Jual Beli Emas secara Cicilan

Jual Beli Emas secara Cicilan atau mencicil setiap bulan dengan jumlah cicilan yang sudah ditentukan oleh kedua belah pihak.

Jual Beli Emas secara Cicilan

Jual Beli Emas secara Cicilan atau mencicil setiap bulan dengan jumlah cicilan yang sudah ditentukan oleh kedua belah pihak.

Fatwa Dar al-Ifta' al-Misriyyah (Darul Ifta Mesir), yang membahas hukum jual beli emas yang telah diolah (mashugh/perhiasan) secara tempo (ajil) antara pedagang grosir dan eceran, serta pertukaran emas lama dengan baru untuk pelanggan biasa atau pedagang. 

 

 السؤال:

هل يجوز شراء الذهب بالآجل، وذلك بين تاجر القطاعي وتاجر الجملة، أي: من تاجر لتاجر، ومثال ذلك: أن يشتري كيلو مقابل ربع كيلو على أربعة أسابيع بالإضافة إلى فرق المصنعية على زيادة بسيطة عن مصنعية الكاش.

وما حكم تبديل الذهب القديم من تاجر القطاعي للزبون العادي، فهل يجوز مبادلة 100 جرام مقابل 100 جرام بالإضافة إلى فرق المصنعية، أم كما يشاع لا بد من بيعه أولًا بالنقد، ثم شراؤه بالنقد مرة أخرى بالإضافة إلى فرق المصنعية، وهل ذلك ينطبق على التجار أيضًا؟

Baca juga: Hukum jual beli emas digital dan cicilan 

الجواب:

ورد النهي النبوي عن بيع الذهب بالذهب والفضة بالفضة نسيئة أو متفاضلًا في عدة أحاديث؛ منها حديث أبي سعيد الخدري رضي الله تعالى عنه وغيره أن رسول الله صلى الله تعالى عليه وآله وسلم قال: «لَا تَبِيعُوا الذَّهَبَ بالذَّهَبِ إلّا مِثْلًا بمِثْلٍ، ولا الفِضّةَ بالفِضّةِ إلّا مِثْلًا بمِثْلٍ، ولا تُفَضِّلُوا بعضَها على بعضٍ، ولا تَبِيعُوا مِنها غائِبًا بناجِزٍ» رواه البخاري وأحمد واللفظ له؛ وذلك لعلة النقدية وكونهما أثمانًا (وسيطًا للتبادل).

أما الذهب والفضة المصوغان فإنهما خرجا بذلك عن كونهما أثمانًا (وسيطًا للتبادل)، وانتفت عنهما علة النقدية التي توجب فيهما شرط التماثل وشرط الحلول والتقابض، ويترتب عليها تحريم التفاضل وتحريم البيع الآجل، فصارا كأي سلعة من السلع التي يجري فيها اعتبار قيمة الصنعة -وهي هنا "الصياغة"؛ إذ من المعلوم أن الحكم يدور مع علته وجودًا وعدمًا، وهذا مذهب الشيخ ابن تيمية وتلميذه ابن القيم وغيرهما، وهو منقول عن معاوية رضي الله عنه وأهل الشام، ونُقِلَ أيضًا عن الإمام مالك رحمه الله، وذكره ابن قدامة عن الحنابلة حيث جوزوا إعطاء الأجر على الصياغة، وعَمَلُ الناس عليه -كما في "الإنصاف" للمِرداوِي-، وهذا كله بشرط أن لا تكون الصياغة مُحَرَّمة كالمشغولات الذهبية التي من شأنها أن لا يلبسها إلا الذكور مِن غير أن تكون لهم رخصة فيها.

قال الإمام ابن القيم الحنبلي في "إعلام الموقعين" (2/ 108، ط. دار الكتب العلمية): [الحلية المباحة صارت بالصنعة المباحة من جنس الثياب والسلع لا من جنس الأثمان، ولهذا لم تجب فيها الزكاة، فلا يجري الربا بينها وبين الأثمان كما لا يجري بين الأثمان وبين سائر السلع وإن كانت من غير جنسها، فإن هذه بالصناعة قد خرجت عن مقصود الأثمان وأُعِدَّت للتجارة، فلا محذور في بيعها بجنسها] اهـ.
وبناءً على ما سبق: فإنه لا مانع شرعًا من شراء الذهب المصوغ وبيعه بثمنٍ: كلّه أو بعضه آجلٌ، كما يجوز استبدال الذهب الجديد منه بالقديم مع دفع ثمن الصناعة، وهذا يجوز في حق التاجر البائع، كما يجوز في حق المشتري أيضًا.
والله سبحانه وتعالى أعلم.

المصدر 

 Pertanyaan:

Apakah boleh membeli emas secara tempo (ajil), yaitu antara pedagang eceran dan pedagang grosir, yakni dari pedagang ke pedagang? Contohnya: membeli satu kilo dengan imbalan seperempat kilo selama empat minggu, ditambah selisih biaya pembuatan (mashna'iyyah) dengan tambahan sedikit di atas biaya pembuatan tunai (kas).

Dan apa hukum menukar emas lama dari pedagang eceran kepada pelanggan biasa? Apakah boleh menukar 100 gram dengan 100 gram ditambah selisih biaya pembuatan, ataukah seperti yang tersebar bahwa harus menjualnya dulu dengan uang tunai, kemudian membelinya lagi dengan uang tunai ditambah selisih biaya pembuatan? Dan apakah hal itu juga berlaku bagi para pedagang?

 Jawaban:

Telah datang larangan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tentang penjualan emas dengan emas dan perak dengan perak secara tempo (nasi'ah) atau dengan lebihan (mutafadhilan) dalam beberapa hadits; di antaranya hadits Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhu dan lainnya, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa ali wa sallam bersabda:  

"Janganlah kalian menjual emas dengan emas kecuali sama dengan sama, dan janganlah perak dengan perak kecuali sama dengan sama, janganlah kalian lebihkan sebagian atas sebagian, dan janganlah kalian menjual yang absen dengan yang tunai."  

(Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Ahmad, dan lafazh ini milik Ahmad).  

Hal itu karena 'illah (sebab hukum) adalah sifat uang (naqdiyyah) dan statusnya sebagai harga (atsman), yaitu sebagai media pertukaran.

Adapun emas dan perak yang telah diolah (mashugh), maka ia telah keluar dari status sebagai harga (media pertukaran) karena pembuatan/perhiasan tersebut. Hilanglah darinya 'illah naqdiyyah yang mewajibkan syarat kesetaraan (tamatsul), penyerahan langsung (hulul), dan penguasaan langsung (taqabudh), serta akibatnya adalah haramnya lebihan (tafadhul) dan haramnya jual beli tempo (ajil). Maka ia menjadi seperti barang dagangan lainnya yang di dalamnya diperhitungkan nilai industri –yaitu di sini "pembuatan/perhiasan"– karena diketahui bahwa hukum berputar mengikuti 'illahnya, ada atau tidak adanya.  

Ini adalah mazhab Syaikh Ibn Taimiyyah dan muridnya Ibn al-Qayyim serta yang lainnya, dan diriwayatkan dari Mu'awiyah radhiyallahu 'anhu serta penduduk Syam, juga diriwayatkan dari Imam Malik rahimahullah, dan disebutkan oleh Ibn Qudamah dari kalangan Hanabilah bahwa mereka membolehkan memberikan upah atas pembuatan/perhiasan, serta praktik manusia atas hal itu –seperti dalam "al-Inshaf" karya al-Mardawi–. Semua ini dengan syarat pembuatan/perhiasan tersebut tidak haram, seperti perhiasan emas yang biasanya tidak dipakai kecuali oleh laki-laki tanpa ada rukhshah (keringanan) bagi mereka.

Imam Ibn al-Qayyim al-Hanbali dalam "I'lam al-Muwaqqi'in" (2/108, cet. Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah) berkata:  

[Perhiasan yang dibolehkan menjadi dengan industri yang dibolehkan dari jenis pakaian dan barang dagangan, bukan dari jenis harga. Oleh karena itu tidak wajib zakat padanya, maka tidak berlaku riba antara itu dan harga, sebagaimana tidak berlaku antara harga dan seluruh barang dagangan meskipun bukan sejenisnya. Karena ini dengan industri telah keluar dari tujuan harga dan disiapkan untuk perdagangan, maka tidak ada larangan dalam menjualnya dengan sejenisnya.] selesai.

Berdasarkan hal di atas: Tidak ada larangan syar'i dari membeli emas yang telah diolah dan menjualnya dengan harga yang seluruhnya atau sebagiannya tempo (ajil), sebagaimana boleh menukar emas baru dengan yang lama dengan membayar harga industri/pembuatan. Hal ini boleh bagi pedagang penjual, sebagaimana juga boleh bagi pembeli.

Wallahu subhanahu wa ta'ala a'lam.

Kesimpulan (alkhoirot.net)

Pendapat ini adalah pendapat yang dipilih oleh Darul Ifta Mesir, yang mengikuti mazhab Ibn Taimiyyah, Ibn al-Qayyim, dan sebagian ulama lain (seperti Malik dalam riwayat tertentu), di mana emas/perhiasan yang sudah diolah dianggap sebagai barang dagangan biasa (bukan lagi "uang" murni), sehingga boleh dijual secara tempo, dengan lebihan sebagai nilai pembuatan, baik antar pedagang maupun dengan pelanggan biasa, tanpa harus menjual dulu lalu membeli lagi.  

Baca juga: Hukum jual beli emas digital dan cicilan

Namun, perlu diketahui bahwa ada perbedaan pendapat kuat di kalangan ulama: mayoritas (Hanafi, Maliki mayoritas, Syafi'i, Hanbali mayoritas) melarang jual beli emas (termasuk mashugh) secara tempo atau dengan lebihan antar sesamanya, karena tetap dianggap ribawi. Pendapat yang membolehkan ini adalah qaul mu'tabar (pendapat yang kuat dan dipilih oleh sebagian ulama besar), tapi bukan ijma'. 

LihatTutupKomentar