Syarat Sahnya Talak Cerai
Rukun Talak Cerai menurut kitab Asna al-Mathalib karya ulama mazhab
Syafi'i abad 10 hijrah yaitu Syaikhul Islam Zakariya al-Anshari (w. 1520 M/
926 H). Bagi penderita was-was, perhatikan rukun talak ke-3 yaitu qasd
al-talak (menyengaja talak)
Daftar Isi
- Qasd al-Talak (Menyengaja Talak)
- Talak Sharih yang Tidak Sah atau Tidak Berdampak Hukum
- Cerita Talak
- Ucapan Talak Orang Tidur, Mengigau (Halusinasi) dan Pingsan
- Ucapan Talak yang Keceplosan
- Rukun Talak Ada Lima
- Cerai Talak dan Gugat Cerai
Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshari dalam kitab Asnal Mathalib, hlm. 3/281, menjelaskan esensi penting (pilar/rukun) yang harus terpenuhi untuk keabsahan talak ada lima.
TALAK HARUS DISENGAJA DARI SEGI UCAPAN DAN MAKNA
(الرُّكْنُ الثَّالِثُ قَصْدُ الطَّلَاقِ فَيُشْتَرَطُ قَصْدُ اللَّفْظِ بِمَعْنَاهُ) أَيْ مَعَهُ لِيُزِيلَ مِلْكَ النِّكَاحِ فَقَوْلُ الْأَذْرَعِيِّ إنَّ الْبَاءَ فِي بِمَعْنَاهُ تَحْرِيفٌ وَإِنَّمَا صَوَابُهُ بِاللَّامِ مَرْدُودٌ لِأَنَّ الْمُعْتَبَرَ قَصْدُ اللَّفْظِ وَالْمَعْنَى مَعًا
Rukun talak ketiga adalah menyengaja talak. Disyaratkan menyengaja kata talak dengan maknanya. Yakni, bersama makna talak untuk menghilangkan kepemilikan nikah. Ucapan Al-Adzru'i bahwa huruf ba' pada kata /بِمَعْنَاهُ) / itu salah dan bahwa yang benar adalah dengan mim itu tertolak. Karena yang dianggap adalah menyengaja kata dan makna secara bersamaan.
وَاعْتُبِرَ قَصْدُ الْمَعْنَى لِيَخْرُجَ حِكَايَةُ طَلَاقِ الْغَيْرِ وَتَصْوِيرُ الْفَقِيهِ وَالنِّدَاءُ بِطَالِقٍ لِمُسَمَّاةٍ بِهِ كَمَا سَيَأْتِي ذَلِكَ وَقَصْدُهُ إنَّمَا يُعْتَبَرُ ظَاهِرًا عِنْدَ عُرُوضِ مَا يَصْرِفُ الطَّلَاقَ عَنْ مَعْنَاهُ كَهَذِهِ الْمُخْرِجَاتِ لَا مُطْلَقًا إذْ لَوْ قَالَ لَهَا أَنْتِ طَالِقٌ وَقَدْ قَصَدَ لَفْظَ الطَّلَاقِ وَفَهِمَ مَعْنَاهُ وَقَعَ وَإِنْ لَمْ يَقْصِدْ مَعْنَاهُ كَمَا فِي حَالِ الْهَزْلِ بَلْ لَوْ قَالَ مَا قَصَدْته لَمْ يُدَيَّنْ
Menyengaja makna talak itu bertujuan untuk mengecualikan:
- Suami menceritakan talaknya orang lain;
- Ulama menggambarkan talak;
- Memanggil dengan 'taliq' (wanita tertalak) bagi istri yang kebetulan bernama taliq, sebagaimana yang akan dijelaskan.
وَمِنْ هُنَا قَالُوا الصَّرِيحُ لَا يَحْتَاجُ إلَى نِيَّةٍ بِخِلَافِ الْكِنَايَةِ وَعَلَى اعْتِبَارِ قَصْدِ الْمَعْنَى فَالْفَرْقُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا مَا فِي الْمُهِمَّاتِ عَنْ بَعْضِ فُضَلَاءِ عَصْرِهِ أَنَّهُ يُعْتَبَرُ فِيهِ قَصْدُ اللَّفْظِ وَالْمَعْنَى أَيْ وَفَهْمُهُ وَيُعْتَبَرُ فِيهَا مَعَ ذَاكَ قَصْدُ الْإِيقَاعِ قَالَ وَقَدْ ذَكَرَ الرَّافِعِيُّ فِيهَا مَا يُؤَيِّدُ ذَلِكَ فَقَالَ قَالَ الْبُوشَنْجِيُّ إنَّمَا يَقَعُ الطَّلَاقُ بِقَوْلِهِ أَنْتِ حَرَامٌ عَلَيَّ إذَا نَوَى حَقِيقَةَ الطَّلَاقِ وَقَصَدَ إيقَاعَهُ بِهَذَا اللَّفْظِ
"Dari sinilah para ulama berpendapat bahwa Lafaz Sharih (eksplisit)
tidak membutuhkan niat, berbeda halnya dengan Lafaz Kinayah (sindiran).
Berdasarkan
pertimbangan 'maksud dari sebuah makna', maka perbedaan antara lafaz sharih
dan kinayah sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Muhimmat (karya Imam
al-Isnawi), bersumber dari sebagian ulama terkemuka di zamannya, adalah:
- Pada Lafaz Sharih: Yang dianggap/disyaratkan adalah adanya maksud terhadap lafaz dan maknanya (yakni penutur memahami arti kata tersebut).
- Pada Lafaz Kinayah: Selain syarat di atas (memahami lafaz dan makna), disyaratkan pula adanya maksud untuk menjatuhkan talak (qashdu al-iqa’).
Penulis berkata: Imam Ar-Rafi'i telah menyebutkan pendapat yang memperkuat hal tersebut. Beliau mengutip perkataan Al-Busyanji: 'Sesungguhnya talak hanya jatuh dengan ucapan suami “Engkau haram bagiku” apabila ia memang meniatkan hakikat talak dan bermaksud menjatuhkan talak dengan lafaz tersebut.'"
Cerita Talak
(فَحِكَايَةُ الطَّلَاقِ) كَقَوْلِهِ قَالَ فُلَانٌ زَوْجَتِي طَالِقٌ (وَكَذَا طَلَاقُ النَّائِمِ) وَالْمُبَرْسَمِ وَالْمُغْمَى عَلَيْهِ كَمَا صَرَّحَ بِهِ الْأَصْلُ (لَغْوٌ وَإِنْ قَالَ) بَعْدَ اسْتِيقَاظِهِ (أَجَزْته أَوْ أَوْقَعْته) لِعَدَمِ قَصْدِ مَعْنَاهُ وَلِخَبَرِ «رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثٍ وَذَكَرَ مِنْهَا النَّائِمَ»
Bercerita tentang talak, seperti ucapan suami, "Fulan berkata, 'Istriku tertalak'".
Ucapan Talak Orang Tidur, Mengigau atau Pingsan
Begitu juga talaknya orang tidur, orang mubarsam, orang pingsan, sebagaimana penjelasan kitab asal, adalah sia-sia. Apabila berkata setelah bangun/sadar maka itu sah dan jatuh talak. Karena tidak ada niat/menyengaja pada makna talak dan berdasarkan hadits "Tinta (catatan amal) itu diangkat dari tiga hal" Nabi menyebut di antaranya adalah orang yang tidur.
Keceplosan Kata Talak atau Cerai
(وَكَذَا سَبْقُ اللِّسَانِ) إلَى لَفْظِ الطَّلَاقِ لَغْوٌ لِأَنَّهُ لَمْ يَقْصِدْ اللَّفْظَ (لَكِنْ يُؤَاخَذُ بِهِ وَلَا يُصَدَّقُ) فِي دَعْوَاهُ السَّبْقَ (ظَاهِرًا إنْ لَمْ تَكُنْ قَرِينَةٌ) لِتَعَلُّقِ حَقِّ الْغَيْرِ بِهِ بِخِلَافِ مَا إذَا كَانَتْ قَرِينَةٌ كَأَنْ دَعَاهَا بَعْدَ طُهْرِهَا مِنْ الْحَيْضِ إلَى فِرَاشِهِ وَأَرَادَ أَنْ يَقُولَ أَنْتِ الْآنَ طَاهِرَةٌ فَسَبَقَ لِسَانُهُ وَقَالَ أَنْتِ الْآنَ طَالِقَةٌ
Begitu juga ucapan talak yang keceplosan (sabqul lisan) itu sia-sia (tidak jatuh talak). Karena suami tidak menyengaja pada kata talak itu. Akan tetapi ia dihukum dan tidak dibenarkan atas pengakuan 'keceplosan'-nya secara lahiriah apabila tidak ada qarinah (konteks penguat), ini karena berkaitan dengan hak orang lain. Beda halnya apabila ada penguat (qarinah) seperti suami mengajak istri setelah suci dari haid untuk hubungan lalu suami bilang: "Sekarang kamu tahirah (wanita suci); lalu lidahnya salah ucap "thaliqah" (wanita yang dicerai).
(وَلَوْ ظَنَّتْ صِدْقَهُ) فِي دَعْوَاهُ السَّبْقَ (بِأَمَارَةٍ فَلَهَا مُصَادَقَتُهُ) أَيْ قَبُولُ قَوْلِهِ (وَكَذَا لِلشُّهُودِ) الَّذِينَ سَمِعُوا الطَّلَاقَ مِنْهُ وَعَرَفُوا صِدْقَ دَعْوَاهُ السَّبْقَ بِأَمَارَةٍ (أَنْ لَا يَشْهَدُوا) عَلَيْهِ بِالطَّلَاقِ كَذَا ذَكَرَهُ الْأَصْلُ هُنَا وَذَكَرَ أَوَاخِرَ الطَّلَاقِ أَنَّهُ لَوْ سَمِعَ لَفْظَ رَجُلٍ بِالطَّلَاقِ وَتَحَقَّقَ أَنَّهُ سَبَقَ لِسَانُهُ إلَيْهِ لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يَشْهَدَ عَلَيْهِ بِمُطْلَقِ الطَّلَاقِ وَكَانَ مَا هُنَا فِيمَا إذَا ظَنُّوا وَمَا هُنَاكَ فِيمَا إذَا تُحَقَّقُوا كَمَا يُفْهِمُهُ كَلَامُهُمْ وَمَعَ ذَلِكَ فِيمَا هُنَا نَظَرٌ (فَإِنْ كَانَ اسْمُهَا طَالِقًا أَوْ طَارِقًا أَوْ طَالِبًا) أَوْ نَحْوَهَا مِنْ الْأَسْمَاءِ الَّتِي تُقَارِبُ حُرُوفَ طَالِقٍ (فَنَادَاهَا يَا طَالِقُ طَلُقَتْ وَ) لَكِنْ (إنْ ادَّعَى سَبْقَ اللِّسَانِ) إلَيْهِ مِنْ تِلْكَ الْأَلْفَاظِ (قُبِلَ مِنْهُ) ظَاهِرًا لِظُهُورِ الْقَرِينَةِ (أَوْ كَانَ اسْمُهَا طَالِقًا فَنَادَاهَا) بِهِ (لَمْ تَطْلُقْ) وَإِنْ لَمْ يَنْوِ نِدَاءَهَا بِاسْمِهَا (إلَّا إنْ نَوَى) الطَّلَاقَ فَتَطْلُقُ وَصُورَةُ عَدَمِ طَلَاقِهَا عِنْدَ الْإِطْلَاقِ أَنْ تُوجَدَ التَّسْمِيَةُ بِطَالِقٍ عِنْدَ النِّدَاءِ فَإِنْ زَالَتْ ضَعُفَتْ الْقَرِينَةُ أَخْذًا مِمَّا قَالُوهُ فِي نَظِيرِهِ مِنْ نِدَاءِ عَبْدِهِ الْمُسَمَّى بِحَرْبِيٍّ حُرٌّ نَبَّهَ عَلَيْهِ الْإِسْنَوِيُّ وَغَيْرُهُ قَالَ الزَّرْكَشِيُّ وَضَبَطَ النَّوَوِيُّ فِي الْمِنْهَاجِ يَا طَالِقْ بِإِسْكَانِ الْقَافِ وَكَأَنَّهُ يُشِيرُ إلَى أَنَّهُ إنْ قَالَ يَا طَالِقُ بِالضَّمِّ لَمْ يَقَعْ لِأَنَّ بِنَاءَهُ عَلَى الضَّمِّ يُرْشِدُ إلَى إرَادَةِ الْعَلَمِيَّةِ وَإِنْ قَالَ يَا طَالِقًا بِالنَّصْبِ تَعَيَّنَ صَرْفُهُ إلَى التَّطْلِيقِ وَيَنْبَغِي فِي الْحَالَيْنِ أَنَّا لَا نَرْجِعُ لِدَعْوَى خِلَافِ ذَلِكَ وَفِيمَا قَالَهُ نَظَرٌ لِأَنَّ اللَّحْنَ لَا يُؤَثِّرُ فِي الْوُقُوعِ وَعَدَمِهِ.
"(Dan jika sang istri menyangka kebenaran suaminya) dalam klaimnya bahwa
telah terjadi kekeliruan lisan (Sabaq al-Lisan), (berdasarkan adanya
tanda-tanda, maka istri boleh membenarkannya), maksudnya menerima perkataan
suaminya tersebut.
(Demikian pula bagi para saksi) yang mendengar
lafaz talak dari suami tersebut, namun mereka mengetahui kebenaran klaim
kekeliruan lisannya berdasarkan tanda-tanda tertentu, (maka mereka boleh untuk
tidak memberikan kesaksian) mengenai jatuhnya talak atas suami tersebut. Hal
ini sebagaimana disebutkan dalam kitab asal (al-Asl) di sini. Dan disebutkan
pada bagian akhir bab Talak bahwa: Jika seseorang mendengar seorang laki-laki
mengucapkan lafaz talak, namun ia yakin bahwa laki-laki itu hanya terpeleset
lidahnya, maka ia tidak boleh bersaksi atas jatuhnya talak secara mutlak.
Konteks
bahasan di sini adalah jika para saksi baru pada tahap 'menyangka' (zhann),
sedangkan bahasan di sana (akhir bab Talak) adalah jika mereka telah 'yakin'
(tahaqquq), sebagaimana yang dipahami dari perkataan mereka. Namun demikian,
pendapat di bagian ini masih perlu ditinjau kembali (fiihi nazhar).
Kasus
Kemiripan Nama dengan Lafaz Talak
(Jika nama istri adalah 'Taliq',
'Thariq', atau 'Thalib') atau nama-nama lain yang susunan hurufnya menyerupai
kata Taliq (yang berarti: wanita yang diceraikan), (lalu sang suami
memanggilnya: 'Wahai Taliq!', maka jatuhlah talak secara hukum).
Akan
tetapi, (jika suami mengklaim bahwa lidahnya terpeleset) dari lafaz-lafaz nama
tadi menjadi kata talak, (maka klaimnya diterima) secara lahiriah karena
adanya indikasi (qarinah) yang nyata.
(Atau jika memang nama
istrinya adalah 'Taliq', lalu ia memanggilnya) dengan nama tersebut, (maka
tidak jatuh talak) meskipun ia tidak berniat memanggil namanya (yakni hanya
berucap mutlak), (kecuali jika ia memang berniat) menjatuhkan talak, maka
barulah talak jatuh.
Gambaran tidak jatuhnya talak ketika suami
berucap secara mutlak (tanpa niat tertentu) adalah apabila nama 'Taliq'
tersebut memang masih digunakan saat pemanggilan. Jika nama itu sudah tidak
digunakan lagi, maka indikasi (qarinah) yang mencegah talak menjadi lemah. Hal
ini diambil dari pendapat ulama mengenai kasus serupa, yaitu memanggil budak
yang bernama 'Harbi' dengan seruan 'Wahai Merdeka!' (Hurrun). Hal ini
diperingatkan oleh Al-Isnawi dan ulama lainnya.
Al-Zarkashi
berkata: Imam an-Nawawi dalam kitab Al-Minhaj memberikan harakat sukun pada
huruf Qaf dalam kalimat 'Ya Taliq'. Seolah-olah beliau mengisyaratkan bahwa
jika suami berkata 'Ya Taliqu' (dengan harakat dammah), maka talak tidak
jatuh, karena dammah menunjukkan panggilan untuk nama orang (alamiyah).
Sedangkan jika ia berkata 'Ya Taliqan' (dengan tanwin fathah), maka lafaz itu
jelas tertuju pada penjatuhan talak. Dalam kedua kondisi ini, semestinya kita
tidak merujuk pada klaim suami yang menyalahi harakat tersebut. Namun,
pendapat ini juga perlu ditinjau kembali (nazhar), karena kesalahan tata
bahasa (lahn) sebenarnya tidak mempengaruhi jatuh atau tidaknya talak."
***
RUKUN TALAK ADA LIMA
(الْبَابُ الثَّانِي فِي أَرْكَانِ الطَّلَاقِ وَهِيَ خَمْسَةٌ)
Rukun talak ada lima.
(الْأَوَّلُ الْمُطَلِّقُ وَشَرْطُ تَنْجِيزِهِ وَتَعْلِيقِهِ التَّكْلِيفُ) وَالِاخْتِيَارُ
Rukun talak yang pertama: mutalliq (suami). Syarat sahnya adalah taklif (berakal sehat dan dewasa/baligh) dan ikhtiyar (suka rela).
(الرُّكْنُ الثَّانِي فِيمَا يَقَعُ بِهِ الطَّلَاقُ وَفِيهِ ثَلَاثَةُ أَطْرَافٍ
Rukun talak kedua: yang menyebabkan terjadinya talak. Di sini ada tiga bagian.
الْأَوَّلُ فِي اللَّفْظِ وَهُوَ) (صَرِيحٌ) وَهُوَ مَا لَا يَحْتَمِلُ ظَاهِرُهُ غَيْرَ الطَّلَاقِ فَلَا يَحْتَاجُ إلَى نِيَّةٍ (وَكِنَايَةٍ) وَهِيَ مَا يَحْتَمِلُ الطَّلَاقَ وَغَيْرَهُ فَهِيَ (تَحْتَاجُ إلَى نِيَّةٍ فَالصَّرِيحُ الطَّلَاقُ وَالسَّرَاحُ) بِفَتْحِ السِّينِ (وَالْفِرَاقُ) وَالْخُلْعُ وَالْمُفَادَاةُ كَمَا تَقَدَّمَ لِاشْتِهَارِهَا فِي مَعْنَى الطَّلَاقِ
Bagian pertama, kata. Yaitu (a) kata sharih (eksplisit, jelas). Yaitu, kata yang secara jelas tidak mengandung makna lain selain talak sehingga tidak membutuhkan niat; (b) kata kinayah yaitu kata yang membutuhkan niat. Kata/lafadz sharih adalah kata "talak" (cerai), kata "sarah", kata "firaq" (pisah), khulu', dan mufadat seperti penjelasan yang sudah lalu. Semuanya dianggap kata talak sharih karena populernya kata-kata di atas untuk arti talak.
(الطَّرَفُ الثَّانِي) فِي الْفِعْلِ الْقَائِمِ (مَقَامَ اللَّفْظِ فَإِشَارَةُ الْأَخْرَسِ فِي الطَّلَاقِ وَغَيْرِهِ) مِنْ عُقُودٍ وَحُلُولٍ كَإِقْرَارٍ وَدَعْوًى كَالنُّطْقِ (فَيَتَرَتَّبُ عَلَيْهَا) أَحْكَامُهُ (وَلَوْ) كَانَ (كَاتِبًا) لِعَجْزِهِ مَعَ دَلَالَتِهَا عَلَى مَا يَدُلُّ عَلَيْهِ النُّطْقُ (لَكِنْ) (لَا تَبْطُلُ صَلَاتُهُ) بِإِشَارَتِهِ بِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ (وَلَا تَصِحُّ شَهَادَتُهُ) بِهَا وَلَا يَحْنَثُ بِهَا فِي الْحَلِفِ عَلَى عَدَمِ الْكَلَامِ (فَإِنْ أَفْهَمَتْ الْفَطِنَ) أَيْ الذَّكِيَّ (وَغَيْرَهُ الطَّلَاقَ مَثَلًا فَصَرِيحٌ أَوْ) أَفْهَمَتْ الْفَطِنَ (وَحْدَهُ فَكِنَايَةٌ) تَحْتَاجُ إلَى نِيَّةٍ وَقِيلَ يَقَعُ بِهَا الطَّلَاقُ نَوَى أَوْ لَمْ يَنْوِ وَالتَّرْجِيحُ مِنْ زِيَادَتِهِ وَمَا رَجَّحَهُ هُوَ مَا جَزَمَ بِهِ الْمِنْهَاجُ كَأَصْلِهِ (وَتَفْسِيرُهُ صَرِيحُ إشَارَتِهِ) فِي الطَّلَاقِ (بِغَيْرِ طَلَاقٍ كَتَفْسِيرِ اللَّفْظِ الشَّائِعِ فِي الطَّلَاقِ بِغَيْرِهِ) فَلَا يُقْبَلُ مِنْهُ ظَاهِرٌ إلَّا بِقَرِينَةٍ (وَلَوْ أَشَارَ نَاطِقٌ) بِالطَّلَاقِ (وَ) إنْ (نَوَى) كَأَنْ قَالَتْ لَهُ طَلِّقْنِي فَأَشَارَ بِيَدِهِ أَنْ اذْهَبِي (لَغَا) وَإِنْ أَفْهَمَ بِهَا كُلَّ أَحَدٍ لِأَنَّ عُدُولَهُ عَنْ الْعِبَارَةِ إلَى الْإِشَارَةِ يُفْهِمُ أَنَّهُ غَيْرُ قَاصِدٍ لِلطَّلَاقِ وَإِنْ قَصَدَهُ بِهَا فَهِيَ لَا تُقْصَدُ لِلْإِفْهَامِ إلَّا نَادِرًا وَلَا هِيَ مَوْضُوعَةٌ لَهُ بِخِلَافِ الْكِنَايَةِ فَإِنَّهَا حُرُوفٌ مَوْضُوعَةٌ لِلْإِفْهَامِ كَالْعِبَارَةِ (فَلَوْ قَالَ) مَنْ لَهُ امْرَأَتَانِ (امْرَأَتِي طَالِقٌ مُشِيرًا لِإِحْدَى امْرَأَتَيْهِ وَقَالَ أَرَدْت الْأُخْرَى قُبِلَ) مِنْهُ وَلَا يَلْزَمُهُ بِالْإِشَارَةِ شَيْءٌ وَقِيلَ لَا يُقْبَلُ بَلْ يُطَلَّقَانِ جَمِيعًا وَالتَّرْجِيحُ هُنَا مِنْ زِيَادَتِهِ وَصَرَّحَ بِهِ فِي الرَّوْضَةِ آخَرَ الْبَابِ الْخَامِسِ (وَإِنْ قَالَ) لِأَحَدِهِمَا (أَنْت طَالِقٌ وَهَذِهِ فَهَلْ) لَفْظُهُ (هَذِهِ كِنَايَةٌ أَوْ صَرِيحٌ وَجْهَانِ) عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ الرُّويَانِيِّ وَالْأَوْجَهُ الثَّانِي مَا لَمْ يَنْوِ خِلَافَهُ لِأَنَّهُ عَطَفَهَا عَلَى مَنْ طَلُقَتْ وَكَمَا لَوْ قَالَ مَنْ أَكْرَهَ عَلَى طَلَاقِ حَفْصَةَ حَفْصَةُ طَالِقٌ وَعَمْرَةُ وَهَذَا أَوْلَى مِنْ قَوْلِ الزَّرْكَشِيّ الظَّاهِرُ الْأَوَّلُ إلْحَاقًا لِذَلِكَ بِقَوْلِهِ بَعْدَ طَلَاقِ إحْدَى امْرَأَتَيْهِ لِلْأُخْرَى أَشْرَكْتُك مَعَهَا.
Bagian kedua dalam perbuatan yang menggantikan kedudukan lafaẓ (ucapan), maka
isyarat orang bisu dalam talak dan selainnya dari akad-akad dan penyelesaian
ḥulūl seperti ikrar dan gugatan, sama dengan nuthq (ucapan
lisan).
Maka akan berakibat padanya hukum-hukumnya,
meskipun orang bisu itu bisa menulis, karena ketidakmampuannya berbicara
disertai dengan kemampuan isyaratnya untuk menunjukkan apa yang ditunjukkan
oleh ucapan lisan.
Akan tetapi tidak batal shalatnya
dengan isyaratnya untuk sesuatu dari hal-hal tersebut seperti talak atau
ikrar. Dan tidak sah syahadatnya dengan isyarat itu, serta ia tidak hanits
melanggar sumpah dengannya dalam sumpah untuk tidak berbicara.
Jika
isyarat itu memahamkan orang yang fathan (cerdas) yaitu orang yang pintar, dan
selainnya tentang talak misalnya, maka itu ṣarīḥ (kinayah yang jelas); atau
jika hanya memahamkan orang yang fathan sendirian, maka itu kināyah yang
memerlukan niat. Dikatakan pula bahwa talak jatuh dengannya baik berniat
maupun tidak. Pendapat yang dirajihkan menurut ziyādah penambahan penulis dan
apa yang dirajihkannya adalah apa yang dijazmkan dipastikan oleh Al-Minhāj
sebagaimana asalnya Ar-Rauḍ.
Dan penafsiran ṣarīḥ
isyaratnya dalam talak dengan selain talak, seperti penafsiran lafaẓ yang umum
digunakan untuk talak dengan selainnya, maka tidak diterima darinya secara
ẓāhir kecuali dengan qarīnah indikasi pendukung.
Dan
sekiranya orang yang bisa berbicara mengisyaratkan talak dan ia berniat,
seperti ketika istri berkata kepadanya, “Talaklah aku,” lalu ia mengisyaratkan
dengan tangannya “pergilah,” maka itu batal (tidak berlaku). Meskipun isyarat
itu memahamkan setiap orang, karena penyimpangannya dari ucapan yang jelas ke
isyarat menunjukkan bahwa ia tidak bermaksud talak. Dan meskipun ia bermaksud
talak dengannya, isyarat itu jarang sekali dimaksudkan untuk memahamkan, serta
tidak pula ditetapkan untuk itu, berbeda dengan kinayah yang merupakan
huruf-huruf yang ditetapkan untuk memahamkan sebagaimana ucapan yang
jelas.
Maka jika seseorang yang memiliki dua istri
berkata, “Istriku talak,” sambil mengisyaratkan kepada salah satu dari kedua
istrinya, lalu ia berkata, “Aku bermaksud yang lain,” maka diterima darinya,
dan isyarat itu tidak mewajibkan apa pun padanya. Dikatakan pula bahwa tidak
diterima, bahkan keduanya tertalak semuanya. Pendapat yang dirajihkan di sini
menurut ziyādah, dan hal itu ditegaskan di akhir bab kelima dalam
Ar-Rauḍah.
Dan jika ia berkata kepada salah satunya,
“Kamu talak, dan ini (sambil menunjuk yang lain), maka apakah lafaẓnya “ini”
itu kinayah atau ṣarīḥ, terdapat dua wajah (pendapat) dari Abī Al-‘Abbās
Ar-Rūyānī. Yang lebih utama adalah yang kedua ṣarīḥ selama ia tidak berniat
sebaliknya, karena ia meng‘atf-kan menyambungkan yang ditunjuk itu kepada yang
sudah tertalak. Sebagaimana jika seseorang yang dipaksa untuk mentalak Hafṣah
berkata, “Hafṣah talak, dan ‘Amrah, dan ini.” Pendapat ini lebih utama
daripada perkataan Az-Zarkasyī bahwa yang ẓāhir adalah yang pertama kinayah,
dengan menyamakan hal itu dengan ucapan suami setelah mentalak salah satu dari
dua istrinya kepada yang lain, “Aku menyertakanmu bersamanya.”
(الطَّرَفُ الثَّالِثُ التَّفْوِيضُ) لِلطَّلَاقِ وَهُوَ جَائِزٌ بِالْإِجْمَاعِ وَاحْتَجُّوا لَهُ أَيْضًا «بِأَنَّهُ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - خَيَّرَ نِسَاءَهُ بَيْنَ الْمُقَامِ مَعَهُ وَبَيْنَ مُفَارَقَتِهِ لَمَّا نَزَلَ قَوْله تَعَالَى {يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأَزْوَاجِكَ إِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا} [الأحزاب: 28] » إلَى آخِرِهِ فَلَوْ لَمْ يَكُنْ لِاخْتِيَارِهِنَّ الْفُرْقَةَ أَثَرٌ لَمْ يَكُنْ لِتَخْيِيرِهِنَّ مَعْنًى وَاسْتُشْكِلَ بِمَا صَحَّحُوهُ مِنْ أَنَّهُ لَا يَقَعُ الطَّلَاقُ بِاخْتِيَارِهَا الدُّنْيَا بَلْ لَا بُدَّ مِنْ إيقَاعِهِ بِدَلِيلِ {فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ} [الأحزاب: 28] (قَوْلُهُ طَلِّقِي نَفْسَك) لِزَوْجَتِهِ (أَوْ اعْتِقِي نَفْسَك لِأَمَتِهِ تَمْلِيكٌ) لِلطَّلَاقِ وَالْإِعْتَاقِ لِأَنَّ ذَلِكَ يَتَعَلَّقُ بِغَرَضِهِمَا (كَالْهِبَةِ) وَنَحْوِهَا فَكَأَنَّهُ يَقُولُ مَلَّكْتُكُمَا نَفْسَكُمَا فَيَمْلِكَانِهَا بِالطَّلَاقِ وَالْإِعْتَاقِ (لَا تَوْكِيلٌ) بِذَلِكَ دَفْعٌ لِمَا قِيلَ إنَّهُ تَوْكِيلٌ كَمَا فِي التَّفْوِيضِ لِأَجْنَبِيٍّ وَفُرِّقَ الْأَوَّلُ بِأَنَّ لَهُمَا فِيهِ غَرَضًا وَلَهُمَا بِالزَّوْجِ وَالسَّيِّدِ اتِّصَالًا (فَإِنْ كَانَ) التَّفْوِيضُ (بِمَالُ فَيُمْلَكُ بِعِوَضٍ) كَالْبَيْعِ كَمَا أَنَّهُ بِلَا عِوَضٍ كَالْهِبَةِ
Bagian ketiga: Tafwīḍ (pembuatan wakil atau pemberian kuasa) untuk talak
Ia adalah jaiz diperbolehkan berdasarkan ijma' kesepakatan ulama. Mereka juga
berhujah dengannya bahwa Nabi —ṣallallāhu 'alaihi wa sallam— telah memberikan
pilihan kepada istri-istrinya antara tetap bersamanya atau berpisah darinya,
ketika turun firman Allah Ta'ala: {Yā ayyuhā an-nabiyyu qul li-azwājika in
kuntunna turidna al-ḥayāta ad-dunyā wa zīnatahā} (Al-Aḥzāb: 28) hingga akhir
ayat. Seandainya pilihan mereka untuk berpisah tidak memiliki efek yaitu tidak
menyebabkan talak, maka pemberian pilihan itu tidak akan memiliki
makna.
Namun hal ini diisytiharkan disangsikan atau
dibantah dengan apa yang mereka sahihkan, yaitu bahwa talak tidak jatuh hanya
dengan pilihan sang istri untuk memilih dunia, bahkan harus ada pengucapan
talak secara langsung oleh suami, berdasarkan dalil: {fata'ālayna umatti'kunna
wa usarriḥkunna} (Al-Aḥzāb: 28).
Ucapan suami: "Ṭalliqī
nafsaki" (Talaklah dirimu sendiri) kepada istrinya, atau "a'tiqī nafsaki"
(Merdekakan dirimu sendiri) kepada budak wanitanya, adalah tamlik pemberian
kepemilikan atau kuasa atas talak dan pembebasan 'itq, karena hal itu terkait
dengan kepentingan keduanya seperti hibah dan sejenisnya. Seolah-olah suami
berkata: "Aku telah memilikkan kalian berdua atas diri kalian sendiri,"
sehingga keduanya memiliki kuasa atas diri mereka melalui talak dan
pembebasan.
Bukan wakalah (perwakilan) dengan hal itu,
untuk menolak pendapat yang mengatakan bahwa ini adalah wakalah, seperti dalam
tafwīḍ kepada orang asing. Perbedaan pada kasus pertama adalah bahwa keduanya
istri dan budak wanita memiliki kepentingan di dalamnya, serta ada hubungan
keterkaitan dengan suami dan tuan.
Jika tafwīḍ itu
dilakukan dengan imbalan harta, maka kuasa itu dimiliki dengan 'iwaḍ (imbalan)
seperti jual beli, sebagaimana jika tanpa imbalan maka seperti hibah.
(الرُّكْنُ الثَّالِثُ قَصْدُ الطَّلَاقِ فَيُشْتَرَطُ قَصْدُ اللَّفْظِ بِمَعْنَاهُ) أَيْ مَعَهُ
Rukun talak ketiga adalah menyengaja talak. Disyaratkan menyengaja pada kata bersama makna talak.
(الرُّكْنُ الرَّابِعُ الْمَحَلُّ وَهُوَ الْمَرْأَةُ فَإِنْ قَالَ طَلَّقْتُك) أَوْ أَنْتِ طَالِقٌ (فَذَاكَ) وَاضِحٌ
Rukun talak keempat adalah tempat yakni istri. Suami berkata: Aku mentalakmu atau Kamu tertalak. Maka itu sudah jelas.
(الرُّكْنُ الْخَامِسُ الْوِلَايَةُ عَلَى الْمَحَلِّ فَيَقَعُ فِي الْعِدَّةِ طَلَاقُ رَجْعِيَّةٍ) لِبَقَاءِ الْوِلَايَةِ عَلَيْهَا بِمِلْكِ الرَّجْعَةِ (لَا) طَلَاقٌ (بَائِنٌ) لِانْتِفَاءِ الْوِلَايَةِ عَلَيْهَا
Rukun talak kelima adalah wilayah (kekuasaan/pemilikan) pada tempat/istri. Oleh karena itu, talak bisa terjadi saat istri sedang iddah raj'i karena masih adanya kekuasaan/kepemilikan suami atas istri dengan kepemilikan raj'ah (kembali). Dengan demikian, tidak ada wilayah/kepemilikan dalam talak ba'in karena tidak adanya wilayah atas istri.
المصدر: أسني المطالب لزكريا الأنصاري، ص. ج. 3. ص. من 269 إلي 285
Sumber: Kitab Asna al-Mathalib karya Zakariya al-Anshari, Jilid (Juz) 3, Halaman 269 sampai 285.
