Tuesday, November 30, 2021

Cara menyucikan najis menurut maliki dan hanafi

CARA MENYUCIKAN NAJIS MENURUT MALIKI DAN HANAFI

Kalau mensucikan kotoran tikus kering menurut madzhab Maliki bagaimana ya ustadz? Saya ambil ainiyah kotorannya kemudian dibuang. Lantai bekas tempat kotorannya hukmiyah saya lap pakai tisu basah seperti madzab Hanafi apapun benda licin seperti kaca cukup dilap tidak mengapa benar begitu ustadz? Atau ada cara khususnya kesannya saya mencampur madzab lagi Maliki dan Hanafi.

JAWABAN

Ada kesalahpahaman dalam memahami penjelasan dalam link yang anda sebut (www.alkhoirot.net/2014/07/cara-menyucikan-hp-kena-najis.html#1). Kesalahannya adalah cara mengusap yang dibolehkan adalah harus tetap dengan air. Tidak sembarang mengusap. Termasuk tidak boleh mengusap dengan tisu basah. Baca detail: Tisu Basah Bisakah Menghilangkan Najis?

Karena tisu basah itu basahnya bukan berasal dari air mutlak atau air suci dan menyucikan. Baca detail: Air Suci Menyucikan

Ada pendapat dari mazhab Maliki dan Hanafi bolehnya menyucikan dengan cara mengusap. Tapi mengusapnya tetap dengan air mutlak. Bukan dengan tisu basah.

Perbedaan antara membasuh dan mengusap dalam istilah teknis syariah adalah: membasuh artinya menyiramkan air. Sedangkan mengusap adalah mengusapkan benda basah yang mengandung air mutlak. Benda basah itu bisa berupa tangan atau tisu yang dibasahi air mutlak.

HUKUM KOTORAN TIKUS PADA MAKANAN

Ada pendapat dalam mazhab Maliki yang menyatakan bahwa kotoran tikus rumah itu tidak najis apabila berada pada makanan.

Dasuqi dalam Hasyiyah Ad-Dasuqi, hlm. 1/58, menyatakan:

قوله: (كروث فار) أي شأنه استعمال النجاسة كفار البيت، فإذا حل روثه في طعام نجسه خلافا لما أفتى به ابن عرفة من طهارة طعام طبخ وفيه روث الفارة كذا في حاشية شيخنا

Artinya: Seperti kotoran tikus. Yakni keadaan pemakaian najis seperti tikus rumah. Apabila kotoran tikus berada di makanan, maka makanan menjadi najis. Berbeda dengan yang difatwakan oleh Ibnu Irfah yang menyatakan bahwa makanan yang dimasak dan di dalamnya terdapat kotoran tikus itu hukumnya suci. Begitu juga pendapat dalam Hasyiyah guru kami.

Jadi, cara menyucikan najis yang benar dan standar adalah: a) buang najisnya; b) siram dengan air mutlak.

Bekas siraman air dari najis hukmiyah adalah suci. Jadi tidak apa-apa kalau airnya melebar ke mana-mana.

BAJU NAJIS DI MESIN CUCI

Assalamualaikum Ustadz saya ingin bertanya mengenai najis

1.jika baju terkena ompol dan belum dibilas,lalu dimasukkan ke mesin cuci dengan beberapa baju yang suci,apakah semua baju terkena najis?meskipun 3 kali giling dan jika najis,apakah mesin cuci dan jemurannya ikut terkena najis?

2.ustadz,jika baju yang terkena ompol sudah di bilas namun cara bilasnya salah,caranya dengan baju diberi air lalu di putar sedikit lalu bajunya yag dinaikkan bukan airnya yang di keluarkan(tangan terkena rendaman) dan bajunya banyak,lalu diulang seperti itu sampai 2-3 kali,lalu ada beberapa baju yang sudah saya beri air dari kran karena takut jika masih ada najis,kemudian saya masukkan baju ke mesin cuci bersama pakaian suci lainnya,apakah pakaian suci terkena najis ustadz? dan mesin cuci dan jemurannya gimana?dan jika memang najis,lalu bagaimana dengan kloter baju selanjutnya yang di mesin cuci?syukron

3.jika kucing habis pup/pipis,dan pasirnya berserakan dilantai,apakah pasirnya najis?walaupun kadang tidak ada baunya.terimaksih ustadz

JAWABAN

1. Kalau mesin cuci otomatis, maka tidak masalah. Semua baju menjadi suci. Kalau mesin manual, maka najis menurut mazhab Syafi'i dan suci menurut mazhab Maliki apabila tidak berubah warna air. Baca detail: Cara Cuci Baju di Mesin Cuci

2. Sama dengan jawaban 1. Baca detail: Cara Cuci Baju di Mesin Cuci

3. Kalau pasirnya kena kencing atau pup, maka najis. Kalau tidak kena, maka tidak najis. Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan

NAJIS HUKMIYAH DICUCI DI MESIN CUCI

pertanyaan,tolong dijawab ustadz.Assalamualaikum ustadz saya ingin bertanya,jika najis hukmiyyah di cuci di mesin cuci bagaimana?saya memencet bilas,namun ada sedikit sabun yang ikut tercampur,pada hasil akhirnya airnya warnanya jernih agak kotor dan ada busa dikit lalu saya peras,bagaimana ustadz? syukron

JAWABAN

Tidak apa-apa. Hukumnya suci. Baca detail: Cara Cuci Baju di Mesin Cuci

Hukum air bekas menyucikan najis hukmiyah

Hukum air bekas menyucikan najis hukmiyah

Saya memiliki beberapa pertanyaan yang saya mohon jawaban, penjelasan, dan solusi nya.

1. Saya ingin menerapkan pendapat Imam Al Ghazali perkara air dan najis agar tidak talfiq saat menrapkan pendapat madzhab Syafi'i tentang najis ma'fu, dikarenakan pendapat beliau dekat dengan pendapat madzhab Maliki yang lebih ringan bagi saya yang menderita was-was qahry. Sementara saya belum mengerti jelas mengenai batasan najis ma'fu dalam madzhab Maliki, bila saya ingin menerapkan pendapat madzhab Maliki sepenuhnya. Saya membaca dari penjasan pihak Al Khoirot bahwa Imam Al Ghazali berpendapat air tetap suci selama tidak berubah warna, rasa, atau bau nya. Dan air tetap suci bila menyentuh najis yang sangat sedikit.

Saya sering mengalami saat mensucikan najis hukmiyah atau najis ukuran ma'fu, air ghusalah nya lepas dari tubuh dan jatuh menimpa najis hukmiyah atau najis ukuran ma'fu lain di bagian badan lain, kemudian menyebar ke lantai dll. Saya ingin menerapkan pendapat madzab Maliki tentang najis hukmi tidak menular untuk kemudahan, tapi di saat yang sama saya memerlukan konsep/pendapat najis ma'fu madzhab Syafi'i untuk menyikapi najis setitik di badan saya yang sempat lupa saya bersihkan dan terlanjur menyentuh pakaian dll.

Pertanyaan saya apakah dalam pendapat Imam Al Ghazali, air yang menyentuh najis hukmiyah, atau najis sangat kecil, dan tidak berubah sifat sama sekali, dihukumi suci tapi tidak mensucikan, atau dihukumi suci dan mensucikan? Saya berharap air ghusalah yang jatuh dan menimpa najis hukmi lain tersebut dihukumi suci dan mensucikan, tidak malah jadi menyebarkan najis hukmi atau mutanajjis ke mana-mana.

2. Saya saat ini masih menjalani pengobatan yang menyebabkan saya sering harus menggunakan salep di kaki saya. Sejujurnya salep ini cukup sulit dicuci bahkan dengan sabun.

Seandainya kaki saya yang bersalep ini tertimpa/menempel pada najis ainiyah dan tidak dibersihkan dengan tissue atau kain terlebih dahulu, langsung dicuci dengan air hingga najisnya bersih, namun sisa salepnya masih ada dan terasa lapisan tipis nya di kaki saya, bagaimana status hukum kaki saya dan air ghusalah yang terlepas dari kaki saya?

Karena air ghusalah dari kaki kanan umumnya menimpa kaki kiri dan sebaliknya, yang terjadi saya bolak balik mencuci kedua kaki, dan ini teramat sangat menghabiskan waktu dan air.

3. Saya disuruh pihak Al Khoirot untuk menentukan kesucian sesuatu dengan dugaan kuat dan tidak harus yakin 100%.

Masalahnya sebagai penderita was-was berat, sangat sulit bagi saya untuk mencapai kondisi dugaan kuat ini, terutama saat menyiram/membasuh najis dari bagian yang tidak terlihat mata, seperti lantai di bawah tubuh, telapak kaki, punggung dan bokong, belakang paha dan betis, atau (maaf) dubur saat melakukan siraman terakhir setelah najis ainiyahnya dihilangkan sebelumnya. Dalam kondisi tersebut saya sering terus menerus merasa air tidak mengena seluruh bagian yang harus disucikan secara merata, dan sulit sekali mendapat kondisi dugaan kuat bahwa air sudah mengena secara merata.

Situasi ini masih sangat sering menjebak saya hingga menghabiskan luar biasa banyak waktu (hingga lebih dari satu jam) dan air, terutama saat membersihkan najis yang tidak di ma'fu seperti setelah istinja buang air besar.

Saya paham bahwa caranya adalah dengan menghilangkan zat najis, lalu menyiram sekali terakhir, namun untuk mendapatkan dugaan kuat, bahwa siraman terakhir ini sudah merata mengenai najis dan tempat najis, sangat sulit bagi saya.

Saya terkadang memaksa diri menerima dan menganggap air sudah mengena rata, saat sebenarnya keraguan sangat kuat karena merasa air belum merata, dan kondisi dugaan kuat tidak juga tercapai setelah cukup lama, termasuk dengan menyebut lantang pada diri sendiri 'sudah rata', atau 'sudah kena'. Namun saya malah merasa khawatir sudah melakukan sesuatu yang dianggap menghalalkan hal haram dengan menyebut sesuatu yang masih najis sebagai suci.

Mohon solusi nya agar saya tidak menghabiskan banyak waktu dan air saat bersuci, dalam kondisi terus-terusan ragu dan kesulitan mendapatkan dugaan kuat tersebut.

Demikian pertanyaan-pertanyaan saya untuk kali ini. Saya sangat memohon jawaban, bantuan, dan solusi nya.

Atas segala kekurangan saya, saya mohon maaf. Dan saya haturkan terima kasih banyak.

JAWABAN

1. Air tersebut dihukumi suci dan mensucikan menurut sebagian pendapat dalam mazhab Syafi'i seperti Al-Mutawalli, dll. Dalam arti statusnya tidak berubah.

An-Nawawi dalam Roudotut Tolibin, hlm. 1/31, menjelaskan:

قال المتولي وغيره للماء قوة عند الورود على النجاسة فلا ينجس بملاقاتها بل يبقى مطهرا فلو صبه على موضع النجاسة من ثوب فانتشرت الرطوبة في الثوب لا يحكم بنجاسة موضع الرطوبة ولو صب الماء في إناء نجس ولم يتغير بالنجاسة فهو طهور فإذا أداره على جوانبه طهرت الجوانب كلها

Artinya: "Imam Mutawalli dan lainnya berkata air memiliki kekuatan ketika dialirkan ke najis. Maka air tidak menjadi najis karena bertemu dengan sesuatu yang najis akan tetapi ia tetap suci dan mensucikan. Umpama air disiramkan ke sesuatu bagian baju yang najis, lalu basahnya menyebar ke bagian baju yang lain, maka basah yang menyebar tersebut tidak dihukumi najis. Apabila air disiramkan pada suatu wadah yang najis dan air tersebut tidak berubah oleh najis maka status air tetap suci dan menyucikan (thahur). Apabila air itu diputar ke sekeliling wadah, maka seluruh kawasan wadah menjadi suci."

2. Kalau salepnya berupa benda padat, maka berarti najisnya menempel di permukaan salep. Cara menghilangkan najis cukup disiram di permukaan salep tersebut. Kalau salepnya masih ada tidak masalah. Dan air bekas menghilangkan najis hukmiyah hukumnya suci.

3. Kalau sudah yakin najisnya tinggal najis hukmiyah, maka dibasuh satu kali sudah cukup. Kalau masih ragu, maka ditambah satu kali lagi (menjadi dua kali) itu sudah mencapai tahap yakin. Tidak lagi dugaan kuat. Baca detail: Cara Menyucikan Najis Ainiyah dan Hukmiyah

Mengabaikan perasaan was-was itu bukan berarti menghalalkan yang haram. Justru itu perintah syariah. Dan justru selalu was-was dan selalu tunduk pada kemauan was-was itu malah mengabaikan perintah syariah. Baca detail: Cara Sembuh Was-was Najis, Wudhu, Mandi, Shalat

Talak 3 apakah bisa rujuk tanpa istri menikah dengan pria lain?

Talak 3 apakah bisa rujuk tanpa istri menikah dengan pria lain?

Bismillahirrahmaanirrahiim

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh,

Ustadz/Ustadzah, salam takzim, mhn maaf, mhn pencerahannya.

Butuh bantuan bgmn hukum syari'at atas kondisi Ikhwan akhwat ini.

Ikhwan akhwat ini menikah sirri, berpoligami. Akhwat tsb menjadi istri kedua tanpa sepengetahuan istri pertama.

Selang bbrp waktu krn Ikhwannya sempat mentargetkan di waktu tertentu untuk mengkondisikan istri pertama dan ternyata belum kunjung di penuhi, ternyata akhwat tsb tidak kuat krn blm disyiarkan dan tidak enak sama orang tuanya, ikhwannya juga blm bisa optimal mengkondisikan istri pertama, ikhwan ini infonya telah mengkondisikan istri pertama mengenai poligami sejak 3 tahun lalu tapi belum dilanjutkan optimal di kondisi pertama ini.

Situasi pertama, krn akhwat istri kedua tsb khawatir nanti terlalu lama tidak syiar, berpotensi fitnah dan khawatir istri pertama tahu mendadak, khawatir istri pertama guncang, maka istri kedua meminta di talak berkali-kali hingga sktr 15x, mendesak suami nya utk talak ,dan akhirnya di talak via WA meski suaminya ga berniat mentalak.

Kondisi kedua, kemudian mereka rujuk lagi krn memang mereka masih ingin memperbaiki dan kelak niat poligaminya disyiarkan, sambil istri pertama dikondisikan, Ikhwan tersebut mulai ikhtiar ketika istri pertama dicoba lg di kondisikan mengenai poligami, katanya agak guncang dan mengancam pisah, akhirnya suami dan istri kedua sepakat talak lg, tp yg kondisi kedua ini, talaknya baik-baik. Keduanya sepakat.

Kondisi ketiga, dan akhirnya mereka rujuk lg, namun selang beberapa waktu, karena istri kedua sempat sakit dan masih tidak kuat krn blm disyiarkan ngerasa bersalah kepada orangtua dan takut istri pertama marah dan berbuat yg tidak-tidak, akhirnya istri kedua ingin mundur dan memaksa lg berkali-kali utk ditalak, dan akhirnya suaminya mentalak lagi krn merasa dipaksa.

Keduanya menyesal krn sedang kondisi serba salah,

Awalnya mereka meyakini sdh 3x talak dan sdh tdk bs bersatu lagi, kemudian krn ikhwan tersebut merasa mentalak dalam kondisi di desak dan kesal. Akhirnya keduanya mencari informasi lebih rinci terkait hukum talak dalam kondisi kesal dan didesak apakah sah atau tdk, sumber informasi terlampir.

Mhn pencerahan Ustadz, apakah sdh jatuh talak 3 Oleh ikhwan tsb ke akhwat tsb? Krn ternyata mereka menyesal harus minta talak dan mentalak, keduanya sedang merasa serba salah.

Afwan ya Ustadz, mhn pencerahan utk bantu akhwat dan ikhwan ini, Ikhwan nya sdh minta akhwatnya utk bersabar krn Ikhwannya sedang usaha terus mengkondisikan istri pertama.

Qadarullah istri kedua tsb tdk kuat, sebetulnya mereka punya keinginan agar berpoligami secara optimal dan syiar. Setelah kejadian ini jika ternyata talaknya mgkn blm masuk talak tiga setelah baca artikel itu, mereka ingin segera lebih kuat mengkondisikan istri pertama.

Mhn pencerahannya Ustadz.

Apakah sdh jatuh talak 3?

Terima kasih banyak Ustadz/Ustadzah Jazakumullahu khayran katsiran.

Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

JAWABAN

Kasus di atas belum jatuh talak tiga. Baru jatuh talak 1 dan karena itu masih bisa rujuk.

URAIAN

Dalam kasus pertama tidak jatuh talak karena ucapan talak secara tertulis termasuk talak kinayah dan tidak jatuh talak apabila tidak disertai niat sebagaimana pengakuan suami. Baca detail: Cerai secara Tertulis

Dalam kasus kedua terjadi talak satu karena suami menyatakan talak dalam keadaan sukarela dan sadar. Baca detail: Cerai dalam Islam

Dalam kasus ketiga tidak jatuh talak karena suami menyatakan talak secara terpaksa. Baca detail: Talak Terpaksa

Dengan demikian, maka jatuh talak 1 saja. Dan bisa rujuk lagi. Baca detail: Cara Rujuk dan Masa Iddah

Was-was najis, bolehkah ikut mazhab maliki?

WAS-WAS NAJIS, BOLEHKAH IKUT MAZHAB MALIKI?

Assalamualaikum, ustadz saya mau nanya:

1. saya ini memiliki penyakit was-was yang cukup parah sampai nangis sendiri, disini bolehkah saya memakai mazhab maliki dalam soal air mustamal dapat mensucikan lagi dan soal najis maliki lainnya sedangkan masalah lain soal wudhu, mandi, sholat dan sebagainya saya ikut mazhab Syafi'i meskipun itu terjadi talfiq? Karena saya dengan mengikuti dua mazhab ini was-was terobati

2. Apakah 4 mazhab sepakat untuk tidak mencari-cari atau memastikan sesuatu itu najis jika tidak terlihat mata atau dilihat mata? Karena jujur saya suka memastikan apakah sesuatu itu najis atau tidka? Ini sangat membuat saya was-was parah

JAWABAN

1. Boleh. Tidak ada larangan bagi orang awam ikut berbagai mazhab yang sekiranya hal itu dapat menyembuhkan was-wasnya. Baca detail: Orang Awam Tidak Wajib Ikut Satu Madzhab

2. Ya. Tidak ada kewajiban untuk memastikan sesuatu itu suci atau najis. Apabila ragu, maka Anda cukup mendasari sikap soal suci dan najis pada kaidah fikih berikut: a) "Hukum sesuatu itu berdasarkan pada asalnya (الأصل بقاء ما كان علي ما كان)." Misalnya, apabila bertemu dengan pemilik anjing dan mengajak berjabatan tangan, anda tentu ragu apakah tangannya najis atau tidak. Maka, dalam hal ini tangannya dianggap suci sesuai dengan hukum asal seorang manusia yaitu suci.

b) "Keyakinan tidak hilang karena dugaan atau keraguan (اليقين لا يزول بالشك)." Misalnya, anda sudah berwudhu, lalu shalat. Di tengah shalat ragu apakah keluar kentut apa tidak. Maka, dianggap tidak kentut. Alias dianggap masih punya wudhu. Baca detail: Kaidah Fikih

HUKUM AIR BEKAS MENYUCIKAN NAJIS: SUCI ATAU NAJIS?

Assalamualaikum ustadz Saat ini saya masih dalam keadaan ocd waswas thaharoh

1. Ketika memasukkan mobil ke dalam garasi, lantai teras depan garasi banyak kotoran tikus dan dalam keadaan basah karena hujan otomatis ban kena sehingga membuat lantai garasi menjadi najis. Saat keadaan sudah kering tidak ada sesuatu pun seperti kotoran tikus di lantai garasi. Kalau saya menggunakan madzhab Maliki meskipun najis hukmiyah dalam keadaan basah sekalipun tidak dapat menularkan najisnya, apakah boleh saya menerapkan madzhab tersebut karena penyakit ocd saya?

2. Hukum kotoran cicak menurut berbagai madzhab bagaimana ya? Karena kalau saya menerapkan madzhab Maliki kan harus hewan yang halal yang suci kotorannya. Apakah saya boleh menerapkan pendapat yang mengatakan cicak itu tidak mengalir darahnya jadi di ma'fu kotorannya sementara saya terapi dengan madzhab Maliki?

3. Kesannya saya mencampur aduk berbagai pendapat fiqih bahkan lintas madzhab untuk diambil mudahnya saja. Memang ada pendapat bahwa harus ikut salah satu madzhab atau Qur'an dan hadist. Namun yang saya lakukan justru mengambil enaknya sementara saya ingin sembuh dari jeratan waswas ocd ustadz. Apa yang harus saya lakukan apakah benar langkah saya menggunakan terapi madzhab Maliki?

JAWABAN

1. Boleh. Tidak ada kewajiban untuk ikut satu mazhab bagi orang awam. Baca detail: Orang Awam Tidak Wajib Ikut Satu Madzhab

2. Hukum cicak baik kotoran maupun bangkainya adalah dimakfu (dimaafkan) menurut mazhab Syafi'i, sedangkan menurut mazhab Hanbali hukumnya suci. Anda boleh ikut pendapat ini. Walaupun di hal lain ikut Maliki. Baca detail: Kotoran dan Bangkai Cicak

3. Seperti dijelaskan di poin 1, tidak ada larangan untuk memilih pendapat berbagai mazhab apabila diperlukan. Seperti yang sedang anda alami saat ini. Adanya berbagai pendapat dalam soal najis ini justru menjadi solusi bagi orang yang sedang mengalami was-was seperti anda. Adanya sebagian ulama yang mensyaratkan ganti mazhab itu dalam konteks apabila tidak dalam kondisi darurat. Sedangkan anda termasuk dalam kondisi darurat. Baca detail: Hukum Ganti Madzhab menurut Wahbah Zuhaili

AIR BEKAS MENYUCIKAN NAJIS ITU TIDAK NAJIS

An-Nawawi dalam Roudotut Tolibin, hlm. 1/31, menjelaskan:

قال المتولي وغيره للماء قوة عند الورود على النجاسة فلا ينجس بملاقاتها بل يبقى مطهرا فلو صبه على موضع النجاسة من ثوب فانتشرت الرطوبة في الثوب لا يحكم بنجاسة موضع الرطوبة ولو صب الماء في إناء نجس ولم يتغير بالنجاسة فهو طهور فإذا أداره على جوانبه طهرت الجوانب كلها قال ولو غسل ثوب عن نجاسة فوقعت عليه نجاسة عقب عصره هل يجب غسل جميع الثوب أم يكفي غسل موضع النجاسة وجهان الصحيح الثاني والله أعلم.


"Imam Mutawalli dan lainnya berkata tentang kekuatan air yang didatangkan atas najis, maka air tidak menjadi najis karena bertemu dengan sesuatu yang najis akan tetapi ia tetap suci dan mensucikan. umpama air disiramkan ke sesuatu bagian baju yang najis, lalu basahnya menyebar ke bagian baju yang lain, maka basah yang menyebar tersebut tidak dihukumi najis. "

Monday, November 29, 2021

Bau sabun saat menyucikan najis apakah masih najis atau sudah suci?

BAU SABUN SAAT MENYUCIKAN NAJIS APAKAH MASIH NAJIS ATAU SUDAH SUCI?

Assalamualaikum.

Ustadz, saya tidak sengaja kencing di celana dalam. Saya cek ke celana luar tidak ada bekas basah. Tapi saya tetap mencuci celana luar dengan sabun. Saya bersihkan dulu bekas kencing di celana dalam dengan air lalu pakai sabun. Untuk celana luar, saya lupa apakah sama caranya atau langsung dicuci dengan sabun. Pertanyaan saya :

1. Apakah air & bau sabun yang masih menetes setelah penyucian najis, jadi najis & menyebar ke benda lainnya jika terkena air tetesan sabunnya?

2. Kasur tempat tidur memang kering, apakah saya sudah tepat tidak menyucikan kasur karna celana luar saya tidak ada bekas basah?

3. Saya pernah baca bahwa imam ramli tetap menganggap najis bau sabun jika digunakan untuk bersihkan najis, apa di madzhab syafi'i semua sepakat seperti itu?

Jazakallah Ustadz

JAWABAN

1. Celana dalam anda sudah suci karena sudah dibersihkan dengan air sebelum pakai sabun. Jadi tidak masalah. Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan

2. Tidak perlu menyucikan kasur kalau tidak ada bekas kencingnya. Kasur dianggap suci sebagaimana hukum asalnya.

3. Kasus anda berbeda. Seperti disebut di poin 1, celana anda suci sebelum pakai sabun. Jadi, apakah masih bau sabun atau tidak itu tidak ada pengaruh pada kesuciannya. Baca detail: Cara Menyucikan Najis Ainiyah dan Hukmiyah

TERSERAH KAMU, APA TERMASUK TALAK?

Assalamualaikum Selamat sore, saya ingin menanyakan beberapa hal 1. Suatu.ketika pernah terjadi pertengkaran, lalu istri bilang ndak usah jadi suami istri saja kalo begini Lalu saya karena marah, saya mengatakan terserah kamu saja ya. apakah ini termasuk talak taklik?

2. pada pertengkaran yang lain, karena sudah marah saya mengatakan, terserah mau mu saja....saya sudah nggak peduli. apakah ini termasuk talak taklik? mohon penjelasannya terima kasih

JAWABAN

1. Tidak termasuk talak taklik atau talak muallaq. Baca detail: Taklik Talak dan Cara Rujuk

2. Tidak termasuk talak taklik. Itu masuk kategori janji talak atau ancaman talak yang tidak berdampak cerai. Baca detail: Janji talak

SERTIFIKAT ATAS NAMA DUA ORANG SATUNYA MENINGGAL

Selamat pagi, Saya ingin bertanya mengenai sertifikan yg terdiri dari 2 nama ..kakak beradik, yg mana ke2 nya tidak menikah .(A & B ).dan salah satu namanya sudah meninggal. Saat ini rumah tersebut akan dijual. Bagaimana utk pengurusannya?.. Apakah cukup dengan akta kematian dari almarhum?.

Untuk A dan B masih memiliki saudara kandung, yg tidak tertera di sertifikat..apakah mereka memiliki hak waris dari pihak yg meninggal?.

Salah satu saudaranya memiliki anak disebut Keponakan.. Apakah akhirnya warisan ini utk keponakan..? Sedangkan pihak A tidak mau untuk memberikan bagiannya kepada keponakan..

Mohon bantuan dan solusi nya.. Terimakasih

JAWABAN

1. Urusan administriasi sertifikat tanah bukan bidang kami, silahkan anda konsultasi ke pihak yang punya otoritas di bidang ini.

2. Untuk masalah warisan, maka seluruh ahli waris berhak mendapatkan warisan dari kerabatnya yang meninggal. Sayangnya anda tidak menyebut siapa saja ahli waris yang hidup. Baca detail: Hukum Waris Islam

WARIS

assalamualaikum wr.wb kakak kandung saya bernama Ahmad Rizal Pramudianto meninggal dunia pada tanggal 18 Januari 2021. pada saat meninggal, statusnya menikah dengan istri yang kedua, karena istri yang pertama meninggal dunia. keadaan ahli waris utama :

1. ayah (sudah meninggal dunia 10 september 2006)
2. ibu (masih hidup)
3. istri pertama (meninggal tahun 2019)
4. istri kedua (masih hidup)
5. tidak ada anak dari istri kedua
6. anak kandung dari istri pertama (3 perempuan)
7. mempunyai saudara kandung se-ayah se-ibu (3 laki-laki dan 1 perempuan)
mohon bantuan untuk penghitungan bagian warisnya.
terima kasih. wassalamualaikum wr.wb

JAWABAN

Dalam kasus di atas pembagiannya sbb:

a) Ibu mendapat 1/6 = 4/24
b) Istri kedua mendapat 1/8 = 3/24
c) 3 anak perempuan mendapat 2/3 (untuk tiga orang) = 16/24
d) Sisanya 1/24 diberikan pada keempat saudara kandung dengan rincian: 3 saudara lelaki masing-masing mendapat 2/7; 1 saudara perempuan mendapat 1/7 (dari sisa 1/24) Baca detail: Hukum Waris Islam

Sunday, November 28, 2021

Apa beda antara janji, sumpah dan nadzar?

JANJI

Assalamualaikum

Saya mau bertanya :

1. Misalnya Saya pernah mengatakan begini sama diri saya sendiri, kalau saya beli MAKANAN pada hari jum'at murtadkan saya ya Allah, saya berjanji atau bersumpah seperti itu, pertanyaan saya :

A. Apakah saya sudah murtad karena saya melanggar janji atau sumpah saya tersebut ?, karena saya ternyata membeli makanan pada hari jum'at itu ?

B. Apakah status MAKANAN yang saya belikan pada hari jum'at itu menjadi haram karena saya melanggar janji atau sumpah saya ?

2. Ini masalah syubhat, ada uang diruangan tamu saya, saya ragu apa itu uang saya atau tidak, terus saya membelanjakan uang tersebut tanpa tau siapa yang punya uang itu, misalnya saya belikan makanan, pertanyaan saya :

A. Apakah halal makanan tersebut karena saya membelanjakannya dalam keadaan masih ragu status uang tersebut ?

B. Setelah beberapa hari saya baru tau kalau uang tersebut memang uang saya sendiri, apakah makanan saya itu halal karena saya membelanjakannya dalam keadaan masih ragu status uang tersebut ?

JAWABAN

1a. Sumpah yang diakui dalam Islam adalah sumpah dengan nama Allah. Sumpah atas nama murtad itu bukan sumpah dan hukumnya tidak sah. Nabi bersabda:

من كان حالفا فليحلف بالله أو ليصمت " متفق عليه

Artinya: Barang siapa yang bersumpah maka hendaknya ia bersumpah dengan nama Allah atau diam. (HR Bukhari dan Muslim)

Nabi bersabda:

من كان حالفا فلا يحلف إلا بالله " رواه النسائي

Artinya: Barangsiapa bersumpah maka hendaknya tidak bersumpah kecuali dengan nama Allah. (HR Nasai)

Yang anda katakan adalah janji. Dan janji apabila dilanggar tidak ada kewajiban apapun. Baca detail: Hukum Janji dalam Islam

Soal murtad, tidak sembarangan perilaku bisa berakibat murtad. Baca detail: Tiga Penyebab Murtad

Kalau pun berbuat murtad masih ada syaratnya agar murtad itu sah. Baca detail: Syarat Sahnya Murtad

1b. Tidak haram. Hukum asal dari makanan adalah halal. Dan tetap halal kecuali kalau ada bukti kuat atas kebalikannya. Misalnya, apabila uang atau makanan berasal dari perbuatan haram seperti mencuri. Baca detail: Kaidah: Yakin tidak hilang karena Asumsi haram

2a. Kalau uang itu berada di rumah sendiri, dan umumnya tidak ada tamu yang meletakkan uang di tempat tersebut, maka dugaan kuat adalah milik anda. Dengan demikian maka hukumnya halal. Baca detail: Kaidah: Yakin tidak hilang karena Asumsi haram

Baca juga: Hukum Harta Syubhat dan Cara Membersihkan Harta Haram

2b. Halal. Kalau sudah diketahui bahwa itu milik anda, maka kehalalannya sudah pasti.

TIDAK DIAMPUNI DOSA YANG TERANG-TERANGAN

Assalamu'alaikum saya pernah mendengar ceramah: "Alloh akan mengampuni segala dosa kecuali dosa yg dilakukan secara terang-terangan" contohnya seperti orang yg berzina tapi malah dia menceritakan kepada kawan-kawannya tentang perzinahannya itu.

pertanyaan saya:

1.apakah dosa orang itu benar-bensr sudah tidak diampuni?

2.bagaimana cara bertobatnya jika sudah terlanjur dia bercerita kepada banyak orang (bukankah alloh maha pengampun segala dosa)?

JAWABAN

1. Tidak diampuni kalau tidak bertaubat. Kalau bertaubat akan diampuni. Termasuk dosa syirik sekalipun. Baca detail: Dosa Murtad dan Syirik Tidak Diampuni?

2. Caranya dengan taubat nasuha. Baca detail: Cara Taubat Nasuha

MENYANYI LAGU ROHANI, APAKAH MURTAD?

Assalamualaikum Wr.Wb Permisi Saya ingin menanyakan sesuatu,jadi begini saya kan pernah mendengarkan lagu yang dibuat menjadi dj bahkan pernah beberapa kali menyanyikannya permasalahannya saya tidak tau kalau ternyata lagu yang dibuat menjadi dj itu adalah lagu rohani agama lain,nah pertanyaan saya apakah saya bisa dibilang orang yang (naudzubillah) murtad? Mohon untuk dijawab ustad karna hal ini membebani pikiran saya selama beberapa hari ini

JAWABAN

Tidak berakibat murtad apabila tidak menganggap agama tersebut sebagai agama yang benar. Karena agama yang benar satu-satunya adalah agama Islam. Apa yang anda lakukan tidak termasuk perbuatan yang berakibat murtad. Baca detail: Tiga Penyebab Murtad

Lagipula, anda melakukannya secara tidak sengaja. Itu cukup menjadi alasan untuk tidak sahnya perbuatan murtad bahkan seandainya yang anda lakukan merupakan salahsatu dari perbuatan yang berakibat murtad. Baca detail: Syarat Sahnya Murtad

Saturday, November 27, 2021

Cara meminta maaf pada orang yang dizalimi

Cara meminta maaf pada orang yang dizalimi

Assalamualaikum Wr. Wb.

Jika kita pernah berbuat dzolim kepada manusia hingga mereka menuntut kepada kita hari akhir, maka pahala yang kita miliki akan menjadi tebusan kepada orang yang kita dzolimi tersebut.

-Pertanyaan

Bolehkah kita niatkan pahala untuk para manusia yang pernah kita dzolimi? Sehingga apabila mereka menuntut kita kelak di akhirat, maka kita tidak akan mengalami pengurangan/kebangkrutan pahala.

Terimakasih, jika ada kesalahan dalam pertanyaan mohon dikoreksi. Assalamualaikum Wr. Wb.

JAWABAN

Meminta maaf pada orang yang dizalimi adalah cara yang disyariatkan apabila dosa yang dilakukan berkaitan dengan sesama manusia. Baca detail: Cara Taubat Nasuha

Apabila yang dizalimi tersebut sudah wafat atau tidak diketahui lagi lokasinya, maka perbanya istighfar (memohonkan ampun) untuknya, mendoakannya dan memperbanyak beruat kebaikan. Baca detail: Cara meminta maaf pada orang yang meninggal

MENYUCIKAN NAJIS ANJING

Assalamualaikum alkhoirot saya bersentuhan dengan anjing dan saya pun ingin membersihkan nya tetapi saya sudah mengunakan tanah di basuhan pertama dan baru menyiram nya 2x dengan air karna buru buru apakah sudah suci.

1. apakah najis nya sudah suci walaupun penyiraman belom 7x

JAWABAN

1. Kalau ikut pandangan mazhab Syafi'i, maka cara itu belum cukup. Harus dibasuh 7 kali. Baca detail: Cara Menyucikan Najis Anjing dalam Madzhab Syafi'i (Berbagai Pendapat)

Namun kalau ikut mazhab Maliki, yang menyatakan anjing hidup itu suci, maka yang anda lakukan tidak masalah. Baca detail: Najis Anjing Menurut Empat Madzhab

Terlepas dari itu, bersentuhan dengan anjing itu tidak otomatis najis. Najis baru terjadi kalau salah satu pihak ada yang basah atau kedua pihak sama-sama basah. Sedangkan kalau kedua pihak sama-sama kering, maka najis anjing tidak menular ke anda.

Juga, menurut mazhab Hanafi, bagian anjing yang najis itu hanya air liurnya saja. Sedangkan bagian yang lain tidak najis.

MENYUCIKAN NAJIS

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Kepada Yang Terhormat Pengasuh Konsultasi Syariah Islam Al-Khoirot dan Majelis Fatwa Pondok Pesantren Al-Khoirot

Dengan Hormat,

Saya memiliki beberapa pertanyaan yang saya mohon jawaban, penjelasan, dan solusi nya.

1. Dikarenakan kondisi medis saya yang tidak boleh tersentuh detergen pada kaki saya, sementara saya tinggal sendirian, saya terpaksa menggunakan jasa laundry untuk mencuci pakaian dan lain-lain. Masalahnya pakaian saya sudah banyak terkena najis yang tidak bisa dihilangkan dengan cara kering, dan saya tidak bisa mengirimkan cucian saya ke laundry dalam keadaan basah, seandainya saya mencuci pakaian saya dengan air saja untuk menghilangkan najis aini nya sebelum mengirim ke laundry.

Pertanyaan saya adalah, saya meminta laundry untuk membilas pakaian dan barang-barang saya dengan air saja sebanyak dua kali bilasan, setelah pencucian dengan detergen. Apakah ini cukup untuk mensucikan pakaian dan barang-barang saya untuk dipakai shalat? Apakah ada solusi untuk kondisi ini.

2. Bila bagian tubuh yang terlumur salep/krim terkena najis berukuran antara satu tetes hingga kurang lebih sebesar dua kuku tangan, dibersihkan dengan tissue lalu disiram air. Saat selesai, najis nya secara visual hilang, tapi lapisan salep nya masih tersisa tipis dan terasa licin. Apakah bagian tubuh tersebut sudah suci atau masih dianggap najis, dan bagaimana status percikan air ghusalah nya?

3. Apakah najis yang dima'fu di badan dan pakaian menular bila menempel pada benda lain seperti bagian tubuh, pakaian, kaca mata, bantal, selimut, kasur, lantai, dinding, handphone, dan lain nya?

Demikian pertanyaan-pertanyaan saya untuk saat ini. Saya sangat memohon jawaban, bantuan, dan solusinya.

Atas segala kesalahan saya, saya mihon maaf sebesar-besarnya. Dan atas segala perhatian, petolongan, dan bantuan yang diberikan, saya haturkan banyak terima kasih.

Hormat saya,

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

JAWABAN

1. Cukup dan baju sudah suci. Apa yang anda lakukan sudah tepat dengan meminta laundry membilas dengan air. Dan memang menyucikan najis itu tidak perlu pakai sabun. Baca detail: Cara Cuci Baju di Mesin Cuci

2. Dianggap sudah suci dan air ghusalahnya juga suci.

3. Iya tapi juga dimakfu. Baca detail: Najis yang Dimaafkan (Makfu)

Friday, November 26, 2021

Ibu selingkuh, anak stres bagaimana cara mengatasi?

IBU SELINGKUH, ANAK STRES BAGAIMANA CARA MENGATASI?

Assalamualaikum

Ibu saya kecanduan sosial media, padahal sudah saya larang, ibu saya malah minta buatkan akun facebook sama temannya, hebohnya minta ampun, tiap hari upload foto, tambah teman sana sini di facebook.

Sampai - sampai saya terkejut banyak laki-laki asing chat sayang-sayang dengan ibu saya, bahkan ada yang kurang ajar mengajak ibu saya tidur.

Saya sebagai anak bingung harus bagaimana, sementara dirumah, pendapat saya tak pernah dihitung, selalu diabaikan, hal ini memang belum saya ceritakan pada ayah saya, mengingat ayah saya gampang emosi.

Tak berapa lama, akun facebook ibu saya kena retas, kalau saya tidak salah ingat, ada sampai 2 atau 3 kali.

yang terakhir, ibu saya menonaktifkan nomor handphone nya, dia minta tolong sama bibi saya (adik ayah saya), untuk mengecek handphone ayah saya, bahwa kata ibu kepada bibi saya ada yang ingin mengirimkan foto wanita telanjang dan bagian kepala di edit menjadi kepala ibu saya, saya langsung panik setelah tahu dari bibi saya, kami buru-buru mengecek handphone ayah saya, dan tidak menemukan apapun.

Saya pikir ibu saya sudah jera, pernah tak sengaja saya mendengar ibu saya telponan dengan orang lain dengan panggilan " mama dan papa", saya curhat ke bibi saya, ternyata bibi saya juga pernah mendengar hal yang sama, sementara sama ayah saya tidak pernah menggunakan panggilan "mama dan papa". Intonasi suara ibu saya pelan, sedangkan pada umumnya intonasi suara ibu saya sangat kuat kalau bicara dan menelepon, dan ibu saya pernah menghindari saya ketika dia sedang menelepon.

Saya khawatir ibu saya ditipu, karena mana mungkin ada yang suka dengan perempuan kelahiran tahun 1966, sangat tua, kalau bukan karena ingin merampas uang ibu saya. Ibu saya ini sangat suka pamer jabatan, gelar dan lain-lain, terlebih lagi sangat senang kalau dipuji.

Saya jadi curiga setiap ibu saya pergi keluar rumah, saya khawatir ibu saya mengirimkan uang ke orang lain (masi menduga duga tidak ada bukti).

Setau saya kalau ibu saya pulang dari pasar pasti bawa sesuatu, baru-baru ini ibu saya mengaku pulang dari pasar tapi tidak beli apa-apa, saya jadi curiga ibu saya pergi ke atm dan mengirim uang.

Saya tidak yakin orang tersebut orang yang tinggal dikota yang sama dengan kami, tapi saya berharap saya bisa jumpa dengan orang tersebut dan menusuknya sampai mati.

Saya cukup stres memikirkan hal ini, yang ada dibenak saya adalah bagaimana saya bisa membunuh laki-laki ini, saya merasa tidak peduli dengan dosa dan hukum negara.

Terima kasih.

JAWABAN

Kekhawatiran anda pada ibu anda itu wajar. Itu tanda sayang. Namun harus diingat bahwa beliau adalah ibu yang harus dihormati. Bahkan seorang anak muslim tetap harus menghormati dan berbakti pada ibunya yang kafir. Tidak ada dosa yang lebih besar dari dosa kufur. Baca detail: Hukum Taat dan Berbakti pada Orang Tua

Selain itu, ayah anda masih ada. Dan beliau lebih berhak mengatur dan mendidik ibu anda daripada anda. Akan lebih ideal serahkan masalah ini pada ayah anda untuk mengurusnya.

anda lebih baik fokus pada apa yang sedang dilakukan saat ini. Kalau sedang sekolah atau kuliah, belajarlah lebih keras. Kalau sedang bekerja, maka lakukan pekerjaan lebih berdedikasi.

MAKAN GAJI BUTA?

Assalamualaikum WarahmatuLlahi Wabarakatuh

Para yai saya mau bertanya. Saya mengajar di salah satu lembaga.

Nah selain mengajar seharusnya ada juga tugas mengisi buku absen dan prestasi siswa. Akan tetapi mulai 2 bulan kemarin saya tidak mengisi absen dan buku prestasi. Dan baru saya sadari ternyata saya tidak melakukan pengajaran sesuai dengan metode yang diberikan oleh pengasuh.

Saya mengajar di sebuah ponpes, sebenarnya statusnya bukan gaji, lebih tepatnya bisyaroh.

Pertanyaannya.

1. Bagaimana status gaji saya? Apakah halal atau haram, mengingat saya juga bekerja tetapi ada sebagian tugas yang tidak saya laksanakan.
2. Gaji bulan kemaren sudah saya belikan barang. Apa status hukum barang tersebut? Andaikan haram adakah solusinya selain membuang barang tersebut? Terimakasih sebelumnya

JAWABAN

1. Status gajinya halal karena dari jenis kerja yang halal. Sedangkan tugas yang tidak dilaksanakan bisa dikomunikasikan pada lembaga terkait, meminta maaf dan mengakui kesalahan serta berjanji tidak akan mengulangi.

Selanjutnya, apabila pihak lembaga memaafkan dan tidak memotong bisyaroh, maka masalah dianggap selesai.

2. Lihat poin 1. Baca detail: Bisnis dalam Islam

Cara mengetahui najis hukmiyah

NAJIS DAN BERSUCI

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Kepada Yang Terhormat Pengasuh Konsultasi Syariah Islam Al-Khoirot dan Majelis Fatwa Pondok Pesantren Al-Khoirot

Dengan Hormat,

Saya memiliki beberapa pertanyaan yang saya mohon jawaban, penjelasan, dan solusi nya.

1. Saya mencuci kunci rumah yang sempat terkena sedikit mutanajjis saat dipegang oleh tangan saya yang sedikit basah kena air mutanajjis. Saat dicuci saya yakin kunci tersebut dalam keadaan kering, karena sudah dibiarkan tergantung mengering beberapa hari, dan saya memiliki dugaan kuat najis nya sudah berubah menjadi najis hukmiyah. Namun saya tidak pernah benar-benar mengkonfirmasi baik secara visual, bau, apalagi rasa. Saat di cuci, saya mengambil kunci tersebut dengan tangan yang terlapisi krim obat. Kemudian saya mencuci baik kunci tersebut dan tangan saya dengan air (ada bagian yang terpegang jari sehingga tidak terkena air), sabun, dan terakhir dengan air lagi. Namun cipratan air sabunnya (berjumlah banyak) jatuh terkena kaki-kaki saya yang tengah terluka dan juga dilapisi krim obat dan saat itu sedang sangat sakit, dan tanpa mencuci kaki saya pergi untuk bersiap ke rumah sakit.

Pertanyaan saya, apakah saya bisa berasumsi sesuatu dalam keadaan najis hukmiyah hanya dengan dugaan kuat dan pengetahuan (atau hanya dugaan) bahwa kondisi sesuatu tersebut kering, yang bila saya terapkan pendapat madzhab Maliki bahwa najis hukmiyah tidak menular sehingga celana dan kaki saya pun dalam keadaan suci? Ataukah dianggap masih najis ainiyah karena keadaan kunci sebelum dicuci tidak pernah dikonfirmasi secara visual dulu? Mohon jawaban dan penjelasan rinci nya, karena kadang saya mendapat kasus lain yang serupa, seperti lantai yang yang terinjak, yang sebelumnya terkena mutanajjis bening yang saya duga kuat sudah menjadi najis hukmiyah selewat waktu, tapi tidak saya konfirmasi ulang karena kaki saya sudah terlanjur basah dari tempat lain, sehingga sulit membedakan apakah jejak tersebut berasal dari basah sebelumnya atau berasal dari kaki saya yang basah setelah dicuci.

2. Bila bagian tubuh terpercik mutanajjis pada tempat-tempat yang terpisah, baik bila sebagian titik terkena banyak, dan di titik lain terkena sangat sedikit, atau semua titik terkena masing-masing sangat sedikit, Apakah semua yang di titik-titik yang terkena najis/mutanajjis sangat sedikit dan tidak dicuci masih dianggap sedikit dan di ma'fu? Dan secara umum bila di ma'fu, bila najis ma'fu menempel ke tempat lain seperti lantai, kasur, selimut dll, apakah benda lain tersebut tertular najis atau tidak? Saya pernah membaca bahwa darah nyamuk yang dima'fu di tangan, bila tangan tersebut masuk ke dalam sejumlah kecil air membawa darah nyamuk tersebut, air tersebut tetap menjadi najis.

3. Bila seseorang mendapat uang honor dari sebuah pekerjaan halal, namun honor tersebut dibayarkan lewat metode yang disengaja untuk menghindari pajak, misal lewat pekerjaan menjaga ujian masuk sekolah dan honornya dibayarkan secara tunai dan tidak lewat transfer bank untuk menghindari pajak, apakah honor tersebut halal, syubhat, atau haram?

Demikian pertanyaan-pertanyaan saya untuk saat ini. Saya sangat memohon jawaban, bantuan, dan solusinya. Atas segala kesalahan saya, saya mihon maaf sebesar-besarnya. Dan atas segala perhatian, petolongan, dan bantuan yang diberikan, saya haturkan banyak terima kasih.

Hormat saya, Iman Saputra

JAWABAN

1. Sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa penentuan najis hukmiyah atau ainiyah cukup dengan pandangan mata saja. Tidak perlu dicium. Jadi, kasus anda adalah najis hukmiyah. Baca detail: Najis Hukmiyah Madzhab Maliki

Tidak perlu kami jelaskan detail mengingat anda penderita was-was berat. Pertanyaan yang sama akan ditanyakan lagi walaupun sudah dijelaskan detail. Baca detail: Cara Sembuh Was-was Najis, Wudhu, Mandi, Shalat

2. Ya. Baca detail: Najis yang Dimaafkan (Makfu)

3. Halal. Kalau pekerjaannya halal, maka gajinya juga halal. Baca detail: Bisnis dalam Islam

MENYIRAM BEKAS NAJIS, APAKAH SUDAH SUCI?

Assalamualaikum ustad, saya mau bertanya, kemarin anak saya muntah dikasur tapi tidak terlalu banyak, lalu saya lap dengan kain kering, biasanya saya bantu menghilangkan baunya dengan hair dryer, tapi kemarin saya lupa dan hanya saya biarkan mengering dengan sendirinya. Lalu setelah kering dan masih ada baunya saya alirkan air mengalir.. Apakah sudah menjadi najis hukmiyah atau masih ainiyah karna masih ada sedikit baunya tercium? Sekarang status kasur saya bagaimana ya ustad? Terimakasih ustad, wassalamualaikum

JAWABAN

Kalau benda najisnya sudah hilang, maka aliran air itu sudah cukup. Adapun bau atau warna itu tidak masalah kalau sulit dihilangkan. Baca detail: Menyucikan Najis Masih Ada Warna dan Bau

Thursday, November 25, 2021

Cara mengobati was-was talak

MENGOBATI WAS-WAS TALAK

Ustadz semenjak saya tau kalau kata kinayah pun bisa mengakibatkan talak saya selalu di hantui perasaan takut ustadz takut kalau suami sempat terucap kalimat kinayah ada niatan

Pertanyaan

1.ustadz jika sedang berbicara dengan suami sedang bercakap cakap saja tapi di percakapan itu ada kata yang megarah ke kinayah tapi konteksnya bukan menyatakan talak ustadz hanya percakapan saja apakah bisa disebut talak kinayah ustadz kadang hanya berbicara dengan suami tapi kalau ada kata yang megarah ke kinayah selalu saya tanyakan maksud suami apa padahal suami selalu bilang tidak bermaksud apa apa tapi semenjak saya tau kalau kata kinayah bisa berakibat talak saya selalu takut ustadz bagaimana saya bisa membedakan mana talak kinayah mana bukan ustadz

2.saya selalu menanyakan ke suami apakah pernah ada niatan yang di larang maksudnya seperti cerai ustadz suami selalu bilang tidak ada niatan tapi saya selalu di hantui perasaan ragu ustadz bagaimana saya menghilangkan perasaan ragu saya ini ustadz

3.jika seorang suami sempat mengucapkan kalimat yang megarah ke kinayah tapi saat di tanya tidak pernah ada niatan yang di larang maksudnya kami sering menyebut ucapan cerai itu yang di larang ustadz karna pernah ada seorang yang menjelaskan kalau kata pisah cerai atau talak itu di larang diucapkan oleh suami jadi kami sering menyebutnya kata yang di larang saja tapi saat suami bilang tidak ada niatan saya masih ragu ustadz saya takut suami pernah ada niatan tapi bilang kalau gk ada niatan lalu dalam kasus saya ini bagaimana ustadz apakah ucapan suami yang bilang tidak ada niatan yang di anggap atau keraguan saya yang di anggap ustadz

JAWABAN

1. Kalau konteksnya di luar talak maka tidak jatuh talak. Bahkan ucapan talak sharih pun kalau diucapkan di luar pernyataan talak hukumnya tidak jatuh talak. Baca detail: Tidak semua talak sharih berakibat cerai 2. Ucapan suami harus dipercaya. Kalau dia bilang tidak ada niat, berarti memang tidak ada. Karena ucapan suami itu yang dianggap dalam syariah. Baca detail: Pengakuan Suami Soal Talak yang Dianggap

3. Lihat poin 2.

Juga, tidak ada larangan mengucapkan kata talak asalkan di luar pernyataan talak. Seperti bercerita yang mengandung kata talak itu tidak apa-apa. Baca detail: Cerita Talak

WANITA HAMIL ZINA, HARUSKAH MENIKAH DENGAN PRIA YANG MENZINAHI?

Assalamu'alaikum saya mau bertanya,, kira2 apa yg harus d lakukan seorang wanita jika wanita tersebut hamil d luar nikah kemudian telah hamil 6 bulan lalu d gugurkan tapi tetep d kuburkan layaknya manusia pada umumnya,

kemudian laki-laki ini berubah fikiran untuk tidak jadi menikahi wanita tersebut karna alasan sudah tidak betah dengan wanita tersebut karna sering terjadi pertengkaran d antara keduanya, apakah wanita tersebut harus tetep berusaha memperjuangkan haknya untuk d nikahi atau kah wanita tersebut harus mengikhlaskan laki-laki tersebut.

Apa hukum nya untuk kedua nya jika tidak jadi menikah..? Dan bagaimana nasib anaknya apakah dia bisa tenang atau tidak sedang kan dia sudah pernah berpesan (berbicara melalui orng yg lbh pintar) agar kedua orang tuanya bisa bersatu. Terimakasih wasalamualaikum

JAWABAN

Tidak apa-apa tidak menikah. Karena tidak ada kewajiban bagi pezina untuk menikah. Namun, kalau sekiranya perbuatan zina itu akan terulang lagi kalau tidak menikah, maka wajib menikah. Baik menikah dengan dia atau dengan pria yang lain sebagai bentuk taubat nasuha. Baca detail: Cara Taubat Nasuha

Yang berdosa adalah ketika berzina dan menggugurkan kandungan.

Nasib si anak serahkan pada Allah.

PERBEDAAN PENDAPAT NU DAN MU

Pertanyaan

1.ustadz jika saya bertanya ke beberapa ustadz di internet lewat wa atau email seperti ini masalah pernikahan saya padahal saya tidak kenal orang tersebut karna saya binggung harus bertanya kepada siapa dan katanya pernikahan saya belom jatuh talak apakah saya boleh mengikuti pendapat beberapa ustadz tersebut ustadz padahal saya tidak kenal

2.misalkan saya mengikuti pendapat orang yang tidak saya kenal dan orang tersebut memberikan saya pendapat tapi pendapat itu sebenarnya salah tapi saya tidak tau apakah saya berdosa ustadz

3.saya adalah NU ustadz dan katanya NU adalah mahzab imam syafii tapi setiap saya membaca kajian atau ceramah yang ada pendapat lain yang menurut saya sesuai dengan keadaan saya apakah saya boleh mengikuti pendapat mahzab lain ustadz

JAWABAN

1. Boleh asalkan pendapatnya itu didasarkan pada rujukan kitab-kitab klasik dari para ulama mujtahid. Bukan ngarang sendiri. Contohnya, lihat cara kami menjawab di artikel berikut: Baca detail: Menonton film dewasa 40 hari shalat tidak diterima

2. Makanya, pendapat seorang ustadz itu bisa saja benar bisa saja salah. Maka, harus diperkuat dengan rujukan literatur kitab para ulama. Anda tentunya tahu, bahwa dalam artikel jurnal baru disebut ilmiah kalau setiap pertanyaan disertai rujukan pada buku terkait. Demikian juga dengan jawaban masalah agama. Seorang ustadz atau yang mengaku ustadz tidak boleh bicara hukum tanpa rujukan.

3. Tidak benar NU hanya madzhab Syafi'i. NU itu menganut empat mazhab yaitu Syafi'i, Maliki, Hanafi dan Hanbali. Hanya saja yang umum digunakan di Indonesia mazhab Syafi'i terutama terkait ibadah sehari-hari. Namun untuk masalah yang lebih rumit, ulama NU juga mengambil rujukan dari mazhab yang lain. Baca detail: Kriteria Ahlussunnah Wal Jamaah

DIJAWAB PENGASUH ALKHOIROT

Pertanyaan

1.apakah benar email ini di jawab resmi dari pegasuh pondok pesantren al khoirot

2.saya sudah menceritakan masalah saya ke email al khoirot tentang talak di semua cerita saya tidak ada yang termasuk jatuh talak padahal saya tau tentang al khoirot hanya melalui internet saja karna katanya melayani tanya jawab lewat email makanya saya sering bertanya saya juga tidak megenal satu orang pun dari pondok al khoirot saya hanya tau dari membaca di internet saja apakah dengan kejadian saya ini saya boleh mengikuti pendapat al khoirot di beberapa pertanyaan yang sudah saya ajukan di email al khoirot

JAWABAN

1. Benar.
- Profil pengasuh
- Akidah pesantren

2. Boleh. Apalagi setiap jawaban disertai dalil. Baca: Tim ahli KSIA

Wednesday, November 24, 2021

Benda kecil di bawah kuku kaki, apakah wudhu sah?

BENDA KECIL DI BAWAH KUKU KAKI, APAKAH WUDHU SAH? Terimakasih kasih atas jawabannya ustadz. Mohon maaf sebelumnya Ustadz, ada yang ingin saya tanyakan lagi. Saya Nur dari Pontianak. Dulu setelah wudhu saya ada yg mengganjal dibawah kuku kaki saya saya pikir mungkin ada kotoran dibawah kuku tapi setelah saya coba buang menggunakan kuku tangan tidak ada apa-apa akhirnya saya sholat dan tidak mengulangi wudhu. Kemudian beberapa waktu yang lalu saya merasakan hal yg sama lagi di kuku kaki saya setelah wudhu. Karena pengalaman sebelumnya saya pikir itu juga hanya perasaan saya saja jadi tidak saya cek dibawah kuku saya kebetulan itu belum hari Jum'at jadi saya belum potong kuku. Dan setelah sholat rasa mengganjal dibawah kuku hilang. Beberapa hari kemudian muncul lagi rasa mengganjal dibawah kuku, saya akhirnya mencoba menghilangkan kotoran menggunakan kuku tangan saya melihat ada kotoran warna putih saya pikir itu kulit kering yang kena air sehingga pas di korek menggunakan kuku tangan ia lepas. Akhirnya saya melanjutkan sholat tanpa wudhu. Setelah sholat rasa mengganjal dibawah kuku itu hilang. Kemudian pas hari Jum'at saat saya potong kuku ternyata dibawah kuku yg sering terasa ada yang mengganjal itu ada kotoran seperti sebutir pasir. Jadi saya langsung kepikiran apa ini yang membuat dibawah kuku saya terasa ada yang mengganjal. Tapi kemudian saya ragu jika memang ini yang menyebabkan terasa ganjalan di kuku mengapa tidak terasa sepanjang waktu hanya pada waktu tertentu saja. Yang saya takutkan adalah bagaimana jika selama ini rasa ganjalan tersebut disebabkan oleh kotoran tersebut bearti wudhu saya selama ini tidak sah. Yang ingin saya tanyakan 1. Bagaimana status wudhu saya selama ini apakah sah atau tidak? 2. Apakah saya harus mengulangi semua sholat saya selama seminggu ini? Terimakasih ustadz JAWABAN 1. Status wudhu sah karena penyebab ganjalan itu tidak jelas. Sedangkan wudhunya sudah pasti. Kalau pun di dalam kuku ada kotoran kecil asal tidak najis hukumnya tidak masalah. Dimaafkan. Baca detail: Kotoran Kuku dan Koreng jadi Penghalang Mandi dan Wudhu? 2. Tidak perlu. RAGU PADA SYARIAT APA MURTAD? Assalamualaikum, permisi saya ingin bertanya 1. Apakah bisa murtad hanya dengan berkata "tidak wajib sholat bagi anak kecil" dengan maksud sholatnya adalah sholat fardhu? 2. Bagaimana jika kita sudah belajar mengenai suatu syariat Islam (Alquran dan lain-lain), lalu dikemudian waktu teringat kembali, namun ragu-ragu mengenainya (lupa-lupa ingat)? Jika mengikuti perasaan ditakutkan salah dan berdampak pada keimanan tapi jika tidak mengikuti kata hati seperti meragukan Islam. 3. Bagaimana sikap yang harus diambil jika kejadian nomor 2 terjadi lagi? Mohon bantuan dan balasannya. Terimakasih. Wassalamualaikum JAWABAN 1. Tidak murtad. Karena shalat memang tidak wajib bagi anak kecil. 2. Kalau lupa akan ilmu yang dipelajari maka tidak masalah. Bisa membuka kembali. Namun perlu diingat, orang awam sebaiknya belajar ilmu fikih terlebih dahulu yang berkaitan dengan shalat, bersuci, dan puasa. Ini yang hukumnya fardhu ain. Baca detail: Tiga Jenis Ilmu Agama 3. Tidak masalah. Tidak sembarang perbuatan berakibat murtad. Baca detail: Tiga Penyebab Murtad Kalaupun suatu perbuatan masuk kategori murtad, masih ada syarat lain bagi pelakunya untuk dianggap murtad. Antara lain, perbuatan itu dilakukan secara sengaja dan bukan karena was-was. Baca detail: Syarat Sahnya Murtad MELIHAT AURAT TIDAK DITERIMA SHALAT 40 HARI Assalamualaikum Ustadz mau bertanya Apakah benar jika kita melihat Aurat orang lain shalat kita tidak diterima 40 hari? Karena saya menemukan hadist ini: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : “من نظر إلى عورة أخيه متعمدا لم يقبل الله له صلاة أربعين يوما ، ولم تستجب له دعوة أربعين صباحا” (أنظر ص : ٨٣ [كتاب روح السنة و روح النفوس المطمئنة لسند العارفين وقطب المحررين سيدي أحمد بن إدريس رضي الله عنه] مجموعة أحزاب و أوراد ورسائل ، تأليف و جمع قطب دائرة التقديس السيد أحمد بن إدريس الحسني المغربي من أكابر أولياء و علماء القرن الثالث عشر للهجرة المولود: ١١٧٢-١٢٥٣ هجرية) Artinya: Rasululah Saw bersabda : “Barangsaiapa melihat ‘aurat saudaranya (melihat gambar/film dewasa, dll) dengan sengaja, tidak diterima Allah Swt Shalatnya selama 40 hari, dan tidak diterima do’anya selama 40 subuh (hari)” (Lihat halaman: 83 Kitab Ruh As-Sunnah wa Ruh An-Nufus Almuth-mainnah Sanad Saidi Ahmad bin Idris r.a Alhasani Almaghribi) Apakah Hadist Ini benar adanya Atau Palsu? JAWABAN Hadis itu palsu. Baca detail: Menonton film dewasa 40 hari shalat tidak diterima