Tafsir Al-Quran QS Surah Hud 11:85-88

Kajian Tafsir Jalalain Al-Quran QS Hud 11:85-88 (4 Juli 2026) oleh Ahmad Fatih Syuhud, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Khoirot Malang dan Terjemahannya
Tafsir Al-Quran QS Surah Hud 11:85-88

Kajian Tafsir Jalalain Al-Quran QS Hud 11:85-88 (4 Juli 2026)  oleh Ahmad Fatih Syuhud, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Khoirot Malang

VIDEO: Kajian Tafsir Al-Quran QS Surah Hud 11:85-88  

Al-Quran dan Terjemahannya Surat Hud 11:85-88

وَيَا قَوْمِ أَوْفُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ ‎﴿٨٥﴾‏ 

Dan Syu’aib berkata: “Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. (11:85) 

بَقِيَّتُ اللَّهِ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ ۚ وَمَا أَنَا عَلَيْكُم بِحَفِيظٍ ‎﴿٨٦﴾

Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu” (11:86) 

 قَالُوا يَا شُعَيْبُ أَصَلَاتُكَ تَأْمُرُكَ أَن نَّتْرُكَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا أَوْ أَن نَّفْعَلَ فِي أَمْوَالِنَا مَا نَشَاءُ ۖ إِنَّكَ لَأَنتَ الْحَلِيمُ الرَّشِيدُ ‎﴿٨٧﴾‏ 

Mereka berkata: “Hai Syu’aib, apakah sembahyangmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal.” (11:87)

قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِن كُنتُ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِّن رَّبِّي وَرَزَقَنِي مِنْهُ رِزْقًا حَسَنًا ۚ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَىٰ مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ ۚ إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ ۚ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ ۚ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ ‎﴿٨٨﴾‏

Syu’aib berkata: “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya aku dari pada-Nya rezki yang baik (patutkah aku menyalahi perintah-Nya)? Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali. (11:88) 

Tafsir Jalalain dan Terjemahanya QS Hud 11:85-88 

QS Hud Ayat 85

﴿وَيَا قَوْم أَوْفُوا الْمِكْيَال وَالْمِيزَان﴾ أَتِمُّوهُمَا ﴿بِالْقِسْطِ﴾ بِالْعَدْلِ ﴿وَلَا تَبْخَسُوا النَّاس أَشْيَاءَهُمْ﴾ لَا تُنْقِصُوهُمْ مِنْ حَقّهمْ شَيْئًا ﴿وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْض مُفْسِدِينَ﴾ بِالْقَتْلِ وَغَيْره مِنْ عَثِيَ بِكَسْرِ الْمُثَلَّثَة أَفْسَدَ وَمُفْسِدِينَ حَال مُؤَكِّدَة لِمَعْنَى عَامِلهَا تَعْثَوْا

085. (Dan Syuaib berkata, "Hai kaumku!) (Cukupkanlah takaran dan timbungan) sempurnakanlah keduanya (dengan adil) secara tetap (dan janganlah kalian merugikan manusia terhadap hak-hak mereka) janganlah kalian mengurangi hak-hak mereka sedikit pun (dan janganlah kalian membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan) dengan melakukan pembunuhan dan kejahatan lainnya. Lafal ta'tsau berasal dari fi'il madhi `atsiya, artinya mengadakan kerusakan. Sedangkan lafal mufsidiina berkedudukan menjadi hal atau keterangan yang mengukuhkan makna amilnya yaitu ta'tsau. 

QS Hud Ayat 86

 ﴿بقيت اللَّه﴾ رِزْقه الْبَاقِي لَكُمْ بَعْد إيفَاء الْكَيْل والوزن ﴿خير لكم﴾ من البخس ﴿إن كنتم مؤمنين﴾ ﴿وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِحَفِيظٍ﴾ رَقِيب أُجَازِيكُمْ بِأَعْمَالِكُمْ إنَّمَا بُعِثْت نَذِيرًا

086. (Sisa keuntungan dari Allah) yaitu rezeki yang masih tersisa bagi kalian sesudah kalian mencukupkan takaran dan timbangan (adalah lebih baik bagi kalian) daripada perbuatan mengurangi takaran dan timbangan (jika kalian orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas diri kalian.") aku bukanlah pengawas yang membalas kalian terhadap amal perbuatan kalian, akan tetapi sesungguhnya aku adalah orang yang diutus bagi kalian sebagai pembawa peringatan. 

{ قالوا } له استهزاء { يا شعيب أصلاتك تأمرك } بتكليف { أن نترك ما يعبد آباؤنا } من الأصنام { أو } نترك { أن نفعل في أموالنا ما نشاء } المعنى هذا أمر باطل لا يدعو إليه داع بخير { إنك لأنت الحليم الرشيد } قالوا ذلك استهزاء

087. (Mereka berkata) kepada Nabi Syuaib dengan nada mengejek ("Hai Syuaib! Apakah salatmu menyuruhmu) membebankan kepadamu (agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami) yaitu berhala-berhala (atau) melarang kami (mencegah kami melakukan apa yang kami kehendaki tentang harta kami) maksudnya hal ini tidak benar sama sekali, tidak ada seorang pun yang menyeru kepada kebaikan. (Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal.") mereka mengatakan demikian dengan nada mengejek dan mencemoohkan Nabi Syuaib.

{ قال يا قوم أرأيتم إن كنت على بينة من ربي ورزقني منه رزقا حسنا } حلالا أفأشوبه بالحرام من البخس والتطفيف { وما أريد أن أخالفكم } وأذهب { إلى ما أنهاكم عنه } فأرتكبه { إن } ما { أريد إلا الإصلاح } لكم بالعدل { ما استطعت وما توفيقي } قدرتي على ذلك وغيره من الطاعات { إلا بالله عليه توكلت وإليه أنيب } أرجع

088. (Syuaib berkata, "Bagaimana pikiran kalian jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabbku dan dianugerahi-Nya aku daripada-Nya rezeki yang baik) rezeki yang halal lalu apakah patut jika aku mencampurinya dengan barang yang haram hasil mengurangi takaran dan timbangan (Dan aku tidak berkehendak menyalahi kalian) melakukan (apa yang aku larang kalian daripadanya) kemudian aku mengerjakannya. (Aku tidak) aku tiada (bermaksud kecuali mendatangkan perbaikan) bagi kalian supaya menegakkan keadilan (selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku) berkemampuan untuk melakukan hal tersebut dan perkara ketaatan lainnya (melainkan dengan pertolongan Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nyalah aku kembali.") mengembalikan semua perkara.

Kajian Hadist Sahih Bukhari  

بَابُ الْوَكَالَةِ فِي قَضَاءِ الدُّيُونِ
 
٢٣٠٦ - حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ: سَمِعْتُ أَبَا سَلَمَةَ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه: «أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ ﷺ يَتَقَاضَاهُ فَأَغْلَظَ، فَهَمَّ بِهِ أَصْحَابُهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: دَعُوهُ، فَإِنَّ لِصَاحِبِ الْحَقِّ مَقَالًا، ثُمَّ قَالَ: أَعْطُوهُ سِنًّا مِثْلَ سِنِّهِ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، إِلَّا أَمْثَلَ مِنْ سِنِّهِ، فَقَالَ: أَعْطُوهُ، فَإِنَّ مِنْ خَيْرِكُمْ أَحْسَنَكُمْ قَضَاءً.»
 
Bab Perwakilan (Wakalah) dalam Melunasi Utang
 
Hadis Nomor 2306
 
Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb: Telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Salamah bin Kuhail: Aku mendengar Abu Salamah bin 'Abdurrahman, dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu:
 
"Bahwa ada seorang laki-laki mendatangi Nabi ﷺ untuk menagih utang unta kepada beliau, lalu laki-laki tersebut berkata dengan kasar (ketus). Maka para sahabat Nabi berniat untuk memberi pelajaran (menindaknya), namun Rasulullah ﷺ segera bersabda:'Biarkan dia, karena sesudah barangsiapa yang memiliki hak (piutang), ia mempunyai hak untuk berbicara.'Kemudian beliau bersabda (kepada para sahabat): 'Berikanlah kepadanya unta yang usianya sepadan dengan unta miliknya.'Para sahabat berkata: 'Wahai Rasulullah, kami tidak mendapati kecuali unta yang usianya lebih tua dan lebih bagus dari unta miliknya.'Maka beliau bersabda: 'Berikanlah kepadanya, karena sesungguhnya orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang paling baik dalam melunasi utangnya.'" 
 

Kajian Fikih Kitab Al-Umm Imam Syafi'i 

 
 (قَالَ الشَّافِعِيُّ): «وَرَأَى رَسُولُ اللَّهِ - ﷺ - رَجُلًا يُصَلِّي صَلَاةً لَمْ يُحْسِنْهَا فَأَمَرَهُ بِالْإِعَادَةِ ثُمَّ صَلَّاهَا فَأَمَرَهُ بِالْإِعَادَةِ فَقَالَ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلِّمْنِي فَعَلَّمَهُ رَسُولُ اللَّهِ - ﷺ - الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ وَالرَّفْعَ وَالتَّكْبِيرَ لِلِافْتِتَاحِ، وَقَالَ فَإِذَا جِئْت بِهَذَا فَقَدْ تَمَّتْ صَلَاتُك وَلَمْ يُعَلِّمْهُ ذِكْرًا فِي رُكُوعٍ وَلَا سُجُودٍ وَلَا تَكْبِيرًا سِوَى تَكْبِيرَةِ الِافْتِتَاحِ وَلَا قَوْلَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقَالَ لَهُ فَإِذَا فَعَلْت هَذَا فَقَدْ تَمَّتْ صَلَاتُك وَمَا نَقَصْت مِنْهُ فَقَدْ نَقَصْت مِنْ صَلَاتِك» فَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى أَنَّهُ عَلَّمَهُ مَا لَا تُجْزِئُ الصَّلَاةُ إلَّا بِهِ وَمَا فِيهِ مَا يُؤَدِّيهَا عَنْهُ وَإِنْ كَانَ الِاخْتِيَارُ غَيْرَهُ
 
(Asy-Syafii berkata):

"Rasulullah ﷺ pernah melihat seorang laki-laki melakukan salat dengan cara yang tidak benar (tidak menyempurnakannya), lalu beliau memerintahkannya untuk mengulangi salatnya.Setelah orang itu mengulangi salatnya, beliau kembali memerintahkannya untuk mengulangnya lagi. Maka orang tersebut berkata: 'Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku.'Lalu Rasulullah ﷺ mengajarkan kepadanya tentang (tata cara) rukuk, sujud, iktidal (bangkit dari rukuk), dan takbir untuk pembukaan (takbiratulihram). Beliau bersabda: 'Jika kamu telah melakukan hal ini, maka salatmu telah sempurna.'Dalam hal itu, beliau tidak mengajarkan bacaan zikir saat rukuk, tidak pula saat sujud, tidak mengajarkan takbir-takbir yang lain selain takbiratulihram, dan tidak pula ucapan 'Sami'allahu liman hamidah'. Beliau bersabda kepadanya: 'Jika kamu telah melakukan hal ini, maka salatmu telah sempurna. Dan apa saja yang kamu kurangi dari hal itu, maka kamu telah mengurangi (keabsahan) salatmu.'Hal ini menunjukkan bahwa beliau ﷺ hanya mengajarkan perkara-perkara yang menyebabkan salat tidak sah kecuali dengannya (yakni rukun-rukun wajib), dan perkara-perkara yang dengannya seseorang sudah dianggap telah menunaikan kewajiban salatnya, meskipun pilihan yang paling utama (al-ikhtiyar) adalah melakukan yang lebih dari itu (yaitu menyertakan amalan sunahnya)." (Al-Umm, 1/217)
LihatTutupKomentar