Hukum Tawaf Haji Umrah bagi Wanita Haid
Ada seorang perempuan haid sedang pergi ke Makkah untuk melaksanakan umrah. Ternyata sesampai di Makkan, haidnya tak juga berhenti. Konsultasi ke dokter, diberi obat untuk menghentikan hadi. Tapi haid tetap tidak mau berhenti sementara masa kepulangan ke Tanah Air sudah dekat. Apa yang harus dilakukan?
JAWAB
Dalam situasi seperti itu, boleh mengikuti pendapat yang menyatakan bolehnya tawaf umrah atau ifadoh dalam keadaan haid. Dengan syarat, harus dipastikan memakai pembalut yang baik agar tidak mengotori tempat ibadah. Selain itu, disunnahkan menyembelih kambing kalau mampu. Kalau tidak mampu tidak apa-apa tidak melakukannya.
السؤال
ما حكم أداء طواف الإفاضة وطواف العمرة للحائض؟ فإذا سافرت المرأة للحج أو العمرة، وجاءتها الدورة الشهرية قبل أداء طواف الإفاضة بالنسبة للحج أو طواف العمرة بالنسبة للعمرة فما الحكم في ذلك؟ وما الحل لو جاءتها الدورة الشهرية قبل ذلك؛ يوم السفر وقبل الإحرام، أو بعد الإحرام بقليل؟ علمًا بأنها يتعذر عليها الانتظار حتى تطهر؛ لأنها مرتبطة بمواعيد السفر والفوج الذين معها.
Pertanyaan:
Apa hukum menunaikan Thawaf Ifadhah dan Thawaf Umrah bagi wanita yang sedang haid? Apabila seorang wanita bepergian untuk haji atau umrah, lalu ia mengalami haid sebelum menunaikan Thawaf Ifadhah (dalam haji) atau Thawaf Umrah (dalam umrah), bagaimanakah hukum dalam masalah tersebut? Apa solusinya jika haid datang sebelum itu; yakni pada hari keberangkatan dan sebelum ihram, atau sesaat setelah ihram? Mengingat bahwa tidak memungkinkan baginya untuk menunggu sampai suci karena ia terikat dengan jadwal keberangkatan dan rombongan yang bersamanya.
الجواب
إذا حاضت المرأة قبل طواف العمرة أو الإفاضة فإن لها أن تتحين وقت انقطاع دمها خلال الحيض، أو تأخذ دواءً يمنع نزول الدم بما يسع زمن الطواف، ثم تغتسل وتطوف في فترة النقاء، ولا شيء عليها، فإن لم تفعل ولم ينقطع دمها ولم يمكنها الانتظار حتى تطهر فلها أن تطوف بعد أن تشد على نفسها ما تأمن به مِن تلويث الحرم، ولا إثم عليها؛ لأنها معذورة، ولحديث عطاء قال: "حاضت امرأةٌ وهي تطوف مع عائشة أم المؤمنين رضي الله عنها، فأتمَّت بها عائشةُ بقيةَ طوافِها" ذكره ابن حزم في "المحلَّى".
ويستحبُّ لها في هذه الحالة -الثانية- أن تذبح بدنة، ويجوز الاكتفاء بذبح شاة، فإن شقَّ عليها ذلك فلا حرج عليها ألَّا تذبح أصلًا؛ أخذًا بما ورد عن السيدة عائشة رضي الله عنها وجماعة من السلف، واختار هذا الرأي مَن قال مِن الفقهاء إن الطهارة للطواف سُنَّةٌ أو واجبٌ تسقط المؤاخذة به عند العذر.
Teks tersebut merupakan jawaban hukum (fatwa) yang memberikan solusi praktis bagi wanita haid yang terhimpit jadwal perjalanan saat harus melaksanakan Thawaf Ifadhah atau Thawaf Umrah.
Berikut adalah terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia:
Terjemahan Jawaban
Jawaban:
Apabila seorang wanita mengalami haid sebelum Thawaf Umrah atau Thawaf Ifadhah, maka ia boleh menunggu waktu terhentinya darah di sela-sela masa haidnya, atau meminum obat yang dapat mencegah keluarnya darah sekadar waktu yang cukup untuk melakukan thawaf. Kemudian ia mandi dan melaksanakan thawaf pada masa suci tersebut, dan tidak ada kewajiban denda apa pun baginya.
Namun, jika ia tidak melakukannya (minum obat), darah tidak berhenti, dan ia tidak mungkin menunggu sampai suci, maka ia diperbolehkan untuk tetap melakukan thawaf setelah membalut dirinya (dengan pembalut) yang dapat menjamin tidak tercecer dan mengotori Masjidil Haram. Tidak ada dosa baginya dalam hal ini karena ia dalam keadaan uzur, dan berdasarkan hadis dari Atha' yang menyebutkan: "Seorang wanita haid saat sedang thawaf bersama Aisyah Ummul Mukminin radhiyallahu 'anha, lalu Aisyah menyempurnakan sisa thawafnya bersama wanita itu." (Disebutkan oleh Ibnu Hazm dalam kitab Al-Muhalla).
Dalam kondisi kedua ini (tetap thawaf saat haid karena darurat), ia disunnahkan untuk menyembelih seekor unta (badanah), dan boleh juga cukup dengan menyembelih seekor kambing. Namun, jika hal itu pun memberatkannya, maka tidak mengapa baginya untuk tidak menyembelih apa pun sama sekali; hal ini mengambil pendapat yang diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha dan sekelompok ulama Salaf. Pendapat ini dipilih oleh para fukaha yang menyatakan bahwa kesucian untuk thawaf adalah sunnah atau wajib yang gugur konsekuensinya dalam keadaan uzur.
