Tuesday, March 29, 2022

Penganut mazhab Syafi'i ikut mazhab Maliki soal najis apa boleh?

Penganut mazhab Syafi'i ikut mazhab Maliki soal najis apa boleh?

Permisi Saya mau bertanya. Setelah saya belajar fiqh, saya sadari, saya dan orang sekitar salah dalam cara mensucikan najis. Berikut permasalahan yang ingin saya tanyakan yang sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu sampai sekarang, tapi masih menjadi was-was di hati saya.

1. Di rumah saya ada orang yang sepuh (Mbah) punya penyakit beser(tidak bisa menahan kencing lama-lama) akibatnya sering kali ditengah jalanan (lantai) rumah berceceran kencingnya Mbah. Selama ini saya sekeluarga membersihkannya dengan cara mengelap dengan kain pel saja. Saya jadi was-was najis hukmiyahnya tersebar kemana-mana di rumah, karena kain pel tadi juga digunakan untuk membersihkan seluruh area lantai rumah. Kalau diguyur air semua di lantai, akan jadi masalah besar, karena melakukan sesuatu yang diluar kewajaran apalagi bisa membahayakan nyawa karena bisa terpeleset. Apakah boleh berpindah madzhab ke madzhab maliki yang mengatakan bahwa najis hukmiyah tidak menyebar ketika terkena basah atau berpindah ke Madzhab Imam Abu Hanifah yang mensucikan najis dengan bantuan cahaya matahari(karena selama ini saya menganggap berpindah madzhab ttg najis adalah suatu bentuk talfeq, dan setahu saya talfeq itu dilarang)?

2. Seringkali saya terasa dari dalam kemaluan keluar wadi/madzi tanpa kehendak saya, tapi masih tersangkut/terhenti di dalam(batang) kemaluan, biasanya saya urut dulu di kamar mandi baru keluar madzi/wadi tersebut, habis itu saya siram air agar suci. Pernah suatu hari ketika saya seperti terasa ada wadi/madzi yang tersangkut/terhenti di (batang)kemaluan saya, seketika itu saya tertidur karena mengantuk, setelah bangun tidur saya ke kamar mandi, lalu saya urut kemaluan saya tapi tidak keluar madzi/wadi, nah saya was-was, jangan-jangan waktu tidur tadi madzi/wadi saya tadi keluar dan terkena tempat saya tidur, tapi saya kadang juga bingung keluar benar atau tidak, dan itu dulu sering terjadi di beberapa tempat tidur di asrama. Apakah saya harus mensucikannya dengan air atau bisa dijemur saja dengan niat pindah madzhab karena takut nanti terjadi anggapan yang tidak-tidak?

3. Di dapur asrama sering kali najis kotoran cicak, tikus, hanya dipel dan tanpa diguyur air (disucikan), seringkali juga darah-darah hewan kurban berceceran dan dipel juga tanpa diguyur air. Dan darah hewan sembelihan qurban(kira-kira sebesar jempolan) saya jumpai terkena microfon musholla bahkan sampai kering dan hilang sendiri karena sering dipakai masyarakat, jadi saya was-was pegang micriphone karena menganggap najis hukmiyahnya masih ada. Mohon solusinya apa yang harus saya lakukan agar tidak was-was najis tersebar kemana-mana? Karena jika diguyur akan menjadi masalah sosial dan hal itu sudah menjadi adat kebiasaan karena penghuni asrama tidak tahu cara menghilangkan najis beserta sifatnya.

Saya yakin Islam adalah ajaran mudah tidak mempersulit, sayanya saja yang kurang ilmu. Mohon bantuannya Ustadz atas permasalahan saya, yang saya alami selama ini. Terima kasih banyak

JAWABAN

1. Mengikuti mazhab lain, yakni Maliki, untuk menghindari kesulitan dan menghindari was-was adalah boleh. Bahkan dalam konteks ini dianjurkan. KH Hasyim Asy'ari dalam kitab Risalah Ahlussunnah Wal Jamaah menyatakan "tidak ada kewajiban bagi orang awam untuk ikut satu mazhab saja." Baca detail: Orang Awam Tidak Wajib Ikut Satu Madzhab

Ulama mazhab Syafi'i kontemporer (muashirin) yaitu Wahbah Zuhaili menyatakan hal yang sama. Yakni tidak ada masalah pindah mazhab lain dalam masalah tertentu apabila itu diperlukan. Dalam Al-Fiqhul Islami wa adillatuhu ia menyatakan:

وجواز التلفيق مبني على ما قررناه من أنه لا يجب التزام مذهب معين في جميع المسائل، فمن لم يكن ملتزماً مذهباً معيناً، جاز له التلفيق، ...، لأن العامي لا مذهب له ولو تمذهب به، ومذهبه في كل قضية هو مذهب من أفتاه بها. كما أن القول بجواز التلفيق يعتبر من باب التيسير على الناس.Dal وتقليد إمام في جزئية أو مسألة لايمنع من تقليد إمام آخر في مسألة أخرى،


Artinya: Bolehnya talfiq itu berdasarkan pada apa yang telah kami tetapkan bahwa tidak ada kewajiban untuk menetap pada satu mazhab tertentu saja dalam masalah-masalah agama. Dan sesiapa yang tidak wajib ikut satu mazhab maka konsekuensinya boleh untuk talfiq. Orang awam pada dasarnya tidak punya madzhab. Apabila orang awam bermazhab pada setiap masalah agama, maka pada dasarnya ia bermazhab pada orang yang memberi fatwa. Pendapat yang membolehkan talfiq ini termasuk untuk mempermudah umat.... Taqlid pada satu imam fikih pada satu bagian masalah atau satu masalah hukum itu tidak mencegahnya untuk taqlid pada imam mujtahid yang lain dalam masalah berbeda. Baca detail: Hukum Ikut Beberapa Madzhab

2. Dalam soal ini, anda telah terjebak dalam was-was yang dilarang dan tidak perlu dilakukan. Pertama, agama tidak mewajibkan orang untuk meneliti lubang kemaluannya apakah ada najis atau tidak. Yang wajib dibasuh itu adalah kemaluan bagian luar saja. Selagi tidak ada madzi atau wadzi di permukaan kemaluan, maka tidak ada yang perlu disucikan. Dan cara utama dalam menghilangkan rasa was-was adalah mengabaikannya. Baca detail: Cara Sembuh Was-was Najis, Wudhu, Mandi, Shalat

Kedua, hukum tubuh manusia itu adalah suci. Kalau kita ragu apakah tubuh kita terkena najis, maka keraguan yang tanpa adanya bukti itu tidak dianggap. Dan statusnya tetap dianggap suci. Begitu juga dengan baju yang kita pakai. Dalam kaidah fikih dikatakan: "Yakin tidak hilang oleh ragu." Kaidah ini maknanya, bahwa sesuatu yang suci tetap dianggap suci dan tidak berubah jadi najis hanya karena asumsi atau dugaan adanya najis. Baca detail: Kaidah: Suci tidak hilang karena Asumsi Najis

3. Anda bisa ikuti jawaban no. 1. Yakni, ikuti mazhab Maliki yang menganggap najis hukmiyah tidak menularkan najis.

Sunday, March 27, 2022

Suami bilang Ya udah terserah kamu, apa jatuh talak?

Suami bilang Ya udah terserah kamu, apa jatuh talak?

assalamualaykum ustadz,

'afwan ustadz saya ingin bertanya, perihal apakah kasus saya ini jatuh talak atau tidak dan apakah ada dampak khusus dr kasus saya ini selain talak pada hubungan pernikahan saya dan suami?

Saya ceritakan kroniloginya ya ustad, jadi gini ustad, saat itu suami saya marah lalu menonjok tembok, lalu saya merasa down, takut & sedih, akhirnya saya bilang saya ga sanggup, saya mau pulang kerumah orang tua & saya gamau kembali lagi, lalu suami bilang "yaudah iya". lalu saya bicara terus soal ketidaksanggupan saya, lalu suami bilang "yaudah terserah kamu, kamu bilang aja sama orang tua kamu apa mau kamu". lalu saya (istri) bilang "berarti apapun keputusannya, kamu ikut?", lalu suami bilang "iya".

tapi setelah itu dia bilang kalau dia ga izinkan saya pulang, dia mau tetap saya dirumah.

lalu saya bilang lagi "tadi kamu sebelumnya mengizinkan & trs kamu bilang terima apa saja keputusannya, tapi sekarang melarang, jadinya maksudnya gimana?". lalu dia menjawab bahwa "dia ingin tetap saya dirumah bersamanya". lalu saya bilang "saya bingung dengan jawaban suami yg berubah ubah, saya khawatir apakah jawaban dari suami atas pertanyaan & pernyataan saya di awal, perihal ungkapan saya sebelumnya yang ingin pulang dan tdk ingin kembali itu berpengaruh?" lalu suami sempat bertanya, dia bilang gini "maksud kamu apa? Maksud kamu talak?", lalu saya jawab "iya, karna kamu mengiyakan sebelumnya, itu bisa jadi jatuh, kan saya gatau dalam hati kamu seperti apa, saya hanya menilai dari jawabannya".

lalu suami kekeuh kalau itu Sama sekali tidak jatuh meski dia sempat mengiyakan ucapan saya sebelumnya yg saya ceritakan diatas. Mohon arahannya ustadz. syukran

JAWABAN

Dalam kasus di atas tidak terjadi talak. Karena suami secara jelas menyatakan dia tidak ada niat talak. Dalam hukum Islam, ucapan suami atau pengakuan suami adalah yang dianggap. Baca detail: Pengakuan Suami Soal Talak yang Dianggap

SUAMI BILANG AKU MUNDUR, APA JATUH TALAK?

Assalamualaykum.

Ustadz, saya mau tanya, apakah kasus saya ini menyebabkan jatuh talak?

Bagaimana jika suami bilang dengan emosi "kita emang udah ga cocok, udah, aku mundur, mundur".

Apakah jatuh talak ya ustad?

JAWABAN

Ucapan suami tersebut termasuk kategori talak kinayah. Ia baru jatuh apabila disertai niat. Tanya pada suami apakah ada niat talak saat mengucapkan kalimat tersebut. Baca detail: Talak Kinayah

Apabila suami mengatakan tidak ada niat, maka berarti tidak jatuh talak. Dan istri harus mempercayai itu dan tidak perlu bertanya berkali-kali. Karena, ucapan suami itu secara syariah bersifat mengikat dan dianggap. Baca detail: Pengakuan Suami Soal Talak yang Dianggap

Wednesday, March 23, 2022

Bisnis: hukum trading berjangka

Bisnis: hukum trading berjangka Assalamu'alaikum. Umumnya dalam perdagangan batu bara, ada 3 macam kontrak. Pertama, harga batu bara sesuai yang telah ditentukan oleh penjual dan pembeli (misal 80 USD/ton), kedua si pemilik batu bara tidak membuat kontrak apapun (karena harga batu bara bisa naik), ketiga harga batu bara yang disepakati penjual dan pembeli adalah sesuai harga pasar. Yang ingin saya tanyakan 1. Apakah cara perdagangan yang ketiga yaitu harga batu bara yang disepakati penjual dan pembeli sesuai harga pasar termasuk Halal dalam Islam? 2. Bagaimana Hukum trading berjangka dalam Islam? 3. Bagaiamana Hukum trading forex dalam Islam? 4. Untuk pertanyaan nomor 1, semisal penjual dan pembeli sepakat harga batu bara yang digunakan adalah sesuai indeks, dimana harga indeks tersebut berubah-ubah (ketidakpastian), apakah ini praktik yang terlarang karena mengandung ketidakpastian? Contoh permasalahannya adalah misal pembeli sudah membayar kepada penjual dengan kesepakatan kontrak yaitu harga sesuai indeks dan akan diperbarui kontrak tiap 3 bulan sekali dan pada saat itu harganya 60 USD/ton, lalu setelah 3 bulan berlalu, harganya menjadi 100 USD/ton, bagaimana Hukum dalam Islam sesuai dengan contoh kasus di atas? Terimakasih. Wassalamu'alaikum JAWABAN 1. Ya, halal. Prinsip dalam Islam adalah sama-sama ridho antara kedua pihak. Dan tidak ada unsur tipuan. Serta barang yang dijual adalah barang halal. Baca detail: Bisnis dalam Islam Baca detail: Hukum Bank Konvensional 2. Hukumnya boleh dan sah. Baca detail: Hukum trading berjangka 3. Tidak masalah. Boleh dan sah. Baca detail: Hukum Bisnis Money Changer / Valas / FOREX 4. Kalau sudah bayar di awal, tapi penyerahan barang sesuai harga pasar terakhir, maka hukumnya haram. Yang boleh apabila harga ditentukan saat awal yakni saat pembayaran. Baca detail: Hukum trading emas di pasar berjangka Kalau harga ditentukan secara realtime maka hendaknya, pembayaran juga dilakukan secara real time. Yakni pada saat barang sudah ada. TANYA pak ustad untuk point no 2, jika yang saya tunjukan harga ditoko A karna harganya lebih mahal, lalu saya beli ditoko B untuk dapat keuntungan karna harganya lebih murah,,, apakah status keuntungannya tetap halal, atau karna saya merasa menipu harus dikembalikan ke pembeli? jika saya lupa detail keuntungannya bagaimana? JAWABAN Apabila barangnya sama persis kualitasnya, maka hal itu tidak masalah. Namun, kalau kualitasnya berbeda antara toko A dan toko B, maka itu termasuk ada unsur penipuan. Dan hendaknya anda meminta maaf pada orang tersebut. Sebenarnya, kalau orang memakai jasa anda untuk membeli barang, dia pasti memaklumi kalau anda akan mengambil untung. Jadi, sejak awal akan lebih baik kalau anda berterus terang bahwa anda akan mengambil untung. Atau, tidak perlu berbicara apapun yang terkesan berbohong. Baca detail: Bisnis dalam Islam OCD Assalamu'alaikum Wr. Wb. Saya erwin, saya sebelumnya sudah pernah Konsul dengan ustadz, tapi diagnosisnya OCD. Ternyata setelah saya konsulkan dengan dr Sp KJ. Saya didiagnosis psikosis lir scizofrenia (waham keagamaan). Semua hal berkaitan dengan keimanan, sampai ada pikiran atau niat untuk murtad. Yang saya tanyakan: 1. Apakah hukum yang berlaku di penyakit OCD sama dengan hukum yang berlaku di psikosis 2. Apa yang harus saya lakukan supaya saya bisa sembuh? Terima kasih ustadz atas bantuannya JAWABAN 1. Sama. Pada prinsipnya, apa yang sedang anda alami adalah cara berfikir anda yang tidak biasa. Yang tidak umum. Di mana sering terjadi konflik antara yang dikehendaki dengan yang keluar tanpa sadar. Dalam syariah Islam ini termasuk dalam kategori was-was qahri juga. Dan was-was qahri itu termasuk dalam OCD. Dan ucapan atau perilaku anda yang berdampak murtad pada orang 'normal' tidak berdampak apapun pada anda karena itu di luar kehendak hati anda. Baca detail: Syarat Sahnya Murtad 2. Kalau memang pikiran murtad itu bukan kehendak anda sendiri, maka biarkan saja dan abaikan. Akan tiba saatnya ia akan menghilang sendiri. Anggap itu dari setan, bukan dari anda. Dan memang pikiran was-was itu berasal dari setan. Baca detail: Cara Sembuh Was-was Di samping itu, jangan lupa selalu berdoa setiap selesai shalat fardhu agar diberi ketenangan hati dan pikiran. Baca detail: Doa Hati Tenang dan Cerdas NAJIS DAN SUCI Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ustadz...saya mau bertanya : 1. Anak saya buang air besar dan diceboki oleh ibu saya,namun saat saya memakaikan pampers pada anak saya masih tercium bau kotoran anak saya dibagian pangkal paha kanan anak saya namun tidak ada wujudnya,yang saya tanyakan adalah apakah itu termasuk najis? 2. Apakah itu termasuk was-was karena awalnya saya merasa seperti ada bau kotoran anak saya lalu ketika saya mencium pangkal paha kanan anak saya beberapa kali ada baunya,namun saat saya mencium pangkal paha kiri anak saya tidak berbau kotoran. 3. Bagaimana status barang-barang yang saya pegang apakah menjadi terkena najis dari tangan saya karena saya tidak membersihkan lagi pangkal paha anak saya dan saya langsung pakaikan celana. JAWABAN 1. Kalau tidak ada bentuknya maka tidak najis. Baca detail: Menyucikan Najis Masih Ada Warna dan B 2. Ya termasuk was-was. Abaikan saja. Selagi tidak ada bentuk kotoran, maka dianggap suci. Baca detail: Bau busuk tanpa benda apa najis? 3. Karena dianggap suci, maka tidak masalah. Baca detail: Kaidah: Suci tidak hilang karena Asumsi Najis

Monday, March 21, 2022

Harta istri dibelikan rumah atas nama suami

Harta istri dibelikan rumah atas nama suami

Assalamualaikum,

Saya Bu Henriette dari Jakarta, ingin menanyakan tentang warisan dalam hukum Islam.

Jika saya meninggal, ahli waris saya adalah suami, 1 anak laki-laki dan 1 anak perempuan.

Saya dahulu mempunyai harta bawaan yang berasal dari warisan orang tua saya sebesar Rp 500 juta. Namun pada saat menikah, harta saya dipergunakan suami dengan seijin saya sebagai uang muka pembelian rumah. Dan rumah tersebut atas nama suami saya. Saat ini kondisinya saya tidak memiliki harta apapun, karena nafkah dari suami saya setiap bulannya selalu habis untuk keperluan sehari-hari.

Yang ingin saya tanyakan

- jika saya meninggal, apakah harta saya yg dahulu dipakai oleh suami saya, yaitu (uang yg sudah berbentuk rumah dengan atas nama suami) bisa dibagi juga, karena saat ini sudah berbentuk rumah dengan sertifikat atas nama suami saya.

- lalu jika suami saya yg meninggal, apakah saat pembagian warisan, semua harta peninggalan atas nama suami langsung dibagi sesuai syariat Islam, atau boleh dikeluarkan dulu harta bawaan saya (istri) sebesar Rp 500juta tersebut tersebut dan sisanya baru dibagi sesuai Syariat Islam?

Demikian pertanyaan saya, atas bantuannya saya ucapkan terimakasih, jazakumullah khayron

Wassalam

JAWABAN

1. Kalau harta yang 500 juta itu tidak anda hibahkan pada suami, maka uang tersebut tetap menjadi hak milik anda. Kalau demikian, maka kelak kalau anda meninggal, harta itu akan menjadi harta warisan anda yang akan dibagikan pada ahli waris anda di mana suami (kalau masih hidup) termasuk salahsatunya.

2. Dikeluarkan dulu harta yang menjadi milik anda - yang 500 juta -- dan dikeluarkan untuk hutang suami kalau ada. Baru kemudian dibagikan sisanya pada ahli waris. Di mana anda sebagai istri (kalau masih hidup) termasuk salahsatunya. Baca detail: Hukum Waris Islam

Dalam Islam tidak ada harta gono-gini (harta bersama suami istri) secara otomatis. Setiap harta menjadi milik masing-masing suami istri berdasarkan sistem kepemilikan yg berlaku umum. Baca detail: Harta Gono gini

BAGIAN WARIS SAUDARA KANDUNG DAN SAUDARA SEAYAH

Seorang perempuan meninggal dunia pada 19 Agustus 2021.

Adapun status ahli waris sebagai berikut :

1. Ayah meninggal
2.Ibu meninggal
3.Suami meninggal
4.Anak tidak punya
5.Satu saudara perempuan kandung masih hidup
6.Satu saudara laki laki seayah masih hidup

Pertanyaan : 1,Berapa bagian untuk yang meninggal misalnya untuk pengajian,infaq dan pemakaman?
2.Berapa bagian untuk ahli waris yang masih hidup

JAWABAN

1. Satu saudara perempuan kandung mendapat 1/2
2. Sisanya diwariskan untuk saudara laki-laki seayah.

Perlu diketahui bahwa pembagian warisan dilakukan
a) Segera setelah meninggalnya pewaris
b) Setelah dipotong hutang pewaris, biaya pemakaman pewaris dan wasiat pewaris kalau ada. Baca detail: Hukum Waris Islam

KEPONAKAN APAKAH DAPAT WARISAN?

Seorang perempuan meninggal dunia pada 16 Agustus 2021.
Adapun status ahli waris sebagai berikut :
1. Ayah meninggal
2.Ibu meninggal
3.Suami meninggal
4.Anak tidak punya
5.Satu saudara perempuan kandung masih hidup
6.Adik laki laki dari ayahnya sudah meninggal tapi punya anak laki laki satu masih hidup

Pertanyaan :
1,Berapa bagian untuk yang meninggal misalnya untuk pengajian,infaq dan pemakaman?
2.Berapa bagian untuk ahli waris yang masih hidup
3.Apakah anak laki laki yang masih hidup dari adik laki laki ayahnya yang sudah meninggal dapat bagian?

JAWABAN

1. Ahli waris yang meninggal tidak dapat bagian. Yang dapat bagian hanya ahli waris yang masih hidup.

2. Satu saudara perempuan kandung mendapat 1/2

3. Ya, sepupu pewaris, yakni anak laki-laki dari saudara lelaki ayahnya, mendapat bagian sisanya: yaitu 1/2.

Perlu diketahui bahwa pembagian warisan dilakukan
a) Segera setelah meninggalnya pewaris
b) Setelah dipotong hutang pewaris, biaya pemakaman pewaris dan wasiat pewaris kalau ada.
Baca detail: Hukum Waris Islam

Sunday, March 20, 2022

Hukum medsos, gadget, aplikasi, film di Era Internet

Hukum medsos, gadget, aplikasi, film di Era Internet

Assalamualaikum ustad, kembali lagi nih, dengan menurut saya suatu permasalahan pada generasi muda yang butuh atensi lebih.

Jadi, kami dari generasi muda, remaja dan dewasa yang cukup muda, biasanya lihai dalam memakai gadget serta internet karena sejak usia muda telah terbiasa memakai dan kenal dengan hal tersebut, mungkin saat seorang remaja ditanyakan apa hobinya, biasanya mereka akan menjawab menonton film atau tayangan , mendengarkan musik, membaca buku atau komik, serta bermain game. Dan menurut kita ya biasa-biasa saja, karena memang itu hal yang biasa

Namun ada sebuah pikiran yang melintas di pikiran saya, sebenarnya darimana sih mereka bisa mendapatkan hal-hal tersebut, inilah yang menjadi "bintang" topik pertanyaan saya kali ini, karena mereka biasanya mendapatkan hal-hal tersebut melalui situs ilegal yang tersedia di internet, yang hukumnya cukup jelas haram, karena termasuk perbuatan yang melanggar hak cipta dan memakan harta orang lain dengan cara yang batil.

Ini sebenarnya cukup meresahkan diri saya karena saya juga tergolong orang yang berada di "arus" itu, adapun faktor-faktor yang menyebabkan banyaknya orang menggunakan situs ilegal adalah:

1.faktor ekonomi, kadang harga untuk sesuatu yang legal tersebut cukup mahal, dan faktor ini juga terdorong karena hal lain, seperti bukannya tidak sanggup membeli yang legal, namun ini adalah kebutuhan tingkat rendah yang tidak ada darurat ataupun paksaannya, jadi orang-orang modern cenderung berpikir bahwa apabila ada yang gratis, kenapa tidak? Padahal sebenarnya kita tidak tahu situasi para produsen barang-barang tersebut yang cukup bergantung pada penjualan barang-barang tersebut. (contohnya adalah sebuah game yang harga aslinya 500 ribu, namun karena terlalu mahal, jadi orang-orang membajaknya dan menjualnya dengan harga 20ribu, ada hasrat dari konsumen yang ingin memainkan game tersebut, namun karena harganya terlalu mahal, dan seperti yang saya sebutkan ini adalah kebutuhan tingkat rendah, yang hanya berperan sebagai hiburan dan tidak ada daruratnya, alhasil konsumen tersebut lebih memilih untuk membeli yang bajakan.)

2.Keterbatasan Negara, di era digital ini, mudah sekali untuk mendapatkan sesuatu dari luar negeri, seperti dengan adanya buku buku digital atau e-book, namun menurut saya ini juga menjadi salah satu faktor, (contohnya adalah ketika seorang konsumen menyukai suatu serial buku dari luar negeri, namun cara untuk mendapatkan yang legal hanya terdapat pada negara tersebut, dan konsumen tersebut tidak mengerti bahasa asli serial itu karena pada awalnya ia membaca versi translasi dari penggemar lain yang tersedia secara gratis di Internet, perbuatan semacam ini sebenarnya ada pro dan kontranya, pronya adalah versi translasi ilegal yang tidak mendapat izin tersebut bisa menjangkau para penggemar luar negeri dan mempromosikan serial tersebut, namun kontranya adalah versi translasi tersebut menyediakan konten buku tersebut yang sudah diterjemahkan dan gratis tersedia di internet, sehingga konsumen akan berpikir bahwa untuk apa membeli serial tersebut jika tidak mengerti bahasanya, lebih baik untuk membaca versi translasi yang mudah dimengerti, gratis, dan tidak repot juga)

3. Ketidaksabaran konsumen, yaitu saat sesuatu yang mereka inginkan atau gemari rilis di suatu tempat lebih dahulu (misalnya pada buku komik, seri X di amerika telah mencapai volume 20,sedangkan seri x di indonesia baru mencapai volume 15, konsumen yang entusias menunggu tentu ingin tahu tentang lanjutan cerita pada komik tersebut, atau pada film X yang misalnya tayang duluan di amerika pada bulan juni, namun di indonesia baru akan tayang pada bulan agustus, dan alhasil orang-orang yang berada di negara amerika bisa mendapatkan komik x serta film x terlebih dahulu, dan kemudian menguploadnya di internet secara gratis agar penggemar negara lain bisa mendapatkan konten dari serial yang mereka sukai dengan cepat)

Tetapi biasanya disini ada sebuah faktor pembeda, dimana kasus pertama adalah orang yang membagikan hiburan-hiburan tersebut benar-benar mengambil dari orang lain dan tidak memberi kredit kepada pemilik aslinya serta mengambil untung dari website yang ia miliki dengan memakai iklan, dan kasus kedua adalah orang tersebut awalnya mendapatkan hiburan tersebut secara legal namun kemudian ia mengupload hiburan tersebut di websitenya secara gratis dan memasang iklan untuk mendapatkan keuntungan (biasanya karena mereka telah "bekerja" memberikan terjemahan atau subtitle), dan kasus ketiga adalah orang yang mendapatkan hiburan tersebut secara legal dan menguploadnya di website miliknya, namun ia tidak mengambil untung dengan memasang iklan, ia membuka donasi agar ia bisa terus membeli hiburan tersebut, kemudian menerjemahkannya dan membagikannya secara gratis kepada masyarakat. Dan semua ini biasanya terkumpul di satu tempat, dan inilah syubhat yang saya maksud, hiburan-hiburan ini biasanya terkumpul di satu website namun terdapat ketidakjelasan darimana asalnya. (ya meskipun pada ujungnya semuanya masih tetap termasuk hal serta perbuatan yang tidak mendapat izin resminya, murni karena perasaan ingin membagikan pada sesama penggemar)

Masih banyak lagi faktor-faktor lain, namun begitulah intinya, kami masyarakat biasa lebih memilih yang murah atau gratis, karena pada dasarnya hobi itu tidak ada yang murah, dan orang-orang biasanya tidak mau merogoh isi kantong hanya untuk hiburan yang tidak ada daruratnya sama sekali.

Namun ini termasuk perbuatan memakan harta orang lain dengan cara yang batil dan apabila saya telusuri dosa yang seperti ini lebih berat daripada dosa kepada Allah, bahkan banyak juga hadits ancaman yang mengatakan bahwa pahala amalan akan ditransfer pada orang yang dizalimi, dan saya berpikir, misalnya kita membaca suatu karya secara ilegal saja sudah bisa merugikan pihak produksi, dan orang yang bekerja di pihak produksi bukan hanya 1 atau 2 melainkan satu perusahaan, apabila saya baca-baca cara menghilangkan dosanya adalah dengan meminta maaf kepadanya, kemudian saya berpikir kembali, tidak mungkin juga kan kita menelpon setiap perusahaan tersebut, sedangkan tingkat perbuatan kita sudah banyak sekali, mau bertaubat juga sudah benar-benar sulit sekali karena sudah berakar di pikiran masyarakat modern, mau bersedekahpun tidak akan pernah cukup untuk mengganti semua kerugian tersebut, sedangkan kita tidak memiliki banyak uang dan waktu untuk mengurusi hal tersebut.

Hal ini membuat saya risih, karena apa lagi yang bisa saya lakukan? Kemana-mana saya pergi rasanya seperti syubhat dimana-mana, zaman yang telah berubah menjadikan dosa besar sangat mudah untuk dilakukan, sedangkan untuk menghapusnya saja sangat susah sekali. Bertaubat dari sesuatu yang sudah berakar di masyarakat,teman,serta lingkungan sekitar tidak semudah yang dipikirkan, oleh karena itu lah saya bingung, amalan yang kuperbuat masih sangat dikit sekali, hanya sekadar shalat, berdzikir, atau bersedekah yang tak seberapa, sedangkan kerugian yang kuperbuat pada orang lain sudah banyak sekali, dan kalau tidak salah dosa kepada orang lain lebih berat daripada dosa kepada Allah.

Untuk pertanyaannya adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana tanggapan dan solusi ustad pada masalah berikut?

2. Apakah kami para pembaca atau penonton mendapatkan keringanan bagi perbuatan tersebut? Dikarenakan perkembangan zaman yang sudah mendistorsi pola pikir masyarakat, dan mendapatkan hiburan tersebut sangatlah mudah namun untuk penghapusannya sangatlah sulit apalagi dimasa pandemi seperti sekarang dimana orang-orang cenderung berada dirumah dan mencari-cari suatu hiburan untuk mengisi kekosongan

3. Apakah dengan shalat, berzikir serta bersedekah yang tak seberapa saja bisa menghapus dosa tersebut, karena apabila bertaubat juga sulit sekali, apabila misalnya kita bertaubat setiap hari maka kesannya akan menjadi taubat asal-asalan dan tidak ada niatan asli untuk berhenti, karena pada dasarnya ini telah menjadi suatu hal dalam kehidupan modern yang berakar, arus ini tidak bisa dihentikan begitu saja dan saya yakin masyarakat masih akan melakukannya

Sebenarnya saya juga sudah cukup lelah mengurusi masalah seperti ini, setiap hari rasanya ada saja masalah baru, hal ini membuat rasanya sulit sekali untuk hidup, dikarenakan bahaya zaman modern beserta syubhatnya dan ketidakmampuan kita untuk menghapuskan segala dosanya dengan cara yang benar.

JAWABAN

1. Perbuatan yang diharamkan syariah ada dua macam: yaitu yang haramnya disepakati ulama secara mutlak dan yang haramnya masih terjadi khilaf atau perbedaan ulama fikih. Begitu juga, perbuatan haram itu ada levelnya. Dari level tertinggi, level menengah dan level rendah. Semakin besar suatu keharaman itu merugikan orang lain, maka semakin tinggi kadar haram dan dosanya. Misalnya, mencuri seribu rupiah tentu beda dosanya dengan mencuri sejuta rupiah. Ghibah berdasarkan fakta itu dosa, menyebarkan berita hoax dan memfitnah itu lebih dosa lagi karena efek merusaknya yang lebih besar. Begitu seterusnya.

Dengan mengetahui ini, maka kita memiliki prioritas untuk menghindari dosa-dosa yang levelnya tertinggi. Lalu, berusaha menghindari dosa yang levelnya di bawahnya dan di bawahnya lagi, dst.

Pada waktu yang sama, kita berusaha untuk bertaubat atas dosa yang dilakukan. Ada beberapa macam bentuk taubat. Termasuk di antaranya melakukan amal baik yang wajib dan sunnah. Dan selalu berniat dalam hati untuk tidak lagi mengulangi perbuatan yang haram. Baca detail: Cara Taubat Nasuha

Termasuk dalam bentuk taubat adalah menghindari lingkungan yang buruk. Baik lingkungan pergaulan sosial di dunia nyata, dunia maya, tontonan, bacaan, dll. Baca detail: Wajib Menjauhi Lingkungan Pergaulan Buruk

2. Yang namanya manusia tidak ada yang luput dari salah dan dosa. Yang terpenting, kita mengakui bahwa suatu perbuatan haram itu haram dan berusaha menghindarinya atau tidak mengulanginya. Walaupun seandainya perbuatan yang sama terulang lagi. Ini terutama terkait masalah haram yang disepakati ulama (ijmak). Namun, terkait masalah haram yang masih menjadi perbedaan ulama, maka kita bisa dan boleh mengikuti pendapat yang membolehkannya. Misalnya terkait hukum bank konvensional, ucapan selamat natal, hukum musik, hukum gambar/film, dll. Lihat link berikut untuk memperdalam:

- Hukum Ucapan Selamat Natal
- Hukum Bank Konvensional
- Hukum Musik
- Hukum Gambar dan Patung

3. Ya, dosa-dosa kecil bisa terhapus dengan amal baik. Sama saja amal wajib maupun sunnah. Allah berfirman dalam QS Hud ayat 114

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ


Artinya: Kebaikan akan menghapus keburukan. Maksudnya, amal baik pahalanya akan menghapus dosa.

KESIMPULAN

1. Sebisa mungkin amalkan yang wajib dan jauhi yang haram. Termasuk amal baik yang sunnah. Terutama yang banyak manfaatnya bagi orang lain. Jauhi yang haram, terutama jauhi perkara haram yang disepakati haramnya. Dan paling besar daya perusaknya.

2. Apabila dalam kondisi khilaf lalu melakukan perbuatan dosa, maka akui dosa itu dan bertaubat. Salah satu bentuk taubat adalah menghindari lingkungan buruk. Asal setiap dosa selalu diiringi dengan taubat dan rasa menyesal yang serius, maka Allah akan mengampuni. Baca detail: Cara Taubat Nasuha

3. Lakukan semuanya dengan ikhlas dan lalu bertawakal. Berpasrah diri pada Allah. Tidak perlu ingin sempurna sehingga menimbulkan depresi dan stress karena tidak mampu melakukannya. Kesempurnaan hanya milik Allah dan Nabinya. Bukan pada manusia biasa.

Friday, March 18, 2022

Bahasa asing disertai niat talak, apa jatuh talak?

Bahasa asing disertai niat talak, apa jatuh talak?

KONSULTASI SYARIAH BERKAITAN TALAK:

Ucapan bahasa asing yang tidak diketahui artinya/maknanya dan disertai niat talak/cerai.

Assalamualaikum, Ustaz semoga dirahmati Allah swt.

Pada satu hari, saya dan istri duduk bersila saling berhadapan dan sedang makan bersama. Pada masa yang sama, TV juga terpasang di hadapan saya dan TV itu berada belakang istri saya. Hanya saya yang sesekali menontonnya sambil makan manakala istri saya tidak menontonnya sama sekali.

Ketika itu, TV sedang menayangkan film Hindi dari India. Sampai di satu adegan film, seorang pelakon dalam film itu mengucapkan perkataan “Karnataka”. Saya yang mendengarkannya, kemudian meniru sebutan perkataan “Karnataka” itu. Satu perkataan bahasa asing yang saya tidak mengetahui artinya sewaktu mengucapkannya. Saya mengucapkan perkataan “Karnataka” itu sambil memandang ke arah istri saya. Saat menyebut perkataan “Karnataka” itu, ada lintasan dalam hati niat menceraikan istri.

Setelah terjadinya ucapan perkataan “Karnataka” yang disertai lintasan niat cerai itu, saya menjadi sangat khawatir sama ada telah berakibat talak.

Ketika saya mengucapkan perkataan “Karnataka” itu, saya tidak memerhatikan atau melihat ‘subtitle’ atau teks bawah pada film itu. Justru saya tidak mengetahui sama sekali, makna atau arti perkataan “Karnataka” itu. Istri saya tidak menunjukkan reaksi sewaktu saya mengucapkan perkataan “Karnataka” itu kepadanya karena dia pun tidak memahaminya.

Bahasa Hindi dan bahasa yang berasal dari India juga bukan bahasa sehari-hari saya dan istri karena tidak mengetahuinya sama sekali. Saya dan isteri tidak pernah berkomunikasi menggunakan bahasa Hindi dalam kehidupan seharian.

Keesokkan harinya, saya mencari arti perkataan “Karnataka” itu dan mendapati bahwa “Karnataka” itu adalah nama satu negeri di selatan India. Pencarian arti “Karnataka” juga menemukan saya antara artinya ‘Tanah Tinggi’ dan tiada pula arti-arti lain yang menggambarkan lafaz bertalian dengan talak.

Berdasarkan peristiwa yang berlaku, saya yang jahil ilmu agama ini memohon konsultasi ustaz tentang ucapan saya itu.

PERTANYAAN 1.

Adakah ucapan perkataan “Karnataka” yang disertai niat menceraikan istri itu berakibat Talak ataupun tidak? Dalam keadaan sewaktu mengucapkannya, saya tidak mengetahui artinya sama sekali.

PERTANYAAN 2.

Dalam keadaan setelah saya mengetahui arti sebenar perkataan “Karnataka”, adakah mungkin ucapan perkataan “Karnataka” yang disertai niat cerai itu berakibat Talak ataupun tidak?

PERTANYAAN 3.

Seandainya saya menemukan ada artinya yang lain di masa akan datang yang menyamai dengan Lafaz Talak, adakah mungkin ucapan perkataan “Karnataka” yang disertai niat cerai itu berakibat Talak?

Terima kasih atas konsultasi ustaz. Moga dapat membantu Hamba Allah yang jahil ini. Setiap kali saya kemukaan pertanyaan, seumpama saya menuntut ilmu dan membetulkan perjalanan hidup saya, ustaz.

JAWABAN

1. Karnataka tidak termasuk ke dalam kategori ucapan yang mengandung unsur talak kinayah. Sehingga tidak ada dampak hukum ketika mengucapkannya. Walaupun saat mengucapkannya disertai niat talak. Apalagi anda tidak mengerti arti kata tersebut sama sekali.

2. Tidak berakibat talak.

3. Tetap tidak berakibat talak walaupun seandainya kata 'karnataka' mengandung makna talak kinayah. Ada beberapa sebab mengapa tidak berdampak talak, yaitu:

a) Anda mengucapkan itu di luar konteks (out of context). Ucapan talak sharih yang di luar konteks tidak berakibat talak. Seperti cerita talak, talak yang keceplosan (slip of tongue). Sebagaimana sudah dijelaskan pada jawaban sebelumnya. Apalagi ucapan yang tidak dimengerti artinya. Maka sangat jauh dari akibat hukum. Baca detail: Hukum Kata Non Kinayah dg Niat Talak

b) Ucapan 'karnataka' adalah kata asing yang tidak dimengerti maknanya. Maka, apapun niatnya tidak akan berakibat hukum apapun. Termasuk tidak berakibat talak.

c) Kata 'karnataka' yang diucapkan hanya satu kata; tidak dalam kalimat sempurna. Bahkan kata 'talak' pun kalau diucapkan tanpa kalimat sempurna tidak berakibat talak. Baca detail: Talak tanpa Kalimat Sempurna

Semoga tambahan pengetahuan tentang talak ini semakin membuat hati anda tenang bersama istri di rumah.

Rasa was-was yang terkadang muncul di hati anda hendaknya diabaikan. Agar tidak berkelanjutan. Salahsatu cara menghilangkan rasa was-was adalah dengan mengabaikannya. Baca detail: Cara Sembuh Was-was

Thursday, March 17, 2022

Ucapan suami "Kalau mau cerai bilang saja" apa jatuh talak?

Ucapan suami "Kalau mau cerai bilang saja" apa jatuh talak? Assalamu'alaikum asatidz dewan al khoirot yang saya hormati, saya minta ridhonya untuk membantu menjawab permasalahan pernikahan saya. (1) Pada sekitar pertengahan april 2021 lalu saya bertengkar dengan istri saya melalui pesan singkat. Saya mengirim kalimat seperti ini "kalau mau langsung bilang saja, dari pada nunggu KUA ribet mendingan langsung aja, kalau mau sama yg lain saja kalau sama saya hidup apa adanya" dan kalimat lain pada pesan singkat "apa mau nunggu kepastian kamu hamil atau engganya baru ngomong langsung" Bahkan kalimat tersebut yang saya tulis di pesan singkat juga yang saya sudah hapus karena panik, seinget saya seperti itu kalimatnya dan yakin, tetapi semakin hari timbul rasa was - was dan seketika tidak yakin kalimatnya seperti itu dan ragu-ragu kalimatnya dan saya sudah tanya istri saya, dia juga lupa kalimat pesan singkatnya seperti apa dan juga sudah tidak simpen pesan singkatnya. Dan saya cari penjelasan di internet semakin saya was-was, saya mengira kalimat saya yang di pesan singkat adalah talak sharih karena saya awalnya belum tau perbedaan kalimat talak sharih dan kalimat talak kinayah bagaimana dan saya malah meniatkan rujuk saat bersenda gurau dgn istri bukannya tenang malah makin was was karena saya menjadi ragu kalimat di pesan singkat yang awalnya yakin adalah tanpa niat. (2) kemudian saya terus mencari informasi lagi dengan mendengarkan kajian lain di youtube mengenai cerai dari ulama yang bermadzab sama dengan saya imam syafii. Dari beberapa ulama terkenal bermadzhab imam syafii mengatakan kalimat pisah tidak termasuk sharih karena multimakna. Alhasil ada dorongan kuat untuk mengucapkan kalimat yang memang tujuannya saya untuk berbeda arah dan karena memang saya dan istri saya mau ke tempat service hp, lalu saya mengatakan sama istri saya di motor "kita pisah saja, aku di tempat service hp, kamu tunggu di tempat makan buat nanti buka puasa" bukan tenang yg saya dapatkan malah makin was-was. Alhasil saya mencari kajian youtube dan download terjemahan fathul mu'in untuk mencari jawaban terus sampai berlarut-larut. Akhirnya saya nonton kajian yang membahas kalmat "kita pisah saja" secara keceplosan setelah dengar contoh dari seorang ulama saya bergumam sendiri dan terdengar sedikit oleh telinga dan kalimatnya pun saya rada-rada inget seinget saya mengatakan "oh jadi kalau kamu kesana dan aku kesini, kita pisah saja" engga termasuk. Bukan tenang malah makin jadi was-was ustadz. (3) timbul lah masalah ketiga saking terlalu berlarut tentang masalah cerai dan semakin was-was sampai sekarang saya masih terus mencari penjelasan sampai timbulah ragu-ragu khawatir pernah keceplosan ngomong talak dalam bahasa jawa, saya tidak tau artinya nya itu apa karena saya bukan orang jawa dan masih asing kalimat itu tetapi karena sering mendengar kajian di youtube ada orang jawa yg bertanya pada seorang ulama berbicara mengenai kalimat cerai pakai bahasa jawa yang kalimat talak sharih jadi terngiang-ngiang sehingga saya khawatir apa pernah terucap apa tidak, karena saking terlalu terbawa ke was-was takut keceplosan berbicara cerai sendiri tanpa saya sadari. Yang ingin saya tanyakan (1) apakah saya sudah menjatuhkan talak? (2) apakah rujuk saya sah dalam keadaan tidak yakin seperti itu? (3.) Saya memang sudah dapat jawaban dari kajian youtube dan terjawab sudah. Tetapi apakah bisa memakai pendapatnya karena tidak pernah bertanya sama sekali dengan ulama tersebut hanya karena permasalahan orang tersebut mirip dengan saya? (4) untuk menghilangkan was-was bagaimana ustadz? Saking takutnya saya sampai meragukan kalau allah itu maha mendengar dan mengetahui karena saya berlarut-larut masalah ini. Mohon bimbingannya ustadz, saya bermadzhab imam syafii. JAWABAN 1. Kalimat "kalau mau langsung" tidak termasuk kata kinayah. Karena tidak ada makna yang mengarah ke perceraian. Sedangkan kalimat "kalau mau sama yg lain saja kalau sama saya hidup apa adanya" ini termasuk kalimat kinayah. Karena menyuruh istri hidup dengan pria lain yang berarti pisah dengan anda. Karena talak kinayah namun diucapkan secara tertulis, maka tidak berakibat talak. Karena, talak sharih saja kalau dilakukan secara tertulis, maka jatuhnya menjadi kinayah.Baca detail: Cerai secara Tertulis Sedangkan talak kinayah kalau dilakukan secara tertulis, maka tidak berdampak apapun. Baca detail: Talak Kinayah 2. Karena tidak jatuh talak, maka tidak perlu rujuk. Dan kalau anda melakukan rujuk, maka tidak ada efek apapun. Sebagaimana orang yang sah nikahnya, lalu akad nikah lagi dengan pasangan yang sama. Maka, akad nikah yang kedua tidak ada efek apapun.Baca detail: Akad Nikah Dua Kali 3. karena kami ada penjelasan jawaban seperti apa yang anda lihat di youtube, maka tidak kami jawab 4. Was-was timbul antara lain karena kurang tahu hukum secara detail dalam soal talak. ada baiknya anda baca dan pelajari penjelasan di artikel di link berikut: Cerai dalam Islam

Monday, February 28, 2022

Ucapan suami "Pergilah!" apakah berdampak talak?

KINAYAH

Assalamualaikum, Ustaz semoga dirahmati Allah swt.

PERISTIWA

Pada satu pagi, saya dan keluarga sudah selesai menunaikan salat subuh. Anak-anak sudah berada di kamar tidur setelah menunaikan salat subuh.

Kemudian, saya berjalan menuju ke kamar tidur saya manakala isteri saya berjalan dari kamar tidur saya menuju ke kamar tidur anak yang bungsu.

Ketika bertembung pada arah berlawanan tetapi berada di posisi yang sejajar, saya bertanya kepada isteri, “Mahu tidur di kamar anak?

Lantas spontan saya mengizinkan dan berkata, “Pergilah”.

Sedang saya mengucapkan perkataan“Pergilah”, serta-merta saya terpikir perkataan itu bisa menjadi kata kinayah talak. Saya menjadi panik dan segera melawan sebarang pikiran tentang cerai. Saya lekas-lekas memalingkan muka dari memandang isteri saya sambil memejamkan mata. Bahagian depan badan saya sudah tidak berhadapan dengan isteri tetapi menghadap ke arah lain dari isteri.

Sesudah selesai ucapan “Pergilah” dilafazkan, terlintas juga di dalam hati satu perkataan ‘cerai’. Satu perkataan tunggal tanpa subjek. Terlintas sesudah saya telah memalingkan muka dari memandang isteri saya sambil memejamkan mata manakala bahagian depan badan saya sudah tidak berhadapan dengan isteri saya. Saya terus masuk ke kamar tidur saya manakala isteri saya menuju ke kamar tidur anak.

Sepanjang ingatan saya, lintasan satu perkataan ‘cerai’ itu terbit/timbul setelah sempurna saya mengucapkan “Pergilah”. Bukan di awal ucapan. Bukan serentak dengan awal ucapan ataupun di tengah-tengah ucapan “Pergilah”.

Apa yang terjadi ialah, niat awal ucapan “Pergilah” ialah saya mengizinkan isteri pergi ke kamar tidur anak tetapi kemudiannya berlaku terlintas satu perkataan ‘cerai’ di dalam hati selepas ucapan “Pergilah” sempurna dilafazkan. Satu perkataan tunggal tanpa subjek.

Setelah berlaku peristiwa itu, saya selalu berpikir-pikir sama ada ucapan “Pergilah” itu bisa berakibatkan Talak.

Berdasarkan peristiwa yang saya alami, saya memohon konsultasi ustaz tentang ucapan saya itu. Mohon izin ustaz, saya ajukan 3 pertanyaan yang berkaitan dengan peristiwa di atas.

PERTANYAAN 1

Pertanyaan saya kepada ustaz, Adakah ucapan saya itu “Pergilah” berakibatkan Talak atau tidak? Lintasan perkataan ‘cerai’ terbit di dalam hati setelah sempurna ucapan dilafazkan. Niat di awal ucapan saya sememangnya bermaksud mengizinkan dan bukan untuk menceraikan isteri.

PERTANYAAN 2.

Seandainya terjadi di peristiwa yang lain, perkataan cerai itu terlintas/terbit di tengah-tengah ucapan “Pergilah” padahal niat di awal ucapan bermaksud mengizinkan dan bukan untuk menceraikan isteri, adakah ucapan saya itu bisa berakibatkan Talak atau tidak?

PERTANYAAN 3.

Bagaimana pula seandainya perkataan cerai itu terlintas/terbit pada penghujung ucapan “Pergilah” sedangkan niat di awal ucapan itu bermaksud mengizinkan dan bukan untuk menceraikan isteri, adakah ucapan saya itu bisa berakibatkan Talak atau tidak?

Terima kasih atas konsultasi ustaz. Mohon konsultasi agar selepas ini saya bisa menentukan sendirian dengan yakin apabila berhadapan dengan peristiwa yang sama pada masa hadapan. In Sha Allah.

Ustaz, Peristiwa sebegini menyebabkan saya kerap stres malah berasa sakit jiwa akibat masalah terlintas cerai dalam hati yang sering muncul spontan apabila saya menuturkan apa-apa perkataan sekalipun. Yang berlaku kepada saya adalah seperti dalam 3 pertanyaan di atas. Niat di awal ucapannya lain atau sama sekali tidak bermaksud menceraikan isteri, tetapi kemudiannya spontan terlintas kata cerai dalam hati sama ada di tengah-tengah ucapan atau di penghujung ucapan atau sebaik sahaja satu-satu ucapan itu sempurna dilafazkan. Akibatnya, saya selalu takut dan tidak tenang untuk mengucapkan apa jua perkataan terutamanya kepada isteri, bimbang terjadi penceraian. Sedangkan kehidupan berkeluarga saya dan isteri damai dan tenteram, tidak pernah bergaduh ataupun berkelahi.

JAWABAN

1. Ucapan "pergilah" yang anda ucapkan tidak berakibat talak. Karena, a) konteksnya bukan mentalak. Kapan pun waktu niatnya tetap tidak ada dampak talak. Karena memang konteks dari peristiwa itu bukan untuk mentalak melainkan untuk menyuruh dan mengijinkan istri untuk tidur bersama anak-anak. Jadi, niat "cerai" itu tidak ada dampak apapun sama saja niatnya terjadi di awal, di tengah atau di akhir kata.

b) Selain itu, kata kerja perintah atau fi'il amar (command) itu tidak bisa dipakai untuk menceraikan. Bahkan seandainya memakai kata kerja sharih sekalipun tidak ada dampak hukumnya.

2. Tetap tidak berakibat talak walaupun niat muncul di tengah ucapan 'pergilah'. Lihat jawaban no. 1.

3. Juga tidak berdampak talak apabila niat muncul di ujung/akhir ucapan. Lihat jawaban no. 1.

URAIAN

Rasa was-was anda muncul karena kekurangtahuan anda akan masalah ucapan talak. Sama saja talak sharih ataupun kinayah.

Dalam kasus anda saat ini, di mana anda memakai kata perintah "Pergilah!"

Abun Naja dalam kitab Zad Al-Mustaqni', hlm. 178, menyatakan:

"وصريحه: [ أي : صريح ألفاظ الطلاق ] لفظ الطلاق وما تصرف منه ، غير أمر ومضارع " انتهى .


Artinya: Talak sharih, yakni lafal talak sharih, adalah kata "talak" dan kata yang berasal darinya. Kecuali fi'il amar dan mudharik.

Seperti diketahui, dalam bahasa Arab fi'il amar adalah kalimat perintah sedangkan fi'il mudharik adalah kata kerja yang menunjukkan masa sekarang dan akan datang (present & future tense).

Al-Baali dalam kitab Al-Mutli' ala Abwab Al-Muqni', hlm. 314, menyatakan:

ولا يحصل الحكم [يعني الطلاق] بالمضارع ولا بالأمر؛ لأن المضارع وعد ، كقولك: أنا أعتق وأطلق، والأمر لا يصلح للإنشاء ولا هو خبر فيؤاخذ المتكلم به " انتهى.


Artinya: Hukum talak tidak terjadi dengan kalimat yang memakai fi'il mudharik atau fi'il amar. Karena fi'il mudharik itu janji. Seperti "Aku akan ... mentalak". Talak tidak memenuhi syarat apabila memakai kalimat perintah atau kalimat berita...

Dari dua penjelasan di atas, maka menjadi jelas bahwa kata talak sharih, seperti talak atau cerai, tidak berakibat talak apabila memakai kalimat perintah. Apalagi kalau yang memakai kalimat perintah itu ucapan talak kinayah, maka tidak ada dampak sama sekali.

Selain itu, ucapan anda juga dalam suatu peristiwa yang di luar konteks. Yakni, dalam situasi menyuruh istri atau mengijinkan istri untuk tidur bersama anak. Sehingga menambah keyakinan bahwa ucapan anda sama sekali tidak ada akibat cerai.

Baca detail: Cerai dalam Islam

Saturday, February 26, 2022

Membuat laporan kosong, bagaimana hukum gajinya?

DIMINTA BUAT LAPORAN KOSONG

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Pak ustadz, saya mengalami dilema, gaji saya belum dibayarkan oleh mandor karena menolak untuk merubah laporan absenan karyawan, alasannya karena kalau tidak dirubah banyak yang minus, sehingga dia tidak berani mengajukan penagihan untuk karyawan lain yang masih punya uang diperusahaan, dan jumlah mereka lumayan banyak, sebagian besar sudah berkeluarga.

sekarang sudah 10 bulan dan belum dibayarkan, kemudian dia menghubungi saya katanya jika saya membantu merubah maka dia akan mengajukan pembayaran untuk saya dan karyawan yang lainnya, saya sudah bilang jika saya tidak mau berbohong. kemudian dia bilang dia yang merubahnya saya cuma memasukan data,, sama saja saya tahu dia curang,

kemudian dia bilang lagi, untuk dibuatkan format kosong saja, sehingga dia bisa mengisi data yang dia mau

saya dilema mana ya di harus perbuat,

1. jika saya mengikuti keinginan dia, maka saya tahu saya melakukan perbuatan buruk.

2. jika saya menolak maka uang saya yang dibutuhkan saat ini tak jelas ujungnya, begitupun uang teman2 saya yang lain

pak ustad, Apakah boleh saya menuruti kemauan dia karna saya terpaksa dan terdesak kebutuhan ekonomi, dan untuk mengambil hak saya?

dan apakah bila saya turuti, kelebihan uang yang diambil oleh mandor saya juga menanggungnya dan jadi hutang secara syariat?

JAWABAN

1. Hukum asalnya adalah tidak boleh. Namun kalau hal itu dilakukan demi mendapatkan hak anda maka hal itu dibolehkan. Ini sama dengan haramnya menyuap pejabat atau petugas, namun apabila hal itu untuk mendapatkan hak kita, maka itu dibolehkan. Baca detail: Hukum Korupsi atau menyuap

2. Tidak ada tanggungan bagi anda. Karena saat anda membuat laporan kosong, anda tidak tahu secara faktual apa saja yang akan dibuat oleh si mandor. Jadi, perbuatan si mandor di luar tanggung jawab anda.

Namun demikian, kalau hak anda sudah terpenuhi, maka sebaiknya anda menjauh dari si mandor dan carilah pekerjaan lain yang lebih baik dan hidup di lingkungan yang baik pula. Baca detail: Wajib Menjauhi Lingkungan Pergaulan Buruk

Situs pesantren Al-Khoirot, lihat: alkhoirot.com

MUAMALAH

Assalamualaikum Ustadz

1.Dulu saya pernah menjual hp bekas saya pakai, sekitar 4 kali saya melakukannya bila ingin mengganti hp, dan sekarang saya merasa pernah berbohong tentang harga awal saya beli hp tersebut, masalah kondisi barang saya yakin jujur. tetapi saya tidak benar2 yakin saya berbohong, seperti pernah tapi ragu. Kemudian saya belikan kembali uang hasil penjualan tersebut dengan hp baru. Yang ingin saya tanyakan apakah sah jual belinya, dan apakah halal hp baru itu saya gunakan sehari-hari, dan bagaimana cara bertobatnya dengan perbuatan tersebut bila saya benar pernah berbohong?

2.Pak ustad dulu saya sering diminta tolong untuk membelikan barang secara online oleh teman, dan sekarang saya jadi was2, karena ketika saya membelikan barang saya yang menentukan harganya ada teman yang bilang terserah yang penting harga barang dari saya saja berapa, dan ada teman yang tidak mempertanyakan harga barang, saya selalu melebihkan harga untuk dapat untung, nah karena saya merasa saya itu adalah perbuatan salah, lalu saya menghubungi teman2 saya itu dan meminta keridoan uangnya bila harganya dilebihkan, tetapi ada beberapa orang yang lupa saya ambil selisih harganya berapa, dan ada pula orang yang sudah lost contact,

3. Pak Ustad, bagaimana hukumnya membeli barang online tapi sinyalnya menggunakan wifi orang lain tanpa izin, atau misal membeli barang kepasar dengan menggunakan motor curian, apakah jual belinya sah, dan apakah barang yang dibeli tadi halal digunakan,,, bagai mana cara tobat dari perbuatan tersebut, saya merasa harta saya tercampur uang haram tapi saya sulit memisahkanya karena saya tidak tahu kadarnya berapa, dan saya jadi was was menggunakan barang yang saya miliki padahal hampir semua harta saya saya dapatkan dari bekerja halal tetapi saya tidak berani untuk dijadikan modal usaha/ digunakan untuk usaha karena saya terus dihantui rasa was2,,,

Terima kasih sebelumnya.

JAWABAN

1. Jual belinya sah. HP baru juga halal. Tapi kalau ada bohongnya, maka bohongnya itu yang haram. Anda harus bertaubat dari dosa bohong tsb. Baca detail: Bohong dalam Islam

Baca detail: Cara Taubat Nasuha

2. Itu tidak masalah. Anda dalam hal ini berperan sebagai makelar yang tidak dilarang untuk mendapatkan uang jasa. Baca detail: Hukum Dropship, Reseller, Agen, Calo

3. Kalau jual belinya benar dan barang yang dibeli adalah barang halal, maka memakai barang itu juga halal. Tidak masalah.

Adapun terkait wifi yang memakai internet orang lain, maka itu soal lain. Anda bisa meminta halalnya pada si pemilik jaringan atau membayar sejumlah uang kalau pemilik tidak rela. Baca detail: Bisnis dalam Islam

Tuesday, February 22, 2022

Istri tidak berhak menceraikan dirinya sendiri

Istri tidak berhak menceraikan dirinya sendiri

Bismillah

Saya ceritakan sedikit kroniloginya ya,

Satu waktu pernah saya marah pada suami. Waktu itu, saya bicara pada suami agar saya diberikan waktu 2 Bulan untuk tinggal bersama orang tua dulu. Agar saya lebih tenang. Karna saya tdk mau perasaan tdk tenang saya berpengaruh pada hubungan saya dan suami. Pernah saya merasa ingin menyerah. Tapi saya takut berdosa. Kemudian suami mengizinkan dengan syarat telpon org tua dulu. "Tanya baiknya gimana" begitu kata suami. Tapi kemudian Kami berbeda pendapat, akhirnya saya tdk mampu mengontrol emosi saya, tempat tinggal saya berdekatan dengan mertua. Saya merasa suami selalu apa apa ingin panggil org tuanya sebagai penengah katanya. Dan suami pikir dengan kehadiran org tuanya. Saya bisa lebih dikontrol.

Kemudian suami tiduran seolah ingin meninggalkan & menyudahi perdebatan, padahal saya Masih ingin berdiskusi.

Kemudian saya emosi karna merasa apa yg saya katakan tdk digubris, saya tiba tiba bilang "nih aku balikin, kata balikin itu mengarah ke "mahar" (saat bicara itu saya hanya bicara tanpa memegang maharnya) dan tidak tatap muka dengan suami, tapi suami tidak menggubris, dia lebih memilih tiduran & diam seolah tdk mendengar ucapan ucapan saya, tapi saya terus bilang "nih tuh dibalikin biar sah (keadaannya saya hanya sedang berusaha mengeluarkan mahar tapi hanya saya pegang aja)". Saat itu saya hanya ingin suami mendengarkan saya tapi saya malah berkata seperti itu. saya terbawa emosi dan saat itu saya hanya biacara aja & tidak menyodorkan apapun kepada suami dan posisinya suami hanya diam dan berbaring tiduran. Jadi saya bicara tanpa tatap muka.

Tapi kemudian ga lama suami bangun. Dan dia bilang mau ke rumah ibunya. Katanya mau panggil orang tuanya saja. Karna dia ga paham lagi dengan ucapan yg keluar dari mulut saya, kata suami "entah apa maksud omongan kamu tadi, Aku gapaham", Tapi pada akhirnya suami meredakan emosi saya & saya diminta tenang & Kami lanjut bicara dengan tenang.

Saya takut akan kata kata yg saya ucapakan, apakah berpengaruh pada hubungan pernikahan kami? Apakah itu termasuk khulu' apa tidak? Karna saat itu saya emosi saja bicara begitu. Suami juga tidak menerimanya & tidak merespon ucapan saya.

Mohon bantu jawab. Saya sangat merasa bersalah sekali karna perkara ini. Sampai hati saya tdk tenang.

JAWABAN

Pertama, perlu diketahui, bahwa pihak yang bisa memisahkan hubungan suami istri hanya ada dua: yaitu suami dan hakim agama.

Kedua, istri tidak memiliki hak untuk menceraikan dirinya sendiri. Oleh karena itu, ucapan istri dalam kasus di atas tidak berdampak apapun. Dalam kasus khuluk, khuluk baru terjadi apabila suami setuju. Sementara dalam kasus di atas, suami sama sekali tidak menyetujui.

Intinya, tidak ada dampak talak dalam kasus ini. Baca detail: Hukum Gugat Cerai (Khuluk)

HUKUM TALAK BAGI SUAMI YANG AWAM HUKUM

Assalamualaikum Ustadz Ustadz, menindaklanjuti pertanyaan saya kemarin perihal yang saya alami terkait pengalaman masa lalu saya tentang was was terjadi talak taklik atau tidak. Yang waktu itu ustadz menjawab karena ketidak tahuan saya, maka andaikan ada dampak hukum maka dampak hukum itu gugur karena ketidaktahuan saya.

Saya saat ini ditempa was was lagi Ustadz, jadi begini saat saya bertanya kepada Ustadz beberapa hari lalu, kan saya dalam kondisi sudah mengetahui perihal talak/rujuk...dimana dalam hal rujuk saya mengikuti pendapat Hambali. Namun pertanyaan saya kan mengenai masa lalu saya dimana saya bener3 awam hukum.

Pertanyaan saya, BOLEHKAH saya mengikuti pendapat Ustadz bahwa andaikan ada dampak hukum maka dampak hukum itu gugur karena ketidak tahuan saya di masa lalu itu ataukah saya diharuskan mengikuti Hambali yang saya ikuti pendapatnya sekarang dalam hal rujuk. Terima kasih

JAWABAN

Boleh ikut pendapat kami. Pendapat kami itu bukan pendapat pribadi melainkan pendapat para ulama fikih yang ahli dalam ijtihad. Baca detail: Suami Awam Tidak Tahu Konsekuensi Hukum Ucapan Talak

Perlu juga diketahui bahwa tidak ada keharusan ikut satu mazhab. Anda boleh ikut keempat mazhab fikih yang ada. Baca detail: Orang Awam Tidak Wajib Ikut Satu Madzhab

Sunday, February 20, 2022

Menyucikan najis tanpa menggosok apakah cukup?

Menyucikan najis tanpa menggosok apakah cukup?

Assalamualaikum ustadz mau bertanya terkait

Pernah kaki saya basah karena terkena air mutanajjis lalu saya mensucikan nya di keran yang menyala tetapi tidak saya bantu gosok dengan tangan, hanya saya aliri air saja, lalu saya menjadi was was karena saya pernah mendengar bahwa kalo air yang jatuh di bawah kaki itu tetap mutanajjis dan sudah mengenai sendal bagian bawah yg basah dan sendal itu sudah mengenai lantai rumah saya, lantai rumah saya terlanjur di pel oleh orang tua saya ustad

Pertanyaan

1. Apakah benar kalo air yang saya pake untuk mengaliri air itu yang jatuh di bawah kaki masih mutanajjis

2.kalaupun memang mutanajjis dan sudah terlanjur di pel bagaimana solusi nya ustadz saya was was dan binggung takut, karena saya berpikir kalo pel nya itu menjadi najis dan terkena tangan orang tua saya karena orang tua saya ketika selesai pel sering mencuci piring apa piring nya juga menjadi najis dan saya jg sering ngurut orang tua saya tetapi saya jadi takut karena hal yang saya alami ini

3.Apa boleh saya menggunakan mazhab imam malik kalo najis hukmiyah jika terkena pel basah tidak berpindah

JAWABAN

1. Tergantung. a) Apabila najisnya berupa najis hukmiyah, maka aliran air untuk menyucikan najis itu hukumnya suci; b) apabila najisnya berupa najis ainiyah (ada benda najisnya) maka aliran air hukumnya najis menurut mazhab Syafi'i dan suci menurut mazhab Maliki (apabila bentuk air tidak berubah).

Terkait menyucikan najis hanya dengan mengalirkan air, tanpa menggosok bagian yang terkena najis, itu cukup dan sah.

2. Apapun najis yang disucikan, baik najis hukmiyah atau ainiyah, hukum air tetap suci apabila ikut mazhab Maliki. Maka, agar anda tenang dan tidak was-was, anda bisa ikut pendapat mazhab Maliki ini. Baca detail: Air Kurang Dua Qulah terkena Najis

3. Boleh. Baca detail: Orang Awam Tidak Wajib Ikut Satu Madzhab

MUNTAH

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh Ustadz...

Saya mau bertanya :

1) Anak saya muntah sehabis minum susu dan mengenai celananya lalu saya sudah cuci celana tsb secara terpisah,lalu setelah merasa bersih saya cuci kembali dan saya masukkan ke dalam mesin cuci bersamaan dengan baju anak saya yang lainnya,namun saat saya menjemur saya melihat ternyata masih ada muntahan pada celana tsb,lalu saya cuci kembali celana tsb. Yang saya ingin tanyakan adalah bagaimana dengan pakaian anak saya yg lain yang saya cuci bersamaan dengan celana tsb apakah statusnya najis dan harus dicuci ulang?karena saya hanya mencuci kembali celana yg terkena muntahan saja,pakaian yg lain tidak dan langsung saya jemur.

2) Pagi tadi selepas saya shalat subuh saya menemukan ada bau pesing pada baju yg saya kenakan saat shalat,lalu saya mengulang shalat saya. Yang ingin saya tanyakan bagaimana dengan shalat saya yg sebelum-sebelumnya apakah sah dan apakah harus diganti shalatnya? Dan apakah benda benda yang terkena baju saya tsb harus dicuci tetapi saya tidak tahu terkena najis tsb atau tidak.

JAWABAN

1. Tidak harus dicuci ulang menurut mazhab Maliki. Sebagaimana dalam kasus laundry di mana baju najis tidak disucikan lebih dulu sebelum dimasukkan ke dalam kotak laundry. Baca detail: Cara Cuci Baju di Mesin Cuci

Selain itu, terkait muntah, ada pendapat yang menyatakan suci apabila keluarnya masih sama dengan saat masuk. Dalam kasus anak anda, misalnya, minum susu lalu muntahnya dalam bentuk susu juga, maka hukum muntahnya suci. Apabila demikian, maka tidak perlu lagi dipersoalkan adanya muntah tadi. Baca detail: Muntah

2. Bau pesing tidak masalah, tidak otomatis najis, selagi tidak ada bentuk najis pada bau tersebut. Oleh karena itu shalat anda sah dan tidak perlu diulang. Kecuali kalau bau pesing itu disertai dengan adanya benda najis pada baju anda. Baca detail: Bau busuk tanpa benda apa najis?

IBADAH:

Assalaamu'aikum Mohon maaf sebelumnya jika saya bertanya tidak satu topik.. Saya sedang merasa was-was dalam beberapa hal.

1. Saat shalat ketika membaca al fatihah, ditengah ayat seperti ada jedanya, apakah itu merubah makna, misal saat membaca ayat ihdinashiratalmus kemudian seperti ada jeda sedikit baru saya lanjutkan bacaan taqim, takut jika itu merubah makna, sering mengulang-ngulang dan juga sering membaca ada jedanya seperti itu?

2. Gusi saya sering berdarah ketika menggosok gigi, kadang darahnya banyak. Setiap kali dikeluarkan ada darahnya. Saya jadi was-was, takut ketika berkumur najisnya bisa mengenai gayung, mulut bagian luar, dan juga menyiprat ke kaki hingga saya kalau menggosok gigi itu lama sekali, sampai saya juga takut menggosok gigi, mohon solusinya!

3. Bolehkah jika mencampur adukan mazhab karena saya merasa was-was. Misalnya saya menggunakan mazhab maliki untuk masalah najis hukmiyah yang tidak menular jika bertemu dengan sesuatu hal yang basah, kemudian saya menggunakan mazhab hanafi yang mengatakan kalau najis jika tidak sebesar koin dirham dimaafkan, dan menggunakan mazhab hambali yang mengatakan kalau kotoran hewan yang suci itu tidak najis, bolehkah seperti itu? Jika tidak boleh saya harus bagaimana untuk mengatasi was-was najis yang selalu menghantui? Kenapa ya was-was itu selalu menghantui saya, apakah ini karena dosa-dosa saya.. Terimakasih untuk jawabannya!!

JAWABAN

1. Tidak merubah makna. Jadi tidak perlu diulang-ulang.

2. Kalau selalu keluar darah saat sikat gigi dan menimbulkan rasa was-was, maka sebaiknya sikatgiginya dilakukan setelah shalat. Sehingga anda tidak perlu lagi merasa was-was. Karena sucinya badan itu diperlukan hanya untuk shalat saja.

Terkait rasa was-was najis, perlu diketahui bahwa selagi tidak jelas ada najis di pakaian anda, maka hukumnya adalah suci. Baca detail: Saat Ragu, Status Benda kembali ke Hukum Asal

3. Boleh. Kalau hal itu akan menyembuhkan rasa was-was anda. Baca detail: Orang Awam Tidak Wajib Ikut Satu Madzhab

Namun demikian, anda juga harus bersifat bijaksana dengan tidak menampakkan hal itu di depan orang lain. Karena bisa menimbulkan kesalahpahaman dan fitnah.