Konsultasi Syariah Islam

Konsultasi syariah hanya akan dilayani apabila dikirim via email ke: alkhoirot@gmail.com

Subscribe Us

Suka artikel kami? Dapatkan update terbaru langsung ke email Anda!

ATAU
Feed KSIA

Saturday, December 10, 2016

Rencana Cerai, Apakah Jatuh Talak?
HUKUM MERENCANAKAN PERCERAIAN

Assalammu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh,

Bismillahirrahmaanirrahim,

Selamat siang Ustadz semoga selalu dalam limpahan rahmat Allah SWT, mohon maaf mengganggu waktunya.. Saya ada beberapa permasalahan yang ingin ditanyakan:

Kejadian ini ketika saya mengobrol dengan Orangtua saya terkait permasalahan dengan Istri saya, Orangtua saya yang tidak setuju untuk mempertahankan pernikahan dengan Istri saya. Dalam Obrolan tersebut ada beberapa perkataan saya kurang lebih seperti dibawah yang sudah saya urutkan pada nomor 1 dan 2.

Dan yang ingin ditanyakan dari semua perkataan saya tersebut adalah:

A. Bagaimana hukumnya ketika diniati talak apakah jatuh hukumnya atau tidak?
B. Perkataan mana saja yang perlu menggunakan niat?
C. Adakah perkataan Shorih yang mengandung makna talak?
D. Atau apakah ucapan-ucapan tersebut sama sekali tidak mengandung makna talak sedikit pun?

TOPIK SYARIAH ISLAM
  1. HUKUM MERENCANAKAN PERCERAIAN
  2. CARA KONSULTASI AGAMA





Minta tolong dijawab dengan teliti yah Ustadz pada masing-masing poin pertanyaan disertai penjelasannya kalo memungkinkan :)

1. Dalam sebuah obrolan yang panjang.… Orangtua saya memberikan banyak nasihat mengenai dampak kedepan karena keadaan banyaknya masalah dalam rumah tangga saya. Setelah mendengarkan nasihat orangtua tersebut, Saya mengucapkan kata-kata kurang lebih seperti ini: “Sekarangmah tinggal bilang baik-baik sama Bapaknya (sambil menyebut nama Orangtua Istri saya)...” (kalimatnya tidak tamat karena keburu terpotong oleh perkataan orangtua saya. Intinya pada waktu itu saya menyetujui nasihat orangtua dan berencana mau menyampaikan maksud saya kepada Orangtua Istri saya terkait pernikahan yang tidak bisa dipertahankan).

1a. Karena disitu ada kata “Sekarangmah” apakah maknanya bisa memberikan arti talak pada saat itu jika diniati? Atau maknanya harus menyambung dengan kalimat seterusnya?

2. Masih nyambung juga obrolan dengan Orangtua saya di hari berikutnya dalam obrolan panjang… Obrolan yang ingin saya tanyakan adalah pada bagian ini:

2a. "Kalo Istri saya mau nikah lagi, tapi masih terikat Istri saya atau masih dalam masa iddah nanti takutnya tidak sah nikahnya jadi kasian Istri saya.. berbeda dengan laki-laki kan tidak ada masa iddah jadi boleh nikah lagi kapan pun". (ucapan ini maksud saya menjelaskan kepada Orangtua saya agar status istri saya dipastikan dulu).

....Kemudian tidak lama dari perkataan diatas bersambung pada perkataan dibawah ini yang saya bagi beberapa kalimat karena saya lupa lagi mengingatnya:

2b. "Bagusnya mah diurus ke pengadilan biar kuat"

2c. "Bagusnya mah ke pengadilan cerainya biar kuat"

2d. "Bagusnya mah diurus ke pengadilan mengajukan surat cerai biar kuat" (disitu ada kata cerai apakah menjadi kalimat Shorih?)

2e. Pada kalimat diatas (2d.) jika TIDAK menggunakan kata:

- ”diurus”
- “mengajukan”
- “surat”

3. Perkataan dalam do’a: "Ya Allah kuatkan hamba, istri hamba dan anak hamba" (sambil membayangkan sudah bercerai, tapi setelah selesai berdo’a sadar bahwa ini hanya was-was dan belum terjadi perceraian).

4. Menyampaikan perkataan kepada istri melalui sms seperti ini: "Percayalah ini takdir Allah, pasti ini yang terbaik buat kita berdua" (maksud perkataan itu saya mengingatkan kepada Istri agar siap menerima kenyataannya, tapi saya belum memberikan keputusan yang pasti kepada Istri saya)

5. Perkataan kepada istri “Jagain Anak Mu” (yang saya ingat maksud perkataan saya tersebut, terharu dan sebagai ucapan kepercayaan kepada Istri yg setiap hari merawat anak saya. Karena lokasi saya yang berjauhan jadi tidak bisa setiap hari menjaga dan merawat anak).

6. Perkataan kepada Istri “Tidak Ada Waktu Lagi” (Perkataan tersebut terucap secara spontan ketika merencanakan suatu urusan bersama Istri,,, karena pada waktu itu dalam fikiran saya sedang bergejolak memikirkan perceraian, membayangkan waktu atau rencana-rencana kedepan, dll. Padahal saya pun sudah berusaha memilih kata-katanya agar tidak terjebak pada kalimat yang bermakna talak…

Tapi tiba-tiba kaget saya reflek mengucapkan kata “Tidak Ada Waktu Lagi” karena ada lintasan/gejolak dalam fikiran saya seperti yang dijelaskan diatas tadi, sehingga saya meresapi kalimat tersebut bagaimana jika terselip niat talak pada perkataan tersebut?).

7. Ketika Istri menanyakan kepada saya, apakah kamu ragu mau bersatu dengan saya? kemudian saya balas dengan “Ekspresi Sedih”. Bagaimana hukum ekspresi sedih tersebut jika diniati ingin bercerai?

Terimakasih sebelumnya atas perhatiannya Ustadz semoga Ustadz berkenan memberikan jawabannya, dan semoga Allah limpahkan Rahmat dan keberkahan kepada Ustadz atas semua kebaikannya. Amin ya Allah ya rabbal ‘Alamin

Jazakallahu khairan katsiran Ustadz. Semoga Ustadz diberikan kelimpahan ilmu yang bermanfaat dan berkah. Amin Ya Allah Ya Rabbal ‘Alamin.

Wa’alaikumsalam Warrahmatullahi Wabarakatuh

JAWABAN

1a. Tidak termasuk talak kinayah karena seandainyapun ada niat namun masih bersifat "akan" atau bermakna masa depan alias masih rencana. Sedangkan talak sharih pun kalau menunjukkan arti masa depan tidak terjadi talak. Contoh (ucapan suami ke istri): "Kamu akan saya talak." Kalimat ini tidak terjadi cerai karena ada kata "akan". Baca detail: Cerai Masa Depan

2a, 2b, 2c: Tidak masuk dalam kategori talak apapun.

2d. Tidak masuk kategori shorih karena masih dalam rencana. Dan rencana talak itu tidak dianggap kecuali dalam konteks talak taklik atau cerai kondisional. Baca: Taklik Talak

2e. Sama, tidak masuk dalam kategori cerai apapun. Ucapan cerai di situ konteksnya seperti bercerita menggunakan kata "cerai". Hukumnya tidak berakibat talak. Baca detail: Bercerita Memakai kata Cerai

3. Tidak ada konsekuensi cerai karena tidak ada satupun kata yang mengindikasikan ke arah cerai. Adapun suara hati tidak dianggap dala konteks ini.

4. Tidak berakibat talak.

5. Dalam "Jagain Anak Mu" tidak ada indikasi bertujuan cerai dalam kalimat tersebut. Jadi tidak berakibat talak.

6. Ucapan suami "Tidak Ada Waktu Lagi" sama sekali tidak ada indikasi ke arah perceraian. jadi bukan kalimat cerai, baik kinayah apalagi shorih.

7. Ekspresi sedih atas pertanyaan istri tidak berakibat apapun. Karena yang dianggap dalam soal perceraian adalah ucapan. Baca detail: Cerai dalam Islam
Read More...

Saturday, December 03, 2016

Hukum Cerai di Masa Depan
HUKUM TALAK MASA AKAN DATANG

Assalammu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh,

Bismillahirrahmaanirrahim,

Selamat siang Ustadz yang dirahmati Allah SWT, mohon maaf mengganggu waktunya.. Saya ingin bertanya terkait permasalahan keluarga.

Pada saat ini saya sedang menjalani masa iddah dengan Istri saya (sedang dalam masa iddah talaq 1). Dan Istri saya pada saat ini sedang berada di rumah orang tuanya.

Waktu beberapa hari yang lalu.. Ibu saya nangis berat karena tersinggung oleh perkataan-perkatan Istri dan keluarganya melalui sms. dalam keadaan kalut saya pun marah dan untuk meyakinkan Ibu saya kemudian saya mengucapkan: "Mungkin nanti harus ditalak 3, talak 3 biar gak bisa dirujuki" (yang saya ingat dan saya rasakan perkataan tersebut saya rencanakan nanti akan disampaikan melalui sms kepada pihak istrti). Namun pada akhirnya saya tidak jadi mengirimnya lewat sms karena pertimbangan lain hal.
TOPIK SYARIAH ISLAM
  1. HUKUM TALAK MASA AKAN DATANG
  2. UCAPAN TALAK TAK SENGAJA KARENA PENDERITA OCD
  3. HARTA BERSAMA IBU YANG MENINGGAL
  4. CARA KONSULTASI AGAMA

Pertanyaannya Ustadz:

1. Apakah hukumnya jatuh talak? Kalo jatuh talak apakah jatuh talak 3? dan disitu juga ada koma (jeda).. ketika mengucapkannya, saya mengulangi kata talak 3 nya untuk memperjelas supaya terdengar oleh Ibu saya. Bagaimana hukumnya apakah termasuk satu kalimat atau terpisah? jika katanya terpisah bagaimana hukumnya?

2. Ustdaz, saya juga menderita penyakit was-was yang sudah lama. Ditambah lagi dengan kejadian ini saya selalu mengingat-ngingat atau membayangkan kembali kata2 tersebut untuk meyakinkan seperti apa kata-katanya yang waktu itu saya ucapkan. Sehingga sering terjadi di dalam hati ini dan ada gerakan di lidah mengulang-ngulang ucapannya (sambil membayangkan jika ditujukan pada istri). Tapi saya tidak yakin dan ragu-ragu apakah kata-kata itu terdengar atau hanya gerakan lidah dan didalam hati saja.

(2a). Bagaimana hukumnya Ustdaz jika kata2 tersebut keluar tanpa disengaja dari mulut saya dan terdengar, Apakah terjadi hukum talak?

(2b). Dan pada kasus ini bolehkah saya menerapkan kaidah “Keyakinan tidak hilang dengan keragu-raguan” sehingga saya memilih yang yakin bahwa pada saat itu saya sedang membayangkan. Sehingga keragu-raguan mengenai terdengar/atau terucap ketika membayangkan tersebut tidak perlu digubris/diperhatikan?

(2c).Bagaimana dengan dorongan was-was syetan yang membisikan untuk menceraikan istri.. padahal saya tidak mau melakukannya. Itu sering terjadi didalam hati dan pada setiap perkataan yang keluar suka tiba-tiba disusupi bisikan syetan agar perkataan tersebut ditujukan sebagai kata-kata perceraian pada istri. Padahal dari kata-katanya sendiri tidak ada hubungannya dengan makna talak, hanya bisikan sepintas yang menyelinap dalam setiap ucapan saya. Bagaimana hukumnya Ustadz? dan Hukum Talaq bagi orang yang mengidap penyakit was was apakah ada keringanan? Karena saya merasa dipaksa oleh syetan untuk melakukannya padahal saya sendiri tidak mau melakukannya.

3. Ketika hari pertama saya menjatuhkan talak kepada istri, kejadiannya pada saat sedang chating di BBM.. diawali dengan cek-cok atau ada perselisihan. Kemudian saya menjatuhkan talak menggunakan kalimat kinayah. Istri kaget karena memahami bahwa saya menceraikannya. Sehingga terus menerus saling berbalas pesan saling meluapkan isi hati seperti kekecewaan dll., karena terus-menerus berbalas pesan kurang lebih 10 - 15 menit kemudian kalo tidak salah ingat saya mengatakan dalam BBM tersebut, jika diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia: “iya sudah talak saya sudah jatuh” (saya lupa lagi awal kalimatnya menggunakan kata Iya" atau tidak) maksud dari kalimat tersebut adalah sebagai penegas/penekanan untuk mengingatkan istri bahwa talaknya sudah jatuh (dengan kalimat kinayah seperti yang sudah dijelaskan, yang sebetulnya istri juga sudah faham kalimat kinayah tersebut adalah perceraian) dengan maksud supaya tidak perlu lagi dibahas-bahas dan supaya istri tidak terus-menerus mengeluhkan perasaannya atau kekecewaannya dalam BBM ini.

Pertanyaannya Ustadz:

(3a). Apakah jatuh talak dari kalimat tersebut? Saya tidak ada niat menjatuhkan kembali talak namun hanya memberikan penekanan/menegaskan untuk mengingatkan kembali. Karena tidak mungkin saya menjatuhkan kembali talak, karena pada saat itu saya sadar sudah menjatuhkan talak 1 (dengan kalimat kinayah seperti yang sudah dijelaskan diatas). dan disitu juga jelas saya memilih mengatakannya dengan menggunakan kalimat “sudah” (kalimat lampau/sesuatu yang sudah terjadi). Sebagai upaya menegaskan dan mengingatkan kembali kejadian yang sudah terjadi.

(3b). Bagaimana dengan kejadiannya di BBM ini ustadz, apakah termasuk kalimat sharih.. atau masih ada keringanan?

Terimakasih atas segala perhatiannya Ustadz semoga Ustadz berkenan memberikan jawabannya, dan semoga Allah limpahkan Rahmat dan Kasihsayang-Nya pada Ustdaz. Amin ya Allah ya rabbal ‘Alamin

Note: Ustadz namanya tolong dirahasiakan yah.

Syukron, Jazakallahu khairan katsiran Ustadz. Semoga Allah meridhoi kita semua dan Ustadz diberikan kelimpahan ilmu yang bermanfaat dan berkah. Amin Ya Allah Ya Rabbal ‘Alamin.

Wassalammu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh,


JAWABAN CERAI MASA DEPAN

1. Ucapan suami "nanti ditalak.." hukumnya tidak jatuh talak. Karena ucapan talak yang berkonotasi masa depan ("nanti") hukum talaknya tidak sah dan tidak jatuh cerai.

Syarwani dalam Hasyiyah Syarwani atas kitab Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj, hlm. 8/13, menyatakan:

لو قال لزوجته تكون طالقاً هل تطلق أو لا؟ لاحتمال هذا اللفظ الحال والاستقبال، وهل هو صريح، أو كناية؟ والظاهر أنه كناية، فإن أراد به وقوع الطلاق في الحال طلقت، أو التعليق احتاج إلى ذكر المعلق عليه، وإلا فهو وعد لا يقع به شيء

Artinya: Apabila suami berkata pada istrinya "Kamu akan menjadi istri yang tertalak" apakah jatuh talak atau tidak? Karena kata ini mengandung kemungkinan zaman hal (masa sekarang) atau istiqbal (masa akan datang). Secara zahir, ini talak kinayah. Apabila suami ingin menjatuhkan talak saat ini juga dengan kalimat itu maka terjadi talak; apabila bermaksud taklik (talak kondisional), maka suami harus menyebut muallaq alaih (yang dijadikan kondisi / syarat). Apabila tidak, maka kalimat ini adalah janji yang tidak terjadi apa-apa.

Dalam bahasa Arab fi'il mudharik berfungsi untuk dua masa yaitu masa sekarang (present tense) dan masa depan (future tense). Dalam konteks fi'il mudharik yang berfungsi masa sekarang, maka berlaku talak kinayah. Sedangkan apabila berfungsi future tense, maka tidak mengandung unsur talak sama sekali.

2A. Ucapan yang diucapkan sendirian untuk mengingat-ingat masa lalu tidak jatuh talak. Itu sama dengan bercerita tentang talak yang hukumnya tidak jatuh cerai. Baca: Hukum Bercerita tentang Talak

2b. Tidak perlu dibahas karena tidak jatuh talak.


UCAPAN TALAK TAK SENGAJA KARENA PENDERITA OCD

2c. Itu sama dengan penderita OCD. Hukumnya tidak terjadi talak karena ucapannya tidak dianggap karena timbul dari ketidaksengajaan karena penyakit. Baca: Hukum Penderita OCD

3a. Itu sama dengan bercerita tentang talak di masa lalu, jadi tidak jatuh talak. Perlu juga diketahui bahwa talak sharih secara tertulis (via dunia maya atau dunia nyata) hukumnya sama dengan talak kinayah. Baca: Talak secara Tertulis

3b. Tidak jatuh talak. Lihat poin 3a.

______________________


HARTA BERSAMA IBU YANG MENINGGAL

Assalamualaikum Wr.Wb

Dengan Hormat,

Saya adalah anak pertama dari 4 bersaudara, mempunyai masalah tentang kewarisan.

Ibu saya meninggal dunia 4 tahun yang lalu (tahun 2012) dengan meninggalkan

1. Suami
2. 2 (dua) anak laki-laki
3. 2 (dua) anak permpuan
4. Ibu (meninggal tahun 2015)

Ibu saya tidak bekerja, hanya membantu ayah saya dalam bekerja (ada perusahaan keluarga dimana mereka bekerja berdua)

Dalam waktu dekat ayah saya akan menikah lagi. Kami menanyakan yang menjadi hak ibu kami dan hak-hak kami termasuk hak istri baru ayah kami nantinya.

Bersama ini kami sertakan donasi Rp.100.000 via BCA dari rek an Dani Ardianto

Terima Kasih

JAWABAN

1. Dalam konteks di atas, maka ahli waris adalah sbb:
(a) suami mendapat 1/4 = 6/24
(b) ibu 1/6 = 4/24 (karena saat ini sudah wafat, meka bagiannya diwariskan pada ahli warisnya kalau ada)
(c) Sisanya 18/24 dibagikan kepada keempat anak kandung. Anak lelaki mendapat bagian dua kali lipat dari anak perempuan. Jadi, kedua anak lelaki masing-masing mendapatkan 2/6, sedang kedua anak perempuan
masing-masing mendapat 1/6.

* Harta warisan dari almarhumah adalah harta yang menjadi hak miliknya sewaktu hidup baik yang berasal dari warisan orang tuanya, hasil usaha sendiri atau hasil usaha bersama dg pihak lain (joint venture) baik dg suami atau orang lain.

* Dalam Islam tidak ada harta bersama suami-istri secara otomatis. Baca: Harta Gono-gini

2. Kalau menurut syariah Islam, hak kepemilikan dari perusahaan keluarga tersebut tergantung dari perjanjian yang digunakan dan modal yang disertakan. Apabila modal berasal dari suami 100%, maka
perusahaan menjadi milik suami 100%. Istri tidak punya hak apapun. Kecuali apabila ada perjanjian di mana istri akan mendapatkan bagian tertentu dari keuntungan perusahaan, atau ada hibah dari suami atas
perusahaan tsb kepada istri, dst.

* Aturan harta bersama menurut negara (pengadilan agama) lihat disini

3. Dalam soal kehidupan sehari-hari, Istri baru akan mendapatkan hak menerima nafkah, sandang dan rumah. Tidak lebih dari itu. Namun, apabila suami meninggal nantinya, maka istri akan mendapatkan 1/8 dari seluruh harta suami. Sedangkan sisanya untuk semua anak kandung. Baca: Hukum Waris Islam
Read More...

Monday, November 14, 2016

Tidak Direstui karena Wanita Lebih Tua
HUBUNGAN TIDAK DIRESTUI KARENA UMUR WANITA LEBIH TUA

Assalamualaikum ustad, perkenalkan nama saya laki-laki, saya memiliki sedikit problem yg tidak bisa saya pecahkan sendiri. Saya memiliki seorang kekasih (wanita) sebut saja Putri (nama samaran) yang berusia 4tahun lebih tua dibandingkan dengan usia saya. Hubungan kami berjalan atas dasar sama sama suka. Keadaan ekonomi sangat berbeda, keluarga putri adalah orang terpandang, sedangkan keluarga saya adalah keluarga biasa.

TOPIK SYARIAH ISLAM
  1. HUBUNGAN TIDAK DIRESTUI KARENA UMUR WANITA LEBIH TUA
  2. DIPUTUS PACAR TANPA SEBAB
  3. INGIN RUJUK SETELAH TALAK TIGA
  4. CARA MENGATASI SUAMI TAKUT ISTRI
  5. CARA KONSULTASI AGAMA

Pertanyaan saya,

1. Jika orang tua Putri melarang saya untuk mendekati (pacaran) Putri karena terpaut perbedaan usia, apa yang harus saya lakukan?

2. Jika orang tua putri melarang kita untuk menikah karena alasan usia (saya pun tidak tahu alasan yg sebenarnya karena ekonomi atau memang karena usia), apa hukum larangan tersebut dan apakah wajib untuk ditaati?

3. Jika larangan tersebut memang karena perbedaan usia, (orang tuanya mengibaratkan dengan berdirinya pondasi lebih dulu dibanding berdirinya rumah) sedangkan saya mengibaratkan dengan sholat berjamaah, tidak selalu imam sholat lebih tua dari kita (jika imam berusia 30 tahun, ada kemungkinan terdapat makmum yg berusia 50 tahun). Apakah memang usia menentukan tua/muda nya suatu ilmu?

4. Jika nabi Muhammad SAW. Saja menikah dengan wanita yg usia nya terpaut lebih jauh. Apakah larangan orang tua putri boleh diabaikan? Karena menurut orang tua putri, restu orang tua lebih penting, dan hanya ada 2 orang yg bisa menyayangi putri dengan sepenuh hati yaitu orang tua nya saja. Sedangkan orang seperti (calon jodoh) banyak diluar sana. Karena takutnya ada bencana jika saya menikah dengan putri (padahal Allah telah berfirman bahwa Allah mengetahui apa yang manusia tidak ketahui)

5. Tindakan apa yg harus saya lakukan? Apakah saya harus tetap bertahan sesuai kata hati saya, ataukah saya harus meninggalkan putri? (Jika saya tetap bersikukuh, orang tua putri mengancam akan menghajar saya)

Mohon pencerahan dari ustad. Terimakasih, semoga ustad selalu diberikan kesehatan, kelancaran oleh Allah SWT. Amiin
Wassalamualaikum


JAWABAN HUBUNGAN TIDAK DIRESTUI KARENA UMUR WANITA LEBIH TUA

1. Sebaiknya anda mencari calon istri yang lain yang orang tuanya merestui hubungan anda berdua. Karena tidak adanya restu orang tua akan berdampak luas bagi anda dan terutama bagi Putri baik secara ekonomi maupun sosial. Juga akan berpengaruh pada hubungan antar-besan antara orang tua anda dan orang tua Putri. Jadi banyak yang akan dikorbankan apabila anda berdua memaksakan diri. Kecuali apabila anda berdua sudah mandiri secara ekonomi dalam arti sudah punya pekerjaan sendiri dan tinggal di suatu tempat perantauan yang jauh dari orang tua.

2. Keputusan orang tua wajib ditaati kecuali kalau perintah berbuat dosa. Orang tua Putri tidak pernah meminta balasan atas jerih payahnya memelihara, membiayai dan menjaga Putri. Sekarang, mereka ingin balas budi Putri berupa ketaatan pada perintah orang tua, maka sudah selayaknya Putri membalas budi itu dengan taat pada mereka. Baca detail: Hukum Taat Orang Tua

3. Soal logika di balik larangan itu bisa diperdebatkan. Namun, selagi keputusan orang tua belum dicabut, maka larangan tetap berlaku.

4. Akan lebih ideal kalau anda berdua tidak memaksakan kehendak sendiri. Namun kalau anda berdua sangat saling mencintai, maka tidak ada salahnya mencoba membujuk kedua orang tua agar setuju dan merestui. Caranya antara lain dengan meminta tolong pada tokoh yang dihormati orang tua Putri. Apabila usaha maksimal sudah dilakukan dan orang tua Putri tidak mau berubah, maka sudah saatnya anda menyerah dan mencari calon istri yang lain. Baca juga: Cara Memilih Jodoh

______________________


DIPUTUS PACAR TANPA SEBAB

Assalamualaikum wr wb..
Nama saya wanita, saya berusia 18 tahun. Begini Pak/Bu, saya punya masalah mengenai kehidupan asmara saya. Sekitar 4 bulan yang lalu, saya bertemu dengan seorang laki-laki yang pada awalnya saya kira dia itu sangat baik, dewasa, dan benar-benar menyayangi saya dengan tulus. Kebetulan dia itu kakak kelas saya. Tapi kami dipertemukan lewat media sosial, sebab pas waktu saya masih sekolahan sama dia, kami tidak saling mengenal, cuman sering liat aja.

Seiring waktu berjalan, kami pun akrab, dan suatu saat dia menyatakan niat tulusnya untuk memacari saya, Insyaallah sampai pelaminan katanya. Soalnya dia mencari wanita yang serius, kebetulan saya juga begitu, berfikir untuk mencari sosok imam, bukan pacar.

Suatu saat, dia memutuskan untuk datang ke rumah saya dan bertemu dengan Ibu saya. Saya rasa dia tidak main-main dengan ucapannya, nyatanya dia berani menemui langsung ke rumah saya dan menemui Ibu saya.

Beberapa minggu berjalan, hidup saya terasa sungguh indah. Dia tidak pernah lupa menasihati saya tentang kehidupan, agama, dan bagaimana semestinya kita berperilaku, juga tidak lupa memotivasi saya untuk terus semangat belajar. Saya semakin yakin, bahwa dia benar-benar jodoh yang dikirimkan Allah untuk saya, Insyaallah ini imam saya..

Beberapa minggu kemudian, dia rada berubah. Sifatnya tak sehangat dulu. Kata-kata nya pun tak sebijak dulu, dingiiiiiinnnn. Saya selalu menanyakan dia kenapa, tapi dia selalu menjawab tidak ada apa-apa dan pertengkaran selalu terjadi di antara kami.
Satu persatu perangai buruknya mulai kelihatan; cuek, pemarah, apalagi kalau saya telat balas BBM, terus dia suka bikin status di media sosial yang membuat saya merasa tidak nyaman Pak/Bu, seperti mengumbar kejelekan saya dsb. Saya sabaaaaarrrr..

Tepat sebulan seminggu, dia memutuskan saya begitu saja tanpa alasan yang jelas. Dia bilang ke saya "jangan berfikir negatif, aku ga akan lupa sama janji aku". Disitu saya hancur, kenapa kok bisa-bisanya dia ninggalin saya dan gak nepatin janjinya yang katanya janji gak akan ninggalin saya dan ingin serius sama saya sampai dia mengucap ijab kabul nanti.

Saya pasrah....... Saya hanya bisa berdoa dan meminta yang terbaik kepada Allah..
Tapi yang bikin saya SAKIT HATI BANGET, ternyata dia bilang ke oranglain bahwa alasan putus itu seolah-olah salah ada di saya. Terus sampai saat ini DIA SERING BANGET BIKIN STATUS DI MEDIA SOSIAL TENTANG NGEJELEK-JELEKIN, NYINDIR SAYA, bahkan dia terang-terangan sebut saya CEWEK BODOH, terus dia juga mengutip sebuah status "Terimakasih kau pergi, tak terlupa ucap syukur padaMu. Aku terbebas dari dosa. Dan kau terbelenggu dengan dosamu". Apa maksudnya? Emang dia sempurna? Saya tak habis fikir, mengapa dia melakukan itu ke saya? Bukankah dia faham betul tentang agama? Harus nya dia tau perlakuan dia selama ini dengan membuat statement aneh-aneh itu telah menyakiti hati saya..

Beberapa hari yang lalu, dia menghubungi saudara saya yang kebetulan adik kelasnya di KARATE. Dia minta pin BBM cewek lain yang mau dijadikan penyemangat katanya. Sama saudara saya gak dikasih dan coba untuk menyadarkan dia tentang perlakuannya selama ini ke saya. Bukannya sadar atau merasa bersalah, dia malah menjadi-jadi dan terus bikin status negatif.. Besok harinya, dia ngeBBM saya untuk meminta maaf dan dia coba menjelaskan mengapa dia memutuskan saya waktu itu. Tapi saya tahu, alasan itu tidak sepenuhnya benar, masih ada yang ditutup-tutupi.
Saya tanya ke dia, "salah saya apa?". Tapi dia malah menjawab "kalau kamu gak ngerasa ya berarti gak ada". Saya tahu, ada yang ditutup-tutupi.

Saya kira setelah kejadian itu, dia akan sungguh-sungguh meminta maaf kepada saya. Tapi nyatanya tidak. Keesokan harinya sampai detik sekarang, dia masih saja membuat status di media sosial menjelek-jelekan saya dan seolah mencari simpati dari kawannya di media sosial bahwa yang selama ini salah tuh saya, bukan dia. Dia ingin citranya selalu baik di hadapan semua orang..

Saya mohon bantuannya Pak/Bu, saya harus bagaimana menyikapi dia yang ternyata kekanak-kanakan???? Saya bingung dan merasa sakit hati sampai detik ini. Apakah saya harus membalas???? Bukankah Islam melarang kita balas dendam dendam???
Saya mohon saran dari Bapak/Ibu, saya harus bagaimana sebaiknya agar dia merasakan dan rasa sakit hati saya hilang....

Sekian curhatan dari saya. Mohon maaf apabila terlalu panjang dan ada salah kata.
Wassalamualaikum wr wb..

JAWABAN

Kalau dia sudah memutuskan hubungan dengan Anda, maka sudah waktunya bagi anda untuk move-on. Mencoba melupakan dia dan menata hidup kembali untuk fokus pada pelajaran dan rajin belajar agar menjadi wanita muslimah yang sukses dan menjadi kebanggaan orang tua.

Perlu diketahui bahwa pacaran yang bersifat fisikal dilarang dalam Islam. Baca detail: Hukum Kholwat

______________________


INGIN RUJUK SETELAH TALAK TIGA

Sebelumnya saya mau minta maaf kepada Pak uztad klo saya dlu ada salah Sm Pak uztad...

1 Pak uztad saya mau tanya apakah boleh jika saya sudah talak 3 oleh suami kemudian dihati saya ada niat untuk kembali/ingin halal lagi dengan suami pertama apakah boleh?

2 dan saya ingin menikahi laki2 lain dengan niat hati saya ingin di disetubuhi dan di cerai kembali oleh laki2 itu/suami baru ke-2 saya.

3 tetapi saya melakukan pernikahan ini hanya saya yg tau niat di hati saya, tanpa memberi tau niat saya ini ke mantan suami pertama dan kepada suami baru ke2 saya?

4 jadi laki2 suami baru kedua menikahi saya tanpa syarat Muhallil jdi murni di hati laki2 itu ingin menikahi saya ingin menjadi suami saya tanpa tau niat saya?
5 jika setelah menikah dan bersetubuh saya mencari masalah agar di cerai bagai mana apakah cerai saya sah?

6 dan setelah Pak uztad mendengar cerita di atas apakah jika terjadi perceraian saya dengan suami yg ke dua setelah iddah habis kemudian saat saya kembali kepada suami pertama apakah akad nikah saya sah dan halal?
7 apakah kata2 ini kiasan saya berkata kepada suami saya takut kamu masih halal/tidak dengan saya suami jawab "mau halal/tidak ke terserah kamu"

8 Dan suami bilang jg "kawin Sm uztad kamu sana" apakah kiasan jg terima kasih Pak uztad sungguh rumit rmh tangga saya Pak hampir setiap hari saya bertengkar dengan ungkapan2 suami yg bisa berakibat talak.

mohon BPK membantu saya syukroonnn

JAWABAN

1. Boleh saja. Namun saat terjadi talak 3, anda dan suami tidak lagi berstatus suami istri, tapi sudah seperti orang lain di mana khalwat tidak diperkenankan. Baca detail: Hukum Kholwat

2. Selagi niat itu sebatas niat dalam hati dan tidak terucap, maka tidak masalah. Yang tidak boleh adalah apabila hal itu menjadi tujuan dari suami ke-2.
3. Tidak masalah kalau begitu.
4. Boleh.
5. Kalau suami ke-2 menceraikan anda, maka status cerainya sah.
6. Ya, sah dan halal.
7. Tidak ada pengaruhnya.
8. Ya, itu termasuk kiasan. Baca detail: Cerai dalam Islam

______________________


CARA MENGATASI SUAMI TAKUT ISTRI

Assalamualaikum ustadz..saya mau bertanya soal rumah tangga.umur saya 31sudah menikah dengan seorang janda yang lebih tua setahun dari saya dan mempunyai 1 anak laki-laki&allhamdulillah saya juga dikaruniai seorang anak perempuan.begini ustadz saya seringkali mendapatkan masalah dalam rumah tangga.kadang sang istri tidak menerima keadaan saya.padahal setiap gajian saya memberikan semuanya kepada istri saya bahkan atm saya pun dipegang oleh istri saya.setiap kali saya salah sekecil apapun itu suka menjadi masalah besar,tetapi setiap kesalahan dia harus selalu benar setiap kali saya nasihatin istri tidak mau menerima.Kadang istri saya kalau sudah marah selalu minta cerai tetapi saya selalu mempertahankan karna alasan anak dan saya juga masih sayang sama istri saya walupun sering kali disakitin.Sampai akhirnya saya tidak bisa tegas karena alasan keadaanya sulit untuk dinasihatin.hingga sekarang hanya bisa dipendam dalam hati saja dan karena saya tidak pintar dalam agama ..
Pertanyaan saya.
1.Apa yang harus saya lakukan untuk bisa menasihatinnya.
2.saya juga ingin mendalami ilmu agama islam.langkah pertama harus bagaimana.
3.Saya ingin bisa menjadi kepala rumah tangga yang seutuhnya bisa dihargai oleh istri.
Mohon bingbinganya ustadz..

JAWABAN

1. Anda harus belajar menjadi tegas dan berani menasihatinya. Memberikan seluruh gaji dan ATM pada istri itu kurang tepat. Kalau bisa mulai sekarang, berikan gaji secukupnya. Dan pegang ATM anda. Ini
akan memberikan anda kekuatan daya tawar. Kalau suatu hari dia marah, maka hukum dia dg tidak memberi uang belanja dst.

2. Belajar ke ustadz yg terdekat dari rumah / lokasi anda. Hati-2 banyak aliran radikal saat ini. pastikan anda cari ustadz yg beraliran NU agar tidak salah. Baca: Wahabi Salafi

Kalau dekat dg kawasan Malang, anda bisa datang ke pesantren kami selama beberapa hari untuk belajar agama. Baca: Santri Dewasa

3. Mulailah dg memegang kendali keuangan spt disebut di poin 1. Baca detail: Hak dan Kewajiban Suami Istri
Read More...

Saturday, November 12, 2016

Hukum Najis di Jalanan di Musim Hujan
HUKUM NAJIS AIR DAN TANAH DI JALAN SAAT MUSIM HUJAN

Asslm wr wb.
Saya mau menanyakan tentang najis saat musim penghujan, saat musim hujan tidak jarang rumah saya tergenang air (banjir) yang berasal dari lubang tempat pembuangan air, dan lubang pembuangan air tersebut tempat membuang najis seperti kencing dsb.
Yang saya tanyakan

1. Apakah air banjir yang berasal dari lubang pembuangan air tersebut najis walaupun saya lihat tidak ada najis yang kasat mata? Karena ada kemungkinan terkena najis yang berasal dari lubang pembuangan tersebut.

2. Kadang setelah air banjir itu surut ada sisa2 tanah yang membekas di lantai, apakah tanah di lantai itu di hukumi najis juga?

TOPIK SYARIAH ISLAM
  1. HUKUM NAJIS AIR DAN TANAH DI JALAN SAAT MUSIM HUJAN
  2. NAJIS TANAH DI JALANAN YANG DILEWATI ANJING
  3. HUKUM TINTA CUMI-CUMI: NAJIS ATAU SUCI?
  4. CARA KONSULTASI AGAMA

3. Di jalanan umum depan rumah saya kadang ada anjing yang lewat, pada saat musim hujan ada banyak genangan air bahkan kadang juga banjir, pada saat anjing itu lewat di jalanan umum yang basah / saat banjir apakah najis itu menular di tempat yang di lewati anjing atau banjir di jalan tersebut? karena saat saya lewat dalam keadaan jalan yang basah atau saat banjir saya was was sandal saya terkena najis anjing karena memang jalan yang saya lalui tersebut jalan yang biasa di buat anjing lewat, bagaimana kah solusi permasalahan ini?

4. Agak berbeda pertanyaan najis di nomor ini, apakah tinta cumi cumi itu tergolong benda najis?

5. Bagaimana dengan tinta pada printer, bolpoin, spidol, tipe x dsb, apakah suci apabila pakaian terkena benda tersebut dan di pakai sholat tanpa membersihkannya?

Terima kasih atas jawabannya.


JAWABAN HUKUM NAJIS AIR DAN TANAH DI JALAN SAAT MUSIM HUJAN

1. Hukumnya suci atau kalaupun najis itu dimaafkan. Imam Suyuthi dalam Al-Ashbah wan Nazhair, hlm. 76, menyatakan:

القاعدة الثالثة المشقة : تجلب التيسير ، الأصل في هذه القاعدة قوله تعالى : ( يريد الله بكم اليسر ولا يريد بكم العسر) وقوله تعالى : ( وما جعل عليكم في الدين من حرج ) ... واعلم أن أسباب التخفيف في العبادات وغيرها سبعة ... السادس : العسر وعموم البلوى . كالصلاة مع النجاسة المعفو عنها , كدم القروح والدمامل والبراغيث , والقيح والصديد , وقليل دم الأجنبي ، وطين الشارع

Artinya: Kaidah Ketiga: Kesulitan berakibat kemudahan. Dalil asal dari kaidah ini adalah firman Allah (Al-Baqarah ayat 185): " Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu." Dan firman Allah (Al-Haj ayat 78): "Allah sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan." Ketahuilah bahwa sebab diringankan dalam ibadah dan lainnya ada tujuh... Yang keenam: kesulitan dan keumuman musibah yang terjadi. Seperti shalat dengan najis yang dimaafkan, darah karena borok, jerawat, kutu, nanah, darah sedikit, dan tanah di jalan.

Imam Syafi'i dalam Al-Umm, hlm. 2/112, menyatakan tentang air yang menyucikan tanah yang terkena najis kencing:

وإن أتى على الأرض مطر يحيط العلم أنه يصيب موضع البول منه أكثر من الماء الذي وصفت أنه يطهره كان لها طهورا، وكذلك إن أتى عليها سيل يدوم عليها قليلا حتى تأخذ الأرض منه مثل ما كانت آخذة مما صب عليها، ولا أحسب سيلا يمر عليها إلا أخذت منه مثل أو أكثر مما كان يطهرها من ماء يصب عليها

Artinya: Apabila air hujan jatuh ke bumi dan diketahui bahwa ia mengenai tempat kencing yang mana air tersebut lebih banyak jumlahnya dibanding jumlah air yang yang dapat menyucikan (yakni 7x jumlah najis -red) maka hukumnya air suci dan menyucikan. Begitu juga dianggap suci apabila ada air banjir yang mana sedikit airnya menetap (menggenang) pada tanah sehingga air itu meresap ke tanah sama dengan disiram padanya. Adapun banjir yang lewat di atas tanah tidak dianggap kecuali hanya yang terserap tanah yang jumlahnya sama atau lebih banyak dari air yang dapat menyucikan tanah.

Dari ulama madzhab Hanbali, Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa Al-Kubro, hlm. 1/240, menyatakan:

وكذلك لو أصابه شيء من طين الشوارع لم يحكم بنجاسته وإن علم أن بعض طين الشوارع نجس

Artinya: Apabila seseorang terkena tanah di jalan maka tidak dihukumi najis walaupun diketahui bahwa sebagian tanah di jalan itu najis." (Lihat, ). Ini menjelaskan bahwa air yang ada di jalan itu dihukumi makfu (dimaafkan) walaupun kemungkinan ada najis.

Dari ulama madzhab Maliki, Al-Hattab Al-Ruaini dalam Mawahib Al-Jalil li Syarh Mukhtashar Al-Khalil, hlm. 1/216, menyatakan:

لا بأس بطين المطر المستنقع في السكك والطرق يصيب الثوب أو الجسد والخف والنعل، وإن كان فيه العذرة وسائر النجاسات، وما زالت الطرق وهذا فيها، وكانوا يخوضون المطر وطينه ويصلون ولا يغسلونه, الشيخ: ما لم تكن النجاسة غالبة أو عينها قائمة, ابن بشير: يحتمل التقييد والخلاف، قال: كما لو كانت كذلك وافتقر إلى المشي فيه لم يجب غسله كثوب المرضعة، وقال الباجي: يعفى عما تطاير من نجاسة الطرق وخفيت عينه، وغلب على الظن ولم يتحقق. انتهى.

Artinya: Tidak apa-apa (tidak najis) adanya tanah hujan yang terdapat di jalan yang mengenai baju atau badan, sandal dan sepatu walaupun terdapat najis... Al-Syaikh: "selagi najisnya tidak dominan atau benda najisnya tidak menetap" ... Al-Baji berkata: "Dimaafkan najis yang ada di jalan asal benda najisnya tidak terlihat.."

2. Tidak najis kecuali kalau jelas ada benda najis di situ.


NAJIS TANAH DI JALANAN YANG DILEWATI ANJING

3. Najis di jalan, termasuk kemungkinan najis anjing, dimaafkan. Dalam kitab Al-Mausuah Al-Fiqhiyah, hlm. 30/171, dijelaskan pandangan madzhab Syafi'i dan tiga madzhab yang lain sbb:

: " يرى الشافعية والحنابلة : العفو عن يسير طين الشارع النجس لعسر تجنبه , قال الزركشي تعليقا على مذهب الشافعية في الموضوع : وقضية إطلاقهم العفو عنه ، ولو اختلط بنجاسة كلب أو نحوه ، وهو المتجه لا سيما في موضع يكثر فيه الكلاب ; لأن الشوارع معدن النجاسات . ومذهب الحنفية قريب من مذهب الشافعية والحنابلة إذ قالوا : إن طين الشوارع الذي فيه نجاسة عفو ، إلا إذا علم عين النجاسة , والاحتياط في الصلاة غسله . ويقول المالكية : الأحوال أربعة : الأولى والثانية : كون الطين أكثر من النجاسة أو مساويا لها تحقيقا أو ظنا : ولا إشكال في العفو فيهما , والثالثة : غلبة النجاسة على الطين تحقيقا أو ظنا , وهو معفو عنه على ظاهر المدونة , ويجب غسله على ما مشى عليه الدردير تبعا لابن أبي زيد ، والرابعة : أن تكون عينها قائمة ، وهي لا عفو فيها اتفاقا " انتهى .

Artinya: Madzhab Syafi'i dan Hanbali berpendapat hukumnya dimaafkan (makfu) najis tanah di jalan yang sedikit karena sulitnya dihindari. Al-Zarkasyi menjelaskan pandangan madzhab Syafi'i menyatakan dalam Al-Maudhu: "Hukumnya dimaafkan. Walaupun bercampur dengan najis anjing dan lainnya. Ini pendapat yang diunggulkan terutama di tempat yang banyak anjingnya; karena jalanan itu tempat najis. Madzhab Hanafi mendekati madzhab Syafi'i dan Hanbali mereka berpendapat: Tanah di jalanan yang terdapat najisnya itu dimaafkan kecuali kalau diketahui ada benda najisnya. Namun, sebaiknya membasuhnya apabila hendak shalat. Madzhab Maliki berpendapat ada 4 keadaan dalam soal ini. Pertama dan kedua, tanah lebih banyak dari najis atau sama baik nyata atau kira-kira, maka dalam kasus ini najisnya dimaafkan. Ketiga, najis lebih dominan dari tanah baik nyata atau praduga, maka najisnya dimaafkan menurut Al-Mudawwanah, namun wajib dibasuh menurutu pendapat yang terdapat dalam kitab Dardir Abu Zaid. Keempat, benda najis kelihatan, maka najisnya tidak dimaafkan.


HUKUM TINTA CUMI-CUMI: NAJIS ATAU SUCI?

4. Ulama berbeda pendapat tentang tinta cumi-cumi, ada yang menyatakan suci ada juga yang menyatakan najis, namun ada juga ulama yang menyatakan bahwa najis sucinya tinta cumi-cumi atau nus itu tergantung dari darimana sumber asal tinta itu keluar.

Dalam Bulghah Al-Tholib fi Talkhis Fatawa Al-Anjab, hlm. 106, dikatakan:

مسئلة ث : السواد الذي يوجد في بعض الحيتان مما اختلف فيه هل هو من الباطن فيكون نجسا أولا فيكون طاهرا فينبغي للعاقل أن يتحققه لأن هذا مما يتعلق بالعيان قلت : يعني أن هذا السواد إذا كان من الباطن فهو أشبه بالقيئ فيكون نجسا وإلا فهو أشبه باللعاب فيكون طاهرا . وقد قال بعض مشايخنا :إن هذا السواد شيئ جعله الله لصاحبه ترسا يتترس به عن كبار الحيتان فإذا قصده حوت كبير ليأكله أخرج هذا السواد فاختفى به عنه فلا يقاس بالقيئ ولاباللعاب لكونه خاصا له بهذه الخصوصية ويكون طاهرا .والله أعلم

Artinya: Cairan hitam yang ditemukan sebagian ikan yang masih diperdebatkan apakah itu keluar dari bagian dalam karena itu dihukumi najis ataukah tidak sehingga dihukumi suci ? maka dari itu harus dipastikan dulu mengenai hal ini sebab ini adalah sesuatu yang dapat dibuktikan langsung. Saya berkata : Bahwa cairan hitam ini jika memang keluar dari dalam, seperti halnya muntah maka dihukumi najis, namun jika tidak maka seperti air liur jadi dihukumi suci. Sebagian Guru-guru kami berkata : “ Sesungguhnya cairan hitam ini diciptakan oleh Alloh sebagai perisai yang digunakan oleh ikan tersebut yang melindunginya dari ikan-ikan yang besar,jika ada ikan besar yang ingin memakannya maka ia mengeluarkan cairan hitam tersebut agar ia bisa bersembunyi,jadi cairan tersebut tidak bisa disamakan dengan muntah maupun air liur sebab cairan yang memiliki keistimewaan seperti ini hanya dimiliki ikan tersebut.

PENDAPAT YANG MENYATAKAN TINTA CUMI-CUMI NAJIS

Adapun pendapat yang menyatakan najis adalah karena tinta hitam itu berasal dari dalam perut ikan seperti muntah. Ba Alwi dalam Bughiyah Al-Mustarsyidin, hlm. 15, menyatakan:

الذي يظهر أن الشيء الأسود الذي يوجد في بعض الحيتان وليس بدم ولا لحم نجس، إذ صريح عبارة التحفة أن كل شيء في الباطن خارج عن أجزاء الحيوان نجس، ومنه هذا الأسود للعلة المذكورة إذ هو دم أو شبهة، وقد صرحوا بنجاسة الخرزة التي في الكرش كحصى الكلي والمثانة، لخروجها من معدن النجاسة مع شبهها بالطاهر فأولى هذا الأسود، ولأنه فضلة مستحيلة وهي نجسة إلا ما استثني، ومن قال بطهارته فقد أخطأ

Artinya: Pendapat yang zahir bahwasanya sesuatu yang hitam yang ditemukan dalam sebagian ikan, bukan darah dan bukan daging, adalah najis Karena sharihnya 'ibaraot Tuhfah: Sesungguhnya sesuatu yang terdapat di bathin yang keluar dari juz hewan adalah najis. Termasuk sesuatu tersebut ialah barang yang hitam ini karena illat yang isebutkan, karena sesuatu yang hitam tersebut adalah darah atau serupa darah.......dst

PENDAPAT YANG MENYATAKAN SUCI LEBIH KUAT

Pendapat yang menyatakan tidak najis lebih kuat karena ulama madzhab Syafi'i sepakat bahwa darah dan kotoran ikan kecil saja suci, bahkan darah dan kotoran ikan besar menurut sebagian pendapat. Ba Alwi dalam kitab Bughiyatul Mustarsyidin, hlm. 15, menyatakan:

وقد اتفق ابنا حجر وزياد و م ر وغيرهم على طهارة ما في جوف السمك الصغير من الدم والروث ، وجواز أكله معه ، وأنه لا ينجس به الدهن ، بل جرى عليه م ر الكبير أيضاً

Artinya: Ibnu Hajar, Ibnu Ziyad, Muhammad Ar Ramli dan yang lainnya bersepakat atas sucinya darah dan kotoran yang berada di perut ikan kecil, dan boleh memakannya, dan tidak najisnya minyak karenanya. Bahkan Muhammad Ar Ramli memberlakukan juga ikan besar atas hal yang demikian.

5. Suci. Kecuali terbuat dari bahan yang najis.
Read More...

Hukum Menutup Aib Dosa
HUKUM MENUTUP MEMBUKA AIB DOSA DIRI SENDIRI

Assalamualaikum ustadz, saya sedang bingung karena sahabat saya (seorang istri) yg terus menerus curhat mengenai penyesalannya karena telah selingkuh dari suaminya. Dia dirayu terus menerus hingga akhirnya berzina dengan laki-laki lain. Namun suaminya tidak mengetahui bahwa sang istri selingkuh.

TOPIK SYARIAH ISLAM
  1. HUKUM MENUTUP MEMBUKA AIB DOSA DIRI SENDIRI
  2. WARISAN UNTUK CUCU LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN
  3. CARA KONSULTASI AGAMA

Si istri merasa bersalah, bertaubat, dan sangat takut Allah murka dan tidak mengampuni dosanya sehingga dia tidak bisa masuk surga. Karena dia berpikir, dia sebagai istri telah durhaka. Namun di sisi lain, tidak mungkin memberi tahu suami tentang perselingkuhan yg lampau karena kalaupun suami memaafkan, hanya akan memperburuk keadaan dan membuat hubungannya dengan suami ke depannya menjadi tidak enak.

Si istri (sahabat saya) terus terusan curhat kepada saya, menanyakan apakah dosanya akan diampuni. Namun karena saya bukan org yg cakap dalam ilmu agama, saya sendiri bingung menjawabnya. Sehingga saya berinisiatif membantu dengan bertanya kepada ustad. Pertanyaan saya

1. Bagaimanakah istri yg berzina tanpa diketahui suami (namun sudah bertaubat) di hadapan Allah? Apakah dosanya bisa diampuni? Kalo ya, bagaimana caranya agar diampuni?

2. Seandainya istri berselingkuh tanpa sepengetahuan suami, namun tidak sampai berjima', Apakah dosanya bisa diampuni? Apakah jika tidak sampai berjima' juga harus memberitahu suami dan meminta maaf?

3. Apakah harus memberitahu suami dan meminta maaf atas perselingkuhan yg lalu, sedangkan kalaupun suami memaafkan, hanya akan membuat hubungan ke depannya menjadi tidak enak.

Demikian pertanyaan saya ustad, mohon jawabannya. Terimakasih banyak. Assalamualaikum


JAWABAN

1. Semua dosa bisa diampuni asalkan dia melakukan taubat nasuha. Yaitu, memohon ampun pada Allah atas dosa yang dilakukan di masa lalu, berjanji tidak melakukannya lagi, dan banyak melakukan amal ibadah. Dalam QS As-Syuro :25 Allah berfirman:

وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ

Artinya: Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Baca detail: Cara Taubat Nasuha

2. Bisa diampuni selagi taubatnya masih dalam keadaan sehat dan ajal belum sampai di tenggorokan. Tidak perlu memberitahu suami. Yang dia lakukan adalah aib pribadi, oleh karena itu menjadi urusan dia dengan Allah. Tidak perlu bahkan tidak boleh membuka aib itu walaupun pada suaminya. Nabi bersabda dalam hadits riwayat Ahmad:

إن الله يقبل توبة العبد ما لم يغرغر

Artinya: Allah akan menerima taubat hambanya selagi nafas belum sampai di tenggorokan (belum mati).

Sebenarnya menceritakan pada Anda juga sebuah kesalahan karena itu berarti membuka aib dosa pada orang lain.

3. Tidak perlu memberi tahu suami. Nabi bersabda dalam sebuah hadits sahih riwayat Bukhari:

كُلُّ أَمَّتِى مُعَافًى إِلاَّ الْمُجَاهِرِينَ ، وَإِنَّ مِنَ الْمَجَانَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ ، فَيَقُولَ يَا فُلاَنُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا ، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللهِ عَنْهُ

Artinya: Seluruh umatku diampuni kecuali al-mujahirun (orang yang terang-terangan berbuat dosa), dan termasuk bentuk Mujaharoh (terang-terangan dalam berbuat dosa) adalah seseorang berbuat dosa pada malam hari, kemudian pada pagi hari dosanya telah ditutup oleh Allah, dia berkata: "Wahai fulan semalam aku telah melakukan seperti ini dan ini (menceritakan dosanya)." Allah telah menutupi dosanya di malam hari, tetapi dia membuka kembali dosa yang telah ditutup oleh Allah tersebut.

____________________


WARISAN UNTUK CUCU LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN, HIBAH DAN WAKAF

Assalamualaikum
Terima kasih telah di sediakan layanan konsultasi ini.
Sebelum ke pertanyaan saya paparkan terlebih dahulu jumlah keluarga :
Nenek
1. Anak laki laki ( almarhum)
a. Cucu laki laki (islam)
b. Cucu laki laki (islam)

2. Anak perempuan ( murtad)
a. Anak perempuan (islam)
b. Anak laki laki (islam)
c. Anak perempuan (ikut agama yang baru)
d. Anak laki laki (ikut agama yang baru)

Pertanyaan saya adalah :
Nenek menjual sebidang tanah. Cucu dari anak pertama akan dikasih 25 jt / cucu
Anak ke dua 25 jt. Sisa hasil penjualan tetap di pegang nenek untuk keperluan nya dan sebagian akan di wakafkan. Tetapi sebelum pembagian itu terwujud nenek meninggal dunia

1. Apakah pembagian dari nenek sebelum meninggal tetap sah dan sisanya bagaimana? Atau menjadi harta warisan sepenuhnya di kurangi rencana wakaf nenek
2. dan bagaimana pembagian selanjutnya?
Saya ucapkan banyak terima kasih atas bantuannya.
Wassalamualaikum

JAWABAN

1. Pembagian nenek tidak sah, karena belum terjadi serah terima. Oleh karena itu, maka semua menjadi harta warisan termasuk yang rencananya mau diwakafkan karena belum terjadi akad serah terima wakaf antara nenek dengan pihak penerima wakaf. Namun demikian, sebaiknya semua ahli waris bersepakat untuk meneruskan rencana wakaf nenek tersebut dan pahalanya diberikan untuk nenek dengan cara memotong sebagian harta waris untuk diwakafkan sesuai dengan kehendak pewaris waktu hidup.

Adapun penjelasan dan dalil tidak atau belum sahnya hibah dan wakaf nenek tersebut (karena belum ada ijab kabul) terdapat dalam kitab Al-Mausuah Al-Fiqhiyah, hlm. 26/99, sbb:

الملكية للدار الموهوبة تثبت بالقبض بإذن الواهب عند جمهور الفقهاء من الحنفية والشافعية والحنابلة. وتثبت الملكية عند المالكية بمجرد العقد, غير أنهم يشترطون لتمام العقد الحيازة للدار الموهوبة. وعلى ذلك فإذا وهب شخص آخر دارا فإن الموهوب له تثبت له ملكية الدار وتصبح نافذة عند جميع الفقهاء بحيازة هذه الدار, وهذا إذا كان الموهوب له بالغا رشيدا. فإذا كان محجورا عليه فيقوم وليه مقامه نيابة عنه إذا لم يكن هو الواهب, فإن كان الولي هو الواهب فإن المالكية يقولون: تخلي الدار الموهوبة للموهوب له ولا يسكنها الولي, فإن سكنها بطلت الهبة.

وقال الحنفية: إن الأب لو وهب ابنه الصغير الدار التي يسكنها, وكانت مشغولة بمتاعه أي الواهب فإن هذا جائز له, ولا يمنع ذلك صحة الهبة. لكن لو أسكنها الأب لغيره بأجر فإن هذا لا يجوز . ولو أسكنها لغيره بدون أجر جاز ذلك عندهم ...

وذهب الشافعية إلى أنه لا بد من خلو الدار الموهوبة من أمتعة غير الموهوب له, فإن كانت مشغولة بها واستمرت فيها فإن الهبة لا تصح. ولا فرق عندهم بين الهبة للأجنبي أو لولده الصغير, ويقولون بجواز أن يسكن الأب في دار سكناه الموهوبة لولده المشمول بولايته, وعليه الأجرة بعد تمام الهبة

Artinya: Kepemilikan rumah yang diberikan itu baru sah setelah diterima atas ijin pemberi menurut mayoritas ulama madzhab Hanafi, Syafi'i dan Hanbali. Sedangkan menurut madzhab Maliki, kepemilikan menjadi sah setelah terjadi akad hanya saja madzhab Maliki mensyaratkan untuk keabsahan akad dengan menempati rumah yang diberi.

2. Kami berasumsi bahwa yang anda maksud dalam poin 2a dan 2b adalah cucu dari nenek. Apabila benar demikian, maka pembagiannya sbb:

Adapun ahli waris yang mendapatkan warisan dalam kasus di atas adalah semua cucu baik dari anak pertama (laki-laki muslim yang wafat) maupun anak kedua (perempuan murtad). Jadi, yang mendapat warisan dan bagiannya adalah sbb:
(a) 1a (Cucu laki-laki) mendapat 2/7
(b) 1b (cucu laki-laki) mendapat 2/7
(c) 2a (cucu perempuan) mendapat 1/7
(d) 2b (cucu laki-laki) mendapat 2/7
Baca detail: Hukum Waris Islam
Read More...

Monday, November 07, 2016

Suami Ingkar Ucapan Talak
SUAMI TIDAK MENGAKUI (INGKAR) UCAPAN TALAK

Assalamua'alaikum wr wb
perkenalkan saya laki-laki, saya mau mengajukan pertanyaan dan mohon solusinya ustad

Saya adalah pria 36 tahun dan menikah sudah 7 tahun, jadi begini ustad, pada saat kira2 usia perkawinan saya 1 tahun, saya bertengkar hebat dengan istri karena dia suka membantah, pada saat itu istri sempat mengeluarkan kata2 " kalau kamu tidak suka dengan saya, nikahlah dengan ibumu", saya langsung emosi sehingga terucap kata talak yang pertama, setelah itu kami saling instropeksi dan saling memaafkan.

TOPIK SYARIAH ISLAM
  1. SUAMI TIDAK MENGAKUI (INGKAR) UCAPAN TALAK
  2. CARA TERLEPAS DARI LILITAN HUTANG RIBA
  3. CARA KONSULTASI AGAMA

pada saat usia perkawinan sekitar 4 tahun, istri saya ketahuan suka dan menyayangi salah satu relasi kerja dia dan saya sempat mengetahui dari kiriman BBM istri saya kalau istri saya sempat ingin menikah dengan relasi kerjanya dan menunggu relasi kerjanya untuk cerai dengan istrinya, ketika saya ketahui hal tersebut saya marahh dan dia akhirnya mengakui dan meminta maaf serta berjanji untuk tidak ketemu lagi dengan relasi kerjanya tersebut, tapi ternyata dia masih sering telepon atau BBM (itu yang saya ketahui) sampai akhirnya saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, istri saya dan pria relasi kerjanya keluar dari hotel short time. saya tegur mereka dan mau menyelesaikan di kantor polisi, ternyata relasi kerja istri saya lari tidak mau ke polisi, saya marah sekali dan keluarlah kata talak kedua. tapi karena melihat anak akhirnya saya rujuk kembali dengan istri.

kejadian ketiga baru saja terjadi, saat usia perkawinan 7 tahun, istri saya suka lagi ke relasi kerja dia tapi orang berbeda, saya sempat mengetahui dari whattsapp di hp istri saya kalau istri saya ingin dinikahi pria tersebut dan ingin punya anak dari pria tersebut, pada saat hari sabtu saat istri bilang ada urusan kantor ternyata sempat bertemu dengan relasi kerja dia tersebut dan akhirnya dia mengakui kalau bertemu dengan relasi kerja tersebut. saya marah kepada istri saya dan mengajak dia untuk mengurus ke kantor...tapi tp tidak terucap kata talak (menurut keyakinan saya). tetapi kata istri saya dan dia yakin kalau saya sempat mengeluarkan kata talak

1. Apa yang saya harus lakukan ustad, mengingat saya menyesal juga karena kasihan dengan anak2 akan tetapi saya merasa tidak pernah mengeluarkan kata talak
atas nasehat dan solusi nya saya mengucapkan terima kasih
wassalamu'alaikum wr wb


JAWABAN

1. Kalau memang suami tidak merasa mengucapkan kata talak, maka ucapan suami yang dianggap. Artinya, masih jatuh talak 2. Dalam sebuah hadits hasan (menurut Imam Nawawi) riwayat Ibnu Majah Nabi bersabda:

إنّ الله وضع عن أمّتي الخطأ، والنسيان، وما استكرهوا عليه

Artinya: Allah memaafkan umatku yang salah (tidak sengaja), lupa, dan yang terpaksa.

Ibnu Qudamah dalam Al-Mugni, hlm. 7/387, menyatakan:

إذا ادعت المرأة أن زوجها طلقها فأنكرها فالقول قوله ; لأن الأصل بقاء النكاح وعدم الطلاق ، إلا أن يكون لها بما ادعته بينة ، ولا يقبل فيه إلا عدلان

Artinya: Apabila istri mengaku suaminya pernah mentalaknya lalu suami mengingkari maka ucapan suami yang dianggap. Karena, yang asal adalah tetapnya nikah dan tidak adanya talak. Kecuali apabila istri dapat menunjukkan dua saksi yang adil. Lihat: Suami Tidak Mengkui Ucapan Talak

Perlu juga diketahui bahwa dalam kasus pertama, apabila kata talak diucapkan saat emosi, maka ada ulama dari madzhab Hanbali yang menyatakan talak tidak terjadi. Lihat: Talak Saat Emosi

Perlu juga diketahui, bahwa menurut syariah Islam seorang pria dibolehkan mentalak istrinya yang sering selingkuh namun juga dibolehkan mempertahankan rumah tangga. Baca: Menyikapi Istri Selingkuh

_________________


CARA TERLEPAS DARI LILITAN HUTANG RIBA

Assalamu'alaikum wr. wb.

Sekian lama kami menelusuri makalah islam diinternet yang berhubungan dengan masalah yang sedang kami hadapi selama ini belum menemukan hasil yang kami harapkan.Yang pada akhirnya kami menemukan situs alkhoirot.net, dan langsung kami mengajukan permasalahan kami selama ini belum kunjung selesai, semoga dengan pertanyaan ini kami mendapatkan solusi yang mengharapkan keridhoan-Nya.

Kami sudah lama mengalami keterpurukan dalam usaha rumahan dibidang payment online, yang sebelumnya hasil cukup memuaskan.

Mungkin Allah menghendaki lain yaitu semenjak bulan Juli 2016 usaha mengalami penurunan, sedangkan sisa modal terus berkurang buat mengangsur pinjaman Koperasi Simpan Pinjam Harian yang menerapakan bunga 20%. Ini kami lakukan karena pada awalnya untuk menambah permodalan pada usaha kami (ini kami lakukan karena pinjaman mudah tanpa jaminan).

Dua bulan berlalu modal telah habis, kami sadar dan takut akan dampak pinjaman yang berbau riba dan berniat untuk tidak melakukan lagi. Sisa hutang KSP kini masih banyak entah darimana dapat melunasinya. Usaha pinjam modal lagi ke saudara dan kerabat tidak membuahkan hasil. Keseharian hanya berpikir dan bingung langkah apa yang harus dikerjakan.

Melakukan shalat sunnah malam dan bertaubat dengan berdoa seperti yang diajarkan Rasulullah saw (artinya: Ya Allah aku berlindung dari kesusahan dan kedukaan, dari lemah kemauan dan rasa malas, dari sifat pengecut dan bakhil, dari belenggu hutang dan tekanan manusia) yang dikerjakan dalam sujud maupun setelah shalat agar Allah berkenan menunjukan jalan keluarnya. Ditambah lagi puasa sunnah Senin dan Kamis.

Namun sampai kami mengajukan pertanyaan ini sepertinya doa belum terjawab, bahkan hati dan pikiran belum terbuka langkah apa esok hari yang harus kami kerjakan.

Oleh karena itu kami berharap ustadz dapat membimbing/mendapat pencerahan terbaik bagi kami agar terlepas dari lilitan hutang.

Wassalamu'alaikum wr. wb.

JAWABAN

Doa adalah salah satu bentuk ikhtiar dalam menghadapi masalah yang dialami. Bukan satu-satunya solusi. Silahkan baca doa berikut yang berasal dari hadits Rasulullah untuk ikhtiar hutang terlunasi:

اللهم اكفني بحلالك عن حرامك، و اغنني بفضلك عمن سواك اللهم مالك الملك تؤتي الملك من تشاء و تنزع الملك ممن تشاء و تعز من تشاء و تذل من تشاء بيدك الخير انك على كل شيء قدير.تولج الليل في النهار و تولج النهار في الليل و تخرج الحي من الميت و تخرج الميت من الحي و ترزق من تشاء بغير حساب رحمن الدنيا و الاخرة و رحيمهما،تعطي من تشاء منهما و تمنع من تشاء،ارحمني رحمة تغنني بها عن رحمة سواك

Cara baca:

Allahumma ikfini an haramika, waghnini bifadlika amman siwaaka. Allahumma maalikalmulki tu'til mulka man tasya wa tanzi'ul mulka mimman tasya. wa tu'izzu man tasya. wa tudzillu man tasya biyadikalkhoir innaka ala kulli syay'in qodir. tuulijullaila finnahaari watuulijun nahaara fillaili. watukhrijul hayya minal mayyiti matukhrijul mayyita minal hayyi. watarzuqu mantasya'u bighoiri hisaab. rohmaanadduniya wal akhiroh wa rohimahuma. tu'ti man tasya minhuma wa tamna'u man tasya. irhamni rohmatan tughnini biha an rohmatin siwaaka

Baca doa di atas setiap selesai shalat. Bisa juga dibaca di luar shalat. Semoga Allah memberi jalan bagi anda untuk melunasi hutang anda. Amin.
Read More...

Thursday, November 03, 2016

Was-was Jumlah Talak
WAS-WAS JUMLAH TALAK YANG SUDAH JATUH

Ustadz saya mohon penjelasan dari ustadz.
Saya bercerita dari awal, supaya ustadz bisa memberi jawaban dan solusi buat saya.
Begini ustadz perceraian kami 3x dengan waktu yang berbeda.

2011 Setelah terjadi pertengkaran panjang saya dan suami
Istri : kita cerai saja sudah
Suami : ya
Istri : berarti kita sah lah sudah cerai
Suami : ya
Langsung saya tanya suami, kamu beneran mau cerai saya.
Suami bingung dan berkata cerai apa, aku tidak mengerti. aku bingung dari tadi kamu marah saja, Jadi aku jawab iya, supaya kamu tidak membahas apa-apa lagi. Dari tadi tidak habis habis bertengkar. Aku tidak mau cerai sama kamu. itu kata2 suami di telpon.

TOPIK SYARIAH ISLAM
  1. WAS-WAS JUMLAH TALAK YANG SUDAH JATUH
  2. SUAMI TAK BERI NAFKAH DAN SPERMA TIDAK SUBUR
  3. SUAMI-ISTRI PISAH RUMAH 9 BULAN, APAKAH SUDAH JATUH TALAK?
  4. CARA KONSULTASI AGAMA

Saya terus terang langsung bingung, lalu membaca artikel tanya jawab website alkhoirot tentang mengiyakan permintaan cerai istri. Ada 3 pendapat( ada yang mengatakan talak sharih, talak kinayah dan talak tidak terjadi menurut mahzab Hanafi). Saya terus terang saat itu bingung mengambil pendapat yang mana, saya benar benar tidak mengerti takut salah di sisi Allah jika saya salah pilih.

Besoknya suami datang. Saya suruh suami saya merujuk saya. Dia tidak mau, dia mengatakan saya tidak merasa mencerai kamu, kenapa jadi disuruh rujuk. Tapi karena saya sedikit paksa, saya katakan buat jaga2 takut jatuh talak di sisi Allah, karena banyak pendapat ulama saya bingung harus bagaimana. Akhirnya suami ucapkan rujuk.

2014 pertengahan tahun suami mengucapkan talak saat sangat marah sampai hilang kontrol, memecahkan barang2 dirumah kemudian berteriak "kita cerai" ini terjadi saat saya haid. Setelah kejadian malamnya suami merujuk saya.

2014 akhir tahun, saya telpon suami saat di kantor untuk mengajaknya bertanya pada ulama tentang status kami. Apakah masih sah atau sudah bercerai, jika sudah bercerai sudah jatuh talak berapa? Suami langsung marah ketika itu, dan langsung berteriak," apa lagi kamu membahas masalah ini, iya sudah cerai saja." Setelah itu kami di damaikan oleh keluarga pihak suami, dan diberi pengertian belum jatuh talak.

Karena kami sangat kurang masalah agama saat itu, saya menurut saja apa yang dikatakan orang tua.

Maret 2016, saya mulai kepikiran tentang kata2 talak kami yang lalu lalu.
Saya memberanikan dirinya bertanya pada ulama besar, di tempat saya tinggal, saya pasrah apapun hasilnya jika ulama sudah menyatakan talak 3 saya ikhlas, tapi dalam hati kecil saya, saya berharap masih ada kesempatan kami berumah tangga.

Pagi saya konsultasi, ulama tersebut meminta saya menerangkan kejadian dari awal sampai terakhir, dan sore baru ada jawaban Ulama tersebut. Dan beliau mengatakan kami jatuh talak 2. Yang pertama tidak jatuh karena "iya" temasuk talak kinayah, dan suami tidak ada niat saat itu.

Saya masih was was saat itu, dan saya kembali bertanya pada ulama besar yang lain di daerah saya. Saat itu jawaban ulama tersebut sama bahwa kami jatuh talak 2. Dan penjelasannya pun sama dengan ulama yang yang pertama, jawaban" ya "termasuk talak kinayah. Dan suami di tanyakan oleh ulama tersebut niatnya saat mengucap kata " ya" saat 2011, suami menjawab tidak niat cerai. Oleh ulama tersebut Talak saat haid dan sangat marah tetap jatuh.

Merasa cukup dengan jawaban 2 ulama, saya menjalankan rumah tangga kembali. Dengan fatwa kami sudah jatuh talak 2, dan ini kesempatan terakhir.

Beberapa bulan terakhir ini ustadz, saya di hinggapi was was kembali.
Saya membaca artikel lembaga fatwa ulama Wahabi. saya membaca artikel tanya jawab, seseorang dengan lembaga fatwa tersebut. Mengatakan jika terjadi talak dengan 3 waktu berbeda, haram hukumnya menoleh pada talak pertama atau kedua yang sudah terjadi demi mencari keringanan pendapat ulama yang mengatakan tidak jatuh. Karena yang pertama dan kedua dia berkeyakinan telah jatuh
1) karena fatwa ulama padanya
2) karena mengambil pendapat mayoritas
3) karena hasil ijtihad
Dan ulama luar negeri tersebut mengatakan ini mempermainkan hukum, menurutkan hawa nafsu dengan berpindah fatwa ulama demi mencari keringanan pendapat ulama.( Artikel itu berisi, seseorang yang menalak istrinya 3 waktu berbeda. Setelah tejadi talak ketiga dia meminta fatwa lembaga fatwa luar negri tersebut dengan mengatakan talaknya yang pertama terjadi saat istri suci selesai jimak, tapi tetap lembaga fatwa tersebut mengatakan tetap jatuh talak 3 karena tidak boleh menoleh ke talak pertama untuk mencari keringanan fatwa ulama, karena dia tahu ulama tersebut berfatwa tidak jatuh talak jika talak bid'ah.)

Padahal fatwa lembaga fatwa tersebut mengatakan talak tidak jatuh saat haid, nifas, dan keadaan suci selesai jimak.

Yang ingin saya tanyakan ustadz Pendapat ulama mana yang saya ambil

1a. apakah saya tetap menjalankan fatwa 2 ulama di daerah saya yang mengatakan talak pertama tidak jatuh karena talak kinayah, dan kami baru talak 2.
1b. Apakah saya berdosa jika menjalankan pendapat ulama di tempat saya?
1c. Apakah saya termasuk memperturutkan hawa nafsu?

2) Apakah benar haram menoleh pada talak yang pertama, karena mencari keringanan saat terjadi talak yang ke tiga. karena saya istri saat itu bingung pendapat yang mana yang diambil, jadi buat jaga jaga saya suruh suami rujuk takut terjadi talak saat me jawab iya permintaan cerai istri 2011 (secara tidak langsung saya menganggap terjadi talak saat itu). Lalu 2016 berpindah ke pendapat ulama yang mengatakan talak kinayah, tidak jatuh talak pertama karena tidak niat saat bilang iya, karena jawaban 2 ulama yang saya tanyakan di tempat saya . Saya terus terang bingung ustadz. Harus bagaimana, tolong jelaskan hukum fiqih bagi saya yang awam.

3) Apakah saya termasuk mencari pendapat yang termudah setiap pendapat ulama? Dan itu hukumnya haram kah ustadz berpindah pendapat seperti itu?

4) bagaiman hukum rujuk kami saat 2011, saat itu ustadz karena saat itu saya takut terjadi talak, dan rujuk buat jaga-jaga?

Saya meminta pendapat ulama di daerah saya tersebut niatnya hanya untuk mencari kepastian hukum pernikahan saya saat itu karena banyak pendapat ulama di internet tentang talak, tidak ada untuk mencari keringanan pendapat ulama. Walaupun hati kecil saya berharap dan berdoa Allah masih memberikan kesempatan pada kami berumah tangga. Saya sangat minta tolong ustadz penjelasan ustadz. Saya sampai saat ini merasa berdosa, was was takut sudah jatuh talak 3.

Tapi suami saya yakin dengan pendapat 2 ulama besar yang kami mintai jawaban, bahwa kami baru talak 2. Sampai saat ini saya masih merasa was was, bingung dengan banyaknya pendapat ulama. Saya takut berdosa, saya takut sudah tidak sah lagi.
Saya hanya mencari keridhaan Allah, tidak ingin mencari keringanan.
Wassalamu'alaikum


JAWABAN

1. (i) Peristiwa tahun 2011 tidak jatuh talak karena hukumnya talak kinyah sedangkan suami tidak ada niat talak. Baca: Mengiyakan Permintaan Cerai Istri
(ii) Kasus pertengatahn 2014 juta tidak jatuh talak karena suami mengucapkan talak saat sedang emosi yang tidak terkontrol. Baca detail: Talak Suami Marah
(iii) Kasus akhir 2014 terjadi talak karena suami mengucapkannya dalam keadaan marah yang masih terkontrol.

Dengan demikian, maka terjadi talak 1 saja. Baca detail: Cerai dalam Islam

2. Tidak benar. Tidak ada larangan untuk mengikuti pendapat yang berbeda-beda. Anda sebagai orang Indonesia tentunya mengikuti madzhab Syafi'i. Dan pendapat terjadinya talak kinayah pada kasus pertama adalah pendapat Imam Nawawi, salah satu ulama utama dalam madzhab Syafi'i. Baca detail: Mengiyakan Permintaan Cerai Istri

3. Tidak haram mengikuti pendapat ulama yang berbeda-beda untuk mencari kemudahan. Apalagi perbedaan ulama itu masih dalam satu madzhab yakni madzhab Syafi'i. Bahkan mengambil pendapat madzhab lain pun dibolehkan apabila diperlukan. Baca detail: Talfiq dalam Islam

Dalam kaidah fikih dikatakan: Ijmak ulama itu hujah yang pasti, perbedaan ulama itu rahmat yang luas (اتفاق العلماء حجة قاطعة و اختلافهم رحمة واسعة). Maksudnya adalah dibolehkan mengikuti salah satu pendapat ulama yang berbeda.

4. Hukum rujuk tahun 2011 itu tidak dianggap karena faktanya tidak ada talak, jadi tidak ada rujuk. Kalaupun rujuk diucapkan suami, maka ucapan itu tidak ada gunanya.

Saran:

1. Mulai sekarang, hilangkan rasa was-was anda soal talak ini. Karena status pernikahan anda masih sah dan baru jatuh talak 1 menurut pendapat ulama yang sahih. Fokuslah pada bagaimana cara menciptakan rumah tangga yang sakinah dan nyaman bersama suami.

2. Dalam mencari info agama di internet, hindari mengikuti fatwa ulama Wahabi Salafi karena umumnya berbeda debgab pendapat madzhab Syafi'i dalam bidang fikih; dan cenderung sesat dalam masalah akidah karena mengikuti pandangan tauhid Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab. Baca: Wahabi Salafi

_____________________


SUAMI TAK BERI NAFKAH DAN SPERMA TIDAK SUBUR

Asssalamualaikum..

saya seorang istri (35 tahun)
dan suami (37 tahun).
sebelum kami menikah orangtua saya tidak merestui hubungan kami... sampai akhirnya orangtua saya merestui dan kami menikah di tahun 2011.

pertama :
sudah hampir 5 tahun pernikahan kami blm di karuniai anak.. kami melakukan cek sperma di prodia dan hasilnya sperma suami saya tidak bagus hanya normal krg lbh 1℅.. lalu kami berkonsultasi ke dokter andrologi dan ditemukan varises "maaf" penis suami (kami konsultasi dgn 2 dokter yg berbeda & hasilnya sama) akhirnya kamu operasi utk menghilangkan varises tsb.

setelah operasi suami saya kembali cek lab dan hasilnya tetap sama sperma suami hanya 1℅ yg bagus.. lalu kami konsultasi lagi ke dokter dan suami saya di beri obat yg hrs di minum selama 3 bulan.. dan hrs hidup sehat (misal tidak merokok,olahraga dll). namun baru 1 bulan suami saya minum obat dia sdh tidak mau minum obat lagi, dan tidak menjalankan anjuran dokter utk hidup sehat.

setiap saya mengingatkan selalu marah, tersinggung... dan akhirnya saya pun mengalah. saya jg berusaha mengajak suami utk berobat lagi ke dokter.. tp suami sll menolak.. nanti saja begitu katanya...

kedua :
saya bekerja sbg PNS suami karyawan swasta. dari awal menikah saya tdk pernah menuntut gaji suami saya.. pernah saya berkata "temen2 saya gajinya di serahkan ke istri loh, jawabannya buat suami operasional sehari-hari.. kebutuhan rumah tangga saya coba atasi, tetapi kalau saya tdk bisa atasi saya minta ke suami..

saat ini sejak desember 2015 suami saya di PHK.. saya sll mencukupi kebutuhannya.. sampai menjalankan hobby nya pun saya dukung. saya rela jual perhiasan utk kebutuhan tak terduga spt ke bengkel dan lain-lain. sampai saat ini suami blm bekerja, hanya di rumah dan main tamiya (mobil2an) krn itu hobby nya..

kurang lebih hanya 12 lamaran yg dikirim..dan itu pun tdk ada panggilan.. saya sdh suruh ikut grab car/go car tapi jawabannya "capek kalo hrs nyupir".. dan saya pun kembali mengalah.

ketiga:
saya sudah merasa lelah harus berjuang sendiri apalagi untuk soal anak mengingat usia saya yg sdh 35 tahun.. saya jg sudah merasa suami saya tidak ada tanggung jawab sebagai kepala keluarga. dan saya merasa mulai hambar dgn pernikahan ini.
belakangaan ini sering terjadi perselisihan krn hal-hal sepele.. mulai saling mencurigai satu sama lain.. tidak percaya satu sama lain.

yang ingin saya tanyakan..

1. apakah dalam islam saya boleh mengajukan perceraian karena masalah tsb di atas ?

terimakasih sebelumnya saya sdh di ijinkan utk berkonsultasi..
wassalamualaikum wr.wb.

JAWABAN

1. Dalam kasus di atas istri boleh mengajukan cerai baik dari segi agama maupun dari segi negara. Baca detail: Istri Minta Cerai karena Tak Cinta

Baca juga: Cerai dalam Islam
_____________________


SUAMI-ISTRI PISAH RUMAH 9 BULAN, APAKAH SUDAH JATUH TALAK?

Assalamualaikum Wr.Wb.
saya mohon minta pencerahan dari pak ustad, jadi permasalahannya dulu saya diusir sama isteri dari rumah mertua, semua baju celana saya dikembalikan ke tempat orang tua saya jadi sekarang saya kembali pulang kerumah orang tua. Sya akui saya dulu memang salah, saya orangnya pemabuk tapi bukan pecandu berat dan sekarang saya sudah sadar. Saya ingin memperbaiki rumah tangga saya yang dulu saya bina agar menjadi utuh kembali berkumpul sama isteri dan anak yang sangat saya cintai yang masih berumur 2 tahun.

Waktu itu saya sempat menannyakan kepada isteri saya bahwa saya ingin kembali atau rujuk, tapi isteri saya menolak tidak mau lagi bersama saya memang sih isteri saya orangnya keras kepala, katanya dia masih sanggup membiayai anak tapikan saya kasihan sama anak saya yang pada saat itu dia meliat saya langsung menangis waktu saya bilang ke isterin mau rujuk, mungkin dia merasakan apa yang saya rasakan, dan
saya masih tetap menafkahi anak isteri saya.

Saya dan isteri saya pisah rumah (berambangan) sekitar kurang lebih 8 atau 9 bulan. Dan saya tidak pernah sekalipin mengucapkan kata cerai atau talak kepada isteri saya, apalagi memukul saya tidak pernah.

Pertanyaanya :
1. Apakah dia masih isteri sah saya atau tidak kalau iya bagaimana solusinya dan tidak bagaimana solusinya pa ustad?

Mohon pencerahanya Pa Ustad. Terima kasih....

Wassalamualaikum Wr.Wb...

JAWABAN

1. Status pernikahan anda masih sah dan belum terjadi talak karena suami belum pernah mentalak istrinya. Kecuali apabila istri anda telah mengajukan gugat cerai ke pengadilan agama dan gugatan itu telah disetujui hakim pengadilan agama. Baca detail: Cerai dalam Islam
Read More...