Status Hadits Bekerjalah untuk duniamu seolah-olah engkau akan hidup selamanya

Status Hadits Bekerjalah untuk duniamu seolah-olah engkau akan hidup selamanya, dan beramallah untuk akhiratmu seolah-olah engkau akan mati besok

status hadits Bekerjalah untuk duniamu seolah-olah engkau akan hidup selamanya, dan beramallah untuk akhiratmu seolah-olah engkau akan mati besok

 Ada hadits populer yang sering disebut dan dikutip oleh banyak kalangan termasuk ulama/kyai pesantren, mubaligh, ustadz, dan MC sambutan berbagai events. Berikut isi teksnya:

 اعمل لدنياك كأنك تعيش أبداً واعمل لآخرتك كأنك تموت غداً

 "Bekerjalah untuk duniamu seolah-olah engkau akan hidup selamanya, dan beramallah untuk akhiratmu seolah-olah engkau akan mati besok."

Status Hadits: Dhaif

 Tidak ada hadits yang secara verbatim (tekstual persis) seperti di atas. Adapun hadits yang mirip dengan teks di atas adalah sebagai berikut: 

 فاعمل عمل امرئ يظن أنه لن يموت أبداً، واحذر حذر امرئ يخشى أن يموت غداً

 "Maka bekerjalah seperti seseorang yang mengira bahwa ia tidak akan pernah mati, dan waspadalah (berhati-hatilah) seperti seseorang yang takut bahwa ia akan mati besok."

Hadits ini riwayat al-Baihaqi dalam Sunan al-Baihaqi, riwayat al-Dailami dalam Al-Firdaus dari Abdullah ibn Amr ibn al-Ash. 

Jalaluddin al-Suyuthi dalam al-Jami' al-Shaghir menyatakan bahwa hadits ini dhaif. Begitu juga, al-Manawi dalam Faidhul Qadir menyatakan dhaif dengan alasan karena dalam sanad periwayatannya terdapat perawi yang majhul (tidak diketahui) dan lemah.

Al-Manawi mengatakan:  

وذلك لأن فيه مجهولاً وضعيفاً

"Dianggap dhaif karena ada perawi yang majhul atau tidak diketahui reputasi dan kredibilitasnya dan ada juga perawi yang lemah." 

Sahih sebagai Atsar Sahabat

Teks riwayat ini tidak terbukti statusnya sebagai hadis yang tersambung (marfu') kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Melainkan, riwayat ini terbukti sebagai perkataan dari Abdullah bin Amr bin Ash, sebagaimana terdapat dalam kitab Zawa'id Musnad al-Harits karya Al-Haitsami dengan redaksi: 

  اعمل لدنياك كأنك تعيش أبداً واعمل لآخرتك كأنك تموت غداً

'Bekerjalah untuk duniamu seolah-olah engkau akan hidup selamanya, dan beramallah untuk akhiratmu seolah-olah engkau akan mati besok'.

Abdullah bin Amr bin Ash adalah seorang Sahabat Nabi. Dengan demikian, maka riwayat di atas walaupun bukan hadits namun dipastikan merupakan atsar atau perkataan Sahabat nabi.

Profil Abdullah bin Amr bin Ash 

Profil Singkat

Abdullah bin Amr bin Ash al-Qurasyi al-Sahmi (27 SH - 65 H / 595 - 684 M): Seorang sahabat, dan ia adalah putra tertua dari Amr bin Ash. Ia sudah pandai menulis sejak masa Jahiliah dan menguasai bahasa Suryani. Ia masuk Islam pada tahun 7 H sebelum ayahnya. Ia menyertai Rasulullah ﷺ dan meminta izin kepada beliau untuk menulis apa yang ia dengar darinya, lalu beliau mengizinkannya. Ia merupakan salah satu penghafal dari kalangan sahabat yang termasuk dalam golongan periwayat ribuan hadis (ashabul uluf). Ia lahir pada tahun 27 SH, dan jarak usia antara dirinya dengan ayahnya adalah sebelas atau dua belas tahun. 

Al-Dzahabi dalam Siyar A'lam an-Nubala, hlm. 3/80, menuturkan sejarah singkatnya:

 عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ ( ع )

ابْنِ وَائِلِ بْنِ هَاشِمِ بْنِ سَعِيدِ بْنِ سَعْدِ بْنِ سَهْمِ بْنِ عَمْرِو بْنِ هُصَيْصِ بْنِ كَعْبِ بْنِ لُؤَيِّ بْنِ غَالِبٍ .

 الْإِمَامُ الْحَبْرُ الْعَابِدُ ، صَاحِبُ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وَابْنُ صَاحِبِهِ ، أَبُو مُحَمَّدٍ ، وَقِيلَ : أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ . وَقِيلَ : أَبُو نُصَيْرٍ الْقُرَشِيُّ السَّهْمِيُّ .

وَأُمُّهُ هِيَ رَائِطَةُ بِنْتُ الْحَجَّاجِ بِنْتُ مُنَبِّهٍ السَّهْمِيَّةُ ، وَلَيْسَ أَبُوهُ أَكْبَرَ مِنْهُ إِلَّا بِإِحْدَى عَشْرَةَ سَنَةٍ أَوْ نَحْوِهَا .

وَقَدْ أَسْلَمَ قَبْلَ أَبِيهِ فِي مَا بَلَغَنَا ، وَيُقَالُ : كَانَ اسْمُهُ الْعَاصِ ، فَلَمَّا أَسْلَمَ ، غَيَّرَهُ النَّبِيُّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - بِعَبْدِ اللَّهِ .

وَلَهُ مَنَاقِبُ وَفَضَائِلُ وَمَقَامٌ رَاسِخٌ فِي الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ ، حَمَلَ عَنِ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - عِلْمًا جَمًّا .

يَبْلُغُ مَا أَسْنَدَ سَبْعَمِائَةِ حَدِيثٍ اتَّفَقَا لَهُ عَلَى سَبْعَةِ أَحَادِيثَ ، وَانْفَرَدَ الْبُخَارِيُّ بِثَمَانِيَةٍ ، وَمُسْلِمٌ بِعِشْرِينَ .

وَكَتَبَ الْكَثِيرَ بِإِذْنِ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وَتَرْخِيصِهِ لَهُ فِي الْكِتَابَةِ بَعْدَ كَرَاهِيَتِهِ لِلصَّحَابَةِ أَنْ يَكْتُبُوا عَنْهُ سِوَى الْقُرْآنِ وَسَوَّغَ ذَلِكَ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - ثُمَّ انْعَقَدَ الْإِجْمَاعُ بَعْدَ اخْتِلَافِ الصَّحَابَةِ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ - عَلَى الْجَوَازِ وَالِاسْتِحْبَابِ لِتَقْيِيدِ الْعِلْمِ بِالْكِتَابَةِ .

[ ص: 81 ] وَالظَّاهِرُ أَنَّ النَّهْيَ كَانَ أَوَّلًا لِتَتَوَفَّرَ هِمَمُهُمْ عَلَى الْقُرْآنِ وَحْدَهُ ، وَلِيَمْتَازَ الْقُرْآنُ بِالْكِتَابَةِ عَمَّا سِوَاهُ مِنَ السُّنَنِ النَّبَوِيَّةِ ، فَيُؤْمَنُ اللَّبْسُ فَلَمَّا زَالَ الْمَحْذُورُ وَاللَّبْسُ ، وَوَضَحَ أَنَّ الْقُرْآنَ لَا يَشْتَبِهُ بِكَلَامِ النَّاسِ أَذِنَ فِي كِتَابَةِ الْعِلْمِ ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ . 

 Abdullah bin Amr bin Ash (ع)
(Simbol 'ع' menunjukkan riwayatnya terdapat dalam enam kitab induk hadis/Kutubut Tis'ah)

Abdullah bin Amr bin Ash bin Wail bin Hashim bin Said bin Sa'd bin Sahm bin 'Amr bin Husays bin Ka'b bin Lu'ay bin Ghalib.

Ia adalah seorang Imam, ulama besar yang sangat luas ilmunya (Al-Habr), dan ahli ibadah. Beliau adalah sahabat Rasulullah ﷺ dan juga putra dari sahabat beliau (Amr bin Ash). Nama julukannya (kunyah) adalah Abu Muhammad, ada yang menyebutkan Abu Abdurrahman, dan ada pula yang menyebutkan Abu Nushair al-Qurasyi al-Sahmi.

Ibunya bernama Ra'itah binti al-Hajjaj binti Munabbih al-Sahmiyyah. Jarak usia antara ia dan ayahnya (Amr bin Ash) sangat dekat; ayahnya tidak lebih tua darinya kecuali hanya sekitar sebelas tahun atau lebih sedikit.

Berdasarkan riwayat yang sampai kepada kami, beliau masuk Islam sebelum ayahnya. Dikatakan bahwa nama aslinya adalah Al-Ash, namun setelah masuk Islam, Nabi ﷺ mengubah namanya menjadi Abdullah.

Beliau memiliki banyak keutamaan, kemuliaan, serta kedudukan yang kokoh dalam ilmu maupun amal. Beliau membawa (meriwayatkan) ilmu yang sangat banyak dari Nabi ﷺ.

Jumlah hadis yang beliau sandarkan (riwayatkan) mencapai 700 hadis. Imam Bukhari dan Muslim bersepakat (Muttafaqun 'Alaih) dalam 7 hadis. Secara individu, Bukhari meriwayatkan 8 hadis, dan Muslim meriwayatkan 20 hadis.

Beliau banyak menulis hadis atas izin dan keringanan dari Nabi ﷺ, setelah sebelumnya Nabi sempat tidak menyukai para sahabat menulis apa pun darinya selain Al-Qur'an. Rasulullah ﷺ kemudian membolehkan hal tersebut (bagi Abdullah), hingga akhirnya tercapai kesepakatan (ijma')—setelah sebelumnya ada perbedaan pendapat di kalangan sahabat—mengenai kebolehan bahkan kesunnahan mengikat ilmu dengan tulisan.

Tampaknya, larangan (menulis hadis) pada awalnya bertujuan agar fokus dan semangat para sahabat tercurah sepenuhnya hanya pada Al-Qur'an, serta agar Al-Qur'an memiliki keistimewaan dalam penulisan dibandingkan Sunnah Nabi, sehingga aman dari kerancuan (percampuran). Ketika kekhawatiran dan kerancuan tersebut hilang, serta jelas bahwa Al-Qur'an tidak akan tertukar dengan ucapan manusia, beliau pun mengizinkan penulisan ilmu. Wallahu A'lam.[]

LihatTutupKomentar