Status Hadits Hindari Memberi Hukuman pada Muslim

Status Hadits Hindari Memberi Hukuman had bagi kaum muslimin selagi kalian mampu. Jika kalian menemukan jalan keluar bagi seorang muslim (terdakwa),

 

Status Hadits Hindari Memberi Hukuman pada Muslim

Status Hadits Hindari Memberi Hukuman

1. ادرَؤُوا الحدودَ عن المسلمينَ ما استطعتم، فإن وَجَدْتُمْ للمسلمِ مَخْرَجًا فخَلُّوا سبيلَه، فإنَّ الإمامَ لَأَنْ يُخْطِىءَ في العَفْوِ خيرٌ من أن يُخْطِىءَ في العقوبةِ 

"Tolaklah (hindarilah) hukuman-hukuman had bagi kaum muslimin selagi kalian mampu. Jika kalian menemukan jalan keluar bagi seorang muslim (terdakwa), maka lepaskanlah jalannya. Karena sesungguhnya, seorang imam (pemimpin/hakim) yang salah dalam memberi pemaafan, itu jauh lebih baik daripada ia salah dalam menjatuhkan hukuman." 

2. ادرؤوا الحدودَ عن المسلمين ما استطعتم؛ فإن كان له مخرجٌ، فخلُّوا سبيلَه، فإنَّ الإمامَ أن يُخطِئَ في العفوِ، خيرٌ من أن يُخطِئَ في العقوبةِ" 

 "Tolaklah (hindarilah) hukuman-hukuman had bagi kaum muslimin selagi kalian mampu. Jika ada jalan keluar baginya (terdakwa), maka lepaskanlah jalannya. Karena sesungguhnya, seorang imam (pemimpin/hakim) yang salah dalam memberi pemaafan, itu jauh lebih baik daripada ia salah dalam menjatuhkan hukuman."

  أخرجه الترمذي (1424)، وابن أبي شيبة في ((المصنف)) (29094)، والحاكم (8163)، والبيهقي (17513)

Status Hadits  

Mayoritas ahli hadits menyatakan hadits ini dhaif. Kecuali al-Hakim yang menyatakan sahih. 

Ibnu Hajar dalam Mufaqat al-Khabar al-Khabar, hlm. 1/444 menyatakan hadits ini gharib.

Makna 'Gharib' (keasingan) dalam perkataan Ibnu Hajar —rahimahullah— adalah adanya penyendirian (tafarrud) oleh salah seorang perawi dalam meriwayatkannya.

Imam At-Tirmidzi telah meriwayatkan hadits ini dalam Sunan-nya dengan sanad yang sama dari jalur Muhammad bin Rabi’ah, ia berkata:

 حدثنا يزيد بن زياد الدمشقي، عن الزهري، عن عروة، عن عائشة مرفوعًا، وقال: لا نعرفه مرفوعًا إلا من حديث محمد بن ربيعة، عن يزيد بن زياد الدمشقي ... ورواه وكيع، عن يزيد بن زياد نحوه، ولم يرفعه. ورواية وكيع أصح، وقد روي نحو هذا عن غير واحد من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم، أنهم قالوا مثل ذلك. ويزيد بن زياد الدمشقي ضعيف في الحديث. اهـ

"Yazid bin Ziyad ad-Dimasyqi menceritakan kepada kami, dari Az-Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah secara marfu’ (disandarkan kepada Nabi ﷺ).

Tirmidzi berkata: 'Kami tidak mengetahuinya secara marfu’ kecuali dari hadis Muhammad bin Rabi’ah, dari Yazid bin Ziyad ad-Dimasyqi...' Sementara Waki’ meriwayatkannya dari Yazid bin Ziyad dengan redaksi serupa namun tidak me- marfu’-kannya (hanya sampai sahabat/ mawquf). Riwayat Waki’ lebih sahih. Hal serupa juga diriwayatkan dari beberapa sahabat Nabi ﷺ bahwa mereka mengatakan hal yang sama. Adapun Yazid bin Ziyad ad-Dimasyqi adalah perawi yang lemah (dhaif) dalam hadis." 

Tirmidzi juga meriwayatkan dalam Al-Ilal al-Kabir, ia berkata: 

 سألت محمدا -يعني البخاري- عن هذا الحديث، فقال: يزيد بن زياد الدمشقي منكر الحديث، ذاهب. اهـ. 

"Aku bertanya kepada Muhammad —yakni Imam Al-Bukhari— tentang hadis ini, lalu beliau menjawab: Yazid bin Ziyad ad-Dimasyqi adalah perawi Munkarul Hadits (hadisnya diingkari) dan dzahib (hancur/sangat lemah)."

Ibnu Hajar berkata dalam At-Talkhis al-Habir: 

 في إسناده يزيد بن زياد الدمشقي، وهو ضعيف، قال فيه البخاري: منكر الحديث. وقال النسائي: متروك. ورواه وكيع عنه موقوفًا، وهو أصح. قاله الترمذي

 'Dalam sanadnya terdapat Yazid bin Ziyad ad-Dimasyqi, dia lemah. Al-Bukhari berkata tentangnya: Munkarul Hadits. An-Nasa’i berkata: Matruk (ditinggalkan). Waki’ meriwayatkannya secara mawquf dan itu lebih sahih, sebagaimana dikatakan Tirmidzi.' 

Ibnu al-Mulaqqin berkata dalam Al-Badr al-Munir: 

ورواه الحاكم في مستدركه كذلك سندًا ومتنًا. ثم قال: هذا حديث صحيح الإسناد. وفيما ذكره نظر، ويزيد المذكور في إسناده واه بمرة، قال النسائي: متروك. وقد ضعفه به تلميذه الحافظ أبو بكر البيهقي، فقال في «خلافياته»: هذا حديث مشهور بين العلماء، وإسناده ضعيف. قال: ويزيد هذا غير محتج به، وقد تفرد به، ورواه وكيع، عن يزيد موقوفًا. اهـ. 

'Al-Hakim meriwayatkannya dalam Mustadrak-nya dengan sanad dan matan serupa, lalu ia berkata: Ini hadis sahih sanadnya. Namun pernyataan Al-Hakim ini perlu ditinjau kembali (fiihi nazhar), karena Yazid yang disebutkan dalam sanadnya sangatlah rapuh (wahi bi marrah). An-Nasa’i menyebutnya Matruk. Muridnya, Al-Hafiz Abu Bakar al-Baihaqi, juga mendhaifkannya dalam Khilafiyyat seraya berkata: Hadis ini masyhur di kalangan ulama namun sanadnya lemah. Yazid ini tidak bisa dijadikan hujah dan dia bersendiri dalam meriwayatkannya, sementara Waki’ meriwayatkannya dari Yazid secara mawquf.'" 

LihatTutupKomentar