Hukum Memakai Sepatu Sandal saat Ihram Umrah dan Haji

Hukum Memakai Sepatu Sandal saat Ihram Umrah dan Haji
 Bolehkah Memakai Sepatu saat Ihram Umrah dan Haji?

 أقوال العلماء في الأحذية المختلف فيها

Pendapat para ulama mengenai alas kaki yang diperselisihkan (dalam hukum ihram bagi laki-laki):

Pandangan Mazhab Maliki

قال في "منح الجليل شرح مختصر خليل" (2/260): "فَلَا يُلْبَسُ مِنْ النِّعَالُ غَيْرُ مَا لَهُ شِرَاكَانِ يُرْبَطُ بِهِمَا عَلَى الْقَدَمِ لِتَأْتِي الْمَشْيَ خَاصَّةً، فَلَا يَجُوزُ لَهُ لُبْسُ سِبَاطٍ، وَلَا مِزْت، وَلَا شَيْءٍ مِنْ هَذِهِ النِّعَالِ الصَّحْرَاوِيَّةِ؛ لِأَنَّ لَهَا فِي عَاقِبِهَا حَارِكًا، وَلِاتِّسَاعِ شِرَاكِهَا فَتَسْتُرُ كَثِيرًا مِنْ الْقَدَمِ " انتهى.

Dalam kitab Minh al-Jalil Syarh Mukhtashar Khalil (2/260) disebutkan: "Maka tidak boleh memakai sandal kecuali yang memiliki dua tali yang diikat pada kaki khusus untuk berjalan. Maka tidak boleh memakai sepatu (sibath), mizt, atau apa pun dari sandal-sandal gurun ini; karena di bagian belakangnya ada tonjolan (harik), dan karena lebar talinya sehingga menutupi banyak bagian kaki." (selesai).

Pandangan Madzhab Syafi'i 

وقال أبو إسحاق الشيرازي: "فان لبس الخف مقطوعاً من أسفل الكعب مع وجود النعل: لم يجز على المنصوص، وتجب عليه الفدية...؛ لأنه ملبوس على قدر العضو، فأشبه الخف " انتهى من " المهذب في فقة الإمام الشافعي" (1/381).

Abu Ishaq asy-Syirazi berkata: "Jika memakai khuf yang dipotong dari bawah mata kaki meskipun ada sandal: tidak boleh menurut nash yang jelas, dan wajib atasnya fidyah... karena itu dipakai sesuai ukuran anggota tubuh, sehingga mirip dengan khuf." (dari al-Muhadzdzab fi Fiqh al-Imam asy-Syafi'i (1/381)).

قال النووي: " وَأَمَّا لُبْسُ الْمَدَاسِ وَالْجُمْجمِ وَالْخُفِّ الْمَقْطُوعِ أَسْفَلَ مِنْ الْكَعْبَيْنِ، فَهَلْ يَجُوزُ مَعَ وُجُودِ النَّعْلَيْنِ، فِيهِ وَجْهَانِ مَشْهُورَانِ ذَكَرَهُمَا الْمُصَنِّفُ وَالْأَصْحَابُ، الصَّحِيحُ بِاتِّفَاقِهِمْ: تَحْرِيمُهُ،... وَهُوَ مُقْتَضَى قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ السَّابِقِ: فَمَنْ لَمْ يَجِدْ النَّعْلَيْنِ فَلْيَلْبَسْ الْخُفَّيْنِ وَلْيَقْطَعْهُمَا حَتَّى يَكُونَا أَسْفَلَ مِنْ الْكَعْبَيْنِ ". انتهى من " المجموع شرح المهذب " (7/ 258).

An-Nawawi berkata: "Adapun memakai madas, jumjum, dan khuf yang dipotong di bawah kedua mata kaki, apakah boleh meskipun ada kedua sandal? Ada dua pendapat terkenal yang disebutkan oleh pengarang dan para sahabatnya. Yang benar menurut kesepakatan mereka adalah haram... dan ini sesuai dengan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits shahih sebelumnya: 'Barangsiapa tidak mendapatkan kedua sandal, maka hendaklah memakai kedua khuf dan potonglah keduanya hingga berada di bawah kedua mata kaki'." (dari al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab (7/258)).

وقال الماوردي: "لِأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبَاحَ لُبْسَهُمَا مَقْطُوعَيْنِ، بِشَرْطِ أَنْ يَكُونَ عَادِمًا لِلنَّعْلَيْنِ، فَإِذَا لَمْ يُوجَدِ الشَّرْطُ لَمْ تُوجَدِ الْإِبَاحَةُ " انتهى من "الحاوي الكبير" (4/97).

Al-Mawardi berkata: "Karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membolehkan memakainya dalam keadaan dipotong, dengan syarat tidak memiliki sandal. Maka jika syarat tidak ada, maka kebolehan pun tidak ada." (dari al-Hawi al-Kabir (4/97)).

Pandangan Madzhab Hanbali

وقال ابن قدامة: "فَإِنْ لَبِسَ الْمَقْطُوعَ، مَعَ وُجُودِ النَّعْلِ، فَعَلَيْهِ الْفِدْيَةُ، وَلَيْسَ لَهُ لُبْسُهُ، نَصَّ عَلَيْهِ أَحْمَدُ، وَبِهَذَا قَالَ مَالِكٌ... لأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَرَطَ فِي إبَاحَةِ لُبْسِهِمَا عَدَمَ النَّعْلَيْنِ، فَدَلَّ عَلَى أَنَّهُ لَا يَجُوزُ مَعَ وُجُودِهِمَا، وَلِأَنَّهُ مَخِيطٌ لِعُضْوٍ عَلَى قَدْرِهِ، فَوَجَبَتْ عَلَى الْمُحْرِمِ الْفِدْيَةُ بِلُبْسِهِ، كَالْقُفَّازَيْنِ " انتهى من "المغني" (5/122).

Ibnu Qudamah berkata: "Jika memakai yang dipotong meskipun ada sandal, maka atasnya fidyah, dan tidak boleh memakainya. Ahmad telah menashnya, dan demikian pula Malik... karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mensyaratkan dalam kebolehan memakainya adalah tidak adanya sandal, sehingga menunjukkan bahwa tidak boleh jika ada sandal. Dan karena itu adalah pakaian yang dijahit sesuai ukuran anggota tubuh, maka wajib fidyah atas muhrim karena memakainya, seperti sarung tangan." (dari al-Mughni (5/122)).

وقال الشيخ محمد المختار: "لا يجوز للمحرم أن يلبس حذاءً يغطي قدمه، أو أغلب قدمه، بل يلبس الحذاء الذي لا يغطي أغلب القدم، وإذا كان الحذاء يغطي جزءاً من القدم، فإنه ينبغي أن تكون أصابعه مكشوفة؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم قال: وليقطعهما أسفل من الكعبين، وبناءً على ذلك تكون الأصابع مكشوفة، وعلى هذا فلو كان الحذاء يغطي رءوس أصابع القدمين فإنه لا يجوز لبسه، كالبلغة التي تكون مستورةً أول القدم، فهذه لا تُلبس". انتهى من " شرح زاد المستقنع" (135/ 5، بترقيم الشاملة آليا).

Syaikh Muhammad al-Mukhtar berkata: "Tidak boleh bagi muhrim memakai sepatu yang menutupi kakinya atau sebagian besar kakinya, melainkan memakai sepatu yang tidak menutupi sebagian besar kaki. Jika sepatu menutupi sebagian kaki, maka sebaiknya jari-jarinya terbuka; karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'dan potonglah keduanya di bawah mata kaki', sehingga berdasarkan itu jari-jari terbuka. Maka jika sepatu menutupi ujung jari kaki, tidak boleh memakainya, seperti balgha yang menutupi bagian depan kaki, maka ini tidak boleh dipakai." (dari Syarh Zad al-Mustaqna' (135/5, penomoran Syamilah otomatis)).

Pandangan Madzhab Hanafi

Adapun mazhab Hanafiyah membolehkan memakai apa yang menutupi kaki dengan syarat tidak menutupi kedua mata kaki. Maka jika memakai sepatu yang menutupi bagian depan kaki, tumit, dan punggungnya: tidak apa-apa selama tidak menutupi mata kaki.

Mereka berdalil bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menunjukkan kepada orang yang tidak mendapatkan sandal untuk memakai khuf dan memotongnya agar berada di bawah mata kaki: hal ini menunjukkan bahwa setelah dipotong berpindah dari bentuk yang haram ke bentuk yang boleh, sehingga menunjukkan bolehnya memakai apa yang di bawah mata kaki.

قال الكاساني: "وَرَخَّصَ بَعْضُ مَشَايِخِنَا الْمُتَأَخِّرُونَ لُبْسَ الصَّنْدَلَةِ، قِيَاسًا عَلَى الْخُفِّ الْمَقْطُوعِ؛ لِأَنَّهُ فِي مَعْنَاهُ " انتهى من " بدائع الصنائع " (2/184).

Al-Kasani berkata: "Sebagian masyayikh kami yang muta'akhirin memberi keringanan memakai sandalah, dengan qiyas kepada khuf yang dipotong; karena maknanya sama." (dari Bada'i' ash-Shana'i' (2/184)).

وقال السرخسي: "وَعَلَى هَذَا قَالَ الْمُتَأَخِّرُونَ مِنْ مَشَايِخِنَا: لَا بَأْسَ لِلْمُحْرِمِ بِأَنْ يَلْبَسَ الْمِشَكَّ؛ لِأَنَّهُ لَا يَسْتُرُ الْكَعْبَ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ النَّعْلَيْنِ" انتهى من "المبسوط" (4/127).

As-Sarakhsi berkata: "Berdasarkan ini, masyayikh kami yang muta'akhirin mengatakan: tidak apa-apa bagi muhrim memakai mishakk; karena tidak menutupi mata kaki, sehingga seperti sandal." (dari al-Mabsuth (4/127)).

وفي "الموسوعة الفقهية" (2/154): " أَلْحَقَ الْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ بِالْخُفَّيْنِ: كُل مَا سَتَرَ شَيْئًا مِنَ الْقَدَمَيْنِ سَتْرَ إِحَاطَةٍ، فَلَمْ يُجِيزُوا لُبْسَ الْخُفَّيْنِ الْمَقْطُوعَيْنِ أَسْفَل مِنَ الْكَعْبَيْنِ إِلاَّ عِنْدَ فَقْدِ النَّعْلَيْنِ. وَلَوْ وَجَدَ النَّعْلَيْنِ لَمْ يَجُزْ لَهُ لُبْسُهُمَا، وَوَجَبَ عَلَيْهِ خَلْعُهُمَا إِنْ كَانَ قَدْ لَبِسَهُمَا، وَإِنْ لَبِسَهُمَا لِعُذْرٍ كَالْمَرَضِ لَمْ يَأْثَمْ وَعَلَيْهِ الْفِدَاءُ. وَأَمَّا الْحَنَفِيَّةُ فَإِنَّهُمْ قَالُوا: كُل مَا كَانَ غَيْرَ سَاتِرٍ لِلْكَعْبَيْنِ، اللَّذَيْنِ فِي ظَاهِرِ الْقَدَمَيْنِ، فَهُوَ جَائِزٌ لِلْمُحْرِمِ" انتهى.

Dalam al-Mausu'ah al-Fiqhiyyah (2/154): "Malikiyah, Syafi'iyah, dan Hanabilah menyamakan dengan khuf: segala sesuatu yang menutupi sebagian kaki dengan penutupan menyeluruh (ihathah), maka mereka tidak membolehkan memakai khuf yang dipotong di bawah mata kaki kecuali ketika tidak ada sandal. Jika menemukan sandal, tidak boleh memakainya, dan wajib melepasnya jika telah memakainya. Jika memakainya karena uzur seperti sakit, tidak berdosa tetapi wajib fidyah.

Adapun Hanafiyah berkata: segala sesuatu yang tidak menutupi kedua mata kaki yang berada di permukaan kaki, maka boleh bagi muhrim." (selesai).

Pandangan Salafi

واختار هذا القول شيخ الإسلام ابن تيمية فقال: "الصَّحِيحُ أَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يَلْبَسَ مَا دُونَ الْكَعْبَيْنِ: مِثْلَ الْخُفِّ الْمُكَعَّبِ، وَالْجُمْجُمِ، وَالْمَدَاسِ وَنَحْوِ ذَلِكَ، سَوَاءٌ كَانَ وَاجِدًا لِلنَّعْلَيْنِ أَوْ فَاقِدًا لَهُمَا ". انتهى من " مجموع الفتاوى" (26/110)

Ibnu Taimiyah memilih pendapat ini dan berkata: "Yang benar adalah boleh memakai apa yang di bawah kedua mata kaki: seperti khuf yang dipotong hingga mata kaki, jumjum, madas, dan sejenisnya, baik memiliki sandal atau tidak." (dari Majmu' Fatawa (26/110)).

وقال عن حديث فَإِنْ لَمْ يَجِدِ النَّعْلَيْنِ فَلْيَلْبَسِ الخُفَّيْنِ، وَلْيَقْطَعْهُمَا حَتَّى يَكُونَا تَحْتَ الكَعْبَيْنِ: " دَلَّ عَلَى أَنَّ الْمَقْطُوعَ كَالنَّعْلَيْنِ: يَجُوزُ لُبْسُهُمَا مُطْلَقًا، وَلُبْسُ مَا أَشْبَهَهُمَا مِنْ جُمْجُمٍ وَمَدَاسٍ، وَغَيْرِ ذَلِكَ، وَهَذَا مَذْهَبُ أَبِي حَنِيفَةَ، وَوَجْهٌ فِي مَذْهَبِ أَحْمَدَ وَغَيْرِهِ، وَبِهِ كَانَ يُفْتِي جَدِّي أَبُو الْبَرَكَاتِ - رَحِمَهُ اللَّهُ - فِي آخِرِ عُمُرِهِ لَمَّا حَجَّ...

وَإِنَّمَا قَالَ لِمَنْ لَمْ يَجِدْ؛ لِأَنَّ الْقَطْعَ مَعَ وُجُودِ النَّعْلِ إفْسَادٌ لِلْخُفِّ، وَإِفْسَادُ الْمَالِ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ مَنْهِيٌّ عَنْهُ، بِخِلَافِ مَا إذَا عَدِمَ الْخُفَّ، فَلِهَذَا جَعَلَ بَدَلًا فِي هَذِهِ الْحَالِ لِأَجْلِ فَسَادِ الْمَالِ" انتهى من " الفتاوى الكبرى" (1/327).

Ia juga berkata mengenai hadits: "Jika tidak mendapatkan sandal maka pakailah khuf dan potonglah hingga di bawah mata kaki": "Menunjukkan bahwa yang dipotong seperti sandal: boleh memakainya secara mutlak, dan memakai apa yang mirip dengannya seperti jumjum, madas, dan lainnya. Ini adalah mazhab Abu Hanifah, dan satu pendapat dalam mazhab Ahmad dan lainnya. Kakekku Abu al-Barakat -rahimahullah- berfatwa dengannya di akhir umurnya ketika haji...

Ia hanya mengatakan 'bagi yang tidak mendapatkan' karena memotong ketika ada sandal berarti merusak khuf, dan merusak harta tanpa kebutuhan dilarang, berbeda jika tidak ada sandal. Maka dijadikan pengganti dalam keadaan itu karena kerusakan harta." (dari al-Fatawa al-Kubra (1/327)). 

وقال: "فَعُلِمَ أَنَّ قَوْلَهُ: (فَلْيَلْبَسِ الْخُفَّيْنِ وَلْيَقْطَعْهُمَا حَتَّى يَكُونَا أَسْفَلَ الْكَعْبَيْنِ بَيَانٌ لِمَا يَجُوزُ لُبْسُهُ وَيَخْرُجُ بِهِ عَنْ حَدِّ الْخُفِّ الْمَمْنُوعِ، وَيَصِيرُ بِمَنْزِلَةِ النَّعْلِ الْمُبَاحِ، وَإِلَّا لَمْ يَكُنْ فَرْقٌ بَيْنَ لُبْسِهِمَا مَقْطُوعَيْنِ وَصَحِيحَيْنِ، وَجَعَلَ ذَلِكَ لِمَنْ لَمْ يَجِدِ النَّعْلَ لِمَا تَقَدَّمَ، ثُمَّ إِنَّهُ رَخَّصَ بَعْدَ ذَلِكَ فِي لُبْسِ الْخُفِّ وَالسَّرَاوِيلِ لِلْعَادِمِ، فَبَقِيَ الْمَقْطُوعُ، كَالسَّرَاوِيلِ الْمَفْتُوقِ: يَجُوزُ لُبْسُهُ بِكُلِّ حَالٍ.

Ia juga berkata: "Maka diketahui bahwa sabdanya: 'maka pakailah khuf dan potonglah hingga di bawah mata kaki' adalah penjelasan apa yang boleh dipakai dan keluar dari batas khuf yang dilarang, menjadi seperti sandal yang dibolehkan. Jika tidak, tidak ada beda antara memakai yang dipotong dan yang utuh. Dijadikan untuk yang tidak mendapatkan sandal karena alasan sebelumnya. Kemudian ia memberi keringanan setelah itu memakai khuf dan celana bagi yang tidak memiliki, maka yang dipotong tetap seperti celana yang robek: boleh dipakai dalam segala keadaan. 

وَأَيْضًا: فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا نَهَى الْمُحْرِمَ عَنِ الْخُفِّ، كَمَا رَخَّصَ فِي الْمَسْحِ عَلَى الْخُفِّ، وَالْمَقْطُوعُ وَمَا أَشْبَهَ مِنَ الْجُمْجُمِ، وَالْحِذَاءِ وَنَحْوُهُمَا: لَيْسَ بِخُفٍّ، وَلَا فِي مَعْنَى الْخُفِّ، فَلَا يَدْخُلُ فِي الْمَنْعِ، كَمَا لَمْ يَدْخُلْ فِي الْمَسْحِ، لَا سِيَّمَا وَنَهْيُهُ عَنِ الْخُفِّ: إِذْنٌ فِيمَا سِوَاهُ؛ لِأَنَّهُ سُئِلَ عَمَّا يَلْبَسُ الْمُحْرِمُ مِنَ الثِّيَابِ، فَقَالَ: (لَا يَلْبَسُ كَذَا..)، فَحَصَرَ الْمُحرَّمَ، فَمَا لَمْ يَذْكُرْهُ فَهُوَ مُبَاحٌ.

Selain itu: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam hanya melarang muhrim dari khuf, sebagaimana memberi keringanan mengusap khuf. Yang dipotong dan sejenisnya seperti jumjum, sepatu, dan lainnya: bukan khuf, bukan pula maknanya, maka tidak masuk dalam larangan, sebagaimana tidak masuk dalam mengusap. Apalagi larangannya terhadap khuf adalah izin terhadap selainnya; karena ditanya tentang apa yang boleh dipakai muhrim dari pakaian, lalu ia berkata: 'tidak boleh memakai ini...', sehingga membatasi yang haram. Maka apa yang tidak disebutkan adalah boleh. 

وَأَيْضًا: فَإِنَّهُ إِمَّا أَنْ يَلْحَقَ بِالْخُفِّ، أَوْ بِالنَّعْلِ، وَهُوَ بِالنَّعْلِ أَشْبَهُ، فَإِنَّهُ لَا يَجُوزُ الْمَسْحُ عَلَيْهِ كَالنَّعْلِ.
وَأَيْضًا: فَإِنَّ الْقَدَمَ عُضْوٌ يَحْتَاجُ إِلَى لُبْسٍ، فَلَا بُدَّ أَنْ يُبَاحَ مَا تَدْعُو إِلَيْهِ الْحَاجَةُ، وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ لَا يَتَمَكَّنُ مِنَ الْمَشْيِ فِي النَّعْلِ، فَلَا بُدَّ أَنْ يُرَخَّصَ لَهُمْ فِيمَا يُشْبِهُهُ مِنَ الْجُمْجُمِ وَالْمَدَاسِ وَنَحْوِهِمَا " انتهى من " شرح عمدة الفقه"(3/ 46).

Selain itu: apakah disamakan dengan khuf atau sandal? Ia lebih mirip sandal, karena tidak boleh mengusapnya seperti sandal.

Selain itu: kaki adalah anggota yang butuh pakaian, maka harus dibolehkan apa yang dibutuhkan kebutuhan. Banyak orang tidak mampu berjalan dengan sandal, maka harus diberi keringanan memakai yang mirip seperti jumjum, madas, dan sejenisnya." (dari Syarh 'Umdah al-Fiqh (3/46)).

Kesimpulan

Mayoritas ulama (Maliki, Syafi'i, Hanbali) mengharamkan alas kaki yang menutupi sebagian besar atau seluruh kaki (meski di bawah mata kaki) kecuali jika tidak ada sandal, dan wajib fidyah jika melanggar. Hanafiyah lebih longgar, membolehkan selama tidak menutupi mata kaki. Ibnu Taimiyah dan sebagian ulama memilih pendapat yang membolehkan apa yang di bawah mata kaki secara mutlak (mirip mazhab Hanafi).  

Pendapat yang lebih hati-hati (mayoritas) adalah menghindari alas kaki yang menutupi jari atau punggung kaki, dan memilih sandal terbuka seperti yang biasa digunakan dalam ihram. 

LihatTutupKomentar