Pondok Pesantren Cidahu Pandeglang Banten

Pondok Pesantren Cidahu Pandeglang Banten

Sejarah profil biodata ponpes Pondok Pesantren Cidahu Cadasari Pandeglang Banten Indonesia dan profil pendirinya KH Muhammad Dimyati atau Abuya Dimyati yang bernama lengkap Muhammad Dimyati bin Syaikh Muhammad Amin.

DAFTAR ISI
  1. Sejarah Ponpes Cidahu
  2. Profil Abuya Dimyati
  3. Profil Abuya Muhtadi Dimyati
  4. Pengasuh Pesantren Cidahu
  5. Fatwa Haram Hizbut Tahrir
  6. Skripsi tentang Ponpes Cidahu Pandeglang

SEJARAH PONDOK PESANTREN CIDAHU BANTEN

Pondok pesantren Abuya Dimyathi (alm) Kampung Cidahu Kecamatan Cadasari Kabupaten Pandeglang - Banten sekarang di teruskan oleh anaknya Abuya Muhtadi Dimyati. Buya Dimyati merintis pesantren di desa Cidahu Pandeglang sekitar tahun 1965 beliau banyak melahirkan ulama-ulama ternama seperti Habib Hasan bin Ja'far Assegaf yang sekarang memimpin Majlis Nurul Musthofa di Jakarta dan masih banyak lagi murid-murid beliau yang mendirikan pesantren.


PROFIL ABUYA DIMYATI

Pondoknya di Cidahu, Pandeglang, Banten tidak pernah sepi dari para tamu maupun pencari ilmu. Bahkan menjadi tempat rujukan santri, pejabat hingga kiai. Abuya Dimyati dikenal sosok ulama yang mumpuni. Bukan saja mengajarkan ilmu syari’ah tetapi juga menjalankan kehidupan dengan pendekatan tasawuf. Abuya dikenalsebagai penganut tarekat Naqsabandiyyah Qodiriyyah.

Lahir dari pasangan H.Amin dan Hj. Ruqayah sejak kecil memang sudah menampakan kecerdasannya dan keshalihannya. Beliau belajar dari satu pesantren ke pesantren seperti Pesantren Cadasari, Kadupeseng Pandeglang. Kemudian ke pesantren di Plamunan hingga Pleret Cirebon.

Abuya Dimyati, begitu panggilan hormat masyarakat kepadanya, terlahir tahun 1925 di tanah Banten, salah satu bumi terberkahi. Tepatnya di Kabupaten Pandeglang. Abuya Dimyathi dikenal sosok ulama yang cukup sempurna dalam menjalankan perintah agama, beliau bukan saja mengajarkan dalam ilmu syari’ah tetapi juga menjalankan kehidupan dengan pendekatan tasawuf, tarekat yang dianutnya tarekat Naqsabandiyyah Qodiriyyah. Maka wajar jika dalam perilaku sehari-hari beliau penuh tawadhu’, istiqamah, zuhud, dan ikhlas. Abuya adalah seorang qurra’ dengan lidah yang fasih. Wiridan al-Qur’an sudah istiqamah lebih dari 40 tahun. Kalau shalat tarawih di bulan puasa, tidak turun untuk sahur kecuali setelah mengkhatamkan al-Qur’an dalam shalat.. Oleh karenanya, tidak salah jika kemudian kita mengategorikan Abuya sebagai Ulama multidimensi.

Abuya berguru pada ulama-ulama sepuh di tanah Jawa. Diantara gurunya adalah Abuya Abdul Chalim, Abuya Muqri Abdul Chamid, Mama Achmad Bakri (Mama Sempur), Mbah Dalhar Watucongol, Mbah Nawawi Jejeran Jogja, Mbah Khozin Bendo Pare, Mbah Baidlowi Lasem, Mbah Rukyat Kaliwungu dan masih banyak lagi.

Abuya Dimyathi tak akan tergantikan lagi. Malam Jumat pahing, 3 Oktober 2003 M/07 Sya’ban 1424 H, sekitar pukul 03:00 wib umat Muslim, khususnya warga Nahdlatul Ulama telah kehilangan salah seorang ulamanya, KH. Muhammad Dimyati bin KH. Muhammad Amin Al-Bantani, di Cidahu, Cadasari, Pandeglang, Banten dalam usia 78 tahun.

Pendidikan

Sejak kecil Abuya Dimyathi sudah menampakan kecerdasannya dan keshalihannya, beliau belajar dari satu pesantren ke pesantren lainnya mulai dari Pesantren Cadasari, Kadupuesing Pandeglang, ke Plamunan hingga ke Plered Purwakarta.

Abuya berguru pada ulama-ulama sepuh di tanah Jawa. Di antaranya Abuya Abdul Chalim Kadu Peusing, Abuya Muqri Abdul Chamid Karobohong Labuan, Mama Achmad Bakri (Mama Sempur), Mbah Dalhar Watucongol, Mbah Nawawi Jejeran Jogja, Mbah Khozin Bendo Pare, Mbah Baidlowi Lasem, Mbah Rukyat Kaliwungu dan masih banyak lagi. Kesemua guru-guru beliau bermuara pada Syech Nawawi al Bantany. Kata Abuya, para kiai sepuh tersebut adalah memiliki kriteria kekhilafahan atau mursyid sempurna, setelah Abuya berguru, tak lama kemudian para kiai sepuh wafat.

Ketika mondok di Watucongol, Abuya sudah diminta untuk mengajar oleh Mbah Dalhar. Satu kisah unik ketika Abuya datang pertama ke Watucongol, Mbah Dalhar memberi kabar kepada santri-santri besok akan datang ‘kitab banyak’. Dan hal ini terbukti mulai saat masih mondok di Watucongol sampai di tempat beliau mondok lainya, hingga sampai Abuya menetap, beliau banyak mengajar dan mengorek kitab-kitab. Di pondok Bendo, Pare, Abuya lebih di kenal dengan sebutan ‘Mbah Dim Banten’ dan mendapat laqob ‘Sulthon Aulia’, karena Abuya memang wira’i dan topo dunyo. Pada tiap Pondok yang Abuya singgahi, selalu ada peningkatan santri mengaji dan ini satu bukti tersendiri di tiap daerah yang Abuya singgahi jadi terberkahi

Sanad Keilmuan

Berikut adalah daftar dari guru-guru beliau:

Abuya Abdul Chalim Kadu Peusing
Abuya Muqri Abdul Chamid Karobohong Labuan
Mama Achmad Bakri (Mama Sempur)
Mbah KH Dalhar Watucongol
Mbah KH Nawawi Jejeran Jogja
Mbah KH Khozin Bendo Pare
Mbah KH Baidlowi Lasem
Mbah KH Rukyat Kaliwungu dan masih banyak lagi.

Kesemua guru-guru beliau bermuara pada Syech Nawawi al Bantany.

Keturunan

KH Abuya Muhammad Dimyathi, meninggalkan tiga istri yaitu Hj Dalilah, Hj Asmah dan Hj Afifah. Dari Hj Dalilah dikarunia dua putra, yang pertama:

H Qoiyimah dan
H Amustabah,

sedangkan dari istri Hj Asmah dikarunia enam anak, yakni:

HA Muhtadi,
HM Murtadlo,
H Abdul Azis,
HA Muntaqo,
Hj Musfiroh,
Muqotil,

sementara dari HJ Afifah tidak dikarunia anak.


PROFIL ABUYA MUHTADI DIMYATI

Abuya Muhtadi adalah seorang ulama ahlussunnah kharismatik di Pandeglang dan mempunyai banyak murid di wilayah Banten. Ayahanda beliau KH. Abuya Muhammad Dimyati adalah pendiri Ponpes Cidahu yang dirintis tahun 1965. Sejak 2003 sampai sekarang Abuya Muhtadi menggantikan ayahnya memimpin Ponpes Cidahu.

Dari pesantren ini melahirkan banyak ulama ahlussunnah seperti Al Habib Hasan bin Ja'far Assegaf pemimpin Majelis Nurul Musthofa Jakarta.


PENGASUH PONPES CIDAHU

1. KH. Muhammad Dimyati atau Abuya Dimyati (pendiri dan pengasuh): 1965 - 2003
2. KH. Muhtadi Dimyati tahun 2003 sampai sekarang


FATWA KYAI MUHTADI: HARAM BERGABUNG DENGAN HTI (HIZBUT TAHRIR)

Salah satu ulama ahlussunnah wal jama'ah asal Banten yang juga Rois 'Am Majelis Muzakaroh Muhtadi Cidahu Banten (M3CB) KH. Abuya Muhtadi Dimyathi al-Bantani menyatakan cita-cita Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) untuk menghilangkan Pancasila sebagai dasar negara merupakan salah satu bentuk pemberontakan.

Pengasuh Pondok Pesantren Cidahu Cadasari Pandeglang Banten ini memberikan pernyataan secara tertulis dalam surat pernyataan tertanggal 21 Agustus 2013. Surat pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh beberapa murid Abuya Muhtadi ke kantor redaksi NU Online Jakarta pada Selasa (3/9/2013) kemarin. Sebelumnya surat pernyataan itu juga sudah dikirimkan ke PBNU.

Dalam surat yang ditanda tangani sendiri oleh Abuya Muhtadi itu, beliau menyatakan HTI adalah ormas Islam dari luar negeri yang datang ke Indonesia dan ingin menghilangkan Pancasila sebagai dasar negara. Perbuatan tersebut adalah salah satu macam dari pemberontakan, padahal memberontak negara itu dosa besar, maka dari itu HTI harom hukumnya dalam berbagai keadaan. Demikianlah bunyi dalam surat pernyataan Abuya Muhtadi.


SKRIPSI TENTANG PESANTREN CIDAHU

Judul skripsi: Preserving Tradition in the Modern Society: the Case of Pesantren Cidahu Pandenglang Banten / Preserving Kyai’s Authority in the Modern Society:
Case Study of Pesantren Cidahu, Pandeglang, Banten
Penulis: Yon Machmudi
Abstraksi:

Pesantren is a typical Indonesian cultural heritage.

Pesantren is also the oldest educational institutions in Indonesia and has played a significant role contributing to the development of the Indonesian nation building.

Various roles in society, in the field of education, economic, social, religious or political have been played by the alumni of the pesantren.

Currently the role of pesantren itself is being challenged by modernization that allows it to adjust with socio economics realities.

In order to survive the pesantren as a traditional education in Indonesia has to change or transform into modern institution.

In fact, it is the traditional pesantren that still resists change and preserve its identity in terms of authority and student-teacher relationship.

This article to analysis the efforts of a traditional pesantren in Banten, called Pesantren Cidahu in preserving its identity and struggles to !eep its authority in the modern society.

By keeping its modest practices, Pesantren Cidahu is able to maintain its strong influence toward its students and society.

Introduction

Pesantren Cidahu is located in the village of Cidahu Cadasari the district of Pandeglang, in the province of "anten.

Geographically Pandeglang is a rural area where people mostly wore as farmers and some of them are traders and laborers in major cities such as Jakarta and Bandung.

Compared with other regions in Indonesia Pandeglang is an underdeveloped region with a slow economic growth and leave many people living below the poverty line.

The name of Cidahu is attached to pesantren in order to enable people to recognize the institution and also shows the pesantren is already well known in the region.

Many pesantrens in Indonesia use the name of village or region as their names, among others are Pesantren Cipasung Tasikmalaya West Java, Pesantren Buntet Cirebon West Java, and Pesantren Sidogiri East Java.

Most of these pesantren are categorized as traditional pesantrens. People in the regions where the pesantrens located prefer to call pesantrens by the name of village or region show the level of influence of the figure of !yais in such areas.

As a result it is quite famous for kyai called by the name of village or region, such as kyai Cidahu who is most well-known in Banten.

The position of kyai is very special because usually the students follow what kyai orders and suggests.

kyai is a person who is able to dominate the truth of religion the authority that is always followed by the attitude of obedience, even uncritically and understood as dogmatically religious teachings. The charismatic kyai can easily order his followers to do something while his followers always obey whatever he wants.

Authority in this article emphasizes on religious authority that includes the influence of kyai, competence and obedience.

Why is it important to study the authority of !yai in the pesantren4

How does Pesantren Cidahu maintain its authority in the midst of the wave of globalization and modernization4

This paper will analyze three interrelated aspects that influence the development of authority in the pesantren that are kyai, pondok (dormitory) and curriculum

Untuk langganan artikel Alkhoirot Net via Email gratis, klik di sini!

4 comments:

  1. pesantren banten

    ReplyDelete
  2. ponpes cidahu pandegelang

    ReplyDelete
  3. pondok pesantren abuya dimyati

    ReplyDelete
  4. subhanallah inilah guru besar banten

    ReplyDelete

Kirim konsultasi Agama ke: alkhoirot@gmail.com Cara Konsultasi lihat di sini!