Dua Istilah Haid: Qaul Sahb, Laqt dan Talfiq
Qaulus Sahbi (قول السحب)
Qaulus Sahbi adalah sebuah pendapat fikih yang dianut oleh madzhab Hanafi dan Imam Ar-Rafi'i dari kalangan madzhab Syafi'i. Pendapat ini menganggap bahwa hari-hari suci (berhentinya darah) yang terjadi di sela-sela hari keluarnya darah haid selama masa maksimal 15 hari, tetap dihitung sebagai masa haid.
Berdasarkan pendapat ini, seorang wanita tidak wajib meng-qadha (mengganti) shalat atau puasa yang ditinggalkan pada hari-hari suci tersebut, karena seluruh rangkaian darah yang terputus-putus itu dianggap sebagai satu kesatuan masa haid.
Rincian Pendapat Qaulus Sahbi:
- Definisi: Menyambung (menarik) status hukum darah yang keluar secara berturut-turut ke atas hari-hari suci yang ada di antaranya.
- Hukum: Hari-hari di mana darah keluar secara terputus (misal: sehari keluar darah, sehari suci, sehari keluar lagi) di dalam rentang maksimal 15 hari, semuanya dianggap sebagai Haid.
Perbedaan dengan Pendapat Lain (Talfiq):
- Qaulus Sahbi: Menganggap masa suci di antara dua darah sebagai bagian dari haid.
- Qaulut Talfiq: Menganggap masa suci tersebut sebagai masa suci (thuhur), sehingga wanita wajib shalat saat darah berhenti.
- Kehati-hatian (Ikhtiyat): Qaulus Sahbi dianggap lebih "aman" dalam ibadah karena tidak membebani wanita untuk meng-qadha shalat yang mungkin sebenarnya terjadi di waktu haid.
- Penganut Pendapat Ini: Imam Abu Hanifah, pendapat yang dikuatkan (rajih) menurut Imam Ar-Rafi'i, dan salah satu pendapat dalam madzhab Syafi'i.
Contoh Kasus:
Skema: 1 hari darah + 1 hari suci + 1 hari darah
- Menurut Qaulus Sahbi: Ketiga hari tersebut (darah + suci) semuanya dihukum sebagai Haid.
- Menurut Qaulut Talfiq: Hanya saat keluar darah yang disebut haid, sedangkan hari suci di antaranya adalah Masa Suci (wajib shalat).
Kesimpulan:
Jika seorang wanita melihat darah keluar, kemudian berhenti (suci), lalu darah itu kembali lagi (dan semuanya terjadi dalam rentang 15 hari), maka menurut Qaulus Sahbi, ia tidak perlu mandi wajib dan tidak perlu shalat pada hari-hari suci di antara darah tersebut, karena semuanya dianggap satu rangkaian haid.
Qaulul Laqth atau Talfiq
Qaulul Laqth adalah sebuah pendapat yang menganggap bahwa masa bening/suci (berhentinya darah) di antara dua waktu keluarnya darah dalam rentang masa haid dianggap sebagai masa suci yang berdiri sendiri. Dengan kata lain, hari-hari suci tersebut "dipungut" (laqth) atau dipilah dan dianggap sebagai masa suci yang nyata, sementara hanya hari-hari keluarnya darah saja yang dianggap sebagai haid.
Rincian Qaulul Laqth/Talfiq dalam Hukum Haid:
- Definisi: Memilah waktu-waktu suci (saat darah berhenti) dan menjadikannya sebagai masa suci yang sah secara hukum.
- Hukum: Ini adalah pendapat yang lemah. Pendapat yang kuat (mu'tamad) menyatakan bahwa masa suci di antara dua masa keluarnya darah dalam satu rangkaian haid mengambil hukum haid.
- Masa Suci dalam Nifas: Menurut pendapat yang kuat, masa suci (berhentinya darah) dalam rentang 60 hari nifas dihitung sebagai bagian dari masa nifas secara hitungan waktu, namun bukan secara hukum (yakni tetap wajib shalat saat bersih).
Rincian Pendapat Talfiq/Laqt dalam Haid:
- Makna Talfiq: Kondisi di mana seorang wanita melihat darah, kemudian suci (darah berhenti), lalu melihat darah kembali, dengan syarat total durasi darah dan suci tersebut tidak melampaui batas maksimal masa haid (15 hari).
- Hukum bagi Wanita (Al-Mulaffiqah): Ia wajib mandi, shalat, dan berpuasa pada hari-hari suci (saat darah berhenti) karena ia berstatus sebagai wanita suci. Jika darah kembali keluar, maka ia berhenti kembali dari shalat dan puasa.
- Hukum Ibadah: Jika ia berpuasa atau shalat pada hari-hari suci tersebut kemudian darah kembali keluar, maka puasa dan shalatnya dianggap sah dan tidak wajib di-qadha menurut penganut pendapat Talfiq.
Perbandingan Madzhab dalam Masalah Ini:
Talfiq (disebut juga Al-Lafdh atau Al-Laqth):
- Dianut oleh Madzhab Maliki, Ahmad bin Hanbal, dan satu versi pendapat dalam Syafi'i.
- Prinsip: Menjadikan waktu suci sebagai "Masa Suci" dan waktu darah sebagai "Masa Haid".
As-Sahbu (Pendapat Lawannya):
- Dianut oleh Madzhab Hanafi dan merupakan pendapat Mu'tamad (resmi/kuat) dalam Madzhab Syafi'i.
- Prinsip: Menarik (sahbu) hukum haid ke hari-hari suci di antara dua darah. Artinya, masa suci tersebut dianggap tetap berstatus haid.
Ringkasan:
Mengikuti Qaulut Talfiq berarti menganggap masa suci di antara dua waktu keluarnya darah adalah masa suci yang sah, sehingga wanita dituntut untuk menjalankan ibadah. Hal ini berbeda terbalik dengan Qaulus Sahbi yang menganggap masa suci tersebut tetap sebagai masa haid.
Referensi:
- An-Nawawi, Al-Majmuk Syarah al-Muhadzab, hlm. 2/ 516
وبالتلفيق قال مالك وأحمد وبالسحب أبو حنيفة ، والحاصل أن الراجح عندنا -أي الشافعية- قول السحب . قال أصحابنا : وسواء كان التقطع يوما وليلة دما ويوما وليلة نقاء أو يومين ، ويومين أو خمسة وخمسة أو غير ذلك فالحكم في الكل سواء وهو أنه إذا لم يجاوز خمسة عشر فأيام الدم حيض بلا خلاف. وفي أيام النقاء المتخلل بين الدم القولان، قال المتولي وغيره : إذا قلنا بالتلفيق فلا خلاف أنه لا يجعل كل دم حيضا مستقلا ولا كل نقاء طهرا مستقلا ، بل الدماء كلها حيض واحد يعرف، والنقاء مع ما بعده من الشهر طهر واحد. قال أصحابنا : وعلى القولين إذا رأت النقاء في اليوم الثاني عملت عمل الطاهرات بلا خلاف لأنا نعلم أنها ذات تلفيق لاحتمال دوام الانقطاع قالوا : فيجب عليها أن تغتسل وتصوم وتصلي ولها قراءة القرآن ومس المصحف والطواف والاعتكاف وللزوج وطؤها ، ولا خلاف في شيء من هذا ، فإذا عاودها الدم في اليوم الثالث تبينا أنها ملفقة؛ إن قلنا بالتلفيق تبينا صحة الصوم والصلاة والاعتكاف وإباحة الوطء وغيرها، وإن قلنا بالسحب تبينا بطلان العبادات التي فعلتها في اليوم الثاني ، فيجب عليها قضاء الصوم والاعتكاف والطواف المفعولات عن واجب ، وكذا لو كانت صلت عن قضاء أو نذر، ولا يجب قضاء الصلاة المؤداة لأنه زمن الحيض ، ولا صلاة فيه. انتهى
Artinya: "Pendapat Talfiq dianut oleh Imam Malik dan Imam Ahmad, sedangkan pendapat Sahbu dianut oleh Imam Abu Hanifah. Hasilnya, pendapat yang kuat (rajih) di kalangan kami—yaitu madzhab Syafi'i—adalah Qaulus Sahbu.
Ulama kami (Syafi'iyyah) berkata: Sama saja apakah darah terputus-putus itu polanya sehari semalam keluar darah dan sehari semalam suci, atau dua hari-dua hari, atau lima hari-lima hari, atau selain itu; maka hukum bagi semuanya adalah sama. Yaitu, selama (total rangkaiannya) tidak melewati 15 hari, maka hari-hari keluarnya darah adalah Haid tanpa ada perbedaan pendapat. Namun, pada hari-hari suci (nuqa') yang berada di sela-sela darah itulah terdapat dua pendapat (Talfiq dan Sahbu).
Al-Mutawalli dan ulama lainnya berkata: Jika kita menggunakan pendapat Talfiq, maka tidak ada perbedaan pendapat bahwa setiap darah tidak dijadikan haid yang berdiri sendiri dan setiap suci tidak dijadikan masa suci yang berdiri sendiri. Melainkan, seluruh darah tersebut adalah satu rangkaian haid, dan masa suci setelah rangkaian tersebut (di sisa bulan) adalah satu masa suci.
Ulama kami berkata: Berdasarkan kedua pendapat tersebut (Talfiq maupun Sahbu), jika seorang wanita melihat kesucian pada hari kedua (setelah hari pertama keluar darah), maka ia wajib melakukan aktivitas wanita suci tanpa ada perbedaan pendapat, karena kita belum tahu apakah ia akan mengalami 'talfiq' (darah kembali lagi) atau kesuciannya akan berlanjut.
Para ulama berkata: Maka ia wajib mandi janabah, berpuasa, dan shalat. Ia juga boleh membaca Al-Qur'an, menyentuh Mushaf, melakukan Thawaf, I'tikaf, serta suami boleh menjima’nya. Tidak ada perbedaan pendapat mengenai hal ini sedikitpun.
Namun, jika darah kembali keluar pada hari ketiga, maka barulah jelas bahwa ia adalah wanita yang mengalami 'talfiq' (darah terputus-putus):
- Jika kita mengikuti pendapat Talfiq: Maka jelaslah bahwa puasa, shalat, i’tikaf, serta kebolehan jima’ yang ia lakukan (pada hari kedua) adalah sah.
- Jika kita mengikuti pendapat Sahbu (Pendapat Kuat Syafi'i): Maka jelaslah bahwa ibadah-ibadah yang ia lakukan pada hari kedua tersebut adalah batal/tidak sah. Ia wajib meng-qadha puasa, i’tikaf, dan thawaf yang bersifat wajib (fardhu). Begitu pula jika ia melakukan shalat qadha atau nazar (maka harus diulang). Namun, ia tidak wajib meng-qadha shalat fardhu harian (yang dilakukan pada hari kedua tersebut), karena waktu itu (ternyata) adalah masa haid, dan tidak ada kewajiban shalat di masa haid. Selesai."
2. Asy-Syasyi, Hilyah al-Ulama fi Ma'rifat Madzahib al-Fuqaha, hlm. 1/293:
[فصل في التلفيق]
إذا رأت يومًا دمًا، ويومًا نقاء ولم تجاوز الخمسة عشر (يومًا) (١)، فقد نص الشافعي رحمه اللَّه: أن الجميع حيض، وهو قول أبي حنيفة.
وفيه قول آخر: أنه يلفق النقاء إلى النقاء (فيجعل) (٢) طهرًا، وهو قول مالك، وإن عبر الخمسة عشر (يومًا) (٣)، فقد اختلط الحيض بالاستحاضة.
وقال ابن بنت الشافعي (٤) رحمه اللَّه: النقاء في السادس عشر يفصل بين الحيض، والاستحاضة، والمذهب الأول.
Artinya: "[Pasal Mengenai Talfiq]
Apabila seorang wanita melihat darah selama satu hari, kemudian suci (darah berhenti) selama satu hari, dan rangkaian tersebut tidak melampaui batas lima belas hari (1), maka Imam Asy-Syafi'i rahimahullah telah menetapkan teks hukumnya (nash): Bahwa seluruh rangkaian tersebut adalah Haid. Ini juga merupakan pendapat Imam Abu Hanifah.
Namun, dalam masalah ini terdapat pendapat lain: Bahwa masa suci tersebut dikumpulkan (digabungkan) dengan masa suci lainnya sehingga dijadikan sebagai Masa Suci (yang memisahkan antara dua waktu darah). Ini adalah pendapat Imam Malik. Adapun jika rangkaian tersebut melewati batas lima belas hari (3), maka telah terjadi percampuran antara darah haid dan darah istihadhah.
Ibnu Binti Asy-Syafi'i (4) rahimahullah berkata: Masa suci pada hari keenam belas menjadi pemisah antara haid dan istihadhah. Namun, pendapat yang kuat (Al-Madzhab) adalah pendapat yang pertama (pendapat Sahbu atau menganggap semuanya haid)."
