Konsultasi Syariah Islam

Konsultasi syariah hanya akan dilayani apabila dikirim via email ke: alkhoirot@gmail.com

Subscribe Us

Suka artikel kami? Dapatkan update terbaru langsung ke email Anda!

ATAU
Feed KSIA

Tuesday, May 31, 2016

Korupsi PNS: Dipaksa Korupsi oleh Atasan
KORUPSI DI LINGKUNGAN PNS: DIPAKSA ATASAN POTONG ANGGARAN PROYEK

assalamualaikum pa ustad
semoga selalui diberkahi dan diridhoi pengabdiannya pada masyarakat. Aamiin Ya Robb.

saya seorang PNS, sepertinya korupsi di lingkungan kerja PNS sudah sangat wajar dan umum dilaksanakan, jadi kita yang melawan arus akan sulit melaksanakan kerja dan tugas kita, kalau berbeda sendiri menolak hal korupsi ini.

contoh : kepala dinas mewajibkan setoran 10-20 % dari anggaran yang kita kelola, selaku bawahannya mau tidak mau kita turuti. kalau tidak dituruti semua yang kita kerjakan, baik pembelian atau apapun, maka nanti Surat Pertanggung Jawabannya (SPJ) tidak akan kepala tandatangani, padahal pembelian sudah kita lakukan dan barang yang kita beli sudah dibagikan ke masyarakat atau habis dipakai. Secara norma administratif keuangan, .... kita yg akan disalahkan BPK..., karena tidak ada SPJ, sementara uang sudah diambil kita sebagai pejabat pelaksana kegiatan. Kepala tidak akan disalahkan apa2, karena yg bersangkutan tidak memegang uang...!!!
TOPIK SYARIAH ISLAM
  1. KORUPSI DI LINGKUNGAN PNS: DIPAKSA ATASAN POTONG ANGGARAN PROYEK
  2. BOLEHKAH PNS MEMBERI SEMINAR SAAT JAM KERJA?
  3. TERLAHIR MUSLIM, PERLUKAN BERBAIAT ULANG
  4. KOPERASI KREDIT DAN LAYANAN LEASING
  5. CARA MENGENDALIKAN DIRI
  6. CARA KONSULTASI AGAMA

pertanyaan :
1. Dikerjakan salah (harus nyetor 15%, berarti korupsi), tidak nyetor... kerjaan kita SPJ nya tidak ditandatangani (berarti uang tidak dibelanjakan ="korupsi") juga anggapan BPK. Apa sikap kita ?
2. keluar dari PNS, anak istri telantar ? cari kerjaan lain susah. Apa sikap kita?
3. pindah lain kantor, sulit. ....dan kondisinya samimawon....Piye iki pa ustad ? bertahan jadi PNS/keluar dari PNS ?


JAWABAN

1. Dalam kasus di atas, anda termasuk dalam posisi korban kezaliman dari atasan Anda. Dalam situasi ini, maka anda berada dalam situasi darurat dan dibolehkan mengiikuti perintah atasan karena terpaksa. Asalkan anda sendiri tidak ikut korupsi dan tidak memakan uang anggaran tersebut. Baca detail: Hukum Korupsi

2. Silahkan bertahan di tempat yang sekarang dengan syarat: (a) jangan ikut korupsi walaupun satu sen; (b) niat yang kuat untuk merubah keadaan ini apabila anda diberi amanah menduduki posisi strategis.

3. Tidak perlu pindah.

______________________


BOLEHKAH PNS MEMBERI SEMINAR SAAT JAM KERJA?

Assalamu'alaikum Ustad

Sebagai PNS tiap bulan mendapatkan gaji dan tunjangan-tunjangan sesuai peraturan yang berlaku. Diantara PNS terdapat orang-orang yang karena keahliannya dibidang tertentu atau sebagai pejabat kadang-kadang mengisi acara tertentu misalnya seminar atau penataran dan mendapatkan honor.

1. Bagaimana hukumnya menerima honor tersebut apabila pekerjaan itu dilakukan di waktu jam kerja

2. dan bagaimana pula jika dilakukan di luar jam kerja?

Wassalamu'alaikum.

JAWABAN

1. Memberi ceramah di seminar adalah halal dan karena itu honor yang diterima juga halal. Adapun kalau saat memberi ceramah itu bertepatan dengan jam kerja maka hukumnya haram karena melanggar perjanjian kerja sebagai PNS. Namun keharaman itu tidak berpengaruh pada kehalalan honor seminar. Yang berpengaruh justru kehalalan gaji PNS-nya pada hari itu karena ia digaji tanpa bekerja. Ini sama artinya dengan memakan gaji buta. Tapi tidak semua gaji PNS-nya haram, hanya pada saat dia tidak masuk saja: Kalau misalnya seorang PNS dalam satu bulan absen kerja selama 15 hari, maka gaji yang 15 hari haram, sedang yang 15 hari sisanya halal. Kecuali kalau saat dia tidak masuk kerja itu mendapat ijin dari atasan dan itu sesuai dengan aturan yang berlaku.

Pada intinya, hubungan antara pekerja dan bos (employer) adalah hubungan muamalah atau bisnis dan aturannya berdasarkan pada perjanjian yang dibuat antara keduanya. Dalam sebuah hadits riwayat Abu Dawud Nabi bersabda:

المسلمون على شروطهم إلا شرطا أحل حراما أو حرم حلالا
Artinya: (dalam bisnis) Muslim itu tergantung syarat (yang ditetapkan di antara mereka) kecuali syarat yang menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal. (hadits ini disebut juga kitab Qaidah fi Al-Mahabbah karya Ibnu Taimiyah, hlm. 1/131)

Jadi, kalau memang aturannya dalam suatu perusahaan (dalam hal ini PNS) mengharuskan setiap PNS masuk setiap hari, lalu si PNS bolos, maka itu jelas melanggar dan uang gajinya haram pada hari dia bolos itu.

2. Apabila dilakukan di luar jam kerja maka halal gaji PNS dan honor seminarnya.

______________________


TERLAHIR MUSLIM, PERLUKAN BERBAIAT ULANG

Assalamualaikum.

Ada seorang yang dituakan di lingkungan saya yang berpendapat demikian: islam seseorang yang dibawa dari lahir karena diwariskan oleh orang tuanya yang islam adalah tidak sah. Oleh karenanya orang tsb harus mengucapkan sahadat lagi (melakukan baiat lagi) sehingga sah lah keislaman orang tsb.

1. Benarkah pendapat tsb? Mohon penjelasannya. Terimakasih.

JAWABAN

1. Tidak benar. Seseorang itu disebut muslim apabila dia bersaksi atas keesaan Allah dan Muhammad sebagai Rasulullah. Baik itu diucapkan secara diam-diam atau di depan orang. Tidak perlu berbaiat pada siapapun dalam soal keislaman. Sebagaimana seorang non-muslim yang masuk Islam, maka dia cukup bersaksi dengan bersyahadat sendirian maka Islamnya sah. Baca: Tata Cara Masuk Islam Menjadi Mualaf

Baiat yang diwajibkan menurut Imam Nawawi adalah berbaiat untuk loyal dan taat pada pemerintah atau kepala negara (waliyul amri) - selagi pemerintah tidak menyuruh berbuat dosa. Dan itupun tidak perlu dilakukan secara individu, tapi cukup diwakili oleh orang lain seperti tokoh agama dan perwakilan yang disebut dengan ahlul halli wal aqdi. Jadi, baiat itu bukan bait baca syahadat sebagai tanda masuk Islam, tapi baiat kesetiaan pada pemimpin negara.

Imam Nawawi dalam Syarah Muslim, hlm. 12/77, menyatakan syarat baiat kepada ulil amri (pemerintah):

أَمَّا الْبَيْعَة : فَقَدْ اِتَّفَقَ الْعُلَمَاء عَلَى أَنَّهُ لا يُشْتَرَط لِصِحَّتِهَا مُبَايَعَة كُلّ النَّاس , وَلا كُلّ أَهْل الْحَلّ وَالْعِقْد , وَإِنَّمَا يُشْتَرَط مُبَايَعَة مَنْ تَيَسَّرَ إِجْمَاعهمْ مِنْ الْعُلَمَاء وَالرُّؤَسَاء وَوُجُوه النَّاس , . . . وَلا يَجِب عَلَى كُلّ وَاحِد أَنْ يَأْتِيَ إِلَى الأَمَام فَيَضَع يَده فِي يَده وَيُبَايِعهُ , وَإِنَّمَا يَلْزَمهُ الانْقِيَادُ لَهُ , وَأَلا يُظْهِر خِلافًا , وَلا يَشُقّ الْعَصَا

Artinya: Ulama sepakat bahwa baiat itu untuk keabsahannya tidak disyaratkan membaiat setiap orang, juga tidak setiap ahlul halli wal aqdi. Yang disyaratkan adalah membaiat orang yang mudah dikumpulkan seperti ulama, pimpinan dan tokoh.. Tidak wajib bagi setiap individu untuk datang ke depan lalu meletakkan tangannya di tangan pembaiat dan membaiatnya. Yang wajib adalah mengikuti pembaiat..

______________________


KOPERASI KREDIT DAN LAYANAN LEASING

Assalamu'alaikum
Ustadz saya mau tanya tentang seputar koperasi di perusahaan saya terdapat koperasi yang menyediakan layanan bagi anggota seperti "pinjaman uang, pembelian barang & layanan jasa (pajak kendaraan) yang bisa di bayar cicil oleh anggota

pertanyaanya:
1.apa hukum memanfaatkan layanan itu (karena pengembalian uang/harga barang lebih dari yg kita pinjam)?
2.apa hukum kredit rumah dan kendaraan melalui bank dan leasing , baik itu yang syariah atau pun bank dan leasing konvensional
terima kasih
Semoga ALLAH meridhoi ustadz2 semua
wassalamu'alaikum

JAWABAN

1. Hukum meminjam uang dengan bayaran berbunga hukumnya riba sama dengan bunga pinjaman bank. Baca detail: Hukum Bank Konvensional

Sedangkan untuk pembelian barang yang bayarannya dicicil hukumnya boleh dengan syarat anda membeli pada Koperasi tersebut. Jadi, anda membeli rumah atau motor pada Koperasi tersebut bukan pada KPR atau dealer. Itu artinya, Koperasi yang membeli rumah atau motor secara tunai, lalu anda membeli motor atau rumah secara mencicil pada Koperasi. Dalam konteks ini, maka transaksi ini halal dan bukan bunga karena Koperasi sebagai pemilik barang dibolehkan menentukan harga yang lebih mahal. Atau, harga yang lebih mahal itu dianggap sebagai jasa dari jual beli sistem cicilan.

Al-Qaradawi dalam buku HALAL HARAM mengatakan bahwa menjual kredit dengan menaikkan harga diperkenan-kan. Rasulullah s.a.w. sendiri pernah membeli makanan dari orang Yahudi dengan tempo untuk nafkah keluarganya.

Baca detail di sini (bahasa Indonesia di bagian bawah).

2. Yang melalui bank syariah boleh. Sedangkan yang melalui bank/leasing konvensional dirinci: apabila dengan cara seperti yang disebut dalam poin 1 -- yakni kita membeli pada bank/leasing -- maka boleh. Kalau tidak demikian -- yakni kita hutang duit ke bank bukan membeli barang, maka termasuk riba.

______________________


CARA MENGENDALIKAN DIRI

Assalamu'alaikum Wr Wb
Saya ucapkan Terima kasih kepada Pengasuh dan jajaran majelis fatwa Pondok Pesantren Alkhoirot yang telah menyediakan layanan situs tanya jawab/konsultasi Islam. Saya berharap layanan ini akan tetap selalu ada agar kami bisa berinteraksi langsung dengan sumber dan narasumber yg terpercaya seperti Pengasuh & Majlis Fatwa yang ada di PP Alkhoirot, agar kami tetap bisa berkonsultasi tentang seputaran hukum-hukum Islam yg kami belum mengerti.

Nama saya AV berasal dari ciledug, tangerang jawa barat. Saya ingin menceritakan sedikit masa lalu saya, Dahulu, saya pernah sekali mempunyai hubungan pacaran dengan teman , awalnya saya tidak tahu bahwa pacaran itu ternyata haram dilakukan , setelah saya mengetahui hal tersebut, saya akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hubungan tersebut. Setelah itu saya dengan dia menjadi jarang berkomunikasi walaupun kita satu sekolah.

Hal yang saya mau tanyakan adalah Bagaimana cara agar saya dapat mengendalikan diri dan hati jika setiap bertemu dengan lelaki lain dan terutama dengan dia karena saya takut jika saya betemu dengan dia, saya akan tergoda oleh nafsu syaitan yang akan menjerumuskan saya kedalam suatu hubungan yaitu pacaran dan menimbulkan penyakit hati (galau). Mohon jawabannya.
Saya ucapkan terima kasih kepada pengasuh pondok pesantren al khoirot yang telah menyelenggarakan sistem tanya jawab kpd umat yang awam seperti saya,

Dg ini saya tidak bimbang tentang masalah dan makalah tentang hukum islam dan tidak selalu putus asa atas dosa2 kami yang telah lalu untuk selalu memperbaiki diri kami agar selalu berbuat lebih baik , terima kasih !!!
Wassalamualaikum wr wb!!

JAWABAN

Apabila ada keinginan dalam diri anda untuk berhubungan dengan lawan jenis, maka cara terbaik adalah dengan segera menikah. Dalam sebuah hadits sahih riwayat muttafaq alaih Nabi bersabda:

يا معشر الشباب من استطاع منكم الباءة فليتزوج فإنه أغض للبصر وأحصن للفرج ، ومن لم يستطع فعليه بالصوم فإنه له وجاء

Artinya: Wahai para pemuda, barang siapa yang telah mampu diantaramu untuk menikah, maka hendaklah menikah karena akan menundukkan pandanganmu dan memelihara kehormatanmu. Maka, siapa yang belum mampu hendaklah berpuasa itu merupakan pengekang syahwat baginya.

Apabila saat ini masih belum menemukan jodoh, maka hindari bergaul dengan lawan jenis secara dekat dan bersifat fisikal dan dalam keadaan khalwat (berduaan) karena itu hukumnya haram. Baca: Hukum Khalwat
Read More...

Saturday, May 28, 2016

Cerita Cerai, Apakah Jatuh Talak?
CERITA TALAK, APAKAH JATUH CERAI?

Assalamualaikum ustad, saya ingin bertanya.

1) 6bulan pernikahan, saat disms istri minta cerai, karena lama tidak di balas istri sms lagi "balas sms aku", suami jawab iya, lalu istri sms lagi berrti kita sah cerai, suami jawab sms iya. Lalu istri telpon, kamu yakin kita cerai ya, niat kamu memang cerai, lalu saya terkejut istri bilang begitu karena saya sedikitpun tidak ada niat cerai, saya bilang saya jawab iya supaya kamu berhenti SMS. saya saat itu lagi capek, pengen istirahat tp istri SMS terus tidak ada henti2nya. Istri jengkel lantaran saya tidak pulang, karena menginap di rumah keluarga. Saat itu kondisi saya memang lagi capek pulang kerja malam, makanya menginap dirumah keluarga. Jarak kantor ke rumah saya cukup jauh. Apakah jatuh talak saat itu ustad, karena mengiyakan permintaan istri. Apakah ini termasuk talak kinayah ustadz?

Saya benar benar tidak ada niat untuk bercerai saat itu. Terus terang ustadz saya saat itu tidak terlalu mengerti masalah talak / cerai saya mengira cerai itu kalau ke pengadilan agama.

TOPIK SYARIAH ISLAM
  1. CERITA TALAK, APAKAH JATUH CERAI?
  2. RUMAH TANGGA: BATASAN TALAK
  3. BELAJAR TEKNIK, INGIN PINDAH AMBIL AGAMA
  4. ANAK TIRI DAN BAPAK TIRI TIDAK HARMONIS
  5. CARA KONSULTASI AGAMA

2. Sampai 3 tahun berjalan pernikahan saya 2x mengucapkan cerai keadaan sangat marah dengan istri saya , dan di tanyakan ke ulama di tempat kami, dinyatakan kami sudah jatuh talak 2. Setelah itu saya baru mengerti masalah talak..setelah di jelaskan ulama.

3. beberapa hari yang lalu, Saat itu saya berdiskusi dengan istri lewat SMS, tidak dalam kondisi bertengkar. Istri saya mengatakan "aku merasa aku sudah di talak 3" Lalu saya menjawab "talak 3 kamu itu sudah ulama jelaskan baru jatuh talak 2.
Yang saya bingung pa ustad istri saya langsung bilang saya menjatuhkan talak lagi saat menjelaskan kata2 tadi karena saya menulis talak 3 kamu itu sudah lama ......." Padahal saya cuma mau menjelaskan talak 3 yang kamu maksud itu... tapi saya menulis talak 3 kamu itu...
Apakah saya salah berucap/ menulis dalam menjelaskan tadi ke istri saya.

Mohon penjelasannya pa ustadz. Istri saya orangnya sangat was2. Sedikitpun saya tidak ada niat cerai saat itu, saya hanya ingin menjelaskan pada istri.
Saya masih ingin berumah tangga, kami mempunyai 2 anak yang masih kecil.
Walaikumsallam


JAWABAN

1. Dalam kasus di atas tidak jatuh talak. Karena, ucapan talak yang sharih (eksplisit) pun kalau secara tertulis itu dianggap talak kinayah yang baru jatuh talak apabila ada niat. Baca: Talak via SMS dan Secara Tertulis

2. Ucapan cerai oleh suami secara lisan dan menggunakan kata "Cerai" atau "talak" atau "pisah" hukumnya terjadi talak walaupun tanpa niat. Namun, kalau ucapan itu diungkapkan pada saat sangat marah, maka ada sebagian ulama yang menyatakan tidak terjadi talak. Baca detail: Ucapan Talak Saat Marah

Apabila mengikuti pendapat ini, maka belum terjadi talak sama sekali antara anda dan istri. Apalagi saat itu anda belum tahu akibatnya dan mengira talak baru terjadi apabila diputuskan pengadilan. Suami yang tidak tahu akibat hukum talak tidak jatuh talaknya menurut sebagian ulama. Baca detail: Suami Awam Tidak Tahu Konsekuensi Hukum Ucapan Talak

3. Mengucapkan kata 'talak' dalam konteks bercerita itu tidak jatuh talak. Baca detail: Bercerita tentang Talak

______________________


RUMAH TANGGA: BATASAN TALAK

Assalamu'alaikum,

saya ingin melayangkan beberapa pertanyaan yang mungkin pertanyaan saya ini sudah dibahas sebelumnya, namun saya kurang mengerti apabila membaca jawaban pada kasus orang lain, saya harap ustadz/ustadzah bersedia menjawab pertanyaan saya secara langsung dan tidak memberi saya link untuk saya baca pada kasus orang lain.

1. dalam pernikahan saya, suami saya pernah mengucapkan talak secara lisan dengan jelas namun tidak sampai 1 bulan suami meminta maaf dan merujuk kembali. saya menghitung bahwa sudah jatuh talak 1 terhadap saya.

2. setelah lama kami membangun rumah tangga, kami mendapat ujian dengan masalah ekonomi yang kami hadapi, lalu suami berkata pada saya "sebaiknya kamu pulang ke rumah orang tua mu" walaupun tidak diucapkan secara jelas, tapi menurut saya suami saya sudah memberikan talak kinayah, maka menurut saya sudah jatuh talak 2 bagi saya.

setelah 2 bulan dari kejadian yang kedua itu, suami meminta saya untuk pulang kembali ke rumah kami, dan dia bilang pada saat menyuruh saya pulang dia dalam keadaan marah dan tertekan. dengan berbagai persyaratan demi tidak terulang lagi hal-hal semacam itu saya pun mau pulang kembali ke rumah suami.

3. memang ekonomi kami belum benar-benar membaik, sering terjadi cek cok antara saya dan suami, walaupun kadang kami sama-sama bisa saling mengalah untuk meredam emosi, tapi kadang saya pun tidak cukup sabar kepada suami, saya berfikir jika kebersamaan kami hanya untuk saling mendzolimi buat apa? lalu saya bilang pada suami "saya pulang saja kembali kerumah orang tua" dan suami saya tidak berkata apa-apa hanya dia bilang "yaa sudah" dan akhirnya saya pulang kembali kerumah orang tua saya tanpa diantar suami saya.

pertanyaan saya :

1. dari kasus pertama, kedua, dan ketiga saya itu sudah jatuh berapa kali talak terhadap saya?
2. apa saya sudah haram untuk suami saya atau masih bisakah dia merujuk saya kembali apabila kami belum mengurus proses cerai sampai pada pengadilan?

demikian pertanyaan saya, mohon dijawab ustadz/ustadzah.

JAWABAN

1. Kasus pertama terjadi talak, maka jatuh talak 1. Untuk kasus kedua adalah talak kinayah yang baru terjadi talak apabila disertai dengan niat dari suami. Silahkan tanya pada suami apa ada niat, kalau tidak ada niat berarti tidak terjadi talak. Baca: Talak Kinayah

Sedangkan yang ketiga, yakni mengiyakan ucapan istri, itu tidak terjadi talak bahkan walaupun istri mengucapkan ucapan talak sharih dan suami mengatakan "ya sudah" tetap tidak terjadi talak. Baca: Mengiyakan Permintaan Cerai Istri

Dengan demikian maka talak yang pasti terjadi hanya pada kasus pertama. Dan maksimal terjadi talak 2, itupun kalau kasus kedua disertai niat. Baca detail: Cerai dalam Islam

______________________


BELAJAR TEKNIK, INGIN PINDAH AMBIL AGAMA

Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh.
Semoga Alloh selalu memberikan jalan yang benar. Maaf sebelumnya pak karena sudah mengganggu waktunya, saya hanya ingin meminta nasehat tentang kegelisahan yang mengganggu saya akhir2 ini. Saya menempuh kuliah di jurusan teknik tetapi belum cukup lama.

Akhir2 ini merasa gelisah tentang pilihan saya..saya berpikir Hidup yang selama ini saya korbankan sekarang dan beberapa tahun mendatang akan sia2 jika hanya mencari dunia.. saya sempat berpikir bagaimana mencari ilmu yg tidak sia2 kelak di akherat. Sempat terbesat keinginan meninggalkan jurusan teknik dan ingin mendalami ilmu agama.begitulah kira2 permasalahan yang sedang saya hadapi. Syukur alhamdulillah jika bapak bersedia berkomentar atau memberi nasihat. terima kasih.
Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh

JAWABAN

Kalau memang jurusan yang saat ini anda ambil adalah sesuai dengan keinginan anda dan/atau orang tua anda dan anda merasa senang mempelajarinya, maka sebaiknya hal itu diteruskan sampai lulus. Bahkan kalau perlu sampai level S3 atau doktoral. Namun, pada waktu yang sama anda hendaknya meluruskan niat -- yakni mencari ilmu dengan niat (a) untuk meningkatkan iman; (b) meningkatkan kompetensi umat Islam di bidang sains dan teknologi; dan (c) bermanfaat pada diri sendiri dan sesama -- agar ilmu umum yang anda sedang dalami itu bernilai ibadah dan membawa peningkatan kebaikan pada kepribadian anda.

Di samping itu, harus ada sekelompok muslim yang mempelajari ilmu sains seperti anda agar bidang ini tidak hanya diisi oleh kalangan non-muslim saja.

Adapun tentang ilmu agama, maka ilmu agama yang wajib anda pelajari adalah ilmu-ilmu agama dasar yang berkaitan dengan kewajiban dan larangan. Apabila hal ini sudah anda kuasai, maka itu sudah cukup. Baca detail: Hukum Belajar Ilmu Agama

Karena, untuk ilmu agama yang bersifat detail banyak orang lain yang akan mengisi dan mengambil tanggung jawab. Anda bisa menjadikan mereka sebagai tempat bertanya apabila kelak anda membutuhkannya. Juga, anda bisa mengambil program pesantren kilat saat sedang liburan kuliah untuk menambah wawasan agama. Baca: Pesantren Kilat

______________________



ANAK TIRI DAN BAPAK TIRI TIDAK HARMONIS

Assalamu'alaikum..

Ayah saya sudah meninggal mei 2012 dan saya memiliki 2 orang adik. Saya sudah menikah oktober 2015 dan kebetulan pada febuari 2016 ibu saya menemukan jodoh kembali mendapatkan duda dengan 2 anak yg sudah besar. Setelah semua menikah saya tinggal dirumah ibu saya dan ibu saya tinggal bersama suami barunya dan adik saya tinggal di rmh tante.

Rumah ibu saya yg saya tempati memang lumayan besar sedangkan rmh suami ibu saya terbilang kecil dan sumpek. Ibu saya ada berkeinginan ingin tinggal dirumah yang skrng saya tempati dengan membawa suami dan anak dari suaminya dan saya di suruh pindah dengan maksud agar ibu bisa berkumpul dengan adik saya dan anak dari suami dengan rumah yg lebih besar. Sedangkan di sisi lain adik saya yang masih bersekolah Sd tidak bisa menerima kehadiran bpk tiri dan tidak mau tinggal bersama dan bapak tirinya pun tidak ada inisiatif mendekati anak2 dari ibu saya.

Saya tidak ridho jikalau rumah ibu saya yang saya tempati di isi oleh bpk tiri saya dan anak2ny. Di dalam benak berfikir saya kok anak sendiri di usir dan ibu saya malah memasukan anak orang ke rumah dari hasil alm ayah saya . Karna pada dasarnya saya merasa itu rumah dari hasil kerja almarhum ayah saya dan saya sebagai anak sendiri di usir pdhal saya merasa lebih berhak untuk menempati rumah trsbt ( kebetulan saya baru berkeluarga dan belum punya rumah sendiri )
Apakah pemikiran saya salah?

Saya menyarankan adik saya untuk tinggal di rmh ibu saya bersama saya dan suami saya dan adik saya pun mau. Karena jika tinggal bersama bpk tiri adik saya sama sekali tidak mau ( adik saya belum bisa terima kehadiran bpk tiri dan bpk tirinya pun sepertinya tidak ingin di recokin dengan adik2 saya karena bpk tiri saya inginnya dia hanya ibu saya saja tanpa pusing dengan adik2 saya.

Mohon saran nya saya harus seperti apa dengan permasalahan ini. Dan saya harus berbuat apa?

Terimakasih
Wassalam..

JAWABAN

1. Terkait rumah yang anda tempati saat ini, maka untuk menilai pantas atau tidaknya pemikiran anda itu tergantung dari kepemilikan rumah tersebut. Siapa pemilik rumah tersebut? Apakah milik ibu anda atau milik ayah anda? Kalau rumah tersebut milik ibu anda, maka beliau berhak untuk menentukan penggunaan rumah tersebut apakah mau ditempati sendiri bersama suami barunya dan anak-anak tirinya atau tidak.

Apabila rumah tersebut milik ayah anda dan belum dihibahkan pada ibu anda, maka berarti status rumah tersebut termasuk harta warisan. Apabila demikian, maka rumah tersebut menjadi hak ahli waris yakni istri (ibu anda) dan anak-anaknya (anda dan saudara). Dalam konteks ini, maka ibu anda tidak bisa melakukan sesuatu terkait rumah tersebut tanpa ijin dari ahli waris yang lain yakni anak-anaknya. Baca detail: Hukum Waris Islam
Read More...

Friday, May 27, 2016

Wali Salah Sebut Jumlah Mahar
WALI SALAH SEBUT JUMLAH MAHAR, SAHKAH NIKAHNYA?

Assalamualaikum ustadz, saya seorang pria saat melangsungkan akad nikah wali pihak wanita menyebutkan mahar sebesar 20gram sedangkan secara fisik mahar yang saya berikan sesuai yang saya beli di tokomas jumlah nya 20.11 gram
1. apakah sah pernikahan kami?
2. apakah penyebutan jumlah mahar harus detail sesuai dengan yg saya berikan ?

TOPIK SYARIAH ISLAM
  1. WALI SALAH SEBUT JUMLAH MAHAR, SAHKAH NIKAHNYA?
  2. HUKUM WARIS: BAGIAN ISTRI DAN SAUDARA KANDUNG
  3. CARA KONSULTASI AGAMA


JAWABAN

1. Pernikahan sah karena penyebutan mahar saat ijab kabul itu tidak wajib.
2. Tidak harus. Pada dasarnya, mahar tidak harus disebutkan saat akad nikah, tapi bisa setelahnya. Dan yang prinsip bersifat saling rela (Arab: taradhi) antara suami dan istri.

URAIAN

Penyebutan jumlah mahar tidak menjadi syarat (yang harus ada sebelum akad nikah) dan bahkan bukan menjadi rukun (yang harus dilakukan saat akad nikah). Penyebutan mahar saat akad nikah hukumnya tidak wajib. Artinya, kalau saat ijab tidak tidak menyebut jumlah mahar baik wali maupun pengantin laki-laki, maka akad nikahnya tetap sah. Yang terpenting mahar itu diberikan oleh suami dengan jumlah yang sama-sama disepakati. Mahar baru wajib diserahkan setelah terjadinya hubungan intim.

Dalam QS Al-Baqarah 2:236 Allah berfirman: "Tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas kamu, jika kamu menceraikan isteri-isteri kamu sebelum kamu bercampur dengan mereka dan sebelum kamu menentukan maharnya." Maksud ayat ini adalah boleh menceraikan istri sebelum ada hubungan intim dan sebelum menentukan mahar. Itu artinya, boleh tidak menyebut mahar dalam akad nikah (ijab kabul). Hukum menyebut mahar adalah sunnah. Al-Baghawi dalam Tafsir Al-Baghawi, hlm. 1/236, menjelaskan:

قوله تعالى : ( لا جناح عليكم إن طلقتم النساء ما لم تمسوهن أو تفرضوا لهن فريضة ) أي ولم تمسوهن ولم تفرضوا نزلت في رجل من الأنصار تزوج امرأة من بني حنيفة ولم يسم لها مهرا ثم طلقها قبل أن يمسها فنزلت هذه الآية

Artinya: Ayat ini turun berkenaan dengan lelaki Anshar yang menikahi perempuan dari Bani Hanifah dan tidak menyebut atau menentukan mahar (saat akad nikah) lalu pria ini menceraikannya sebelum terjadinya hubungan intim, maka turunlah ayat ini.

Poin dari penjelasan Al-Baghawi di atas adalah bahwa penyebutan mahar, apalagi jumlah mahar, tidaklah wajib. Dan kalau tidak disebut, tidak merusak keabsahan nikah. Apalagi kalau cuma berbeda sedikit penyebutannya.

Yang terpenting adalah ketika mahar itu diberikan oleh suami pada istri, kedua belah pihak sama-sama setuju. Wahbah Zuhaili dalam Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuh, hlm. 7/365, menyatakan:

أما المهر المسمى : فهو ماسمي في العقد أو بعده بالتراضي، بأن اتفق عليه صراحة في العقد او فرض للزوجة بعده بالتراضي

Artinya: Mahar musamma adalah mahar yang disebut saat akad nikah atau setelah akad nikah dengan secara saling rela yakni disepakati secara jelas saat akad nikah atau ditentukan pada istri setelahnya dengan saling rela.

______________________


HUKUM WARIS: BAGIAN ISTRI DAN SAUDARA KANDUNG

Ahli waris dan pembagian waris dari Almarhum Bapak Ibrahim

Bapak Ibrahim meninggal dunia pada tanggal 30 Nopember 1990 dan dari perkawinannya dengan seorang istri bernama Sulastri (janda dengan dua orang anak) yang meninggal dunia belakangan pada tanggal 18 Agustus 2005, almarhum Ibrahim tidak mempunyai anak kandung, akan tetapi almarhum mempunyai 3 orang saudara kandung. Almarhum Ibrahim meninggalkan harta waris berupa sebidang tanah.

A. Anak kandung Almarhum Ibrahim
Almarhum Ibrahim tidak mempunyai anak kandung

B. Istri Almarhum Ibrahim

Almarhumah Sulastri meninggal belakangan pada tanggal 18 Agustus 2005. Almarhumah dari perkawinan terdahulu mempunyai dua orang anak, yaitu :

- Jayus (laki laki)
- Ningsih (perempuan)

C. Saudara kandung Almarhum Ibrahim

Almarhum Ibrahim mempunyai tiga orang saudara kandung yang pada saat ini juga sudah meninggal dunia, yaitu :

C.1. Almarhumah Kuraesin yang meninggal dunia belakangan pada tahun 2002. Almarhumah Kuraesin mempunya lima orang anak kandung, yaitu :

- Muryati (perempuan)
- Sukardi (Almarhum), meninggal dunia belakangan pada tahun 2016 dan belum pernah menikah serta tidak punya anak.
- Supriyanto (laki laki)
-Susmono (Almarhum), meninggal dunia belakangan pada tahun 2014. Almarhum mempunyai seorang istri yang bernama Yati dan tidak mempunyai anak.
- Suwardi (laki laki).

C.2. Almarhumah Kurniati meninggal dunia lebih dahulu pada tahun 1950

2.1. Almarhumah Kurniati mempunyai satu orang anak, yaitu almarhumah Tina, yang meninggal dunia belakangan pada tahun 2003. Almarhumah Tina mempunyai satu orang anak kandung, yang bernama Ayu (perempuan).

C.3.Almarhum Sunarto, meninggal dunia lebih dahulu pada tahun 1985.

3.1. Almarhum Sunarto mempunyai dua orang anak kandung, yaitu:
- Almarhumah Sriyanti, meninggal dunia belakangan pada tahun 2014. Almarhumah Sriyanti mempunyai dua orang anak kandung, yaitu : Putri (perempuan) dan Anissa (perempuan).

- Firman (laki laki).

Jumlah seluruhnya adalah 11 orang yang diperkirakan menjadi ahli waris dari almarhum Ibrahim.

RINGKASAN:

1. Almarhum Ibrahim meninggal dunia pada tanggal 30 Nopember 1990
2. Almarhum Ibrahim tidak mempunyai anak kandung
3. Istri (janda dengan dua orang anak) meninggal dunia belakangan pada tahun 2005.
4. Almarhum Ibrahim mempunyai dua orang anak tiri.
5. Almarhum mempunyai tiga saudara kandung. Dua orang meninggal dunia lebih dahulu yaitu pada tahun 1950 (perempuan) dan tahun 1985 (laki laki). Satu orang saudara kandung (perempuan) meninggal dunia belakangan pada tahun 2002.
6. Satu orang saudara kandung Almarhum Ibrahim yang meninggal belakangan mempunyai 5 orang anak kandung.
7. Saudara kandung Almarhum Ibrahim yang meninggal lebih dulu pada tahun 1950 (perempuan) mempunyai satu orang anak kandung (perempuan) yang juga telah meninggal dunia belakangan pada tahun 2003 dan meninggalkan satu orang anak kandung perempuan.
8. Saudara kandung Almarhum Ibrahim yang meninggal lebih dulu pada tahun 2002 (laki laki) mempunyai dua orang anak kandung.

- Satu oarang anak (perempuan) meninggal dunia belakangan tahun 2014 dan mempunyai dua orang anak kandung perempuan.

- Satu orang anak kandung laki laki.

Pertanyaan :

1. Mohon dapat diberikan petunjuk, siapa saja ahli waris yang berhak dan masing masing yang berhak tersebut mendapat berapa bagian.

2. Apakah ada perbedaan pembagian waris (hak waris) antara Hukum Islam dengan Kompilasi Hukum Islam dalam kasus diatas ?

3. Mengingat almarhum Ibrahim meninggal dunia pada tahun 1990, apakah Hukum Islam atau Kompilasi Hukum Islam yang berlaku ?

Terima kasih atas bantuan dan petunjuk dari Ustadz.

Walaikumsalam WW,

JAWABAN

1.(a)Yang berhak menjadi ahli waris langsung dari Ibrahim ada dua yaitu (i) Istrinya yang bernama Sulastri mendapat bagian 1/4 [seperempat] ; (ii) Kuraesin saudari kandungnya yang wafat tahun 2002 yang mendapat bagian 3/4 [tiga perempat]. Sedangkan kedua saudara kandung yang lain, yakni Kurniati dan Sunarto tidak mendapat warisan sama sekali karena meninggal lebih dulu.

(b) Karena Sulastri dan Kuraesin sudah wafat saat ini, maka harta warisan diberikan kepada ahli waris masing-masing. Harta warisan Sulastri yang 1/4 diberikan kepada kedua anaknya yaitu Jayus (laki laki) mendapat 2/3 dan Ningsih (perempuan) mendapat 1/3.

(c) Adapun harta waris yang diterima Kuraesin yang senilai 3/4 bagian diberikan kepada ahli warisnya yaitu (1) Muryati (perempuan) mendapat 1/7; (2) Supriyanto (laki laki) mendapat 2/7; (3) Susmono (Almarhum) mendapat 2/7; (4) Suwardi (laki laki) mendapat 2/7.

Karena Susmono saat ini sudah wafat, maka bagiannya yang 2/7 diberikan kepada ahli warisnya yaitu (i) istri mendapat 1/4; (ii) sisanya yang 3/4 dibagikan kepada ketiga saudara kandungnya yang masih hidup yaitu Muryati mendapat 1/5 (dari 3/4), Supriyanto mendapat 2/5 dan Suwardi mendapat 2/5.

2. Ada. Yakni soal cucu. Lihat rinciannya di sini

3. Tergantung mau diselesaikan di mana. Kalau masalah ini dibawa ke Pengadilan Agama, maka Kompilasi Hukum Islam yang berlaku. Namun, kalau diselesaikan di luar pengadilan, maka Hukum Waris Islam yang berlaku.

Baca detail: Hukum Waris Islam
Read More...

Friday, May 20, 2016

Konsultasi NIkah dan Jodoh
NIKAH SIRI ANAK ZINA TANPA SEPENGETAHUAN ORANG TUA

Assalammualaikum Warohmatullahi wabarokatu

Saya ingin bertanya mengenai nikah siri, saya pernah nikah siri tanpa sepengetahuan keluarga saya dan keluarga laki laki. Dengan wali hakim dan 2 orang saksi yang tidak kami kenal
1. apakah pernikahan saya sah secara agama islam ?
Saya merupakan anak yang lahir diluar nikah. Saat ibu dan ayah biologis saya menikah saya sudah dilahirkan (berusia 3bulan). Sekarang ayah saya tidak tahu kemana, dan saya mempunyai adik kandung 1 laki laki dan 1 perempuan.

Mohon jawabannya, apakah pernikahan siri saya ini sah ? dan jika saya harus menikah ulang siapa wali nikah saya ?

Saya sangat berterima kasih jika anda sudi untuk menjawabnya.

Wassalam.

TOPIK SYARIAH ISLAM
  1. NIKAH SIRI ANAK ZINA TANPA SEPENGETAHUAN ORANG TUA
  2. STATUS ANAK DARI NIKAH HAMIL ZINA
  3. JODOH: MANA YANG HARUS SAYA PILIH?
  4. JODOH: HUKUM MENIKAHI JANDA
  5. JODOH: GAGAL NIKAH KARENA WANITA ENGGAN DIAJAK NIKAH
  6. RUMAH TANGGA: TIDAK BANGGA PADA SUAMI
  7. CARA KONSULTASI AGAMA


JAWABAN

1. Dengan status anda sebagai anak di luar nikah yang mana orang tua biologis baru menikah setelah anda lahir, maka hukum pernikahan anda yang memakai wali hakim adalah sah. Karena, ayah biologis anda secara syariah bukanlah ayah yang sah sehingga dia tidak bisa menjadi wali nikah. Oleh karena itu, maka wali hakim yang dapat menjadi wali nikah anda.
Baca detail:
- Wali Hakim Pernikahan
- Wali Nikah Anak Zina
- Pernikahan Islam

______________________


STATUS ANAK DARI NIKAH HAMIL ZINA

Assalamualaikum,
Sebelumnya saya ucapkan terimakasih telah meluangkan waktu untuk membaca pertanyaan saya. Kami menikah thn 1998....saya melahirkan thn 1999. Kami telah melakukan kesalahan besar sehingga saya telah hamil 2bulan sebelm menikah.
Yang saya mau tanyakan;
1. Bagaimanakah status pernikahan kami. Apakah sah secara agama atau tidak....dan sebaiknya apa yg harus kami lakukan.
2. Bagaimana status anak kami dalam agama apakah dia termasuk dlm anaka haram?
3. Bagaimana masa depan anak kami dia perempuan apakah Ayahnya berhak menjadi Wali Nikahnya kelak? Saat ini usia putri kami 16 thn.
4. Bagaimana mengenai hak ahli waris apakah anak kami berhak mendpatkannya?

Demikian pertanyaan saya pak/Ibu Ustad hingga saat ini sangat menjadi beban pikiran saya sementara suami sepertinya tidak peduli dan tdk pernah membahas hal ini.
Atas perhatian dan jawabannya saya ucapakan banyak terima kasih.

Wassalamualaikum warahmatullah hiwabarokatuh


JAWABAN

1. Status pernikahan wanita hamil zina adalah sah, baik menikah dengan yang pria yang menzinahinya atau dengan pria lain. Baca: Hukum Pernikahan Wanita Hamil Zina http://www.alkhoirot.net/2016/02/wali-nikah-anak-dari-perkawinan-hamil.html#2

2. Status anak juga sah menjadi anak dari ibu dan pria yang menikahinya. Ini pendapat madzhab Hanafi. Karena sah, maka ayahnya berhak menjadi wali nikah apabila anak tersebut perempuan. Baca: Status Anak dari Perkawinan Hamil Zina http://www.alkhoirot.net/2016/02/wali-nikah-anak-dari-perkawinan-hamil.html#3

3. Ya, ayahnya berhak jadi wali nikah putrinya. Lihat poin 2.

4. Ya, si anak dan orangtuanya saling mewarisi karena berasal dari perkawinan yang sah.

______________________


JODOH: MANA YANG HARUS SAYA PILIH?

Assalamu'alaikum.. Saya mohon bantuan sarannya. Saat ini saya bingung untuk menentukan pilihan. Sekarang usia saya 23 tahun. Saat ini saya ingin dilamar oleh seorang laki2 seiman, yg saya tau orgnya baik, bertanggung jawab dan insyaAllah bisa menjadi imam yg baik utk saya dan keluarga. Tapi, kami beda suku. Sedangkan dalam adat istiadat saya, saya tidak diperbolehkan menikah dg suku (x) tersebut.
1. Bagaimana seharusnya saya, apakah saya harus mengikuti adat didalam keluarga saya ataukah saya tetap meneruskan lamaran ini karena secara islam semuanya tidak ada yg diragukan. Mohon saran dan penjelasannya. Terimakasih kak :)

JAWABAN

1. Perkawinan ideal adalah apabila sesuai dengan syariat dan tradisi. Aturan adat juga perlu diikuti -- selagi tidak berlawanan dengan syariat -- karena akan berdampak pada kondisi sosial anda dan keluarga. Jadi, kalau bisa, cari calon pasangan yang sesuai dengan kriteria syariah dan tidak berlawanan dengan aturan suku anda.

Namun, apabila kita tidak menemukan yang ideal, maka yang harus didahulukan adalah yang pertama yakni yang baik menurut pandangan syariah Islam. Karena, pilihan yang sesuai syariah akan lebih besar kemungkinan membawa kebahagiaan bagi anda di dunia dan akhirat. Baca juga: Cara Memilih Jodoh

______________________


JODOH: HUKUM MENIKAHI JANDA

Asalam alaikum wr wb.
Yth pak ustadz yang dimuliakan allah swa Saya seorang pria berusia 31 tahun belum menikah. Saya sedang bingung dengan keputusan saya untuk menikahi janda,
Ceritanya begini, Ada kenalan saya seorang perempuan dan dia dihamili seorang pria yang tidak bertanggung jawab, kemudian dia dinikahi oleh pria lain untuk menutupi aibnya dan sebulan kemudian suaminya itu meninggalkannya sebelum anaknya lahir, dia berencana untuk menceraikannya.

Saya sebagai temannya sangat iba melihat nasibnya, dan saya berniat untuk menikahinya untuk membahagiakannya dan menjadi ayah untuk anaknya kelak lahir, demi allah saya ingin mempersuntingnya, saya tidak peduli dengan kata kata orang bahwa dia adalah termasuk janda dua kali.

Pertanyaan saya adalah,
1. apakah keputusan saya ini salah untuk menikahinya?
2. Dan apa hukumnya menikahi perempuan yang dulunya sudah berbuat zinah?
Atas jawaban usataz saya hanturkan banyak terima kasih
Asalam alaikum wr wb.

JAWABAN

1. Kalau memang anda menyukainya dan itu direstui orang tua maka tidak ada yang salah untuk menikahi seorang janda.

2. Hukumnya boleh. Baca detail: Menikahi Wanita Pernah Berzina

______________________


JODOH: GAGAL NIKAH KARENA WANITA ENGGAN DIAJAK NIKAH

Assalmualaikum...

saya mau bertanya, saya sudah pacaran 3 tahun dengan seoarng pemuda kami sudah bertunangan dan dia sudah ngajak nikah tahun ini. Namun entah mengapa, setyap saya diajak nikah saya selalu mundur dengan alasan menunggu adik saya lulus sekolah. Dia juga tanya ikhlas ridho saya jawab enggak. sekarang saya sangat menyesali perbuatan saya, Tetapi sekarang kami sudah berpisah.

Dia sangat baik, selalu ada untuk saya, selalu memberi apa yang saya butuhkan, meskipun keadaan dia sangat lelah. Dia seperti pengganti ayah dan ibu saya di kota perantauan ini. Tapi Saya tidak bersikap demikian juga sama dia.

Bahkan ketika dia sering berhubungan dengan keluarganya saya marah, dengan alasan saya cemburu dan seperti dinomorduakan. Dia sering mengingatkan saya bahwa itu tidak benar. Tapi saya selalu melakukan itu.

Dia juga sering bilang pisah dan saya gak mau saya selalu bilang akan berubah tapi kenyataannya enggak. Dan dia selalu sabar menerima itu. Hingga pada akhirnya sekarang dia benar-benar meninggalkan saya.

Sekarang saya sangat menyesal, meminta dia kembalipun dia sudah tidak mau. Katanya sudah hambar. Saya Bingung pa yang harus saya lakukan. Apalagi selama pacaran 3 tahun ini kita sering melakukan kegiatan fisik yang sangat menjurus pada zina. saya bingung, dia sudah melihat semua diri saya. , meskipun tidak sampai hilang kegadisan saya.

Sekarang saya sangat menyesali perbuatan saya, sementara dia sudah meninggalkan saya, saya ingin sekali memperbaiki diri dan tidak mengulangi itu lagi, tapi saya ingin itu bersama dia.

1. Apa yang harus saya lakukan, setelah diputuskan saya merasa hancur, saya bingung harus bagaimana. Makan gak nafsu tidurpun susah. Saya sudah bicara baik-baik dengan dia tapi dia tetap tidak mau kembali.

2. Kata dia sudah melakukan solat istikharah selama 3 kali , tapi hanya sekali mimpi. Dalam mimpi itu dia sedang berjalan dengan saya kemudian dia tersandung kakinya kekilir, saya hanya menoleh dan meninggalkan dia. Kemudian datang laki" membantunya bangkit, dia mengejar saya tapi saya sudah tidak ada. Apa arti mimpi itu ustadz/

3. Sedangkan saya sudah solat tahajud dan istikharah tapi belum mendapatkan jawaban sampai sekarang. Saya masih mengharapkan dia kembali. Apa yang harus saya lakukan? tidur tak bisa makanpun q susah. saya selalu terbayang kebaikan dia. Semua kenangan dia sama saya.

Apa yang harus saya lakukan. aku begitu kehilangan dia

JAWABAN

1. Cara terbaik adalah mencari pria lain sebagai calon pasangan Anda. Tidak ada cara untuk melupakan pria yang meninggalkan anda kecuali dengan mendapatkan pria lain.

2. Tidak ada arti apa-apa. Hanya saja dia merasa mimpi itu menunjukkan anda dan dia tidak cocok. Dan perasaan itu membuat dia semakin merasa hambar pada anda.

3. Kalau masih mengharap dia kembali, maka katakan padanya bahwa anda masih menunggunya dan siap untuk menikah dengannya. Sementara itu, dalam masa penungguan, jangan membuat hubungan dengan pria manapun. Namun masa penungguan ini harus dibatasi. Mungkin maksimal setahun atau dua tahun. Setelah itu carilah pria lain. Karena, kalau anda tetap menunggu dia sampai umur tertentu, maka anda akan kesulitan mendapat jodoh. Baca juga: Cara Memilih Jodoh

______________________


RUMAH TANGGA: TIDAK BANGGA PADA SUAMI

Asaalaamu alaikum wr wb.
Saya memiliki suami yang tidak berusaha keras memenuhi kebutuhan rumah tangga. Pekerjaannya sebagai calo. 70-80% kebutuhan Rumah Tangga saya lah sebagai istri yg harus memenuhinya. Saya tidak mampu menyadarkannya. pertanyaan saya:
1. Apa hukum agama terhadap suami saya yg tidak berupaya keras memenuhi kebutuhan Rumah Tangga yg seharusnya menjadi tanggungjwbnya?
2. Sebagai istri saya merasa tidak memiliki kebanggaan pada suami. Apa saran pembina Alkhoirot pada saya?
3. Hati saya seperti angin, kadang saya mencoba sabar, tapi kadang saya mencoba untuk bercerai karena saya merasa tidak bahagia. Apa yang harus saya lakukan agar saya tidak dipenuhi kegalauan?
4. Suami merasa canggung dalam urusan hubungan intim suami istri dan tidak berani meminta hubungan intim. Hubungan hanya terjadi jika saya yang meminta. Tapi di hati kecil saya merasa sangat gengsi memulai, apalagi ditambah dengan perasaan yang galau dan tak adanya kebanggaan kepadanya, saya pun jadi malas meminta. Apa saya berdosa jika tidak memulai hubungan intim dan membiarkan hubungan intim tidak terjadi lagi karena saya sudah sampai pada rasa tidak membutuhkan hubungan intin dengan suami lagi? Saya khawatir jika saya yang meminta/memulai, dia akan terus berpikir bahwa dia tidak perlu bekerja keras karena saya punya uang saja dan membutuhkan layanan seks dari dia.
Demikian pertanyaan dari saya dan atas jawaban dari Alkhoirot saya ucapkan terimakasih.

JAWABAN

1. Suami adalah pihak yang wajib memberi nafkah pada istri dan anak. Dan itu harus dilakukan menurut kemampuannya. Apabila faktanya istri-lah yang selama ini lebih banyak memenuhi kebutuhan rumah tangga, maka itu adalah kebaikan istri bukan kewajiban istri. Dalam konteks ini, maka istri mempunyai dua pilihan (a) menganggap harta yang dikeluarkan sebagai sedekah, ini lebih dianjurkan; (b) menganggap harta yang dikeluarkan sebagai hutang pada suami. Apabila kekurangan penghasilan suami disebaban oleh pekerjaan yang tidak tetap, dan dia sulit mendapat pekerjaan tetap, maka istri harus menerima kenyataan ini. Apabila istri kurang menerima kenyataan ini, maka hendaknya istri membantu suami mencarikan pekerjaan yang baik bagi suami yang sesuai kemampuannya. Baca: Hak dan Kewajiban Suami Istri http://www.alkhoirot.net/2015/11/hak-dan-kewajiban-suami-istri.html

2. Kalau memang tidak ada lagi rasa cinta, maka Islam memberikan pilihan bagi istri untuk meminta cerai. Secara negara, istri boleh melakukan gugat cerai apabila suami tidak memberi nafkah. Baca: Ingin Cerai karena Tidak Cinta http://www.alkhoirot.net/2015/05/hukum-istri-minta-cerai-karena-tak-cinta.html

Namun, istri hendaknya berfikir mendalam untuk bercerai terutama kalau sudah punya anak dan suami selalu setia (tidak pernah selingkuh) serta taat pada syariah Islam.

3. Lihat poin 2.

4. Yang berkewajiban untuk memberi layanan hubungan intim adalah suami, bukan istri. Jadi, istri tidak berdosa tidak mengajak suami untuk hubungan intim. Baca juga: Cara Harmonis dalam Rumah Tangga
Read More...

Wednesday, May 11, 2016

Antara Cerai Khulu dan Talak
KONSULTASI CERAI: GUGAT CERAI DI PENGADILAN AGAMA DAN UCAPAN TALAK

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu,

Yang saya hormati ustadz/ustadzah pengasuh forum konsultasi ini, saya bermaksud mengirimkan pertanyaan mengenai permasalahan keluarga saya, lebih khususnya menyangkut perceraian saya dengan istri sekitar 4 tahun yang lalu. Saya juga sudah mempelajari beberapa tanya-jawab dalam forum konsultasi ini dan menemukan beberapa pendapat yang mungkin relevan, namun saya merasa perlu menanyakan masalah ini secara langsung kepada ustadz untuk mendapatkan penjelasan yang lebih lengkap. Sengaja dalam penjelasan saya selipkan nomor untuk mempermudah pertanyaan yang nanti akan saya sampaikan di belakang

TOPIK SYARIAH ISLAM
  1. GUGAT CERAI DI PENGADILAN AGAMA DAN UCAPAN TALAK
  2. BOLEHKAH ISTRI PERTAMA MINTA SUAMI CERAIKAN ISTRI KEDUA?
  3. CARA KONSULTASI AGAMA

Sekitar 4 tahun yang lalu, istri saya merasa bahwa hubungan kami sudah tidak harmonis. Hal yang menjadi penyebabnya adalah saya yang “dingin”. Karena saya bekerja di kota yang terpisah, maka saya hanya bertemu keluarga di akhir minggu. DItambah lagi dengan kondisi fisik saya yang (saat itu) kurang mendukung hubungan suami istri yang ideal. Suatu saat, istri (maaf tetap saya pakai kata istri untuk mempermudah penjelasan) menyampaikan kepada saya bahwa ia telah mempertimbangkan untuk berpisah, dan bahwa ia telah membicarakan hal ini dengan orangtuanya, saudara-saudaranya, dan dengan konsultan. Waktu itu saya belum bisa menerima bahwa kami harus berpisah, karena saya merasa semua yang ia keluhkan pasti ada solusinya.

Saya sempat meminta waktu untuk memperbaiki diri, namun karena hubungan kami yang sudah canggung (terlebih setelah istri menyampaikan keinginan berpisah), maka upaya saya untuk memperbaiki keadaan (termasuk dengan menjalani beberapa pengobatan) tidak bisa sesuai harapan kami. Karena saya tidak ingin istri sedih berlarut-larut dan tertekan (yang saya khawatirkan akan berdampak pada kemampuannya mengasuh anak kami), dan juga karena saya takut bahwa jika saya berkeras menolak justru akan membuat hubungan kami semakin jelek, istri menjadi benci pada saya, dan justru menghilangkan peluang bersatu lagi, akhirnya dengan berat hati saya menerima permintaannya untuk berpisah. Saya lupa kata-kata apa yang saya gunakan waktu itu untuk menyatakan persetujuan. Seingat saya saat itu saya tidak mengucapkan talak sharih seperti: ‘saya menceraikanmu’ atau ‘saya talak kamu’, tetapi mungkin menggunakan kata-kata seperti “ya sudah kalau memang menurutmu yang terbaik adalah kita berpisah” atau semacam itu. Saya waktu itu tidak sadar apakah kata-kata persetujuan tersebut sudah berarti talak.

Dalam pemahaman saya waktu itu, perpisahan baru akan sah secara agama maupun hukum di pengadilan agama (entah pengadilan nantinya memutuskan saya yang menalak ataupun mengabulkan gugatan cerai oleh istri), dan untuk sampai ke pengadilan agama maka kedua belah pihak harus setuju terlebih dahulu untuk melanjutkan proses ini. Waktu itu memang kami belum memutuskan cara yang dipakai untuk berpisah, apakah istri yang menggugat ataukah saya yang menceraikan. Namun akhirnya kami sepakat bahwa istri yang akan mengajukan gugatan ke pengadilan agama. Pertanyaan (1) dan (2)

Ustadz, sungguh saya menyesali kebodohan saya waktu itu. Saat itu saya tidak paham ucapan-ucapan apa saja yang bisa digolongkan sebagai talak. Saya pun memahami perceraian sebagai perjanjian yang baru sah secara syariah di Pengadilan Agama (dengan adanya saksi dan hakim). Bodohnya lagi, dalam kondisi yang tertekan saat itu, yang ada dalam pikiran saya adalah mencari cara bagaimana agar saya dapat berubah menjadi lebih baik seperti yang diharapkan istri – melakukan pengobatan, memperbaiki komunikasi, dan lain sebagainya, dan bukannya mempelajari ilmu agama yang mengatur tentang perceraian ini.

Setelah saya menyetujui keinginan istri untuk berpisah tersebut, kami pun masih beberapa kali berhubungan suami istri (karena berpikiran bahwa kami baru akan resmi bercerai setelah diputuskan di pengadilan. Jika nantinya pengadilan memerintahkan saya untuk mengikrarkan talak, maka dalam pikiran saya talak di pengadilan tersebut akan menjadi talak kesatu). Selama berhubungan itu, pernah istri merasa bahwa kondisi saya sudah lebih baik. Saat itulah istri sempat ragu dan bertanya, “Apakah (proses gugatan) tidak perlu dilanjutkan?” Saat istri mengajukan pertanyaan tersebut, saya mungkin merasa arogan, merasa menang terhadap istri, timbul keinginan menantang kesungguhan istri, dan ada perasaan bahwa mungkin perceraian memang lebih baik untuk kami (terpengaruh saran seseorang bahwa dalam kasus seperti yang kami hadapi, mungkin lebih baik cerai dulu dan baru kemudian bersatu lagi setelah kedua pihak bisa saling menerima kembali), dan akhirnya saya menjawab “Teruskan saja (prosesnya)”. Kejadian serupa berulang sebanyak satu kali lagi (total terjadi dua kali) di beberapa minggu sesudahnya. Setelah berhubungan, istri menanyakan hal yang sama dan saya ulangi dengan jawaban yang sama. Saya tidak tahu apakah saat itu istri sudah mengajukan gugatan ke pengadilan. Kalau ditanya tentang niat saya pada waktu mengucapkan itu, mungkin bisa saya jawab bahwa saya siap untuk bercerai, namun saya tidak berniat untuk bercerai saat itu juga melainkan setelah melalui pengadilan di kemudian hari. Pertanyaan (3) dan (4).

Akhirnya, gugatan istri diproses di pengadilan dan gugatannya dikabulkan.

Pertanyaan:

1. Saat saya menyetujui permintaan istri untuk bercerai (bukan permintaan untuk menalak) sebagaimana cerita yang saya sampaikan diatas, apakah berarti saya telah menjatuhkan talak satu karena mungkin saat itu saya telah menggunakan kata-kata 'pisah' saat menyetujuinya?

2. Ataukah yang berlaku saat itu adalah khulu’?

3. Jika yang berlaku adalah hukum khulu’, maka seharusnya setelah saya menyetujui permintaan istri tersebut, kami sudah tidak dapat rujuk lagi, dan untuk bersatu lagi hanya dapat dengan akad nikah baru (maaf mohon dikoreksi jika salah). Mohon maaf, tanpa bermaksud merasa lebih tahu, saya baru saja membaca satu pendapat bahwa begitu suami menyetujui keinginan istri untuk bercerai, maka khulu' langsung berlaku saat itu juga. Namun jika memang khulu’ langsung berlaku saat itu (dan bukan di pengadilan agama), maka apakah upaya mediasi di pengadilan agama saat gugatan istri tersebut diproses masih ada artinya?

4. Jika memang jawaban untuk pertanyaan (2) adalah benar bahwa khulu’ sudah berlaku, apakah artinya kami telah melakukan perzinaan? Astaghfirullahal azhiim, saya sungguh takut kami telah melakukannya. Semoga Allah melindungi kami dari zina, baik yang kami sadari maupun yang tidak kami sadari, dan Allah mengampuni dosa kami.

5. Namun jika jawaban pertanyaan nomor (1) adalah saya telah menjatuhkan talak satu, apakah berarti saya telah menjatuhkan talak kedua saat meminta istri meneruskan gugatan (karena kami sudah dihitung rujuk saat berhubungan badan), dan kemudian menjatuhkan talak ketiga saat kali kedua saya meminta istri meneruskan gugatan? Ataukah ucapan saya agar gugatan istri diteruskan ini bermakna masa yang akan datang?

6. Sebenarnya dalam kasus yang saya ceritakan diatas, kami bercerai karena talak ataukah karena khulu’? Ada berapa kali kah talak yang terjadi dalam kasus saya diatas? Apakah kami masih dapat bersatu kembali dengan akad nikah yang baru?

Ustad, saya sungguh menyesali kebodohan saya, dan saya sangat mengharapkan bahwa semua kebodohan yang saya alami diatas tidak sampai menyebabkan jatuhnya talak tiga ataupun perzinaan. Terus terang saat itu ilmu saya benar-benar dangkal. Saya mengira bahwa talak baru sah secara agama jika dilakukan di pengadilan, tidak memahami ucapan-ucapan apa saja yang berarti talak, dan tidak paham mengenai hukum khulu’. Saya baru mulai banyak belajar justru beberapa bulan terakhir ini. Saya menyesali perceraian kami dan terus terang saya masih menyimpan harapan suatu saat bisa kembali bersatu lagi dengan mantan istri. Hingga saat ini kami masih sama-sama sendiri, dan masih berkomunikasi dengan sangat baik karena kami mempunyai tujuan yang sama yaitu membesarkan anak kami. Awalnya saya banyak mencari tahu mengenai perbedaan antara cerai akibat talak dengan cerai karena gugatan istri, karena sempat mendengar pendapat beberapa teman bahwa jika istri yang menggugat cerai maka mereka tidak dapat bersatu kembali tanpa si istri menikah terlebih dahulu dengan orang lain (yang sepertinya merupakan salah pemahaman dengan akibat dari talak tiga). Namun setelah saya mempelajari lebih dalam, pasangan yang bercerai karena gugatan istri masih dapat bersatu kembali dengan akad baru, dan justru yang saya takutkan sekarang ini adalah bahwa ucapan-ucapan yang telah saya keluarkan selama berlangsungnya proses perceraian kami diatas telah menjatuhkan talak ketiga.

Mohon bantuannya, Ustad. Dan mohon maaf jika penjelasan saya kurang enak diikuti. Terimakasih banyak atas semua bantuannya.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu


JAWABAN GUGAT CERAI DI PENGADILAN AGAMA DAN UCAPAN TALAK

1. Karena persetujuan anda itu dalam konteks apabila istri melakukan gugat cerai ke Pengadilan Agama (PA), maka anda tidak menjatuhkan talak. Talak baru jatuh saat Hakim PA mengabulkan permintaan istri.

2. Yang berlaku adalah khulu' tapi khulu' yang dikabulkan oleh Hakim PA. Bukan perkataan Anda. Jadi, selama Hakim PA belum mengabulkan permintaan gugat cerai istri, khulu' belum terjadi dan karena itu hubungan intim yang terjadi antara anda dan istri tidak masalah.

3. Lihat poin 1 dan 2.

4. Khulu' belum berlaku pada pertanyaan no. 2. Karena itu, hubungan intim anda berdua hukumnya sah.

5. Lihat poin 1.

6. Anda berdua bercerai karena khulu' yang diputuskan oleh Hakim PA. Oleh karena itu, anda berdua masih dapat bersatu lagi dengan akad nikah yang baru. Karena status gugat cerai atau khulu' adalah talak bain sughro yakni kedua pihak boleh rujuk kembali asal dengan akad nikah yang baru.

Baca detail: Cerai dalam Islam

____________________________


BOLEHKAH ISTRI PERTAMA MINTA SUAMI CERAIKAN ISTRI KEDUA?

ustadz yang diberkahi Allah
saya berkeluarga sejak 1993, dikaruniai 5 anak, alhamdulillah perjalanan rumahtangga saya aman tentram, bahkan sering untuk jadi contoh keluarga yg lain. suami PNS , saya bekerja PNS juga. Alhamdulillah dengan demikian kebutuhan sehari hari dan pendididikan anak anak bisa tercukupi.

Th 2012 ada perempuan yg telah bersuami, menggoda suami saya, terjalin hubungan diantara mereka, suami perempuan itu tahu, dan marah. Saya demkian juga. Tahun 2014 suami perempuan itu meninggal. dan kembali mereka menjalin hubungan, lalu menikah bulan agustus 2015.

saya dan keluarga besar tentu saja shock , suami yg selama ini alim dan begitu baik pada keluarga, ternyata sampai hati berselingkuh dan menyakiti kami. kami sangat tidak setuju dengan pernikahan itu, disamping tentu tidak ada perempuan yg mau dimadu, selama ini saya membantu mencari nafkah untuk bisa memenuhi kebutuhan keluarga, koq malah disakiti. ibu dari suami , mertua saya, juga sangat tidak setuju dengan pernikahan itu. tapi sampai saat ini suami belum menceraikan istri keduanya itu....alasannya, istri kedua tidak menuntut untuk diberi nafkah secara materi , karena bekerja juga.

saya melihat banyak mudharatnya, suami dicopot dari jabatannya, jadi sering berbohong, tidak lagi aktif mengikuti pengajian yg selama ini diikuti sejak sebelum kami menikah, hubungan dengan adik adiknya jelas renggang, sebab adik adiknya pun tak setuju dengan pernikahan itu, dan yg jelas ibunya sudah sepuh itu merasa begitu kecewa dan sakit hati dengan poligami suami saya, hubungan saya dengan suamipun jelas jadi tidak harmonis...

yang saya tanyakan ustadz,

1. apakah dibenarkan secara syariat apa yg telah dilakukan suami, poligami, padahal amanah satu keluarga saja belum maximal ditunaikan, dalam hal ini masalah ekonomi karena saya masih harus membantunya mencukupi kebutuhan sehari hari,
2. dan juga kata nya istri kedua tidak dinafkahi secara materi,
3. dan poligami itu juga menyakiti hati ibunya ?
4. kalau saya menuntut ia menceraikan istri keduanya, benar atau salah menurut syariat islam ?
demikian ustadz, atas perhatiannya saya ucapkan jazakallahu khoiron katsiron.

JAWABAN

1. Poligami tidak dilarang dalam Islam sebagaimana secara eksplisit tersebut dalam QS An-Nisa 4:3 "Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat."

Namun, sekiranya takut tidak bisa berbuat adil, maka seorang pria hendaknya mencukupkan diri dengan satu istri saja sebagaimana firman Allah dalam kelanjutan di atas: "Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja."

Yang dimaksud 'adil' dalam berpoligami menurut para ulama fiqih adalah (a) sama dalam memberi nafkah lahir termasuk sandang, pangan dan papan sesuai dengan kemampuan suami; (b) sama dalam membagi hari menginap. Sama dalam jumlah waktu menginap tidak berarti harus sama dalam melakukan hubungan intim; (c) Begitu juga tidak harus sama dalam segi cinta atau rasa sayang.

2. Seluruh istri yang dinikah berhak untuk mendapat nafkah materi dan wajib bagi suami untuk melaksanakan kewajibannya. Namun karena itu hak bagi istri, maka boleh saja istri tidak menuntut hak tersebut. Baca: Hak dan Kewajiban Suami Istri http://www.alkhoirot.net/2015/11/hak-dan-kewajiban-suami-istri.html

3. Ibu adalah sosok yang harus ditaati dan anak harus berbakti pada orang tuanya. Termasuk dalam makna berbakti adalah dengan tidak menyakiti hatinya. Kalau ibu tidak setuju dengan pernikahan poligami anaknya, maka idealnya si anak mentaati keinginan ibunya. Baca detail: Hukum Taat Orang Tua

Namun, walaupun ibu tidak setuju, pernikahan poligami putranya tetap sah selagi memenuhi syarat dan rukun pernikahan. Baca detail: Pernikahan Islam

4. Tidak ada larangan bagi Anda sebagai istri pertama meminta suami untuk menceraikan istri kedua. Namun, permintaan itu jangan memaksa apalagi kalau menganggap poligami itu perbuatan yang tidak senonoh. Karena, secara syariah poligami itu halal, maka tidaklah semestinya ada yang melarang perbuatan yang dihalalkan oleh Allah. Jadi, silahkan mengajukan permohonan pada suami agar menceraikan istri kedua, tapi pada waktu yang sama dalam hati anda tetap harus mengakui bahwa poligami adalah perbuatan yang halal dan dibolehkan oleh syariah Islam.
Read More...

Wednesday, April 27, 2016

Konsultasi Keluarga Islami
RUMAH TANGGA: SUAMI SELINGKUH DAN TIDAK MENAFKAHI

Keadaan keluarga dalam suatu rumah tangga Islam tidak jarang terjadi jarak antara harapan dan kenyataan. Apa yang harus dilakukan dalam situasi demikian? Haruskah berakhir dalam perceraian atau tetap dipertahankan? Konsultasikan problema keluarga dan rumah tangga anda dengan mengirim email ke: alkhoirot@gmail.com. Ikuti tatacara bertanya di sini.

Assalamualaikum... maaf ustadz saya mau bertanya. Saya rumahtangga sudah Kurang lebih 25th, Saya menikah ingin membahagiakan kedua org tua, karena sebetulnya saya tidak mau menikah karena trauma melihat latar belakang ayah saya yang poligami, setelah menikah saya berusaha untuk mencintai dan menyayangi suami, setelah 5 tahun menikah saya di karuniai 2 orang anak wanita, dalam perjalanan rumahtangga saya sering menerima kekerasan dari suami, tapi saya berusaha untuk bersabar dan diam tidak pernah cerita pada siapapun sekalipun kedua orgtua saya,

Tahun 2000 saya mendapat musibah di selingkuhi oleh suami berulang kali, tapi saya masih bersabar dan diam, Tahun 2009 saya mendapat musibah lagi di poligami oleh suami dengan selingkuhan yang berbeda yang tidak di ketahui, dalam perjalanan rumahtangga di poligami, saya sering menerima kekerasan dalam rumahtangga dan juga cacian dari suami, tetapi saya masih tetap bersabar dan diam demi kedua org tua.

TOPIK SYARIAH ISLAM
  1. SUAMI SELINGKUH DAN TIDAK MENAFKAHI
  2. RUMAH TANGGA TIDAK HARMONIS KARENA BERJAUHAN
  3. RUMAH TANGGA: UCAPAN TALAK KARENA SANGAT EMOSI
  4. ANTARA BERKARIR DAN JADI IBU RUMAH TANGGA
  5. RUMAH TANGGA: GUGAT CERAI, BOLEHKAH RUJUK?
  6. NIKAH SAAT HAMIL 2 BULAN DAN STATUS ANAK
  7. CALON TUNANGAN TIDAK JUJUR SOAL KEPERAWANAN
  8. CARA KONSULTASI AGAMA

Thn 2014 suami menikah lagi dengan istri yang ke 3, dan sikap terhadap saya tetap tidak berubah, bahkan saya sudah tidak mendapatkn nafkah lahir batin sudah satu tahun lebih. Lantas saya mengajukan gugatan cerai sampai dua kali sidang namun suami tidak mau menceraikn saya, akhirnya saya cabut gugatan cerai tersebut karena suami berjanji akan berubah. tetapi sampai saat ini tetap tak ada perubahan, bahkan saat ini saya hidup menafkahi diri sendiri dan bahkan membantu membiayai anak kuliah. karena kalau tidak membantunya suami bersikap kasar terhadap saya. Saat ini saya hanya bisa berdoa sambil menangis memohon jalan keluar yang terbaik untuk saya dan kedua putri saya. Namun belum ada solusi nya. Utk itu saya mohon solusi dari Ustadz apa yang harus saya lakukan sekarang? Mohon jawaban nya Ustadz. Trimakasih. Salam Hormat (Muslimah )


JAWABAN SUAMI SELINGKUH DAN TIDAK MENAFKAHI

Tidak mendapat nafkah lahir batin selama setahun lebih, suami sering selingkuh dan istri sering mendapat perlakuan KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) adalah beban yang terlalu berat bagi seorang istri. Derita yang tidak berkesudahan itu bertentangan dengan tujuan rumah tangga untuk mencapai ketenangan jiwa. Oleh karena itu, meminta cerai atau melakukan gugat cerai adalah solusi terakhir yang paling tepat. Baca detail: Cerai dalam Islam

Selanjutnya, setelah habis masa iddah, anda hendaknya tidak menutup mata hati untuk pria lain. Namun, harus selektif dan hati-hati. Kepribadian yang baik dan taat agama hendaknya menjadi prioritas utama dalam memilih calon pasangan selanjutnya. Baca juga: Cara Memilih Jodoh

______________________


RUMAH TANGGA TIDAK HARMONIS KARENA BERJAUHAN

Assalamu'alaikum, saya seorang perempuan sudah menikah 2x pernikahan pertama saya rasa telah gagal tapi suami yang pertama sudah meninggal dunia, pernikahan yang kedua sudah berjalan tiga tahun selama itu hubungan kami tidak harmonis, masalah utama suami bekerja di jakarta sementara saya tinggal di bandung. suami pulang dua munggu sekali, di malam pertama menikah tiba tiba hp nya berbunyi, dia langsung menindih badan saya agar saya tidak membuka sms yang masuk ke hpnya, saya diam dan bertanya dalam hati mengapa ada sms tengah malam.tapi saya tidak berani bertanya.

paginya saya lihat pesan dari siapa yang masuk semalam ternyata sudah suami saya hapus, saya mulai curiga padanya, karena setiap dia pulang srpertinya suami saya ketakutan bila saya buka buka hp nya, kalau suami saya pulang dia pulang sabtu malam , kadang saya dengar suka ada miscol, kesini nya lagi suami saya berhubungan drngan perempuan lewat media sosial, saya sakit hati olehnya bukan karena di khianati tapi suami saya selalu berdusta , dia bilang yang internetan dengan perempuan temannya, bukan dirinya, sudah dua kali kami ribut , dan sekarang terjadi lagi,

dia tidak bisa mengelak malah balik menghinaku dan mengatakan saya yang tidak - tidak,

1. pertanyaan saya bagaimana menghadapi suami seperti ini karena saya sudah tidak tahan di bohongi terus, di sini bukan masalah cemburu tapi masalah kejujurannya terhadap saya, saya mohon secepatnya di balas.
Wassalamu'alaikum.

JAWABAN

1. Kalau anda tidak keberatan dengan suami yang selingkuh tapi hanya keberatan pada kebiasaannya berbohong, maka anda dapat komunikasikan hal itu padanya. Katakan terus terang bahwa anda tidak keberatan dia selingkuh asal jujur. Baca: Menyikapi Suami Istri Selingkuh http://www.alkhoirot.net/2012/03/hukum-menceraikan-istri-selingkuh.html

Kalau seandainya anda keberatan dengan perilakunya, maka anda mempunyai pilihan untuk melakukan gugat cerai. Baca detail: Cerai dalam Islam

______________________


RUMAH TANGGA: UCAPAN TALAK KARENA SANGAT EMOSI

saya ingin bertanya masalah pada rumah tangga saya.. seperti ini cerita nya.. saya bertengkar hebat dengan orang tua saya.. dikarenakan istri saya bercerita tentang hutang piutang yang sedang saya hadapi.. dan pada akhirnya saya marah.. amarah saya meledak tanpa kendali.. disaat amarah saya mulai memuncak saya berteriak dan mengucapkan kata cerai lebih dari 3 kali kepada istri saya..

1.apakah talak telah jatuh ketika saya mengucapkan kata cerai berkali kali dengan emosi kepada istri saya?
2.apakah kami sudah cerai dimata agama?
3.apakah kami bisa merujuk kembali atau tidak?
4.bagaimanakah proses jatuh nya talak?
5.rumah tangga saya termasuk talak ke berapa? 1,2,atau 3?

JAWABAN

1. Talak yang diucapkan pada saat sangat marah tak terkontrol tidak jatuh talak. Baca detail: Cerai Saat Marah Tak Terkontrol

Baca juga: Cara Harmonis dalam Rumah Tangga

______________________


ANTARA BERKARIR DAN JADI IBU RUMAH TANGGA

Assalamualaikum wr wb
saya ingin menanyakan antara wanita kerja dan jadi ibu rumah tangga, saya punya problem rumah tangga yaitu suami saya menyuruh saya berhenti bekerja dengan alasan kasihan anak saya (dulu suami juga ditinggal ibunya kerja) sedangkan ibu saya yang dari saya kecil sudah ditinggal meninggal ayah saya menyuruh tetap bekerja mumpung kesempatan masih ada dengan alasan dulu waktu sekolahin saya sangat penuhperjuangan (bekerja sendirian)

1. Yang saya tanyakan saya harus menurut yang mana, soalnya surga saya di suami saya tapi saya tidak mau membuat sakit hati ibu saya.

Mohon penjelasanya dan terima kasih atas penjelasanya
Wassalamualaikum wr wb

JAWABAN

1. Kalau suami sudah mencukupi kebutuhan nafkah anda, maka sebaiknya mengikuti perintah suami. Tapi apabila kebutuhan sehari-hari tidak tercukupi oleh suami, maka hendaknya dikomunikasikan kembali dengannya.

Walaupun kondisi pertama yang terjadi, namun untuk tidak menyakiti hati ibu, maka sebaiknya melakukan perjanjian dengan suami bahwa anda akan berhenti bekerja asalkan ia juga bisa memberikan nafkah setiap bulan untuk ibu anda sebagaimana anda memberikan dia sewaktu anda masih bekerja. Kalau dia tidak mau, maka komunikasikan hal ini lebih dulu dengan ibu. Baca juga: Cara Harmonis dalam Rumah Tangga

______________________


RUMAH TANGGA: GUGAT CERAI, BOLEHKAH RUJUK?

Assalamualaikum wr.wb

Saya menggugat cerai suami secara terpaksa karena permintaan orang tua. Sebelumnya saya dan suami bertengkar hebat karena saya membaca sms dari selingkuhannya, hingga sempat saat emosi memukul kepala saya. Orang tua akhirnya meminta saya bercerai dengan suami. Sebenarnya saya tidak menginginkan perceraian karena saat itu anak kami masih kecil. Saya terpaksa melakukan gugat cerai hingga ke pengadilan agama.
Setelah gugat cerai, beberapa tahun kemudian saya mengetahui ia menikah lagi. Ia mengaku dijebak dan terpaksa menikah karena alasan tertentu.

Pertanyaan saya:
1. Apakah sah gugat cerai saya kepada suami karena dalam hati saya idak menginginkan perceraian namun saya harus memenuhi permintaan orangtua setelah kejadian suami memukul saya?
2. Bagaimana jika nantinya saya dan mantan suami muncul keinginan untuk rujuk kembali, apakah sudah tidak diperbolehkan?

Mohon solusi dari ustadz apa yang harus saya lakukan untuk bisa menjalankan ajaran Islam dengan baik.
Terimakasih banyak sebelumnya, wassalamualaikum wr.wb.

JAWABAN

1. Sah. Kalau sudah diputuskan pengadilan, hukumnya sah.
2. Boleh kalau memang belum terjadi talak 3. Baca detail: Cerai dalam Islam

______________________


NIKAH SAAT HAMIL 2 BULAN DAN STATUS ANAK

Kepada Yth, - KSI Al-khoirot Pondok Pesantren Malang

Assalam mu’alaaikum warohmatulloh wabarokatuh

Saya mau konsultasi tentang pernikahan dan wali nikah.
1. Saya nikah dengan perempuan yang sekarang menjadi istri, pada saat nikah istri saya sudah hamil 2(dua) bulan dengan saya, dan lahirah anak perempuan, bagai mana hukumnya dalam islam, apakah pernikahan saya itu syah

2. dan bagai mana setatus anak apakah bisa diakui sebagai anak yang syah juga apakah saya boleh menjadi wali nikah.

3. Bagai mana cara menenangkan istri saya yang selalu risau kepada anak untuk menyampaikan hal ini.

Sekian terima kasih,

JAWABAN

1. Pernikahan dalam konteks di atas hukumnya sah menurut madzhab Syafi'i dan Hanafi. Karena sudah sah, maka tidak diperlukan adanya pernikahan ulang setelah anak lahir. Baca detail: Hukum Nikah Wanita Hamil Zina

2. Anak yang lahir hukumnya sah menjadi anak dari yang menikahi dan suami berhak menjadi wali nikah. Baca detail: Status Anak dari Pernikahan Hamil zina

3. Kalau memang anak tidak tahu persoalan ini, maka tidak perlu diberitahu. Karena toh tidak ada perbedaan secara hukum. Namun kalau anak sudah tahu soal ini, maka beri dia pencerahan bahwa statusnya adalah anak yang sah dari kedua orang tuanya karena berasal dari pernikahan yang sah dan diakui menurut madzhab Syafi'i dan Hanafi.

Kalau dia (atau anda) membaca informasi bahwa pernikahan hamil zina itu tidak sah, maka itu adalah pendapapat madzhab Hanbali dan Maliki yang tidak dipakai di Indonesia. Lihat detail di sini.

______________________


CALON TUNANGAN TIDAK JUJUR SOAL KEPERAWANAN

Assalamu alaikum Ustad,

Saya adalah seorang pemuda muslim berumur 25 tahun, perjaka, saat ini sedang menjalani taaruf dengan seorang wanita muslimah yang juga belum pernah menikah, 25 tahun juga. Saya amat senang dengan wanita ini, dia cantik, pintar (lulus cumlaude), lembut, dan penyayang anak-anak. Benar-benar tipe wanita ideal di mata saya. Saya perhatikan dia sholatnya alhamdulillah selalu 5 waktu, dan tidak pernah meminum alkohol.

Saya sangat menyenanginya, dan insya Allah mau serius membangun rumah tangga dengannya. Dia juga senang dengan saya, dan mengatakan bahwa saya insya Allah bisa jadi imam yang baik untuknya kelak dengan bekal ilmu agama yang saya miliki.

Kami mulai menjalankan taaruf ini 3 bulan yang lalu, dan saat ini masih sebatas saling mengenal karakter masing-masing. Namun ada satu hal yang mengganjal Ustad, suatu hari saya menanyakan apakah dia masih perawan, dia bersumpah bahwa dia masih perawan dan bisa menjaga diri. Saya tahu dia pernah memiliki pacar ketika kuliah di luar negeri, karena itu saya khawatir apakah dia benar-benar bisa menjaga diri dari perzinaan.

Awalnya saya mempercayainya, namun suatu hari Allah menunjukkan saya suatu rahasia sang wanita ini, di mana kebetulan saya berkesempatan untuk melihat inbox message nya. Dari message2 itu saya mendapati message dari mantan pacarnya yang dahulu (2 tahun yang lalu) bahwa mereka pernah melakukan dosa keji itu. Saya tidak bisa ceritakan detailnya, namun isinya tidak terbantahkan lagi bahwa mereka memang pernah melakukan dosa zina itu.

Saya teramat shock, dan istigfar sebanyak banyaknya. Pertama, saya merasa dibohongi karena dia bersumpah masih perawan ketika saya menanyakannya. Yah, saya maklum mungkin ia ingin menutup aibnya. Yang ke-2, saya merasa dilemma luar biasa di sini. Apakah saya harus menanyakan hal ini padanya, dengan risiko hubungan ini akan rusak, atau sebaiknya saya tetap pura-pura tidak tahu akan hal ini dan berasumsi bahwa dia sudah bertaubat ? Karena taubat hanya urusan manusia dengan Allah SWT.

Berat untuk saya untuk melakukan kedua hal tersebut. Saya sudah terlanjur amat menyenanginya di satu sisi, dan amat berat meninggalkannya, namun di satu sisi saya juga ada sesuatu yang mengganjal jika meneruskan hubungan ini hingga tahap perkawinan tanpa menanyakannya.

Saya amat takut jika saya terus mengubur fakta ini, saya akan terus terbayangi bagaimana dia dahulu berhubungan dengan mantannya, dan saya yakin hal ini amatlah tidak sehat ke depannya.

Mohon Ustad beri saran, apakah sebaiknya saya bicarakan hal ini dengannya dengan menunjukkan bukti message nya, lalu menyuruhnya bertaubat atau lebih baik saya diam-diam saja, pura-pura tidak tahu dengan risiko akan menjadi kerikil tajam di kehidupan setelah pernikahan nantinya?

Terima kasih

JAWABAN

Secara syariah, kedua pihak harus membuka aib masing-masing sebelum sampai memutuskan ke jenjang pernikahan. Yang dimaksud aib adalah segala cela diri yang dapat mengurangi "nilai" yang bersangkutan di mata calon pasangannya. Al-Khatib Al-Syarbini dalam Hasyiyah Bujairami, hlm. 3/331, menyatakan:

وَيَجِبُ ذِكْرُ عُيُوبِ مَنْ أُرِيدَ اجْتِمَاعٌ عَلَيْهِ لِمُنَاكَحَةٍ أَوْ نَحْوِهَا كَمُعَامَلَةٍ

Artinya: Wajib menyebutkan aib orang yang dikehendaki berkumpul untuk menikah atau lainnya sebagaimana transaksi yang lain. (Lihat juga, Hasyiyah Al-Jamal, hlm. 4/130).

Masalah keperawanan adalah masalah yang sangat besar terutama bagi wanita yang belum pernah menikah di mata pria lajang yang juga belum pernah menikah. Kalau memang dia sudah tidak perawan, maka hal berharga yang tersisa dalam diri si perempuan adalah kejujurannya. Ironisnya, dia saat ini tidak memiliki keduanya. Inilah yang menjadi dilema maha berat bagi anda sebagai pria yang sudah terlanjur sangat sayang padanya.

Untuk itu, kami sarankan hal-hal berikut:

(a) Tanyakan sekali lagi padanya akan soal keperawanan ini. Mintalah dia jujur sejujur-jujurnya karena ini menyangkut keputusan sangat penting yang akan anda ambil terkait masa depan bersama. Yakinkan dia bahwa (i) secara agama anda berhak tahu aib dia di masa lalu terutama soal ini; (ii) anda tidak peduli kalau seandainya dia tidak perawan yang penting dia mau jujur; kejujuran dalam situasi ini lebih tinggi nilainya daripada apapun.

Usahakan anda meyakinkan dia bahwa anda akan tetap menikahinya walaupun seandainya dia ternyata tidak perawan lagi. Karena anda sudah sangat menyayanginya dan sangat menghargai kejujuran itu.

Kalau dengan berbagai cara dia tidak mau mengaku, maka tidak ada jalan kecuali melangkah ke Plan B, yaitu:
(b) Anda jelaskan terus terang bahwa anda sudah membuka dan membaca inbox emailnya dan tahu apa yang sudah terjadi antara dia dan mantan. Dan lihatlah, apa respons dia atas hal ini. Kalau ternyata dia masih tidak mengaku, sementara anda yakin dia sudah berbuat zina, maka anda harus tegas mengambil langkah: putuskan, dan cari perempuan lain. Dia bukan wanita yang baik buat anda dan buat siapa saja karena saat ini dia tidak punya niat baik untuk bertaubat nasuha.

Read More...

Hukum Mengangkat Pemimpin Non-Muslim
HUKUM MENGANGKAT DAN MEMILIH PEMIMPIN NON-MUSLIM

Assamulaikum wr wb

Saya ingin bertanya tentang suatu hal yang mengganjal di pikiran saya, kurang lebih sebagai berikut

Dalam islam, tidak boleh mengangkat non muslim sebagai seorang pemimpin, dan skarang di salah satu provinsi besar di Indonesia seorang non muslim terangkat menjadi seorang gubernur,
1. bagaimana sikap kita sebagai muslim di negara yang memiliki sistem demokratis ini ? apakah harus menentangnya secara anarkis atau mendukungnya memimpin sebagai seorang pemimpin ?
2. Lalu bagaimana hukum seorang muslim yang tinggal di wilayah yang dipimpin oleh seorang non muslim atau pun pernah memilihny sebagai pemimpin ?

Karena menurut saya, pasti sering dan banyak terjadi hal seperti ini, bukan hanya pemimpin yang non muslim tapi juga seorang pemimpin wanita, jadi mohon jawaban untuk penyelesaian msalah berikut ini, terima kasih

wassalamualaiku wr wb

TOPIK KONSULTASI ISLAM
  1. HUKUM MENGANGKAT DAN MEMILIH PEMIMPIN NON-MUSLIM
  2. NIKAH DULU ATAU KULIAH DULU?
  3. HUKUM PERNIKAHAN
  4. PUASA QODHO PADA BULAN HAJI, BOLEHKAH?
  5. HARTA WARIS PENINGGALAN AYAH DAN IBU
  6. HAK WARIS ISTRI SAUDARA YANG MENINGGAL
  7. CARA KONSULTASI SYARIAH ISLAM


JAWABAN

HUKUM ASAL

Pertama perlu diketahui bahwa pemerintahan yang ideal di negara yang mayoritas muslim adalah apabila dipimpin oleh seorang muslim. Sebagaimana di negara non-muslim dipimpin oleh pemimpin non-muslim. Hal ini berkaitan juga dengan firman Allah agar kita tidak menjadikan seorang kafir sebagai wali (teman, pelindung) seperti dalam QS Ali Imron 3:38; An-Nisa 4:139, 144. Ayat-ayat ini menjadi dalil para ulama atas larangan menjadikan atau mengangkat non-muslim sebagai pemimpin.

Al-Mawardi dalam Al-Ahkam Al-Sultoniyah, hlm. 5, menyatakan

الإمامة موضوعةٌ لِخلافة النُّبوة في حراسة الدِّين وسياسة الدُّنيا، وعقدها لِمن يقوم بها في الأُمَّة واجب

Artinya: Imamah atau kepemimpinan itu diletakkan sebagai ganti kenabian dalam menjaga agama dan politik dunia, mengangkat pemimpin dari individu yang dapat melaksanakan tujuan itu adalah wajib.

Dalam QS An-Nisai 4:59 Allah berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri (pemimpin pemerintahan - red) di antara kamu." Kata "di antara kamu" berarti dari kalangan muslim.

Qadhi Iyadh, sebagaimana dikutip Imam Nawawi dalam Syarah Muslim 6/315, menyatakan

أجمع العلماءُ على أنَّ الإمامة لا تنعقد لكافر، وعلى أنَّه لو طرأ عليه الكفر انعزل، وكذا لو ترك إقامةَ الصَّلوات والدُّعاءَ إليها
Artinya: Ulama sepakat bahwa imamah (pemimpin negara) yang kafir itu tidak sah. Dan kalau seorang pemimpin muslim murtad jadi kafir maka batal kepeimpinannya begitu juga kalau ia meninggalkan shalat wajib.

PENDAPAT YANG MEMBOLEHKAN PEMIMPIN NON-MUSLIM

Namun demikian, bukan berarti kalau terjadi ada seorang pemimpin non-muslim dalam negara mayoritas Islam bersistem demokrasi lalu dunia jadi kiamat. Apalagi kalau ia bukan kepala negara, tapi hanya pemimpin yang masuk kategori Al-Wilayah Al-Khassah atau jabatan di bawah jabatan kepala negara di mana ulama berbeda pendapat atas boleh dan tidaknya.

Ibnu Arabi dalam Tafsir Ahkamul Quran, hlm. 1/352, menyatakan:

وأقول : إن كانت في ذلك فائدة محققة فلا بأس به

Artinya: Aku berpendapat, apabila ada manfaat yang nyata maka (mengangkat pemimpin kafir) tidak masalah.

Bahkan, mufti Mesir Dr. Ali Jumah menyatakan dalam sistem demokrasi mengangkat pemimpin non-muslim itu sah-sah saja kalau memang itu kehendak mayoritas rakyat karena dalam sistem demokratis semua warga negara berstatus sama dan semua berhak untuk menjadi pegawai dan pejabat; memilih dan dipilih. Juga, sistem demokrasi adalah sistem sekuler di mana pemimpin negara bukanlah pemimpin agama. Ini berbeda dengan sistem negara Islam di mana kepala negara sekaligus sebagai kepala dalam bidang agama termasuk imam shalat. Fatwa Ali Jumah yang dikeluarkan pada tahun 2011 selengkapnya dapat dilihat di sini (bahasa Arab).

Selain itu, kepemimpinan dalam pemerintahan dibagi menjadi dua bagian yaitu Pertama: Al-Wilayah Al-Udzma atau kepemimpinan besar. Wilayah Udzma adalah pemimpin besar Islam yang kepemimpinannya meliputi seluruh dunia seperti Khalifah Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali. Istilah ini sering juga disebut dengan Al-Wilayah Al-Ammah (kepemimpinan umum) atau Al-Imamah Al-Kubro atau Al-Khilafah Al-Ammah. Ulama sepakat bahwa jabatan ini harus dipimpin oleh seorang muslim.

Kedua Al-Wilayah Al-Khassah atau kepemimpinan khusus. Istilah ini mencakup kepemimpinan di bawah kepala negara seperti gubernur, bupati, kepala dinas, camat, lurah, kepala desa, dst.

Dalam Al-Wilayah Al-Khassah ini sebagian ulama membolehkan dipimpin oleh wanita dan non-muslim sebagaimana saat ini banyak terjadi di negara kita di mana sejumlah jabatan kepemimpinan mulai dari anggota DPR, DPD, menteri, gubernur sampai lurah diduduki oleh perempuan dan non-muslim. Sedangkan dalam Al-Wilayah Al-Ammah harus di bawah pimpinan laki-laki dan muslim. Hanya saja ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan Al-Wilayah Ammah apakah bermakna kepala negara yang membawahi seluruh dunia atau kepala negara seperti sekarang yang hanya membawahi bagian kecil dari dunia. Lihat: Pemimpin Wanita dalam Islam

Jadi, jawaban untuk pertanyaan anda:

1. Kita harus mendukungnya sebagai pemimpin selagi kepemimpinannya baik, tidak korupsi, adil dan membawa perbaikan pada rakyat serta tidak ada kebijakannya yang melanggar syariah Islam. Menerima pemimpin non-muslim adalah konsekuensi logis dari penerimaan kita pada sistem demokrasi yang memberi hak dan kesempatan yang sama pada seluruh rakyat untuk memilih dan dipilih tanpa melihat latarbelakang agama atau etnisnya. Perlu diketahui bahwa mayoritas ulama kontemporer menganggap sistem demokrasi itu tidak berlawanan dengan Islam. Lihat: Islam dan Demokrasi

Selain itu, orang kafir tidak mutlak musuh Islam. Mereka musuh Islam dalam keadaan perang atau apabila mereka menzalimi muslim. Dalam keadaan damai dan berlaku adil maka kita dianjurkan bersikap baik. Dalam QS Al-Mumtahanah 60:8 Allah berfirman: "Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang (kafir) yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil."

Dan tidak perlu menentang apalagi secara anarkis karena itu perilaku tidak produktif dan menimbulkan kemudaratan yang besar dan berpotensi konflik yang bisa berujung pada pertumpahan darah yang dilarang Islam. Al-Qurtubi berkata dalam Al-Jamik li Ahkam Al-Quran 1/271:

رجَّح جمهورُ العلماء أنَّ فِسق الحاكم فسقًا ظاهرًا معلومًا يؤدِّي لِسُقوط ولايته، ويكون مسوِّغًا للخروج عليه عند أمن الفِتَن
Artinya: Jumhur ulama mendukung pendapat bahwa Hakim yang fasiq (pendosa besar) dengan kefasikan yang tampak maka dapat menggugurkan kekuasaannya dan hal itu dapat dilakukan dengan syarat apabila aman dari fitnah.

Yang dimaksud aman dari fitnah adalah apabila tidak akan terjadi konflik, kekacauan dan potensi pertumpahan darah, maka boleh menjatuhkan seorang pemimpin yang fasik. Kata kunci di sini adalah larangan bagi umat Islam untuk melakukan tindakan protes atau makar yang dapat menimbulkan anarkis dan konflik horizontal antar warga negara.

2. Hukumnya tetap sebagai muslim yang baik selagi dia menjalankan ajaran agamanya dengan benar yakni 5 pilar Islam dan menjauhi dosa-dosa besar. Karena hidup bernegara hanyalah bagian kecil dari kehidupan seorang muslim. Lihat: Agama Islam

Baca juga: Penyebab Syirik dan Kafir

___________________________________


NIKAH DULU ATAU KULIAH DULU?

detail dari masalah yang saya hadapi sbenar nya gini pak ustad,,
Saya lulusan SMA tahun 2011, setelah lulus saya lngsung daftar kuliah di unair tapi tidak lulus tes, terus niat saya tahun depan nya saja tapi ternyata saya ngambil kredit sepeda motor, alhamdulilah sekarang sudah lunas terus saya pengen daftar kuliah tapi orang tua saya tidak setuju, umur saya kan 21 tahun maka dari itu mereka pengen saya nikah saja tetapi saya pengen kuliah dulu, lagi pula saya belum punya calon suami alias tidak berpacaran.

Beberapa hal yang buat saya bimbang pak ustad,,
1. Saya harus nurut ortu saya agar cepat-cepat nikah atau kuliah ??
2. Kalau saya kuliah harus ngambil điploma 1 atau sarjana, karna kalau saya daftar tahun depan kan saya berumur 22 tahun,, kalau ngambil diploma 1 saya lulus berumur 23 tahun sedangkan kalau ngambil sarjana saya lulus berumur 26 tahun, umur segitu menurut orang tua saya itu terlalu tua buat seorang wanita.
3. Kalau saya nikah itu saya sekarang belum punya tabungan untuk biaya nikah, sekaligus belum punya calon suami.

Terima kasih atas perhatian beliau, mohon maaf apabila ada kesalahan baik di sengaja atau tidak sengaja, mohon di beri solusi nya pak ustad.

Wa'alaikum salam wr.wb

JAWABAN

1. Menurut anjuran atau perintah orang tua itu wajib selagi hal itu bisa dilaksanakan dan tidak bertentangan dengan syariah Islam. Akan halnya perintahnya untuk menikah tentu saja itu bukan hal yang mudah karena harus melibatkan pihak lain yaitu calon suami. Kami menduga ibu anda tentunya faham akan hal ini. Ia mengerti bahwa untuk menikah itu harus ada calon suami sementara anda belum punya. Mungkin ibu kuatir kalau anda memilih kuliah, anda akan lupa untuk menikah. Jadi, jalan tengahnya adalah yakinkan pada ibu anda bahwa (a) anda saat ini belum punya calon; (b) kuliah bertujuan selain untuk meningkatkan peluang juga untuk mencari calon; (c) kalau bisa mendapatkan calon saat kuliah maka anda bisa langsung menikah pada waktu kuliah itu.

2. Kalau jurusan life skill, seperti tata boga, tata busana, informatika dll, maka bisa saja mengambil program diploma karena bisa langsung dibuat cari kerja atau buat kerja sendiri.

3. Jangan terlalu banyak berfikir. Fokus pada satu atau dua tujuan saja yaitu kuliah dan cari calon (teman kuliah atau dosennya). Soal nikahnya tidak usah difikir sekarang karena calonnya saja belum ada. Jangan lupa, hati-hati dalam memilih calon, banyak pria yang pura-pura akan menikahi anda hanya untuk memacari saja bukan untuk menikah. Pastikan anda masih tetap perawan sampai malam pertama pernikahan. Baca juga: Cara Memilih Jodoh


___________________________________


HUKUM PERNIKAHAN

assalamu'alaikum wr. wb.

pak ustadz, sebelumnya saya minta ma'af .. mungkin saya tidak berhak bertanya seperti berikut ini. tapi saya akan menceritakan semuanya sebelum saya bertanya.

dulu waktu saya SMA saya suka sama seorang ikhwan. karena menurut penglihatan saya si ikhwan ini shalih dan bisa menjaga diri. saya mulai tertarik dengan si ihwan ini. karena sering bertemu karena satu grup shalawat kami pun mulai dekat dan dia pun ada beberapa kali menjemput saya ke rumah.

lha disini orangtua saya tau. saya sempat berpacaran dengan dia, namun hanya lewat sms. saya tidak pernah sekalipun bertemu dengan dia. hingga saya tau ternyata dia punya pacar teman saya sendiri. dan saya memutuskannya dengan sms pula.

lalu lambat laun si ihwan ini tidak pernah sms saya. dan ibu saya ingin sekali saya dekat dengan dia hingga ibu saya ini sms dia tiap malam. saya sering berganti nomor tapi, dia selalu tau dan ibu saya sering sms dia ketika saya tidur (saya tau karena waktu saya bangun sholat malam saya lihat ada pesan masuk yang isinya itu menjawab atau merespon dari sms, padahal saya tidak sms dia)

dan saya, merasa sebagai perempuan muslim yang semakin dewasa saya pun belajar memahami keinginan ibu saya. dan membiarkan dia masuk dalam kehidupan saya, singkat cerita dia datang kerumah beserta keluarganya meminta saya (bukan berarti melamar tapi, bermaksud untuk melamar dan nantinya akan di peristri).

nah, saya dalam keadaan studi, tidak terlalu memikirkan hal itu, karena saya banyak tugas. dan saya menyerahkan semuanya pada orang tua saya dengan syarat kalau si ihwan mau menunggu saya sampai lulus silahkan. (menolak secara halus, untuk menjaga malu dari lingkungan)

hari demi hari orangtua saya semakin menggantungkan saya terhadap si ihwan ini. kemana-mana kalau saya pergi, dan tidak bisa membawa sepeda motor ini tidak ada yang mau mengantar dan selalu mengkondisikan saya supaya mau diantar si ihwan ini.

dengan hati terpaksa tapi, butuh saya mau saja, tanpa berbicara apapun. alias diam.

begitu hari berlalu hingga kini berjalan dua tahun, dan saya belum lulus keluarga si ihwan ini mendesak saya supaya segera dilamar. padahal perjanjian dulu beliau mau menunggu hingga saya lulus. dan orang tua saya juga mendesak dan memaksa saya untuk segera menyeuruh dia melamar saya. padahal saya masih belum ikhlas dan tidak mau menerima dia.

apalagi sekarang saya menemukan ihwan lain yang menurut kecondongan hati saya dia lebih baik dan lebih bisa dijadikan imam. dan lebih salih daripada dia. tapi, orang tua saya tetap tidak akan memberi saya restu jika saya tidak mau menerima si ihwan yang pertama tadi. bahkan saya mendapati ancaman, jika saya sampai gagal menikah dengan si ihwan yang pertama seluruh keluarga saya mau pergi karena malu.

pertamanya saya menolak ihwan yang pertama hanya karena saya tidak berhasrat dan tidak memiliki kecondongan saja terhadap dia. dan saya juga pernah bermimpi bahwa saya digigit ular karena menyelamatkan ibu saya dari kejaran ular itu.
namun, karena saya dituntut mencari alasa kenapa saya menolak si ihwan ini, semakin terlihat bahwa si ihwan ini benar2 tidak saya inginkan. kareana (1) dia merokok, saya anti sekali dengan para perokok, (2) dia tamatan SMA saya sekarang dalam studi S1 (3) dalam agama dia mengikuti tarekat yang sholat itu tidak lagi menjadi hal penting, yang dapat diukur manusia atas keshalihannya yang penting hatinya yang beribadah menurut dia.

perspektif saya pandangan seperti itu tidak patut dilestarikan karena saya calon guru yang mengajar itu secara real alias nyata atas praktek bukan hanya teori dan pemikiran. jadi, yang namanya ngibadah sholat ya tetap lima waktu itu sujud, rukuk, bukan sekedar hati yang ingat, (4) sabar sama lelet saya tidak tau bedanya, hanya saja kesan saya atas amanat saya berikan terkesan diremehkan.

sementara, ihwan kedua yang saya temui mungkin dia lebih muda daripada saya satu tahun, tapi, jalan pemikirannya lebih dewasa. bahkan dia sempat menawarkan saya untuk membiarkan dia mendatangi orangtua saya padahal kami baru kenal beberapa bulan saja. hingga kini saya mengikat hati dengan dia bukan pacaran, hanya dengan hati. dan smsan, sesekali kami makan berdua itupun kami bawa sepeda masing2.. untuk saling menjaga.

1. saya bertanya bagaimana sikap yang harus saya lakukan untuk menjaga keikhlasan hati saya, keridhoan orangtua saya, dan menjaga hati ihwan kedua beserta ihwan pertama.

2. jujur saya berpikiran apakah saya lebih baik nikah lari dengan ihwan kedua atau nikah paksa dengan ihwan pertama???

saya harap jawaban segera, yang terbaik dan baik untuk semua yang ada dihidup saya
terimakasih wassalamu'alaikum

JAWABAN

1. Wanita dewasa berhak memilih calonnya. Dan dalam syariah Islam, orang tua dalam hal ini ayah, wajib dan tidak boleh menolak untuk menikahkan putrinya yang hendak menikah dengan calon suami pilihannya. Dalam QS Al-Baqarah 2:232 Allah berfirman: "maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang ma'ruf." Wali yang menolak menikahkan putrinya disebut wali adhol (pembangkang) yang hukumnya berdosa dan si wanita boleh mencari wali selain ayahnya yang disebut dengan wali hakim. Poinnya di sini adalah: menolak permintaan atau perintah orang tua dalam kasus ini dibenarkan dalam syariah apabila anda menganggap memiliki pilihan yang lebih baik.

2. Kami lebih menganjurkan anda menikah dengan pria kedua karena agamanya lebih baik. Pria pertama adalah penganut tarekat yang sesat. Tidak semua aliran tarekat itu sesat, akan tetapi aliran tarikat yang tidak mewajibkan shalat adalah jelas-jelas sesat dan anda harus menjauhi dia.

Karena pria kedua jauh lebih baik agamanya, maka sebaiknya anda mengijinkan dia untuk melakukan pendekatan pada orang tua anda kalau perlu anda membantunya meyakinkan orang tua. Dan tidak perlu sibuk memikirkan perasaan pria pertama. Kalau pendekatan pria kedua ini tetap tidak berhasil meluluhkan hati orang tua anda, maka cara kedua adalah dengan meminta bantuan orang-orang yang dekat dengan orang tua anda untuk menjadi mediator. Kalau ini juga tidak berhasil, maka secara syariah anda bisa menikah dengan dia dengan wali hakim. Tentu saja cara ini adalah cara terakhir karena bagaimanapun menikah tanpa restu orang tua sangatlah tidak nyaman secara sosial.

Namun satu hal yang pasti, jangan pernah menikah dengan pria pertama. Penganut aliran sesat jauh lebih berbahaya dibanding pria preman karena yang pertama merasa salih sedangkan yang memang merasa pendosa.

___________________________________


PUASA QODHO PADA BULAN HAJI, BOLEHKAH?

assalamualaikum..

1. saya ingin bertanya . apakah boleh puasa qhodo di laksanakan pada bulan haji?

JAWABAN

1. Puasa qadha boleh dilakukan di bulan haji atau bulan Dzul Hijjah kecuali di hari raya Idul Adha (10 Dzulhijjah), dan hari tasyrik yakni tanggal 11, 12, 13 Dhulhijjah). Lihat: Puasa yang Diharamkan

___________________________________



HARTA WARIS PENINGGALAN AYAH DAN IBU

Assalamualaikum Wr Wb,
saya ingin menanyakan mengenai pembagian waris dalam kasus saya ..

Ayah dan ibu saya memiliki dua (2) anak laki-laki dan satu (1) anak perempuan
Pada tanggal 15 September 2004 ibu kami meninggal dunia ..

Selang beberapa tahun kemudian, pada tahun 2007/2008 (saya lupa persisnya), ayah kami menikah lagi ..

Dan pada tanggal 30 April 2009, ayah saya meninggal dunia.., tanpa memiliki anak dari istri ke-dua nya

Untuk kasus saya,

1. bagaimana pembagian waris menurut islam ?
2. Benarkah sebenarnya pada saat ibu saya meninggal ( 15 September 2004) pintu waris sebenarnya sudah terbuka ?
3, Dan (Almarhum) ayah saya hanya membawa bagian warisnya pada pernikahannya yg ke-dua ?

Demikian., mohon penjelasannya agar jelas bagi kami .. Terima Kasih ..

JAWABAN

1. Pembagian warisan harus dilakukan segera setelah pewaris meninggal setelah (a) dipotong biaya pemakaman; dan (b) kewajiban dan tanggungan duniawi almarhum dilunasi. Karena dalam kasus anda telah terjadi dua kematian tanpa ada pembagian warisan, maka pembagian warisan harus dilakukan dua kali tahapan sesuai dengan kronologi kematian, caranya sebagai berikut:

TAHAP PERTAMA: PEMBAGIAN WARIS PENINGGALAN IBU (WAFAT 15 September 2004)

Kalau ibu anda memiliki harta pribadi yang 100% miliknya, maka harus dibagikan kepada ahli waris dengan rincian sebagai berikut:

(a) Suami mendapat 1/4 (seperempat)
(b) Kalau ayah & ibu almarhumah (kakek & nenek anda) masih hidup saat itu (15 September 2004), maka mereka masing-masing mendapat 1/6 (seperenam).
(c) Sisanya diberikan pada ketiga anak dengan sistem 2 banding 1 untuk anak laki-laki. Artinya anak laki-laki mendapat dua kali lipat dari anak perempuan.

TAHAP KEDUA: PEMBAGIAN WARIS PENINGGALAN AYAH (WAFAT 30 April 2009)

(a) Istri mendapat 1/8 (seperdelapan)
(b) Orang tua almarhum (kakek & nenek anda) masing-masing mendapat 1/6 (seperenam) kalau masih hidup saat itu (30 April 2009).
(c) Sisanya diwariskan pada ketiga anak dengan cara yang sama dengan yang pertama yakni 2 banding 1 untuk anak laki-laki.

2. Betul, pintu waris sudah terbuka saat ibu anda meninggal pada 15 September 2004 namun yang diwariskan hanyalah harta benda yang 100% milik almarhumah. Perlu diketahui bahwa dalam Islam tidak ada harta bersama suami-istri (gono gini). Yang ada adalah harta individu masing-masing. Lihat: Harta Gono-gini dalam Islam

Baca juga: Kapan Harta Waris itu Dibagikan?

3. Harta waris peninggalan ayah anda adalah harta yang menjadi hak milik 100% ayah anda yang didapat sejak sebelum menikah dengan ibu anda sampai menikah lagi dengan istri kedua termasuk juga bagian 1/8 (seperdelapan) bagian yang didapat dari warisan istrinya (yakni ibu anda). Baca detail: Hukum Waris Islam

CATATAN: Sekali lagi perlu diketahui bahwa Islam mengakui harta individu. Dan tidak mengenal harta bersama suami-istri. Oleh karena itu, harta yang diwariskan adalah harta individu masing-masing suami dan istri. Kalau, misalnya, dalam harta pewaris itu ada harta orang lain hasil dari kerja kongsi atau saham, maka harta orang lain itu (baik itu milik istri atau suami atau orang lain) harus dipisah lebih dulu dan diberikan pada yang berhak.


HAK WARIS ISTRI SAUDARA YANG MENINGGAL

Assalamu’alaikum Wr Wb

Kami Sekeluarga mempunyai 6 suadara laki laki semua. Pada tahun 1990 Ayah kami meninggal, karena masih ada ibu yang menempati rumah tersebut. Maka waris dari ayah belum bisa kami bagikan.
Pada tahun 1992 kakak saya yg bernama Abdil menikah, namun pada pada tahun 1997 Kakak saya Abdil tersebut meninggal dan tanpa dikaruniai seroang anak pun.
Pada tahun 1999 Istri dari Almarhum Kakak saya Abdil tersebut menikah lagi dan diberikan Seorang Anak Laki - laki.

Tahun 2013 akhir Ibu kami meninggal, dan setelah meninggalnya Ibu kami, kami bersepakat untuk menjual rumah orang tua kami dan membagikan waris.

Pertanyaannya :

1. Apakah Istri Almarhum Kaka Saya Abdil, masih memdapatkan waris setelah dia menikah lagi ? dan dikarunia seorang anak laki - laki.
2. Berapakah Besaran jika Istri Almarhum Kaka saya Abdil, jika mendapatkan hak waris
3. Mohon diberikan Fatwa, Hadist atau dalil untuk jawaban tersebut.

Demikian Pertanyaan Saya, Mohon Bimbingan.
Jazakumullah khairon katsiron Wassalamu’alaikuam Wr Wb.

JAWABAN

1. Warisan harus dibagikan segera setelah pewaris meninggal dunia. Karena telah terjadi tiga kematian tanpa ada pembagian waris, maka harus dilakukan 3 kali pembagian waris sesuai kronologi kematian:

TAHAP PERTAMA: KEMATIAN AYAH tahun 1990

Pembagian warisan sebagai berikut:

(a) Istri (yakni ibu anda) mendapat bagian 1/8 (seperdelapan). Jadi: 1/8 x nilai jual rumah = bagian waris istri.
(b) Sisanya yang 7/8 (tujuhperdelapan) dibagikan secara merata pada anak-anak almarhum, termasuk untuk Abdil, karena kebetulan semuanya laki-laki. Nah, silahkan catat berapa bagian dari Abdil yang mana bagian ini nantinya akan menjadi bagian harta peninggalan Abdil yang harus diwariskan pada ahli waris.

TAHAP KEDUA: KEMATIAN ABDIL tahun 1992

Saat Abdil wafat, harta peninggalan Abdil, antara lain warisan dari ayahnya harus dibagikan pada ahli waris. Ahli waris Abdil adalah istri, ibu dan saudara dengan rincian sebagai berikut:

(a) Istri mendapat 1/4 (seperempat) -> 3/12 x harta warisan = bagian istri
(b) Ibu mendapat 1/3 (sepertiga) -> 4/12 x harta warisan = bagian ibu
(c) Sisanya senilai 5/12 diberikan secara merata pada kelima saudaranya.

Jadi, istri Abdil mendapat warisan dari Abdil, bukan mendapat warisan dari ayah anda. Karena, saat Abdil meninggal ia masih berstatus sebagai istri, walaupun sekarang sudah menikah lagi.

TAHAP KETIGA: KEMATIAN IBU Tahun 2013

Saat ibu anda meninggal, maka ahli warisnya adalah kelima putranya yang masih hidup. Sedangkan Abdil tidak menerima warisan ibu karena sudah meninggal lebih dahulu.

Kalau orang tua ibu (yakni kakek nenek anda) sudah meninggal semua, maka harta warisan dari ibu langsung dibagi secara merata antara lima putranya.

Baca detail: Hukum Waris Islam (dalil dan analisa mendalam)
Read More...