Karomah wali menurut Ulama Aswaja Ahlussunnah, Sufi dan Muktazilah
Judul: Karomah / keramat wali dalam keyakinan Aswaja dan kelompok lain
Judul asal: كرامات الأولياء بين اعتقاد أهل السنة والجماعة واعتقاد الفرق الأخرى
Penulis: Hasan Abu al-Ashbal al-Zuhairi (حسن أبو الأشبال الزهيري)
Penerjemah: alkhoirot.net | Al-Khoirot Research and Publication
Bidang studi: Aqidah, akidah
Daftar Isi
- Pandangan Mu'tazilah terhadap karamah para wali
- Pandangan kaum sufi terhadap karamah para waliullah
- Sikap tengah Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam menetapkan karamah para wali dengan dalil Al-Qur'an, As-Sunnah, dan ijma'
- Perbedaan antara karamah, mu'jizat, dan apa yang terjadi pada tangan para penyihir serta peramal
- Jalan memperoleh ini pada nabi dan wali adalah kejujuran dan keadilan, bukan dusta, pengkhianatan, dan kezaliman.
- Kembali ke: Aqidah dan Kitab Kuning
كرامات الأولياء ثابتة بالكتاب والسنة وإجماع السلف الصالح، فمذهب أهل
السنة والجماعة التوسط في إثبات كرامات الأولياء، فلا مغالاة كالصوفية، ولا نفي
لإثبات الكرامات كالمعتزلة، وفرق كبير بين معجزات الأنبياء وكرامات الأولياء،
وأعمال السحرة والكهنة والعرافين، ومعجزات الأنبياء كثيرة وكرامات الأولياء
ثابتة، ولا تتحقق إلا لمن اتقى الله وحسنت متابعته للنبي صلى الله عليه وسلم.
Karamah para wali Allah itu tetap (tsabit) berdasarkan Al-Qur'an, As-Sunnah, dan ijma' salafush shalih. Maka mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah sikap tengah (wasathiyyah) dalam menetapkan karamah para wali: tidak berlebihan seperti kaum sufi, dan tidak menafikan karamah seperti kaum Mu'tazilah. Ada perbedaan besar antara mu'jizat para nabi, karamah para wali, serta perbuatan para penyihir, dukun, dan peramal. Mu'jizat para nabi sangat banyak, karamah para wali tetap ada, dan karamah itu tidak terjadi kecuali pada orang yang bertakwa kepada Allah serta baik dalam mengikuti Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
كرامات الأولياء بين اعتقاد أهل السنة والجماعة واعتقاد الفرق الأخرى
Karamah para wali antara keyakinan Ahlus Sunnah wal Jamaah dan keyakinan kelompok-kelompok lain
إن الحمد لله، نحمده تعالى ونستعينه ونستهديه، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات
أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا
الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، صلى الله عليه وعلى آله وصحبه
أجمعين.
أما بعد:
Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan petunjuk
kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari keburukan jiwa kami dan
kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk maka tidak
ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan maka tidak
ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain
Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah
hamba dan rasul-Nya. Semoga shalawat dan salam tercurah kepadanya,
keluarganya, serta seluruh sahabatnya.
Amma ba'du:
فإن أصدق الحديث كتاب الله تعالى، وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم، وشر
الأمور محدثاتها، وكل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة.
ما زال الكلام
موصولاً عن وسطية أهل السنة والجماعة بين فرق الأمة فيما يتعلق بكثير من مسائل
الاعتقاد.
من هذه المسائل الاعتقادية كرامات الأولياء، هل هي ثابتة
لهم حقاً أم أنها غير ثابتة؟
اعتقاد المعتزلة في كرامات الأولياء
أنكرها المعتزلة وغالى فيها المتصوفة،
أما المعتزلة فقالوا باستحالة ثبوت الكرامة للولي، واحتجوا لذلك بحجج ظنوها
عقلية، فقالوا: إذا أثبتنا الكرامة التي هي خوارق العادات للأولياء، فربما اشتبه
الولي بالنبي، وربما اشتبه الولي بالساحر، وربما اشتبه الساحر بالنبي؛ ولذلك نحن
نمنع هذا الباب ونغلقه إغلاقاً.
الرد على المعتزلة في هذا الزعم: أن
الولي لا ينال هذه الكرامة ولا تجرى على يديه إلا باتباعه للنبي عليه الصلاة
والسلام، ولذلك يستحيل أن يدعي ولي لله عز وجل أنه نبي، ولو ادعى أنه نبي لا تجرى
على يديه هذه الكرامات، فهذا المأمن من هذا الالتباس والاشتباه، أن الولي لا يمكن
أن يزعم في يوم أنه نبي، فهذا فارق بين الولاية والنبوة، إذ إن الولي لا ينال من
كرامات الله عز وجل إلا بحسن اتباعه واقتدائه بالنبي عليه الصلاة والسلام، فإن
زعم هذا الولي أنه نبي في يوم من الأيام فهو كاذب؛ ولذلك لا يستحق أن يكون ولياً
لله عز وجل، وأما نفي الاشتباه والالتباس بين الولي والنبي من جهة وبين الساحر من
جهة أخرى: أن الساحر إنما يستعين بأسياده من الشياطين في قضاء الحاجات ومعرفة
الأخبار، وهذا كفر بالله عز وجل؛ ولذلك قد ثبت في السنة أن الخبر يكون في السماء
حتى ينزل إلى السماء الدنيا؛ فتصعد الشياطين فتسترق السمع، فيأخذون الخبر فيضيفون
عليه مائة كذبة من عندهم فيوحون بها إلى أوليائهم من الإنس وهم السحرة والكهان
والعرافون؛ ولذلك قال النبي عليه الصلاة والسلام: (حد الساحر ضربة بالسيف)،
واختلف أهل العلم في كفر الساحر من عدمه، ومذهب الجماهير أنه يستتاب ثلاثة أيام
فإن تاب وإلا قتل.
إذاً: النبي تأتي الآية على يديه وهي معجزة يتحدى
بها الخلائق أجمع خلافاً للساحر وخلافاً للولي كذلك، فلا التباس ولا اشتباه بين
كرامة الولي ومعجزة النبي، وما يكون من خوارق العادات على يد السحرة والكهان
والعرافين، فهذه الحجج وغيرها ترد على المعتزلة في ردهم لإثبات كرامات
الأولياء.
وإذا كنا نتكلم عن كرامات الأولياء فيحسن بنا أن نعرف
الكرامة ابتداء، ثم نعرف الأولياء.
فالكرامات: جمع كرامة، وهي خوارق
العادات التي يجريها الله عز وجل على أيدي بعض خلقه من الأنبياء والصالحين،
وقولنا: خوارق العادات احتراز مما اعتاده الناس وتعارفوا عليه، وليس أمراً غريباً
على أعرافهم وعاداتهم، أما الأولياء فالأولياء: جمع ولي، والولي: هو القريب،
يقال: فلان أولى فلاناً أو ولي فلان، أو يلي فلاناً، أي: هو قريب منه مجاور له،
فالأولياء هم أقرب الناس إلى الله عز وجل، وهم أولى الناس بشرع الله عز وجل،
فالولي تجرى على يديه خوارق العادات، والنبي تجرى على يديه خوارق العادات، وهذان
فضل ومنة من الله عز وجل، أما الساحر والكاهن فتجرى على يديه خوارق العادات كذلك،
ولكن أصلها الشيطان، وأصلها إبليس، وبين المعجزة على يد النبي والكرامة على يد
الولي، وخوارق العادات على يد السحرة والكهان من الفروق الشيء الكثير التي سنتعرف
عليها بإذن الله تعالى. هذا الفريق الأول وهم المعتزلة وبيان موقفهم من إثبات
كرامة الأولياء.
Sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah Kitabullah Ta'ala, petunjuk yang
terbaik adalah petunjuk Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, seburuk-buruk
perkara adalah yang diada-adakan, setiap yang diada-adakan adalah bid'ah, dan
setiap bid'ah adalah sesat.
Pembicaraan masih berlanjut tentang
sikap wasathiyyah (tengah) Ahlus Sunnah wal Jamaah di antara berbagai firqah
umat dalam banyak masalah akidah.
Di antara masalah akidah tersebut
adalah karamah para wali: apakah benar-benar tetap ada bagi mereka ataukah
tidak tetap?
Keyakinan Mu'tazilah terhadap karamah para wali
Mu'tazilah mengingkarinya, sedangkan kaum sufi
berlebih-lebihan di dalamnya. Adapun Mu'tazilah, mereka mengatakan mustahil
adanya karamah bagi wali, dan mereka berdalil dengan dalil-dalil yang mereka
anggap rasional: "Jika kita menetapkan karamah –yaitu hal-hal yang melampaui
kebiasaan– bagi para wali, maka mungkin wali disamakan dengan nabi, mungkin
wali disamakan dengan penyihir, dan mungkin penyihir disamakan dengan nabi.
Oleh karena itu, kami menutup pintu ini sepenuhnya."
Bantahan
terhadap Mu'tazilah dalam klaim tersebut: Wali tidak memperoleh karamah ini
dan tidak terjadi melalui tangannya kecuali karena mengikuti Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam. Maka mustahil seorang wali Allah mengklaim dirinya nabi.
Seandainya ia mengklaim sebagai nabi, maka karamah itu tidak akan terjadi
melalui tangannya. Inilah jaminan keamanan dari kekeliruan tersebut: wali
tidak mungkin mengklaim sebagai nabi suatu hari pun. Inilah perbedaan antara
wali dan kenabian, karena wali hanya memperoleh karamah dari Allah Ta'ala
karena baiknya ia mengikuti dan meneladani Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
Jika wali itu mengklaim sebagai nabi suatu saat, maka ia pendusta dan tidak
layak menjadi wali Allah. Adapun menafikan kekeliruan antara wali dan nabi di
satu sisi, serta antara wali dan penyihir di sisi lain: penyihir hanya dibantu
oleh tuan-tuan mereka dari kalangan setan untuk memenuhi kebutuhan dan
mengetahui berita. Ini adalah kekufuran kepada Allah Ta'ala. Oleh karena itu,
telah tetap dalam sunnah bahwa berita ada di langit hingga turun ke langit
dunia, lalu setan-setan naik mencuri dengar, mengambil berita itu lalu
menambahkan seratus kedustaan darinya, kemudian mereka bisikkan kepada
wali-wali mereka dari kalangan manusia yaitu para penyihir, dukun, dan
peramal. Karena itu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Hukuman
penyihir adalah dipenggal dengan pedang." Para ulama berbeda pendapat tentang
kekufuran penyihir atau tidak, dan pendapat mayoritas adalah ia diminta
bertaubat tiga hari, jika bertaubat maka baik, jika tidak maka dibunuh.
Maka
nabi datang kepadanya ayat (mu'jizat) yang ia tantangkan kepada seluruh
makhluk, berbeda dengan penyihir dan berbeda pula dengan wali. Tidak ada
kekeliruan atau kesamaan antara karamah wali, mu'jizat nabi, serta hal-hal
luar biasa yang terjadi pada tangan para penyihir, dukun, dan peramal.
Dalil-dalil ini dan lainnya membantah Mu'tazilah dalam pengingkaran mereka
terhadap penetapan karamah para wali.
Dan jika kita berbicara
tentang karamah para wali, maka sepatutnya kita mendefinisikan karamah
terlebih dahulu, kemudian mendefinisikan wali.
Karamah adalah
bentuk jamak dari karamah, yaitu hal-hal yang melampaui kebiasaan yang Allah
Ta'ala jalankan melalui tangan sebagian hamba-Nya dari kalangan nabi dan
orang-orang shalih. Ungkapan kami "melampaui kebiasaan" untuk membedakan dari
hal-hal yang biasa dilakukan dan dikenal manusia, bukan sesuatu yang asing
bagi adat dan kebiasaan mereka.
Adapun wali, wali adalah bentuk
jamak dari waliy, dan wali berarti orang yang dekat. Dikatakan: fulan lebih
dekat kepada fulan, atau wali fulan, atau menangani fulan, artinya ia dekat
dan bertetangga dengannya. Maka para wali adalah orang-orang yang paling dekat
kepada Allah Ta'ala, dan mereka adalah orang-orang yang paling berhak dengan
syariat Allah Ta'ala. Wali mendapat hal-hal luar biasa melalui tangannya, nabi
juga mendapat hal-hal luar biasa melalui tangannya, keduanya adalah karunia
dan anugerah dari Allah Ta'ala. Adapun penyihir dan dukun juga mendapat
hal-hal luar biasa melalui tangannya, tetapi asalnya dari setan, asalnya dari
Iblis. Antara mu'jizat pada tangan nabi, karamah pada tangan wali, dan hal-hal
luar biasa pada tangan para penyihir serta dukun terdapat banyak perbedaan
yang akan kita ketahui dengan izin Allah Ta'ala. Ini adalah kelompok pertama,
yaitu Mu'tazilah, dan penjelasan sikap mereka terhadap penetapan karamah para
wali.
اعتقاد الصوفية في كرامات الأولياء
الفريق الثاني أثبت كرامة الأولياء، ولكنه غالى فيها جداً فأثبتها وزيادة،
وأنتم تعلمون أن البدعة في دين الله عز وجل كما تكون بالنقصان تكون كذلك
بالزيادة، وشرع الله عز وجل منزه عن الزيادة والنقصان إلا ما جاء عن الله وعن
رسوله وأجمع عليه أهل العلم، وهي أصول التشريع وأصول الديانة الثلاث: كتاب وسنة
وإجماع، خاصة ما أجمع عليه الصحابة رضي الله تعالى عنهم؛ ولذلك أجمع الصحابة بغير
خلاف بينهم على ثبوت كرامة الأولياء، كما أجمعوا على ثبوت المعجزات لجميع
الأنبياء والمرسلين.
ولكن الخلاف وقع بعد زمن الصحابة رضي الله عنهم
على يد المعتزلة، ثم على يد المتصوفة، فالصوفية قالوا: الكرامة ثابتة للأولياء
والصالحين، لكن الولي عندهم أحياناً يكون إنساناً مجنوناً أو مخبولاً أو لا عقل
له أو سفيهاً أو طريداً أو إنساناً قد ترك الأوامر وارتكب النواهي، أو أنه يفعل
الفواحش بحجة أن العامة يرونها فواحش في الظاهر وهي في حقيقة الأمر طاعات. هكذا
يظنون، حتى إن أحدهم -كما في طبقات الشعراني - كان ينزو على أنثى الحمير، فإذا
أنكر عليه العامة ضحك منهم واستهزأ وسخر؛ وقال: لأنكم ترون ما لم أفعله! فهو فعل
طاعة كما يزعم، وإن العامة رأوا بأعينهم فعل الفاحشة مع الدواب رؤية ظاهرة، فهو
يسخر منهم باعتبار أن ما قد رأوه لم يفعله حقيقة، فالعامة أهل الظاهر، وهم -أي:
الصوفية- أهل الباطن، وهكذا جعلوا للشرع ظاهراً وباطناً، خلافاً لمنهج النبي عليه
الصلاة والسلام، وقالوا: بأن خاتم الأولياء أفضل من خاتم الأنبياء صلوات ربي
وسلامه عليه.
قال ابن تيمية: وغير واحد من السلف: وهذا كفر بإجماع،
وقال ابن القيم : وهذا كفر صريح، وقال ابن قتيبة : وهذا صريح الكفر.. وغير ذلك من
أقوالهم التي أجمعوا عليها؛ لأن الإجماع منعقد أن خير الخلق هم الأنبياء
والمرسلون، وخير هؤلاء هم أولو العزم من الرسل، وخير أولي العزم هو نبينا عليه
الصلاة والسلام.
فإذا انعقد إجماع العقلاء -فضلاً عن إجماع الموحدين
والمسلمين عامة- على أن خير الخلق قاطبة هو نبينا عليه الصلاة والسلام فكيف يقبل
قول المتصوفة: خاتم الأولياء أفضل من خاتم الأنبياء؟ فهذا كلام هو عين الكفر، ومن
قال بذلك كفر وخرج من ملة الإسلام.
ولذلك تجد عند الصوفية كلاماً لا
حقيقة له ولا واقع له في كلام أهل السنة والجماعة، تجدهم يقولون: الغوث والقطب
والأوتاد والأقطاب، وغير ذلك من هذه الألفاظ الضخمة الفضفاضة، التي تزعج أسماع
السامعين، فيضطر الواحد آسفاً أن يحترم هذه الألقاب، ولا يرد على صاحب هذه
الأقوال.
والحقيقة أننا لو بحثنا في القرون الخيرية لما وجدنا شيئاً
من هذه الأقطاب في كتبهم ولا في مصنفاتهم إلا على سبيل المدح لمن علم صلاحه وحسن
عبادته، لكن من أقطاب هؤلاء الصوفية الآن من كان لا يغتسل إلا في كل أربعين يوماً
مرة، ومن يترك الصلاة والصيام والزكاة والحج، ويقول: إنني قد بلغت مرحلة اليقين،
التي هي في قول الله عز وجل: وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
[الحجر:99]، قالوا: واليقين هو: درجة إيمانية في القلب تسقط معها التكاليف، فيكون
هذا هو خاتم الأولياء، أو يكون من أكبر مريدي هؤلاء الأولياء، فإذا بلغ هذه
المنزلة سقطت عنه التكاليف، وهذا اتهام للنبي عليه الصلاة والسلام؛ لأن النبي
عليه الصلاة والسلام لم يسقط عنه شيء مما شرعه الله عز وجل عليه وعلى أمته حتى
لقي الله عز وجل، وقد طعن عمر بن الخطاب رضي الله عنه وهو في الصلاة، فلما أغشي
عليه ذكروه بقولهم له: الصلاة يا أمير المؤمنين! قال: لست أميراً للمؤمنين، ثم
يقول: نعم. الصلاة الصلاة، لا حظ في الإسلام لمن لا حظ له في الصلاة، وغير ذلك
الكثير والكثير من الآيات والأحاديث التي دلت على عدم سقوط التكاليف مطلقاً حتى
يلقى العبد الله عز وجل، فكيف يزعم هؤلاء المهرجون أن التكاليف تسقط عن العبد إذا
بلغ مرتبة الإيمان أو اليقين؟ هذا كلام لا يقبله أحد، حتى اليهود والنصارى ومشركو
العرب لا يقبلون هذا الكلام، فالصوفية وقعوا فيما لم يقع فيه أهل الجاهلية الأولى
عياذاً بالله، فهذه المصطلحات التي يدندنون حولها ويلتفون حولها ويقدسون أشخاصها
وأربابها لم تكن معلومة لدى سلف الأمة.
Keyakinan kaum sufi terhadap karamah para wali
Kelompok kedua menetapkan karamah para wali, tetapi mereka sangat berlebihan
sehingga menetapkannya dan menambahkan lebih dari itu. Kalian tahu bahwa
bid'ah dalam agama Allah Ta'ala bisa terjadi karena kekurangan maupun karena
kelebihan. Syariat Allah Ta'ala suci dari penambahan dan pengurangan kecuali
apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya serta disepakati oleh para ulama.
Yaitu tiga pokok syariat dan agama: Kitab, Sunnah, dan ijma', khususnya apa
yang disepakati para sahabat radhiyallahu 'anhum. Oleh karena itu para sahabat
berijma' tanpa perselisihan atas penetapan karamah para wali, sebagaimana
mereka berijma' atas penetapan mu'jizat bagi seluruh nabi dan rasul.
Namun
perselisihan terjadi setelah zaman sahabat radhiyallahu 'anhum, yaitu pada
tangan Mu'tazilah, kemudian pada tangan kaum sufi. Kaum sufi mengatakan:
karamah tetap ada bagi para wali dan orang-orang shalih, tetapi menurut mereka
wali terkadang adalah orang gila, kurang akal, bodoh, terbuang, atau orang
yang meninggalkan perintah dan mengerjakan larangan, atau melakukan perbuatan
keji dengan alasan bahwa orang awam melihatnya sebagai keji secara zahir
padahal secara hakikat adalah ketaatan. Begitulah anggapan mereka,
sampai-sampai salah seorang dari mereka –sebagaimana dalam Thabaqat
asy-Sya'rani– menaiki betina keledai, lalu ketika orang awam mengingkarinya,
ia tertawa, mengejek, dan mencemooh mereka seraya berkata: "Karena kalian
melihat sesuatu yang tidak aku lakukan!" Ia mengklaim itu adalah ketaatan,
padahal orang awam melihat dengan mata kepala sendiri perbuatan keji dengan
binatang secara nyata, lalu ia mengejek mereka dengan anggapan bahwa apa yang
mereka lihat bukan perbuatan hakiki. Orang awam adalah ahli zahir, sedangkan
mereka (sufi) adalah ahli batin. Begitulah mereka menjadikan syariat memiliki
zahir dan batin, bertentangan dengan manhaj Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam. Mereka juga mengatakan bahwa khatam al-awliya' (penutup para wali)
lebih utama daripada khatam al-anbiya' (penutup para nabi) shallallahu 'alaihi
wa sallam.
Ibnu Taimiyyah dan lebih dari satu salaf berkata: "Ini
adalah kekufuran dengan ijma'." Ibnu al-Qayyim berkata: "Ini kekufuran yang
jelas." Ibnu Qutaibah berkata: "Ini kekufuran yang nyata." Dan lain-lain dari
ucapan mereka yang mereka sepakati, karena ijma' telah terbentuk bahwa
sebaik-baik makhluk adalah para nabi dan rasul, sebaik-baik mereka adalah ulul
'azmi dari para rasul, dan sebaik-baik ulul 'azmi adalah Nabi kita shallallahu
'alaihi wa sallam.
Jika ijma' orang-orang berakal –apalagi ijma'
kaum muwahhidin dan kaum muslimin secara umum– telah terbentuk bahwa
sebaik-baik seluruh makhluk adalah Nabi kita shallallahu 'alaihi wa sallam,
lalu bagaimana bisa diterima ucapan kaum sufi: "Khatam al-awliya' lebih utama
daripada khatam al-anbiya'?" Ini adalah ucapan yang merupakan kekufuran itu
sendiri, dan barangsiapa mengatakannya maka ia kafir dan keluar dari agama
Islam.
Oleh karena itu, Anda akan menemukan pada kaum sufi ucapan
yang tidak memiliki hakikat dan tidak memiliki realitas dalam ucapan Ahlus
Sunnah wal Jamaah. Mereka mengatakan: al-ghauts, al-quthb, al-awtad,
al-aqthab, dan lain-lain dari istilah-istilah besar dan longgar ini yang
mengganggu telinga pendengar, sehingga seseorang merasa kasihan harus
menghormati gelar-gelar ini dan tidak membantah pemilik ucapan tersebut.
Realitasnya,
jika kita teliti pada abad-abad terbaik (qurun khairiyyah), kita tidak akan
menemukan satupun dari "aqthab" ini dalam kitab-kitab mereka atau karya-karya
mereka kecuali dalam rangka memuji orang yang diketahui kesalehannya dan baik
ibadahnya. Namun di antara "aqthab" kaum sufi sekarang ada yang tidak mandi
kecuali sekali setiap empat puluh hari, yang meninggalkan shalat, puasa,
zakat, dan haji, lalu berkata: "Aku telah mencapai tingkatan yaqin yang
disebutkan dalam firman Allah: Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu
yang yakin (al-Hijr: 99)." Mereka berkata: "Yaqin adalah tingkatan iman di
hati yang dengan itu gugur segala taklif (kewajiban), maka inilah khatam
al-awliya' atau salah seorang murid terbesar para wali tersebut. Jika ia
mencapai tingkatan ini, gugurlah darinya segala kewajiban." Ini adalah tuduhan
kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, karena Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam tidak ada satupun kewajiban yang gugur darinya dari apa yang Allah
syariatkan baginya dan umatnya hingga bertemu Allah Ta'ala. Umar bin
al-Khaththab radhiyallahu 'anhu ditikam saat shalat, ketika ia pingsan mereka
mengingatkannya: "Shalat wahai Amirul Mukminin!" Ia berkata: "Aku bukan lagi
Amirul Mukminin," kemudian berkata: "Ya, shalat, shalat. Tidak ada bagian
dalam Islam bagi orang yang tidak ada bagian baginya dalam shalat." Dan banyak
ayat serta hadits lain yang menunjukkan bahwa kewajiban tidak gugur sama
sekali hingga hamba bertemu Allah Ta'ala. Lalu bagaimana para pengacau ini
mengklaim bahwa kewajiban gugur dari hamba jika ia mencapai tingkatan iman
atau yaqin? Ucapan ini tidak diterima oleh siapa pun, bahkan Yahudi, Nasrani,
dan musyrikin Arab tidak menerima ucapan ini. Kaum sufi telah jatuh ke dalam
sesuatu yang tidak dilakukan oleh ahli jahiliyah pertama, kami berlindung
kepada Allah. Istilah-istilah yang mereka gadang-gadang, mereka kelilingi, dan
mereka sucikan orang-orangnya serta tuan-tuan mereka tidak dikenal oleh salaf
umat.
توسط أهل السنة والجماعة في إثبات كرامات الأولياء بدليل الكتاب والسنة
والإجماع
أهل السنة والجماعة توسطوا بين المعتزلة المنكرين لكرامة الأولياء
من جهة، وبين الصوفية المغالين في إثبات الكرامة لغير الأولياء من جهة أخرى،
وإنما هي أحوال شيطانية تجري على يد من اتخذوهم أولياء من دون الله عز وجل ودون
عباده الصالحين المؤمنين.
توسط أهل السنة والجماعة بين هؤلاء وهؤلاء،
فقالوا بإثبات كرامة الأولياء، ولكنهم وضعوا مسائل وقيوداً وشروطاً لمعرفة ما إذا
كانت هذه معجزة أو هذه كرامة، أو هذه خارقة من خوارق العادة تجري على يد السحرة
والكهان، فصارت المسألة اعتقادية في غاية الحكمة، محكومة من كل زواياها وفروعها،
فلا يمكن الالتباس الذي يزعمه المعتزلة، كما لا يمكن الغلو الذي يزعمه
الصوفية.
قال أهل السنة والجماعة: كرامات الأولياء ثابتة بالقرآن
والسنة والواقع والعقل، فهذه مصادر إثبات الكرامة للأولياء؛ أنها ثابتة بالقرآن
وسنتعرف عليه، والسنة وسنتعرف عليها، والواقع أننا نرى ذلك واقعاً مشاهداً كل منا
يلمسه، فإن الله تبارك وتعالى يجري الكرامة على أيدي كثير من عباده في كل طوائف
المجتمع، من صناع وتجار وزراع وحكماء وحكام وغير ذلك من عامة الشعب؛ لأنه قد
انطبع في أذهان العامة أن الولي لابد أن يكون عالماً أو فقيهاً، وهذا كلام غير
سديد، وإنما أولياء الله عز وجل هم المؤمنون المتقون، كما قال الله عز وجل: أَلا
إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ
[يونس:62]، لا خوف عليهم في الدنيا، ولا يصيبهم حزن ولا غم ولا كرب يوم القيامة،
ثم عرفهم الله عز وجل في نفس الآية. قال: الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ
[يونس:63]، فكل إنسان فيه ولاء لله عز وجل بقدر ما فيه من إيمان وتقوى، ودون ذلك
خرط القتاد وكلام فارغ وتهريج، سواء من جهة المعتزلة أو المتصوفة.
وقوله
سبحانه وتعالى: الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ يدل على أن الله تعالى
اتخذ أولياء من اليهود والنصارى وأصحاب الكتب السابقة مادام النبي محمد صلى الله
عليه وسلم لم يبعث، فإذا بعث نبينا محمد عليه الصلاة والسلام، فقد انقطعت الولاية
عن كل الأمم السابقة، إلا أن يكونوا أتباعاً لنبينا محمد عليه الصلاة والسلام،
وهذه الآيات يدندن حولها اليهود والنصارى إلى يومنا هذا ويقولون: نحن أولياء الله
وأحباؤه، قل: فلم يعذبكم؟ لأن الولي لا يعذبه الله عز وجل، وإنما يغفر له ويرحمه
ويجري الكرامة على يديه تأييداً وتثبيتاً ونصرة للحق وإعانة له على قضاء مصالحه،
فإذا كان هذا هو غرض الكرامة، وإذا كان هذا هو ثمرة الولاية، فكيف تزعمون يا معشر
يهود! ويا معشر مشركي العرب! أنكم أولياء لله عز وجل، مع نزول العذاب عليكم
بالليل والنهار؟ أنتم كذبة، وإنما أولياؤه الذين آمنوا وكانوا يتقون، وهذا يدل
على انقطاع الولاية في الأمم السابقة، وثبوت هذه الولاية في هذه الأمة المباركة
أمة محمد عليه الصلاة والسلام.
هذه مسألة ينبغي أن تقرر، كما قررت
المسألة التي قبلها، أما السنة فإن أعظم حديث في ثبوت كرامة الأولياء هو الحديث
القدسي الذي أخرجه البخاري في صحيحه من حديث أبي هريرة قال: قال النبي صلى الله
عليه وسلم: (قال الله عز وجل: من عادى لي ولياً فقد بارزني بالمحاربة)، فأثبت
الله تعالى في هذا الجزء من الحديث أن الناس أولياء وأعداء، وغيرما آية في كتاب
الله تكلمت عن هذين الصنفين؛ عن أعداء الله وعن أوليائه، عن الذين كفروا وعن
الذين آمنوا، عن الصالحين وعن غير الصالحين، آيات في الموازنة بين الحق والباطل،
بين الخير والشر، بين أهل الصلاح وأهل الفساد، بين أهل الطاعة وأهل المعصية، آيات
كثيرة جداً ذكرت الفريقين على سبيل المقابلة؛ لإظهار شأن كل فريق، وبيان خصائص كل
فريق منهما.
قال الله عز وجل: (من عادى لي ولياً فقد بارزني
بالمحاربة)، وإذا قلنا: إن أولياء الله هم الذين آمنوا وكانوا يتقون، فالمعلوم أن
على قمة هرم الأولياء هم أهل العلم العاملون بعلمهم، المخلصون في دعوة الخلق إلى
الحق، هم على قمة هرم الولاية، فكيف يُعَادَون من غيرهم، فلابد أن الذي يعاديهم
ويمنعهم من مهمتهم عدو لله عز وجل ولأوليائه الصالحين. قال: (من عادى لي ولياً
فقد بارزني بالمحاربة)، ولم يقل: فقد بارز أوليائي بالمحاربة، وإنما الحرب بينه
وبين الله عز وجل؛ لأنه بارز الله في عباده الصالحين وفي أوليائه المؤمنين
المتقين، رفع نار الحرب وشعار الحرب بينه وبين الله عز وجل.
وما حارب
الله تعالى أحد فأفلح وأنجح، بل ما حارب الله تعالى أحد إلا وأهلكه الله تعالى في
أي واد ولا يبالي سبحانه وتعالى؛ لأنه لا يخشى عاقبة الأمور، كما قال: وَلا
يَخَافُ عُقْبَاهَا [الشمس:15]، لا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ
[الأنبياء:23].
فليعلم هؤلاء الذين يحاربون أولياء الله عز وجل أن
حربهم إن لم تكن قائمة فهي قادمة مع الله عز وجل لا محالة.
قال: (من
عادى لي ولياً فقد بارزني بالمحاربة، وما تقرب إلي عبدي بشيء أحب إلي مما افترضته
عليه، ولا يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه، فإذا أحببته كنت سمعه الذي
يسمع به، وبصره الذي يبصر به، ورجله التي يمشي بها، وعينه التي يبصر بها)، وهذا
يعني: أن ولي الله عز وجل الذي حقق الولاية الكاملة التامة لله عز وجل؛ فلا يرى
إلا بنور الله عز وجل، ولا يسمع إلا ما يرضي الله عز وجل، ولا يمشي إلا إلى شيء
يحقق فيه رضا الله، أي: كل أقواله وأعماله وحركاته وسكناته المراد منها رضا الله
عز وجل، هذا هو ولي الله. قال الله عز وجل في الحديث القدسي: (وما ترددت في شيء
ترددي عن قبض نفس عبدي المؤمن، يكره الموت وأكره مساءته، غير أن ذلك شيء لابد له
منه) وهو الموت، وإثبات التردد لله عز وجل إثبات يليق بجلاله وكماله، ونقول فيه
كما قلنا من قبل في بقية صفات المولى عز وجل لا نخوض فيها بكيفية، ونثبتها ونمرها
كما جاءت، ونفوض كيفية هذه الصفة إلى الله عز وجل، ولا إشكال في ذلك.
Sikap tengah Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam menetapkan karamah para wali dengan dalil Al-Qur'an, As-Sunnah, dan ijma'
Ahlus Sunnah wal Jamaah bersikap tengah antara Mu'tazilah yang mengingkari
karamah para wali di satu sisi, dan kaum sufi yang berlebihan dalam menetapkan
karamah bagi bukan wali di sisi lain. Yang terjadi pada mereka hanyalah
keadaan-keadaan setan yang berlangsung melalui tangan orang-orang yang mereka
jadikan wali selain Allah Ta'ala dan selain hamba-hamba-Nya yang shalih lagi
beriman.
Ahlus Sunnah wal Jamaah bersikap tengah di antara kedua
kelompok ini, mereka menetapkan karamah para wali, tetapi mereka menetapkan
masalah-masalah, batasan-batasan, dan syarat-syarat untuk mengetahui apakah
ini mu'jizat, karamah, atau hal luar biasa yang terjadi pada tangan para
penyihir dan dukun. Maka masalah ini menjadi masalah akidah yang sangat
bijaksana, diatur dari segala sisinya dan cabang-cabangnya, sehingga tidak
mungkin terjadi kekeliruan yang diklaim Mu'tazilah, dan tidak mungkin terjadi
ghuluw (berlebihan) yang diklaim kaum sufi.
Ahlus Sunnah wal Jamaah
berkata: Karamah para wali tetap ada berdasarkan Al-Qur'an, As-Sunnah,
realitas, dan akal. Inilah sumber-sumber penetapan karamah para wali: tetap
ada berdasarkan Al-Qur'an –dan kita akan membahasnya–, As-Sunnah –dan kita
akan membahasnya–, realitas bahwa kita melihatnya secara nyata dan disaksikan,
setiap kita merasakannya, karena Allah Tabaraka wa Ta'ala menjalankan karamah
melalui tangan banyak hamba-Nya di berbagai lapisan masyarakat, dari tukang,
pedagang, petani, orang bijak, penguasa, dan lain-lain dari rakyat biasa.
Karena telah tertanam di benak orang awam bahwa wali haruslah seorang alim
atau faqih, dan ini ucapan yang tidak tepat. Wali Allah Ta'ala adalah
orang-orang mukmin yang bertakwa, sebagaimana firman Allah Ta'ala: Ingatlah,
sesungguhnya wali-wali Allah tidak ada kekhawatiran atas mereka dan mereka
tidak bersedih hati (Yunus: 62), tidak ada kekhawatiran atas mereka di dunia,
dan tidak menimpa mereka kesedihan, duka, atau kegundahan pada hari kiamat.
Kemudian Allah Ta'ala menjelaskan mereka dalam ayat yang sama: Yaitu
orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa (Yunus: 63). Maka setiap
manusia memiliki kewalian kepada Allah Ta'ala sebanding dengan iman dan
takwanya. Selain itu hanyalah omong kosong dan omelan sia-sia, baik dari pihak
Mu'tazilah maupun sufi.
Firman-Nya Ta'ala orang-orang yang beriman
dan senantiasa bertakwa menunjukkan bahwa Allah Ta'ala menjadikan wali dari
kalangan Yahudi, Nasrani, dan pemilik kitab-kitab terdahulu selama Nabi
Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam belum diutus. Namun ketika Nabi
Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam diutus, maka terputuslah kewalian dari
seluruh umat terdahulu, kecuali jika mereka menjadi pengikut Nabi Muhammad
shallallahu 'alaihi wa sallam. Ayat-ayat ini masih digembar-gemborkan oleh
Yahudi dan Nasrani hingga hari ini, mereka berkata: "Kami adalah wali Allah
dan kekasih-Nya." Katakanlah: "Lalu mengapa Dia menyiksa kalian?" Karena wali
tidak disiksa oleh Allah Ta'ala, melainkan diampuni, dirahmati, dan dijalankan
karamah melalui tangannya sebagai penguatan, peneguhan, pertolongan bagi
kebenaran, dan bantuan baginya dalam memenuhi kebutuhannya. Jika ini adalah
tujuan karamah dan buah kewalian, lalu bagaimana kalian mengklaim wahai kaum
Yahudi dan wahai kaum musyrikin Arab bahwa kalian adalah wali Allah Ta'ala
padahal siksaan turun kepada kalian siang dan malam? Kalian pendusta.
Wali-wali-Nya hanyalah orang-orang yang beriman dan bertakwa. Ini menunjukkan
terputusnya kewalian pada umat-umat terdahulu, dan tetapnya kewalian pada umat
yang diberkahi ini, umat Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
Ini
adalah masalah yang harus ditegaskan, sebagaimana masalah sebelumnya
ditegaskan. Adapun As-Sunnah, maka hadits terbesar dalam penetapan karamah
para wali adalah hadits qudsi yang dikeluarkan oleh al-Bukhari dalam
Shahih-nya dari Abu Hurairah, ia berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda: "Allah Ta'ala berfirman: 'Barangsiapa memusuhi wali-Ku, maka ia
telah menantang-Ku untuk berperang.'" Maka Allah Ta'ala menetapkan dalam
bagian hadits ini bahwa manusia ada wali dan ada musuh. Banyak ayat dalam
Kitab Allah yang berbicara tentang dua golongan ini: musuh Allah dan wali-Nya,
orang-orang kafir dan orang-orang beriman, orang-orang shalih dan bukan
shalih. Ayat-ayat yang sangat banyak membandingkan antara kebenaran dan
kebatilan, antara kebaikan dan keburukan, antara ahli kebaikan dan ahli
kerusakan, antara ahli ketaatan dan ahli kemaksiatan, untuk menunjukkan
keadaan masing-masing golongan dan menjelaskan sifat khusus masing-masing.
Allah
Ta'ala berfirman: "Barangsiapa memusuhi wali-Ku, maka ia telah menantang-Ku
untuk berperang." Jika kita katakan bahwa wali Allah adalah orang-orang yang
beriman dan bertakwa, maka diketahui bahwa puncak piramida para wali adalah
ahli ilmu yang mengamalkan ilmunya, yang ikhlas dalam menyeru manusia kepada
kebenaran; mereka berada di puncak kewalian. Lalu bagaimana mereka dimusuhi
oleh selain mereka? Pasti orang yang memusuhi mereka dan menghalangi tugas
mereka adalah musuh Allah Ta'ala dan musuh wali-wali-Nya yang shalih. Allah
berfirman: "Barangsiapa memusuhi wali-Ku, maka ia telah menantang-Ku untuk
berperang," dan tidak berfirman: "maka ia menantang wali-wali-Ku untuk
berperang." Perang itu antara dia dan Allah Ta'ala, karena ia menantang Allah
dalam hamba-hamba-Nya yang shalih dan wali-wali-Nya yang mukmin lagi bertakwa;
ia mengangkat panji perang dan semboyan perang antara dirinya dan Allah
Ta'ala.
Tidak ada seorang pun yang memerangi Allah Ta'ala lalu ia
berhasil dan selamat, bahkan tidak ada seorang pun yang memerangi Allah Ta'ala
kecuali Allah Ta'ala membinasakannya di lembah mana pun, dan Allah Ta'ala
tidak peduli, karena Dia tidak takut akan akibatnya, sebagaimana firman-Nya:
Dan Dia tidak takut terhadap akibat perbuatan-Nya (asy-Syams: 15). Dia tidak
ditanya tentang apa yang Dia perbuatan, tetapi merekalah yang ditanya
(al-Anbiya': 23).
Maka hendaklah diketahui oleh orang-orang yang
memerangi wali-wali Allah Ta'ala bahwa perang mereka jika belum terjadi maka
pasti akan datang dengan Allah Ta'ala tanpa keraguan.
Allah
berfirman: "Barangsiapa memusuhi wali-Ku, maka ia telah menantang-Ku untuk
berperang. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang
lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku
terus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku
mencintainya. Maka jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya
yang ia dengar dengannya, penglihatannya yang ia lihat dengannya, kakinya yang
ia berjalan dengannya, dan tangannya yang ia memegang dengannya..." Ini
berarti bahwa wali Allah Ta'ala yang telah mewujudkan kewalian sempurna dan
utuh kepada Allah Ta'ala: ia tidak melihat kecuali dengan cahaya Allah Ta'ala,
tidak mendengar kecuali apa yang diridhai Allah Ta'ala, tidak berjalan kecuali
kepada sesuatu yang mewujudkan ridha Allah. Artinya, seluruh ucapan,
perbuatan, gerak, dan diamnya dimaksudkan untuk ridha Allah Ta'ala. Inilah
wali Allah. Allah Ta'ala berfirman dalam hadits qudsi: "Aku tidak ragu-ragu
terhadap sesuatu sebagaimana keraguan-Ku terhadap pencabutan nyawa hamba-Ku
yang beriman. Ia membenci kematian dan Aku membenci menyakitinya, tetapi itu
adalah sesuatu yang harus terjadi padanya" (yaitu kematian). Penetapan
keraguan bagi Allah Ta'ala adalah penetapan yang layak bagi keagungan dan
kesempurnaan-Nya. Kita katakan tentangnya sebagaimana yang kita katakan
sebelumnya mengenai sifat-sifat lainnya bagi Allah Ta'ala: kita tidak membahas
kaifiyyah-nya, kita menetapkannya dan melewatinya sebagaimana datangnya, serta
menyerahkan kaifiyyah sifat ini kepada Allah Ta'ala, dan tidak ada masalah di
dalamnya.
الفوارق بين الكرامة والمعجزة وما يجري على يد السحرة والعرافين
أما الفوارق بين الكرامة والمعجزة وما يجري على يد السحرة والكهنة
والعرافين، ابتداء: أن المعجزة تكون على يد نبي، والكرامة تكون على يد ولي، وهذا
اصطلاح المتأخرين من أهل السنة، ومن قبل في العصور الأولى للإسلام كانوا يطلقون
لفظ المعجزة على المعجزة والكرامة، لكن المتأخرين فرقوا بين المعجزة التي يأتي
بها النبي، وبين الكرامة التي تكون على يد الولي، والمعجزة مصحوبة بالتحدي ولابد،
خلافاً للكرامة؛ لأن الولي لا يحل له أن يتحدى بمنة الله عز وجل عليه، وما كانت
هذه الكرامة إلا تثبيتاً له على موقفه الإيماني، أو نصرة لدين الله عز وجل في
موقف يحتاج إلى نصرة، أو عوناً له على قضاء حاجاته، أو خروجاً له من مأزق وقع
فيه، فلا يتحدى بمنة الله تعالى عليه، أما النبي فإنه يأتي ومعه المعجزة أو
المعجزات ويتحدى بها الناس أجمعين.
وأعظم معجزة أتى بها نبينا عليه
الصلاة والسلام هي القرآن الكريم، قال شيخ الإسلام ابن تيمية : ومعجزات نبينا
قاربت أو ساوت الألف معجزة، أعظمها القرآن الذي نزل من السماء وهو كلام الله عز
وجل.
وهكذا اعتبر المسلمون أن أعظم معجزة هي القرآن الكريم؛ لأنها
نزلت في أبلغ الخلق وهم العرب، فتحداهم الله عز وجل في شيء يحسنونه في لسانهم
ولغتهم، فنزل القرآن بلسان عربي مبين لسان قريش ولسان هذيل وغيرها من الألسنة:
ائتوني بكتاب مثل هذا فعجزوا، ائتوني بعشر سور من مثله مفتريات -لما قالوا: هذا
القرآن مفترى- فعجزوا، تحداهم الله تعالى أن يأتوا بسورة واحدة فعجزوا، وفي كل
مرة يتحدى الله عز وجل العرب فيعجزون؛ ولذلك قال الله تعالى: قُلْ لَئِنِ
اجْتَمَعَتِ الإِنسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآنِ
لا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا
[الإسراء:88]، أي: مظاهراً له مسانداً ومعاوناً، فتحدى الله تبارك وتعالى بهذه
المعجزة -وهي القرآن- الإنس والجن مجتمعين، فما استطاعوا أن يأتوا ولا بآية
واحدة، وهذا دليل على أن المعجزة تكون مصحوبة بالتحدي خلافاً للكرامة.
ثالثاً:
أن ما يخبر به الأنبياء لا يكون إلا صدقاً، كما أخبر القرآن والسنة، بل كما سمى
العرب النبي عليه الصلاة والسلام بالصادق قبل بعثته، ومن قال: إن النبي ليس
صادقاً في خبره، وليس صادقاً في تبليغه الأمر والنهي كفر وخرج من الملة؛ لأنه جوز
على الأنبياء كبيرة من الكبائر وهي الكذب، خلافاً لما يخبر به السحرة والكهان
وعباد المشركين وأهل الكتاب وأهل البدع والفجور من المسلمين، فإنه لابد في
أخبارهم من وقوع الكذب.
رابعاً: أن الأنبياء لا تأمر إلا بالعدل ولا
تفعل إلا العدل، بخلاف غيرهم، فإنهم يفعلون الظلم والجور والفساد، وأحياناً
يفعلون العدل، لكن ديدن الأنبياء واحد في أقوالهم وأفعالهم وتشريعاتهم؛ كلها
مبنية على العدل والحكمة التي ليس بعدها عدل ولا حكمة.
خامساً: آيات
الأنبياء إنما هي معجزة من الله عز وجل بحسن عبادة هؤلاء الأنبياء والأولياء،
كذلك تجرى الكرامات على أيديهم جزاءً وفاقاً لحسن أعمالهم، والجزاء من جنس العمل،
فآيات الأنبياء إنما تنال بحسن عبادة الله وطاعته، وكذا كرامات الأولياء إنما
تنال بقوة الإيمان وزيادته وحسن التقوى ومتابعة الرسول صلى الله عليه وسلم.
Perbedaan antara karamah, mu'jizat, dan apa yang terjadi pada tangan para penyihir serta peramal
Adapun perbedaan antara karamah, mu'jizat, dan apa yang terjadi pada
tangan para penyihir, dukun, serta peramal, pertama-tama: mu'jizat terjadi
pada tangan nabi, karamah terjadi pada tangan wali. Ini adalah istilah para
ulama muta'akhirin dari Ahlus Sunnah. Pada masa-masa awal Islam, mereka
menggunakan istilah mu'jizat untuk mu'jizat dan karamah. Namun para ulama
muta'akhirin membedakan antara mu'jizat yang dibawa nabi dan karamah yang
terjadi pada tangan wali. Mu'jizat disertai tantangan secara wajib, berbeda
dengan karamah, karena wali tidak boleh menantang dengan karunia Allah Ta'ala
kepadanya. Karamah itu hanyalah peneguhan baginya pada posisi imannya, atau
pertolongan bagi agama Allah Ta'ala pada situasi yang membutuhkan pertolongan,
atau bantuan baginya dalam memenuhi kebutuhan, atau keluar darinya dari
kesulitan yang menimpanya. Ia tidak menantang dengan karunia Allah Ta'ala
kepadanya. Adapun nabi datang dengan mu'jizat atau mu'jizat-mu'jizat dan
menantang dengannya seluruh manusia.
Mu'jizat terbesar yang dibawa
Nabi kita shallallahu 'alaihi wa sallam adalah Al-Qur'an al-Karim. Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyyah berkata: Mu'jizat Nabi kita mendekati atau mencapai
seribu mu'jizat, yang terbesar adalah Al-Qur'an yang turun dari langit dan
merupakan kalam Allah Ta'ala.
Demikian pula kaum muslimin
menganggap bahwa mu'jizat terbesar adalah Al-Qur'an al-Karim, karena
diturunkan kepada manusia paling fasih yaitu orang Arab. Allah Ta'ala
menantang mereka dalam sesuatu yang mereka kuasai dalam bahasa dan lidah
mereka. Maka turunlah Al-Qur'an dengan bahasa Arab yang jelas, bahasa Quraisy,
Hudzail, dan lain-lain: "Datangkanlah kitab seperti ini," mereka tidak mampu.
"Datangkanlah sepuluh surah seperti itu yang dibuat-buat" –ketika mereka
mengatakan Al-Qur'an ini adalah rekaan–, mereka tidak mampu. Allah Ta'ala
menantang mereka untuk mendatangkan satu surah saja, mereka tidak mampu.
Setiap kali Allah Ta'ala menantang orang Arab, mereka tidak mampu. Karena itu
Allah Ta'ala berfirman: Katakanlah: "Sekiranya manusia dan jin berkumpul untuk
membuat yang serupa dengan Al-Qur'an ini, mereka tidak akan mampu membuat yang
serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian
yang lain" (al-Isra': 88), artinya saling membantu dan mendukung. Maka Allah
Tabaraka wa Ta'ala menantang dengan mu'jizat ini –yaitu Al-Qur'an– manusia dan
jin secara bersama-sama, namun mereka tidak mampu mendatangkan satu ayat pun.
Ini bukti bahwa mu'jizat disertai tantangan, berbeda dengan karamah.
Ketiga:
apa yang diberitakan para nabi tidaklah kecuali benar, sebagaimana diberitakan
Al-Qur'an dan As-Sunnah, bahkan sebagaimana orang Arab menamakan Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam "ash-Shadiq" (yang benar) sebelum beliau diutus.
Barangsiapa mengatakan bahwa nabi tidak benar dalam beritanya, tidak benar
dalam menyampaikan perintah dan larangan, maka ia kafir dan keluar dari agama,
karena ia membolehkan atas para nabi dosa besar yaitu dusta. Berbeda dengan
apa yang diberitakan para penyihir, dukun, penyembah berhala, ahli kitab,
serta ahli bid'ah dan kefasikan dari kaum muslimin, pasti dalam berita mereka
ada kedustaan.
Keempat: para nabi tidak memerintah kecuali kepada
keadilan dan tidak berbuat kecuali keadilan, berbeda dengan selain mereka yang
berbuat kezaliman, kejahatan, dan kerusakan, meskipun terkadang berbuat adil.
Namun kebiasaan para nabi satu dalam ucapan, perbuatan, dan syariat mereka:
semuanya dibangun atas keadilan dan hikmah yang tidak ada keadilan dan hikmah
setelahnya.
Kelima: ayat-ayat para nabi hanyalah mu'jizat dari
Allah Ta'ala karena baiknya ibadah para nabi dan wali tersebut. Demikian pula
karamah berlangsung melalui tangan mereka sebagai balasan setimpal dengan
baiknya amal mereka. Balasan itu sejenis dengan amal. Ayat-ayat para nabi
hanya diperoleh karena baiknya ibadah kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya.
Demikian pula karamah para wali hanya diperoleh karena kuatnya iman,
bertambahnya iman, baiknya takwa, dan mengikuti Rasul shallallahu 'alaihi wa
sallam.
وطريق تحصيل هذا عند النبي والولي الصدق والعدل لا الكذب والخيانة
والظلم.
سادساً: آيات الأنبياء لا يقدر عليها الإنس ولا الجن، بخلاف كرامات
الأولياء، وما يأتي على أيدي السحرة والكهان فإنه ليس بمعجزة، بل يمكن أن تتم
كرامة على يد محمد، ويكون لزيد كرامة، وكرامة محمد أعظم منها وأقوى، وما قد أتى
على يد زيد يأتي مثله أو أعظم منه على يد عمرو، خلافاً للمعجزة فهي ليست من هذا
الباب، والذي يأتي به ساحر يقدر ساحر آخر بفعل الشياطين والأبالسة أن يفكه؛ ولذلك
يغتر العامة إذا أصابه شيء من الجن أو المس أو الصرع أو ضياع الحاجات أو كتابة
الأعمال والأحراز الشيطانية، فيزعم أنه لا يستطيع فك ذلك ولا قضاءه إلا ساحر
فيذهب إلى الساحر!، ولذلك قال النبي عليه الصلاة والسلام: (من أتى ساحراً أو
عرافاً فصدقه بما يقول فقد برئت منه ذمة الله، وإذا أتى عرافاً أو كاهناً ولم
يصدقه فإن الله لا يقبل منه صلاة أربعين يوماً).
أيها الإخوة! إن هذه
من مسائل الإيمان والكفر، ومن مسائل الشرك والتوحيد، ينبغي الدندنة حولها بالليل
والنهار؛ لأننا نرى أن قطاعاً عظيماً من الأمة وقعوا في مثل هذا البلاء العظيم،
أي: في شعب الشرك كلها، لا أقول السحر فحسب، فينبغي الدندنة والتأكيد من الدعاة
إلى الله على إظهار التوحيد وطمس وإخماد الشرك وفروعه وأصوله.
سابعاً:
ما يأتي به السحرة والكهان وكل مخالف للرسل يمكن معارضته بمثله أو بأعظم منه كما
قلنا.
ثامناً: المعجزة مقرونة بدعوى النبوة، يعني: لا يمكن لولي أن
يزعم أن هذه الكرامة التي كانت على يديه هي من باب المعجزات، وإلا فلا يكون
ولياً، بل يكون كاذباً، خلافاً للكرامة فإنها تظهر على يد عبد صالح ملتزم يتابع
النبي صلى الله عليه وسلم، مصحوباً بصحة الاعتقاد والعمل الصالح، ويمكن سلبها عنه
في أي وقت إذا أتى من الأعمال ما ينقض ولايته لله عز وجل ولرسوله وللمؤمنين،
ويمكن أن تكون خوارق العادات استدراجاً من الشيطان، إذاً: ما الفرق بين هذا وذاك؟
يقول شيخ الإسلام ابن تيمية قاعدة للنجاة بين أولياء الرحمن وأولياء الشيطان: إذا
رأيت الرجل يطير في الهواء أو يمشي على الماء فلا تغتر بذلك حتى تنظر إلى عمله
وإلى إيمانه وعبادته ومتابعته للنبي صلى الله عليه وسلم، فإن كان كذلك فإن ما
يكون على يديه فهو كرامة من الله، وإذا كان غير عامل بذلك غير معتقد لذلك غير
متبع للنبي عليه الصلاة والسلام فهذا استدراج وليس كرامة، هذا هو الفرق بين ما
يجري على يد أولياء الله وما يجري على أيدي أعداء الله مما يكون ظاهره التماثل
والتشابه في أن كلاً منهما قد أتى بخارقة من خوارق العادات.
تاسعاً:
أن ما يقع على يد الولي هو من باب التأييد له أو التثبيت أو الإعانة أو نصرة الحق
والدين، خلافاً لما يقع على يد السحرة، فكله تمويه وتخييل وكذب وغش وخداع وأخذ
بنواصي الأمة إلى أودية الهلاك.
عاشراً: معجزات الأنبياء وكرامات
الأولياء تتضمن حكماً عظيمة، أعظم هذه الحكم إثبات الدلالة على كمال قدرة الله
تعالى ونفوذ مشيئته في خلقه، وأنه فعال لما يريد، وأن الأمر كله بيد الله، وأن
التدبير والتيسير كله من عند الله، وأن لله في خلقه سنناً لا يعلمها إلا هو
سبحانه وتعالى.
فإن قيل: إذا كانت الكرامة من باب التأييد والتثبيت
والإعانة والنصرة فإننا نجد أن الكرامات قد كثرت بعد زمن الصحابة وكانت قليلة في
زمن الصحابة، فهل هذا يدل على أن الذين بعد الصحابة هم أفضل من الصحابة؟
الجواب:
كلا وألف كلا، ليس هناك من هو أفضل من الصحابة إلا الأنبياء والمرسلين، ولكن قلت
الكرامات في زمن الصحابة وكثرت فيمن أتى بعدهم لأن من أتى بعدهم في أمس الحاجة
للنصرة والتأييد والإعانة؛ فكثرت الكرامات لهذه الحاجة، وقلت في زمن الصحابة
لاستغنائهم بوجود النبي صلى الله عليه وسلم بين أظهرهم، فليسوا في حاجة إلى
كرامات تنزل من السماء، بخلاف غيرهم.
والكرامات باقية إلى قيام
الساعة؛ لأن العلة في وجود الكرامات هي ثبوت الولاية، والولاية قائمة في الأرض
إلى قبيل قيام الساعة، حتى تأتي ريح من جهة اليمن طيبة تقبض روح كل عبد مؤمن ولا
يبقى في الأرض من يقول: الله الله، وهم شرار الخلق وعليهم تقوم الساعة.
فإذا
كانت الكرامة مرتبطة بالولاية، والولاية باقية إلى قيام الساعة فلابد أن تكون
الكرامة كذلك باقية إلى قيام الساعة.
أولياء الله هم المؤمنون
المتقون، سواء كانوا فقراء أو فقهاء أو علماء أو تجاراً أو جنوداً أو صناعاً أو
زراعاً.. أو غير ذلك من سائر فئات المجتمع، والناس يتفاضلون في هذه الولاية على
قدر تفاضلهم إيماناً وتقوى.
وأصحاب الخوارق لا يخرجون عن الأقسام
الثلاثة المذكورين في قوله تعالى: ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ
اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ [فاطر:32] السحرة
والكهان والكذابون والعرافون والدجالون: وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ
سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ
[فاطر:32]، فهذه الآية قد جمعت أقسام خوارق العادات، فمنه ما يجري على يد أعداء
الله، ومنه ما يجري على يد الأنبياء والمرسلين، ومنه ما يجري على يد الأولياء
والصالحين.
أقول قولي هذا وأستغفر الله تعالى لي ولكم.
وصلى
الله على نبينا محمد.
Jalan memperoleh ini pada nabi dan wali adalah kejujuran dan keadilan, bukan dusta, pengkhianatan, dan kezaliman.
Keenam: ayat-ayat para nabi tidak mampu dilakukan oleh manusia maupun
jin, berbeda dengan karamah para wali. Apa yang dibawa para penyihir dan dukun
bukan mu'jizat. Bahkan mungkin karamah terjadi pada tangan Muhammad, dan Zaid
memiliki karamah, karamah Muhammad lebih agung dan lebih kuat. Apa yang
terjadi pada tangan Zaid bisa terjadi yang serupa atau lebih agung pada tangan
Amr, berbeda dengan mu'jizat yang tidak termasuk dalam bab ini. Apa yang
dibawa seorang penyihir bisa dipecahkan oleh penyihir lain dengan bantuan
setan dan iblis. Karena itu orang awam tertipu jika ditimpa sesuatu dari jin,
kesurupan, ayan, hilangnya kebutuhan, atau tulisan-tulisan dan azimat-azimat
setan. Ia mengira tidak bisa dipecahkan kecuali oleh penyihir, lalu ia pergi
kepada penyihir! Karena itu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Barangsiapa mendatangi penyihir atau peramal lalu membenarkannya atas apa
yang dikatakannya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada
Muhammad." Dan "Barangsiapa mendatangi peramal atau dukun lalu tidak
membenarkannya, maka Allah tidak menerima shalatnya selama empat puluh
hari."
Wahai saudara-saudaraku! Ini termasuk masalah iman dan
kufur, masalah syirik dan tauhid. Sepatutnya dibicarakan siang dan malam,
karena kita melihat sebagian besar umat telah jatuh ke dalam musibah besar
ini, yaitu cabang-cabang syirik semuanya, bukan hanya sihir saja. Maka sep
patutnya para da'i menekankan dan menegaskan penjelasan tauhid serta
memadamkan dan menghapus syirik beserta akar dan cabangnya.
Ketujuh:
apa yang dibawa para penyihir, dukun, dan setiap penentang rasul dapat dilawan
dengan yang serupa atau yang lebih besar sebagaimana telah kami katakan.
Kedelapan:
mu'jizat disertai klaim kenabian, artinya wali tidak boleh mengklaim bahwa
karamah yang terjadi melalui tangannya termasuk mu'jizat, jika tidak maka ia
bukan wali melainkan pendusta. Berbeda dengan karamah yang muncul pada tangan
hamba shalih yang berkomitmen mengikuti Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,
disertai kebenaran akidah dan amal shalih. Karamah itu dapat dicabut darinya
kapan saja jika ia melakukan perbuatan yang membatalkan kewaliannya kepada
Allah Ta'ala, Rasul-Nya, dan kaum mukminin. Bisa pula hal-hal luar biasa itu
adalah istidraj dari setan. Maka apa bedanya ini dengan itu? Syaikhul Islam
Ibnu Taimiyyah memberikan kaidah penyelamatan antara wali ar-Rahman dan wali
setan: "Jika engkau melihat seseorang terbang di udara atau berjalan di atas
air, jangan tertipu oleh itu hingga engkau melihat amalnya, imannya,
ibadahnya, dan pengikutannya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Jika
demikian, maka apa yang terjadi melalui tangannya adalah karamah dari Allah.
Jika ia tidak mengamalkan itu, tidak meyakini itu, tidak mengikuti Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam, maka ini adalah istidraj bukan karamah." Inilah
perbedaan antara apa yang terjadi pada tangan wali Allah dan apa yang terjadi
pada tangan musuh Allah, meskipun secara zahir tampak serupa dan mirip bahwa
masing-masing telah mendatangkan hal luar biasa dari hal-hal yang melampaui
kebiasaan.
Kesembilan: apa yang terjadi pada tangan wali adalah
dalam rangka penguatan baginya, peneguhan, bantuan, atau pertolongan bagi
kebenaran dan agama. Berbeda dengan apa yang terjadi pada tangan para
penyihir, semuanya tipuan, khayalan, dusta, penipuan, pengelabuan, dan
penarikan manusia ke jurang-jurang kebinasaan.
Kesepuluh: mu'jizat
para nabi dan karamah para wali mengandung hikmah-hikmah besar. Hikmah
terbesar di antaranya adalah menetapkan dalil atas kesempurnaan kekuasaan
Allah Ta'ala dan berlakunya kehendak-Nya pada makhluk-Nya, bahwa Dia Maha
Kuasa atas apa yang Dia kehendaki, segala urusan ada di tangan Allah,
pengaturan dan kemudahan semuanya dari sisi Allah, dan bahwa Allah memiliki
sunnah-sunnah pada makhluk-Nya yang tidak diketahui kecuali oleh-Nya Subhanahu
wa Ta'ala.
Jika dikatakan: "Jika karamah adalah dalam rangka
penguatan, peneguhan, bantuan, dan pertolongan, maka kami mendapati karamah
banyak terjadi setelah zaman sahabat dan sedikit pada zaman sahabat. Apakah
ini menunjukkan bahwa orang-orang setelah sahabat lebih utama daripada
sahabat?"
Jawabannya: Tidak, seribu kali tidak. Tidak ada seorang
pun yang lebih utama daripada sahabat kecuali para nabi dan rasul. Namun
karamah sedikit pada zaman sahabat dan banyak pada orang-orang setelahnya
karena orang-orang setelahnya sangat membutuhkan pertolongan, penguatan, dan
bantuan. Maka karamah menjadi banyak karena kebutuhan ini, dan sedikit pada
zaman sahabat karena kecukupan mereka dengan keberadaan Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam di tengah mereka. Mereka tidak membutuhkan karamah yang
turun dari langit, berbeda dengan selain mereka.
Karamah tetap ada
hingga hari kiamat, karena sebab adanya karamah adalah tetapnya kewalian, dan
kewalian tetap ada di bumi hingga menjelang kiamat, hingga datang angin dari
arah Yaman yang harum yang mencabut ruh setiap hamba mukmin, dan tidak tersisa
di bumi seorang pun yang mengucapkan "Allah, Allah". Mereka adalah
seburuk-buruk makhluk, dan atas merekalah kiamat ditegakkan.
Jika
karamah terkait dengan kewalian, dan kewalian tetap ada hingga kiamat, maka
karamah pun tetap ada hingga kiamat.
Wali Allah adalah orang-orang
mukmin yang bertakwa, baik mereka miskin, faqih, ulama, pedagang, tentara,
tukang, petani, atau golongan masyarakat lainnya. Manusia saling bertingkat
dalam kewalian ini sesuai tingkatan iman dan takwa mereka.
Pemilik
hal-hal luar biasa tidak keluar dari tiga golongan yang disebutkan dalam
firman-Nya Ta'ala: Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang
Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, maka di antara mereka ada yang
menganiaya diri mereka sendiri (Fathir: 32) –yaitu para penyihir, dukun,
pendusta, peramal, dan dajjal– dan di antara mereka ada yang pertengahan, dan
di antara mereka ada yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah.
Yang demikian itu adalah karunia yang besar (Fathir: 32). Ayat ini telah
mengumpulkan golongan-golongan pemilik hal luar biasa: sebagian terjadi pada
tangan musuh Allah, sebagian pada tangan para nabi dan rasul, dan sebagian
pada tangan para wali dan orang-orang shalih.
Aku katakan
perkataanku ini dan aku memohon ampun kepada Allah Ta'ala untukku dan
kalian.
Semoga Allah mencurahkan shalawat kepada Nabi kita
Muhammad.
