Pengajian Kitab Kuning Tafsir Jalalain oleh Pengasuh Pesantren

Nama kitab yang dikaji: Tafsir Jalalain, Sahih Bukhari, Al-Umm Pengajar: Pengasuh Pondok Pesantren Al-Khoirot Malang Hari dan Waktu: 31 Januari

Pengajian Kitab Kuning Tafsir Jalalain oleh Pengasuh Pesantren

Nama kitab yang dikaji:  Tafsir Jalalain, Sahih Bukhari, Al-Umm 

Pengajar: Pengasuh Pondok Pesantren Al-Khoirot Malang 

Hari dan Waktu:  31 Januari  2026; 

Jam: 05.00 s/d 06.00 WIB PAGI

Livestreaming: Al-Khoirot Official 

Pengajian Kitab Kuning Tafsir Jalalain, Sahih Bukhari Hadits No. 2295, 2296, Al-Umm Imam Syafi'i, Konsultasi / Tanya Jawab Islam 

Daftar Isi

  1. Tafsir Jalalain 
  2. Sahih Bukhari Hadits No. 2295, 2296
  3. Al-Umm Imam Syafi'i
  4. Konsultasi / Tanya Jawab Islam  

Bab: Orang yang Menjamin Utang Jenazah 

 بَابُ مَنْ تَكَفَّلَ عَنْ مَيِّتٍ دَيْنًا فَلَيْسَ لَهُ أَنْ يَرْجِعَ وَبِهِ قَالَ الْحَسَنُ

Bab: Orang yang menanggung (menjamin) utang seorang mayat, maka ia tidak punya hak untuk membatalkan jaminannya (menarik kembali). Demikian pula pendapat Al-Hasan (Al-Bashri).

 Sahih Bukhari Hadits No. 2295

٢٢٩٥ - حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ ،  عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي عُبَيْدٍ ،  عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ رضي الله عنه: «أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ أُتِيَ بِجَنَازَةٍ لِيُصَلِّيَ عَلَيْهَا، فَقَالَ: هَلْ عَلَيْهِ مِنْ دَيْنٍ، قَالُوا: لَا، فَصَلَّى عَلَيْهِ، ثُمَّ أُتِيَ بِجَنَازَةٍ أُخْرَى، فَقَالَ: هَلْ عَلَيْهِ مِنْ دَيْنٍ، قَالُوا: نَعَمْ، قَالَ: صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ، قَالَ أَبُو قَتَادَةَ: عَلَيَّ دَيْنُهُ يَا رَسُولَ اللهِ، فَصَلَّى عَلَيْهِ.»

Hadis No. 2295

Sanad: Telah menceritakan kepada kami Abu 'Ashim, dari Yazid bin Abi 'Ubaid, dari Salamah bin al-Akwa' radhiyallahu 'anhu:

    "Bahwasanya Nabi ﷺ didatangkan sesosok jenazah agar beliau menyalatinya. Beliau bertanya: 'Apakah ia punya utang?' Mereka (para sahabat) menjawab: 'Tidak.' Maka beliau pun menyalatinya.

    Kemudian didatangkan lagi jenazah lain, beliau bertanya: 'Apakah ia punya utang?' Mereka menjawab: 'Ya.' Beliau bersabda: 'Shalatkanlah sahabat kalian ini (beliau sendiri tidak ikut menyalati).'

    Abu Qatadah berkata: 'Utangnya menjadi tanggunganku, wahai Rasulullah.' Maka beliau ﷺ pun menyalati jenazah tersebut."

Hadis No. 2296

٢٢٩٦ - حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللهِ :  حَدَّثَنَا سُفْيَانُ :  حَدَّثَنَا عَمْرٌو :  سَمِعَ مُحَمَّدَ بْنَ عَلِيٍّ ،  عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رضي الله عنهم قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «لَوْ قَدْ جَاءَ مَالُ الْبَحْرَيْنِ قَدْ أَعْطَيْتُكَ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا. فَلَمْ يَجِئْ مَالُ الْبَحْرَيْنِ حَتَّى قُبِضَ النَّبِيُّ ﷺ، فَلَمَّا جَاءَ مَالُ الْبَحْرَيْنِ أَمَرَ أَبُو بَكْرٍ فَنَادَى: مَنْ كَانَ لَهُ عِنْدَ النَّبِيِّ ﷺ عِدَةٌ، أَوْ دَيْنٌ فَلْيَأْتِنَا، فَأَتَيْتُهُ فَقُلْتُ: إِنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ لِي كَذَا وَكَذَا، فَحَثَى لِي حَثْيَةً، فَعَدَدْتُهَا، فَإِذَا هِيَ خَمْسُمِائَةٍ، وَقَالَ: خُذْ مِثْلَيْهَا.»

Hadis No. 2296

Sanad: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah; Telah menceritakan kepada kami Sufyan; Telah menceritakan kepada kami 'Amru; ia mendengar Muhammad bin Ali, dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Nabi ﷺ bersabda:

    "'Seandainya harta dari Bahrain telah datang, niscaya aku akan memberimu sekian, sekian, dan sekian (Nabi memberi isyarat dengan tangannya).'

    Namun harta Bahrain tersebut belum kunjung datang hingga Nabi ﷺ wafat. Ketika harta Bahrain akhirnya tiba, Abu Bakar memerintahkan seseorang untuk berseru: 'Siapa saja yang memiliki janji atau piutang dari Nabi ﷺ, maka datanglah kepada kami.'

    Maka aku mendatangi Abu Bakar dan berkata: 'Sesungguhnya Nabi ﷺ telah berjanji kepadaku begini dan begitu.' Lalu Abu Bakar mencidukkan (uang) untukku satu cidukan. Aku pun menghitungnya, ternyata jumlahnya lima ratus. Kemudian Abu Bakar berkata: 'Ambillah dua kali lipat lagi dari jumlah itu (sehingga totalnya 1.500).'" 

Kitab Al-Umm Imam Syafi'i

بَابٌ كَيْفَ قِرَاءَةُ الْمُصَلِّي

 Bab: Bagaimana Cara Membaca bagi Orang yang Shalat

 
(قَالَ الشَّافِعِيُّ - رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى -): قَالَ اللَّهُ تبارك وتعالى لِنَبِيِّهِ - ﷺ - ﴿وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلا﴾ (قَالَ الشَّافِعِيُّ): وَأَقَلُّ التَّرْتِيلِ تَرْكُ الْعَجَلَةِ فِي الْقُرْآنِ عَنْ الْإِبَانَةِ وَكُلَّمَا زَادَ عَلَى أَقَلِّ الْإِبَانَةِ فِي الْقِرَاءَةِ كَانَ أَحَبَّ إلَيَّ مَا لَمْ يَبْلُغْ أَنْ تَكُونَ الزِّيَادَةُ فِيهَا تَمْطِيطًا.

وَأُحِبُّ مَا وَصَفْت لِكُلِّ قَارِئٍ فِي صَلَاةٍ وَغَيْرِهَا وَأَنَا لَهُ فِي الْمُصَلِّي أَشَدُّ اسْتِحْبَابًا مِنْهُ لِلْقَارِئِ فِي غَيْرِ صَلَاةٍ فَإِذَا أَيْقَنَ الْمُصَلِّي أَنْ لَمْ يَبْقَ مِنْ الْقِرَاءَةِ شَيْءٌ إلَّا نَطَقَ بِهِ أَجْزَأَتْهُ قِرَاءَتُهُ وَلَا يُجْزِئُهُ أَنْ يَقْرَأَ فِي صَدْرِهِ الْقُرْآنَ وَلَمْ يَنْطِقْ بِهِ لِسَانُهُ وَلَوْ كَانَتْ بِالرَّجُلِ تَمْتَمَةٌ لَا تَبِينُ مَعَهَا الْقِرَاءَةُ أَجْزَأَتْهُ قِرَاءَتُهُ إذَا بَلَغَ مِنْهَا مَا لَا يُطِيقُ أَكْثَرَ مِنْهُ وَأَكْرَهُ أَنْ يَكُونَ إمَامًا وَإِنْ أَمَّ أَجْزَأَ إذَا أَيْقَنَ أَنَّهُ قَرَأَ مَا تُجْزِئُهُ بِهِ صَلَاتُهُ، وَكَذَلِكَ الْفَأْفَاءُ أَكْرَهُ أَنْ يَؤُمَّ فَإِنْ أَمَّ أَجْزَأَهُ وَأُحِبُّ أَنْ لَا يَكُونَ الْإِمَامُ أَرَتُّ وَلَا أَلْثَغُ وَإِنْ صَلَّى لِنَفْسِهِ أَجْزَأَهُ وَأَكْرَهُ أَنْ يَكُونَ الْإِمَامُ لَحَّانًا؛ لِأَنَّ اللَّحَّانَ قَدْ يُحِيلُ مَعَانِيَ الْقُرْآنِ فَإِنْ لَمْ يَلْحَنْ لَحْنًا يُحِيلُ مَعْنَى الْقُرْآنِ أَجْزَأَتْهُ صَلَاتُهُ.

وَإِنْ لَحَنَ فِي أُمِّ الْقُرْآنِ لِحَانًا يُحِيلُ مَعْنَى شَيْءٍ مِنْهَا لَمْ أَرَ صَلَاتَهُ مُجْزِئَةً عَنْهُ وَلَا عَمَّنْ خَلْفَهُ وَإِنْ لَحَنَ فِي غَيْرِهَا كَرِهْته وَلَمْ أَرَ عَلَيْهِ إعَادَةً؛ لِأَنَّهُ لَوْ تَرَكَ قِرَاءَةَ غَيْرِ أُمِّ الْقُرْآنِ وَأَتَى بِأُمِّ الْقُرْآنِ رَجَوْت أَنْ تُجْزِئَهُ صَلَاتُهُ وَإِذَا أَجْزَأَتْهُ أَجْزَأَتْ مَنْ خَلْفَهُ إنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى.
وَإِنْ كَانَ لَحْنُهُ فِي أُمِّ الْقُرْآنِ وَغَيْرِهَا لَا يُحِيلُ الْمَعْنَى أَجْزَأَتْ صَلَاتُهُ وَأَكْرَهُ أَنْ يَكُونَ إمَامًا بِحَالٍ.
 
Bab: Bagaimana Cara Membaca bagi Orang yang Shalat

Imam Asy-Syafi'i –semoga Allah merahmatinya– berkata:
Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman kepada Nabi-Nya ﷺ: "Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan perlahan/tartil" (QS. Al-Muzzammil: 4).

Imam Asy-Syafi'i berkata:
Standar minimal tartil adalah meninggalkan sikap tergesa-gesa dalam membaca agar setiap hurufnya terdengar jelas (al-ibanah). Semakin jelas bacaannya melebihi standar minimal kejelasan tersebut, maka itu lebih aku sukai, selama tidak berlebihan sampai pada tingkat tamthith (memanjang-manjangkan suara secara tidak wajar/berlebihan).

Aku menyukai cara membaca yang telah aku sifatkan tadi bagi setiap pembaca, baik dalam shalat maupun di luar shalat. Namun, aku jauh lebih menekankan kesunnahannya bagi orang yang sedang shalat daripada yang di luar shalat.

 Hukum Menggerakkan Lisan

Apabila orang yang shalat telah yakin bahwa tidak ada satu bagian pun dari bacaan (yang diwajibkan) kecuali ia telah melafalkannya, maka bacaannya sah. Namun, tidak sah hukumnya jika ia hanya membaca Al-Qur'an di dalam hati tanpa menggerakkan lisannya (melafalkannya).

 Hukum Imam yang Memiliki Gangguan Bicara atau Cacat Huruf

 Penderita Tamtamah (Gagap/Terbata-bata): Jika seseorang memiliki gangguan bicara (tamtamah) sehingga bacaannya tidak terdengar jelas, shalatnya tetap sah bagi dirinya sendiri jika ia sudah berusaha semaksimal kemampuannya. Namun, aku makruhkan ia menjadi imam. Jika ia tetap menjadi imam, shalatnya sah selama ia yakin telah membaca kadar yang sah dalam shalat.
 Penderita Fa'fa' (Sering mengulang huruf Fa): Aku makruhkan ia menjadi imam, namun jika ia mengimami, shalatnya tetap sah.
 Penderita Arat (Cacat bicara berat) dan Altsagh (Cadel): Aku lebih suka jika imam bukanlah orang yang arat atau altsagh. Jika ia shalat untuk dirinya sendiri, shalatnya sah.
 

Hukum Imam yang Lahhan (Salah Tajwid/I'rab) 

 Aku makruhkan imam yang lahhan (sering salah bacaan/tata bahasa), karena kesalahan tersebut terkadang dapat mengubah makna Al-Qur'an.

1. Kesalahan yang Tidak Mengubah Makna: Jika ia melakukan kesalahan yang tidak sampai mengubah makna, shalatnya tetap sah.
2. Kesalahan pada Al-Fatihah (Ummul Qur'an): Jika ia melakukan kesalahan bacaan pada Al-Fatihah yang sampai mengubah maknanya, maka menurutku shalatnya tidak sah, begitu pula shalat orang yang bermakmum di belakangnya.
3. Kesalahan di Luar Al-Fatihah: Jika ia salah pada surat selain Al-Fatihah, aku memakruhkannya namun ia tidak perlu mengulangi shalatnya. Karena seandainya ia meninggalkan bacaan surat (setelah Al-Fatihah) dan hanya membaca Al-Fatihah saja, aku berharap shalatnya tetap sah. Jika shalatnya sah, maka sah pula shalat makmum di belakangnya, insya Allah Ta'ala.

Kesimpulan:
Jika kesalahannya (lahn) pada Al-Fatihah maupun surat lainnya tidak sampai mengubah makna, maka shalatnya sah, namun aku tetap memakruhkannya menjadi imam dalam kondisi apa pun. []

Konsultasi Agama Islam

LihatTutupKomentar