Agama itu Mudah yang Mempersulit akan Kalah

agama (Islam) itu mudah. Tidaklah seseorang memperberat agama melainkan ia akan dikalahkannya (lelah sendiri). Maka bersahajalah (luruslah), mendekat

 

Agama itu Mudah yang Mempersulit akan Kalah

Agama itu Mudah yang Mempersulit akan Kalah

 عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ :
( إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا ، وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَىْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ ) رواه البخاري (39) ومسلم (2816)

Hadis Rasulullah ﷺ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

    "Sesungguhnya agama (Islam) itu mudah. Tidaklah seseorang memperberat agama melainkan ia akan dikalahkannya (lelah sendiri). Maka bersahajalah (luruslah), mendekatlah (pada kesempurnaan), berikanlah kabar gembira, dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan melakukan ibadah pada waktu pagi (ghadwah), waktu sore (rawhah), dan sedikit dari waktu malam (duljah)." (HR. Bukhari No. 39 dan Muslim No. 2816) 

قال الحافظ السيوطي في شرح هذا الحديث: [شرح السيوطي لسنن النسائي السيوطي - جلال الدين عبد الرحمن بن أبي بكر السيوطي] صحيفة 8/121

5034 [ ص: 122 ] ( إِنَّ هَذَا الدِّينَ يُسْرٌ ) سَمَّاهُ يُسْرًا مُبَالَغَةً بِالنِّسْبَةِ إِلَى الْأَدْيَانِ قَبْلَهُ ؛ لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى رَفَعَ عَنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ الْإِصْرَ الَّذِي كَانَ عَلَى مَنْ قَبْلَهُمْ ، وَمِنْ أَوْضَحِ الْأَمْثِلَةِ لَهُ أَنَّ تَوْبَتَهُمْ كَانَتْ بِقَتْلِ أَنْفُسِهِمْ ، وَتَوْبَةُ هَذِهِ الْأُمَّةِ بِالْإِقْلَاعِ وَالْعَزْمِ وَالنَّدَمِ ( وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ ) قَالَ ابْنُ التِّينِ : فِي هَذَا الْحَدِيثِ عَلَمٌ مِنْ أَعْلَامِ النُّبُوَّةِ ، فَقَدْ رَأَيْنَا وَرَأَى النَّاسُ قَبْلَنَا أَنَّ كُلَّ مُتَنَطِّعٍ فِي الدِّينِ يَنْقَطِع ، وَلَيْسَ الْمُرَادُ مِنْهُ طَلَبَ الْأَكْمَلِ فِي الْعِبَادَةِ ، فَإِنَّهُ مِنَ الْأُمُورِ الْمَحْمُودَةِ ، بَلْ مَنَعَ مِنْ الْإِفْرَاطِ الْمُؤَدِّي إِلَى الْمَلَالِ ، وَالْمُبَالَغَةِ فِي التَّطَوُّعِ الْمُفْضِي إِلَى تَرْكِ الْأَفْضَلِ ، أَوْ إِخْرَاجِ الْفَرْضِ عَنْ وَقْتِهِ ، كَمَنْ بَاتَ يُصَلِّي اللَّيْلَ كُلَّهُ وَيُغَالِبُ النَّوْمَ إِلَى أَنْ غَلَبَتْهُ عَيْنَاهُ فِي آخِرِ اللَّيْلِ ، فَنَامَ عَنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ ، ( فَسَدِّدُوا ) أَيِ الْزَمُوا السَّدَادَ ، وَهُوَ الصَّوَابُ ، مِنْ غَيْرِ إِفْرَاطٍ وَلَا تَفْرِيطٍ ( وَقَارِبُوا ) أَيْ : إِنْ لَمْ تَسْتَطِيعُوا الْأَخْذَ بِالْأَكْمَلِ فَاعْمَلُوا بِمَا يُقَرِّبُ مِنْهُ ، ( وَأَبْشِرُوا ) أَيْ : بِالثَّوَابِ عَلَى الْعَمَلِ الدَّائِمِ ، وَإِنْ قَلَّ ، أَوِ الْمُرَادُ تَبْشِيرُ مَنْ عَجَزَ عَنِ الْعَمَلِ بِالْأَكْمَلِ بِأَنَّ الْعَجْزَ إِذَا لَمْ يَكُنْ مِنْ صُنْعِهِ لَا يَسْتَلْزِمُ نَقْصَ أَجْرِهِ ، وَأَبْهَمَ الْمُبَشَّرَ بِهِ تَعْظِيمًا لَهُ وَتَفْخِيمًا ( وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ ) أَيِ اسْتَعِينُوا عَلَى مُدَاوَمَةِ الْعِبَادَةِ بِإِيقَاعِهَا [ ص: 123 ] فِي الْأَوْقَاتِ الْمُنَشِّطَةِ ، وَ " الْغَدْوَةُ " بِالْفَتْحِ : سَيْرُ أَوَّلِ النَّهَارِ ، وَقَالَ الْجَوْهَرِيُّ : مَا بَيْنَ صَلَاةِ الْغَدَاةِ وَطُلُوعِ الشَّمْسِ ، وَالرَّوْحَةُ بِالْفَتْحِ : السَّيْرُ بَعْدَ الزَّوَالِ ، وَالدُّلْجَةُ بِضَمِّ أَوَّلِهِ وَفَتْحِهِ وَإِسْكَانِ اللَّامِ : سَيْرُ آخِرِ اللَّيْلِ ، وَقِيلَ : سَيْرُ اللَّيْلِ كُلِّهِ ، وَلِهَذَا عَبَّرَ فِيهِ بِالتَّبْعِيضِ ، وَلِأَنَّ عَمَلَ اللَّيْلِ أَشَقُّ مِنْ عَمَلِ النَّهَارِ ، فَهَذِهِ الْأَوْقَاتُ أَطْيَبُ أَوْقَاتِ الْمُسَافَرَةِ ، فَكَأَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَاطَبَ مُسَافِرًا إِلَى مَقْصِدٍ فَنَبَّهَهُ عَلَى أَوْقَاتِ نَشَاطِهِ ؛ لِأَنَّ الْمُسَافِرَ إِذَا سَارَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ جَمِيعًا عَجَزَ وَانْقَطَعَ ، وَإِذَا تَحَرَّى السَّيْرَ فِي هَذِهِ الْأَوْقَاتِ الْمُنَشِّطَةِ أَمْكَنَتْهُ الْمُدَاوَمَةُ مِنْ غَيْرِ مَشَقَّةٍ ، وَحُسْنُ هَذِهِ الِاسْتِعَارَةِ أَنَّ الدُّنْيَا فِي الْحَقِيقَةِ [ ص: 124 ] دَارُ نُقْلَةٍ إِلَى الْآخِرَةِ . اهـ



Syarah (Penjelasan) Imam as-Suyuthi

(Dikutip dari Kitab Syarah as-Suyuthi li Sunan an-Nasa'i, Hal. 121-124)

    "Sesungguhnya agama ini mudah": Disebut sebagai "kemudahan" sebagai bentuk mubalaghah (penekanan) jika dibandingkan dengan agama-agama sebelum Islam. Karena Allah Ta'ala telah mengangkat al-ishr (beban berat) yang dahulu dipikul oleh umat sebelum mereka. Salah satu contoh paling jelas adalah: tobat umat terdahulu dilakukan dengan cara membunuh diri mereka sendiri, sedangkan tobat umat ini cukup dengan berhenti dari dosa (al-iqlā'), tekad kuat tidak mengulangi, dan menyesal.

    "Tidaklah seseorang memperberat agama melainkan ia akan dikalahkannya": Ibnu At-Tin berkata: "Dalam hadis ini terdapat tanda dari tanda-tanda kenabian. Kami telah melihat, dan orang-orang sebelum kami pun melihat, bahwa setiap orang yang mutanaththi' (berlebih-lebihan/ekstrem) dalam agama pasti akan terputus (berhenti tengah jalan)." Maksudnya bukan melarang mencari kesempurnaan dalam ibadah, karena itu hal yang terpuji, melainkan melarang sikap berlebihan (al-ifrāth) yang membawa pada kejenuhan, atau berlebihan dalam ibadah sunnah yang justru menyebabkan terabaikannya ibadah yang lebih utama, atau mengeluarkan ibadah wajib dari waktunya. Contohnya: seseorang yang shalat semalam suntuk melawan rasa kantuk hingga matanya tak sanggup lagi di akhir malam, lalu ia tertidur dan melewatkan shalat Subuh.

    "Maka bersahajalah (Fasaddidū)": Artinya teguhlah pada as-sadād, yaitu kebenaran dan keseimbangan, tanpa berlebihan (ifrāth) dan tanpa meremehkan (tafrīth).

    "Mendekatlah (Waqāribū)": Artinya jika kalian tidak sanggup melakukan amal yang paling sempurna, maka lakukanlah amal yang mendekati kesempurnaan tersebut.

    "Berikanlah kabar gembira (Wabsyirū)": Yakni kabar gembira berupa pahala atas amal yang dikerjakan secara kontinu (dā'im) meskipun sedikit. Atau maksudnya adalah memberi kabar gembira bagi orang yang lemah/uzur untuk beramal sempurna bahwa ketidaksanggupannya—jika bukan karena kelalaiannya sendiri—tidak akan mengurangi pahalanya. Nabi merahasiakan bentuk balasan kegembiraannya untuk menunjukkan betapa agung dan besarnya pahala tersebut.

    "Mohonlah pertolongan dengan waktu ghadwah, rawhah, dan sedikit dari duljah": Maksudnya, mintalah bantuan untuk bisa kontinu dalam ibadah dengan mengerjakannya di waktu-waktu saat jiwa sedang bersemangat (munasy-syithah):

  1. Ghadwah: Perjalanan di awal siang (antara shalat Subuh dan terbit matahari).
  2. Rawhah: Perjalanan setelah matahari tergelincir (zuhur hingga sore).
  3. Duljah: Perjalanan di akhir malam. Dikatakan "sedikit dari waktu malam" karena ibadah di malam hari lebih berat daripada siang hari.

Keindahan Metafora (Isti'arah) dalam Hadis: Waktu-waktu yang disebutkan di atas adalah waktu terbaik dalam perjalanan (safar). Seolah-olah Nabi ﷺ sedang berbicara kepada seorang musafir yang menuju suatu tujuan, lalu beliau mengingatkan waktu-waktu saat ia segar. Jika musafir melakukan perjalanan siang dan malam sekaligus tanpa henti, ia akan kelelahan dan terhenti. Namun jika ia memilih waktu-waktu semangat ini, ia akan sampai ke tujuan secara kontinu tanpa kepayahan. Keindahan perumpamaan ini terletak pada fakta bahwa dunia pada hakikatnya adalah tempat persinggahan dalam perjalanan menuju akhirat.

قال الحافظ ابن رجب رحمه الله :
" معنى الحديث : النهي عن التشديد في الدين ، بأن يحمِّل الإنسان نفسه من العبادة ما لا يحتمله إلا بكلفة شديدة ، وهذا هو المراد بقوله صلى الله عليه وسلم : ( لن يشاد الدين أحد إلا غلبه ) يعني : أن الدين لا يؤخذ بالمغالبة ، فمن شاد الدين غلبه وقطعه .
وفي " مسند الإمام أحمد " – (5/32) وحسنه محققو المسند - عن محجن بن الأدرع قال :
( أقبلت مع النبي صلى الله عليه وسلم ، حتى إذا كنا بباب المسجد إذا رجل يصلي قال : " أتقوله صادقا " ؟ قلت : يا نبي الله هذا فلان ، وهذا من أحسن أهل المدينة أو من أكثر أهل المدينة صلاة ، قال : " لا تسمعه فتهلكه - مرتين أو ثلاث - إنكم أمة أريد بكم اليسر )
وفي رواية له : ( إن خير دينكم أيسره ، إن خير دينكم أيسره ) – " مسند أحمد " (3/479) وحسنه المحققون -.
وقد جاء في رواية عبد الله بن عمرو بن العاص مرفوعا :
( إن هذا الدين متين فأوغل فيه برفق ، ولا تُبَغِّض إلى نفسك عبادة الله ؛ فإن المُنْبَتَّ لا سفرا قطع ، ولا ظهرا أبقى ) – " السنن الكبرى " البيهقي (3/19) 

 والمُنْبَتُّ : هو المنقطع في سفره قبل وصوله ، فلا سفرا قطع ، ولا ظهره الذي يسير عليه أبقى حتى يمكنه السير عليه بعد ذلك ؛ بل هو كالمنقطع في المفاوز ، فهو إلى الهلاك أقرب ، ولو أنه رفق براحلته واقتصد في سيره عليها لقطعت به سفره وبلغ إلى المنزل " انتهى باختصار. " فتح الباري " لابن رجب (1/136-139)

Al-Hafiz Ibnu Rajab rahimahullah berkata:

"Makna hadis tersebut adalah larangan untuk bersikap ekstrem (tasyidid) dalam agama, yaitu dengan cara seseorang membebani dirinya dalam ibadah di luar batas kemampuannya kecuali dengan susah payah yang amat sangat. Inilah yang dimaksud dengan sabda Nabi ﷺ: 'Tidaklah seseorang memperberat agama melainkan ia akan dikalahkannya.' Artinya, agama tidak dapat diambil dengan cara adu kekuatan (mughalabah). Barangsiapa yang mencoba mengadu kekuatan dengan agama, maka agama akan mengalahkannya dan ia akan terhenti (putus asa/lelah).

Dalam Musnad Imam Ahmad—dengan sanad yang dinilai hasan oleh para peneliti (muhaqqiq)—dari Mihjan bin al-Adra', ia berkata:

    'Aku datang bersama Nabi ﷺ hingga sampai di pintu masjid. Ternyata ada seorang laki-laki yang sedang shalat. Beliau bertanya: 'Apakah engkau menganggapnya jujur (dalam ibadahnya)?' Aku menjawab: 'Wahai Nabi Allah, ini adalah fulan, ia adalah warga Madinah yang paling baik atau yang paling banyak shalatnya.' Beliau bersabda: 'Jangan biarkan dia mendengarnya (pujianmu) karena engkau bisa mencelakakannya'—beliau mengatakannya dua atau tiga kali—'Sesungguhnya kalian adalah umat yang diinginkan kemudahan baginya.''

Dalam riwayat lain: 'Sesungguhnya sebaik-baik agama kalian adalah yang paling mudahnya, sesungguhnya sebaik-baik agama kalian adalah yang paling mudahnya.' (HR. Ahmad, sanad Hasan).

Telah datang pula dalam riwayat Abdullah bin 'Amru bin al-'Ash secara marfu' (sampai kepada Nabi):

    'Sesungguhnya agama ini kokoh, maka masukilah ia dengan kelembutan. Janganlah engkau membuat dirimu benci pada ibadah kepada Allah; karena sesungguhnya orang yang al-munbatt tidak akan bisa menempuh perjalanan dan tidak pula bisa menjaga punggung (hewan tunggangannya).' (HR. Al-Baihaqi).

Yang dimaksud dengan Al-Munbatt adalah: Orang yang terputus di tengah perjalanannya sebelum sampai ke tujuan. Ia tidak menempuh jarak perjalanan (karena berhenti di tengah jalan), dan ia pun tidak menjaga punggung hewan tunggangannya agar bisa tetap dinaiki setelah itu (karena dipaksa lari hingga mati). Bahkan, ia seperti orang yang terdampar di padang pasir yang luas, sehingga ia lebih dekat pada kehancuran. Seandainya ia bersikap lembut terhadap hewan tunggangannya dan bersahaja dalam perjalanannya, niscaya ia akan menyelesaikan perjalanannya dan sampai ke tempat tujuan."[]

وقال الحافظ ابن حجر رحمه الله :
" والمعنى لا يتعمق أحد في الأعمال الدينية ويترك الرفق إلا عجز وانقطع فيغلب .
قال ابن المنير : في هذا الحديث علم من أعلام النبوة ، فقد رأينا ورأى الناس قبلنا أن كل متنطع في الدين ينقطع .
وليس المراد منع طلب الأكمل في العبادة ، فإنه من الأمور المحمودة ، بل منع الإفراط المؤدي إلى الملال ، أو المبالغة في التطوع المفضي إلى ترك الأفضل ، أو إخراج الفرض عن وقته ، كمن بات يصلي الليل كله ويغالب النوم إلى أن غلبته عيناه في آخر الليل فنام عن صلاة الصبح في الجماعة ، أو إلى أن خرج الوقت المختار ، أو إلى أن طلعت الشمس فخرج وقت الفريضة " انتهى.
" فتح الباري " لابن حجر (1/94)

Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

"Maknanya adalah: Tidaklah seseorang terlalu mendalam-dalamkan (ta'ammuq) amal-amal agama dan meninggalkan sikap lembut/moderat (al-rifq), melainkan ia akan merasa tidak berdaya dan terputus (amalannya), sehingga ia pun kalah.

Ibnu al-Munayyir berkata: 'Dalam hadis ini terdapat salah satu tanda dari tanda-tanda kenabian. Sungguh, kami telah melihat, dan orang-orang sebelum kami pun telah melihat, bahwa setiap orang yang bersikap ekstrem (mutanaththi') dalam agama pasti akan terputus (berhenti tengah jalan).'

Maksud dari hadis ini bukanlah melarang untuk mencari kesempurnaan dalam ibadah, karena hal itu termasuk perkara yang terpuji. Akan tetapi, yang dilarang adalah sikap berlebihan (al-ifrath) yang membawa kepada rasa jemu/bosan, atau berlebihan dalam amal sunnah secara melampaui batas yang mengakibatkan terabaikannya amalan yang lebih utama, atau sampai mengeluarkan amalan wajib dari waktunya.

Contohnya seperti: seseorang yang menghabiskan seluruh malam untuk shalat dan berusaha keras melawan rasa kantuk, hingga akhirnya ia dikalahkan oleh matanya (tertidur) di akhir malam, sehingga ia terlewat dari shalat Subuh berjamaah, atau tertidur hingga keluar waktu utama (shalat Subuh), atau bahkan sampai matahari terbit sehingga waktu shalat fardhu-nya habis."[] 

 

LihatTutupKomentar