Tuesday, March 04, 2014

Hukum Nadzar

Hukum Nadzar
HUKUM NADZAR DALAM SYARIAH ISLAM

Nadzar atau nazar secara etimologis (lughawi) adalah berjanji akan melakukan sesuatu yang baik atau buruk. Dalam terminologi syariah nadzar adalah menetapkan atau mewajibkan melakukan sesuatu yang secara syariah asal tidak wajib.[1] Contohnya, seperti bernadzar, "Apabila saya lulus ujian, maka saya akan berpuasa sunnah sehari." Atau, "Apabila anak saya sembuh sakitnya, maka saya akan bersedekah pada orang miskin."

DAFTAR ISI
  1. Definisi Nadzar
  2. Syarat Nadzar
  3. Macam-macam Nadzar
  4. Hukum ber-Nadzar
  5. Hukum Menunaikan/Melaksanakan Nadzar
  6. Hukum Apabila Tidak Menunaikan/Melaksanakan Nadzar
  7. CARA KONSULTASI AGAMA


DEFINISI NADZAR

Nadzar adalah mewajibkan suatu perkara atau perbuatan yang asalnya tidak wajib secara syariah. Seperti, bernazar melakukan shalat sunnah, berpuasa sunnah, bersedekah pada orang miskin apabila yang dikehendakinya tercapai. Niat utama adalah untuk semakin mendekatkan diri pada Allah (qurbah)


PERSYARATAN NADZAR

Syarat sah dan terjadinya nadzar terbagi 2 (dua) yaitu syarat pelaku nadzar dan perkara yang dibuat nadzar (al mandzur bihi)

SYARAT ORANG YANG NADZAR

1. Berakal sehat.
2. Beragama Islam (muslim)
3. Diucapkan dengan kata-kata, tidak cukup hanya dengan niat. Apabila seseorang berniat nadzar tanpa ada ucapan, maka nadzarnya tidak sah dan tidak wajib memenuhi nadzar tersebut.[5]

SYARAT PERKARA YANG DIJADIKAN NADZAR (AL MANDZUR BIHI)

1. Perkara ibadah. Seperti shalat sunnah, puasa sunnah, sadaqah. Perkara yang bukan bersifat ibadah seperti perkara maksiat atau perkara mubah (seperti makan dan minum) tidak sah nadzarnya.

2. Harta yang dijadikan nadzar harus menjadi hak milik pelaku nadzar saat bernadzar.

3. Bukan perkara fardhu atau wajib. Seperti shalat 5 waktu atau puasa Ramadan.


MACAM-MACAM NADZAR

Dari segi isi kandungan nadzar, nadzar ada dua jenis, yaitu (a) nadzar lajaj (نذر لجاج) yaitu bernazar dengan mencegah diri dari melakukan sesuatu. Seperti, "Saya besok tidak akan bepergian." (b) Nadzar mujazat yaitu nadzar (janji pada diri sendiri) untuk melakukan sesuatu. Nadzar majazat ini ada dua macam, sebagai berikut:
(1) Nadzar tabarrur,[2] adalah nadzar yang dilakukan secara spontan tanpa dikaitkan dengan keberhasilan melakukan sesuatu. Seperti, seseorang berkata, "Saya akan shalat sunnah besok."
(2) Nadzar yang dikaitkan dengan keberhasilan melakukan sesuatu. Seperti seseorang berkata, "Apabila anak saya sembuh, saya akan bersedekah pada fakir miskin."[3]

Sebagian ahli fiqh membagi nadzar menjadi dua macam yaitu nadzar mutlak dan nazar muqayyad atau muallaq. Nadzar mutlak adalah nadzar yang dilakukan tanpa mengaitkan dengan keberhasilan melakukan sesuatu atau disebut nadzar tabarrur. Sedang nazar muqoyyad (muallaq) adalah nazar yang dilakukan apabila sudah berhasil dalam perkara yang diinginkan.

Dari segi perbuatan yang dinazarkan, ia terbagi menjadi lima macam:

(1) Nazar taat dan ibadah sepdrti bernazar untuk bersedekah.
(2) Nazar mubah seperti bernazar untuk tidur
(3) Nazar maksiat. Contoh, bernazar untuk berzina dengan artis.
(4) Nadzar makruh. Contoh, bernazar untuk merokok.
(5) Nazar syirik. Contoh, bernazar untuk menyembah berhala.


HUKUM BER-NADZAR

Apakah bernadzar itu boleh (mubah), mendapat pahala (sunnah), kurang baik (makruh) atau dilarang (haram)?

Ada beberapa pendapat ulama yang berbeda karena adanya dalil Quran dan hadits yang juga bermacam-macam. Intinya, nadzar sebaiknya dihindari. Tapi kalau sudah terjadi, maka wajib (harus) dipenuhi kalau nadzarnya berkaitan dengan ibadah. Seperti tersebut dalam hadits sahih:

مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ ، وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَهُ فَلاَ يَعْصِهِ
Artinya: Barangsiapa yang bernadzar untuk taat pada Allah, maka penuhilah nadzar tersebut. Barangsiapa yang bernadzar untuk bermaksiat pada Allah, maka janganlah memaksiati-Nya. ” (HR. Bukhari no. 6696)

A. Nadzar itu Sunnah (baik dan mendapat pahala)

Dalil dari Quran:

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ نَفَقَةٍ أَوْ نَذَرْتُمْ مِنْ نَذْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُهُ
Artinya: Apa saja yang kamu nafkahkan atau apa saja yang kamu nadzarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.(QS. Al Baqarah 2:270)

B. Nadzar itu Makruh (sebaiknya tidak dilakukan)

Dalil dari hadits:

نهي النبي عَنِ النَّذْرِ قَالَ إِنَّهُ لاَ يَرُدُّ شَيْئًا ، وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنَ الْبَخِيلِ
Artinya: Nabi melarang untuk bernadzar, beliau bersabda: ‘Nadzar sama sekali tidak bisa menolak sesuatu. Nadzar hanyalah dikeluarkan dari orang yang bakhil (pelit)’. (HR. Bukhari Muslim)

لاَ تَنْذُرُوا فَإِنَّ النَّذؒرَ لاَ يُغْنِى مِنَ الْقَدَرِ شَيْئًا وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنَ الْبَخِيلِ
Artinya: Janganlah bernadzar. Karena nadzar tidaklah bisa menolak takdir sedikit pun. Nadzar hanyalah dikeluarkan dari orang yang pelit. (HR. Muslim)


HUKUM MENUNAIKAN/MELAKSANAKAN NADZAR

(1) Nazar taat dan ibadah, hukumnya wajib ditunaikan dan bila dilanggar harus membayar kaffarah (tebusan).

(2) Nazar mubah, yaitu bernazar untuk melakukan suatu perkara yang mubah/diperbolehkan dan bukan ibadah maka boleh memilih melaksanakannya atau membayar kafarah. Sebagian ulama bahkan membolehkan untuk tidak menunaikan nadzarnya dan tidak perlu membayar kafarah (tebusan)

(3) Nazar maksiat, nazarnya sah tapi tidak boleh dilaksanakan dan harus membayar kaffarah. Sebagian ulama berpendapat tidak perlu membayar kafarah (tebusan) berdasarkan hadits Nabi:

لا نذر في معصية الله ولا فيما لا يملك العبد
Artinya: tidak ada nadzar dalam maksiat pada Allah ... (HR Muslim)

(4) Nazar makruh, yaitu bernazar untuk melakukan perkara yang makruh maka memilih antara melaksanakannya atau membayar kaffarah.

(5) Nazar syirik, yaitu yang ditujukan untuk mendekatkan diri kepada selain Allah maka nazarnya tidak sah dan tidak ada kaffarah, akan tetapi harus bertaubat karena dia telah berbuat syirik akbar


HUKUM APABILA TIDAK MENUNAIKAN NADZAR

Apabila orang yang bernadzar tidak melakukan nadzarnya baik karena tidak mampu atau tidak mau, maka konsekuensinya melihat dulu jenis nadzarnya apakah termasuk nadzar ibadah, mubah, maksiat, makruh atau syirik. Lihat penjelasan Hukum Menunaikan Nadzar di atas.. Intinya, harus membayar kafarah yamin (tebusan sumpah).

Urutan Kafarah Yamin (tebusan sumpah) bagi yang tidak melaksanakan nadzar adalah sebagai berikut (pilih salah satu, prioritas berdasar urutan):

a. Memberi makan kepada sepuluh orang miskin, atau
b. Memberi pakaian kepada sepuluh orang miskin, atau
c. Memerdekakan satu orang budak
d. Jika tidak mampu ketiga hal di atas, barulah menunaikan pilihan berpuasa selama tiga hari.[4]

---------------------
CATATAN DAN RUJUKAN

[1]التزام قربة غير لازمة بأصل الشرع Lihat Fathul Qorib "Kitab al-Ayman wa al-Nudzur" atau dalam Al Umm li Asy-Syafi'i, Kitab al-Nudzur, Vol. II/278.

[2] Istilah nazar tabarrur dipopulerkan oleh Imam Syafi'i. Lihat Imam Syafi'i Kitab al-Umm, "Kitab an-Nudzur", Vol. II hlm. 279.

[3] Fathul Qarib, ibid.at apabila mereka
[4] Surat Al Maidah 5:89

[5] Imam Nawawi dalam Al-Majmuk mengatakan:
قال أصحابنا: يصح النذر بالقول من غير نية، كما يصح الوقف والعتق باللفظ بلا نية. وهل يصح بالنية من غير قول أو بالإشعار أو التقليد أو الذبح مع النية؟ فيه الخلاف الذي ذكره المصنف. (الصحيح) باتفاق الأصحاب أنه لا يصح إلا بالقول ولا تنفع النية وحدها
Artinya: Nadzar itu sah dengan perkataan atau diucapkan walaupun tanpa niat sebagaimana sahnya waqaf dan memerdekakan budak dengan mengucapkan tanpa niat...

Dapatkan buku-buku Islam karya A. Fatih Syuhud di sini.. Konsultasi agama, kirim via email: alkhoirot@gmail.com

14 komentar

Assalamu'alaikum wr wb.

Pak, sya mau tanya..
Saya dulu sering bernajar, setiap kali punya cita2 sering bernajar biasanya berupa puasa bberapa hari... Dan setelah berhasil cita2 nya, sya pun bayar najar nya dg berpuasa. Ada yg puasanya berurutan dan ada yg dicicil/ tdk berurutan, serta ada yg lngsung di tunaikan puasanya stelah cita2 berhasil dan ada stelah beberapa bulan kemudian.. Kemudian stlah tdk punya hutang puasa najar lagi, saya pun berniat TIDAK kn bernazar lgi, baik berupa puasa atau lainnya dan saya pun memohon pd Allah, apa bila dri mulut, hati dan pikiran saya keluar nazar, baik di sengaja atau pun tidak, jangan lah itu dianggap sebgai nazar tpi hanya angin lalu atau bohongan.. Tapi kemudian nazar puasa dan lain nya, itu kini jadi BEBAN PIKIRAN saya, sering setiap berdo'a baik ketika shalat atau di luar shalat, kata nazar berupa apa pun itu selalu melintas di hati dan pikiran saya, pada hal TIDAK ada niat sedikit pun tuk bernazar berupa apa pun.. Kemudian dalam hati, pikiran dan lisan pun membantah kalau saya bernajar lagi dan itu saya anggap bohongan yg spontanitas saja yg melitas di hati, pikiran dan ucapan.. Dan kemudian saya memikirkan terus smapi berhari-hari, berbulan-bulan dan tahunan.. Dan saya pun merasa tersiksa oleh hal trsebut..
NAH PAK USTDZ , ITU BAGAIMANA DAN SOLUSINYA BAGAI MANA ??

>>DDZ..

This comment has been removed by the author.

kan di atas udah di terangkan bukan kalau tidak di ucapkan tidak sah, kalo tidak mampu itu ada kaffaratnya

ya nazar sah jika di ucapkan saja.tdk ckup hnya niat sja

assalamu'alaykum ustadz sy prnh mengalami was2 sering bernazar pula saat beribadah,pernah bernazar 30hari brturut2, sy tidak mmpu.adakah cara yg lain utk mmbyrny.trmksh.

kalau saat nadzar tidak menyebutkan sampai kapan batas waktu menunaikan nadzarnya bagaimana ya? apakah selamanya harus dikerjakan apa yg sudah dinadzarkan?

This comment has been removed by the author.

assalamualaikum, saya mau bertanya jd saya sewaktu kelas 3 sma saya bernazar yg agak aneh saya tidak akan berpacaran sampai kuliah tetapi saya berpacaran juga sehabis itu. saya sudah jalan 3 tahun berpacaran merasa hidup saya dipersulit, saya kisruh dengan pacar saya dan saya dituduh mempunyai hutang padahal tidak. saya dibilang penipu dan matre di media sosial saya merasa hidup saya dibebani dengan beban pikiran dan stress.menurut ustad apakah semua itu ada kaitannya dengan nazar yg saya langgar? bisa kah saya ganti nazar tersebut dengan memberi makan 10 orang fakir miskin? saya ingin bertaubat.... wassalam

Insyaallah artikel ini menjadi amal shaleh anda, jazaakallaahu khaira.

Assalamualaikum pak ustad... saya waktu itu pernah berkata saat wifi saya mati "kalo wifinya nyala langsung mandi deh.." tapi saya lupa apa itu dikatakan atau hanya dlm hati.. nah tapi saat wifinya udah nyala saya malah terus main hp... apakah itu termasuk nazar? Apakah boleh di tebus dengan puasa 3 hari?

This comment has been removed by the author.

assalamualaikum, saya sebelum ini sekitar beberapa hari yang lalu berdoa ketika setelah solat diniatkan dalam hati jika ayah saya diterima kerja maka saya akan segera memakai hijab. bagaimana ya ustad? karena ayah saya sudah beberapa hari lagi akan diterima dipekerjaannya tetapi pekerjaan yang diterima ayah saya ini sangat menjebak ayah saya karena jika ayah saya tidak bisa mencapai target yang diberikan dalam waktu tiga bulan akan dikeluarkan dan setiap bulannya diadakan juga evaluasi. saya sebetulnya kecewa sekali dengan diterimanya ayah saya dipekerjaan itu dengan kondisi tersebut dan juga lingkungan kerja ayah saya penuh dengan orang-orang yang tidak suka dengan ayah saya. apakah saya wajib melaksanakan nazar saya? saya menjadi setengah hati dan apakah yang saya doakan itu sudah termasuk nazar?

Asalamualaikum...seandainya ada orang yg bernazar tetapi nazarnya lupa apa....sebaiknya bagai mana ....

Assalamualaikum.. Pak ust. Saya mau bertanya. Pacar saya dulu memang tidak setia, tapi dia sekarang sudah serius ingin berubah sampai2 dia bernazar untuk setia sampai kita sah nanti. Dan kita sudah menjalin hubungan lama dengan suasana yg lebih baik juga tanpa ada perasaan lain ke lawan jenis yg lain juga. Apakah itu diperbolehkan?? Terima kasih

1. Kirim konsultasi Agama ke alkhoirot@gmail.com atau info@alhoirot.com Cara Konsultasi lihat di sini!
2. Konsultasi hukum waris Islam, lihat caranya di sini
3. Konsultasi melalui kotak komentar tidak akan dilayani.

EmoticonEmoticon