biasa tampak adalah wajah dan kedua tangan perempuan. Alasan kenapa keduanya bukan termasuk aurat adalah karena hajat menuntut untuk menampakkan keduanya. Keharaman memandang keduanya (oleh lelaki non mahram) adalah karena keduanya menjadi objek yang diduga kuat dapat membangkitkan syahwat.

Zakariya Al-Anshari dalam Asna Al-Mathalib Fi Syarh Raudh Al-Thalib, jilid 1/176, kembali menegaskan:

)فَصْلٌ نَظَرُ الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ عِنْدَ أَمْنِ الْفِتْنَةِ) فِيمَا يَظْهَرُ لِلنَّاظِرِ مِنْ نَفْسِهِ (مِنْ الْمَرْأَةِ إلَى الرَّجُلِ وَعَكْسِهِ جَائِزٌ) وَإِنْ كَانَ مَكْرُوهًا لِقَوْلِهِ تَعَالَى فِي الثَّانِيَةِ {وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا} [النور: 31] وَهُوَ مُفَسَّرٌ بِالْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ كَمَا مَرَّ وَقِيسَ بِهَا الْأُولَى وَهَذَا مَا فِي الْأَصْلِ عَنْ أَكْثَرِ الْأَصْحَابِ وَاَلَّذِي صَحَّحَهُ فِي الْمِنْهَاجِ كَأَصْلِهِ التَّحْرِيمُ وَوَجَّهَهُ الْإِمَامُ بِاتِّفَاقِ الْمُسْلِمِينَ عَلَى مَنْعِ النِّسَاءِ مِنْ الْخُرُوجِ سَافِرَاتِ الْوُجُوهِ

Pasal: melihat wajah dan kedua tangan ketika dijamin aman dari fitnah dalam perspektif orang yang melihat terhadap dirinya sendiri, dari pihak perempuan kepada pihak lelaki dan sebaliknya adalah boleh. Walaupun makruh. Karena firman Allah dalam masalah kedua, hendaknya para perempuan tidak menampakkan perhiasannya kecuali apa yang biasa tampak (Qs. Al-Nur: 31). Apa yang biasa tampak ditafsirkan dengan wajah dan kedua tangan sebagaimana keterangan yang lalu. Masalah pertama diqiyaskan dengan masalah kedua. Hal ini adalah keterangan dalam kitab Asal yang menukil dari kebanyakan ulama Syafi’iyyah. Pendapat yang dishahihkan dalam kitab Al-Minhaj, sebagaimana kitab Asal-nya, adalah haram (melihat). Al-Imam menguatkan pendapat yang mengharamkan ini dengan kesekapatakan penguasa Muslim yang melarang para perempuan keluar rumah dengan wajah terbuka


ULAMA SYAFI'IYAH YANG MENYATAKAN HARAM MEMANDANG WAJAH PEREMPUAN KECUALI DARURAT

Imam Juwaini (wafat 478 h.) dalam Nihayatul Matlab fi Dirayatil Mazhab hlm. 12/31 menyatakan:
مع اتفاق المسلمين على منع النساء من التبرج والسفور وترك التنقب

Artinya: Ulama sepakat terlarangnya perempuan menampakkan perhiasan, membuka wajah dan meninggalkan niqab (hijab).

Al-Baidowi dalam Tafsir Anwar At-Tanzil wa Asrar at-Takwil hlm. 4/104 menyatakan:
"كل بدن الحرة عورة لا يحل لغير الزوج والمحرم النظر إلى شيء منها إلا لضرورة كالمعالجة وتَحَمُّلِ الشهادة

Artinya: Semua tubuh wanita adalah aurat yang tidak boleh dipandang kecuali karena darurat seperti untuk pengobatan atau kesaksian.

Taqiuddin As-Subki dalam Nihayatul Muhtaj 6/187 menyatakan:
الأقرب إلى صنيع الأصحاب أن وجهها و كفيها عورة في النظر

Artinya: Yang paling dekat pada pendapat Sahabat bahwa wajah dan telapak tangan perempuan adalah aurat dalam pandangan (tidak boleh dilihat).

As-Suyuti dalam Aunul Makbud 11/158 menyatakan dalam menjelaskan ayat يدنين عليهن من جلابيبهن:

هذه آية الحجاب في حق سائر النساء، ففيها وجوب ستر الرأس والوجه عليهن

Artinya: Ini adalah ayat hijab yang berlaku pada seluruh perempuan. Di dalamnya terdapat wajibnya menutup kepala dan wajah.

Qolyubi dalam Hasyiyah Qolyubi 3/209 berkata:

"فَيَحْرُمُ عَلَيْهِنَّ الْخُرُوجُ سَافِرَاتِ الْوُجُوهِ؛ لِأَنَّهُ سَبَبٌ لِلْحَرَامِ

Artinya: Haram bagi perempuan keluar menampakkan wajah karena wajah menjadi sebab pada keharaman.

Dalam menjelaskan kata 'wajah' di atas, Ar-Romli dalam Nihayatul Muhtaj 6/187 menyatakan:

و وجهه الإمام (وهو الجويني) : باتفاق المسلمين على منع النساء أن يخرجن سافرات الوجوه، وبأن النظر مظنة الفتنة، و محرك للشهوة.. وحيث قيل بالتحريم وهو الراجح : حرم النظر إلى المنتقبة التي لا يبين منها غير عينيها و محاجرها كما بحثه الأذرعي، و لاسيما إذا كانت جميلة، فكم في المحاجر من خناجر

Artinya: Imam Juwaini mengukuhkan kesepakatan umat atas tidak bolehnya wanita mengeluarkan (menampakkan) wajah dan bahwa melihat itu tempat praduga fitnah dan menggerakkan syahwat... pendapat yang mengharamkan itu yang rajih (unggul).. terutama apabila dia wanita cantik

Dapatkan buku-buku Islam karya A. Fatih Syuhud di sini.. Konsultasi agama, kirim via email: alkhoirot@gmail.com

1 komentar so far

Assalamualaikum..mau tanya gan,,kenapa aurat budak amat itu disamakan dengan laki-laki

1. Kirim konsultasi Agama ke alkhoirot@gmail.com atau info@alhoirot.com Cara Konsultasi lihat di sini!
2. Konsultasi hukum waris Islam, lihat caranya di sini
3. Konsultasi melalui kotak komentar tidak akan dilayani.

EmoticonEmoticon