Thursday, January 09, 2020

Hibah Dan Warisan dari Ibu

Hibah Dan Warisan dari Ibu
HIBAH DAN WARISAN

Assalamu'alaikum. Saya mau bertanya mengenai pembagian harta dari ibu saya. Ketika hidup dan dalam kondisi sehat, ibu saya mengatakan tanah A untuk kakak laki-laki saya, tanah B untuk saya, dan tanah+rumah C untuk adik perempuan saya. Tanah A & B adalah tanah warisan kakek saya. Sedangkan tanah+rumah C ada setelah menikah dg ayah saya, tapi itu dari hasil ibu saya kerja. Pada saat itu kami belum mengetahui mengenai pertanahan yang ternyata harga tanah dan luasnya berbeda-beda. Kami hanya nerimo. Kami juga baru bisa menjual tanah peninggalan setelah kedua orang tua saya meninggal. Saat itu kami belum tahu juga syariat Islam bagaimana dalam pembagian harta setelah ibu meninggal (hal sensitif yang kami gak mau jadi ribut). Tp sekarang setelah orang tua meninggal timbul masalah saat harus menjual tanah. Tanah B dijual dengan harga 15 juta, tanah+rumah C dijual dengan harga lebih dari 140 juta. Saya merasa pembagian tidak adil.
Yang saya ingin tanyakan:
1. Apakah benar pembagian tanah yg dilakukan oleh ibu saya?
2. Apakah ayah saya jadi tidak memiliki hak untuk tanah-tanah tersebut (ibu meninggal duluan)?
3. Ketentuan pembagian yang sesuai syariah bagaimana?
Saya takut masuk neraka hanya karena harta, tapi saya juga belum paham mengenai ilmu hak waris serta kakak saya cuek saja.
4. Kakak saya mengatakan tanah A tidak boleh diganggu. Hasil penjualan tanah B & C dia gak mau ambil. Bagaimana solusinya? Apakah saya dan adik saya boleh bagi 2 (masing-masing 72.5 juta) atau tetap uang tanah B hak saya dan tanah C hak adik saya?

Mohon penjelasannya. Ini sangat urgent. Jazakumullah khairan

JAWABAN

1. Kalau tanah A + B itu milik ibu, di mana beliau mendapat warisan dari ayahnya (kakek anda), maka berarti tanah tersebut adalah menjadi hak milik ibu anda. Apabila demikian, maka selagi dia masih hidup dia berhak untuk memberikan tanah tersebut pada siapapun sama saja pada anak-anaknya atau pada orang lain. Dengan demikian, maka hukumnya boleh dan benar bagi ibu anda menghibahkan hartanya selagi dia melakukan itu saat masih hidup.

Begitu juga, boleh dan sah bagi ibu anda untuk memberikan tanah + rumah C diberikan pada salah satu anaknya apabila harta tersebut memang milik beliau pribadi.
Baca detail: Hibah dalam Islam

2. Ya, ayah anda sebagai suami tidak berhak atas harta milik istri yang sudah dihibahkan oleh si istri saat masih hidup.

Suami hanya berhak mendapat warisan 1/4 atas harta warisan istri. Yakni, harta yang belum dihibahkan atau diwasiatkan saat masih hidup.

3. a) Untuk harta ibu anda yang sudah dihibahkan saat ibu masih hidup, maka harta tersebut bukan harta warisan namun sudah menjadi hak milik dari masing-masing orang yang diberi hibah.

b) Untuk harta yang belum dihibahkan oleh ibu, maka harta itu menjadi harta warisan dan harus diberikan kepada ahli waris sesuai dg sistem waris Islam. Adapun pembagiannya adalah seluruh harta warisan (di luar yang dihibahkan) adalah untuk seluruh anak kandung dengan sistem 2:1. Yakni, anak laki-laki mendapat dua kali lipat dari anak perempuan. Baca detail: Hukum Waris Islam

4. Sesuai hibah dari ibu, maka: Tanah A untuk kakak laki-laki Anda. Tanak B untuk Anda. Tanak C plus rumah untuk adik anda. Itu yang harus dilaksanakan. Sekali lagi, itu bukan waris melainkan hibah. Baca detail: Hibah dalam Islam

WARISAN UNTUK SUAMI DAN ANAK KANDUNG LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN

Assallamu Allaikum

Saya mempunyai hak waris dari peninggalan almarhum ibu.
Saya anak dari almarhum ibu dari suami pertama ( meninggal di th.2019 - juni).
Ibu mendapatkan hak waris dari almarhum kakek dan nenek , yg mana mereka ( kakek & nenek kami mengumpulkan harta pd saat ayah & ibu kami masih utuh sbg suami istri ).
Setelah Ibu kami bercerai dan menikah lagi dgn suami yg baru , tidak ada harta dr kakek & nenek yg dihasilkan setelah ibu menikah dengan Ayah tiri.

Dari suami pertama ibu punya 2 anak Saya( laki ) dan kakak saya ( perempuan ). Dari suami yg sekarang ada 2 anak ( laki & perempuan ).

Pertanyaan saya , apakah Suami ibu ( ayah tiri ) berhak mendapatkan Hak waris dari ibu ( pemberian kakek & nenek ) .
Sebagai catatan : Ayah tiri kami tidak mengakui kami sebagai anak tp diakui sebagai keponakan kepada tegangganya. Dan kami terzholimi. Hingga membekas rasa sakit hati sampai sekarang .

Terima kasih , mudah mudahan ada pencerahan ya Pak Ustad. Wassallam

JAWABAN

Kalau ibu anda kelak meninggal dunia lebih dulu dari ayah tiri, maka ayah tiri anda akan mendapat bagian sebagai suami asalkan tidak terjadi perceraian sebelum istri wafat. Rinciannya sbb:

a) Suami (ayah tiri anda) mendapat 1/4
b) Sisanya yang 3/4 diwariskan pada seluruh anak kandung baik dari suami pertama maupun dari suami kedua. Dengan rincian sbb: (i) dua anak lelaki masing-masing mendapat 2/6; (ii) dua anak perempuan masing-masing mendapat 1/6.
Baca detail: Hukum Waris Islam

Kalau ayah tiri anda yang meninggal lebih dari dari ibu anda, maka ayah tiri anda tidak mendapat warisan. Sebaliknya, justri ibu anda yang akan mendapat warisan atas nama istri dg syarat tidak terjadi perceraian saat hidup. Rinciannya sbb:

a) Istri (ibu anda) mendapat 1/8
b) Sisanya yg 7/8 diwariskan pada Dua anak kandung (saudara seibu anda) 1 anak lelaki mendapat 2/3, 1 anak perempuan mendapat 1/3.
c) Anak tiri (yakni anda dan kakak kandung) tidak mendapat warisan apapun.

CATATAN

Darimanapun harta ibu anda berasal, apakah dari warisan atau usaha sendiri, selagi harta itu milik ibu anda maka kelak harta tersebut akan diwariskan pada ahli waris di mana suami termasuk salah satu ahli waris apabila suami meninggal lebih akhir.
Baca detail: Bagian Waris Suami

Tuesday, January 07, 2020

Merubah Niat Sholat Saat Sedang Shalat

Merubah Niat Sholat Saat Sedang Shalat
MERUBAH NIAT SHALAT FARDHU KE FARDHU YANG LAIN

Assalamu'alaikum Wr.Wb.

Pak ustadz, apakah hukum merubah niat sholat fardhu yang satu ke shalat fardhu yg lain karena lupa menurut ulama empat Mazhab? Soalnya ada yang bilang sah kalo seorang sudah niat sholat magrib sebelumnya, terus pas mau sholat melamun jadi niatnya shalat isya, dan sadar pas setelah takbir. Mohon penjelasan tadz ?

Wassalam

JAWABAN

Imam Nawawi dalam Al-Majmuk, hlm. 4/183-184, menjelaskan pandangan madzhab Syafi'i sbb:

قال الماوَرْدِيُّ: نقلُ الصلاةِ إلى صلاةٍ أقسامٌ: أحدُها: نقلُ فرضٍ إلى فرض: فلا يحصلُ واحدٌ منهما، الثاني: نقلُ نفلٍ راتبٍ إلى نفلٍ راتبٍ؛ كَوِتْرٍ إلى سنةِ الفجر فلا يحصلُ واحدٌ منهما، الثالث: نقلُ نفلٍ إلى فرضٍ فلا يحصل واحدٌ منهما. انتهى .

Artinya: Al Mawardi membagi perubahan niat shalat ke dalam beberapa jenis: satu, merubah niat shalat fardhu ke shalat fardhu yang lain. Kedua shalat sama-sama tidak sah. Dua, merubah shalat sunnah rawatib (tidak mutlak) ke shalat sunnah rawatib yang lain, seperti shalat witir ke shalat sunnah subuh. Keduanya juga sama-sama tidak sah. Tiga, merubah shalat sunnah ke shalat fardhu. Juga tidak sah.

Namun, kalau shalat fardhu dirubah ke shalat sunnah mutlak, maka itu dibolehkan. Sebagaimana penjelasan Al-Malibari dalam Fathul Muin dan Al-Bakri dalam Ianah At-Tolibin, hlm. 1/263, sbb:

ﻭﻧﺪﺏ ﻟﻤﻨﻔﺮﺩ ﺭﺃﻯ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻣﺸﺮﻭﻋﺔ ﺃﻥ ﻳﻘﻠﺐ ﻓﺮﺿﻪ ﺍﻟﺤﺎﺿﺮ ﻻ ﺍﻟﻔﺎﺋﺖ ﻧﻔﻼ ﻣﻄﻠﻘﺎ ﻭﻳﺴﻠﻢ ﻣﻦ ﺭﻛﻌﺘﻴﻦ ﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﻘﻢ ﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﺛﻢ ﻳﺪﺧﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ . ﻧﻌﻢ ﺇﻥ ﺧﺸﻲ ﻓﻮﺕ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﺇﻥ ﺗﻤﻢ ﺭﻛﻌﺘﻴﻦ ﺍﺳﺘﺤﺐ ﻟﻪ ﻗﻄﻊ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﺳﺘﺌﻨﺎﻓﻬﺎ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﺫﻛﺮﻩ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺠﻤﻮﻉ . ﻭﺑﺤﺚ ﺍﻟﺒﻠﻘﻴﻨﻲ ﺃﻧﻪ ﻳﺴﻠﻢ ﻭﻟﻮ ﻣﻦ ﺭﻛﻌﺔ ﺃﻣﺎ ﺇﺫﺍ ﻗﺎﻡ ﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﺃﺗﻤﻬﺎ ﻧﺪﺑﺎ ﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺨﺶ ﻓﻮﺕ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﺛﻢ ﻳﺪﺧﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ .
(قوله أما إذا قام لثالثة الخ …. ) محترز إذا لم يقم لثالثة . (قوله أتمها ندبا) فلو خالف وقلبها نفلا وسلم لم يندب ولكنه يجوز كما مر . (قوله إن لم يخش فوت الجماعة) فإن خشي فوتها قطعها واستأنفها مع الجماعة

Artinya: Sunnah bagi yang shalat fardhu sendirian apabila melihat shalat berjamaah untuk merubah niat shalat fardhu yang hadir (bukan qadha) merubah ke shalat sunnah mutlak dan salam setelah 2 rokaat apabila dia belum berdiri untuk rokaat ketiga. Lalu masuk ikut shalat berjamaah. Akan tetapi apabila takut ketinggalan jamaah apabila menyempurnakan 2 rakaat maka sunnah baginya memutuskan shalat dan memulai ikut shalat jamaah, sebagaimana disebut An Nawawi dalam Al-Majmuk. Al Bulqini berpendapat bahwa dia (orang yang shalat sendirian) hendaknya mengucapkan salam (untuk mengakhiri shalat) walaupun baru satu rakaat. Adapun apabila ia berdiri untuk rakaat ketiga maka sunnah menyempurnakan shalat (fardhu) apabila tidak kuatir akan ketinggalan berjamaah. Lalu lalu masuk ke shalat berjamaah.

Hal yang sama dijelaskan oleh ulama madzhab Syafi'i yang lain yaitu Khatib Al Syarbini. Dalam Al Iqna', hlm. 1/151, ia menyatakan:

( ﻭ ) ﺍﻟﺴَّﺎﺩِﺱ ( ﺗَﻐْﻴِﻴﺮ ﺍﻟﻨِّﻴَّﺔ ) ﺇِﻟَﻰ ﻏﻴﺮ ﺍﻟْﻤَﻨﻮِﻱ ﻓَﻠَﻮ ﻗﻠﺐ ﺻﻠَﺎﺗﻪ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻫُﻮَ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺻَﻠَﺎﺓ ﺃُﺧْﺮَﻯ ﻋَﺎﻟﻤﺎ ﻋَﺎﻣِﺪًﺍ ﺑﻄﻠﺖ ﺻﻠَﺎﺗﻪ ﻭَﻟَﻮ ﻋﻘﺐ ﺍﻟﻨِّﻴَّﺔ ﺑِﻠَﻔْﻆ ﺇِﻥ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠﻪ ﺃَﻭ ﻧَﻮَﺍﻫَﺎ ﻭَﻗﺼﺪ ﺑﺬﻟﻚ ﺍﻟﺘَّﺒَﺮُّﻙ ﺃَﻭ ﺃَﻥ ﺍﻟْﻔِﻌْﻞ ﻭَﺍﻗﻊ ﺑِﺎﻟْﻤَﺸِﻴﺌَﺔِ ﻟﻢ ﻳﻀﺮ ﺃَﻭ ﺍﻟﺘَّﻌْﻠِﻴﻖ ﺃَﻭ ﻃﻠﻖ ﻟﻢ ﺗﺼﺢ ﺻﻠَﺎﺗﻪ ﻟﻠﻤﻨﺎﻓﺎﺓ ﻭَﻟَﻮ ﻗﻠﺐ ﻓﺮﺿﺎ ﻧﻔﻼ ﻣُﻄﻠﻘًﺎ ﻟﻴﺪﺭﻙ ﺟﻤَﺎﻋَﺔ ﻣَﺸْﺮُﻭﻋَﺔ ﻭَﻫُﻮَ ﻣُﻨْﻔَﺮﺩ ﻭَﻟﻢ ﻳﻌﻴﻦ ﻓَﺴﻠﻢ ﻣﻦ ﺭَﻛْﻌَﺘَﻴْﻦِ ﻟﻴﺪﺭﻛﻬﺎ ﺻَﺢَّ ﺫَﻟِﻚ ﺃﻣﺎ ﻟَﻮ ﻗَﻠﺒﻬَﺎ ﻧﻔﻼ ﻣﻌﻴﻨﺎ ﻛﺮﻛﻌﺘﻲ ﺍﻟﻀُّﺤَﻰ ﻓَﻠَﺎ ﺗﺼﺢ ﺻﻠَﺎﺗﻪ ﻻﻓﺘﻘﺎﺭﻩ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺘَّﻌْﻴِﻴﻦ ﺃﻣﺎ ﺇِﺫﺍ ﻟﻢ ﺗﺸﺮﻉ ﺍﻟْﺠَﻤَﺎﻋَﺔ ﻛَﻤَﺎ ﻟَﻮ ﻛَﺎﻥَ ﻳُﺼَﻠِّﻲ ﺍﻟﻈّﻬْﺮ ﻓَﻮﺟﺪَ ﻣﻦ ﻳُﺼَﻠِّﻲ ﺍﻟْﻌَﺼْﺮ ﻓَﻠَﺎ ﻳﺠﻮﺯ ﺍﻟْﻘﻄﻊ ﻛَﻤَﺎ ﺫﻛﺮﻩ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻤَﺠْﻤُﻮﻉ

Artinya: Yang keenam adalah merubah niat pada yang selain diniati. Apabila ia merubah shalat yang sedang dilakukan ke shalat yang lain secara sengaja dan tahu maka batal shalatnya. Apabila menyertakan niat dengan kata "insyaAllah" atau berniat dengan maksud tabaruk atau pekerjaan itu terjadi dengan 'insyaAllah' maka tidak apa-apa, atau taklik (kondisional) atau talak maka tidak sah shalatnya karena itu menafikan. Apabila merubah niat dari fardhu ke sunnah agar dapat mengikuti shalat jamaah sedangkan dia dalam keadaan sendirian dan sunnahnya tidak tertentu lalu mengucapkan salam dari dua rakaat agar bisa mengikuti shalat berjamaah yang disyariatkan maka hal itu sah. Namun apabila mengganti niat ke sunnah yang tertentu seperti dua rokaat dhuha maka tidak sah shalatnya karena itu butuh pada penentuan. Adapun apabila shalat berjamaah itu tidak disyariatkan seperti ia sedang shalat zhuhur lalu dia melihat ada yang shalat berjamaah ashar maka tidak boleh memutus shalat (yg sedang dilakuan) sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi dalam Al-Majmuk.

PANDANGAN ULAMA EMPAT MADZHAB

Ulama dari madzhab empat memiliki pandangan yang kurang lebih sama terkait merubah niat shalat saat sedang shalat. Dalam Al Mausuah Al Fiqhiyah, hlm. 9/297, dijelaskan pandangan empat madzhab sbb:

للفقهاء في أثر تحويل النية تفصيل :
ذهب الحنفية إلى أن الصلاة لا تبطل بنية الانتقال إلى غيرها ولا تتغير , بل تبقى كما نواها قبل التغيير , ما لم يكبر بنية مغايرة , بأن يكبر ناويا النفل بعد الشروع في الفرض أو عكسه , أو الاقتداء بعد الانفراد وعكسه , أو الفائتة بعد الوقتية وعكسه . ولا تفسد حينئذ إلا إن وقع تحويل النية قبل الجلوس الأخير بمقدار التشهد , فإن وقع بعده وقبيل السلام لا تبطل .

وعند المالكية : نقل النية سهوا من فرض إلى فرض آخر أو إلى نفل سهوا , دون طول قراءة ولا ركوع , مغتفر . قال ابن فرحون من المالكية : إن المصلي إن حول نيته من فرض إلى نفل , فإن قصد بتحويل نيته رفع الفريضة ورفضها بطلت ـ أي بطلت الفريضة وصارت نفلا ـ, وإن لم يقصد رفضها لم تكن نيته الثانية منافية للأولى . لأن النفل مطلوب للشارع , ومطلق الطلب موجود في الواجب , فتصير نية النفل مؤكدة لا مخصصة .

وعند الشافعية : لو قلب المصلي صلاته التي هو فيها صلاة أخرى عالما عامدا بطلت , فإن كان له عذر صحت صلاته , وانقلبت نفلا . وذلك كظنه دخول الوقت , فأحرم بالفرض , ثم تبين له عدم دخول الوقت فقلب صلاته نفلا , أو قلب صلاته المنفردة نفلا ليدرك جماعة . لكن لو قلبها نفلا معينا كركعتي الضحى لم تصح . أما إذا حول نيته بلا سبب أو غرض صحيح فالأظهر عندهم بطلان الصلاة .

وعند الحنابلة : أن بطلان الصلاة مقيد بما إذا حول نيته من فرض إلى فرض , وتنقلب في هذه الحال نفلا . وإن انتقل من فرض إلى نفل فلا تبطل , لكن تكره , إلا إن كان الانتقال لغرض صحيح فلا تكره , وفي رواية : أنها لا تصح , كمن أدرك جماعة مشروعة وهو منفرد , فسلم من ركعتين ليدركها , فإنه يسن له أن يقلبها نفلا , وأن يسلم من ركعتين , لأن نية الفرض تضمنت نية النفل , فإذا قطع نية الفرض بقيت نية النفل .

ومن هذا التفصيل يتبين اتفاق الفقهاء على أن تحويل نية الصلاة من نفل إلى فرض لا أثر له في نقلها , وتظل نفلا , وذلك لأن فيه بناء القوي على الضعيف , وهو غير صحيح . (انتهى).

Artinya: "Terkait dampak dari merubah niat, ulama fikih merinci sbb:

a) Madzhab Hanafi berpendapat bahwa shalat tidak batal oleh niat untuk berubah ke shalat yang lain dan shalatnya tidak berubah. Shalatnya tetap sebagaimana niat yang pertama dengan syarat selagi ia belum takbirotul ihrom dengan niat yang baru. Seperti takbir dengan niat shalat sunnah saat sedang shalat fardhu atau sebaliknya; atau niat bermakmum saat sedang shalat sendirian atau sebaliknya; atau niat shalat qadha saat sedang shalat tepat waktu dan sebaliknya. Perubahan niat itu tidak membatalkan shalat kecuali apabila perubahan niat itu terjadi sebelum duduk terakhir dengan perkiraan waktu tahiyat. Apabila terjadi setelah duduk terakhir dan sebelum salam maka tidak batal.

b) Madzhab Maliki berpendapat: merubah niat karena lupa dari fardhu ke fardhu yang lain atau ke sunnah karena lupa, tanpa bacaan panjang dan tanpa rukuk itu dimaafkan. Ibnu Farhun berkata: mushalli (orang yg shalat) apabila merubah niatnya dari fardhu ke sunnah: i) apabila perubahan niatnya itu bermaksud untuk menghilangkan kefardhuan dan menolaknya maka batal - yakni batal fardhunya dan menjadi sunnah; ii) apabila tidak bermaksud menolak kefardhuan maka niat kedua tidak menghilangkan niat yang pertama. Karena sunnah itu yang dikehendaki bagi syari'. tuntutan yang mutlak itu ada dalam wajib. Maka ia menjadi niat muakkad, bukan khusus.

c) Madzhab Syafi'i berpendapat: Apabila mushalli (orang yg shalat) merubah niat shalat dari yang sedang dia lakukan ke shalat yang lain secara sengaja dan tahu dampak hukumnya maka batal shalatnya. Apabila karena udzur maka sah shalatnya dan berubah menjadi shalat sunnah. Hal itu dianalogikan dengan orang yang menduga sudah masuk waktu shalat lalu takbirotul ihrom shalat fardhu dan setelah itu baru menyadari belum masuk waktu shalat lalu dia merubah shalatnya ke sunnah; atau ia merubah shalatnya yg sendirian ke sunnah agar dapat mengikuti shalat berjamaah. Akan tetapi apabila ia merubah niatnya ke sunnah yang tertentu (bukan mutlak) seperti dua rokaat dhuha maka tidak sah. Adapun apabila merubah niatnya tanpa sebab atau tanpa tujuan yang benar maka menurut pendapat terkuat hukumnya batal shalatnya.

d) Madzhab Hanbali berpendapat: Batalnya shalat itu terjadi apabila mushalli merubah niat dari shalat fardhu ke shalat wajib yang lain. Dalam kondisi ini maka shalatnya berubah menjadi shalat sunnah. Apabila ia merubah niat dari shalat fardhu ke shalat sunnah, maka shalatnya tidak batal tetapi makruh. Kecuali apabila perubahan niat itu untuk tujuan yang benar maka tidak makruh. Dalam satu riwayat dikatakan: bahwa shalatnya tidak sah sebagaimana orang yang dapat mengikuti shalat berjamaah sedangkan dia shalat sendirian, lalu mengucap salam dari dua rakaat agar dapat ikut shalat berjemaah. Maka dalam hal ini sunnah baginya untuk merubah niat ke shalat sunnah dan mengucapkan salam apabila sampai dua rakaat. Karena niat fardhu itu mengandung niat shalat sunnah. Apabila ia memutus niat fardhu maka masih tersisa niat shalat sunnah.

Dari uraian ini menjadi jelas bahwa ulama fikih bersepakat bahwa merubah niat shalat dari sunnah ke fardhu itu tidak ada pengaruhnya dan tetap menjadi sunnah. Hal itu terjadi karena ini berarti membangun yang kuat dari yang lemah itu tidak benar."

Kesimpulan

Merubah niat shalat, saat sedang shalat, dari fardhu ke fardhu yang lain itu tidak sah. Baik menurut madzhab Syafi'i maupun menurut tiga madzhab yang lain. Adapun merubah niat dari fardhu ke sunnah mutlak itu boleh terutama bagi mushalli yang sedang shalat fardhu sendirian dan ingin bergabung dengan shalat berjamaah.
Baca detail: Shalat Berjamaah

Saturday, December 28, 2019

Mandi Junub: Diduga Kuat Air Sudah Merata itu Sudah Sah

Mandi Junub: Diduga Kuat Air Sudah Merata itu Sudah Sah

Cara mandi junub (mandi besar, mandi wajib) yang sah dan syar'i tidak perlu susah. Cukup diawali dengan niat mandi dan mengalirkan air ke seluruh tubuh, itu sudah cukup. Tidak perlu menggosok tubuh. Juga tidak perlu bimbang ada anggota tubuh yang tidak terkena air. Asal siraman air sudah merata maka dugaan sudah meratanya air itu sudah mencukupi secara syariah.
TOPIK KONSULTASI ISLAM

CARA MANDI JUNUB YANG SYAR'I

Berarti jika saya sudah berasumsi kuat dan meyakini bahwa air sudah merata pada seluruh tubuh pada saat mandi wajib itu sudah sah dan kalau ada perasaan was-was itu harus diabaikan.

1. Lalu bagaimana cara membedakan was-was dengan kebenaran ? Ketika saya ingin mengabaikan was-was saya selalu terpikir bagaimana jika air belum rata itu adalah kebenarannya bukan was-was ?

JAWABAN

1. Dalam soal meratanya air saat mandi wajib, maka kebenaran 100% itu ditangan Allah. Asalkan kita sudah menyiramkan air ke seluruh tubuh maka itu sudah dianggap cukup dan sah. Kalau seandainya faktanya ada bagian tubuh yang tidak terkena, dan itu hanya Allah yang tahu, maka itu dimaafkan. Namun, pikiran "bagaimana kalau ada yang tidak merata" itu hendaknya dibuang jauh-jauh karena itu menjadi pintu masuk dari was-was. Dan was-was itu haram. Baca detail: Cara Sembuh Was-was Najis, Wudhu, Mandi, Shalat

Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan:

واتفق الجمهور على أنه يكفي في غسل الأعضاء في الوضوء والغسل جريان الماء على الأعضاء ولا يشترط الدلك، وانفرد مالك والمزني باشتراطه. اهـ.

Artinya: Jumhur (mayoritas) ulama (madzhab empat) sepakat bahwa cukup dalam membasuh anggota tubuh saat wudhu dan mandi mengalirkan air pada anggota tubuh dan tidak disyaratkan menggosoknya. Hanya Imam Malik (madzhab Maliki) dan Al-Muzani yang mensyaratkannya.

Al-Malibari dalam Fathul Muin, hlm. 12, menegaskan:

ولا يجب تيقن عموم الماء جميع العضو، بل يكفي غلبة الظن به. اهـ.

Artinya: Tidak wajib keyakinan meratanya air ke seluruh tubuh. Bahkan cukup asumsi kuat atas meratanya air tsb.

Al-Dimyati dalam Ianah Thalibin, hlm. 1/74, menguraikan maksud Al Malibari di atas:

وفي حاشية إعانة الطالبين: قوله: ولا يجب تيقن إلخ ـ أي في الوضوء وفي الغسل، وقوله: عموم الماء ـ أي استيعابه جميع العضو، قوله: بل يكفي غلبة الظن به ـ أي بعموم الماء جميع العضو. اهـ.

Artinya: Ucapan "Tidak wajib yakin, dst" Yakni dalam soal wudhu dan mandi. Ucapan "Meratanya air" yakni merata ke seluruh tubuh. Ucapan "Cukup dugaan kuat" yakni dugaan kuat meratanya air ke seluruh tubuh.

Kesimpulan:

Yang wajib dilakukan saat mandi (dan wudhu) adalah mengalirkan air pada anggota tubuh. Tidak wajib menggosok dan tidak wajib memastikan air sudah merata 100%. Asal air sudah dialirkan ke seluruh tubuh maka itu sudah cukup dan mandi sudah sah.

Baca detail: Pembatal Mandi Wajib / Penyebab Mandi Besar

SAAT MANDI WAJIB, KAPAN AIR SUCI JADI MUSTAKMAL ?

Assalamualaikum

Pak ustadz saya mau tanya.

1. Ketika mandi wajib jika pakai gayung apakah hanya air yang ditumphakan dari gayung saja yang mensucikan badan ? Atau apakah air yang tersisa dari tumpahan yang ada dibadan jika digosok dengan tangan akan mensucikan bagian yang lainnya ?

2. Apakah harus menggosok badan saat mandi wajib ?

3. Cara menyiramkan air pada bagian dubur bagaimana pak ustadz jika menggunakan gayung ? Takutnya kalau seperti cara "cebok" air tidak mengenai selurih bagian dubur.

4. Bagaimana cara mengatasi perasaan "air belum merata", kalau merasa sudah merata pasti akan timbul perasaan dibagian tertentu belum merata air ?

5.apakah warna itu menghalangi air sampai kekulit pak ustadz ? Bagaimana dengan warna tanah ?

JAWABAN

1. Selagi air yang ditumpahkan ke badan itu masih menempel di badan dan belum berpisah dari tubuh itu disebut air suci dan menyucikan dan bisa menyucikan bagian lainnya. Air tersebut baru disebut musta'mal apabila sudah terpisah dari tubuh.

Al-Qarafi dalam Al-Furuq lil Firaq, hlm. 2/117, mendefinisikan air musta'mal sbb:

المقصود بالماء المستعمل الذي أديت به طهارة وانفصل من الأعضاء

Artinya: Yang dimaksud dengan air musta'mal adalah air yang sudah dipakai untuk menyucikan tubuh dan terpisah dari anggota tubuh.

Apabila air itu sudah terpisah dari tubuh lalu anda buat membasuh bagian tubuh yang lain, maka hal itu tidak menyucikan namun juga tidak membuat najis. Baca detail: Hukum Air Suci Terkena Bekas Wudhu

2. Tidak wajib menggosok badan saat mandi wajib. Yang prinsip adalah air mengalir ke tubuh. Namun bagi yang memiliki bulu lebat atau jenggot lebat sunnah menyelah-nyelahi supaya memastikan air sampai ke permukaan kulit. Baca detail: Sunnahnya Wudhu dan Mandi

3. Air disiramkan pada bagian tubur dengan tangan kanan sementara tangan kiri mengusap dubur untuk menghilangkan kotoran yang mungkin masih melekat. Lakukan hal ini sampai kotoran dirasa hilang.

4. Kalau cara no. 3 di atas sudah dilakukan, maka anda harus yakin bahwa air sudah merata dan bagian tersebut sudah suci. Lebih dari itu sudah masuk pada kategori was-was yang dilarang. Maka, abaikan. Baca detail: Cara Sembuh Was-was Mandi Wajib

5. Warna di tubuh? Kalau ada warna di tubuh, maka selagi warna itu berasal dari bahan yang tidak tebal maka tidak menghalangi sampainya air ke tubuh. Contohnya seperti warna pacar atau warna spidol.
Baca detail:
- Tahi Mata saat Wudhu dan Mandi
- Kotoran Kuku dan Koreng jadi Penghalang Mandi dan Wudhu?

***

1. Pertanyaan jawaban no.1

Berarti air yang masih menempel pada tubuh masih bisa dipakai meratakan air pada bagian yang belum terbasahi dengan menggosokkannya pada bagian badan tertentu pak ustadz ? Tetapi kalau setelah menggosokkan air itu lalu telapak tangan diangkat apakah airnya masih suci atau jadi mustamal ?

2. Mana yang lebih baik untuk menghilangkan was-was, apakah meyakini atau memastikan air sudah merata keseluruh badan ? Tiap saya sudah mandi pasti muncul perasaan ada bagian yang belum kena air, apa lagi bagian tubuh yang tidak nampak mata seperti bagian belakang tubuh, telinga dan lipatan tubuh.

JAWABAN

1. Betul. Dan kalau telapak tangan diangkat, maka air yang menempel di tangan tetap suci. Yang jatuh dari telapak tangan itu yang musta'mal. Perlu diketahui, bahwa air mustamal adalah air suci juga. Hanya saja tidak bisa dibuat untuk menyucikan hadas atau najis. Baca detail: 4 Macam Air

2. Cukup meyakini atau asumsi kuat bahwa air sudah merata. Itu sudah cukup. Karena memang faktanya tidak bisa memastikan 100%. Dan asumsi kuat itu sudah cukup dan sah menurut syariah.
Baca detail:
- Mandi Wajib Tidak Merata, Harus diulang atau tidak?
- Ragu Saat Mandi Ada yang Tak Terbasuh

Friday, December 27, 2019

Hukum Qunut Subuh, Witir dan Qunut Nazilah

Hukum Qunut Subuh, Witir dan Qunut Nazilah
Hukum Qunut Subuh, Witir dan Qunut Nazilah



Qunut adalah bacaan doa yang dilakukan pada rakaat akhir setelah bangun dari rukuk. Qunut dalam mazhab Syafi'i ada tiga macam yaitu qunut ratib (jamak, rawatib), qunut witir dan qunut nazilah. Qunut rawatib adalah qunut yang dilakukan secara teratur dan terus menerus. Qunut ratib terjadi pada waktu shalat subuh. Yang kedua adalah qunut witir yaitu qunut yang dibaca setiap rakaat akhir shalat witir. Ketiga, nazilah yaitu qunut yang dilakukan saat umat Islam terimpa musibah atau bencana. Qunut nazilah sunnah di lakukan di setiap shalat fardhu. Hukumnya qunut adalah sunnah


DAFTAR ISI
  1. DOA QUNUT DAN DASAR HUKUMNYA
    1. BACAAN DOA QUNUT
    2. BACAAN DOA QUNUT UMAR BIN KHATTAB
    3. KAPAN QUNUT SUNNAH DIBACA
    4. HUKUM MENAMBAH BACAAN QUNUT DENGAN QUNUT UMAR DAN DOA LAIN
  2. QUNUT WITIR
    1. QUNUT WITIR SUNNAH PADA SEPARUH AKHIR BULAN RAMADAN
    2. QUNUT WITIR SUNNAH SELURUH BULAN RAMADHAN
    3. QUNUT WITIR SUNNAH SEPANJANG TAHUN
    4. KONSEKUENSI APABILA TIDAK QUNUT WITIR
  3. QUNUT NAZILAH
    1. DALIL SUNNAHNYA QUNUT NAZILAH
    2. QUNUT NAZILAH SUNNAH DI SETIAP SHALAT FARDHU 5 WAKTU
    3. QUNUT NAZILAH PADA HARI JUMAT
    4. QUNUT NAZILAH HARI JUMAT MENURUT MAZHAB EMPAT
  4. CARA KONSULTASI SYARIAH ISLAM
DOA QUNUT DAN DASAR HUKUMNYA

Hukum doa qunut pada shalat subuh hukumnya sunnah. Pandangan ini dianut oleh madzhab Syafi'i berdasarkan Hadits sebagai berikut:

1. Berdasarkan pada sejumlah hadits sbb:

- Hadith sahih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad,Daruqutni dan Baihaqi dari Sahabat Anas bin Malik sebagai berikut:

ما زال رسول الله يقنت في صلاة الفجر حتى فارق الحياة
Artinya: RasuluLlah selalu berqunut pada shalat subuh ssampai beliau wafat. Untuk status hadits lihat di sini.

- Hadits sahih riwayat Muslim dari Anas.
أن رسول الله قنت شهراً يدعو على أحياء من أحياء العرب ثم ترك
Artinya: bahwa Rasulullah berqunut selama sebulan mendoakan orang-orang Arab yang masih hidup kemudian tidak melakjukannya lagi.

- Hadits sunnahnya Qunut nazilah apabila tertimpa musibah atau bencana:
أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقنت في الفجر والظهر والعصر والمغرب والعشاء


Artinya: Bahwasanya Nabi Muhammad melakukan qunut (nazilah) pada saat shalat subuh, dhuhur (dzuhur), ashar, maghrib, dan isya' (HR Ahmad) Diriwayatkan juga bahwa Umar bin Khattab membaca doa qunut pada shalat Subuh di hadapan para sahabat dan lainnya.

Berkenaan dengan Hadith yang diriwayatkan oleh Anas ini, menurut al Haithami, para perawinya adalah tsiqah (dapat dipercaya). Menurut Imam Nawawi ia diriwayatkan oleh sekumpulan huffadz (ahli hadith) dan mengakui kesahihannya.

Kesahihan ini dinyatakan juga oleh al Hafiz al Balkhi, Al Hakim, Al Baihaqi dan ia juga diriwayatkan oleh Ad Daruqutni melalui beberapa jalan dengan sanad yang sahih.

Dalam mazhab Syafi'i adalah sunnah hukumnya membaca doa qunut waku melaksanakan shalat subuh, baik saat turunnya bala' atau tidak.

Di antara yang berpendapat seperti ini adalah Sahabat Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Talib, Ibnu Abbas, Barra’ bin Azib. Lihat: Kitab Al Majmu’ Syarah Muhadzab III halaman 504.

Syekh Nawawi Banten dalam kitab Kasyifatussaja mendefinisikan qunut sbb:

والقنوت هو ذكر مخصوص مشتمل على دعاء وثناء ويحصل بكل لفظ اشتمل عليهما بأي صيغة شاء كقوله: اللهم اغفر لي يا غفور، فالدعاء يحصل باغفر والثناء بغفور، وكذلك ارحمني يا رحيم وقوله: الطف بي يا لطيف وهكذا،


Artinya: Qunut adalah dzikir tertentu yang mengandung doa dan pujian (pada Allah). (Oleh karena itu) setiap kalimat yang mengadung kedua unsur itu dapat digunakan. Seperti kalimat: Allahumma ighfir li Ya Ghafur. Kata "ighfir" adalah doa. Sedangkan kata "ghafur" adalah pujian. Begitu juga kalimat "Irhamni Ya Rahim" dan "Ultuf bi Ya Latif" dan seterusnya.

- Karena qunut adalah suatu dzikir yang khusus maka boleh diganti dengan doa lain asal diniati untuk qunut:
ومثل الذكر المخصوص آية تتضمن ذلك كآخر سورة البقرة بشرط أن يقصد بها القنوت، وكقوله تعالى: ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلاًّ للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم} ((59)الحشر:10)


Artinya: Sama dengan dzikir khusus adalah ayat yang mengandung dzikir seperti akhir surat Al Baqarah dengan syarat harus diniati qunut. Seperti firman Allah dalam QS Al-Hasyr 59:10

- Qunut Umar menurut Syekh Nawawi Banten (ibid) adalah sbb:
اللهم إنا نستعينك ونستغفرك ونستهديك ونؤمن بك ونتوكل عليك ونثني عليك، الخير كله نشكرك ولا نكفرك ونخلع ونترك من يفجرك بضم الجيم أي يعصيك، اللهم إياك نعبد ولك نصلي ونسجد وإليك نسعى ونحفد بكسر الفاء أي نسرع إلى الطاعة نرجو رحمتك ونخشى عذابك إن عذابك الجد بكسر الجيم أي الحق بالكفار ملحق بكسر الحاء أي لاحق بهم ويجوز فتحها لأن الله ألحقه بهم فإن جمع بينهما فالأفضل تقديم قنوت النبي صلى الله عليه وسلّم وإن اقتصر فليقتصر عليه.
Lebih detail lihat di sini.

BACAAN DOA QUNUT (TEKS ARAB DAN LATIN)

اللّهم اهدِنا فيمَن هَديْت و عافِنا فيمَن عافيْت و تَوَلَّنا فيمَن تَوَلَّيْت و بارِك لَنا فيما أَعْطَيْت و قِنا واصْرِف عَنَّا شَرَّ ما قَضَيت فإنك تَقضي ولا يُقضى عَليك فإنَّهُ لا يَذِّلُّ مَن والَيت وَلا يَعِزُّ من عادَيت تَبارَكْتَ رَبَّنا وَتَعا ليتْ َفلكَ الحَمدُ عَلى ما قَضَيْت نَستَغفِرُكَ ونَتوبُ اليك وصلي الله علي سيدنا محمد النبي الأمي وعلي أله وصحبه وسلم


Teks doa qunut tulisan latin:

Allahummahdina fiman hadayt. Wa afina fiman afayt. watawallana fiman tawallayt. wabarik lana fima a'tayt. waqina wasrif anna syarro ma qadayt. fa innaka taqdi wala yuqdo alayk. fainnahu la yadzillu man wa layt wala yaizzu man adayt. tabarakta robbana wata'alayt. falakal hamdu ala ma qadayt. nastaghfiruka wanatubu ilaika. wasallallahu ala sayyidina Muhammadin Nabiyyil Ummiyyi wa ala alihi wasahbihi wasallam.

Artinya: Ya Allah, berilah aku petunjuk seperti orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk. BErilah aku kesehatan seperti orang yang telah Engkau beri kesehatan. Pimpinlah aku bersama-sama orang-orang yang telah Engkau pimpin. Berilah berkah pada segala apa yang telah Engkau pimpin. Berilah berkah pada segala apa yang telah Engkau berikan kepadaku. Dan peliharalah aku dari kejahatan yang Engkau pastikan. Karena, sesungguhnya Engkaulah yang menentukan dan tidak ada yang menghukum (menentukan) atas Engkau. Sesungguhnya tidaklah akan hina orang-orang yang telah Engaku beri kekuasaan. Dan tidaklah akan mulia orang yang Engkau musuhi. Maha berkahlah Engkau dan Maha Luhurl`h Engkau. Segala puji bagi-Mu atas yang telah engkau pastikan. Aku mohon ampun dan kembalilah (taubat) kepada Engkau. Semoga Allah memberi rahmat, berkah dan salam atas nabi Muhammad beserta seluruh keluarganya dan sahabatnya.

BACAAN DOA QUNUT UMAR BIN KHATTAB

Umar bin Khattab, khalifah kedua Islam, memiliki bacaan qunut berbeda sebagai berikut:
اللهم اغفر لنا وللمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات وألّف بين قلوبهم وأصلح ذات بينهم وانصرهم على عدوك وعدوهم. اللهم عذب الكفرة الذين يصدون عن سبيلك ويكذبون رسلك ويقاتلون أولياءك، اللهم خالف بين كلمتهم وزلزل أقدامهم وأنزل بهم بأسك الذي لا ترده عن القوم المجرمين. بسم الله الرحمن الرحيم اللهم إنا نستعينك ونستغفرك ونثني عليك ولا نكفرك ونخلع ونترك من يفجرك. بسم الله الرحمن الرحيم اللهم إياك نعبد ولك نصلي ونسجد وإليك نسعى ونحفد ونخشى عذابك ونرجو رحمتك إن عذابك الجد بالكفار ملحق


KAPAN QUNUT SUNNAH DIBACA

Doa qunut sunnah dibaca dalam beberapa situasi sebagai berikut:

1. Pada raka'at kedua (raka'at akhir) shalat subuh dibaca setelah ruku' (i'tidal).

2. Pada raka'at akhir (rakaat ketiga) shalat sunnah witir pada paruh kedua bulan Ramadhan.

3. Pada raka'at terakhir shalat fardhu apabila ada bencana. Disebut qunut nazilah.

HUKUM MENAMBAH BACAAN QUNUT DENGAN QUNUT UMAR DAN DOA LAIN

Membaca doa qunut yang biasa itu sunnah. Dan menambahnya dengan doa qunut Umar juga sunnah menurut Imam Nawawi asal dalam keadaan sendirian atau bersama makmum yang diketahui rela dengan doa yang panjang. Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar lin Nawawi hlm. 88 menyatakan:

قال أصحابنا: يستحب الجمع بين قنوت عمر رضي الله عنه وبين ما سبق، فإن جمع بينهما فالأصح تأخير قنوت عمر، وفي وجه يستحب تقديمه. وإن اقتصر فليقتصر على الأول، وإنما يستحب الجمع بينهما إذا كان منفرداً أو إمامَ محصورين يرضون بالتطويل


Artinya: Ulama madzhab Syafi'i menyatakan bahwa sunnah mengumpulkan antara qunut yang biasa dengan qunut Umar. Kalau dikumpulkan, maka sebaiknya qunut Umar diakhirkan. Ada pendapat sunnah mendahulukannya. Apabila memilih salah satu, maka hendaknya memilih qunut yang biasa. Sunnahnya mengumpulkan keduanya apabila shalat sendiri atau berjemaah dengan makmum yang rela doa panjang.

Imam Nawawi juga berpendapat bahwa doa qunut tidak harus berupa bacaan yang berasal dari Nabi atau dari Umar. Bacaan qunut bisa saja berupa doa apa apa saja, termasuk berupa satu ayat atau dua ayat Quran apabila mengandung doa. Lihat: Membaca Doa Tambahan Saat Qunut.

QUNUT WITIR

Qunut witir adalah qunut yang dibaca setiap rakaat akhir shalat witir. Menurut mazhab Syafi'i, qunut witir disunnahkan pada separuh akhir bulan Ramadhan.

QUNUT WITIR SUNNAH PADA SEPARUH AKHIR BULAN RAMADAN

Sabagaimana disebutkan di muka, qunut witir sunnah dilakukan pada separuh akhir bulan Ramadan. Imam Nawawi dalam Al-Majmuk, hlm. 3/510 menyatakan:

والمذهب أن السنة أن يقنت في الركعة الآخرة من صلاة الوتر في النصف الأخير من شهر رمضان هذا هو المشهور في المذهب , ونص عليه الشافعي رحمه الله ,


Artinya: Sunnah membaca qunut pada rakaat akhir dari shalat witir pada separuh akhir dari bulan Ramadhan. Ini pendapat yang masyhur dalam mazhab Syafi'i berdasarkan nash dari Imam Syafi'i.

QUNUT WITIR SUNNAH SELURUH BULAN RAMADHAN

Imam Nawawi dalam Al-Majmuk, hlm. 3/510 menyatakan:
وفي وجه يستحب في جميع شهر رمضان , وهو مذهب مالك


Artinya: Menurut satu pendapat yang lain, sunnah qunut di seluurh bulan Ramadan. Ini adalah pendapat Imam Malik.

QUNUT WITIR SUNNAH SEPANJANG TAHUN

Imam Nawawi dalam Al-Majmuk, hlm. 3/510 menyatakan:

ووجه ثالث أنه يستحب في الوتر في جميع السنة . وهو قول أربعة من كبار أصحابنا , أبي عبد الله الزبيري وأبي الوليد النيسابوري وأبي الفضل بن عبدان وأبي منصور بن مهران وهذا الوجه قوي في الدليل لحديث الحسن بن علي رضي الله عنهما السابق في القنوت , ولكن المشهور في المذهب ما سبق , وبه قال جمهور الأصحاب قال الرافعي وظاهر كلام الشافعي رحمه الله كراهة القنوت في غير النصف الآخر من رمضان


Artinya: Pendapat ketiga, sunnah qunut witir sepanjang tahun. Ini pendapat keempat dari pembesar ulama Syafi'iyah seperti Abu Abdillah Al-Zubairi, Abul Walid An-Naisaburi, Abul Fadhal bin Abdan, Abu Manshur bin Mahran. Pendapat ini secara dalil termasuk kuat karena berdasarkan pada hadis Hasan bin Ali. Tetapi yang masyhur dalam mazhab Syafi'i adalah sebagaimana diterangkan di muka (separuh akhir Ramadhan) dan ini penapat jumhur (mayoritas) ulama mazhab Syafi'i. Imam Rofi'i berkata: Dari zhahirnya ucapan Imam Syafi'i, makruh qunut di selain separuh akhir bulan Ramadhan.

KONSEKUENSI APABILA TIDAK QUNUT WITIR


Imam Nawawi dalam Al-Majmuk, hlm. 3/510 menyatakan:

قال : ولو ترك القنوت في موضع استحبه سجد للسهو , ولو قنت حيث لا يستحبه سجد للسهو , وحكى الروياني وجها أنه يقنت في جميع السنة بلا كراهة , ولا يسجد للسهو لتركه من غير النصف الآخر من رمضان قال : وهذا حسن وهو اختيار مشايخ طبرستان


Artinya: Imam Rafi'i berkata: Apabila meninggalkan qunut di tempat yang disunnahkan, maka sunnah sujud sahwai. Apabila qunut di waktu yang tidak disunnahkan, maka sunnah juga sujud sahwi. Imam Rouyani mengisahkan satu pendapat lain bahwa sunnahnya qunut witir di sepanjang tahun. Dan tidak perlu sujud sahwi karena meninggalkan qunut pada selain separuh akhir bulan Ramadhan. Rofi'i berkata: ini pendapat yang baik dan pilihan dari para ulama Tabaristan.

QUNUT NAZILAH

Qunut nazilah adalah qunut yang dilakukan pada saat terjadi sesuatu yang besar, seperti musibah epidemik, bencana alam, kekeringan, kelaparan, peperangan baik perang saudara antar sesama muslim atau perang antara muslim-nonmuslim.
DALIL SUNNAHNYA QUNUT NAZILAH

- Hadits riwayat Abu Dawud, Ahmad, al-Hakim dan al-Baihaqi dari Ibnu Abbas Nabi bersabda:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَنَتَ رَسُوْلُ اللهِ شَهْرًا مُتَتَابِعًا فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَصَلاَةِ الْصُّبْحِ فِيْ دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ إِذَا قَالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ مِنَ الرَّكْعَةِ اْلأَخِرَةِ يَدْعُوْ عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ بَنِيْ سُلَيْمٍ عَلَى رِعْلٍ وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ، وَيُؤَمِّنُ مَنْ خَلْفَهُ


Artinya: Rasulullah pernah qunut selama satu bulan secara terus-menerus pada shalat Dhuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Shubuh di akhir setiap shalat, (yaitu) apabila ia mengucap Sami’Allahu liman hamidah di raka’at yang akhir, beliau mendo’akan kebinasaan atas kabilah Ri’lin, Dzakwan dan ‘Ushayyah yang ada pada perkampungan Bani Sulaim, dan para makmum mengucapkan amin.

- Hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Anas

عَنْ أنَسٍ قَالَ: قَنَتَ رَسُوْلُ اللَّهِ شَهْرًا بَعْدَ الرُّكُوْعِ يَدْعُو عَلَى حَيٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ ثُمَّ تَرَكَهُ


Artinya: Rasulullah pernah qunut selama satu bulan setelah bangkit dari ruku’, yakni mendo’a kebinasaan untuk satu kabilah dari kabilah-kabilah Arab, kemudian beliau meninggalkannya (tidak melakukannya lagi)


QUNUT NAZILAH SUNNAH DI SETIAP SHALAT FARDHU 5 WAKTU

Dari dua hadits di atas maka jelaslah bahwa qunut nazilah boleh dan sunnah dilakukan di setiap shalat fardhu kalau memang pada saat itu dianggap perlu melakukan qunut nazilah karena adanya musibah atau bencana yang menimpa umat Islam. Adapun waktu pelaksanaannya adalah sama dengan qunut rawatib yakni dilaksanakan pada rakaat terakhir setelah bangun dari rukuk.


QUNUT NAZILAH PADA HARI JUMAT

Berdasarkan pada hadits di atas, maka menurut para ulama mazhab Syafi'i qunut nazilah juga sunnah dilaksanakan pada shalat Jum'at. Karena, kalau Nabi pernah melakukan qunut nazilah setiap shalat fardhu sebulan penuh maka itu artinya shalat Jum'at termasuk di dalamnya. Imam Syafi'i dalam kitab Al-Umm, bab "Qunut Al-Jumah", hlm. 1/236 menyatakan :

حكى عدد صلاة النبي صلى الله عليه وسلم الجمعة فما علمت أحدا منهم حكى أنه قنت فيها إلا أن تكون دخلت في جملة قنوته في الصلوات كلهن حين قنت على قتلة أهل بئر معونة، ولا قنوت في شيء من الصلوات إلا الصبح إلا أن تنزل نازلة فيقنت في الصلوات كلهن إن شاء الإمام


Artinya: Sejumlah perawi hadits meriwayatkan shalat Jumat-nya Nabi. Tidak ada satupun dari mereka yang meriwayatkan bahwa Nabi melakukan qunut pada shalat Jum'at kecuali apabila Nabi melakukan qunut nazilah pada semua shalat fardhu ketika beliau qunut atas terbunuhnya penduduk Bir Maunah. Dan tidak disunnahkan qunut (rawatib) pada shalat fardhu selain Subuh kecuali saat turunnya bencana (nazilah) maka boleh melakukan qunut pada seluruh shalat wajib apabila imam berkehendak.

Imam Romli dalam Nihayatul Muhtaj, hlm. 1/508 menyatakan:

( ويشرع ) أي يستحب ( القنوت ) مع ما مر أيضا ( في سائر المكتوبات ) أي باقيها من الخمس في اعتدال الركعة الأخيرة ( للنازلة ) إذا نزلت بأن نزلت بالمسلمين ولو واحدا على ما بحثه جمع ، لكن اشترط فيه الإسنوي تعدي نفعه كأسر العالم والشجاع وهو ظاهر


Artinya: Disunnahkan qunut pada lima shalat fardhu yang lain pada saat i'tidal (bangun) dari rakaat akhir untuk qunut nazilah apabila terjadi musibah / bencaa pada umat Islam, walaupun satu orang, berdasarkan pendapat segolongan ulama. Namun Imam Asnawi mensyaratkan manfaatnya melebihi satu orang seperti ditahannya orang alim atau pemberani.

QUNUT NAZILAH HARI JUMAT MENURUT MAZHAB EMPAT

Walaupun ulama mazhab empat sepakat bahwa qunut nazilah hukumnya sunnah apabila dalam keadaan bencana atau musibah, namun mereka berbeda pendapat tentang apakah qunut nazilah sunnah dilakukan pada seluruh shalat fardhu dan hari Jum'at dengan rincian sbb:

1. Madzhab Syafi'i menganggap qunut nazilah adalah sunnah dilakukan di seluruh shalat fardhu termasuk shalat Jum'at sebagaimana pernyataan Imam Syafi'i dalam kitab Al-Umm 1/236 di atas.

2. Mazhab Maliki berpendapat bahwa qunut nazilah hanya sunnah dilakukan pada shalat Subuh saja.

3. Mazhab Hanbali berpendapat bahwa qunut nazilah sunnah dilakukan di seluruh shalat fardhu kecuali shalat Jum'at.

4. Mazhab Hanafi menyatakan bahwa qunut nazilah hanya sunnah dilakukan pada saat shalat subuh saja, tidak pada shalat yang lain.

CATATAN:

Kalau anda pendapat dari ustadz Indonesia yang menyatakan bahwa qunut nazilah hari Jum'at adalah bid'ah atau tidak sunnah, maka bisa dipastikan dia mengikuti pendapat mazhab Hanbali. Mazhab yang biasa diikuti oleh kalangan Salafi Wahabi.

Begitu juga pendapat yang menyatakan bahwa qunut subuh terus menerus (ratib) tidak dibolehkan adalah pendapat mazhab Hanbali yang juga diikuti oleh pengikut Wahabi Salafi.

Hubungan Muslim dan Kerabat Non-Muslim

Hubungan Silaturahmi Muslim Non-Muslim

MENJALIN HUBUNGAN SILATURRAHMI ANTARA MUSLIM DAN NON-MUSLIM

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatu

ustad saya mau tanya,

1. sebenarnya apa hukum seorang mualaf terhadap keluarga yang ditinggalkan seperti orang tua dan yang lainnya..? terputuskah? atau bagaimana ustad? mohon pencerahannya.
terima kasih Wassalamu'alaikum warahmatullah wabarakatu

TOPIK KONSULTASI ISLAM
  1. MENJALIN HUBUNGAN SILATURRAHMI ANTARA MUSLIM DAN-MUSLIM
  2. MENDOAKAN ORANG TUA NON-MUSLIM
  3. MENIKAH DI GEREJA
  4. CARA KONSULTASI SYARIAH ISLAM


JAWABAN

1. Hubungan seoramg muslim dengan orang tua yang non-muslim tidak terputus dan seharusnya tetap tersambung. Usahakan tetap ada silaturrahim. Islam membagi hubungan muslim dengan non-muslim dalam dua kategori.

Kategori pertama, hubungan muslim dengan kerabat non-muslim terutama orang tua. Dalam hal ini, Allah berfirman dalam QS Luqman :15 "Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku". Ayat ini jelas menganjurkan tetap menghormati dan menyambung silaturrahmi pada kedua orang tua.

Dalam hadits sahih riwayat Bukhari dan Muslim

عن أسماء رضي الله عنها قالت: قدمت علي أمي وهي مشركة في عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم فاستفتيت رسول الله صلى الله عليه وسلم قلت: قدمت على أمي وهي راغبة أفأصل أمي، قال نعم صلي أمك

Artinya: Dari Asma ia berkata: Aku datang ke ibu saat dia kafir pada masa Rasulullah. Aku lalu bertanya pada Nabi: Aku datang pada ibuku karena dia rindu, apakah boleh aku silaturrahim? Nabi menjawab: Iya, tetaplah berhubungan dengan ibumu.

Dalam kitab Al-Mausuah Al-Fiqhiyah 7/322 dijelaskan:

ومن الواجب على المسلم بر الوالدين وإن كانا فاسقين أو كافرين ، ويجب طاعتهما في غير معصية الله تعالى ، فإن كانا كافرين فليصاحبهما في الدنيا معروفا ، ولا يطعهما في كفر ولا في معصية الله تعالى

Artinya: Salah satu kewajiban seorang muslim adalah berbakti pada kedua orang tua walaupun dia fasiq (pendosa) atau kafir. Dan wajib taat pada mereka di selain perkara maksiat pada Allah. Apabila mereka kafir, maka perlakukan mereka dengan baik di dunia dan jangan mentaati mereka dalam soal kekufuran dan kemaksiatan.

Kategori kedua, menjalin hubungan silaturrahmi dengan non-muslim yang bukan kerabat hukumnya boleh walaupun tidak wajib asalkan mereka berbuat baik pada kita maka kita dianjurkan untuk berbuat yang sama. Dalam QS Al-Mumtahanah 60:8 Allah berfirman:

ا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
Artinya: Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.


MENDOAKAN ORANG TUA NON-MUSLIM

Islam membolehkan anak muslim mendoakan orangtuanya yang non-muslim dalam dua perkara yaitu (a) mendoakan orang tua dapat hidayah dan masuk Islam; (b) doa berhasil dalam urusan duniawi. Adapun doa yang terkait dengan pengampunan tidak dibolehkan. Imam Nawawi dalam Al-Majmuk, hlm. ا 5/120menyatakan:

وأما الصلاة على الكافر، والدعاء له بالمغفرة فحرام بنص القرآن والإجماع. أما الدعاء له بالهداية، والدخول في الإسلام فيجوز.
وأما الدعاء له بمنافع الدنيا من مال وولد وشفاء ونحوها فلا يجوز إن كان محارباً، وإلا فلا بأس بالدعاء له بذلك، بدليل جواز تعزيته في مصابه حيث كان جاراً بالدعاء له بالإخلاف عليه، ونحو ذلك
Artinya: Mendoakan orang kafir agar diampuni adalah haram dengan dalil Quran dan ijmak ulama. Adapun mendoakan mereka agar mendapatkan hidayah dan masuk Islam maka boleh. Sedangkan mendoakan agar mendapatkan kemanfaatan duniawi seperti harta, anak, kesembuhan dan lainnya maka (a) tidak boleh apabila kafir harbi (sedang memerangi muslim); dan (b) apabila tidak memerangi Islam maka tidak apa-apa mendoakan seperti itu dengan dalil bolehnya berkunjung saat tertimpa musibah yang tentunya dengan mendoakannya..

Namun tidak dibolehkan secara mutlak mendoakan non-muslim setelah mereka wafat berdasarkan pada QS At-Taubat 9:113 "Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam. "

Ibnu Arabi dalam Ahkamul Quran II/591 menyatakan :

روى ابن عباس { أن رجالا من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم قالوا له : يا رسول الله ; إن من آبائنا من كان يحسن الجوار ، ويصل الأرحام ، أفلا نستغفر لهم ؟ فأنزل الله : { ما كان للنبي } } .
Artinya: Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa beberapa laki-laki dari Sahabat Nabi bertanya pada Nabi: Ya Rasulullah sebagian dari ayah-ayah kami adalah orang-orang yang baik pada tetangga dan menyambung silaturrahim, apakah kami tidak boleh memohonkan ampun pada mereka? Maka turunlah ayat QS At-Taubat 9:113 di atas (artinya tidak boleh).

_____________________


MENIKAH DI GEREJA

Assalamualaikum wr wb
Saya seorang pria muslim ,saya sudah mengahmili pacar saya yang beragama nasrani ..kami berdua sangat sayang dan cinta ..pada bulan ini kami baru memberi kabar kepada kedua orang tua kami masing-masing tentang kondisi kita berdua.
Yang saya alami sekarang ,pihak orang tua pacar saya ingin terjadi pernikahan dengan cara di geraja ,sedangkan iman saya beda ,saya takut sekali ,walaupun saya sudah berbuat dosa besar ,tp saya tidak mau menggadaikan iman saya untuk berpaling selain allah swt.karena dosanya akan lebih besar lagi dengan menjadikan saya sebagai orang yang murtad.

Setelah saya diskusikan lagi dengan pacar saya, orang tua pacar saya memberikan toleransi, dengan cara pernikahan secara nasrani, tetapi saya tidak perlu mengimani ajarannya ,intinya orang tua pacar saya hanya ingin melihat saja nikah secara nasrani di gereja . Saya dan pacar saya sangat sayang dan cinta, kami pun tidak mau terpisah, apalagi dengan kondisi kami akan mempunyai keturunan dalam 2 minggu lagi (menurut perkiraan dokter).

1. Yang saya alami sekarang tidak tau hrs bagaimana ,hanya bisa pasrah pada allah dan selalu berdoa. Saya bingung dan takut saat ini , mohon untuk memberi bantuan penjelasan kepada saya dan solusinya .
Wassalamualaikum wr.wb

JAWABAN

1. Kalau anda tetap menjadi muslim, maka upacara di gereja itu tidak ada pengaruhnya. Sama dengan orang muslim masuk ke gereja untuk sekedar jalan-jalan dan lihat-lihat. Kalau anda sayang sama dia, maka anda harus segera menikahi dia dengan cara Islam. Apabila pernikahan Islam tersebut terjadi sebelum anak lahir, maka anak itu bisa menjadi anak sah anda menurut sebagian pendapat. Namun, apabila anda belum menikah secara Islam sampai anak itu lahir, maka dalam Islam anak itu tidak diakui sebagai anak anda sebagai bapak biologisnya, hanya diakui sebagai anak ibunya yang melahirkan sama dengan anak zina pada umumnya.

Adapun hukum masuk Gereja, Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni hlm. 8/113 menguraikan pendapat para ulama mazhab sebagai berikut:
فأما دخول منزل فيه صورة فليس بمحرم.. وهذا مذهب مالك فإنه كان يكرهها تنزيها ولا يراها محرمة، وقال أكثر أصحاب الشافعي: إذا كانت الصور على الستور أو ما ليس بموطوء لم يجز له الدخول... ولنا ما روي أن النبي صلى الله عليه وسلم دخل الكعبة فرأى فيها صور إبراهيم وإسماعيل.. رواه أبو داود، وما ذكرناه من خبر عبد الله أنه دخل بيتاً فيه تماثيل وفي شروط عمر على أهل الكتاب أن يوسعوا كنائسهم وبيعهم ليدخلها المسلمون للمبيت بها.... وروى ابن عائذ في فتوح الشام أن النصارى صنعوا لعمر حين قدم الشام طعاماً فدعوه فقال: أين هو؟ قالوا في الكنيسة فأبى أن يذهب، وقال لعلي امض بالناس فليتغدوا، فذهب علي بالناس فدخل الكنيسة وتغدى هو والمسلمون وجعل علي ينظر إلى الصور، وقال:" ما على أمير المؤمنين لو دخل فأكل، وهذا اتفاق منهم على إباحة دخولها وفيها الصور، ولأن دخول الكنائس والبيع غير محرم

Artinya: ... ini merupakan kesepakatan mereka atas bolehnya masuk ke gereja walaupun terdapat gambar dan karena masuk gereja dan melakukan transaksi bisnis tidak diharamkan.

Baca juga: Anak Zina

Kewajiban Istri Taat Suami

Kewajiban Istri Taat Suami
KEWAJIBAN ISTRI TAAT PADA SUAMI

Assalamu Alaikum Wr. Wb.

Saya mau menanyakan perihal kewajiban seorang suami terhadap keluarga (istri dan anak) yaitu memenuhi kebutuhan sandang pangan dan papan serta kebutuhan biologis. Pemahaman istri akan hal itu sebagai berikut :

- Tidak ada kewajiban istri memasak, yang ada hanya makan yang siap makan. Sebagai suami berusaha memenuhi akan tetapi lebih sering makanan yang diminta merupakan makanan mewah akibatnya kebutuhan hidup yang sering tidak tercukupi

TOPIK KONSULTASI ISLAM
  1. KEWAJIBAN ISTRI TAAT PADA SUAMI
  2. SUAMI SERING SELINGKUH, HARUSKAH DIMAAFKAN?
  3. SERING BERMASALAH DENGAN SUAMI
  4. CARA KONSULTASI SYARIAH ISLAM

- Kewajiban mencuci dan membersihkan rumah juga tidak ada. Akibatnya istri meminta pembantu yang mengurusi semua itu termasuk memandikan anak, memberi makan anak, bahkan menemani anak. Kalau merasa bosen dengan pakaian, harus dibelikan pakaian yang baru meskipun pakaian lama baru sekali pakai.

Inti dari semuanya adalah istri tidak melakukan pekerjaan apapun dirumah kecuali menghias diri dan meladeni kebutuhan biologis suami, rumah tangga dan anak adalah kewajiban suami. Sebagai suami kalau memenuhi itu saja, maka penghasilan sebulan hanya cukup untuk urusan makan, baju dan bayar pembantu. Sedangkan tabungan untuk kebutuhan lain seperti biaya sekolah sudah tidak ada.

Pertanyaan saya,

1. apakan kewajiban suami itu tidak ada batasannya ?
2. dan yang dimaksud layak itu seperti apa ?

Mohon maaf atas pertanyaan saya yang sangat awam

Wassaalam


JAWABAN

1. Memang pada dasarnya tugas-tugas rumah tangga seperti di atas bukan kewajiban istri. Namun, itu semua bisa menjadi wajib kalau suami memerintahkan istri untuk melakukannya. Islam memerintahkan agar istri taat pada perintah suaminya selagi perintah itu bukan perintah berbuat dosa. Berikut dalil-dalilnya:

Dalam Al-Quran Surah An-Nisa' 4:34 Allah berfirman:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِم

Artinya: Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.

Dalam QS Al-Baqarah 2:228 Allah menekankan hak dan kewajiban bagi suami istri:
Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Dalam hadits sahih riwayat Bukhari Nabi bersabda:

لا يحل للمرأة أن تصوم وزوجها شاهد إلا بإذنه ولا تأذن في بيته إلا بإذنه

Artinya: Tidak halal bagi istri berpuasa (sunnah) sedang suaminya ada di rumah kecuali atas seizin suami dan istri tidak memberi izin di rumah suami kecuali atas izin suami.

Hadits sahih riwayat Ibnu Hibban Nabi bersabda:

إذا صلت المرأة خمسها و صامت شهرها و حصنت فرجها و أطاعت زوجها قيل لها : ادخلي الجنة من أي أبواب الجنة شئت

Artinya: Apabila istri rajin shalat fardhu 5 waktu, berpuasa Ramadhan, menjaga farjinya (tidak berzina), dan taat pada suaminya, maka akan dikatakan padanya: "Masuklah surga dari pintu manapun engkau suka."

Jadi, suami bukan hanya terbebani oleh kewajiban tapi juga memiliki hak atas istri termasuk di antaranya menyuruh istri melakukan apapun asal bukan perintah maksiat seperti memasak, mencuci dan mengurus anak.

Di sini diperlukan ketegasan sikap suami agar tidak diperdaya oleh istri. Suami wajib menafkahi istrinya menurut kemampuan yang dimiliki tapi tidak harus menuruti semua kehendak istri. Dan suami juga wajib mendidik istri apabila istri memiliki sikap yang cenderung berperilaku seenaknya.

2. Maksud layak adalah (a) menurut kemampuan finansial suami; (b) menurut kepantasan secara umum.

Baca juga: Cara Harmonis dalam Rumah Tangga

___________________


SUAMI SERING SELINGKUH, HARUSKAH DIMAAFKAN?

Asslmu'alaikum wrwb

Saya seorang istri dengan satu anak perempuan, dari dulu suami saya sering selingkuh dan saya selalu memaafkannya, dan sekarang terjadi lagi, suami saya selingkuh dengan janda, tapi perselingkuhan mereka dengan surat perjanjian yang isinya kalau ada apa-apa siwanita tidak akan menuntut, bahkan kalau sampai hamilpun tidak akan menuntut pertanggungjawaban dan materi, dan anak menjadi tanggungjawab siwanita seutuhnya, dan sekarang siwanita beneran hamil dan dia beneran tidak menuntut kecuali minta dinikahi secara siri untuk menutup aib,

dan akhirnya pernikahan siri itupun terjadi dibelakang saya, dan kata suami saya dia menikahi wanita itu juga hanya menutup aib saja dan tetap memilih kembali kepada saya dan meninggalkan wanita itu,

pertanyaan saya:
1. Apakah saya harus menerima dan memaafkan suami saya sementara hati saya sangat terluka karena telah dikhianati
2. Apa yang harus saya lakukan pada wanita itu?
3, Apakah saya berdosa bila membiarkan suami saya mengabaikan istri sirinya, walau itu kemauan suami saya sendiri
Mohon jawabannya
Wassalamu'alaikum wrwb

JAWABAN

1. Dalam situasi di mana suami sering melakukan zina atau dosa besar lain, maka syariah Islam memberikan istri dua pilihan yaitu berpisah / meminta cerai atau tetap bertahan. Pilihan yang baik adalah yang pertama: minta cerai atau melakukan gugat cerai karena dia bukanlah imam yang baik dan agar supaya anda dapat melupakan kepedihan hati karena sering tersakiti. Namun apabila anda masih ingin bersamanya, maka itupun boleh saja dan apabila ini pilihan anda maka sebaiknya mulai sekarang anda berhenti mengeluh apabila peristiwa serupa terjadi di masa depan. Baca detail: Perselingkuhan dalam Rumah Tangga http://www.alkhoirot.net/2012/07/istri-ingin-cerai-karena-suami-suka.html

2. Tidak ada yang perlu dilakukan pada wanita itu. Kalau bisa, perlakukan wanita itu dengan baik karena dia saat ini menjadi co-wife anda.

3. Sebaiknya sarankan suami untuk adil dalam menggilirnya. Namun, dosa ketikdakadilan suami dalam menggilir adalah tanggungjawab suami itu sendiri. Baca: Makna Adil dalam Poligami http://www.alkhoirot.net/2012/01/makna-adil-dalam-poligami.html

___________________


SERING BERMASALAH DENGAN SUAMI

Kepada uztad dan uztadzah di tempat.
Perkenalkan saya perempuan, Sudah 3 tahun menikah, alhamdulillah Sudah dikarunai seorang anak perempuan berumur 2thn dan sedang mengandung kembali. Saya ingin berkonsultasi tentang beberapa permasalahan di rumah tangga saya, karena Sudah agak lama saya berpikir dan tidak ketemu solusinya.

1. Selama saya kenal suami saya, beliau rajin shalat tapi hampir tidak pernah membaca al-Quran alasannya tidak bisa, mau saya ajarin mulai Dari iqra tidak mau. Di cari kan uztad untuk belajar mengaji alasannya selalu Ada. Bagaimana ini Pak uztad, saya kok merasa agak menganjal dengan perilaku suami saya ?

2. Beberapa waktu belakangan ini anak saya sering sakit dan perkembangannya sehat walaupun berat badannya Kecil menurut dokter anak, Hal ini selalu menjadi permasalahan di antara kami, yang kadang Ada perkataan yang tidak mengeenakkan di hati saya, saya lebih sering diam, karena saya memang kurang cakap tentang Hal rumah tangga, seperti memasak dan mengurus anak. Kalau saya jawab sesekali pasti persoalan yang lalu diungkit kembali, apakah Hal ini sehat jika dibiarkan berlarut-larut?

3. Pemikiran kami sepertinya berbeda dan suami saya tidak pernah mau mengungkapkan seperti apa visi dan misi untuk keluarga kami. Bagaimana menyikapi Sikap suami yang seperti ini ?

4. Apakah ini berkaitan dengan ketidak fahaman beliau tentang agama ?

5. Sikap saya sebagai seorang istri dan ibu harus bagaimana ?

Terimakasih Sudah meluangkan waktu untuk membaca dan membahas permasalahan keluarga saya.

Wasalamuallaikum wr. Wb

JAWABAN

1. Pertama syukuri saja dulu dengan kenyataan bahwa anda mempunyai suami yang rajin shalat. Bahwa dia tidak rajin membaca Al-Quran karena tidak bisa membaca itu semestinya anda sudah tahu sejak sebelum menikah. Selain itu, membaca Al-Quran di luar shalat itu tidak wajib. Baca: Hukum Membaca Al-Quran http://www.alkhoirot.net/2014/09/menyentuh-membaca-al-quran.html

Jadi tidak perlu menjadikan masalah ini menjadi besar dan membuat renggang rumah tangga. Kalau anda ingin dia belajar mengaji, maka keinginan itu harus anda ungkapkan secara hati-hati agar tidak menyinggung perasaannya. Karena, belajar membaca Al-Quran itu biasanya dilakukan oleh anak-anak kecil jadi kemungkinan besar dia merasa gengsi kalau harus belajar pada usia seperti sekarang. Dan kalau dia tidak mau, maka sebaiknya dibiarkan saja. Yang penting anda sudah mengungkapkan keinginan anda agar dia belajar mengaji dan rajin membaca Al-Quran. Dilaksanakan atau tidak oleh suami itu sepenuhnya terserah dia. Siapa anda yang berhak memaksa dia melakukan sesuatu yang tidak wajib secara syariah? Bahkan terhadap perkara yang wajibpun anda tidak boleh memaksanya apalagi yang tidak wajib. Di sinilah mungkin letak kesalahan anda dan penyebab dia sering bersikap kurang simpati pada Anda. Karena, orang yang terpojok atau dipojokkan akan cenderung mengungkit-ungkit kesalahan 'lawan' yang memojokkannya.

2. Kurang cakap memasak dan mengurus anak memang akan membuat kesal suami. Kekurangan ini lebih besar dibanding ketidakmampun suami membaca Al-Quran Namun kekesalan itu akan disimpannya apabila istri tidak juga mengungkap kekurangan suami. Idealnya, istri meningkatkan kemampuannya terutama di bidang memasak dan mengurus anak. Apabila ini dilakukan, insyaAllah suami juga akan berusaha meningkatkan kemampuannya termasuk dalam hal membaca Al-Quran. Hidup selalu menuntut resiprokal dan timbal balik terutama di antara suami dan istri.

3. Visi misi rumah tangga dan keluarga akan mudah disamakan apabila terjadi komunikasi secara intensif antara kedua belah pihak suami-istri. Maka, lakukan komunikasi berkualitas secara teratur. Ajak suami jalan-jalan ke tempat wisata dan ungkapkan keinginan anda apa yang anda inginkan dari keluarga ini. Dan dengarkan apa yang diinginkan suami. Rumah tangga harmonis akan tercapai apabila (a) sering komunikasi; (b) siap saling kompromsi; (c) mensyukuri hal positif yang dimiliki pasangannya.

4. Sikap yang bijaksana belum tentu berkaitan dengan pemahaman agama. Yang pintar agama belum tentu bijaksana dan tidak mengerti agama belum tentu bersikap semaunya. Rumah tangga yang terasa tidak nyaman disebabkan bukan hanya oleh suami tapi juga oleh istri. Sudahkah anda introspeksi soal ini? Kalau toh secara faktual penyebab konflik mayoritas adalah suami, maka tetap saja ada peran anda di dalamnya yakni mengapa sejak awal anda memilih dia sebagai pendamping hidup kalau tau pengetahuan agamanya kurang?

5. Sikap terbaik bagi anda sebagai istri dan ibu bagi anak-anak sudah diterangkan dalam poin jawaban di atas. Sebagai kesimpulan: (a) syukuri hal positif dari suami; (b) evaluasi hal negatif pada diri sendiri dan perbaiki; (c) jangan biasakan memaksakan kehendak semua hal harus berdasarkan komunikasi dan kompromi.

Baca juga: Cara Harmonis dalam Rumah Tangga

Satu Puasa dengan Dua Niat: Qadha dan Sunnah

Satu Puasa dengan Dua Niat: Qadha dan Sunnah
SATU PUASA DENGAN DUA NIAT SEKALIGUS

Assalamualaikum Wr. Wb.
Salam silaturrahmi, semoga ustad tetap diberi kesehatan oleh Allah SWT, amien.
Ustad, sering terjadi diberbagai daerah, khususnya didaerah pedesaan, bahwa ketika pada hari-hari tertentu dimana kita disunnahkan untuk berpuasa, kita berniat puasa Qadha' sekaligus berniat puasa sunnah. Maaf, ini biasanya dilakukan oleh perempuan yang mempunyai hutang puasa. Pertanyaan saya :
1. Apakah sah, semisal pada hari arafah, kita berniat puasa qadha' sekaligus berniat puasa sunnah hari arafah?
2. Lalu, apakah sah jika kita shalat sunnah dengan dua niat sekaligus, misalnya dalam shalat sunnah kita berniat shalat ba'diyah isya' dan sekaligus berniat shalat hajat?
Trimakasih ustad atas jawabannya. Mohon juga disertai dalilnya!

DAFTAR ISI
  1. Satu Puasa Dengan Dua Niat Sekaligus
  2. Hukum Istri Meminta Semua Gaji Suami
  3. CARA KONSULTASI AGAMA

JAWABAN: SATU PUASA DENGAN DUA NIAT SEKALIGUS

1. Boleh puasa qadha sekaligus diniati puasa sunnah. Seperti puasa qadha dengan puasa 6 hari bulan Syawal atau dengan puasa Arafah. Abu Zakariya Al-Anshari dalam kitab As-Syarqawi I/427 menyatakan
ولو صام فيه أي في شوال قضاء عن رمضان أو غيره أو نذرًا أو نفلا آخر حصل له ثواب تطوعها، إذ المدار على وجود الصوم في ستة أيام من شوال وإن لم يعلم بها أو صامها عن أحد (أي النذر أو النفل ) لكن لا يحصل له الثواب الكامل المترتب على المطلوب إلا بنية صومها عن خصوص الست من شوال، ولا سيما من فاته رمضان أو صام عنه شوال، لأنه لم يصدق عليه أنه صام رمضان وأتبعه ستا من شوال.
Artinya: Apabila seseorang puasa qadha Ramadan atau puasa nadzar atau puasa sunnah lain di bulan Syawal maka dia juga mendapat pahala dari sunnahnya puasa Syawal. Karena puasanya dilakukan pada bulan Syawal walaupun dia tidak tahu...

Dalam Mughnil Muhtaj 1/49 dinyatakan

ولو صام فيه -أى فى شوال - قضاء عن رمضان أو غيره أو نذرا أو نفلا آخر حصل له ثواب تطوعها ، إذ المدار على وجود الصوم فى ستة أيام من شوال .. قالوا : ويشبه هذا ما قيل فى تحية المسجد، وهى صلاة ركعتين لمن دخله ، قالوا : إنها تحصل بصلاة الفريضة أو بصلاة أى نفل وإن لم تُنو مع ذلك ، لأن المقصود وجود صلاة قبل الجلوس ، وقد وجدت بما ذكر، ويسقط بذلك طلب التحية ويحصل ثوابها الخاص وإن لم ينوها على المعتمد

Berdasarkan pendapat Al-Anshari di atas, Atiyah Saqar mantan ketua Fatwa Universitas Al Azhar Mesir, dalam kitab Ahsan al Kalam fil Fatwa wal Ahkam menyatakan:
يمكن لمن عليه القضاء من رمضان أن يصوم الأيام الستة من شوال بنيه القضاء، فتكفي عن القضاء ويحصل له ثواب الستة البيض في الوقت نفسه إذا قصد ذلك، فالأعمال بالنيات. وإذا جعل القضاء وحده والستة وحدها كان أفضل، بل إن علماء الشافعية قالوا: إن ثواب الستة يحصل بصومها قضاء حتى لو لم ينوها وإن كان الثواب أقل مما لو نواها.
Boleh bagi orang yang berkewajiban meng-qadha puasa Ramadhan untuk berpuasa pada 6 hari bulan Syawal dengan niat qadha. Maka puasa qadha-nya sah dan juga mendapat pahala puasa 6 hari Syawal. apabila bermaksud seperti itu. Karena amal berdasarkan niat. Apabila menjadikan qadha sendiri dan 6 hari Syawal sendiri maka itu lebih utama. Bahkan ulama madzhab Syafi'i menyatakan bahwa pahala puasa 6 hari Syawal didapat dengan berpuasa qadha Ramadan walaupun tanpa niat (puasa Syawal) walaupun pahalanya lebih sedikit dibanding kalau dengan niat puasa Syawal.

2. Boleh. Dengan dasar sama dengan poin 1 Syekh Atiyah Saqar menyatakan:
ويشبه هذا ما قيل في تحية المسجد وهي صلاة ركعتين لمن دخله، قالوا: إنها تحصل بصلاة الفريضة أو بصلاة أي نفل وإن لم تنو مع ذلك، لأن المقصود وجود صلاة قبل الجلوس وقد وجدت بما ذكر، ويسقط ذلك طلب التحية ويحصل ثوابها الخاص وإن لم ينوها على المعتمد كما قال صاحب البهجة.
Artinya: Disamakan dengan puasa dengan dua niat adalah shalat dengan dua niat. Misalnya shalat tahiyatul masjid dan shalat fardhu; atau shalat tahiyat masjid dengan shalat sunnah lain walaupun tanpa niat tersendiri... seperti pendapat pengulis kitab Al-Bahjah.
_______________________________


HUKUM ISTRI MEMINTA SEMUA GAJI SUAMI

Aku seorang suami, sudah menikah hampir 6-7 bulan, saya bekerja untuk memenuhi kebutuhan istri sehari-hari, setiap uang yang aku dapat atau peroleh itu di minta semuanya.. bahkan dompetku tidak pernah isi uang seribu pun, Tapi setiap aku minta kebutuhan untuk beli rokok atau jajanan itu di kasih... ironisnya masalah keuangan yang mengatur di daerah saya itu istri.. lantas bukan suami..! Sehingga aku tidak bisa menyimpan sedikitpun di dompet atau di tabung untuk kebutuhan jangka panjang.... jika aku menyimpan uang di dompet, dompetku di ambil dan uang itu harus ada di tangannya..!
1. bagaimana menyikapi hal tersebut??
2. bagaimana prilaku seorang istri tersebut dalam hukum islam?
3. apakah seorang istri berhak mengatur keuangan dalam pandangan agama islam?
4. apakah semua hasil jerih payah suami harus ada di tangan istri?


JAWABAN

1. Suami berkewajiban untuk memberi nafkah istri. Tapi tidak wajib memberitahu berapa gaji suami. Dan tidak wajib memberikan seluruh gaji suami pada istri. Jadi, terserah anda mau memberi semua gaji atau tidak.
2. Kurang baik. Tapi kalau itu tradisi lokal maka anda perlu memberitahu istri bahwa hal itu tidak ada dalam Islam.
3. Tidak berhak. Hak istri hanya menerima nafkah yang wajar dari suami.
4. Tidak harus.

Di sisi lain, agak aneh sebenarnya mengapa Anda bisa sampai memberikan semua gaji pada istri? Bukankah anda bisa menolaknya? Atau bisa menyimpan sebagian gaji di tempat lain? Suami adalah pemimpin. Dan salah satu ciri khas pemimpin adalah harus tegas.

Lebih detail lihat:
- Bolehkah Berbohong Jumlah Gaji pada Istri?
- Suami Wajib Menafkahi Istri Walaupun Kaya

Nikah Tanpa Wali Madzhab Hanafi

Nikah Tanpa Wali Madzhab Hanafi
PERNIKAHAN TANPA WALI MADZHAB HANAFI

Assalamu'alaikum
Saya pernah membaca bahwa pernikahan dalam mazhab hanafi tidak memerlukan kehadiran wali berbeda dengan mazhab syafi'i yang harus ada wali.
1. Bagaimana tata cara pernikahan mazhab hanafi?
2. Apakah ada perbedaan ketentuan antara gadis dan janda dengan menggunakan mazhab hanafi?
Terimakasih, mohon pencerahannya.

TOPIK SYARIAH ISLAM
  1. PERNIKAHAN TANPA WALI MADZHAB HANAFI
  2. TERSENYUM SOAL HADITS NABI, APAKAH SAYA MURTAD?
  3. CARA KONSULTASI AGAMA


JAWABAN

1. Pernikahan madzhab Hanafi tidak berbeda dg madzhab lain termasuk dg madzhab Syafi'i kecuali dalam soal wali saja. Itu artinya: wajib adanya dua saksi laki-laki, dan adanya ijab qabul antara dua pihak. Baca detail: Pernikahan Islam

2. Yg berbeda dg madzhab lain adalah soal wali. Wali dalam madzhab Hanafi ada dua macam yaitu wali ijbar dan wali ikhtiyar atau wali nadab (sunnah). Wali ijbar adalah wali yang sempurna yang punya hak penuh untuk menikahkan atau menolak pernikahan anak laki-laki dan perempuan yang belum baligh atau wanita dewasa yang tidak sempurna akalnya. Ibnu Maudud Al-Musoli (ulama madzhab Hanafi) dalam kitab Al-Ikhtiyar li Ta'lil Al-Mukhtar menyatakan:

ويجوز للولي إنكاح الصغير والصغيرة والمجنونة، ثم إن كان المزوّج أبا أو جدّا فلا خيار لهما بعد البلوغ

Artinya: Dan boleh bagi wali menikahkan anak laki-laki kecil atau perempuan kecil atau wanita gila (walaupun dewasa). Lalu apabila yang menikahkan itu ayah atau kakek maka tidak ada pilihan bagi keduanya (anak lelaki dan wanita) setelah baligh.

PENDAPAT EMPAT MADZHAB SOAL WALI NIKAH

Adapun wali ikhtiyar atau wali syirkah adalah wali yang berkaitan dengan wanita dewasa dan berakal sehat. Dalam hal ini, ulama empat madzhab terbagi menjadi dua pendapat:

PERTAMA Menurut mayoritas (jumhur) ulama empat madzhab selain Hanafi, wali dan si wanita mempunyai hak bersama (syirkah) sehingga akad nikah baru sah atas kesepakatan bersama antara si wanita dan walinya. Keduanya berbagi (syirkah) dalam menentukan dan memilih calon suami;

PENDAPAT MADZHAB HANAFI SOAL WALI

KEDUA, Menurut ulama madzhab Hanafi, status wali terhadap perempuan dewasa adalah wali sunnah (wilayat an-nadb, al-istihbab). Artinya, wali tidak punya hak menentukan calon suami. Karena, wanita baligh dan berakal sehat, baik perawan atau janda, memiliki kewalian sempurna atas dirinya sendiri. Oleh karena itu, maka dia boleh menikahkan dirinya sendiri walaupun tanpa izin wali atau walupun tanpa persetujuan walinya. Ibnu Maudud Al-Musoli (Ulama madzhab Hanafi) dalam Al-Ikhtiyar li Ta'lil al-Mukhtar, hlm. 3/120, menyatakan:

وعبارة النساء معتبرة في النكاح حتى لو زوجت الحرة العاقلة البالغة نفسها جاز

Artinya: Hak wanita itu dianggap dalam nikah sehingga apabila seorang wanita dewasa yang berakal sehat menikahkan dirinya sendiri maka hukumnya boleh.

Abu Muhammad Al-Aini (ulama madzhab Hanafi) dalam kitab Al Binayah Syarah Al-Hidayah, hlm. 5/70, menyatakan:

وينعقد نكاح الحرة العاقلة البالغة برضاها وإن لم يعقد عليها ولي، سواء كانت بكرا أو ثيبا عند أبي حنيفة وأبي يوسف _ رحمهما الله _ في ظاهر الرواية، وعن أبي يوسف _ - رَحِمَهُ اللَّهُ - _ أنه لا ينعقد إلا بولي وعند محمد ينعقد موقوفا

Artinya: Sah nikahnya wanita dewasa berakal sehat dengan kerelaannya walaupun tidak diakad oleh wali. Sama saja perawan atau janda. Ini pendapat Abu Hanifah dan Abu Yusuf dalam zahirnya riwayat. Namun, Abu Yusuf termasuk ulama Hanafi yang menyatakan bahwa nikah tidak sah kecuali dengan wali. Sedangkan menurut Muhammad (juga ulama Hanafi), nikahnya seorang perempuan dewasa tanpa wali hukumnya mauquf. Artinya, keabsahan nikahnya menunggu persetujuan wali. Apabila wali setuju, maka baru nikahnya dianggap sah.

Intinya, pernikahan tanpa wali dalam madzhab Hanafi masih menjadi perbedaan pendapat antara ulama mereka. Namun mereka sepakat bahwa perempuan dewasa antara perawan dan janda statusnya sama.

TATA CARA NIKAH HANAFI

Apabila mengikuti pendapat nikah madzhab Hanafi yang membolehkan nikah tanpa persetujuan wali, maka nikah dapat diadakan dengan salah satu dari dua cara:

Pertama, si wanita meminta seorang laki-laki yang dianggap mampu untuk menikahkan dia dengan seorang pria calon suaminya. Tentunya ijab kabul harus dihadiri dua orang saksi laki-laki. Allah berfirman dalam QS Al-Baqarah 2:242 [واستشهدوا شهيدين من رجالكم] "Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu)." Kata 'rijal' selain bermakna laki-laki juga berarti harus baligh (dewasa) dan akil (berakal sehat). Sedangkan anak kecil dan perempuan tidak sah menjadi saksi pada acara ijab kabul perkawinan.

Kedua, si wanita menikahkan dirinya sendiri dan berperan sebagaimana layaknya wali atau wakil wali yang menikahkan. Misalnya dengan mengatakan ijab pada calon suaminya: "Aku menikahkan engkau dengan diriku sendiri dengan mahar sejuta rupiah tunai" dan calon suami menjawab: "Aku terima nikahmu dengan mahar tersebut tunai". Cara kedua ini juga harus dihadiri dua saksi laki-laki dewasa dan berakal sehat. Baca detail: Pernikahan Islam

KESIMPULAN

Walaupun sebagian ulama madzhab Hanafi membolehkan pernikahan tanpa wali, namun mereka tetap mengharuskan adanya ijab kabul yang disaksikan oleh dua saksi laki-laki dewasa. Oleh karena itu, kami menganjurkan agar pernikahan tetap dilakukan oleh wali atau wali hakim yang ditunjuk oleh si perempuan karena ini lebih sesuai dengan pendapat seluruh madzhab dan lebih berhati-hati dalam beragama. Baca detail: Wali Hakim dalam Pernikahan


TERSENYUM SOAL HADITS NABI, APAKAH SAYA MURTAD?

Assalamualaikum ustad
Saya ingin bertanya ustad
Saya pernah membaca tentang ayat tentang At-Taubah ayat 65 sd 66 tentang kafir setelah beriman...
Suatu hari saya mendengar ceramah tentang tetangga, Ustad penceramah membawakan ceramah dengan santai dan terkesan lucu, saat itu ustad penceramah mengatakan Nabi Muhammad sempat mengira bahwa tetangga akan mendapatkan hak warisan karena Malaikat Jibril sering menjelaskan tentang tetangga ke nabi Muhammad

Disitu saya sempat terpikir bahwa ustad ini akan membuat guyonan tentang enaknya jika tetangga mendapat harta warisan.... Saya pun tersenyum, tetapi saat saya tersenyum, saya ingat surat At Taubah ayat 65 sd ayat 66 tersebut, saya takut senyuman itu dianggap menghina Nabi oleh Allah, padahal saya tidak bermaksud sama sekali tersenyum untuk menghina Nabi...

Saya takut ustad, saya sudah bertaubat. .. Kira kira apa yang saya harus lakukan agar saya mendapat ampunan Allah dan tidak seperti itu lagi? Saya adalah orang yang ekspresif, mudah menangis, mudah tersenyum, dll...

JAWABAN

Murtad adalah perkara besar. Tidak sembarangan seorang muslim menjadi murtad. Kecuali kalau dia menghina dan tidak percaya pada syariat Allah. Dan yg anda lakukan sama sekali bukan penghinaan. Jadi tidak apa-apa dan tidak ada masalah dg senyuman anda. Baca detail: Penyebab Murtad

"Besok Ke Kua" Apa Sudah Jatuh Talak?

Besok Ke Kua Apa Sudah Jatuh Talak?
"BESOK KE KUA" APA SUDAH JATUH TALAK?

Assalamu'alaikum.
Ustad/Ustadzah, langsung saja,

1. Suatu ketika pada saat bertengkar dengan suami saya emosi dan minta cerai.
Saat itu suami juga emosi dan berkata "Ya udah besok kita ke KUA aja urus surat cerai" "Tenang aja, besok ke KUA ya" diulang samapi beberapa kali saya lupa.

Dan beberapa hari setelahnya kami sudah baikan dan membahas soal ucapan suami tersebut.

Saya bertanya niat suami apakah menceraikan atau tidak. Dia bilang tidak. Tapi saya tidak yakin. Karena mungkin saja pada saat dia marah dia benar2 berniat menceraikan, baru pada saat baikan dia bilang tidak. Karena menurut saya kata2 suami jelas sekali ke arah menceraikan saya.

TOPIK SYARIAH ISLAM
  1. "BESOK KE KUA" APA SUDAH JATUH TALAK?
  2. ADAT JAWA: DADUNG KEPLUNTIR
  3. NIKAH SIRI TANPA IJIN ISTRI PERTAMA
  4. CARA MEMBAGI WARISAN SECARA ISLAM
  5. KALAU MELAWAN AKU LAGI MAKA KUCERAIKAN, APA JATUH TALAK?
  6. "GAK USAH PUNYA SUAMI SAJA SEKALIAN" APA JATUH TALAK?
  7. MAKELAR BURSA BERJANGKA
  8. WARISAN DAN ANGSURAN CICILAN
  9. CARA KONSULTASI AGAMA
2. Pernah juga saat kami bertengkar di lain waktu, dia sampai memukuli saya dan berkata "Pulang aja sana kamu ke orang tua kamu! Saya nyesel punya istri kaya kamu"

Pertanyaan saya,

1. Apakah kedua ucapan tersebut termasuk jatuh hukum talak?

Karena pernah saya membahas dengan suami, saya berkata bahwa suami saya itu sudah mentalak saya 2x (berdasarkan keyakinan/pendapat saya). Dan beliau (suami saya) membenarkan ucapan saya.

Lalu pada saat saya ditalak yang ketiga kali, dengan talak yang shorih, yaitu "Saya ceraikan kamu", setelah itu beliau menyesal karna sebenarnya suami merasa masih cinta sama saya.
Sehingga ia mengingat2 lagi ucapan talaknya yang pertama dan kedua, lalu beliau menganggap talak pertama itu tidak sah, karna sebenarnya tidak berniat menceraikan saya.

Mohon dijawab ya Ustadz/Ustadzah. Karena saat ini pernikahan saya sedang diujung tanduk.

Terima kasih.

JAWABAN

1. Untuk kasus pertama itu tidak jatuh talak karena ucapan talaknya mengacu ke masa depan (future tense atau zaman mustaqbal). Baca: Cerai Masa depan

Untuk kasus kedua termasuk talak kinayah yang baru jatuh talak kalau ada niat. Apabila suami menyatakan tidak ada niat, maka jawaban suami itu dianggap benar. Baca detail: Cerai dalam Islam

ADAT JAWA: DADUNG KEPLUNTIR

Assalamualaikum. Kak saya mau konsultasi. Keluarga saya masih sedikit kental akan adat jawa sehingga keluarga saya tidak menyetujui hubungan saya dengan calon saya dikarenakan istilah dadung kepluntir. Disebut dadung kepluntir karena kakek calon saya itu adalah adik dari kakek saya. Yang saya tanyakan
1. apakah sebenarnya adat jawa melarang hal tersebut.
2. Dan sebenarnya dalam jawa minimal boleh menikah harus generasi keberapa?
3. Kalau memang dalam jawa melarang bagaimana meyakinkan orang tua bahwa dalam syariat islam tidak dilarang.
Sebelumnya saya sudah pernah bilang pada orang tua saya bahwa itu tidak dilarang agama. Tapi orang tua saya malah marah. Terimakasih atas waktunya. Saya sangat berharap email ini dapat dibalas. Terimakasih sekali lagi

JAWABAN

1. Yang anda tanya sebabnya? Sebenarnya sebabnya terkait dengan mitos dari ajaran pra Islam. Mereka beranggapan dadung kepluntir akan membuat pasangan tidak bahagia atau akan ada yang mati lebih dulu.

2. Yang tidak boleh menikah: sepupu dan tiga pupu. Yang boleh: dua pupu (mindoan).

3. Cari tokoh agama yang disegani orang tua anda. Minta tolong dia untuk menjelaskan hal itu. Orang tua tidak akan percaya apabila anda sendiri yang menerangkan. Baca detail: Pernikahan Islam

NIKAH SIRI TANPA IJIN ISTRI PERTAMA

to the point pak yai ...
gara-gara reuni slta saya ketemu teman, yg sdh nikah keduanya teman sekolah , tapi lain agama cewek islam, cowok kresten walau menurut pengakuan cewek waktu nikah sudah masuk islam, tapi sekarang kembali kresten punya anak dua cewek tapi kresten semua, ketemu saya shareng kalau sering dilarang sholat atau ngumpul di majelis islam,

saya menyarankan kalau sudah tdk ada toleransi untuk menjalankan ibadah lebih baik minta cerai, lebih baik pertahankan aqidahmu tetap islam. belum sempat urus cerai , berselang sebulan sang suami mati karena sakit, saya merasa kasihan dlm kondisi berumah tangga 18tahunan rumah numpang di mertua kresten, dan kedua anaknya kresten, gimana bisa menjalankan ibadah, dengan tenang pikir saya.
ahirnya tak ambil keputusan tak nikah siri tak belikan rumah walau masih nganggsur, dengan tujuan bisa belajar ngaji dan menjalankan syariat islam dengan bebas, sedangkan saya sendiri sudah keluarga dan punya anak, istriku juga temannya, makane tak rahasiakan biar tidak mrnjadi masalah,
pertanyaan saya, bagaimana tindakan saya menurut syariat islam?

ahir ahir ini saya mengalami masalah, angsuran rumah, belum lunas tapi pendapatanku berkurang, sedangkan saya juga harus membantu biaya hidupnya, .... yai

apa yang sebaiknya saya lakukan ?
mohon penjelasannya, kurang lebihnya terima kasih yai.

JAWABAN

Ceritakan terus terang pada istri siri keadaan keuangan anda. Dan carikan dia pekerjaan agar dapat membantu anda mengangsur rumah sekaligus agar dia dapat mandiri.

CARA MEMBAGI WARISAN SECARA ISLAM

assalamualaikum.wr.wb
Ibu saya telah meninggal,semasa hidupnya beliau menikah dua kali..pertama menikah di karuniai seorang putri tunggal kemudian beliau cerai..lalu menikah lagi dan di karuniai seorang putra tunggal yaitu saya.
saudara saya sejak kecil ikut ayahnya, tidak ikut ibu saya...nah yang ingin saya tanyakan

1. bagaimanakah cara membagi waris dengan saudara saya itu..
2. dan juga bagaimana dengan ayah saya...harta ibu saya adalah berupa tanah, tanah tersebut ada yang diberi oleh kakek saya, dan sebagian hasil beli bersama ayah saya..terima kasih sebelumnya.
wasalamualaikum.wr.wb

JAWABAN

1. Ahli waris dan bagiannya adalah sbb: (a) suami mendapat 1/4; (b) sisanya yang 3/4 diberikan pada kedua anak kandung yaitu anak lelaki mendapat 2/3, sedangkan anak perempuan mendapat 1/3.
Penting: pembagian ini dg catatan orang tua almarhumah (kakek nenek anda) sudah meninggal.

2. Lihat no. 1. Baca detail: Hukum Waris Islam

KALAU MELAWAN AKU LAGI MAKA KUCERAIKAN, APA JATUH TALAK?

Assalamu Alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
Saya mau bertanya ?
Bagaimana hukumnya suami yg menuliskan di sms *kalau melawanki lg maka kuceraikanki* dan sya melawan beberapa hri sesudah itu tp maksud suami tdk menjatuhkan talak hanya memperingatkan.
Menurut suami cerai itu kalau diucapkan langsung dan ada niat
1. Bgmn menurut anda dgn status pernikahan kami ?
Apakah jatuh talak ?

JAWABAN

1. Ucapan cerai secara tertulis via SMS atau surat hukumnya talak kinayah dan baru jatuh talak kalau disertai dengan niat talak dari suami. Baca detail: Pernyataan Cerai Secara Tertulis

"GAK USAH PUNYA SUAMI SAJA SEKALIAN" APA JATUH TALAK?

Dear saudaraku,
aku dan istriku termasuk orang yg masih muda untuk memutuskan menikah,
Emosi kami masi menggebu gebu,
Sampai pada suatu malam kita bertengkar, dan kemudian istriku berkata "gausah punya anak aja sekalian", karena aku terpancing dengan kata katanya maka aku membalasnya "gausah punya suami aja kamu sekalian".

Mohon untuk menjelaskan apakah katakata yang saya ucapkan termasuk dalam kata kata talak? Karena saya baru sadar arti kata tersebut setelah mengatakannya.

Terimakasih .

JAWABAN

Itu tidak termasuk kata talak baik talak kinayah (implisit) atau sharih (eksplisit). Jadi status pernikahan anda masih sah. Baca detail: Cerai dalam Islam

MAKELAR BURSA BERJANGKA

Assalamualaikum
Bagaimna hukum menjadi broker/pialang/makkelar di bursa berjangka komoditi yang bertransaksi tampa ada serah terima fisik?

JAWABAN

Tidak masalah selagi barang yang dijual itu barang halal. Baca detail: Bisnis dalam Islam

WARISAN DAN ANGSURAN CICILAN

Assalamualaikum wr,wb

Ayah saya meninggal 8 mei 2016, meninggalkan 4 orang putri dan 1 istri, meninggalkan sebidang tanah yg dimana sertifikatnya di gadaikan di suatu bank,,(yg minjem atas nama istri)..angsuran tinggal 2 tahun lagi,,tapi istrinya(ibu saya) punya uang dri hasil menjual hartanya nya(sebagiannya harta hak ayah saya),,tapi ibu saya tidak mau melunasi langsung sertifikat yg dia gadaikan,..bagaimana solusinya,,mohon dijawab..terima kasih ustad

JAWABAN

Kewajiban pertama yang harus dilakukan apabila ada yang meninggal adalah membagi harta warisan kepada ahli waris yang berhak. Setelah jelas berapa bagian siapa, maka baru dimusyawarahkan lagi tentang cara menyicil angsuran dan lainnya. Baca detail: Hukum Waris Islam

Monday, December 09, 2019

Hukum Bersetubuh dengan Istri Saat Haid

Hukum Bersetubuh dengan Istri Saat Haid
HUKUM HUBUNGAN INTIM (JIMAK, WATHI', BERSETUBUH, HUBUNGAN BADAN DENGAN ISTRI SAAT HAID

Assalamu'alaikum ustadz, mohon penjelasannya. Sebelumnya mohon maaf apabila pertanyaan sedikit tida nyaman karena menyangkut masalah hubungan intim. Yang saya ingin tanyakan,

1. Bagaimana hukumnya apabila seorang wanita yg sedang haid (menjelang selesai masa haid) tatkala melayani suaminya, suami menyentuh bagian kewanitaan tanpa melihatnya sampai si istri menjadi merasakan *maaf orgasme?

2. Bagaimana hukumnya jika suami menggauli istri yang sudah di akhir masa haid (si istri merasa sudah selesai masa haid ) namun belum sempat bersuci, dan ternyata setelah berhubungan, keluar kembali darah kecoklatan sedikit? Apakah jatuh kafarah kepada mereka?

3. Dan apabila jatuh kafarah kepada mereka. Bagaimana cara membayar kafarahnya, apakah suami saja atau istri saja? Atau keduanya?

Mohon penjelasannya ustadz, syukron.

JAWABAN

1. Istri yang sedang haid tidak dilarang bercumbu dengan suaminya selagi tidak sampai hubungan intim (jimak). Konsekuensi dari bercumbu salah satunya adalah orgasme dan ini tidak masalah selagi tidak sampai hubungan intim. Dalam Sahih Muslim (294) diriwayatkan dari Maimunah (istri Nabi) ia berkata:

عن ميمونة قالت : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يباشر نساءه فوق الإزار وهن حيض »

Artinya: Rasulullah menyentuh istri-istrinya di atas sarung saat mereka sedang haid.

An-Nawawi dalam Syarah Muslim, hlm. 3/538, menjelaskan:

... قال مالك والشافعي والأوزاعي وأبو حنيفة وأبو يوسف وجماعة عظيمة من العلماء : له منها ما فوق الإزار
وقال الثوري ومحمد بن الحسن وبعض أصحاب الشافعي : يجتنب موضع الدم ، لقوله عليه السلام : اصنعوا كل شيء إلا النكاح

Artinya: Imam Malik, Syafi'i, Auzai, Abu Hanifah, Abu Yusuf, dan banyak ulama lain menyatakan: Boleh bagi suami untuk mencumbu istrinya di bagian yang di atas sarung (di atas pusar).
Al-Tsauri, Muhammad bin Hasan dan sebagian ulama mazhab Syafi'i menyatakan: Hendaknya menjauhi tempat darah (maksudnya kemaluan wanita - red) berdasarkan sabda Nabi: Berbuatlah apapun pada istrinya kecuali jimak (hubungan intim).

Baca juga: Wanita Haid

2. Hukumnya haram melakukan hubungan intim pada saat haid atau di akhir masa haid apabila belum bersuci. Namun demikian, tidak ada kewajiban bagi pelaku untuk membayar kafarat. Khatib Syarbini dalam Mughnil Muhtaj, hlm. 1/110, menyatakan:

ووطء الحائض في الفرج كبيرة من العامد، العالم بالتحريم، المختار... انتهى

Artinya: (Suami) yang menjimak istri yang sedang haid adalah dosa besar apabila sengaja, tahu atas keharamannya dan dilakukan secara sukarela (bukan paksaan)..

Namun wajib bertaubat karena telah melakuan larangan syariat. Baca detail: Cara Taubat Nasuha

Tidak wajibnya membayar kafarat adalah pendapat jumhur (mayoritas) tiga madzhab yaitu Syafi'i, Hanafi dan Maliki. Sedangkan kewajiban membayar kafarat adalah menurut pendapat sebagian ulama madzhab Hanbali.

Walaupun tidak wajib membayar kafarat menurut 3 madzhab, namun menurut madzhab Syafi'i sunnah hukumnya bersedekah yang nilainya 1 dinar atau 1/2 dinar. Al-Qalyubi (madzhab Syafi'i) dalam Hasyiyah Syarah Mahalli, hlm. 1/100, menyatakan:

[وَيُنْدَبُ لِمَنْ وَطِئَ فِيهِ -أي في الحيض- أَنْ يَتَصَدَّقَ بِدِينَارٍ أَوْ مَا يُسَاوِيهِ إنْ وَطِئَ فِي إقْبَالِهِ، وَبِنِصْفِ دِينَارٍ فِي إدْبَارِهِ كَذَلِكَ، وَيَتَكَرَّرُ التَّصَدُّقُ بِتَكْرَارِ الْوَطْءِ، وَالْمُرَادُ بِإِدْبَارِهِ زَمَنُ ضَعْفِهِ وَتَنَاقُصِهِ] اهـ.

Artinya: Sunnah bagi orang yang jimak saat haid untuk bersedekah satu dinar atau senilai dengan itu apabila jimak dilakukan di awal haid dan sedekah setengah dinar apabila melakukannya di akhir haid. Sedekah ini hendaknya diulang dengan berulangnya jimak.

Catatan: 1 dinar sama dengan 4.25 gram emas murni 24 karat.

3. Seperti disebut di no.2, bayar kafarat tidak wajib menurut 3 madzhab. Namun sunnah menurut madzhab Syafi'i bersedekah senilai 1 dinar atau 4.25 emas apabila dilakukan di awal haid dan separuhnya apabila dilakukan di akhir masa haid (dan belum bersuci).

Adapun yang wajib membayar adalah si suami saja. Al-Ramli dalam Nihayatul Muhtaj, hlm. 1/ 332, menyatakan:

"يستحب للواطئ -مع العلم وهو عامد مختار- في أول الدم تصدق ولو على فقير واحد بمثقال إسلامي من الذهب الخالص، أو ما يكون بقدره، وفي آخر الدم بنصفه" انتهى "

Artinya: Sunnah bagi pelaku jimak (saat haid) - yang tahu hukum, sengaja dan sukarela - di awal haid bersedekah emas murni satu dinar, walaupun pada satu orang miskin, atau harta senilai itu; dan sedekah separuhnya apabila melakukan itu di akhir haid. Baca juga: Wanita Haid