Wednesday, May 18, 2022

Cara penularan najis ke benda suci

Cara penularan najis ke benda suci

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh pak Ustadz saya Dian Aryani.

Tadi pagi saya melihat ada kencing kucing pada motor suami saya di bagian tempat menaruh kaki (motor matic),lalu saya bersihkan motor suami saya yg terkena najis tsb. Suami saya mungkin tidak tahu ada najis pada motornya. Yang saya ingin tanyakan adalah :

1. Apakah sendal yg dipakai suami saya termasuk terkena najis karena pasti sendal tsb menempel pada najis tsb?

2. Apakah lantai yg diinjak oleh suami saya menjadi najis karena sendal tsb menginjak lantai teras rumah?

3. Apakah kaki saya menjadi terkena najis karena saya menginjak lantai teras rmh saya tsb dalam keadaan basah dan kaki saya sudah menginjak kemana mana?

Mohon jawabannya pak Ustadz...terimakasih... Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

JAWABAN

1. Perlu juga dilihat, apakah najis kencing itu masih terlihat (yang berarti najis ainiyah) atau sudah hilang bekasnya tapi belum dibasuh air (yang berarti najis hukmiyah).

Apabila najis ainiyah, maka kalau salah satu dari sandal atau kencing itu basah, maka najis. Najis bisa menular kalau salah satu pihak ada yang basah. atau basah kedua-duanya.

Perlu juga dipertimbangkan pandangan mazhab Hanafi, di mana najis yang sedikit yang tidak lebih dari sebesar koin itu dimaafkan. Kalau ikut pendapat ini maka hukumnya dimakfu walaupun ainiyah dan basah.

Apabila najis hukmiyah, maka menurut mazhab Maliki, najisnya tidak menular walaupun basah. Baca detail: Najis Hukmiyah Madzhab Maliki

2. Lihat jawaban 1.

3. Lihat jawaban 1. Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan

WAS-WAS KENCING NAJIS

Assalamualaikum ustad. Saya mau bertanya. Saya ini termasuk orang yang sangat was was ustad. Saya punya keponakan yang kalau kencing meskipun pake pempers itu suka tembus ke lantai rumah ustad, karena saya waktu itu tidak tahu cara membersihkan najis itu saya hanya mengepelnya dengan lap basah dan saya pikir sudah suci.

Tapi ketika saya sedang membaca kajian di internet harusnya najis kencing membersihkannya dikeringkan dulu lalu disiram air. Saya langsung kaget, saya waswas. Berarti selama ini najisnya menyebar seluruh lantai, kasur, dan lainnya karena kan sudah terinjak kaki basah.

Saya bingung, apakah rumah saya harus disiram semua menggunakan air? Lalu bagaimana kasur yang terkena apakah harus disiram juga? Tapi saya takut dianggap gila karena orang tua saya sudah biasa membersihkan najis kencing hanya di lap katanya sudah suci, sedangkan saya sholat pakai mahzab imam syafi'i dan menurut mahzab tersebut najis hukmiyah bisa berpindah bila diinjak kaki basah.

Saya harus bagaimana sungguh was was sampai sering menangis. Ibadah tidak tenang. Tapi lihat komen di youtube katanya jika was was boleh mengambil pendapat mahzab lain yaitu mahzab maliki yang menyebutkan najis hukmiyah tidak menyebar jika diinjak kaki basah.

Apakah boleh perihal najis ini mengikuti mahzab maliki dan saya sholat dengan tatacara mahzab syafi'i? Mohon bantuannya ustad saya benar benar ingin sembuh. Saya benar benar lelah. Saya ingin ibadah saya tenang ustad. Terimakasih. Waalaikumsalam Wr.Wbm

JAWABAN

Boleh. Tidak ada kewajiban bagi orang awam untuk ikut satu mazhab saja. Baca detail: Orang Awam Tidak Wajib Ikut Satu Madzhab

Monday, May 09, 2022

Setelah mandi terasa ada yang keluar dari kemaluan apa wajib dicek?

Setelah mandi terasa ada yang keluar dari kemaluan apa wajib dicek?

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh saya mau bertanya tentang penyakit was was. Ketika saya habis mandi dan saya memakai baju terasa ada yg keluar dari kemaluan, menurut saya keluar nya di tengah" Kemaluan tapi saya menghiraukan itu apakan pakaian saya terkena najis sholat saya diterima? Apakah itu was was?

JAWABAN

Tidak ada keharusan bagi kita untuk melihat kemaluan kita setelah mandi atau setelah istinjak (cebok, bersuci). Kalau terasa ada sesuatu yang keluar, maka hendaknya diabaikan saja. Tidak perlu dilihat. Ini untuk menghindari was-was dan merupakan cara sembuh dari was-was.

Dalam Mauqi Sual wa Jawab, hlm. 5/591, dijelaskan:

لا يؤمر المسلم بعد الوضوء أن يفتش عن نفسه هل خرج منه شيء أم لا؟بل عليه أن يستنجي ثم يرش على فرجه شيئاً من الماء، حتى لا يفتح على نفسه باب الوسواس، ثم يتوضأ ويصلي، ولا يلتفت لما يلقيه الشيطان في نفسه أنه خرج منه شيء.وقد سئل الحسن البصري رحمه الله عما يجده الرجل من البلة بعد الوضوء والاستنجاء فقال: (الْهُ عنه) أي: لا تشتغل به ولا تهتم به.

Artinya: Muslim tidak diperintah setelah wudhu untuk memeriksa dirinya apakah keluar sesuatu atau tidak (dari kemaluannya). Bahkan hendaknya ia melakukan istinjak (cebok) lalu disiram kemaluannya dengan sedikit air sehingga tidak membuka diri pada perilaku was-was (artinya, kalau di kemaluan ada air, maka air itu bisa dianggap sebagai air yang kita siramkan. dan itu tidak najis dan tidak membatalkan wudhu - admin). Lalu wudhu dan shalat. Dan hendaknya tidak menoleh pada bisikan setan bahwa ada sesuatu yang keluar (baik berupa kentut atau kencing). Al-Hasan al-Bishri pernah ditanya tentang perkara basah yang ditemukan seseorang setelah wudhu dan istinjak. Ia menjawab: abaikan. Yakni, jangan menyibukkan diri dengan itu. Baca detail: Cara Sembuh Was-was Najis, Wudhu, Mandi, Shalat

Terkait adanya air setelah mandi itu bisa dianggap sebagai air dari sisa mandi yang hukumnya suci dan tidak membatalkan wudhu. Dengan demikian maka shalat anda sah. Baca detail: Shalat 5 Waktu

Shalat di atas najis hukmiyah

Assalamualaikim akh. Saya mau nanya, apa hukumnya sholat di atas najis hukmiyah menurut mazhab imam malik? Karna saya ketemu tulisan ini akh "Najis hukmiyah menurut madzhab Maliki tidak menular najisnya. dengan kata lain sudah dianggap suci.

JAWABAN

Menurut salah satu pendapat dalam mazhab Maliki, adanya najis saat shalat itu tetap sah shalatnya. Baca detail: Ada najis saat Shalat

Sunday, May 01, 2022

Mengambil uang Bos karena Kerja Tidak Dibayar

GAJI TIDAK TENTU

Asalammualaikum ustadz saya mau bertanya

Ustadz temen saya bekerja di lapak buah sebagai pedagang namun bos buah tempat dia bekerja ini tidak menentu memberi dia gaji kadang 3 bulan kerja cuma di kasih gaji 600.000 karna sepeti itu gajinya teman saya punya pemikiran untuk mengambil uang jatah rokok dari hasil penjual buah tadi untuk di tabungnya padahal dia tidak merokok misalnya satu hari dia menyisihkan uang sebesar 50.000 dari hasil penjualan buah tadi untuk dia tabung karna teman''nya yang lain merokok dan membeli rokok dengan uang penjualan tersebut Sedangkan dia tidak merokok karna meraka makan,minum serta membeli rokok menggunakan uang hasil penjualan itu.

yang saya mau tanyakan bagaimana dengan uang yang teman saya tabung itu apakah uang tersebut halal atau haram karna dia menyishkan uang tersebut tanpa sepengetahuan bosnya

JAWABAN

Gaji karyawan tentunya berdasarkan pada kesepakatan yang dibuat sebelumnya. Kalau juragan tidak menepati kesepakatan itu, maka karyawan berhak untuk meminta atau menuntutnya karena itu haknya. Dan bos harus memenuhi kewajibannya. Kalau bos tetap tidak memenuhi hak karyawan, maka karyawan boleh mengambil sebesar haknya. Sebagaimana istri boleh mengambil / mencuri uang suami yang tidak memberi nafkah pada istrinya.

Dalam sebuah hadits sahih riwayat Bukhari Muslim Rasulullah mengijinkan Hindun—seorang istri yang tidak mendapatkan nafkah dari suaminya yang bernama Abu Sofyan-- untuk mengambil harta milik suami tanpa sepengetahuannya dengan catatan, mengambil seperlunya. Dalam bahasa Nabi, “Ambillah secukupnya dari harta suamimu untukmu dan anakmu.” (HR Bukhari no. 5049; Muslim no. 1714).

Teks hadits dari kitab Sahih Bukhari sbb:

باب إذا لم ينفق الرجل ‏فللمرأة أن تأخذ بغير علمه ما يكفيها وولدها بالمعروف عن عائشة أن هندا بنت عتبة ‏قالت يارسول الله إن أبـا سفيان رجـل شحيـح وليس يعطيني ما يكفيني وولدي إلا ما أخذت ‏منه وهو لا يعلم . فقال خذي ما يكفيك وولدك بالمعروف

Artinya: Bab (membahas tentang) Apabila Suami tidak memberi nafkah pada istrinya maka istrinya boleh mengambil harta secukupnya untuk keperluan istri dan anak tanpa sepengetahuan suami. Dari Aisyah bahwa Hindun binti Utbah berkata Wahai Rasulullah Abu Sufyan adalah seorang lelaki yang pelit dia tidak memberiku dan anakku nafkah kecuali harta yang kuambil tanpa sepengetahuannya. Nabi bersabda, "Ambillah harta yang cukup untukmu dan anakmu secara baik." Baca detail: Bisnis dalam Islam

MUAMALAH/BISNIS:

Assalamualaikum Ustadz

1.Dulu saya pernah menjual hp bekas saya pakai, sekitar 4 kali saya melakukannya bila ingin mengganti hp, dan sekarang saya merasa pernah berbohong tentang harga awal saya beli hp tersebut, masalah kondisi barang saya yakin jujur. tetapi saya tidak benar2 yakin saya berbohong, seperti pernah tapi ragu.

Kemudian saya belikan kembali uang hasil penjualan tersebut dengan hp baru. Yang ingin saya tanyakan apakah sah jual belinya, dan apakah halal hp baru itu saya gunakan sehari-hari, dan bagaimana cara bertobatnya dengan perbuatan tersebut bila saya benar pernah berbohong?

2. Pak Ustad, bagaimana hukumnya membeli barang online tapi sinyalnya menggunakan wifi orang lain tanpa izin, atau misal membeli barang kepasar dengan menggunakan motor curian, apakah jual belinya sah, dan apakah barang yang dibeli tadi halal digunakan,,, bagai mana cara tobat dari perbuatan tersebut?

Terima kasih sebelumnya.

JAWABAN

1. Jual belinya sah apabila kedua pihak sama-sama rela dan tidak keberatan. Apalagi anda tidak yakin soal pernah bohong tersebut. Baca detail: Bisnis dalam Islam

2. Jual belinya sah. Soal pakai wifi orang lain itu haram dan sebaiknya anda meminta ijin pada pemiliknya. atau motor curian untuk beli barang, jual belinya sah. Baca detail: Bisnis dalam Islam x

Sunday, April 24, 2022

Hukum menelan ludah saat puasa apakah batal?

LUDAH SAAT PUASA RAMADAN Assalamualaikum. Saya mau bertanya, Jadi saya rada kesusahan pada saat puasa terutama wudhu karena saya harus meludah agar air tidak masuk. Nah, karena meludah itu ada sisa ludah di bibir jadinya saya juga kebingungan takutnya ludahnya masuk jadinya saya meludah lagi dan tersisa lagi di bibir dan mengulang mengulang terus seperti itu.

Akhirnya saya nanya ke mentor pengajian saya katanya lap saja pakai kain. Nah terus saya lap. Ada ujung kain yang terkena ludah didalam dan menurut Beberapa website seperti NU (https://islam.nu.or.id/post/read/90696/hukum-menelan-air-ludah-bagi-orang-yang-berpuasa) boleh menelan ludah asalkan tida merubah warna dan juga ada beberapa ulama yang bilang boleh menelan ludah sehabis siwak yang berarti ludah yang ada didalam mulut kalau terkena siwak tidak apa apa kalau ditelan (menurut pemahaman saya) jadi saya telan ludahnya.

Pertanyaan saya benarkah cara saya? Apakah membatalkan puasa apa yang saya lakukan karena saya masih bimbang batal atau tidak.

JAWABAN

Benar. Ludah yang masih di dalam mulut dan belum keluar mulut boleh ditelan saat puasa. Baca detail: Menelan Ludah dan Dahak saat Puasa

PUASA

Assalamualaikum ustadz Langsung saja saya ingin bertanya masalah ragu dalam batal nya puasa yang saya jalani: 1.saya seorang muslimah punya masalah yang mana ketika solat, saya mengeluarkan angin dpari kemaluan depan, karena itu saya sering menjepitkan celana dalam saya pada area kemaluan,agar angin dari luar tidak masuk ke rongga kemaluan sehingga menghasilkan keluarnya angin seperti kentut di kemaluan depan.

Pertanyaan: Bagaimana hukum nya ketika saya menjepitkan celana dalam saya ke area kemaluan ,apakah termasuk hukum memasukan sesuatu ke qubul yang dapat membatalkan puasa,namun saya tidak memasukan celana dalam pada lubang rongga tersebut,hanya sekedar menjepitkan di tengah lubang tersebut?

2.saya sudah terbiasa ketika beristinja buang air besar dengan memasukan jari kedalam lubang dubur ,pada saat puasa saya sudah mencoba berhati hati ketika beristinja buang air besar agar tidak memasukan jari saya ,namun entah saya kurang fokus ,dan tak sadar,benar benar tidak sengaja saya memasukan jari saya ke lubang dubur,seketika itu juga saya langsung mengeluarkan jari tersebut pada dubur.

Pertanyaan: Batal kah puasa saya karena ,kurang fokus,dan tak sadar ,dalam keadaan tidak sengaja memasukan jari saya ke dubur ketika beristinja buang air besar?

3.pada suatu hari , waktu subuh saya ingin mengerjakan solat ,saat ingin mengerjakan solat saya iseng meletakan lidah saya pada sekitar gigi,dan saya merasa seperti ada sesuatu yang menyangkut di gigi, namun sulit untuk di buang jika menggunakan lidah,lalu saya memutuskan untuk solat terlebih dahulu baru setelah itu memastikan adanya sisa makanan dan membuangnya pada sela gigi,namun setelah saya solat subuh saya merasa tidak ada lagi makanan di gigi saya,apa sudah tertelan atau apa saya tidak tau,yang mana sebelum itu saya merasa ada sesuatu yang kecil ,agak keras menempel pada sela gigi.

Pertanyaan: Batal kah puasa saya ketika saya mendapati makanan tersebut sudah tidak ada lagi di sela gigi,dan mungkin tertelan?

JAWABAN

1. Tidak batal puasanya. Baca detail: Lubang kemaluan kemasukan air saat puasa

2. Tidak batal. Baca detail: Lubang kemaluan kemasukan air saat puasa

3. Tidak batal apabila tidak jelas apakah makanan itu ditelan atau tidak. Asumsi mungkin tertelan ini tidak dianggap. Baca detail: Saat Ragu, Status Benda kembali ke Hukum Asal

Friday, April 22, 2022

Tidak puasa karena dilarang perusahaan, apa bisa membayar fidyah?

Tidak puasa karena dilarang perusahaan, apa bisa membayar fidyah?

Assalamualaikum ustad saya seorang wanita yang bekerja di luar negeri saya ingin menanyakan mengenai pembayaran fidyah di tempat saya bekerja,saya tidak di perbolehkan berpuasa saya pernah mencoba sembunyi sembunyi untuk berpuasa juga ketahuan,

lalu saya pikir untuk membayar fidyah sebagai ganti puasa Ramadan yang terlewat,lalu saya mencoba konsultasi dengan teman saya, teman pertama,beliau ada di Indonesia ,menjawab kalau kondisi saya tetap harus mengganti hari puasa dan tidak di perbolehkan membayar fidyah

teman kedua,beliau ada di negara tempat saya bekerja dan mengetahui kondisi di sini, menjawab boleh membayar fidyah, daripada tidak bisa menjalankan puasa, tidak memungkinkan membayar ganti hari,dan tidak membayar fidyah urusan di terima atau tidak kita pasrah pada Allah saja

menurut Ustad,mana yang sebaiknya saya lakukan? terima kasih atas waktu nya wassalamualaikum

JAWABAN

Pendapat teman anda yang pertama adalah benar. Mayoritas ulama menyatakan wajib mengqadha puasa Ramadan yang ditinggalkan secara sengaja tanpa udzur syar'i. Sebagaimana yang terjadi dalam kasus anda.

Ibnu Abdil Bar dalam al-Istidzkar, hlm. 1/77, menyatakan:
" وأجمعت الأمة ، ونقلت الكافة ، فيمن لم يصم رمضان عامداً وهو مؤمن بفرضه، وإنما تركه أشراً وبطراً، تعمَّد ذلك ثم تاب عنه : أن عليه قضاءه " انتهى من "الاستذكار" (1/77).

Artinya: Ulama sepakat bahwa orang yang tidak puasa Ramadan secara sengaja, maka wajib baginya untuk mengqadha-nya. Dia tetap muslim, dalam arti tidak murtad, apabila ia tetap percaya atas wajibnya puasa dan bertaubat.

Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni, hlm. 4/365, menyatakan:

" لَا نَعْلَمُ فِي ذَلِكَ خِلَافًا ؛ لِأَنَّ الصَّوْمَ كَانَ ثَابِتًا فِي الذِّمَّةِ ، فَلَا تَبْرَأُ مِنْهُ إلَّا بِأَدَائِهِ ، وَلَمْ يُؤَدِّهِ ، فَبَقِيَ عَلَى مَا كَانَ عَلَيْهِ " انتهى

Artinya: Kami tidak tahu adanya perbedaan ulama (soal wajibnya qadha puasa Ramadhan). Karena puasa tetap dalam tanggungan. Maka puasa tidak lepas dari tanggungan kecuali setelah melakukannya sedangkan dia belum melakukan itu. Maka, dia tetap berkewajiban puasa.

Baca detail:
- Puasa Ramadan
- Qadha Puasa Ramadan di Tahun Kedua

Namun ada pendapat kedua dari kalangan ulama yang menyatakan bahwa puasa Ramadan tidak wajib diqadha bagi yang meninggalkannya secara sengaja. Dengan alasan waktu wajibnya hanya pada saat bulan Ramadan saja. Tapi pelakunya tetap berdosa besar dan wajib taubat dengan cara memperbanyak ibadah sunnah dan sedekah.

Ibnu Abdil Bar dalam Fathul Bari, hlm. 3/ 355, menyatakan:

ومذهب الظاهرية أو أكثرهم : أنه لا قضاء على المتعمد، وحكي عن عبد الرحمن صاحب الشافعي بالعراق ، وعن ابن بنت الشافعي ، وهو قول أبي بكر الحميدي في الصوم والصلاة إذا تركهما عمداً ، أنه لا يجزئه قضاؤهما ، ووقع مثله في كلام طائفة من أصحابنا المتقدمين ، منهم: الجوزجاني وأبو محمد البربهاري وابن بطة " . انتهى


Artinya: Mazhab Zhahiriyah atau mayoritas ulamanya menyatakan bahwa tidak perlu qadha bagi yang sengaja tidak puasa Ramadan. Ada riwayat dari Abdurrahman, ulama Syafi'i di Irak dan dari Ibnu Binti Al-Syafi'i, ini adalah pendapat Abu Bakar al-Humaidi dalam soal puasa dan shalat apabila meninggalkan secara sengaja itu hukumnya tidak sah qadhanya. Dan pendapat serupa juga terjadi dari kalangan ulama mazhab Hanbali yang awal (mutaqaddimin) seperti Al-Juzjani, abu Muhammad Al-Burbahari, dan Ibnu Battah.

Kesimpulan

1. Kalau memang terpaksa tidak puasa Ramadan karena dilarang perusahaan, maka tidak perlu qadha juga tidak perlu bayar fidyah menurut sebagian pendapat. Namun dianjurkan menggantinya dengan sedekah atau ibadah sunnah sebagai bentuk taubat. Idealnya, anda pindah kerja di tempat lain kalau ada dan memungkinkan.

2. Mayoritas ulama menyatakan wajib qadha puasa.

Thursday, April 21, 2022

Hukum memaki dan mendengar kata makian

HUKUM KATA MAKIAN Assalamualaikum pak ustadz saya ingin bertanya apa hukumnya kita mendengar atau mengucapkan kata makian saya kadang saat menonton film ada adegan dimana tokoh filmnya mengucapkan kata bahasa inggris "Goddamn" pas saya cari tahu kata goddamn tersebut berbeda beda hasilnya tiap website ada yg mengartikan goddamn itu :ya tuhan ,terkutuk oleh tuhan ada juga yg mengartikan terkutuklah tuhan.pertanyaan saya

1.apa hukumnya ketika saya mendengar kata goddamn tersebut karena saya takut kata tersebut termasuk hinaan pada tuhan.

2.bagaimana cara saya menyikapi terjemahan yang berbeda beda tiap situs karena kalau saya coba translate di situs resmi seperti google terjemahan arti kata tersebut hanyalah "ya tuhan"

3.kalau saya mendegar kata tersebut di film yang saya miliki apa film tersebut harus saya hapus/buang

Terimakasih pak ustadz wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barokatuh

JAWABAN

1. Tidak masalah kalau hanya mendengar asal tidak ikut mengucapkan. Sebagaimana lintasan hati soal dosa tidak berdampak hukum apapun. Baca detail: Hukum Lintasan Hati

Goddamn itu sendiri di negara aslinya (Amerika Utara) biasanya diucapkan dalam dua kondisi yaitu kondisi kesal yang berarti kata makian atau kondisi senang dan diucapkan pada teman akrab yang berarti kata pujian atau kegembiraan.

Hukum memaki dan mencaci adalah haram. Sama saja memaki individu atau memakai golongan atau agama tertentu yang selain Islam. Baca detail: Larangan Mencela agama lain

Baca juga: Larangan Mencela dan Melaknat

2. Itu artinya kata itu memilikii banyak makna dan itu menjadi keuntungan bagi anda dan orang lain karena berarti kata itu tidak identik dengan makian. Namun demikian, menghindari mengucapkan kata goddamn itu lebih baik.

3. Tidak perlu dibuang terutama kalau secara keseluruhan mengandung isi yang baik. Namun kalau isinya tidak baik, maka menjauhinya itu dianjurkan. Baca detail: Wajib Menjauhi Lingkungan Pergaulan Buruk

LARANGAN MEMAKI DAN MENCELA

Adapun memakai kata makian untuk bercanda. Misalnya, antara teman dan tidak menyakiti, maka tetap tidak boleh karena kemutlakan larangan memaki atau mencaci sesama.

Khatib al-Baghdadi dalam al-Jamik menyatakan bolehnya bercanda asalkan tidak melewati batas kepatutan:

فَإِنَّمَا يُسْتَجَازُ مِنَ الْمِزَاحِ يَسِيرُهُ، وَنَادِرُهُ، وَطَرِيفُهُ، الَّذِي لَا يَخْرُجُ عَنْ حَدِّ الْأَدَبِ، وَطَرِيقَةِ الْعِلْمِ، فَأَمَّا مُتَّصِلُهُ، وَفَاحِشُهُ، وَسَخِيفُهُ، وَمَا أَوْغَرَ مِنْهُ الصُّدُورَ، وَجَلَبَ الشَّرَّ؛ فَإِنَّهُ مَذْمُومٌ. اهــ.

Artinya: Bercanda yang sedikit itu dibolehkan asalkan dengan cara yang tidak keluar dari adab kepatutan dan jalan ilmu. Adapun canda yang buruk maka itu tercela.

Makian pada dasarnya adalah haram. dan karena itu ia tetap haram walaupun untuk bercanda. Berdasarkan hadis muttafaq alaih berikut:

سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Artinya: Mencaci muslim itu fasiq (berdosa)

hadis riwayat Imam Muslim dari Imran bin Hushain, dia berkisah;

بَيْنَمَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي بَعْضِ أَسْفَارِهِ وَامْرَأَةٌ مِنَ الأَنْصَارِ عَلَى نَاقَةٍ فَضَجِرَتْ فَلَعَنَتْهَا فَسَمِعَ ذَلِكَ رَسُولُ اللَّهِ صلى اللهب عليه وسلم فَقَالَ :خُذُوا مَا عَلَيْهَا وَدَعُوهَا فَإِنَّهَا مَلْعُونَةٌ. قَالَ عِمْرَانُ فَكَأَنِّي أَرَاهَا الآنَ تَمْشِى فِي النَّاسِ مَا يَعْرِضُ لَهَا أَحَدٌ

“Ketika kami bersama Rasulullah dalam sebagian perjalanannya dan ada seorang perempuan dari kalangan Anshar di atas untanya. Kemudian unta tersebut keletihan dan perempuan itu melaknatnya. Rasulullah Saw mendengar hal tersebut dan beliau berkata, ‘Ambil semua barang yang ada di atasnya, dan biarkan unta ini berkeliaran karena unta ini telah dilaknat.’ Kata sahabat Imran, ‘Aku lihat unta itu berkeliaran di tengah rombongan dan tidak ada satupun yang menangkapnya.’”

kitab Jami’u al-Ahaadits, dari Sayidina Ali, dia berkata;

بينما نحن مع النبى – صلى الله عليه وسلم – فآذتنا البراغيث فسببناها فقال رسول الله – صلى الله عليه وسلم – لا تسبوا البراغيث فنعم الدابة دابة توقظكم لذكر الله فبتنا تلك الليلة متهجدين


“Pada suatu malam kami bersama Nabi Saw, tiba-tiba nyamuk-nyamuk menyakiti kami dan kami menghujatnya. Kemudian Nabi Saw. berkata, ‘Janganlah kalian menghujat nyamuk-nyamuk itu karena sebaik-baik hewan adalah yang bisa mengingatkan kalian untuk zikir pada Allah.’ Pada malam itu, kami bisa bertahajud.”

dari Zaid bin Khalid, dia berkata bahwa Nabi Saw. bersabda;

لاَ تَسُبُّوا الدِّيكَ ، فَإِنَّهُ يَدْعُو إِلَى الصَّلاَةِ


“Janganlah kalian mencela ayam jantan, karena ia mengajak untuk shalat.”

Monday, April 11, 2022

Suami dipaksa mentalak istri kedua, apakah sah?

RUMAH TANGGA: TALAK TERPAKSA

Assalamualaikum

ustad..saya mau bertanya tentang kejadian dalam rumah tangga saya..

singkat cerita saya seorang istri kedua,1 tahun yang lalu istri pertama datang kerumah saya dengan keadaan marah besar karena dia tidak terima suami nya menikahi saya lalu dalam keadaan emosi yang memuncak istri pertama menarik rambut saya dan mengahancurkan semua barang2 saya dirumah,

suami memisahkan kami dan suami membawa istri pertama keluar dari rumah saya..lalu suami menelpon saya dan istri pertama memaksa suami saya untuk menceraikan saya dia mengancam kalo suami tidak menceraikan saya dia akan teriak2 dan mempermalukan suami di kantor tempat suami berkerja, suami seorang anggota polri..bahkan istri pertama mencakar2 suami saya

Karena suami dalam keadaan tertekan dan kebingungan lalu dia terpaksa menceraikan saya melalui telpon atas paksaan istri pertama tapi suami tidak berniat untuk menceraikan saya dia hanya terpaksa karena takut akan hal2 yg tidak diinginkan terjadi karena istri pertama marah besar dan istri pertama membawa pisau Pertanyaan nya ustad..sah kah ucapan cerai suami dalam keadaan terpaksa dan tertekan

JAWABAN

Talak yang dilakukan karena terpaksa tidak sah. Jadi, tidak terjadi talak. Baca detail: Talak Terpaksa

RUMAH TANGGA: ISTRI SELINGKUH DAN MINTA CERAI SETELAH 11 TAHUN BERUMAH TANGGA

Sya sdh mnikah 11th mungkin 9thun sya kurang terllu perhatian sma istri .pd akirnya istri mulai berani skarang dia mulai menxintai ke laki2 lain dan istri sya selingkuh sya mmembnaekan kjadiannitu karna sdh ada bukti dan istri sy jg mengakui ..

skarang saya sadar bahwa sy tdk bisa kehilangan dia skarang sya sdh brubh total sys sdh mnjadi ayah dan suami yg baik .ttpi skarang istri sys masih hub dg kakasihnya walauoun lewat chat dan dia meminta pisah dri saya ..ttpi saya menolak mengabulkanya ini sudah berlangsung 4bulan kami masih serumah .istri sy pun masih komunikasi dg kasihnya .

smua jalan sdah sys tempuh ttpi hati istri sy sdh terlnjur cinta sama kkasihnya ..apa mungkin ini pertnda bahwa memeng jodoh saya sampai dsini dg istri sya dan sayaa harus iklas pisah ...anak kami 3 mohon minta saranya ..mkasih

JAWABAN

Mengingat anda berdua sudah punya tiga anak, maka diusahakan sebisa mungkin untuk tetap bertahan. Silahkan baca doa berikut setiap selesai shalat wajib dan ikuti caranya. Baca detail: Doa Agar Disayang istri

Kalau ternyata istri tetap bersikeras untuk minta cerai dan dia tetap melakukan selingkuh dengan mantannya dan pada yang sama anda sudah tidak tahan dengan kondisi ini, maka bercerai adalah pilihan yang dibolehkan syariah. Baca detail: Menyikapi Pasangan Selingkuh

Sunday, April 10, 2022

Kita Cerai Saja, apa jatuh talak?

AJAKAN TALAK

ustd saya mau bertanya sebenernya dulu saya was2 parah dan sempat sembuh tapi skrng kambuh lagi.. saya mau bertanya ustad

1. entah ini hanya perasaan saya atau gmna yg jelas dulu saya tidak mengerti kalu ada kalimat soreh atau kinayah.. (bisa di bilang kalimat T... orang bodoh yg saya baca di alkhoirot) singkat critanya ketika waswas saya kambuh kok tiba2 ingatan saya bilang dulu pernah pakai kalimat ajakan seperti "kita C saja" atau kalimat tanya kamu mau c ya ? maaf disni saya singkat ustad karena takut waswas..

kebetulan saya tanya ke salah satu ustad katanya gak jatuh kalau pakai kalimat ajakan atau kalimat tanya selama tidak di jawab pertanyaannya oleh istri.. ini sebenernya kejadiannya sudah sangat lama sekali mungkin puluhan tahun karena ketidak tahuan saya.. tapi yang jelas saya ragu ragu apakah memakai kalimat ajakan atau kalimat tanya? dan waktu itu saya ingatnya bilang gak niat dalam diri saya , karena blm tau ada kalimat sore atau kinayah. itu bagaimna ustad solusinya?

2. saya ada baca di internet juga kalau kalimat ajakan tidak jatuh seperti yg saya garis bawahin ini dan ana juga tanya ke ustd katanya kalau kalimat ajakan gak , kalau kalimat tanya juga gak ? trus ana baca di alkhoirot katanya kalau T org bodoh itu tidak kena... trus kalau ragu apakah pakai kalimat ajakan atau tanya kata ustd tersebut pakai hukum asal..

mohon solusinya pak ustad . terimakasih banyak..

JAWABAN

1. Kalimat ajakan atau tanya, keduanya tidak berdampak cerai. Kalimat ajakan tidak jatuh talak karena berkonotasi masa depan. Baca detail: Janji talak, perintah talak, talak masa depan

Kalimat tanya juga tidak berdampak tanya. Karena kalimat talak yang sah harus berupa pernyataan yang pasti. Baca detail: Cerai dalam Kalimat Tanya

2. Kalau kalimat tanya, kalimat ajakan dan ucapan talak dari orang awam tidak jatuh talak, maka ucapan anda dulu itu (seandainya) ada tidak berdampak apapun. Dan anda perlu bersyukur karena telah lepas dari keraguan. Baca detail: Tidak semua talak sharih berakibat cerai

MENCONTOHKAN UCAPAN TALAK APA JATUH CERAI

Assalamualaikum ustad terimakasih atas jawaban dari pertanyaan saya tentang cerai terpaksa Ustad saya mau bertanya lagi, 2 hari yang lalu saya menanyakan kepada suami soal bagaimana suami mengucapkan cerai 1 tahun yang lalu karena paksaan itu, karena waktu itu saya tidak mendengar ucapan cerai nya karena pada saat itu saya matikan telpon nya..lalu suami menjawab dan bermaksud menirukan ucapan cerai dia wktu 1 tahun yang lalu ,suami bilang sperti ini bunyi nya( tari saya talak kamu) di depan saya ustad..tapi dia tidak bermaksud untuk menceraikan saya dia hanya menjawab pertanyaan saya dan mencontohkan

Bagaimana hukum nya ustad apakah ucapan suami saya berakibatkan talak Walau dia hanya mencontohkan saja

JAWABAN

Tidak jatuh talak. Itu termasuk dalam kategori bercerita yang mengandung kata talak. Baca detail: Cerita Talak

TALAK

as.wr.wb ustd saya mau bertanya lagi dulu kejadiannya begini ustd sempat perang mulut antara saya dan istri, singkat critanya karena emosi yang saya ingat saya ada ngomong begini ke ipar saya " saya pulang ke lombok dulu" atau "saya gak mau ribut saya mau pulang ke lombok dulu ".

posisinya waktu itu saya belum mengerti ada kinayah dan saya dalam keadaan emosi. trus kmrin malam akhirnya saya tanya ke salah satu ustad jawabannya adalah itu "bukan kalimat kinayah sama sekali"

apa benar begitu pak ustad, dan ana juga blm tau hukum kinayah dan dalam keadaan emosi pak ustad.

trimakasih , mohon solusisnya

JAWABAN

Betul kata ustadz tersebut. Ucapan anda itu bukan kinayah karena: a) diucapkan pada ipar, bukan pada istri; b) kalimat 'pulang ke lombok dulu' bukan kalimat kinayah. Sehingga tidak ada dampak apapun. Bahkan walaupun disertai dengan niat talak. Baca detail: Hukum Kata Non Kinayah dg Niat Talak

Saturday, April 09, 2022

Hukum talak sharih secara tertulis

Hukum talak sharih secara tertulis

as.wr.wb

ustd ana mau bertanya, ini kejadiannya sudah lama sekali

ustd dulu ada problem mertua ana

dia punya istri dua nah kebetulan lagi benterok istrinya yg prtama trus kita pada ke tmpat istrinya yg prtama buat damaikan , singkat crita istri prtamanya mau damai , selang beberapa lama sms lah istri keduanya ktnya mau minta itu lah....

(C....., maaf saya singkat karena takut waswas)

trus ana bilang gak usah di balas kalau minta kayak gitu.

tapi ipar ana yg prmpuan bilang emang bisa lewat sms bukannya km bilang gk ya lewat sms.. dia tanya begitu ke ana..

"trus ana bilang kalau dia bisa berlafas maka wajib dia brlafas"

sprti yg ana denger ceramah ustad azahar idrus begitu aja sih ana bilang dan itu yg ana tau waktu itu ilmunya yg pernah ana denger di youtube ceramahnya..

nah yg jadi prtanyaan ana itu salah ndk ana jawab bgitu dosa gak ana ustd soalnya ana jawab sesuai apa yg baru ana denger dari ceramah ndk trlalu mendetail ustad.. itu bagaimna ustd ?

ini link ceramahnya salah satunya yang ana denger ustad azhar idrus dari malaysia , jadi mohon di buka dulu link ceramahnya ustad azhar idrus ini ustad jadi bisa di mengerti apa yang saya sampaikan.. https://youtu.be/IlUuEuv5H4k

kalau salah mau jelasin ke mertua kalau itu salah yg ana sampaikan sudah terlanjur lama sekali takutnya dia gak ngrti entr bagaimna ustad ? tapi ana hanya sampaikan sesuai dengan yang saya dengar itu ustad dari ceramah ustad azhar itu ustad dan takutnya dia sudah lupa persoalan itu. itu yang jadi beban pikiran jadinya saya takut salah penyampain dan dosa..

mohon penjelasaanya.. dan berikan solusinya ustad

trimakasih wasalam...

JAWABAN

Kami sudah menonton link di youtube soal pernyataan ustad Azhar bahwa "cerai secara tertulis itu tidak sah".

Respons kami: jawaban ustadz Azhar itu ada benarnya. Namun juga ada tidak benarnya. Dengan kata lain, dalam soal ini ada dua pendapat di dalam madzhab Syafi'i. Talak sharih yang ditulis, sama saja di SMS atau medsos, hukumnya menjadi talak kinayah. Dan bisa jatuh talak apabila disertai niat cerai saat menulis kalimat tersebut.

Pendapat lain, yakni pendapat Imam Syafi'i dalam qaul qadim, menyatakan tidak jatuh talak sama sekali dan disamakan dengan isyarat. Baca detail: Cerai dengan Isyarat bagi yang bisa bicara

Menurut Imam Nawawi, pendapat pertama yang sahih.

Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmuk 17/349 menyatakan:

إذا كتب طلاق امرأته بلفظ صريح ولم ينو لم يقع الطلاق، لأن الكتابة تحتمل ايقاع الطلاق وتحتمل امتحان الخط، فلم يقع الطلاق بمجردها، وإن نوى بها الطلاق ففيه قولان، قال في الإملاء: لا يقع به الطلاق لأنه فعل ممن يقدر على القول فلم يقع به الطلاق كالإشارة، وقال في الأم هو طلاق وهو الصحيح


Artinya: Apabila suami menulis kata talak pada istrinya dengan lafadz yang sharih (eksplisit) tapi tidak berniat talak maka perceraian tidak terjadi. Karena tulisan itu ada kemungkinan untuk bercerai dan ada kemungkinan hanya berlatih menulis, maka talak tidak terjadi hanya karena tulisan saja. Apabila niat talak, maka ada dua pendapat. Imam Syafi'i berkata dalam kitab Al-Imla' (qaul qadim): tidak jatuh talak karena itu perbuatan orang yang mampu berbicara maka tidak terjadi talak sebagaimana talak dengan isyarat. Kedua, Imam Syafi'i berkata dalam kitab Al-Umm (qaul jadid) bahwa talaknya sah. Ini pendapat yang sahih (dalam mazhab Syafi'i).

Kesimpulan: yang manapun pendapat yang diambil sama-sama benar. Namun pendapat Imam Syafi'i dalam Al-Umm itu lebih sahih menurut Imam Nawawi.

TALAK TERTULIS TIDAK SAH?

1. jadi tidak salah saya memberikan jawaban waktu di tanya seperti pertanyaan saya di awal oleh ipar saya itu ustad ?

2. A.kemarin juga ana mau bilang yaAllah pelan2 sambil ana tutup satu telinga ana jadi kedengeran kita ngomong biar pelan kyk apa, malah lewat lagi lintasan mau bilang T itu ustd padahal ana gerakin lidah aja mau bilang yaAllah bgitu ustd , itu gak kan ustd ? jadi cuman gerakan lidah aja malah lewat dia kayak sengaja gitu lintasan T itu . dan ana pun gak dengar.

B.pas solat juga kadang kalau lagi baca apa gitu kadang lewat kalimat itu jadi ana kadang kalau solat suka kerasin bacaan ana ustad takut ana waswas apakah itu terucap atau tidak. kadang kalau jamaah malu ana kalau agak keras baca alfatihanya jadi makmum ini di karenankan waswas itu suka lewat ustad tapikan kalimatnya tidak ada objek jugakan ustad ya jadi tidak kenak ?

mohon diberikan solusinya ustad.. trimakasih banyak

JAWABAN

1. Tidak salah.

2. A dan B tidak ada dampak hukum apapun.

Baca detail:
- Lintasan hati ingin talak tidak berdampak
- Hukum talak dalam hati
- Hukum lintasan hati

Ada kotoran kucing dekat baju apakah baju dianggap najis?

Ada kotoran kucing dekat baju apakah baju dianggap najis?

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh pak ustadz...saya mau bertanya... Tadi pagi saya menjemur pakaian di lantai atas rumah saya yg masih berbentuk cor-coran lalu saya menemukan ada kotoran kucing didekat tempat saya menjemur. Kotoran kucing tersebut terlihat masih baru karena berbau dan kelihatan basah. Lalu saat siang hari saat saya hendak mengambil pakaian saya ternyata pakaian saya terjatuh namun tdk mengenai kotoran kucing tsb. Kebetulan semalam hujan juga.

Yang ingin saya tanyakan adalah :

1. Apakah baju saya menjadi terkena najis karena tadi pagi masih ada genangan air sisa hujan ditempat saya menjemur tetapi ketika siang sudah mengering dan baju saya jatuh di bekas genangan air yg td pagi masih basah tsb?

Karena saya tidak tahu apakah kotoran kucing tersebut sudah ada sejak kemarin atau baru tadi pagi dan saya tidak tahu apakah air dari cipratan kotoran kucing dari air hujan tsb mengalir ke arah tempat saya menjemur pakaian saya atau tidak karena menurut informasi dari ayah saya hujan tidak besar dan diarea sekitar kotoran kucing terlihat kering namun ada genangan air di tempat saya menjemur pakaian saya.

2. Bagaimana status kaki saya apakah ikut terkena najis karena saya kan menginjak area genangan air yg basah tsb?

Terimakasih atas jawaban yg diberikan Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

JAWABAN

1. Suatu pakaian asalnya adalah suci. Dan kesucian itu tidak berubah oleh asumsi atau dugaan terkena najis. Baca detail: Kaidah: Suci tidak hilang karena Asumsi Najis

Pakaian suci berubah menjadi najis apabila terkena najis yang nyata berdasarkan fakta yang terlihat. Misalnya, di baju ada kotoran kucingnya. Tanpa ada bukti itu, maka status pakaian tetap suci. Baca detail: Saat Ragu, Status Benda kembali ke Hukum Asal

2. Kaki anda tidak najis. Tetap suci sesuai dengan status asalnya. Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan

NAJIS KENCING SAAT SHALAT

Lalu tadi malam saat saya hendak shalat isya saya tidak kuasa menahan kencing dan air kencing saya keluar dan mengenai betis kanan saya,lalu saya lap dulu dengan baju yg saya pakai. Namun ketika hendak ke kamar mandi saya merasakan telapak kaki kanan saya di bagian jempol terasa lengket namun saya merasa yakin air kencing saya malah mengenai telapak kaki di bagian kelingking. Saya tidak tahu apakah air kencing saya itu sudah mengenai telapak kaki di bagian jempol atau blm. Saya berjinjit menggunakan jempol saya tsb keluar dr kamar lalu tdk lama kemudian ibu saya keluar dr kamar dan pasti menginjak bekas kaki saya tsb yg blm saya bersihkan.

1. Apakah lantai yg diinjak ibu saya menjadi najis karena kaki ibu saya sudah berjalan kemana-mana?

2. Air kencing saya tsb jg mengenai sajadah yg hendak saya pakai salat namun sepertinya blm mengenai lantai apakah boleh langsung disiram dengan air lantai tsb?

JAWABAN

1. Lantai yang diinjak ibu anda tidak najis. Karena status kaki ibu anda suci. Anggapan najis masih bersifat dugaan atau asumsi yg dalam syariah tidak dianggap. Baca detail: Kaidah: Suci tidak hilang karena Asumsi Najis

2. Boleh. Lantai bisa langsung disiram dengan air suci. Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan

Wednesday, April 06, 2022

Gusi berdarah apakah membatalkan wudhu?

NAJIS GUSI BERDARAH

Assalaamu'aikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh..

Saya mau bertanya beberapa hal 1. Setiap bangun tidur gusi saya selalu berdarah, pagi ini keluar darah lagi saya berkumur kumur dulu, saya cek dengan mengeluarkan air liur sudah tidak ada darah yang menyertai. Saya mengira sudah tidak ada darahnya. Akhirnya saya berwudhu, setelah wudhu saya lihat dengan cermin ternyata masih ada gusi yg berdarah. Bagaimana dengan wudhu saya, apakah kaki saya jadi terkena najis karena terkena cipratan air berkumur saat berwudhu?

2. Saya punya nadzar, entah saya ucapkan atau hanya dalam hati, intinya kalau saya dapat uang dari pra kerja akan mentraktir teman-teman saya, tapi karena kondisi ekonomi yang semakin sulit dan sekarang saya tinggal juga jauh dari teman-teman saya, saya tidak bisa memenuhi nadzar saya, apa yang harus saya lakukan?

3. Saat wudhu dan shalat saya sering merasa ingin kentut, katanya jangan menghiraukan sampai mendengar suara atau bau. Bagaimana jika menahan kentut terus seperti ada angin yang keluar, dan kadang di dubur saya seperti ada sesuatu yang keluar, apakah itu membatalkan wudhu?

Terimakasih atas jawabannya..

JAWABAN

1. Wudhu anda sah. Karena, gusi berdarah tidak termasuk perkara yang membatalkan wudhu. Lagipula, darah yang keluar dari tubuh sendiri itu dimaafkan. Baca detail: Hukum Darah Gusi saat shalat

2. Kalau nadzar itu hanya dalam hati, maka tidak sah dan tidak ada kewajiban memenuhinya. Kalau nadzar itu diucapkan secara lisan, maka baru dianggap sah apabila ada kata nadzar atau sumpah di dalamnya. Seperti, "Saya bernadzar untuk mentraktir teman" atau "Demi Allah saya akan mentraktir teman kalau dapat uang dari prakerja". Di luar kedua cara itu, maka nadzarnya tidak sah. Baca detail: - Hukum Nadzar
- Hukum Nadzar dan Sumpah

Kalau nadzarnya sah tapi tidak bisa memenuhi nadzar tersebut, maka anda wajib membayar kafarat atau tebusan. Yaitu salahsatu dari hal berikut:

rutan Kafarah Yamin (tebusan sumpah) bagi yang tidak melaksanakan nadzar adalah sebagai berikut (pilih salah satu, prioritas berdasar urutan):

a. Memberi makan kepada sepuluh orang miskin, atau
b. Memberi pakaian kepada sepuluh orang miskin, atau
c. Memerdekakan satu orang budak
d. Jika tidak mampu ketiga hal di atas, barulah menunaikan pilihan berpuasa selama tiga hari

3. Kalau tidak berbau atau tidak ada suara, maka tidak membatalkan wudhu dan dianggap hanya asumsi atau dugaan. Dalam Islam, dugaan itu tidak dianggap alias tidak merubah hukum sebelumnya. Maksudnya, apabila sebelumnya anda punya wudhu, maka tetap dianggap masih punya wudhu. Baca detail: Saat Ragu, Status Benda kembali ke Hukum Asal