Konsultasi Syariah Islam

Konsultasi syariah hanya akan dilayani apabila dikirim via email ke: alkhoirot@gmail.com

Subscribe Us

Suka artikel kami? Dapatkan update terbaru langsung ke email Anda!

ATAU
Feed KSIA

Wednesday, March 29, 2017

Suami Cerai Istri dengan Talak 3 Jatuh Talak Berapa?
TALAK TIGA HARUSKAH MENIKAH DENGAN ORANG LAIN KALAU MAU RUJUK

Assalamualikum Wr Wb,

Yang terhormat ,Pak ustad

Dengan ini saya mau menanyakan perihal talak 3 yang di ajukan suami saya , karena kecemburuannya, sebelumnya kami belum pernah bercerai, baru 6 bulan ini rumah tangga saya berantakan, di akhir semuanya suami saya menjatuhkan talak 3 lewat sms, yang di kirimnya sebagai berikut :Konteknya itu yang kamu namakan ngobrol baik-baik, aku rasa tidak dan sudah cukup buat aku, apa lenn and speaking Goodlah, Walau lewat sms sekarang aku talak 3 kamu istriku , [nama istri dihapus - red] jika kamu ingin langsung akan aku laksanakan di depan orang tuamu,WASSALAM....itu yang dia sms. Berjalan nya waktu sebelum masa Iddah, kami mau kembali, haruskah saya sebagai istri menikah lagi dengan laki-laki lain, kalau kami harus rujuk.

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih, atas penjelasannya.
Wassalamualaikum

DAFTAR ISI
  1. Talak Tiga Haruskah Menikah Dengan Orang Lain Kalau Mau Rujuk
  2. Wetonan Jawa Dalam Pernikahan
  3. Menikahi Wanita Tidak Perawan Karena Zina
  4. Warisan Suami-Istri Yang Meninggal Tanpa Anak
  5. CARA KONSULTASI AGAMA

JAWABAN TALAK TIGA HARUSKAH MENIKAH DENGAN ORANG LAIN KALAU MAU RUJUK

Talak lewat SMS sama dengan talak lewat tulisan termasuk kategori talak kinayah. Talak kinayah baru terjadi kalau disertai dengat niat dari suami untuk menceraikan. Kalau suami memang niat mentalak pada saat mengirim SMS, maka talak telah terjadi. Pertanyaan berikutnya: apakah kalimat: "Talak 3" berdampak pada terjadinya talak 3? Ada dua pendapat, berikut rinciannya:

PENDAPAT MAYORITAS ULAMA (JUMHUR) TERJADI TALAK 3 (TIGA)

Apakah terjadi talak 3 (tiga)? Ucapan suami pada istri: "Aku ceraikan kamu dengan talak 3" dihukumi jatuh talak 3. Dan sebagai konsekuensinya, maka suami tidak boleh lagi rujuk atau akad baru dengan istri kecuali setelah istri menikah dengan pria lain sebagaimana tersebut dalam QS Al-Baqarah 2:230
فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلا تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجاً غَيْرَهُ فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يَتَرَاجَعَا إِنْ ظَنَّا أَنْ يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ يُبَيِّنُهَا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
Artinya: Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) mengetahui.

Talak 3 disebut juga dengan talak bain kubro.

Referensi pendapat ulama dalam soal ini lihat: Al-Jassas dalam Ahkamul Quran, I/527; Ibnu Hajar Asqalani, dalam Fathul Bari, IX/365; Tafsir Ibnu Katsir I/272.

PENDAPAT YANG MENGATAKAN HANYA TERJADI TALAK 1 (SATU)

Ucapan suami "Aku ceraikan kamu dengan talak tiga" hanya terjadi talak 1 (satu). Ini adalah pendapat dari banyak ahli fiqih generasi Sahabat dan Tabi'ini seperti Ibnu Abbas, Jabir bin Zaid, dan lain-lain. Juga pendapat dari salah satu ulama madzhab Hanafi, Maliki, dan Hanbali.

Referensi dalam soal ini lihat: An-Nawawi dalam Syarh Muslim X/104; Al-Mahalli X/174. Ibnul Qayyim dalam Ighasat al-Lahfan I/290.

Kesimpulan

Anda dapat mengikuti pendapat yang menganggap itu talak 1 (satu) dan rujuk kembali dengan suami dengan rincian: (a) kalau masa iddah belum habis, maka suami dapat rujuk tanpa akad nikah baru; cukup mengatakan "Aku rujuk padamu". (b) kalau masa iddah sudah habis, maka harus dilakukan akad nikah ulang.

Ini juga pelajaran bagi suami dan anda agar menjaga keharmonisan rumah tangga dan menghindari pertengkaran dan hal-hal yang menyebabkan pertengkaran. Serta tidak mudah mengobral kata "Cerai" pada istri.

Lihat juga:
- Jangan Mengobral Kata Cerai
- Talak 3 Bolehkah Rujuk Lagi
- Cerai dalam Islam

____________________



WETONAN JAWA DALAM PERNIKAHAN

Assalamu'alaikum Wr Wb.,

saya seorang muslimah dan berencana akan menikah dengan calon saya yang berstatus duda. semula kami berencana akan menikah bulan Dzulhijjah 1434 H, namun orang tua saya melarang dengan alasan pernikahan calon saya dengan mantan istrinya pada bulan Muharram 1434 H. karena menurut adat jawa harus ganti tahun dulu, disamping itu bulan Dzulhijjah bertepatan dengan bulan meninggalnya nenek dan paman saya serta bulan kelahiran calon saya.

1, Jenapa hal semacam itu disangkut pautkan, padahal niat kami baik untuk mensegerakan menikah.
mohon pencerahannya, terima kasih

Wassalamu'alaikum Wr Wb

JAWABAN

1. Fakta bahwa orang tua anda masih berpegang teguh pada adat Jawa, bukan pada ajaran Islam, menunjukkan bahwa beliau masih sangat minim ilmu agama. Ketiadaan atau kekurangan seseorang akan ilmu agama itu disebabkan oleh kesalahan orang tua sebelumnya (kakek nenek anda) yang tidak mengirim anaknya ke pesantren untuk belajar agama.

Anda pun akan melakukan hal yang sama dengan orang tua anda, yaitu melakukan hal-hal yang mungkin tidak sesuai dengan agama, walaupun mungkin dalam bentuk lain. Bukan dalam wujud adat kejawen. Pelajaran yang bisa diambil: imbangi keilmuan kita di bidang sains dengan keilmuan di bidang agama. Khususnya di bidang ilmu syariah.

Cara yang mudah: ikuti pesantren kilat pada saat libur kuliah. Atau yang lebih ideal: sekolah dan kuliah sambil belajar di pesantren. Namun, hati-hati jangan salah masuk ke pesantren milik ustadz Wahabi agar tidak berubah jadi radikal. Lihat: http://www.alkhoirot.net/2011/12/nama-ulama-wahabi-salafi.html

Terkait:
- Nikah terhalang adat Jawa
- Adat Jawa Larang Nikah Anak Pertama
- Adat Jawa Ngalor Ngulon Jadi Penghalang Pernikahan

____________________


MENIKAHI WANITA TIDAK PERAWAN KARENA ZINA

,,Assalamualaikum Wr.Wb.

Selamat siang, sebelumnya saya haturkan maaf lahir batin atas apa yang kiranya saya tidak mengerti banyak tentang apa yang saya tidak mengerti apa itu nikah yang halal.

Disini saya mau bertanya tentang apa yang sekarang ini membuat saya bingung.

Awalnya saya mengenal kembali salah seorang teman wanita yang dulunya adalah teman SMP, saya sangat sangat menyayangi dia dan sangat mencintai dia, sebaliknya dia juga begitu sangat mencintai saya. Seiring berjalannya waktu saya telah mengetahui kalo dia ternyata sudah tidak perawan akibat perbuatan zina dengan pacarnya yang dulu. Saya akui saya merasakan sakit setelah mendengar itu secara langsung dari wanita yang saya sayangi. Karna saya sangat menyayangi dan mencintai dia, seakan saya tidak peduli dengan keadaannya dia yang memang sudah tidak perawan. Bahkan saya berminat untuk menikahi dia, dan saya tau kalau dia memang sudah benar-benar merasa bersalah sama saya terutama sama Allah, sehingga dia mau bertaubat.

1. Dan yang jadi pertanyaan saya, apakah di kehidupan berkeluarga kelak bisakah saya mendapatkan kebahagiaan dari Allah?
2. Dan apakah Allah akan membenci saya karna telah mendekati bahkan menikahi pezina?

Mohon jawabannya biar saya tidak salah jalan.
Waalaikum salam wr.wb.

JAWABAN

1. Secara syariah tidak ada masalah menikahi wanita yang pernah berzina kalau memang sudah bertaubat. Yang justru harus anda pikirkan adalah efek psikologis dan sosial kelak. Yakni, saat terjadi konflik antara anda berdua, maka masalah masa lalu akan kembali muncul mengemuka. Siapa pun yang akan memulai. Saran kami, pikirkan masa-masak. Jangan terburu-buru untuk menkahi dia. Kalau anda ingin menikahi dia karena nafsu (dan "cinta"), maka kemungkinan penyesalan di masa depan akan sangat terbuka.

2. Allah akan mengampuni hambaNya yang bertaubat nasuha. Kalau memang betul-betul bertaubat, maka Allah tidak akan memurkai dia.

Lebih detail: Menikahi Wanita Tak Perawan karena Zina

____________________


WARISAN SUAMI-ISTRI YANG MENINGGAL TANPA ANAK

Aslmualaikum...ustad saya mau bertanya perihal pembagian warisan apabila suami mninggal duluan,7 tahun kemudian istrinya meninggal dan mereka tdak mmpunyai keturunan!
1. Bagaimana cara membgi harta warisan tersebut mnurut islam?
Supya tdak trjadi kesalahpahaman antara keluarga 2 pihak.
Akhr kata aslmualikum wr.wb

JAWABAN

Pertanyaan anda tidak lengkap. Semestinya anda sebutkan (a) siapa saja dari kerabat kedua suami istri tersebut yang masih hidup; (b) status kekerabatan dengan yang meninggal; (c) dan jenis kelaminnya. Lihat panduan bertanya tentang waris di sini.

Atau, anda dapat melihat sendiri panduan cara membagi warisan di sini.
Read More...

Friday, March 03, 2017

Hukum Jabat Tangan atau Salaman Bukan Muhrim
Hukum Jabat Tangan atau Salaman antara pria wanita Bukan Muhrim

Perempuan dalam konteks hubungannya dengan laki-laki ada dua macam yaitu wanita mahram (secara salah kaprah disebut muhrim) yang memiliki hubungan sangat dekat atau perempuan non-mahram (Arab, ajnabiyah). Wanita bukan mahram ada tiga macam: dewasa, anak kecil dan usia lanjut. Dalam syariah Islam, berjabatan tangan (bahasa Arab, musafahah; Jawa, salaman) antara lelaki dan perempuan yang bukan mahram hukumnya haram (dilarang). Kecuali apabila wanita non-mahram tersebut sudah tua atau masih anak-anak. Sedangkan bersalaman atau bersentuhan dengan wanita yang mahram hukumnya boleh.
Keterangan gambar: Raja Salman bersalaman dengan Puan Maharani di Istana Merdeka 2 Maret 2017

TOPIK SYARIAH ISLAM
  1. Hukum Salaman dengan Perempuan Mahram (Muhrim)
  2. Hukum Jabat Tangan dengan Wanita Bukan Mahram
    1. Hukum Jabatan Tangan dengan Wanita Tua Anak Kecil Bukan Mahram
    2. Hukum Jabatan Tangan dengan Wanita Muda Bukan Mahram
  3. Pendapat Yusuf Qardhawi seputar Jabat Tangan dengan Wanita
  4. Hukum Jabat Tangan dengan Wanita Bukan Muhrim Menurut 4 (Empat) Madzhab
  5. CARA KONSULTASI SYARIAH ISLAM


I. HUKUM JABAT TANGAN DENGAN PEREMPUAN MAHRAM

Berjabatan tangan/bersalaman, bersentuhan dengan perempuan yang mahram hukumnya boleh. Berdasarkan sebuah hadits riwayat Abu Daud dan Tirmidzi, bahwa Nabi Muhammad pernah mencium putrinya Fatimah dan Fatimah juga pernah mencium Nabi apabila Nabi datang ke rumahnya.[1] Hadits ini menjadi dalil ulama untuk menetapkan bolehnya berjabatan tangan antara pria dengan wanita mahram. Karena, kalau bersentuhan boleh, maka bersalaman juga boleh karena jatabtangan menjadi bagian dari bersentuhan.

Hal lain yang boleh dilakukan antara pria dan perempuan yang mahram adalah memandang anggota tubuh wanita selain antara pusar dan lutut, bepergian bersama, dan khalwat (berduaan dalam kamar tertutup).


II. HUKUM JABAT TANGAN DENGAN WANITA BUKAN MAHRAM

Wanita yang bukan mahram ada dua macam. Perempuan tua dan perempuan muda. Kedunya memiliki konsekuensi hukum yang berbeda dalam berjabatan tangan.

II.A. HUKUM JABAT TANGAN DENGAN WANITA TUA BUKAN MAHRAM

Bersalaman dengan wanita tua renta hukumnya boleh dengan syarat (a) perempuan itu sudah tidak menarik dan tidak tertarik lawan jenis; (b) kedua belah pihak terbebas syahwat (nafsu). Berjabat tangan dengan anak (gadis) kecil hukumnya sama dengan perempuan tua. Abu Bakar--khalifah pertama--biasa bersalaman dengan perempuan tua.

Namun, menurut madzhab Syafi'i, hukumnya tetap haram. ٍ


II.B. HUKUM JABAT TANGAN DENGAN WANITA MUDA BUKAN MAHRAM

Bersalaman dengan perempuan non-mahram yang masih muda haram secara mutlak dan disepakati oleh madzhab yang empat (Syafi'i, Maliki, Hanafi, Hanbali).

Menurut madzhab Hanbali:

Haram berjabatan tangan dengan wanita bukan mahram yang masih muda, walaupun memakai kain penghalang (ha'il). Berdasarkan sebuh hadits sahih riwayat Tabrani dan Baihaqi Nabi bersabda: "Memasukkan tangan ke besi yang panas itu lebih baik daripada menyentuh perempuan yang tidak halal (bukan mahram atau istri)"[2] Bersalaman merupakan bagian dari bersentuhan.

Sebuah hadits dari Aisyah menyatakan bahwa telapak tangan Nabi tidak pernah menyentuh tangan perempuan lain sama sekali. Nabi berkata pada para perempuan apabila hendak membaiat mereka, "Aku akan membaiat kalian dengan kata-kata."[3]

Menurut Madzhab Syafi'i:

Imam Nawawi berkata: perempuan yang haram dilihat, maka haram disentuh. Boleh memandang perempuan hanya apabila hendak melamarnya. Tapi tetap tidak boleh menyentuhnya.[4]

Nabi tidak pernah menyentuh tangan wanita saat membaiat

Ada hadits riwayat Ummu Athiyah yang terkesan seakan-akan Nabi pernah memegang tangan perempuan saat membaiat mereka. Anggapan itu tidak betul. Hadits riwayat Ummu Athiyah tersebut menceritakan bahwa Nabi mengutus Umar bin Khatab membaiat sekelompok perempuan Anshar. Umar kemudian membaiat mereka dari luar pintu atau luar rumah sedang perempuan itu berada dalam rumah.[5] Di situ tidak disebut secara jelas apakah tangan Umar menyentuh atau tidak. Di samping itu, Ibnu Hajar pensyarah Sahih Bukhari menyatakan bahwa kesaksian Ummu Athiyah tersebut tertolak dengan hadits Aisyah.[6]

Sebagian ulama menafsiri hadits Ummu Athiyah itu dengan sahnya baiat dengan bersalaman yang memakai penghalang.


III. PENDAPAT YUSUF QARDHAWI SEPUTAR JABAT TANGAN DENGAN WANITA BUKAN MAHRAM

Dr. Yusuf Qaradawi mempunyai pandangan yang agak berbeda dalam soal jabat tangan dengan perempuan bukan mahram. Menurut Qardhawi, hukum bersalaman dengan perempuan non-mahram adalah makruh alias tidak haram dengan syarat:

(a) tidak ada syahwat;

(b) aman dari atau tidak ada fitnah. Apabila dikuatirkan terjadi fitnah dari salah satu pihak atau bangkitnya syahwat, maka hukumnya haram. Bahkan, bersalaman dengan perelpuan mahram pun, kalau membangkitkan syahwat, hukumnya haram. Seperti bersalaman dengan ibu mertua, bibi, istri ayah, dan lain-lain yang termasuk dari perempuan mahram.

(c) Hendaknya bersalaman dengan singkat.[7]

Yusuf Qardhawi membahas aspek hukum secara mendalam sebelum sampai pada kesimpulan di atas. Termasuk dalam menganalisa dasar-dasar dari Quran dan hadits yang sebagian dikutip di catatan kaki di bawah.[8]


IV. HUKUM JABAT TANGAN DENGAN WANITA BUKAN MAHRAM MENURUT MADZHAB 4 (EMPAT)

Berikut pendapat para ulama 4 (empat) madzhab atau madzahib al-arba'ah seputar hukum berjabatan tangan atau salaman antara laki-laki dan wanita bukan mahram (muhrim)

1. Madzhab Hanafi berdasarkan pendapat Ibnu Najim yang mengatakan bahwa tidak boleh menyentuh wajah dan telapak tangan perempuan walaupun aman dari syahwat karena adanya keharaman dan tidak adanya darurat (keperluan mendesak) (Al Bahr Ar-Raiq VIII/219).

قال ابن نجيم :
ولا يجوز له أن يمس وجهها ولا كفها وإن أمن الشهوة لوجود المحرم ولانعدام الضرورة .
" البحر الرائق " ( 8 / 219 )

Artinya: Laki-laki tidak boleh menyentuh wajah dan telapak tangan wanita walaupun aman dari syahwat karena itu diharamkan dan tidak adanya hal yang mendesak (darurat)

2. Madzhab Maliki. Muhammad bin Ahmad berkata tidak boleh menyentuh wajah dan telapak tangan perempuan bukan mahram tanpa (kain) penghalang (Minah al-Jalil ala Syarh Mukhtasar Khalil I/223).

قال محمد بن أحمد ( عليش ) :
ولا يجوز للأجنبي لمس وجه الأجنبية ولا كفيها ، فلا يجوز لهما وضع كفه على كفها بلا حائل ، قالت عائشة رضي الله تعالى عنها " ما بايع النبي صلى الله عليه وسلم امرأة بصفحة اليد قط إنما كانت مبايعته صلى الله عليه وسلم النساء بالكلام " ، وفي رواية " ما مست يده يد امرأة وإنما كان يبايعهن بالكلام " .

3. Madzhab Syafi'i. Menurut Imam Nawawi hukumnya haram berjabat tangan dengan wanita bukan mahram (Al-Majmuk IV/515). Imam Waliuddin Al-Iraqi mengatakan bahwa Nabi tidak pernah menyentuh perempuan yang selain istri-istrinya baik saat membaiat atau situasi lain. Apabila Nabi yang sudah terpelihara dari berbagai macam keraguan tidak melakukannya, maka yang lain semestinya lebih dari itu (tidak melakukan jabat tangan) (Tarhut Tatsrib VII/45-46).

وقال ولي الدين العراقي :
وفيه : أنه عليه الصلاة والسلام لم تمس يده قط يد امرأة غير زوجاته وما ملكت يمينه ، لا في مبايعة ، ولا في غيرها ، وإذا لم يفعل هو ذلك مع عصمته وانتفاء الريبة في حقه : فغيره أولى بذلك ، والظاهر أنه كان يمتنع من ذلك لتحريمه عليه ؛ فإنه لم يُعدَّ جوازه من خصائصه ، وقد قال الفقهاء من أصحابنا وغيرهم : إنه يحرم مس الأجنبية ولو في غير عورتها كالوجه ، وإن اختلفوا في جواز النظر حيث لا شهوة ولا خوف فتنة، فتحريم المس آكد من تحريم النظر ، ومحل التحريم ما إذا لم تدع لذلك ضرورة فإن كان ضرورة كتطبيب وفصد وحجامة وقلع ضرس وكحل عين ونحوها مما لا يوجد امرأة تفعله جاز للرجل الأجنبي فعله للضرورة .

4. Mdzhab Hanbali. Hukumnya haram berjabat tangan (Al-Adab Asy-Syar'iyyah II/257).

وقال ابن مفلح :
وسئل أبو عبد الله – أي الإمام أحمد – عن الرجل يصافح المرأة قال : لا وشدد فيه جداً ، قلت : فيصافحها بثوبه ؟ قال : لا ...
والتحريم اختيار الشيخ تقي الدين ، وعلل بأن الملامسة أبلغ من النظر )
Pandangan Madzhab Empat soal ini dapat juga dilihat di sini.

CATATAN DAN RUJUKAN

[1] أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقبل فاطمة رضي الله عنها وتقبله إذا دخل عليها

[2] لأن يطعن في رأس أحدكم بمخيط من حديد خير له من أن يمس امرأة لا تحل له

[3] والله ما أخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم النساء قط إلا بما أمره الله تعالى، وما مست كف رسول الله صلى الله عليه وسلم كف امرأة قط، وكان يقول لهن إذا أخذ عليهن البيعة: قد بايعتكن كلاما
Dalam hadits serupa di Sahih Muslim hadits no. 3470 Aisyah berkata: أَنَّهُ يُبَايِعُهُنَّ بِالْكَلامِ .. وَمَا مَسَّتْ كَفُّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَفَّ امْرَأَةٍ قَطُّ

Dalam Sahih Bukhari hadits no. 6674 Aisyah berkata bahwa Nabi tidak pernah menyentuh tangan perempuan selain istrinya: مَا مَسَّتْ يَدُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَ امْرَأَةٍ إِلا امْرَأَةً يَمْلِكُهَا

[4] قال النووي رحمه الله : وقد قال أصحابنا: كل من حرم النظر إليه حرم مسه، بل المس أشد، فإنه يحل النظر إلى الأجنبية إذا أراد أن يتزوجها، ولا يجوز مسها

[5] Teks hadits sebagai berikut: عن أم عطية قالت: لما قدم رسول الله صلى الله عليه وسلم جمع نساء الأنصار في بيت، ثم أرسل
إلينا عمر بن الخطاب ـ رضي الله عنه ـ فقام على الباب وسلّم علينا فرددن أو فرددنا عليه السلام، ثم قال: أنا رسولُ رسولِ الله صلى الله عليه وسلم إليكن، قالت: فقلنا: مرحباً برسول الله، وبرسولِ رسولِ الله، فقال: تبايعن على أن لا تشركن بالله شيئاً ولا تسرقن ولا تزنين، قالت: فقلنا: نعم، قالت: (فمدّ يده من خارج الباب أو البيت، ومددنا أيدينا من داخل البيت، ثم قال: اللهم اشهد

[6] Fathul Bari VIII/4888.

[7] Yusuf Al Qaradawi, Fatawa Mu'ashirah, hlm. 291-302.

[8] Yang terpenting antara lain sebagai berikut:
والذي يطمئن إليه القلب من هذه الروايات أن مجرد الملامسة ليس حرامًا..فإذا وجدت أسباب الخلطة كما كان بين النبي ((صلى الله عليه وسلم)) وأم حرام وأم سليم، وأمنت الفتنة من الجانبين، فلا بأس بالمصافحة عند الحاجة كمثل القادم من سفر، والقريب إذا زار قريبة له أو زارته، من غير محارمه، كابنة الخال، أو ابنة الخالة، أو ابنة العم، أو ابنة العمة، أو امرأة العم، أو امرأة الخال أو نحو ذلك، وخصوصًا إذا كان اللقاء بعد طول غياب.
Lihat, Qardhawi, ibid, atau link ini: Fatwa Qardhawi tentang Salaman Bukan Muhrim
Read More...

Wednesday, March 01, 2017

Canda Menikah, Apakah Sah?
NIKAH SECARA BERCANDA APAKAH SAH DAN JADI KAWIN BENERAN?

Assalamualaikum

Ustadz saya mau bertanya
Apakah bercanda seperti ini menjadi sah menikah.
Padahal saya tidak ada sedikitpun niat untuk menikah baik serius ataupun bercanda. Saya seorang wanita janda (A). Saat sedang di kantor selesai bekerja, kami sedang menonton tv. Singkat cerita, berbincang masalah planet-planet tema yang di bahas di tv. saya(A) bicara kalo dari bumi mau ke planet Pluto mau mengirim orang ke sana bisa mati di jalan orangnya karena saking jauh jaraknya.

Lalu teman laki laki(B) saya langsung bicara : bisa aja begini aku kawin sama kamu, lalu anak cucu kita yang di kirim kembali lagi ke bumi"

Jadi saya( A) langsung bicara : iya, tidak mungkin sama sekali.
Teman laki-laki (B ) : iya, mungkin saja

Lalu disana ada beberapa teman saya mendengar, termasuk 2 orang laki-laki dewasa.
Setelah beberapa lama baru saya tersadar kalo ada hadits nabi masalah nikah talak dan rujuk tidak bisa di olah bercanda. Apakah hukum pembicaraan kami itu sah menjadi pernikahan ustadz? Padahal saya tidak ada berniat serius ataupun bercanda dengan nikah saat itu. Cuma saya terkejut teman kerja laki laki saya langsung berbicara seperti itu, padahal saya cuma bicara masalah jarak planet yang jauh.

TOPIK SYARIAH ISLAM
  1. NIKAH SECARA BERCANDA APAKAH SAH?
  2. BUNUH DIRI KARENA PATAH HATI, APAKAH PACAR IKUT NANGGUNG DOSA?
  3. CARA KONSULTASI AGAMA
Saya pernah mendengar, ada ustadz yang menjelaskan nikah tanpa wali sah bagi seorang janda, dan ustadz tersebut juga mengatakan walaupun ada ulama juga yang mengatakan tidak sah tanpa wali bagi janda. Dan ustadz tersebut mengatakan, kedua pendapat ulama tersebut sama-sama memiliki dalil. Jadi tinggal kita meyakini pendapat yang mana dan mau mengambil pendapat yang mana. Terus terang saya sebagai awam bingung mengambil pendapat yang mana. Tolong penjelasannya ustadz

Yang ingin saya tanyakan
1) percakapan kami tersebut apakah membuat sah nikah ( menurut mahzab Hanafi)
Laki-laki: bisa saja begini aku menikah sama kamu/ aku dan kamu nikah, lalu anak cucu kita yang dikirim kembali ke bumi.
Saya( wanita) : iya,rasa tidak mungkin.
Laki-laki : iya mungkin saja
Apakah percakapan kami tersebut termasuk ijab Kabul, Qabul diucapkan duluan daripada ijab( walaupun dilakukan bercanda oleh teman saya). Saya spontan menjawab iya tersebut ustadz Terus terang ustadz saya tidak ada niat menikah baik serius ataupun bercanda, jadi saya sangat kepikiran karena saya ada membaca hadist Rasulullah; bercanda dalam masalah nikah talak dan rujuk dianggap serius.
Saya bersambung menjawab : iya, rasa tidak mungkin.

2. Apakah sah menurut mahzab Hanafi ijab Qabul seperti itu percakapannya? Karena saya orang yang sangat was was ustadz, tolong dijelaskan.
Supaya saya bisa tenang, tidak di hinggapi keraguan. Saya takut terjadi pernikahan sah, padahal saya sedikitpun tidak ingin Menikah dengan teman saya. Walaupun pendapat mayoritas ulama mengatakan tidak sah tanpa wali, tapi sampai sekarang Saya masih kepikiran dan takut sah menurut mahzab Hanafi percakapan kami tersebut.


JAWABAN NIKAH SECARA BERCANDA APAKAH SAH?

1. Percakapan anda tidak membuat sah akad nikah walaupun menurut madzhab Hanafi hukumnya boleh adanya pernikahan tanpa wali. Apa sebabnya? Pertama, dalam pernikahan tanpa wali versi Hanafi, si pengantin wanita melakukan ijab sebagai pengganti walinya. Isi ijab adalah menyerahkan dirinya sendiri untuk menikah dengan pria yang dipilih. Contoh A (pengantin wanita) berkata (sebagai ijab): "Saya menikahkan diri saya dengan si B dengan maskawin sekian rupiah". Dijawab oleh B sebagai qabul: "Saya terima nikahnya A dengan maskawain sekian rupiah." Apa yang anda berdua lakukan di atas tidak ada ijab qabul seperti di atas.

Kedua, madzhab Hanafi tetap mensyaratkan adanya dua saksi yang ditunjuk. Sedangkan dalam kasus anda, tidak ada saksi yang ditunjuk. Al-Jaziri dalam kitab Al-Fiqh alal Madzahib Al-Arba'ah, hlm. 4/16, menyatakan:

اتفق الثلاثة على ضرورة وجود الشهود عند العقد فإذا لم يشهد شاهدان عند الإيجاب والقبول بطل
واتفق الثلاثة على اشتراط الذكورة في الشاهدين أما الحنفية فقالوا : العدالة غير شرط في صحة العقد ولكنها شرط في إثباته عند الإنكار ولا تشترط الذكورة فيصح بشهادة رجل وامرأتين ولكن لا يصح بالمرأتين وحدهما بل لابد من وجود رجل معهما

Artinya: Tiga madzhab (Hanafi, Syafi'i, Hanbali) sepakat perlunya adanya saksi saat akad nikah. Apabila tidak ada dua saksi yang menyaksikan saat ijab qabul, maka nikahnya batal. Tiga madzhab (Maliki, Syafi'i, Hanbali) selain Hanafi sepakat dua saksi harus laki-laki, sedangkan menurut Hanafi sah kesaksian satu orang laki-laki dan dua perempuan. Tetapi tidak sah kesaksian dua perempuan saja tanpa adanya satu orang laki-laki yang menyertainya.

Ketiga, yang dimaksud dengan bercanda dalam nikah tetap jadi nikah adalah bahwa seorang wali yang menikahkan putrinya dengan seorang pria, lalu setelah ijab kabul selesai, si wali berniat mengurungkan niatnya dengan berkata "Aku tadi cuma bercanda", maka ucapan si wali demikian itu tidak dianggap.

2. Tidak sah karena isi ijab qabulnya tidak memenuhi syarat dan juga tidak ada dua saksi laki-laki atau satu laki-laki dan dua perempuan yang ditunjuk.
Baca detail: Pernikahan Islam


BUNUH DIRI KARENA PATAH HATI, APAKAH PACAR IKUT NANGGUNG DOSA?

Assalamualaikum Ustadz, terima kasih sebelumnya karena Konsultasi disini sangat membantu saya untuk berubah mengikuti jalan agama sedikit demi sedikit.

Kali ini saya ingin bertanya, apa hukumnya bunuh diri ustadz? Dan apakah orang yang bisa dibilang menjadi penyebab bunuh diri tadi itu ikut berdosa? Misalkan laki laki mencintai seorang perempuan, akan tetapi si perempuan sudah tidak cinta lagi karena suatu kesalahan yang dia lakukan, lalu perempuan ini pergi meninggalkan laki laki tersebut, laki laki ini depresi lalu memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, apakah si perempuan ini ikut berdosa atau tidak ustadz?

JAWABAN

Si perempuan tidak ikut berdosa. Karena dia tidak menyuruh si laki-laki itu untuk melakukan bunuh diri. Si laki-laki yang menanggung dosanya sendiri. Allah berfirman dalam QS An-Najm 53:39 "dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya."

Bunuh diri adalah dosa besar. Baca detail: Dosa Besar dalam Islam
Read More...

Friday, February 24, 2017

Mengambil Barang yang Rusak
MENGAMBIL BARANG YANG SUDAH RUSAK

Assalamualaikum wr.wb
Pak ustadz saya ada pertanyaan begini pak kakak saya kan bekerja di sebuah pabrik lensa kamera pak. beberapa waktu yang lalu kakak saya pulang kerumah membawa beberapa lensa kecil yang sudah rusak atau kata kakak saya istilahnya NG untuk ditunjukan kepada keluarga pak.

1. pertanyaan saya apakah yang dilakukan kakak saya itu dosa pak .
Saya sempat bertanya kepada kakak saya apa boleh mengambil lensa tersebut kata kakak saya itu lensa lensa yang NG istilahnya jadi dalam proses pembuatan lensa nya ada lensa yang jadi Dan kebanyakan lensa yang lain itu rusak atau NG.

TOPIK SYARIAH ISLAM
  1. MENGAMBIL BARANG YANG SUDAH RUSAK
  2. HARTA UNTUK ANAK SUAMI PERTAMA DAN KEDUA
  3. HUKUM WASIAT BAPAK PADA ANAK
  4. HARTA WARISAN DIBAGI TIDAK BERDASARKAN SYARIAH
  5. BAGIAN WARIS CUCU
  6. WAKTU SHALAT HAJAT DAN SHALAT TAUBAT
  7. CARA KONSULTASI AGAMA

2. Apa lensa lensa kecil yang rusak itu wajib dikembalikan karena kata kakak saya kalau tidak salah lensa seperti itu akan dihancurkan nanti pak. Dan lensa lensa kecil itu pun sepertinya sudah tidak dibutuhkan lagi oleh pabriknya. Dan sekarang pun lensa nya sepertinya pada hilang dirumah pak. Karena jarang saya temui lagi...
Mohon jawabannya pak??


JAWABAN MENGAMBIL BARANG YANG SUDAH RUSAK

1. Cara terbaik untuk menanyakan boleh tidaknya mengambil barang pabrik yang rusak itu adalah dengan bertanya pada pemilik pabrik atau pada pihak manajemen yang punya otoritas dalam soal ini. Apabila menurut pihak terkait dibolehkan, maka hukumnya boleh.

2. Lihat poin 1. Baca detail: Bisnis dalam Islam


HARTA UNTUK ANAK SUAMI PERTAMA DAN KEDUA

Assalamualaikum
maaf misalkan ada seorang nenek yang menikah 2 kali karena bercerai dengan suami yang pertama, lalu nenek ini menikah lagi. nenek ini memiliki 1 orang anak perempuan dari pernikahan yang pertama, dan 4 orang anak, 1 anak laki laki dan 3 anak perempuan dari pernikahan yang ke 2. nenek ini memiliki harta warisan dari suami yang ke 2. yang saya ingin tanyakan,

1. apakah anak nenek dari suami yang pertama mempunyai hak atas warisan nenek tersebut?
2. jika ada, seperti apa perhitungan nya ya?
terima kasih sebelumnya.

JAWABAN

1. Kalau harta itu sudah menjadi hak milik dari nenek tersebut, maka seluruh anak kandungnya berhak mendapatkan warisan. Baik dari suami pertama maupun dari suami kedua.

2. Jumlah total anak kandung nenek 5 orang. Keempat anak perempuan masing-masing mendapat 1/6, sedangkan 1 anak lelaki mendapat 2/6. Baca detail: Hukum Waris Islam


HUKUM WASIAT BAPAK PADA ANAK

Assalamu'alaikum.. Pak saya mau Tanya ttg
pembagian harta warisan bapak saya.
Bapak saya meninggal pada 13 Feb 2015. Ahi waris yang masih hidup ibu saya Dan anak 5 org. 1 lelaki Dan 4 perempuan. Kami semua sudah berumah tangga. Yang no 1, ada 2org anak, 1lelaki 1 perempuan. No. 2, tidak ada anak. No 3, ada 1 anak ( perempuan). No 4 ( lelaki), tidak ada anak. No. 5, ada 3 org anak. (semua perempuan).

Bapak saya ada 2 Buah rumah. 1 besar 1 kecil. Wasiatnya (tapi hanya ucapan), Rumah kecil untuk anak lelaki. Dan Rumah besar untuk kami perempuan di bagi sama. Dan seandainya dijual berilah uang sedikit untuk anak lelaki. Lebihnya kita perempuan bagi. Untuk pengetahuan bapak depan Rumah kami ada 2 toko.

Yang jadi masalah semua berebut mau toko itu. 2 Buah toko itu terjadi adanya Dana keuangan Dari anak. ( 2 toko 2 org anak). Bapak saya masih mempunyai 2 org saudara. Kakak perempuan. Dan 1 adik lelaki. Masalah Sekarang ada anak perempuan yang menuntut hak. Ada yang mau rumah dijual, ada yang tak mau rumah dijual. Mohon bantuannya pak.. Terimakasih.. Wassalam.

JAWABAN

Pertama yg perlu diketahui bahwa wasiat almarhum bapak kepada ahli waris itu tidak berlaku. Wasiat hanya sah apabila diwasiatkan pada non-ahli waris. Oleh karena itu, seluruh harta harus diwariskan menurut pembagian waris Islam yang berlaku. Baca detail: Wasiat dalam Islam

Kedua, ahli waris dalam kasus di atas adalah istri dan anak-anak kandung. Sedangkan cucu tidak mendapat warisan karena terhalang adanya anak kandung.

Ketiga, cara pembagian warisan adalah sbb:
(a) Istri mendapat 1/8
(b) Sisa yang 7/8 diberikan kepada seluruh anak kandung di mana anak lelaki mendapat bagian dua kali lipat dibanding anak perempuan. Dalam kasus di atas, 1 anak lelaki mendapat 2/6, sedangkan keempat anak perempuan masing2 mendapat 1/6. Baca detail: Hukum Waris Islam


HARTA WARISAN DIBAGI TIDAK BERDASARKAN SYARIAH

Yth : Dewan Pengasuh dan Majelis Fatwa Pondok Pesantren Al-Khoirot Malang

Assalamu'alaikum Wr.Wb,

kepada kyai, ustadz, ustadzah yg saya hormati, ada yang ingin saya ketahui mengenai Syariat Islam dari hak waris anak yang selama ini membuat saya tidak tenang.

Saya adalah anak laki-laki mempunyai saudara perempuan, bapak saya sudah meninggal. Setelah bapak meninggal rumah dijual dan dibelikan masing2 anak 1 rumah dan ibu membeli rumah paling besar dan sisa uang dari penjualan rumah disimpan ibu yang pada akhirnya uang tersebut habis. Saya anak laki2 memang mendapatkan sebuah rumah tapi karena tidak bekerja akhirnya rumah dijual untuk modal dan saya tinggal bersama ibu, pada akhirnya usaha yg saya jalankan tidak sukses dan bangkrut. Pada akhirnya saya menyalahkan ibu yang tidak membagikan harta waris sesuai syariat islam yg saya ketahui bahwa anak laki2 2/3 anak perempuan 1/3 dan ibu 1/8 .

1. Jadi sebenarnya harusnya gimana ya saya bersikap, karena selama ini sy menyalahkan ibu walaupun tidak sy ungkapkan kepada ibu.

mohon bimbingannya supaya hati saya lega dan tenang. Terima kasih. Wassalamu'alaikum Wr.Wb

JAWABAN

1. Pada dasarnya, memang harta warisan harus dibagikan menurut syariat Islam. Dalam kasus di atas (a) istri mendapat 1/8; (b) sisanya yang 7/8 diberikan pada kedua anak di mana anak lelaki mendapat 2/3, dan anak perempuan mendapat 1/3.

Namun demikian, apabila seluruh ahli waris rela dan menerima untuk dibagi secara merata atau rela dibagi menurut kemauan ibu anda, maka itu juga tidak masalah. Ibu anda tidak berdosa. Baca: Membagi Warisan secara Merata

Namun, kalau salah satu ahli waris ada yang tidak rela atas pembagian non-syariah, maka pelaku pembagian -- ibu anda dalam kasus di atas -- berdosa karena dia telah merampas bagian hak ahli waris yang lain. Baca detail: Hukum Waris Islam

Sekarang nasi sudah jadi bubur, maka sebaiknya anda relakan saja cara ibu anda membagi warisan tersebut agar beliau tidak terbebani dosa. Itu menjadi salah satu cara kedua anaknya untuk berbakti pada ibu yang telah berjasa besar membesarkannya dengan penuh kasih sayang.
Baca detail: Hukum Taat Orang Tua


BAGIAN WARIS CUCU

saya ingin bertanya
saya punya kakek yg mempunyai 3 orang anak perempuan dan 2 orang anak laki laki. kakek saya sudah meninggal
status saya adalah cucu perempuan dari anak laki laki
apakah saya sebagai cucu punya hak waris dalam hukum agama maupun perdata jika ayah atau paman saya tidak ada ..
terima kasih

JAWABAN

Menurut hukum waris Islam, cucu tidak mendapat warisan selagi masih ada anak kandung. Baca detail: Hukum Waris Islam

Namun, menurut KHI (Kompilasi Hukum Islam) yang dipakai sebagai panduan oleh Pengadilan Agama, cucu mendapat warisan walaupun masih ada anak kandung. Baca: Bagin Cucu menurut KHI


WAKTU SHALAT HAJAT DAN SHALAT TAUBAT

Selamat sore maaf mau menanyakan untuk pelaksanaan sholat hajat dan taubat yang benar dilaksanakan tepatnya jam berapa?terimakasih

JAWABAN

Shalat hajat, lihat: Shalat Hajat
Shalat taubat, lihat di sini.
Read More...

Bisnis Haram Ayah Ibu
IBU JUALAN BARANG HARAM

Assalamualaikum Ustadz,

Saya ingin bertanya, sebelumnya saya ingin menjelaskan sedikit hal. Begini pak ustadz, ibu saya mencari uang untuk kebutuhan sehari-hari namun saya tahu caranya tidak halal yaitu membuka usaha karaoke dan menjual barang-barang haram seperti miras. Hasil dari usahanya itu di belanjakan untuk makanan dll, tapi dalam hal ini saya juga memberikan uang kepada ibu saya per-bulannya dengan hasil kerja saya di pabrik meubel. Saya juga sudah minta ibu saya berhenti melakukan usahanya tersebut tapi ibu saya tidak mendengarkan. Sedangkan saya punya 3 adik dan saya selalu kepikiran soal ini. Saya tidak bermaksud memojokkan ibu saya tapi saya sangat bimbang.

TOPIK SYARIAH ISLAM
  1. IBU JUALAN BARANG HARAM
  2. SAAT MENIKAH SUDAH HAMIL 1 BULAN
  3. NIKAH DENGAN WALI HAKIM
  4. PERSIAPAN PERNIKAHAN
  5. ISTRI TIDAK SETUJU SUAMI POLIGAMI
  6. CARA KONSULTASI AGAMA
Pertanyaan :

1. Apa saran pak ustadz untuk masalah saya ini?
2. Apakah dibenarkan jika saya meninggalkan rumah karena ibu saya masih menjalankan bisnisnya itu? dengan catatan berarti saya juga meninggalkan adik-adik saya yang tidak tahu apa-apa.
3. Apakah do'a - do'a saya tidak akan diterima jika saya masih makan makanan yang saya sudah tahu dari mana hasilnya?
4. Apa yang harus saya lakukan pada barang-barang yang telah ibu saya berikan?
5. Apakah saya harus memberitahu adik-adik saya tentang masalah ini? (adk 22thn, 6thn, 4thn)

Terimakasih Ustadz untuk jawabannya.


JAWABAN IBU BISNIS BARANG HARAM

1. Kewajiban anda adalah mengingatkan ibu. Apabila hal itu sudah dilakukan, maka anda tidak lagi berdosa. Namun demikian, tidak ada salahnya apabila anda selalu mengingatkan dia setiap kali dianggap tepat waktunya. Cara lain adalah anda coba meminta tolong pada seorang ustadz atau kyai agar menasihati ibu anda dalam soal ini terutama jangan sampai anak-anak menjadi korban. Baca detail: Dosa Besar dalam Islam

2. Sebaiknya rencana meninggalkan rumah itu dimusyawarahkan dengan ibu dan dijadikan senjata untuk "merayu" ibu agar berhenti dari bisnis haramnya. Kalau cara ini tidak berhasil, maka tidak masalah anda tinggal terpisah dengan ibu untuk menghindari makanan haram. Karena, ketaatan pada orang tua itu sebatas tidak disuruh berbuat dosa. Namun demikian, silaturahmi tetap harus dijaga. Baca detail: Hukum Taat Orang Tua

3. Ya. Baca: Agar Doa Terkabul

4. Berikan pada fakir miskin. Baca: Harta Campuran Halal Haram

5. Yang usia 22tahun perlu diberitahu.


SAAT MENIKAH SUDAH HAMIL 1 BULAN

Assallamualaikum wr.wb.
Dari pertanyaan saya kemarin saya masih belum jelas...Pasangan itu tadinya sudah acara lamaran dan kurang 1bulan lagi menikah tapi kemudian mereka berzina..dan tiba di saat hari H pernikahan si cwek tidak tau kalo dirinya belum dapet haid..bagaimana nasab anak trb

JAWABAN

Anak tsb tetap sah menjadi anak dari ayah biologisnya yg menikah dg
ibunya secara sah. Baca detail: Pernikahan
Wanita Hamil Zina dan Status Anak



NIKAH DENGAN WALI HAKIM

Assalamualaikum pak ustad

Saya bertanya secara syariah mengenai
Pernikahan dengan seorang janda tanpa diwali dan sebelum pernikahan sang anak
Minta restu dan di walikan. jawab ayahnya dengan suka rela "karena kamu sudah dewasa terserah kamu.dan direstui cuman tdk mau hadir sebagai wali.dan pernikahan di pakai wali hakim serta 2 saksi.
Apa kah syah pernikahan tersebut.
Sebelum dan sesudahnya banyak terima kasih atas bantuannya dan jawaban pak ustad

Wassalamualaikum

JAWABAN

Hukum nikahnya sah dengan wali hakim. Statusnya bisa sebagai wakil dari wali asli. Baca detail: Wali Hakim dalam Pernikahan


PERSIAPAN PERNIKAHAN

Assalamualaikum ustadz ,

Saya mau konsultasi perihal persiapan pernikahan saya , jadi begini ceritanya ustadz , calon istri saya merupakan anak hasil hamil diluar nikah (menurut cerita calon istri saya) sedangkan orang tuanya status pernikahannya nikah siri ustadz , sejak kecil calon istri saya diakui di akte kelahiran oleh kakeknya dari pihak bapaknya, sedangkan kakeknya ini sudah meninggal ustadz beberapa waktu yang lalu , yang mau saya tanyakan :

1. Nanti waktu saya melangsungkan akad nikah , yang disebutkan / yang dijadikan wali itu siapa ya ustadz ?
2. Apakah boleh bapak biologisnya itu dijadikan wali atau disebutkan saat akad nikah ?

Terima kasih atas waktunya .

JAWABAN

1. Kalau ayah biologisnya itu menikahi ibunya saat hamil, maka nikah sirinya itu sah. Dan ayah biologis sah menjadi ayahnya secara agama. Baca detail: Pernikahan Wanita Hamil Zina dan Status Anak

2. Boleh.


ISTRI TIDAK SETUJU SUAMI POLIGAMI

Ustadz saya mau tanya. Saat ini istri balik kerumah orang tuanya (di Makassar) untuk kedua kalinya, karena saya mempunyai niat untuk berpoligami. saat ini pihak keluarga istri & keluarga saya menolak
rencana poligami ini. pihak keluarga istri bahkan mendatangi pihak perempuan calon istri ke2 dengan mencaci maki. pihak keluarga istri bahkan meminta jangan ada komunikasi antara istri & anak-anak saya
sampai saya berjanji tidak akan poligami. saya mengingatkan yang paling berhak terhadap istri adalah suaminya. tapi keluarga istri & istri mengajukan syarat kalau mau balikan sama istri harus berjanji tidak poligami. Kalau poligami istri lebih memilih cerai. saya sangat ingin mempertahankan rumah tangga saya.

1. kalau saya berjanji saat ini untuk tidak poligami, tapi suatu saat saya poligami bagaimana hukum pernikahan kami.

Mohon di jawab

Terimakasih

JAWABAN

1. Itu tidak akan berpengaruh pada status pernikahan anda baik dengan istri pertama maupun dengan istri kedua kelak. Dalam pernikahan yang terpenting adalah terpenuhinya syarat dan rukun nikah yakni adanya wali, dua saksi dan ijab kabul. Baca detail: Pernikahan Islam

Namun demikian, kalau memang anda sangat kuat keinginan untuk menjaga keutuhan rumah tangga yang sekarang, maka sebaiknya niat poligami itu diurungkan.
Read More...

Saturday, February 18, 2017

Gaji Pegawai IT Bank Konvensional
GAJI PEGAWAI BANK BIDANG IT

Ass Wr Wb , ustadz.

Perkenankan , ada seseorang yang saat ini sangat membutuhkan pandangan , perspektiv , bahkan saran , berkaitan pekerjaannya . Yang bersangkutan bekerja di bidang IT (information technology) service di bank konvensional, apa gaji yang diterimanya itu berkategori haram ato halal ?.

Hal ini menimbulkan ada kebimbangan (keraguan) , karena apa yang bersangkutan kerjaan itu tidak terkait langsung dengan bunga bank dan itu berbeda dengan pekerjaan treasury, atau fund manager, dan lain-lain, sedangkan pekerjaan yang bersangkutan itu memberikan jasa Information Technology Service , dan dibayar oleh bank dari sebagian besar pendapatan bunga dan sedikit dari pendapatan lain-lain

TOPIK SYARIAH ISLAM
  1. GAJI PEGAWAI BANK BIDANG IT
  2. TALAK TAKLIK OTOMATIS SECARA TERTULIS
  3. WARISAN UNTUK 1 ANAK LELAKI DAN 2 ANAK PEREMPUAN
  4. WARISAN UNTUK 9 ANAK KANDUNG 5 PEREMPUAN DAN 4 LAKI-LAKI
  5. BAGIAN WARIS SAUDARA KANDUNG
  6. CARA KONSULTASI AGAMA

Demikian, masalah yang bersangkutan dan berharap dari ustadz ada pandangan atau saran terhadap masalah ini Sebelumnya kami ucapan terimakasih.


JAWABAN

Bagi ulama yang mengharamkan bank konvensional, maka hukum gaji pegawai bank terbagi dua: haram dan halal. Gaji haram apabila bekerja di bagian yang haram seperti layanan kredit. Dan Hukum gajinya halal apabila bekerja di bagian layanan yang tidak mengandung unsur riba seperti layanan transfer, penyimpanan barang, informatika, dll. Baca: Hukum Gaji Pegawai Bank

Adapun bagi ulama yang menghalalkan bank konvensional, maka hukum gaji pegawai bank halal secara mutlak. Baca: Bank Konvensional dalam Islam


TALAK TAKLIK OTOMATIS SECARA TERTULIS

Assallamualaikum.wrwb ...
Saya ingin menanyakan apakah sah suatu talak cerai yg tertulis dan ditandatangani diatas materai oleh suami ??

Dalam surat pernyataan yg di ttd oleh suami intinya adalah .." bila saya melakukan (zina , selingkuh dan sejenisnya) maka secara otomatis jatuhlah talak cerai saya kepada istri saya "
Dan apakah semua yg tertulis di dalam surat pernyataan tsb juga dianggap sah? Seperti mengenai hak atas kekayaan rumah tangga dan hak asuh anak ? , yg sudah ditentukan dalam surat pernyataan tsb

Mohon jawaban ustadz .. terimakasih
Wassalamualaikum.wrwb ..

JAWABAN

Taklik talak atau talak kondisional di mana suami akan menjatuhkan talak apabila istri atau suami melakukan sesuatu di masa depan, maka hukum talaknya jatuh saat kondisi itu terjadi. Seperti dalam kasus di atas. Imam Syairozi dalam kitab Al-Muhadzab menyatakan:

إذا عُلِّق الطلاقُ بشرط لا يستحيل ؛ كدخول الدار ، ومجيء الشهر ، تعلّق به ، فإذا وجد الشرط وقع، وإذا لم يوجد لم يقع

Artinya: Apabila talak digantungkan pada syarat yang tidak mustahil, seperti masuk rumah, datangnya bulan, apabila syarat itu ada maka talak terjadi. Apabila kondisi itu tidak ada maka talak tidak terjadi.

Namun demikian, ucapan talak yang dilakukan secara tertulis hukumnya sama dengan talak kinayah. Artinya, talak baru terjadi apabila disertai niat dari suami. Baca: Talak Secara Tertulis


WARISAN UNTUK 1 ANAK LELAKI DAN 2 ANAK PEREMPUAN

Warisan dari saudara

Assalamualaikum w.w.
Dengan hormat bersama ini saya mohon bantuan Bpk ustad berkenan menjawab pertanyaan saya sehubungan dengan pembagian harta waris yg berasal dari saudara perempuan saya yg telah wafat setahun yg lalu.beliau Meninggalkan sebidang Tanah yang ditaksir bernilai 1milyar rupiah. Sedangkan kedua orang tua kami telah lama wafat, adapun pertanyaan saya sebagai berikut:

1. Berapa Bagian untuk saya anak laki ? Menurut syariat islam :
2. Berapa Bagian untuk saudara perempuan saya(masih hidup) ?
3. Berapa Bagian untuk dua (2) saudara laki-laki (Sudah wafat) ? Tapi beliau
Mempunyai ahliwaris
Demikianlah pertanyaan Dari saya terima kasih atas jawaban dari pak ustad
Semoga Allah slalu merahmati Kita semua Amien

Wasalam

JAWABAN

Kami kurang mengerti penjelasan anda tentang status ahli warisnya. Asumsi kami, ahli warisnya adalah 1 anak lelaki dan 2 anak perempuan. Kalau ini betul, maka dalam kasus di atas, pembagiannya sbb:

(a) 1 anak laki-laki mendapat 2/4
(b) 2 anak perempuan masing-masing mendapat 1/4
Baca detail: Hukum Waris Islam

Kalau asumsi ahli waris di atas tidak benar, harap dijelaskan lagi.


WARISAN UNTUK 9 ANAK KANDUNG 5 PEREMPUAN DAN 4 LAKI-LAKI

Kami keluarga besar.
anak ada 9 orang. Ibu dan Bapak sudah meninggal dunia.
Ibu meninggalkan warisan berupa tanah (sertifikat milik Ibu)
Ibu meninggal bulan 10, 1983
Bpk meninggal bulan 11, 1999

Anak2 ahli waris :
1. laki-laki meninggal tahun 1997 (istri masih hidup, anak 3 perempuan semua)
2 perempuan, masih hidup
3. perempuan, masih hidup
4. laki-laki masih hidup
5. perempuan, meninggal tahun 2014 (suami meninggal, anak: 2 wanita, 1 laki2)
6. perempuan masih hidup
7. perempuan masih hidup
8. laki-laki masih hidup
9. laki-laki masih hidup

mohon penjelasan berapa bagian dari masing2 ahli waris tersebut.

JAWABAN

Pembagian warisan dalam kasus di atas sbb:

(a) Seluruh anak kandung dari no. 1 sampai 9 mendapatkan warisan karena keadaannya masih hidup saat pewaris (ibu) wafat. Di mana keempat anak lelaki masing-masing mendapat 2/13, sedangkan kelima anak perempuan masing-masing mendapat 1/13.

(b) Anak ke-1 karena saat ini sudah meninggal, maka bagiannya yang 2/13 itu diwariskan kepada ahli warisnya dengan pembagian sbb:
(i) istri mendapat 1/8 = 3/24;
(ii) 3 anak perempuan mendapat 2/3 (untuk tiga orang) = 16/24;
(ii) Sisanya yang 5/24 diberikan kepada seluruh saudara kandung pewaris yang masih hidup baik lelaki maupun saudara perempuan, di mana saudara lelaki mendapat dua kalipat dari saudara perempuan.

(c) Anak ke-5 karena saat ini sudah wafat, maka bagiannya yang 1/13 diwariskan kepada ahli warisnya dengan rincian sbb:
(i) 1 anak lelaki mendapat 2/4
(ii) 2 anak perempuan masing-masing mendapat 1/4.

Penting: Rincian pembagian di atas apabila ayah dan ibu pewaris (yakni kakek dan nenek anda) sudah meninggal semua.

Baca detail: Hukum Waris Islam


BAGIAN WARIS SAUDARA KANDUNG

Terima kasih atas di balasnya surat saya, melanjutkan penjelasan saya,
Saya (laki laki) adalah saudara atau Adik kandung dari almarhumah/pewaris.
A. Ayah dan ibu Sudah meninggal.
B. Pewaris tidak punya suami karena belum menikah.
C. Jumlah saudara kandung pewaris 5 orang, 3 laki-laki Dan 2 orang perempuan
2 laki-laki dan 1 orang perempuan sudah meninggal sebelumnya pewaris.
D. Anak tidak punya.

Yang menjadi pertanyaan saya adalah :
1. Berapa bagian saya sebagai adik almarhumah?
2. Berapa bagian kakak perempuan saya yang masih hidup?
3. Apakah keponakan-keponakan saya dari kakak saya laki-laki dan kakak perempuan saya yang sudah meninggal sebelumnya pewaris juga mendapat bagian ?
a. Jika masih ada haknya sebagai ahli waris berapa bagiannya?
b. Jika tidak ada haknya bagaimana solusinya, karena keponakan meminta bagian juga ?

Terima kasih atas jawaban dari pak ustad, mudah mudahan pertanyaan saya
Jelas dan tak membingungkan, sebelum dan sesudahnya saya haturkan terima
Kasih atas jawabannya.

JAWABAN

1. Apabila demikian kasusnya, maka ahli waris dan pembagiannya sbb:
(a) 1 saudara kandung laki-laki mendapat 2/3
(b) 1 saudara kandung perempuan mendapat 1/3
Baca detail: Hukum Waris Islam

2. Keponakan atau anak dari saudara kandung tidak mendapat warisan sama sekali karena terhalang oleh adanya saudara kandung. Lihat: Bagian Waris Keponakan

Namun demikian, tidak ada salahnya apabila anda dan kakak anda menghibahkan sebagian harta waris tersebut kepada para keponakan sesuai keikhlasan ahli waris. Baca: Hibah
Read More...

Thursday, February 09, 2017

Cari Jodoh Gadis Pesantren
PRIA NON-SANTRI INGIN MENIKAHI GADIS PESANTREN

Ringkasan: Umumnya kebijakan

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh pak ustad yang di rahmati Allah swt.
Saya mau minta wejangan ke pak ustad.Jadi 4 bulan yang lalu saya di perkenalkan dengan seorang gadis pesantren oleh saudaraku.Terus sayapun saling kontek satu sama lain.Setelah itu saya di suruh untuk menemui orang tuanya,lalu sayapun menemui orang tuanya dan saya di suruh untuk melamarnya.Jauh-jauh hari sebelum proses lamaran saya menemui dia untuk membicarakan lamaran tersebut apakah dia mau atau tidak di lamar saya,terus dia menjawab mau.dan mau menerima kekurangan saya.Keesokan harinya sayapun melamar dia dan untuk pernikahnnya `harus menunggu ibunya pulang dari luar negeri dulu sekitar setahun lagi.

TOPIK SYARIAH ISLAM
  1. MENIKAHI GADIS PESANTREN
  2. HUKUM WASIAT PEWARIS UNTUK PUTRINYA
  3. SUAMI PERNAH SELINGKUH, ISTRI INGIN CERAI
  4. CARA KONSULTASI AGAMA

Nah selama menunggu ibunya pulang dia ingin melanjutkan lagi mondoknya.Setelah beberapa hari dia mondok lagi dia bikin status di salah satu sosmed dia yaitu calon imamku harus lebih pinter ilmu agamanya dariku minimal sebanding denganku dan imam itu di depan bukan dibelakang,sontak saja saya pun tersindir dengan setatus itu karena aku merasa kurang dalam ilmu agama.Saya pun menghubungi dia tapi tanggapan dia keliatan malas sekali ngobrol dengan saya sampai sekarangpu saya loss kontak..Saya minta saran pak ustad apakah pertunangan ini di putus sekarang atau nunggu mendekati hari h atau di lanjutkan saja.Padahal waktu sebelum lamaran saya sudah ngasih tau dia kalo saya ini ilmu agamanya kurang di banding dia yang udah mondok selama 5 tahun.kalo saya lanjutkan apakah saya bisa mengimbangi ilmu agamanya karena saya sendiri bukan anak pondok.mohon sarannya pak ustad..


JAWABAN MENIKAHI GADIS PESANTREN

1. Kalau anda merasa cocok dengan dia, maka perlu anda klarifikasi ke dia apa dia suka dengan anda. Kalau jawabnya positif, maka statusnya itu maknanya sebagai motivasi bagi anda agar belajar ilmu agama. Maka, ikuti saja kemauannya. Belajarlah ke pesantren. Setidaknya, pelajari ilmu agama dasar yakni ilmu fikih tentang ibadah seperti shalat, puasa, zakat, dan haji. Dan belajarlah membaca Al-Quran dengan baik dan hafalkan Al-Fatihah dan surat-surat pendek mulai dari Surah Ad-Duha sampai An-Nas sebagai syarat minimal menjadi imam. Itu sudah cukup menjadi modal bagi anda untuk menjadi imam yang baik. Dan itu bisa dilakukan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Selebihnya, 6 bulan atau 1 tahun sudah cukup. Baca: Pesantren Santri Dewasa

Tapi kalau umpamanya jawaban dia negatif (dalam arti tidak menyukai anda), maka sebaiknya diputus dan mencari calon lain yang sama-sama saling menyukai. Baca: Mencari Jodoh


HUKUM WASIAT PEWARIS UNTUK PUTRINYA

Assalamualaikum,

Permasalahan :
Ayah saya (wafat Nov 2015) meninggalkan harta warisan dengan ahli waris Ibu/Istri (hidup) dan 4 anak perempuan kandung(hidup) serta 3 anak laki-laki kandung (hidup) Semasa hidup ayah beramanah kepada 2 orang anak perempuan kandung jika sepeninggal ayah harta warisan ayah dibagi rata kepada ahli waris supaya adil. Anak laki-laki tidak setuju karena menurut hukum waris anak laki-laki berhak 2/3 dan anak perempuan 1/3,Sedangkan anak perempuan memegang amanah dari ayah supaya dibagi rata.

Pertanyaan:

1 Bagaimana menyingkapi hal ini?

2 Apabila harta warisan dibagi menurut hukum waris setelah itu kelebihan pembagian anak laki-laki yang 2/3 dikembalikan kepada anak perempuan sehingga menjadi sama rata pembagiannya, apakah diperbolehkan dalam islam?

3 Zakat harta warisan baiknya dibayarkan sebelum dibagikan atau setelah dibagikan kepada ahli waris?

Terima kasih

JAWABAN

1. Pesan ayah anda itu namanya wasiat. Dan wasiat pada ahli waris itu hukumnya tidak sah kecuali apabila disetuju oleh ahli waris yang lain. Jadi, wasiat itu tidak perlu dilaksanakan. Baca detail: Wasiat dalam Islam

2. Pembagian yang benar dalam kasus di atas adalah sbb:
(a) Istri mendapat 1/8
(b) Sisanya yang 7/8 dibagikan kepada seluruh anak kandung di mana anak lelaki mendapat dua kali lipat dari anak perempuan. Baca detail: Hukum Waris Islam

Penting: pembagian di atas apabila ayah dan ibu dari almarhum pewaris sudah wafat semua.


SUAMI PERNAH SELINGKUH, ISTRI INGIN CERAI

Assalamualaikum Ustadz,

Perkenalkan saya ibu rumah tangga non karir berumur 34th, menikah 8th, memiliki suami usia 36th dan 2 anak 7th & 5th. Alhamdulillah pernikahan kami awalnya harmonis, secara ekonomi juga sangat baik, saya sangat bersyukur memiliki suami yang giat sekali bekerja, sehingga menunjang karirnya di kantor.

Suami rutin dinas mulai dari dalam kota hingga luar negri, normalnya pergi 1 hingga 1.5 bulan. Sebagai istri saya tahu persis setiap dinas suami tidak pernah macam-macam, sepulangnya dinas kehidupan kami selalu berjalan seperti biasa.

Badai datang setahun lalu. Singkat cerita saya merasa ada yang ganjil setelah suami dinas di kota D. Semula suami membantah, bahkan balik menuduh saya berhalusinasi dan berlebihan, lambat laun akhirnya suami mengakui bahwa memang terjadi "perselingkuhan hati" yang akhirnya berbuntut panjang pada pernikahan kami. Mulai saat itu kami "rutin" bertengkar setiap waktu, terlebih setelah ada "jejak" tertinggal yaitu 3 lembar surat yang diberikan suami sebagai kenang2an pertemuan mereka, ngilu sekali setiap ingat isinya kata per kata. Di satu sisi saya lega suami jujur, saya merasa puas karena kecurigaan saya terbukti tapi di sisi lain kondisi saya menjadi amat sangat terpuruk. Saya depresi berat, mood berubah-ubah, sangat labil.

Hanya saat melihat anak-anaklah saya bisa sedikit bersabar... sedikit sekali. Karena jauh dilubuk hati, saya selalu punya rencana ingin mengakhiri pernikahan ini suatu saat nanti, saya sangat dendam jika mengingat kejadian setahun lalu. Suami bukan main usahanya menjaga perasaan saya, dia sangat menyesal, itu dibuktikannya dengan menghentikan semua akses komunikasi dengan perempuan itu, tapi hati saya seperti tidak bisa diajak kompromi. Bayangan pengkhianatan itu tidak bisa hilang dari kepala saya. Ingin rasanya suami merasakan apa yang saya rasakan bahwa perbuatannya amat sangat menjatuhkan harga diri dan rasa percaya diri saya.

Dari dulu prinsip saya memang bukan type yang bisa mentolerir hal-hal seperti ini. Saya sudah minta berpisah, lebih karena tidak terima dengan apa yang menimpa sy, bukan karena tidak rela suami misalkan memilih perempuan lain. Saya selalu bilang ke suami agar bercerai saja baik-baik, saya tidak akan menuntut apapun dari pernikahan kami, saya hanya ingin suami mencari pendamping lain dan biarkan saya hidup tenang, berat sekali memendam rasa benci terlebih pada suami sendiri.

1. Bagaimana islam memandang pernikahan yang tidak sehat, yang saat ini terjadi pada kami.

2. Apakah saya berdosa jika menyimpan rencana ingin berpisah secara baik-baik dari suami suatu saat nanti jika anak-anak telah cukup umur, yang tujuannya semata-mata agar saya dan suami bisa melanjutkan hidup masing-masing dengan tenang tanpa bayang-bayang pengkhianatan. Karena saya juga tidak tega melihat suami terus menerus tersakiti dengan kebencian saya.

3. Apakah salah jika mendo'akan suami agar kelak berbahagia dengan orang lain?.

JAWABAN

1. Tujuan paling dasar dan minimal dari pernikahan adalah untuk menghindari zina. Agar hasrat nafsu libido yang ada pada laki-laki dan perempuan tersalurkan dengan cara yang halal dan sehat. Nabi bersabda hadits sahih riwayat muttafaq alaih (Bukhari dan Muslim):

يا معشر الشباب من استطاع منكم الباءة فليتزوج فإنه أغض للبصر وأحصن للفرج

Artinya: Wahai anak muda, barangsiapa yang mampu, maka menikahlah. Karena, nikah itu dapat lebih menutup mata (dari melihat maksiat) dan memelihara kemaluan (agar tidak berzina).

Namun dalam jangka panjang, pemenuhan kebutuhan libido saja tidak cukup. Diperlukan rasa sayang yang tulus, kecocokan, keharmonisan dan kesalingpercayaan. Apabila hal ini tidak ada, maka sulit untuk menjaga rumah tangga agar tetap sakinah mawaddah wa rahmah sebagaimana diimpikan setiap keluarga. Dalam konteks ini, maka Rasulullah memberi pilihan pada seorang Sahabat perempuan istri dari Sahabat Tsabit bin Qais yang tidak bisa lagi mencintai suaminya. Nabi memberi ijin si istri untuk bercerai dan memerintahkan suaminya untuk menceraikan suaminya. Baca detail: Istri Minta Cerai karena Tak Lagi Mencintai Suami

2. Itu tidak dilarang dalam Islam. Namun harus diingat, selagi anda masih menjadi istri, maka anda harus tetap taat pada suami. Baca detail: Hak dan Kewajiban Suami Istri
Read More...

Kerja Di Bank Konvensional Karena Darurat
HUKUM KERJA DI BANK KONVENSIONAL KARENA DARURAT

Ringkasan: Bagi ulama yang mengharamkan bank konvensional, maka bekerja di bank konvensional itu halal apabila (a) tidak ada alternatif kerja di tempat lain; atau (b) bekerja di bagian layanan yang halal. Bagi ulama yang menghalalkan bank konvensonal, maka kerja di bank non-syariah itu boleh secara mutlak dan gajinya juga halal.

Assalamualaikum Wr,Wb.
Ustad yang dimuliakan Allah.
Dulu saya bekerja di bank konvensional. Karena alasan haram, maka saya resign dr pekerjaan. 3 bulan lamanya saya menganggur, Alhamdullilah saya diberikan istri yang solehah tidak pernah mengeluh. Alhamdulilah saat ini saya bekerja di perusahaan IT. Namun penghasilan setiap bulan yg saya terima jauh dari kata cukup. Selalu kurang.
Saya memiliki kolega yg menawarkan bekerja di perusahaan asuransi yg bekerja sama dengan bank ribawi. Saya percaya bila bekerja di perusahan tersebut perekonomian akan membaik seperti saat saya dulu kerja di bank. Namun para ulama mengharamkan asuransi.

TOPIK SYARIAH ISLAM
  1. KERJA DI BANK KONVENSIONAL KARENA DARURAT
  2. HUKUM JUAL BELI DENGAN PELACUR
  3. SUAMI TERLILIT HUTANG, MERTUA TIDAK SUKA
  4. CARA KONSULTASI AGAMA

Saya bingung, apakah saya harus bertahan di perusahan IT ini dengan segala kekurangan setiap bulannya, atau saya ambil pekerjaan ini dengan niat ingin membahagiakan istri dan anak serta kedua orang tua serta mertua yg sudah tua renta yg menjadi tanggung jawab saya. Hati kecil saya ingin bekerja di bank syariah/atau lembaga lembaga syariah lainnya, namun usia saya 29 tahun. Bank syariah membatasi usia pelamarnya hanya sampai 26 tahun. Sehingga tidak ada pilihan lain selain pilihan di atas. Saya juga sudah melamar ke perusahaan yg tidak ribawi namun seringkali gagal, berbeda bila di bank, tanpa melamar juga banyak sekali penawaran datang. Mohon pencerahannya. Terima kasih, Wassalamualaikum Wr.Wb.


JAWABAN KERJA DI BANK KONVENSIONAL KARENA DARURAT

Perlu diketahui bahwa haramnya bank konvensional masih menjadi kontroversi di kalangan ulama kontemporer antara yang menghalalkan dan yang mengharamkan.
Baca:
- Yang mengharamkan:
- Yang menghalalkan

Di kalangan yang mengharamkan bank itu sendiri ada rincian bahwa bekerja di bank apabila di bagian layanan yang selain kredit, maka hukum gajinya halal. Ini pendapat Dr. Yusuf Qardhawi. Bahkan, ulama yang mengharamkan bank konvensional secara totalpun masih membolehkan seseorang untuk bekerja di bank konvensional apabila tidak ada alternatif pekerjaan lain karena termasuk darurat dan darurat itu membolehkan perkara yang haram (الضرورة تبيح المحظورات), menurut kaidah fikih.

Dalam QS Al-Baqarah 2:173 Allah berfirman:

فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya: Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Juga, dalam Al-An'am 6:119 Allah berfirman:

وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ

Artinya: Sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya.

Intinya, tidak ada masalah bagi anda kalau hendak kembali bekerja di bank konvensional karena dalam kondisi darurat tidak ada alternatif pekerjaan lain yang dapat mencukupi keluarga. Atau, anda bisa mengikuti pendapat ulama yang membolehkan bank konvensional kalau itu akan membuat hati anda lebih tenang. Baca: Hukum Bank non-Syariah


HUKUM JUAL BELI DENGAN PELACUR

Saya mw bertanya ustat, sebelumnya saya memperkenalkan diri nama saya g saya seorang ibu rumah tangga dan saya mempunyai usaha,
Usaha saya solon kecantikan saya hanya menerima wanita saja, tpi yg dtang kesalon saya bukan hanya orang2 biasa tpi pelacur juga ada, saya mau bertanya haram atau tidakkah saya menerima uang dari pelacur tersebut ustat.. terimakasih

JAWABAN

Usaha salon kecantikan adalah usaha yang halal. Oleh karena itu, maka hukum uang yang anda dapat dari salon kecantikan itu juga halal. Termasuk apabila uang itu berasal dari pelacur juga halal (kecuali kalau si pelacur itu menyatakan bahwa uang yang dipakai untuk membayar itu hasil dari melacur). Karena, ada kemungkinan uang pelacur itu tidak hanya berasal dari hasil jual diri; bisa juga berasal dari usaha lain yang halal. Baca detail: Bisnis dalam Islam

Apabila ada ketidakpastian seperti itu, maka kembali pada hukum yang asal dari status uang yakni halal. Dalam kaidah fikih dikatakan "Keyakinan tidak hilang karena keraguan" (اليقين لا يزول بالشك) dan "Hukum asal adalah tetapnya sesuatu pada hukum asalnya" (الأصل بقاء ما كان علي ما كان). Lihat: Kaidah Fiqih


SUAMI TERLILIT HUTANG, MERTUA TIDAK SUKA

Assalamualaikum.. bpk/ibu ustad perkenalkan nama saya t asal dr Bg. Maap sblmnya saya mau mencurahkan isi hati saya yg sedang di Landa kebingungan. Bisa di bilang mgkin saat ini saya sdang stress.sdang di bawah tekanan, Allah sdang memberikan ujian ini kepada saya. Tp Aya bngung dlm menghadapi semua nya. Bpk/ibu, ak gtau hrs memulai cerita ini dri mana.. Saya garis besarkan saja ya..

1. Permasalahan suami, suami sdang telilit utang piutang dgan ttga saya, dn uang untuk membayar nya pun suami sya masih ada di tgan org lain.tp blm tau kapan pencairan uang nya, sdgkan si tetangga trs menekan,mengancam kehidupan saya pa/ibu ustad

2. Di lain sisi org tua saya terutama ibu saya selalu ikut campur dlm sgala hal, mgkin di karenakan saya anak satu2nya dan tinggal satu rumah jadi segala tau.. org tua saya pun merasa tertekan dgan masalah utang piutang ini. Dia selalu menekan saya sma suami. Dan yg paling saya bingung kan..ibu saya sudah sangat membenci suami saya.

JAWABAN

1. Ketika suami sedang terlilit masalah, maka idealnya istri mendukung suami secara total baik secara moral maupun materi. Dengan cara berusaha membantu menyelesaikan masalah tersebut semampunya. Minimal, istri memberi dukungan moral dengan memberinya semangat agar tetap tenang dan tidak gelisah. Salah satu caranya dengan berusaha tenang dan tidak menampakkan kegelisahan. Selain itu, tidak ada salahnya melakukan solusi jangka pendek dengan cara gali lobang tutup lobang. Yakni, dengan cara mencari pinjaman ke orang lain untuk membayar hutang yang sudah jatuh tempo. Baca: Hutang

Dalam jangka panjang, mencoba membuka usaha baru yang halal dengan perhitungan yang cermat dan tidak beresiko tinggi. Semoga berhasil dan dapat menempuh hidup yang lebih tenang. Baca: Baca detail: Bisnis dalam Islam

2. Kalau mertua membenci menantu yang sedang dililit masalah, itu tidak heran. Yang terpenting, jangan sampai istri ikut-ikutan membenci suaminya. Selagi suami baik, maka istri hendaknya tetap berada di sisi suami dalam suka dan duka. Baca detail: Hak dan Kewajiban Suami Istri
Read More...

Tuesday, February 07, 2017

Cara Menyucikan Kasur yang Najis
ISTINJAK DENGAN TISU DAN CARA MENYUCIKAN KASUR YANG TERKENA NAJIS

Assalamualaikum,

Maaf sebelum nya saya sudah mengganggu, saya ingin bertanya masalah thoharoh yaitu tentang cara menghilangkan najis mutawasitoh yg ada pada benda yang apabila terkena air pasti dapat merusak benda tersebut.seperti handpone.sertifikat dan yang lain nya. bulan lalu sy melakukan operasi hemoroid,yg menyebabkan selama sebulan sy melakukan sholat dalam keadaan najis, karna pasca operasi selalu keluar kotoran dari anus, yg sy ingin tanyakan

TOPIK SYARIAH ISLAM
  1. CARA MENYUCIKAN KASUR YANG TERKENA NAJIS
  2. JAMAK SHALAT KARENA ANTRI, BOLEHKAH?
  3. MENYENTUH ISTRI BATAL WUDHU ATAU TIDAK?
  4. DIAJAK UMROH TAPI BELUM SIAP
  5. TAUBAT MENCELA RASUL
  6. MUHAMMADIYAH TERMASUK AHLUSSUNNAH?
  7. CARA KONSULTASI AGAMA
1. Apakah tidak apa2 dengan kondisi seperti ini sy beristinja memakai tisu sebagai pengganti air, karna kalau beristinja menggunakan air di takut kan terjadi infeksi pada bekas jahitan di anus nya

2. apakah sholat yg sy lakukan selama kondisi seperti ini ( memakai pampers ) wajib di qhoda pada saat nanti saya sudah sembuh total

3. bagaimana membersih kan kasur yg terkena kotoran dari dalam anus hingga kembali suci. apakah cukup di hilangkan kotoran nya. terus di lap sama kain basah. atau setelah di hilangkan kotoran nya lalu mencipratkan air kedalam area yg terkena kotoran tersebut. agar status kasur tersebut bisa kembali suci. soalna kalau d basuh sama air itu akan merusak kasur.

Demikian pertanyaan dari saya, semoga tim konsultasi islam al-khoirot berkenan membalas pertanyaan yg saya ajukan. Terima kasih


JAWABAN CARA MENYUCIKAN KASUR YANG TERKENA NAJIS

1. Istinjak dengan selain air memang dibolehkan dalam syariah Islam. Termasuk dengan tisu. Perlu diketahui, bahwa tisu atau semacamnya hanya dapat menyucikan najis dalam konteks untuk istinjak / cebok saja, tidak bisa menyucikan benda najis yang lain. Baca: Najis dan Cara Menyucikan

SYARAT SHALATNYA ORANG BESER ATAU SELALU NAJIS

2. Tidak perlu qadha karena shalatnya sudah sah karena mengingat kasus anda sama dengan orang beser kencing asal terpenuhi syarat-syaratnya yang berlaku bagi orang beser.

Adapun syarat-syaratnya (bagi yang terkena beser) sebagai berikut:

(a) Saat masuk waktu shalat fardhu, sebelum mengambil air wudhu, terlebih dahulu siapkan baju dan pakaian dalam yang suci.
(b) bersihkan jalan keluar air kencing (cebok) dengan bersih.
(c) jalan keluar air kencing disumbat dengan kapas bagi wanita atau gunakan kain seperti kain perban untuk laki-laki atau yang lebih praktis gunakan pampers untuk dewasa, barulah menggunakan pakaian dalam yang bersih dan suci.
(d) Mengambil air wudhu secara sempurna.
(e) Segera lakukan shalat.
Baca: Shalatnya Orang Beser

CARA MENYUCIKAN KASUR YANG NAJIS

3. Cara menyucikan (a) dihilangkan kotorannya; (b) dibasuh dengan air. Tidak ada cara lain selain cara tersebut. Imam Syafi'i dalam Al-Umm, hlm. 1/70, menyatakan:

وإذا صب على الأرض شيئا من الذائب كالبول والخمر والصديد وما أشبهه ثم ذهب أثره ولونه وريحه فكان في شمس أو غير شمس فسواء ولا يطهره إلا أن يصب عليه الماء

Artinya: Apabila tanah terkena sesuatu yang najis seperti kencing, khamar, kotoran dan sejenisnya lalu bekasnya, warnanya dan baunya hilang baik karena matahari atau bukan, maka hukumnya sama: tetap tidak suci kecuali disiram dengan air.

Baca juga: Najis dan Cara Menyucikan

Supaya najisnya tidak mengenai kasur, maka sebaiknya kasurnya diberi alas plastik seperti yang biasa dipakai bayi supaya mudah menyucikan dan najisnya tidak tembus ke kasur.

Kalau kasurnya sudah terlanjur terkena najis dan merasa sayang kalau dicuci karena takut rusak kasurnya, maka bisa saja tidak dicuci asal tidak dipakai untuk shalat. Kalau anda akan shalat di atas kasur yang najis tersebut maka shalatnya tetap sah asalkan memakai sajadah atau kain yang suci yang ditaruh di atas kasur tersebut. Imam Syafi'i dalam Al-Umm, hlm. 1/70, menyatakan:

والبساط وما صلى عليه مثل الأرض إذا قام منه على موضع طاهر وإن كان الباقي منه نجسا أجزأته صلاته

Artinya: Alas yang dibuat shalat itu seperti bumi: apabila berada di tempat yang suci. Apabila bagian lain dari alas itu najis (misalnya, di bagian bawah), maka shalatnya tetap sah (asal najisnya tidak menyentuh orang yang shalat).


JAMAK SHALAT KARENA ANTRI, BOLEHKAH?

ada teman saya, pada saat itu dia sedang antri untuk pendaftaran di perusahaan ojek online, dan dia tidak dapat keluar karna ditutup gerbangnya dan harus antri lagi besok hari. itu berlangsung dari jam 11 pagi sampai jam 5 sore. pertanyaan saya apakah shalat dzuhurnya bisa dijamak dengan shalat ashar?
jazakallah

JAWABAN

Tidak boleh. Karena, shalat jamak itu baru bisa dilakukan apabila terjadi salah satu dari dua kondisi yaitu (a) musafir dengan jarak tertentu; dan (b) hujan. Lihat: Shalat Jamaak dan Qashar


MENYENTUH ISTRI BATAL WUDHU ATAU TIDAK?

Assalaamuálaikum......

Saya mau menanyakan masalah yg membatalkan wudhu bahwasannya bersentuhan dengan istri sendiri dapat membatalkan wudhu apakah benar apa tidak? sedangkan saya pernah baca ada beberapa pendapat yg satu membatalkan yg satu tidak.
Mohon penjelasannya manakah yg benar?
Terima kasih atas jawabannya.

Wassalaamuálaikum......

JAWABAN

1. Menyentuh istri dan semua wanita bukan mahram itu membatalkan wudhu menurut madzhab Syafi'i. Lihat: Wudhu dan yang Membatalkan

2. Pendapat yg menyatakan tidak batal wudhunya adalah pendapat madzhab selain Syafi'i yaitu madzhab Hanafi dan Hanbali. Lihat: Pembatal Wudhu menurut Madzhab Empat

3. Semua pendapat adalah benar. Namun, dianjurkan ikut pendapat yang kita biasa mengikutinya. Di Indonesia umumnya muslim ikut madzhab Syafi'i maka sebaiknya ikut madzhab Syafi'i dalam semua masalah fiqih kecuali dalam keadaan yg diperlukan. Baca: Talfiq dalam Islam


DIAJAK UMROH TAPI BELUM SIAP

Assalamualaikum wr. Wb
Ustad,, saya rencana mau di ajak umroh.. Tapi saya merasa belum siap..belum siap batin nya dan belum bisa tinggalin anak saya yang masih kecil. Karena saya jarang sholat dan ngaji juga kadang2 tapi saya bisa baca alquran. Saya pernah menolak, tapi saya malah di marahi dan dibilang tidak bersyukur.
Yang mau saya tanyakan...
1. Kalau hati merasa berat apakah saya tetap harus menerima?
2. Apakah umroh ada hukum alam seperti halnya saat ibadah haji... Amal baik dan buruk di tanah Air akan dibalas ditanah suci?
Mohon penjelasannya ya ustad...

JAWABAN

1. Sebaiknya menerima. Umroh hukumnya wajib dilakukan sekali seumur hidup sebagaimana haji. perkara wajib tidak perlu mempertimbangkan siap atau tidak siap. Sama dg sholat, siap tidak siap harus sholat, bukan? Baca: Shalat 5 Waktu

Muslim harus bertaubat atas dosa masa lalu. Dan umroh ini jadi kesempatan momentum untuk memulai taubat. jangan tunggu kematian memanggil anda dan terlambat untuk bertaubat. Baca detail: Cara Taubat Nasuha

2. Tidak ada hukum alam. Itu hanya mitos. Baca detail: Panduan Haji dan Umroh


TAUBAT MENCELA RASUL

assalamu'alaikum wr wb. pak Kyai/Syekh Dsb.
saya mau berkonsultasi, bagaimana caranya saya bertaubat setelah saya entah itu disengaja atau tidak, menghina atau tidak. saya waktu itu sedang masak mie tuk makan saya, lalu saya entah apa yg terjadi saya berkata "paye!" (para yesus atau sebutan tuk orang yg menyembah yesus) sambil membentangkan tangan saya dan seketika itu saya langsung sadar dan meminta maaf serta meminta taubat, dan sebelumnya dulu juga saya memplesetkan salah satu ayat alqur'an. apakah dosa saya terampuni dng sholat taubat?, dan apa yg harus dilakukan tuk mengampuni dosa saya?, dan bisakah hukum bunuh diri sebagai penebus dosa saya?. dan bagaimana saya bisa kembali ke islam setelah melakukan hal terkutuk itu?. sampai2 saya tidak bisa tidur akibat menyesal perbuatan hina tersebut. terima kasih

JAWABAN

Mencela Rasul hukumnya murtad. Cara taubatnya adalah dengan membaca syahadat dan mohon ampun pada Allah untuk tidak mengulangi lagi. Baca detail: Cara Taubat Nasuha

Perkara penyebab murtad lihat di sini

Namun kalau ucapan/perilaku murtad itu disebabkan oleh penyakit yang di luar kemampuannya untuk menghindari, maka dimaafkan alias tidak apa-apa. Lihat di sini.


MUHAMMADIYAH TERMASUK AHLUSSUNNAH?

Assalamualaikum. Pak, bagaimana dengan Islam Muhamadiyah yang sering berkata tahlil dan tawasul pada waliullah adalah bid'ah/sesat, apakah muhamadiyah tergolong ahli sunah wal jamaah atau bukan.

JAWABAN

Dalam segi akidah, Muhammadiyah tergolong kelompok Wahabi Salafi karena menganut teologi Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdil Wahab. Namun termasuk Wahabi yg garis lunak. Baca Beda Wahabi dan Ahlussunnah

Dalam definisi umum di mana aliran besar Islam terbagi dua yakni Ahlussunnah dan Syiah, maka Muhammadiyah dan Wahabi termasuk Ahlussunnah.

Namun dalam pengertian yang lebih khusus - yakni antara lain bahwa Ahlussunnah itu berakidah Asy'ariyah dan/atau Maturidiyah -- maka Wahabi tidak termasuk Ahlussunnah menurut hasil muktamar ulama Ahlussunnah di Chechnya tahun 2016 karena akidah yang dipakai adalah Ibnu Taimiyah dan Muhamad bin Abdil Wahab. Baca: Wahabi Salafi bukan Ahlussunnah

Read More...