Hukum Zakat Fitrah dan Kafarat Puasa Ramadan Diganti Uang
Pandangan Mazhab Hanafi dan Tabi'in: Boleh Mengganti Zakat Fitrah dan Kafarat dengan Uang
Al-Sarakhsi dalam Al-Mabsuth, hlm. 3/107, menjelaskan:
[فإن أعطى قيمة الحنطة جاز عندنا؛ لأن المعتبر حصول الغنى، وذلك يحصل بالقيمة كما يحصل بالحنطة، وعند الشافعي رحمه الله تعالى لا يجوز، وأصل الخلاف في الزكاة، وكان أبو بكر الأعمش رحمه الله تعالى يقول: أداء الحنطة أفضل من أداء القيمة؛ لأنه أقرب إلى امتثال الأمر وأبعد عن اختلاف العلماء فكان الاحتياط فيه، وكان الفقيه أبو جعفر رحمه الله تعالى يقول: أداء القيمة أفضل؛ لأنه أقرب إلى منفعة الفقير فإنه يشتري به للحال ما يحتاج إليه، والتنصيص على الحنطة والشعير كان لأن البياعات في ذلك الوقت بالمدينة يكون بها، فأما في ديارنا البياعات تجري بالنقود، وهي أعز الأموال، فالأداء منها أفضل،
Artinya: "Maka, jika seseorang membayar dengan nilai harga gandum (uang), hukumnya boleh menurut madzhab kami (Hanafi); karena yang menjadi pertimbangan utama adalah tercapainya kecukupan bagi si miskin (hushul al-ghina). Hal itu dapat terwujud dengan uang sebagaimana halnya dengan gandum.
Sedangkan menurut Imam Syafi'i rahimahullah, hal itu tidak diperbolehkan. Akar perbedaan pendapat ini juga terjadi dalam masalah zakat (mal).
Dahulu, Abu Bakar al-A'masy rahimahullah berkata: 'Membayar dengan gandum lebih utama daripada dengan uang, karena hal itu lebih dekat kepada pelaksanaan perintah (tekstual) dan lebih jauh dari perselisihan para ulama, sehingga sikap hati-hati (ikhtiyat) ada pada cara tersebut.'
Namun, Al-Faqih Abu Ja'far rahimahullah berkata: 'Membayar dengan uang lebih utama, karena hal itu lebih dekat kepada kemanfaatan bagi fakir miskin, sebab ia bisa langsung membeli apa yang ia butuhkan saat itu juga.'
Adapun penyebutan gandum dan jelai (dalam hadis) secara spesifik adalah karena transaksi jual-beli di Madinah pada waktu itu dilakukan dengan kedua komoditas tersebut. Sedangkan di negeri kita, transaksi berlaku dengan uang tunai (nuqud), dan uang adalah harta yang paling berharga, maka membayar dengannya adalah lebih utama.
Pandangan Ulama Tabi'in Membolehkan Zakat dan Kafarat Uang
Sebagaimana disebut oleh Imam Abu Bakar bin Abi Syaibah dalam kitab Al-Mushannaf (2/398, cet. Maktabah al-Rusyd)."
وهذا أيضًا هو مذهب جماعة من التابعين، كما أنه قول طائفة من العلماء يُعْتَدُّ بهم، منهم الحسن البصري، حيث روي عنه أنه قال: لا بأس أن تعطى الدراهم في صدقة الفطر. وأبو إسحاق السبيعي، فعن زهير قال: سمعت أبا إسحاق يقول: أدركتهم وهم يعطون في صدقة الفطر الدراهم بقيمة الطعام. وعمر بن عبد العزيز، فعن وكيع عن قرة قال: جاءنا كتاب عمر بن عبد العزيز في صدقة الفطر: نصف صاع عن كل إنسان أو قيمته نصف درهم. وقد روى هذه الآثار الإمام أبو بكر بن أبي شيبة في "المصَنَّف" (2/ 398، ط. مكتبة الرشد)،
Artinya: "Ini juga merupakan pendapat sekelompok tabi'in dan golongan ulama yang kredibel, di antaranya:
- Al-Hasan al-Bashri, diriwayatkan darinya bahwa ia berkata: 'Tidak mengapa memberikan dirham (uang) dalam zakat fitrah.'
- Abu Ishaq al-Sabi'i, dari Zuhair ia berkata: 'Aku mendengar Abu Ishaq berkata: Aku mendapati mereka (para sahabat/tabi'in) memberikan dirham senilai harga makanan dalam zakat fitrah.'
- Umar bin Abdul Aziz, dari Waki' dari Qurrah ia berkata: 'Telah datang kepada kami surat dari Umar bin Abdul Aziz mengenai zakat fitrah: Setengah sha' untuk setiap orang atau nilainya sebesar setengah dirham.'
Alasan Ulama yang Membolehkan Zakat dan Kafarat dengan Uang
An-Nawawi dalam Al-Majmuk menjelaskan argumen ijtihad ulama yang membolehkan:
واحتج المجوزون للقيمة بأن معاذا رضي الله عنه قال لأهل اليمن حيث بعثه رسول الله صلى الله عليه وسلم لأخذ زكاتهم وغيرها : ائتوني بعرض ثياب خميص أو لبيس في الصدقة مكان الشعير والذرة أهون عليكم وخير لأصحاب النبي صلى الله عليه وسلم بالمدينة، ذكره البخاري في صحيحه تعليقا بصيغة جزم ، وبالحديث الصحيح : في خمس وعشرين بنت مخاض، فإن لم تكن فابن لبون قالوا : وهذا نص على دفع القيمة قالوا : ولأنه مال زكوي فجازت قيمته كعروض التجارة ، ولأن القيمة مال فأشبهت المنصوص عليه ولأنه لما جاز العدول عن العين إلى الجنس بالإجماع بأن يخرج زكاة غنمه من غنم غيرها جاز العدول من جنس إلى جنس. انتهى.
Artinya: "Kelompok yang memperbolehkan pembayaran dengan nilai harga (qimah) berhujjah dengan riwayat bahwa Mu’adz (bin Jabal) radhiyallahu 'anhu berkata kepada penduduk Yaman ketika Rasulullah ﷺ mengutusnya untuk mengambil zakat dan kewajiban lainnya:
'Bawakanlah kepadaku kain atau pakaian sebagai zakat, baik itu kain khamish (kain bergaris dari wol/sutra) atau labis (pakaian yang sudah jadi), sebagai ganti dari gandum dan jagung. Hal itu lebih mudah bagi kalian, dan lebih baik (bermanfaat) bagi para sahabat Nabi ﷺ di Madinah.'
Riwayat ini disebutkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya secara ta'liq (tanpa sanad lengkap di awal) dengan redaksi yang tegas (sighat jazm).
Mereka juga berhujjah dengan hadis sahih: 'Pada (zakat) dua puluh lima ekor unta, wajib dikeluarkan Bintu Makhadh. Jika tidak ada, maka diganti dengan Ibnu Labun.' Mereka berkata: 'Ini adalah nash (teks) tentang pembayaran dengan nilai pengganti.'
Mereka (ulama pendukung uang/nilai harga) juga berargumen: 'Karena ini adalah harta zakat, maka diperbolehkan membayar nilainya sebagaimana dalam zakat barang dagangan ('urudh at-tijarah). Dan karena nilai harga itu juga merupakan harta, maka ia menyerupai apa yang ditetapkan dalam nash.'
Selain itu, karena diperbolehkan berpaling dari unit barang tertentu ke jenis yang sama berdasarkan ijma'—seperti seseorang mengeluarkan zakat kambingnya dari kambing milik orang lain (bukan dari kambingnya sendiri)—maka diperbolehkan pula berpaling dari satu jenis barang ke jenis barang lainnya (dari makanan ke pakaian/uang)."
Pandangan Mazhab Syafi'i
An-Nawawi dalam al-Majmuk, hlm. 6/112, menjelaskan pandangan mazhab ٍٍSyafi'i soal ini:
أن الشرع نص على بنت مخاض وبنت لبون وحقة وجذعة وتبيع ومسنة وشاة وشياه وغير ذلك من الواجبات فلا يجوز العدول ، كما لا يجوز في الأضحية ولا في المنفعة ولا في الكفارة وغيرها من الأصول التي وافقوا عليها ولا في حقوق الآدميين .
واستدل صاحب الحاوي بقوله صلى الله عليه وسلم : في صدقة الفطر صاع من تمر أو صاع من شعير إلى آخره ، ولم يذكر القيمة ولو جازت لبينها فقد تدعو الحاجة إليها ولأنه صلى الله عليه وسلم قال : في خمس وعشرين من الإبل بنت مخاض، فإن لم تكن بنت مخاض فابن لبون، ولو جازت القيمة لبينها ولأنه صلى الله عليه وسلم قال: فيمن وجب عليه جذعة فإن لم تكن عنده دفع حقة وشاتين أو عشرين درهما وكذا غيرها من الجبران على ما سبق بيانه في حديث أنس في أول باب زكاة الإبل فقدر البدل بعشرين درهما ولو كانت القيمة مجزئة لم يقدره بل أوجب التفاوت بحسب القيمة .
وقال إمام الحرمين في الأساليب : المعتمد في الدليل لأصحابنا أن الزكاة قربة لله تعالى، وكل ما كان كذلك فسبيله أن يتبع فيه أمر الله تعالى. انتهى.
Artinya: "Bahwasanya syariat telah menetapkan secara tekstual (nash) tentang (kewajiban zakat ternak berupa) Bintu Makhadh, Bintu Labun, Hiqqah, Jadz'ah, Tabi', Musinnah, serta seekor kambing atau beberapa ekor kambing, dan kewajiban-kewajiban lainnya. Maka, tidak diperbolehkan berpaling (dari ketentuan tersebut), sebagaimana tidak diperbolehkan (menggantinya dengan uang) dalam masalah kurban (udhhiyah), manfaat, kaffarat, dan dasar-dasar hukum lainnya yang telah mereka (ulama) sepakati, juga tidak boleh dalam hak-hak antarmanusia.
Penulis kitab Al-Hawi (Imam Al-Mawardi) berhujjah dengan sabda Nabi ﷺ: 'Dalam zakat fitrah (diwajibkan) satu sha' kurma atau satu sha' gandum...' dan seterusnya. Beliau ﷺ tidak menyebutkan nilai uangnya. Seandainya (uang) itu diperbolehkan, niscaya beliau telah menjelaskannya, padahal terkadang ada kebutuhan terhadap uang tersebut.
Dan juga karena Nabi ﷺ bersabda: 'Pada (zakat) dua puluh lima ekor unta, wajib dikeluarkan Bintu Makhadh. Jika tidak ada Bintu Makhadh, maka diganti dengan Ibnu Labun.' Seandainya nilai uang diperbolehkan, niscaya beliau ﷺ telah menjelaskannya.
Begitu pula sabda Nabi ﷺ: 'Barangsiapa yang wajib mengeluarkan Jadz'ah namun ia tidak memilikinya, maka ia menyerahkan Hiqqah ditambah dua ekor kambing atau dua puluh dirham.' Demikian pula aturan pengganti (jubran) lainnya sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya dalam hadis Anas pada awal bab Zakat Unta. Di sana, beliau ﷺ menetapkan nilai penggantinya sebesar dua puluh dirham. Seandainya nilai harga (uang) itu mencukupi (secara mutlak), niscaya beliau tidak akan menetapkannya secara kaku, melainkan akan mewajibkan selisih harganya sesuai nilai pasar yang berlaku.
Imam al-Haramain berkata dalam kitab Al-Asalib: 'Dalil yang menjadi pegangan bagi mazhab kami (Syafi'i) adalah bahwa zakat merupakan bentuk qurbah (pendekatan diri) kepada Allah Ta'ala. Dan setiap perkara yang bersifat demikian, maka jalannya adalah mengikuti apa yang diperintahkan oleh Allah Ta'ala (secara tekstual). "
Pandangan Mazhab Syafi'i, Maliki, Hanbali
Imam Malik
Imam Malik dalam Al-Mudawwanah al-Kubro, hlm. 2/358, menegaskan:
(ولا يُجزئ أن يجعل الرجل مكان زكاة الفطر عرضًا من العُروض- أي: قيمة - وليس كذلك أمر النبي عليه الصلاة والسلام)
Artinya: "Dan tidaklah memadai (sah) bagi seseorang untuk menjadikan barang dagangan ('urudh)—yakni nilai harga (qimah)—sebagai pengganti zakat fitrah. Perkara yang demikian itu bukanlah perintah Nabi ﷺ."
Imam Syafi'i
Imam Syafi'i dalam al-Umm, hlm. 2/72, menegaskan:
لا تُجزئ القيمة- أي: في زكاة الفطر
Artinya: "Tidak sah (membayar) dengan nilai harga—yaitu: dalam zakat fitrah."
Ibnu Qudamah dari Mazhab Hanbali
Ibnu Qudamah dari Mazhab Hanbali dalam Al-Mughni menyatakan:
قال أبو داود: قيل لأحمد وأنا أسمع: أعطي دراهم- يعني في صدقة الفطر- قال: أخاف ألَّا يُجزئه، خلاف سُنَّة رسول الله صلى الله عليه وسلم).
وقال أبوطالب: (قال لي أحمد: لا يُعطي قيمته، قيل له: قوم يقولون: عُمر بن عبدالعزيز كان يأخذ بالقيمة، قال: يدعون قولَ رسول الله صلى الله عليه وسلم، ويقولون: قال فُلان؟!).
قال ابن عُمر: (فرض رسول الله صلى الله عليه وسلم، وقال الله تعالى: ﴿ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ ﴾ [النساء: 59]، وقال قوم يردُّون السُّنَن: قال فُلان، قال فُلان. وظاهر مذهبه أنه لا يُجزئه إخراج القيمة في شيء من الزكوات)
Artinya: "Abu Dawud berkata: Seseorang bertanya kepada Ahmad (bin Hanbal) dan aku mendengarnya: '(Bolehkah) aku memberikan dirham—yakni dalam zakat fitrah?' Ahmad menjawab: 'Aku khawatir hal itu tidak sah (la yujzi'uhu) baginya, karena menyelisihi Sunnah Rasulullah ﷺ'.
Abu Thalib berkata: "Ahmad (bin Hanbal) berkata kepadaku: 'Janganlah seseorang memberikan nilai harga (qimah) dalam zakat fitrah.'
Lalu dikatakan kepadanya: 'Ada orang-orang yang berpendapat bahwa (Khalifah) Umar bin Abdul Aziz dahulu mengambil zakat dengan nilai harga.'
Imam Ahmad menjawab: 'Mereka meninggalkan sabda Rasulullah ﷺ dan malah berkata: Si Fulan berkata demikian?!'
Ibnu Umar (maksudnya di sini adalah kutipan argumen yang senada dengan prinsip Ibnu Umar) berkata: 'Rasulullah ﷺ telah mewajibkan (zakat fitrah dengan makanan), dan Allah Ta'ala berfirman: Taatilah Allah dan taatilah Rasul (QS. An-Nisa: 59). Namun ada kaum yang menolak sunnah-sunnah dengan mengatakan: Si Fulan berkata begini, Si Fulan berkata begitu.'
Dan zahir (pendapat yang nampak) dari madzhabnya (Imam Ahmad) adalah bahwa tidak sah mengeluarkan zakat dengan nilai harga dalam jenis zakat apa pun."
Pandangan Ibnu Taimiyah dalam Majmuk al-Fatawa,
Ibnu Taimiyah secara fikih menganut mazhab Hanbali. Dalam Majmuk al-Fatawa, hlm. 28/82-83, dia cenderung mengikuti atau menyetujui pendapat mazhab Hanafi dan kalangan Tabi'in.
[والأظهر في هذا أن إخراج القيمة لغير حاجة ولا مصلحة راجحة ممنوع منه، وأما إخراج القيمة للحاجة أو المصلحة أو العدل فلا بأس به] اهـ.
Artinya: "Pendapat yang paling kuat dalam masalah ini adalah bahwa mengeluarkan zakat dalam bentuk nilai uang tanpa adanya keperluan (hajah) atau maslahat yang kuat, maka hal itu dilarang. Adapun mengeluarkan zakat dalam bentuk nilai uang karena adanya keperluan, maslahat, atau demi keadilan, maka hal itu tidak mengapa (diperbolehkan)."
Pandangan Darul Ifta' al-Mishriyah
المختار للفتوى في حكم إخراج زكاة الفطر نقودًا
الذي نختاره للفتوى ونراه أوفق لمقاصد الشرع وأرفق بمصالح الخلق هو جواز إخراج زكاة الفطر مالًا مطلقًا، وهذا هو مذهب الحنفية، وبه العمل والفتوى عندهم في كل زكاة، وفي الكفارات، والنذر، والخراج، وغيرها، كما أنه مذهب جماعة من التابعين كما مر
Artinya: "Pendapat Terpilih untuk Fatwa Mengenai Hukum Mengeluarkan Zakat Fitrah dalam Bentuk Uang"
"Pendapat yang kami pilih sebagai fatwa dan kami pandang paling sesuai dengan tujuan-tujuan syariat (Maqashid al-Shari'ah) serta paling membawa kemaslahatan bagi makhluk adalah bolehnya mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk harta (uang) secara mutlak.
Ini merupakan mazhab Al-Hanafiyah, dan pendapat inilah yang diamalkan serta menjadi pegangan fatwa di kalangan mereka dalam semua jenis zakat, kaffarat (denda), nazar, kharaj (pajak tanah), dan lain-lain. Sebagaimana hal ini juga merupakan mazhab sekelompok ulama dari kalangan Tabi'in, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya." (Link fatwa)
