Showing posts with label Konsultasi Agama. Show all posts
Showing posts with label Konsultasi Agama. Show all posts

Friday, December 03, 2021

Manipulasi sebagian data skripsi, bagaimana hukum gaji pekerjaan

MANIPULASI SEBAGIAN DATA SKRIPSI, BAGAIMANA HUKUM GAJI PEKERJAAN

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, bagaimana hukum data skripsi (bukan data utama hanya data pendukung) yang sedikit dimanipulasi apakah ijazah ikut menjadi haram? dan jika digunakan untuk melamar pekerjaan apakah penghasilannya menjadi haram? Terimakasih

JAWABAN

Memanipulasi data termasuk berbohong dan bohong itu haram. Baca detail: Bohong dalam Islam

Namun kebohongan sebagian data itu tidak membuat ijazah menjadi haram. Karena, sebagian besar studi anda dihasilkan dari usaha yang benar dan sesuai prosedur. Demikian juga, penghasilan dari pekerjaan yang didapatkan juga halal asalkan bekerja di tempat yang halal dan jujur dalam pekerjaan tersebut. Baca detail: Hukum Masuk PNS karena Suap

BELI TANAH WARISAN, AHLI WARIS TAK MAU TANDA TANGAN

Assalamualaikum

Mau tanya.... Apabila mau membeli tanah tapi si pemilik sudah meninggal,ahli waris tidak mau membantu memecah dan tanda tangan....tapi suruh mengurus sendiri klo bisa....bagaimana solusinya?

JAWABAN

Kalau tidak mau tanda tangan ya tidak bisa. Karena ahli waris berstatus sebagai pemilik yang baru. Coba saja ahli waris diyakinkan agar mau tanda tangan saja sedangkan urusan lain anda siap mengurusnya. Bisa juga anda menggunakan bantuan orang dekat ahli waris untuk membujuk mereka agar mau tanda tangan. Baca detail: Bisnis dalam Islam

BAGIAN WARIS SAUDARA KANDUNG

Assalamualaikum we.wb

Ustad saya tiga saudara laki-lali.ayah dan ibu saya sdh meninggal.kakak sya yg pertama mempunyai 2 anak laki dan dua anak perempuan meninggal 2016.mempunyai beberapa bidang tanah.

Kakak saya yang kedua meninggal 2015 mempunyai beberapa bidang tanah.tetapi tidak punya istri dan anak.

Pertanyaan saya apakah ada bagian saya pada waris kakak saya yang pertama dan yang ke dua.serta bagaimana cara membaginya

Terima kasih

JAWABAN

a) Untuk kakak pertama, anda sebagai saudara tidak mendapat warisan apapun karena adanya anak lelaki itu menghalangi anda untuk dapat warisan. Baca detail: Mahjub penggugur hak waris

b) Untuk kakak kedua, anda mendapat bagian. Porsinya tergantung adanya ahli waris yang lain. Kalau tidak ada ahli waris yang lain, misalnya ayah dan ibu, maka anda mendapatkan semua harta peninggalan kakak kedua. Namun untuk memastikan, silahkan anda konsultasi ke ustadz atau aparat desa/kelurahan terdekat untuk menanyakan adakah ahli waris lain yang berhak dapat warisan. Baca detail: Hukum Waris Islam

Selain itu, harus juga dipastikan apakah almarhum kakak kedua punya hutang atau punya wasiat. Hutang harus ditunaikan sebelum warisan dibagi. Baca detail: Hutang dalam Islam

Begitu juga, wasiat yang tidak lebih dari 1/3 harus juga diberikan pada yang berhak. Baca detail: Wasiat dalam Islam

WARISAN

Seorang laki-laki meninggal dunia pada tahun 2018. Adapun status ahli waris sebagai berikut: utama: 1. Istri 2. Dua anak perempuan 3. Ayah dan Ibu nya sudah meninggal

sekunder: 1. Tiga saodara laki-laki (1 meninggal) 2. Dua saudara perempuan (1 meninggal) 3. Satu orang cucu perempuan

Terimakasih

JAWABAN

Pembagiannya sbb: a) Istri mendapat 1/8 = 3/24 b) Dua anak perempuan mendapat 2/3 = 16/24 c) Sisanya yang 5/24 diberikan pada dua saudara kandung yang masih hidup dengan rincian: 1 saudara lelaki mendapat 2/3; 1 saudara perempuan mendapat 1/3 (dari sisa 5/24). d) Cucu perempuan tidak dapat warisan karena adanya dua anak perempuan. Baca detail: Hukum Waris Islam

WARISAN BELUM DIBAGIKAN PADA PARA ANAK KANDUNG

Assalamualaikum ustadz ..saya mualim Saya mw bertanya kakek saya sudah meninggal sekitar 3 tahunan yg lalu tapi warisan belum di bagikan ke anak anaknya..

anaknya 2 laki laki dan 3 perempuan masih hidup semua . Ketika mau di bagikan bapak saya tapi bapak saya keburu meninggal juga .. Dan ketika bapak saya sudah meninggal Warisan di bagikan adik 2 bapak saya..harta kakek saya sekitar 96 juta rupiah ..

Masing masing di bagi rata sekitar 21.5 juta rupiah.. Sedangkan bapak saya dapat 2 juta rupiah karena bapak saya dahulu minta dijualkan tanah dan hewan ternak sekitar 15 juta untuk membeli rumah yg skrang ditempati ibu bapak saya.

1. Apakah penerimaan warisan yg di terima per kluarga sudah sesuai syariat dan jika tidak sesuai syariah solusinya bagaimana ?

2. Dan apakah bapak saya tidak berhak atas warisan lagi karena pas bapak saya masih hidup pernah bilang ngga mw minta warisan ?

Makasih tadz

JAWABAN

1. Cara pembagian sama rata seperti kasus di atas hukum asalnya tidak boleh. Karena anak lelaki berbeda dengan anak perempuan. 2 banding 1. Semestinya anak perempuan mendapat separuhnya anak laki-laki. Baca detail: Hukum Waris Islam

Namun, kalau cara itu dilakukan atas persetujuan seluruh ahli waris secara ikhlas, maka dibolehkan. Baca detail: Pembagian Waris secara Sama rata, bolehkah?

2. Kalau bapak anda menyatakan itu secara sengaja, serius dan disaksikan oleh saksi, maka berarti dia telah melepaskan diri dari haknya dan menghibahkan haknya pada ahli waris lain. Maka berlaku hukum hibah. Baca detail: Hibah dalam Islam

Hukum memasang foto di dinding kamar

Hukum memasang foto di dinding kamar

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Permisi izin bertanya ustad. Saya ingin memasang poster dengan foto pemain bola dan/atau karakter animasi untuk menghias kamar, apakah diperbolehkan? Karena ada yang mengatakan tidak, namun ada juga yang mengatakan boleh asal kan tidak dengan tujuan yang negatif. Terimakasi

JAWABAN

Hukum asal foto adalah boleh. Maka, memasang foto atau poster manusia atau hewan atau karakter animasi itu juga boleh. Kebolehan itu bisa berubah jadi haram apabila gambar yang dipasang adalah gambar yang dilarang agama secara umum seperti gambar yang mengundang syahwat. Karena, larangan dalam hadis soal gambar itu konteksnya adalah gambar tiga dimensi alias patung.

Ibnu Hajar Asqalani dalam Fathul Bari, hlm. 10/384, menjelaskan:

قال الحافظ ابن حجر رحمه الله في فتح الباري: (وقال الخطابي: إنما عظمت عقوبة المصور لأن الصور كانت تعبد من دون الله، ولأن النظر إليها يفتن، وبعض النفوس إليها تميل، قال: والمراد بالصور هنا التماثيل ...).

Artinya: Al-Khattabi berkata: Mushawwir (pemahat) itu besar siksanya karena shurah itu dulunya disembah selain Allah. Dan karena melihatnya itu menjadi fitnah. Sebagian jiwa condong padanya. Al-Khattabi berkata: Yang dimaksud dengan shurah di sini adalah patung.

Ad-Dardir dalam As-Syarhus Shaghir, hlm. 2/501, menyatakan:

(والحاصل: أنَّ تصاوير الحيوانات تحرم إجماعا إن كانت كاملة لها ظل مما يطول استمراره، بخلاف ناقص عضو لا يعيش به لو كان حيوانًا، وبخلاف ما لا ظل له كنقش في ورق أو جدار).

Artinya: Kesimpulannya, bahwa membuat patung hewan itu haram secara ijmak apabila sempurna, memiliki bayangan yang konsisten. Beda halnya patung yang kurang anggota tubuhnya yang tidak bisa hidup tanpanya seandainya berupa hewan. Beda halnya gambar yang tidak punya bayangan seperti lukisan di kertas atau dinding.

Baca detail: Hukum Gambar dan Patung

MENGGODA ISTRI NON MUSLIM APA TAKHBIB?

Apakah saya termasuk melakukan dosa takhbib jika mengganggu pasangan suami istri yg keduanya non muslim? Karena pernikahan mereka bukan secara islam.

JAWABAN

Ya, sama saja. Karena dalam hadis terkait hal ini berlaku umum dan tidak dikhususkan suami istri muslim. Baca detail: Takhbib Perusak Rumah Tangga Orang

CERITA CERAI, APA JATUH TALAK?

Membahas kata cerai

Assalamu'alaikum Pada suatu saat saya bertanya kepada suami saya "apakah yang diurus temannya di pengadilan agama".. Lalu suami saya menjawab " Cerai" Karena tidak jelas n terkejut saya mengulangi bertanya lagi "apa? ". Dan suami menjawab "Cerai" (Suami bermaksud memberi tahukan saya bahwa yang diurus temannya di pengadilan agama adalah cerainya temannya suami saya).

Yang ingin saya tanyakan apakah hukum jawaban suami saya terhadap saya? Terimakasih

JAWABAN

Tidak ada dampak hukum apapun. Itu termasuk bercerita yang mengandung kata cerai. Hukumnya tidak jatuh talak. Baca detail: Cerita Talak

UCAPAN TERSERAH KAMU APA JATUH TALAK?

Bismillahirrahmanirrahim...Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.... Pembina alkhoirot yang terhormat...

Saya pernah berkelahi hebat dengan istri saya, yang masalahnya hanya masalah sepele, akan tetapi karena sama-sama capek bekerja, masalah kecil jadi besar, semua barang yg ada di depan saya,saya banting, sy pecah kan, sampai istri saya berkata "SAYA TINGGALKAN SAJA KAMU KALAU SEPERTI INI TERUS... lalu saya berkata " TERSERAH KAMU SAJA"(tidak ada maksud untuk mentalak istri saya)... Akan tetapi, dalam waktu beberapa menit setelah debat, kami berdamai, dan saling intropeksi diri, dan istri saya tidak pergi kemana-mana/istri saya tidak meninggalkan saya kemanapun...

Yang jadi pertanyaan saya adalah, bagaimana hukum saya mengatakan "TERSERAH KAMU SAJA" setelah istri saya mengatakan " SAYA TINGGALKAN SAJA KAMU KALAU SEPERTI INI TERUS"? Mohon pencerahan nya. ..

JAWABAN

Tidak jatuh talak. Karena ucapan anda tidak disertai niat. Baca detail: Mengiyakan Permintaan Cerai Istri

BESARNYA MAHAR

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, izin bertanya... apakah benar besarnya mahar adalah besarnya nafkah yang diberikan suami kepada istrinya setiap harinya? saya pernah mendengar di sebuah podcast bahwa kata si pengisi suara ada dalil yang menyatakan seperti itu, tapi saya tidak pernah mendengar atau melihat dalilnya secara langsung.

Terima kasih.. Sumassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

JAWABAN

Tidak ada dalil seperti itu. Baik dari Quran, hadis maupun pandangan ulama. Mahar dibayar menurut permintaan istri. Baca detail: Mahar dalam Islam

Nafkah diberikan menurut kemampuan suami. Baca detail: Suami Wajib Menafkahi Istri Walaupun Kaya

Thursday, December 02, 2021

Merekam bacaan syahadat apakah sebabkan murtad?

Merekam bacaan syahadat apakah sebabkan murtad?

Assalamualaikum, Wr.Wb. Saya seorang yang was - was murtad dan was - was saat bersyahadat sehingga ketika saya bersyahadat saya sering merekamnya dengan handphone yang saya letakkan disamping saya. Hal tersebut saya tujukan untuk supaya setelah selesai bersayahadat saya bisa mendengarkan rekaman syahadat saya, saya ingin meyakinkan diri dan hati bahwa kalimat syahadat yang saya ucapkan itu benar, walaupun sebelum memutar rekaman saya sudah meyakinkan diri bahwa saya telah bersyahadat dengan benar dan saya mengulang ulang rekaman tersebut kata per kata untuk meyakinkan diri saya bahwa saya telah bersyahadat dengan benar.

Saya mau bertanya, apakah hal yang saya lakukan salah dan termasuk menghina Allah atau murtad ? apakah syahadat saya diterima atau tidak dnegan melakaukan tersebut ?

Mohon di Jawab, karena jika saya tidak tanyakan saya selalu kepikiran bahwa diri saya ini sudah murtad, saya takut sekali. Terima kasih

JAWABAN

1. Yang anda lakukan tidak termasuk menghina Allah. Dan tidak termasuk perbuatan murtad. Namun, anda tidak perlu melakukan itu. Karena, seorang muslim selalu bersyahadat setiap hari saat shalat. Dan itu sudah cukup. Karena, bahkan orang murtad pun kalau shalat sudah otomatis kembali ke Islam. Baca detail: Orang murtad shalat otomatis Islam

Sebagai penderita was-was, anda hendaknya tidak asal membaca artikel Islam di internet. Usahakan membaca artikel agama dari ulama yang berasal dari kalangan Aswaja yang di Indonesia terwakili pada ulama NU (nahdhatul ulama), Al Washliyah, dan NW (nahdhatul wathan). Baca detail: Daftar Situs Aswaja

Dan hindari membaca artikel Islam dari kalangan Wahabi Salafi dan HTI yg umumnya sangat mudah mengafirkan dan memurtadkan sesama muslim sehingga membuat banyak muslim jadi was-was. Baca detail: Daftar Situs Wahabi Salafi

Pada dasarnya, perbuatan murtad itu terjadi karena 3 sebab besar. Baca detail: Tiga Penyebab Murtad

Namun itupun tidak akan terjadi murtad kecuali disengaja dan sukarela. Tanpa itu tidak sah murtadnya. Baca detail: Syarat Sahnya Murtad

HUKUM MENGHINA YESUS, MURTAD?

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, maaf sebelumnya izin tanya saya. namun wktu itu saya tiba" Muncul bisikan menghina yesus tapi saya tdk takut dgn bisikan tersebut, cm yg saya takutkan itu jika bisikan tersebut itu malah menghina nabi Isa karena dalam islam kan Yesus itu dalam islam adalah nabi Isa. Nah dr situ saya bingung saya harus mengulang syahadat atau membiarkan bisikannya jika muncul krn katanya utk penderita was" Harus diacuhkan was"nya selain itu saya jg menderita was" Aqidah selain ini. Tapi saya takut jika saya biarkan kalo misalkan bisikannya termaksud menghina nabi Isa bagaimana? Saya benar" Bingung harus apa karena ilmu saya yg sangat sedikit saya belum tau mengenai yesus itu nabi Isa atau bukan. Apakah saya murtad jika bisikan ini ternyata termaksud menghina nabi Isa? Saya benar" Bingung harus bagaimana

JAWABAN

Bisikan atau lintasan hati atas perbuatan dosa atau perbuatan murtad itu dimaafkan. Jadi, tidak berdampak hukum apapun. Baca detail: Hukum Lintasan Hati

Adapun yang dimaksud Yesus adalah Nabi Isa. Isa berasal dari istilah dalam Al-Quran, sedangkan Yesus berasal dari Bible bahasa Inggris (Jesus) yang diterjemah ke Al-Kitab bahasa Indonesia dengan kata Yesus. Jadi, maksudnya sama.

Terkait rasa was-was, maka obatnya adalah dengan mengabaikannya. Baca detail: Cara Sembuh Was-was Najis, Wudhu, Mandi, Shalat

BISIKAN HATI MENGHINA ALLAH, APA MURTAD?

Assalamu'alaikum Ustadz Mau nanya saya, Saya selalu ada bisikan Hati yang menghina Allah SWT Naduzbilah....Dan Saya Tahu Jika bisikan itu tidak membuat dosa. Karena itu bisikan Setan Asal Tidak di lisan kan.... Yang saya mau nanya itu. Saya Sudah mengucapakan Di Hati Saya kalau ga salah 2× udap di ucapkan di hati belum di mulut katanya jika sesorang menghina Allah SWT Naduzbilah itu kupur. Apakah saya benar Kupur?

JAWABAN

Kalau diucapkan di hati itu namanya lintasan hati. Hukumnya tidak masalah. Tidak berakibat murtad atau kufur. Baca detail: Hukum Lintasan Hati

Seandainya pun diucapkan secara lisan tapi itu timbul karena was-was atau OCD, maka itu dimaafkan karena tidak timbul dari kerelaan hati. Baca detail: Syarat Sahnya Murtad

Tuesday, November 30, 2021

Cara menyucikan najis menurut maliki dan hanafi

CARA MENYUCIKAN NAJIS MENURUT MALIKI DAN HANAFI

Kalau mensucikan kotoran tikus kering menurut madzhab Maliki bagaimana ya ustadz? Saya ambil ainiyah kotorannya kemudian dibuang. Lantai bekas tempat kotorannya hukmiyah saya lap pakai tisu basah seperti madzab Hanafi apapun benda licin seperti kaca cukup dilap tidak mengapa benar begitu ustadz? Atau ada cara khususnya kesannya saya mencampur madzab lagi Maliki dan Hanafi.

JAWABAN

Ada kesalahpahaman dalam memahami penjelasan dalam link yang anda sebut (www.alkhoirot.net/2014/07/cara-menyucikan-hp-kena-najis.html#1). Kesalahannya adalah cara mengusap yang dibolehkan adalah harus tetap dengan air. Tidak sembarang mengusap. Termasuk tidak boleh mengusap dengan tisu basah. Baca detail: Tisu Basah Bisakah Menghilangkan Najis?

Karena tisu basah itu basahnya bukan berasal dari air mutlak atau air suci dan menyucikan. Baca detail: Air Suci Menyucikan

Ada pendapat dari mazhab Maliki dan Hanafi bolehnya menyucikan dengan cara mengusap. Tapi mengusapnya tetap dengan air mutlak. Bukan dengan tisu basah.

Perbedaan antara membasuh dan mengusap dalam istilah teknis syariah adalah: membasuh artinya menyiramkan air. Sedangkan mengusap adalah mengusapkan benda basah yang mengandung air mutlak. Benda basah itu bisa berupa tangan atau tisu yang dibasahi air mutlak.

HUKUM KOTORAN TIKUS PADA MAKANAN

Ada pendapat dalam mazhab Maliki yang menyatakan bahwa kotoran tikus rumah itu tidak najis apabila berada pada makanan.

Dasuqi dalam Hasyiyah Ad-Dasuqi, hlm. 1/58, menyatakan:

قوله: (كروث فار) أي شأنه استعمال النجاسة كفار البيت، فإذا حل روثه في طعام نجسه خلافا لما أفتى به ابن عرفة من طهارة طعام طبخ وفيه روث الفارة كذا في حاشية شيخنا

Artinya: Seperti kotoran tikus. Yakni keadaan pemakaian najis seperti tikus rumah. Apabila kotoran tikus berada di makanan, maka makanan menjadi najis. Berbeda dengan yang difatwakan oleh Ibnu Irfah yang menyatakan bahwa makanan yang dimasak dan di dalamnya terdapat kotoran tikus itu hukumnya suci. Begitu juga pendapat dalam Hasyiyah guru kami.

Jadi, cara menyucikan najis yang benar dan standar adalah: a) buang najisnya; b) siram dengan air mutlak.

Bekas siraman air dari najis hukmiyah adalah suci. Jadi tidak apa-apa kalau airnya melebar ke mana-mana.

BAJU NAJIS DI MESIN CUCI

Assalamualaikum Ustadz saya ingin bertanya mengenai najis

1.jika baju terkena ompol dan belum dibilas,lalu dimasukkan ke mesin cuci dengan beberapa baju yang suci,apakah semua baju terkena najis?meskipun 3 kali giling dan jika najis,apakah mesin cuci dan jemurannya ikut terkena najis?

2.ustadz,jika baju yang terkena ompol sudah di bilas namun cara bilasnya salah,caranya dengan baju diberi air lalu di putar sedikit lalu bajunya yag dinaikkan bukan airnya yang di keluarkan(tangan terkena rendaman) dan bajunya banyak,lalu diulang seperti itu sampai 2-3 kali,lalu ada beberapa baju yang sudah saya beri air dari kran karena takut jika masih ada najis,kemudian saya masukkan baju ke mesin cuci bersama pakaian suci lainnya,apakah pakaian suci terkena najis ustadz? dan mesin cuci dan jemurannya gimana?dan jika memang najis,lalu bagaimana dengan kloter baju selanjutnya yang di mesin cuci?syukron

3.jika kucing habis pup/pipis,dan pasirnya berserakan dilantai,apakah pasirnya najis?walaupun kadang tidak ada baunya.terimaksih ustadz

JAWABAN

1. Kalau mesin cuci otomatis, maka tidak masalah. Semua baju menjadi suci. Kalau mesin manual, maka najis menurut mazhab Syafi'i dan suci menurut mazhab Maliki apabila tidak berubah warna air. Baca detail: Cara Cuci Baju di Mesin Cuci

2. Sama dengan jawaban 1. Baca detail: Cara Cuci Baju di Mesin Cuci

3. Kalau pasirnya kena kencing atau pup, maka najis. Kalau tidak kena, maka tidak najis. Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan

NAJIS HUKMIYAH DICUCI DI MESIN CUCI

pertanyaan,tolong dijawab ustadz.Assalamualaikum ustadz saya ingin bertanya,jika najis hukmiyyah di cuci di mesin cuci bagaimana?saya memencet bilas,namun ada sedikit sabun yang ikut tercampur,pada hasil akhirnya airnya warnanya jernih agak kotor dan ada busa dikit lalu saya peras,bagaimana ustadz? syukron

JAWABAN

Tidak apa-apa. Hukumnya suci. Baca detail: Cara Cuci Baju di Mesin Cuci

Hukum air bekas menyucikan najis hukmiyah

Hukum air bekas menyucikan najis hukmiyah

Saya memiliki beberapa pertanyaan yang saya mohon jawaban, penjelasan, dan solusi nya.

1. Saya ingin menerapkan pendapat Imam Al Ghazali perkara air dan najis agar tidak talfiq saat menrapkan pendapat madzhab Syafi'i tentang najis ma'fu, dikarenakan pendapat beliau dekat dengan pendapat madzhab Maliki yang lebih ringan bagi saya yang menderita was-was qahry. Sementara saya belum mengerti jelas mengenai batasan najis ma'fu dalam madzhab Maliki, bila saya ingin menerapkan pendapat madzhab Maliki sepenuhnya. Saya membaca dari penjasan pihak Al Khoirot bahwa Imam Al Ghazali berpendapat air tetap suci selama tidak berubah warna, rasa, atau bau nya. Dan air tetap suci bila menyentuh najis yang sangat sedikit.

Saya sering mengalami saat mensucikan najis hukmiyah atau najis ukuran ma'fu, air ghusalah nya lepas dari tubuh dan jatuh menimpa najis hukmiyah atau najis ukuran ma'fu lain di bagian badan lain, kemudian menyebar ke lantai dll. Saya ingin menerapkan pendapat madzab Maliki tentang najis hukmi tidak menular untuk kemudahan, tapi di saat yang sama saya memerlukan konsep/pendapat najis ma'fu madzhab Syafi'i untuk menyikapi najis setitik di badan saya yang sempat lupa saya bersihkan dan terlanjur menyentuh pakaian dll.

Pertanyaan saya apakah dalam pendapat Imam Al Ghazali, air yang menyentuh najis hukmiyah, atau najis sangat kecil, dan tidak berubah sifat sama sekali, dihukumi suci tapi tidak mensucikan, atau dihukumi suci dan mensucikan? Saya berharap air ghusalah yang jatuh dan menimpa najis hukmi lain tersebut dihukumi suci dan mensucikan, tidak malah jadi menyebarkan najis hukmi atau mutanajjis ke mana-mana.

2. Saya saat ini masih menjalani pengobatan yang menyebabkan saya sering harus menggunakan salep di kaki saya. Sejujurnya salep ini cukup sulit dicuci bahkan dengan sabun.

Seandainya kaki saya yang bersalep ini tertimpa/menempel pada najis ainiyah dan tidak dibersihkan dengan tissue atau kain terlebih dahulu, langsung dicuci dengan air hingga najisnya bersih, namun sisa salepnya masih ada dan terasa lapisan tipis nya di kaki saya, bagaimana status hukum kaki saya dan air ghusalah yang terlepas dari kaki saya?

Karena air ghusalah dari kaki kanan umumnya menimpa kaki kiri dan sebaliknya, yang terjadi saya bolak balik mencuci kedua kaki, dan ini teramat sangat menghabiskan waktu dan air.

3. Saya disuruh pihak Al Khoirot untuk menentukan kesucian sesuatu dengan dugaan kuat dan tidak harus yakin 100%.

Masalahnya sebagai penderita was-was berat, sangat sulit bagi saya untuk mencapai kondisi dugaan kuat ini, terutama saat menyiram/membasuh najis dari bagian yang tidak terlihat mata, seperti lantai di bawah tubuh, telapak kaki, punggung dan bokong, belakang paha dan betis, atau (maaf) dubur saat melakukan siraman terakhir setelah najis ainiyahnya dihilangkan sebelumnya. Dalam kondisi tersebut saya sering terus menerus merasa air tidak mengena seluruh bagian yang harus disucikan secara merata, dan sulit sekali mendapat kondisi dugaan kuat bahwa air sudah mengena secara merata.

Situasi ini masih sangat sering menjebak saya hingga menghabiskan luar biasa banyak waktu (hingga lebih dari satu jam) dan air, terutama saat membersihkan najis yang tidak di ma'fu seperti setelah istinja buang air besar.

Saya paham bahwa caranya adalah dengan menghilangkan zat najis, lalu menyiram sekali terakhir, namun untuk mendapatkan dugaan kuat, bahwa siraman terakhir ini sudah merata mengenai najis dan tempat najis, sangat sulit bagi saya.

Saya terkadang memaksa diri menerima dan menganggap air sudah mengena rata, saat sebenarnya keraguan sangat kuat karena merasa air belum merata, dan kondisi dugaan kuat tidak juga tercapai setelah cukup lama, termasuk dengan menyebut lantang pada diri sendiri 'sudah rata', atau 'sudah kena'. Namun saya malah merasa khawatir sudah melakukan sesuatu yang dianggap menghalalkan hal haram dengan menyebut sesuatu yang masih najis sebagai suci.

Mohon solusi nya agar saya tidak menghabiskan banyak waktu dan air saat bersuci, dalam kondisi terus-terusan ragu dan kesulitan mendapatkan dugaan kuat tersebut.

Demikian pertanyaan-pertanyaan saya untuk kali ini. Saya sangat memohon jawaban, bantuan, dan solusi nya.

Atas segala kekurangan saya, saya mohon maaf. Dan saya haturkan terima kasih banyak.

JAWABAN

1. Air tersebut dihukumi suci dan mensucikan menurut sebagian pendapat dalam mazhab Syafi'i seperti Al-Mutawalli, dll. Dalam arti statusnya tidak berubah.

An-Nawawi dalam Roudotut Tolibin, hlm. 1/31, menjelaskan:

قال المتولي وغيره للماء قوة عند الورود على النجاسة فلا ينجس بملاقاتها بل يبقى مطهرا فلو صبه على موضع النجاسة من ثوب فانتشرت الرطوبة في الثوب لا يحكم بنجاسة موضع الرطوبة ولو صب الماء في إناء نجس ولم يتغير بالنجاسة فهو طهور فإذا أداره على جوانبه طهرت الجوانب كلها

Artinya: "Imam Mutawalli dan lainnya berkata air memiliki kekuatan ketika dialirkan ke najis. Maka air tidak menjadi najis karena bertemu dengan sesuatu yang najis akan tetapi ia tetap suci dan mensucikan. Umpama air disiramkan ke sesuatu bagian baju yang najis, lalu basahnya menyebar ke bagian baju yang lain, maka basah yang menyebar tersebut tidak dihukumi najis. Apabila air disiramkan pada suatu wadah yang najis dan air tersebut tidak berubah oleh najis maka status air tetap suci dan menyucikan (thahur). Apabila air itu diputar ke sekeliling wadah, maka seluruh kawasan wadah menjadi suci."

2. Kalau salepnya berupa benda padat, maka berarti najisnya menempel di permukaan salep. Cara menghilangkan najis cukup disiram di permukaan salep tersebut. Kalau salepnya masih ada tidak masalah. Dan air bekas menghilangkan najis hukmiyah hukumnya suci.

3. Kalau sudah yakin najisnya tinggal najis hukmiyah, maka dibasuh satu kali sudah cukup. Kalau masih ragu, maka ditambah satu kali lagi (menjadi dua kali) itu sudah mencapai tahap yakin. Tidak lagi dugaan kuat. Baca detail: Cara Menyucikan Najis Ainiyah dan Hukmiyah

Mengabaikan perasaan was-was itu bukan berarti menghalalkan yang haram. Justru itu perintah syariah. Dan justru selalu was-was dan selalu tunduk pada kemauan was-was itu malah mengabaikan perintah syariah. Baca detail: Cara Sembuh Was-was Najis, Wudhu, Mandi, Shalat

Talak 3 apakah bisa rujuk tanpa istri menikah dengan pria lain?

Talak 3 apakah bisa rujuk tanpa istri menikah dengan pria lain?

Bismillahirrahmaanirrahiim

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh,

Ustadz/Ustadzah, salam takzim, mhn maaf, mhn pencerahannya.

Butuh bantuan bgmn hukum syari'at atas kondisi Ikhwan akhwat ini.

Ikhwan akhwat ini menikah sirri, berpoligami. Akhwat tsb menjadi istri kedua tanpa sepengetahuan istri pertama.

Selang bbrp waktu krn Ikhwannya sempat mentargetkan di waktu tertentu untuk mengkondisikan istri pertama dan ternyata belum kunjung di penuhi, ternyata akhwat tsb tidak kuat krn blm disyiarkan dan tidak enak sama orang tuanya, ikhwannya juga blm bisa optimal mengkondisikan istri pertama, ikhwan ini infonya telah mengkondisikan istri pertama mengenai poligami sejak 3 tahun lalu tapi belum dilanjutkan optimal di kondisi pertama ini.

Situasi pertama, krn akhwat istri kedua tsb khawatir nanti terlalu lama tidak syiar, berpotensi fitnah dan khawatir istri pertama tahu mendadak, khawatir istri pertama guncang, maka istri kedua meminta di talak berkali-kali hingga sktr 15x, mendesak suami nya utk talak ,dan akhirnya di talak via WA meski suaminya ga berniat mentalak.

Kondisi kedua, kemudian mereka rujuk lagi krn memang mereka masih ingin memperbaiki dan kelak niat poligaminya disyiarkan, sambil istri pertama dikondisikan, Ikhwan tersebut mulai ikhtiar ketika istri pertama dicoba lg di kondisikan mengenai poligami, katanya agak guncang dan mengancam pisah, akhirnya suami dan istri kedua sepakat talak lg, tp yg kondisi kedua ini, talaknya baik-baik. Keduanya sepakat.

Kondisi ketiga, dan akhirnya mereka rujuk lg, namun selang beberapa waktu, karena istri kedua sempat sakit dan masih tidak kuat krn blm disyiarkan ngerasa bersalah kepada orangtua dan takut istri pertama marah dan berbuat yg tidak-tidak, akhirnya istri kedua ingin mundur dan memaksa lg berkali-kali utk ditalak, dan akhirnya suaminya mentalak lagi krn merasa dipaksa.

Keduanya menyesal krn sedang kondisi serba salah,

Awalnya mereka meyakini sdh 3x talak dan sdh tdk bs bersatu lagi, kemudian krn ikhwan tersebut merasa mentalak dalam kondisi di desak dan kesal. Akhirnya keduanya mencari informasi lebih rinci terkait hukum talak dalam kondisi kesal dan didesak apakah sah atau tdk, sumber informasi terlampir.

Mhn pencerahan Ustadz, apakah sdh jatuh talak 3 Oleh ikhwan tsb ke akhwat tsb? Krn ternyata mereka menyesal harus minta talak dan mentalak, keduanya sedang merasa serba salah.

Afwan ya Ustadz, mhn pencerahan utk bantu akhwat dan ikhwan ini, Ikhwan nya sdh minta akhwatnya utk bersabar krn Ikhwannya sedang usaha terus mengkondisikan istri pertama.

Qadarullah istri kedua tsb tdk kuat, sebetulnya mereka punya keinginan agar berpoligami secara optimal dan syiar. Setelah kejadian ini jika ternyata talaknya mgkn blm masuk talak tiga setelah baca artikel itu, mereka ingin segera lebih kuat mengkondisikan istri pertama.

Mhn pencerahannya Ustadz.

Apakah sdh jatuh talak 3?

Terima kasih banyak Ustadz/Ustadzah Jazakumullahu khayran katsiran.

Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

JAWABAN

Kasus di atas belum jatuh talak tiga. Baru jatuh talak 1 dan karena itu masih bisa rujuk.

URAIAN

Dalam kasus pertama tidak jatuh talak karena ucapan talak secara tertulis termasuk talak kinayah dan tidak jatuh talak apabila tidak disertai niat sebagaimana pengakuan suami. Baca detail: Cerai secara Tertulis

Dalam kasus kedua terjadi talak satu karena suami menyatakan talak dalam keadaan sukarela dan sadar. Baca detail: Cerai dalam Islam

Dalam kasus ketiga tidak jatuh talak karena suami menyatakan talak secara terpaksa. Baca detail: Talak Terpaksa

Dengan demikian, maka jatuh talak 1 saja. Dan bisa rujuk lagi. Baca detail: Cara Rujuk dan Masa Iddah

Was-was najis, bolehkah ikut mazhab maliki?

WAS-WAS NAJIS, BOLEHKAH IKUT MAZHAB MALIKI?

Assalamualaikum, ustadz saya mau nanya:

1. saya ini memiliki penyakit was-was yang cukup parah sampai nangis sendiri, disini bolehkah saya memakai mazhab maliki dalam soal air mustamal dapat mensucikan lagi dan soal najis maliki lainnya sedangkan masalah lain soal wudhu, mandi, sholat dan sebagainya saya ikut mazhab Syafi'i meskipun itu terjadi talfiq? Karena saya dengan mengikuti dua mazhab ini was-was terobati

2. Apakah 4 mazhab sepakat untuk tidak mencari-cari atau memastikan sesuatu itu najis jika tidak terlihat mata atau dilihat mata? Karena jujur saya suka memastikan apakah sesuatu itu najis atau tidka? Ini sangat membuat saya was-was parah

JAWABAN

1. Boleh. Tidak ada larangan bagi orang awam ikut berbagai mazhab yang sekiranya hal itu dapat menyembuhkan was-wasnya. Baca detail: Orang Awam Tidak Wajib Ikut Satu Madzhab

2. Ya. Tidak ada kewajiban untuk memastikan sesuatu itu suci atau najis. Apabila ragu, maka Anda cukup mendasari sikap soal suci dan najis pada kaidah fikih berikut: a) "Hukum sesuatu itu berdasarkan pada asalnya (الأصل بقاء ما كان علي ما كان)." Misalnya, apabila bertemu dengan pemilik anjing dan mengajak berjabatan tangan, anda tentu ragu apakah tangannya najis atau tidak. Maka, dalam hal ini tangannya dianggap suci sesuai dengan hukum asal seorang manusia yaitu suci.

b) "Keyakinan tidak hilang karena dugaan atau keraguan (اليقين لا يزول بالشك)." Misalnya, anda sudah berwudhu, lalu shalat. Di tengah shalat ragu apakah keluar kentut apa tidak. Maka, dianggap tidak kentut. Alias dianggap masih punya wudhu. Baca detail: Kaidah Fikih

HUKUM AIR BEKAS MENYUCIKAN NAJIS: SUCI ATAU NAJIS?

Assalamualaikum ustadz Saat ini saya masih dalam keadaan ocd waswas thaharoh

1. Ketika memasukkan mobil ke dalam garasi, lantai teras depan garasi banyak kotoran tikus dan dalam keadaan basah karena hujan otomatis ban kena sehingga membuat lantai garasi menjadi najis. Saat keadaan sudah kering tidak ada sesuatu pun seperti kotoran tikus di lantai garasi. Kalau saya menggunakan madzhab Maliki meskipun najis hukmiyah dalam keadaan basah sekalipun tidak dapat menularkan najisnya, apakah boleh saya menerapkan madzhab tersebut karena penyakit ocd saya?

2. Hukum kotoran cicak menurut berbagai madzhab bagaimana ya? Karena kalau saya menerapkan madzhab Maliki kan harus hewan yang halal yang suci kotorannya. Apakah saya boleh menerapkan pendapat yang mengatakan cicak itu tidak mengalir darahnya jadi di ma'fu kotorannya sementara saya terapi dengan madzhab Maliki?

3. Kesannya saya mencampur aduk berbagai pendapat fiqih bahkan lintas madzhab untuk diambil mudahnya saja. Memang ada pendapat bahwa harus ikut salah satu madzhab atau Qur'an dan hadist. Namun yang saya lakukan justru mengambil enaknya sementara saya ingin sembuh dari jeratan waswas ocd ustadz. Apa yang harus saya lakukan apakah benar langkah saya menggunakan terapi madzhab Maliki?

JAWABAN

1. Boleh. Tidak ada kewajiban untuk ikut satu mazhab bagi orang awam. Baca detail: Orang Awam Tidak Wajib Ikut Satu Madzhab

2. Hukum cicak baik kotoran maupun bangkainya adalah dimakfu (dimaafkan) menurut mazhab Syafi'i, sedangkan menurut mazhab Hanbali hukumnya suci. Anda boleh ikut pendapat ini. Walaupun di hal lain ikut Maliki. Baca detail: Kotoran dan Bangkai Cicak

3. Seperti dijelaskan di poin 1, tidak ada larangan untuk memilih pendapat berbagai mazhab apabila diperlukan. Seperti yang sedang anda alami saat ini. Adanya berbagai pendapat dalam soal najis ini justru menjadi solusi bagi orang yang sedang mengalami was-was seperti anda. Adanya sebagian ulama yang mensyaratkan ganti mazhab itu dalam konteks apabila tidak dalam kondisi darurat. Sedangkan anda termasuk dalam kondisi darurat. Baca detail: Hukum Ganti Madzhab menurut Wahbah Zuhaili

AIR BEKAS MENYUCIKAN NAJIS ITU TIDAK NAJIS

An-Nawawi dalam Roudotut Tolibin, hlm. 1/31, menjelaskan:

قال المتولي وغيره للماء قوة عند الورود على النجاسة فلا ينجس بملاقاتها بل يبقى مطهرا فلو صبه على موضع النجاسة من ثوب فانتشرت الرطوبة في الثوب لا يحكم بنجاسة موضع الرطوبة ولو صب الماء في إناء نجس ولم يتغير بالنجاسة فهو طهور فإذا أداره على جوانبه طهرت الجوانب كلها قال ولو غسل ثوب عن نجاسة فوقعت عليه نجاسة عقب عصره هل يجب غسل جميع الثوب أم يكفي غسل موضع النجاسة وجهان الصحيح الثاني والله أعلم.


"Imam Mutawalli dan lainnya berkata tentang kekuatan air yang didatangkan atas najis, maka air tidak menjadi najis karena bertemu dengan sesuatu yang najis akan tetapi ia tetap suci dan mensucikan. umpama air disiramkan ke sesuatu bagian baju yang najis, lalu basahnya menyebar ke bagian baju yang lain, maka basah yang menyebar tersebut tidak dihukumi najis. "