Akhlak dan Etika Santri

Akhlak dan Etika Santri

Santri dan pesantren merupakan subkultur (sub-culture) Islam Indonesia dan menjadi avanguard (penjaga) keilmuan dan intelektual Islam yang berbasal dari sumber aslinya yaitu Quran dan Hadits. Santri juga memiliki perilaku, etika dan akhlak yang khas yang berlandaskan pada 3 (tiga) nilai dasar yaitu syariah Islam, nilai universal dan etika lokal.

Tulisan ini didedikasikan khususnya untuk para santri Al-Khoirot Malang dan seluruh komunitas santri di Indonesia baik santri salaf, santri modern atau kalangan non-pesantren yang ingin menjadi santri dan berakhlak layaknya santri.

DAFTAR ISI
  1. Landasan Akhlak Santri
  2. Komitmen Pada Syariah Islam
  3. Komitmen Pada Nilai Universal
    1. Nilai Universal Yang Baik
    2. Nilai Universal Yang Buruk
  4. Menghormati Tradisi (Kearifan Lokal)
  5. Akhlak Keseharian Santri Salaf
    1. Akhlak Kyai, Ustadz, Ulama
    2. Akhlak Guru, Pengurus Pesantren
    3. Cara Santri Berinteraksi dengan Kyai, Orang Tua, Ustadz, Guru
    4. Cara Santri Berinteraksi dengan Teman Sebaya
    5. Cara Santri Berkomunikasi dengan Lawan Jenis


LANDASAN AKHLAK SANTRI

Pada dasarnya akhlak santri harus memenuhi 3 unsur nilai kebaikan yaitu, (a) syariah Islam (b) etika dan nilai-nilai universal, (c) etika sosial kemasyarakatan yang sering disebut dengan kearifan lokal (local wisdom). Ikuti artikel Akhlak dan Etika Santri terbaru di sini.


KOMITMEN PADA SYARIAH ISLAM

Perilaku santri harus sesuai dengan syariah Islam. Santri adalah seorang muslim yang memiliki komitmen untuk selalu taat menjalankan perintah agama yang wajib dan menjauhi larangan yang haram.

Setiadaknya santri menjalankan secara ketat rukun Islam yang 5 (lima) yaitu syahadat, shalat 5 waktu setiap hari, puasa Ramadan sebulan penuh setiap tahun, membayar zakat mal dan fitrah, ibadah haji sekali seumur hidup apabila mampu.

Dan menjauhi larangan yang masuk kategori dosa besar seperti membunuh, mencuri, berzina, minum alkohol dan narkoba, dll maupun dosa kecil.


KOMITMEN PADA ETIKA DAN NILAI UNIVERSAL

Universal values atau nilai-nilai kebaikan universal adalah perilaku, sikap (attitude) dan nilai-nilai kehidupan yang baik atau buruknya diakui oleh seluruh umat manusia tanpa memandang agama, budaya, suku, atau bangsa.

Etika dan nilai universal adalah akhlak Islam yang disebut di dalam Al-Quran dan menjadi perilaku Rasulullah. Namun, sebagian dari nilai universal ini secara syariah memiliki hukum yang berbeda--adakalanya wajib atau sunnah saja atau haram dan makruh saja --sehingga tidak semua etika dan nilai universal menjadi komitmen bersama umat Islam.

ETIKA DAN NILAI UNIVERSAL YANG BAIK

Etika dan nilai univesal yang baik dalam perspektif syariah adakalanya wajib, atau sunnah (dianjurkan) atau mubah (boleh). Karena perbedaan hukum ini, maka sebagian individu tidak memiliki komitmen kuat untuk melakukannya. Berikut beberapa etika dan nilai universal yang baik:

- Kejujuran
- Kerja keras
- Dermawan
- Sederhana
- Toleran
- Peduli sesama
- Suka menolong
- Disiplin

ETIKA DAN NILAI UNIVERSAL YANG BURUK

Etika dan nilai univesal yang buruk dalam perspektif syariah adakalanya haram, atau makruh (tidak dianjurkan) atau mubah (boleh). Karena perbedaan hukum ini, maka sebagian individu tidak memiliki komitmen kuat untuk menjauhi atau meninggalkannya. Berikut beberapa etika dan nilai universal yang buruk (tabu):

- Kebalikan dari nilai universal yang baik di atas.
- Malas
- Tidak menghormati orang/golongan lain
- Suka menghina
- Sombong
- Boros
- Tidak peduli pada kaum dhuafa


MENGHORMATI TRADISI DAN KEARIFAN LOKAL (LOCAL WISDOM)

Tradisi dan budaya lokal diakui, dibiarkan tumbuh, dan dihormati oleh santri selagi ia tidak bertentangan dengan prinsip pokok syariah Islam. Apabila bertentangan namun tradisi itu cukup kuat mengakar, maka akan diusahakan untuk dimodifikasi sehingga lebih islami seperti yang dilakukan oleh Wali Songo terhdapat tradisi tahlil dan wayang.

Termasuk dalam menghormati kearifan lokal adalah perbedaan cara berpakaian yang harus ditoleransi selagi tidak bertentangan dengan syariah.


AKHLAK KESEHARIAN SANTRI SALAF

Santri salaf umumnya memiliki tatacara perilaku yang lebih santun dibanding santri modern. Terutama dalam berinteraksi dengan kyai, ustadz dan orang tua atau orang yang lebih tua.


AKHLAK KYAI, USTADZ, DAI, ULAMA

Kyai, ulama, ulama, mubaligh, da'i harus memiliki akhlak yang lebih tinggi dari orang biasa sbb:

- Memilih pola hidup sederhana walaupun kaya raya.
- Bersikap ngemong pada santri dan masyarakat.
- Ikhlas dan penuh dedikasi pada keilmuan.
- Menyebarkan ajaran perdamaian dan menjauhi sikap provokatif.
- Memilih hukum yang moderat dalam memberi fatwa dan mengambil hukum yang ketat dan ideal untuk diri sendiri dan keluarga.


AKHLAK GURU DAN PENGURUS PESANTREN

Guru, ustadz senior dan pengurus pesantren harus memiliki perilaku yang relatif lebih tinggi dibanding santri yunior walaupun tidak harus setinggi akhlak kyai karena mereka merupakan kepanjangan tangan dari kyai.

- Menjaga sopan santun kepada yang lebih tinggi (kyai) atau yang lebih rendah (santri yunior).
- Bersikap mendidik dan empati kepada santri yunior.
- Komitmen pada keilmuan.
- Ikhlas dan energik dalam pengabdian.


CARA INTERAKSI DENGAN KYAI, ORANG TUA, USTADZ DAN GURU

- Mencium tangan saat bersalaman atau minimal membungkukkan badan.
- Berdiri hormat saat kyai dan orang tua lewat di depan kita.
- Memakai bahasa kromo apabila berbicara dalam bahasa daerah Jawa atau Madura.
- Dalam posisi agak menundukkan kepala saat berbicara.
- Intonasi suara sedang, tidak kencang atau terlalu pelan.


CARA INTERAKSI DENGAN TEMAN SEBAYA

- Berbicara dengan wajar.
- Hindari canda atau humor yang menghina dan menyakiti.
- Tidak memakai pakaian atau benda teman tanpa ijin.
- Membantu teman yang membutuhkan pertolongan dengan ikhlas.
- Bersikap empati kepada teman yang memiliki kekurang fisik atau otak dengan tidak menyebutkan kekurangan tersebut baik dengan niat bercanda apalagi untuk menghina.
- Meminta maaf apabila melakukan kesalahan.
- Penuh perhatian saat mendengarkan teman berbicara dengan melihat pada bola mata si pembicara dan tidak mengalihkan pandangan pada obyek lain.


CARA BERBICARA DENGAN LAWAN JENIS

Santri putra berbicara dengan santri putri atau non-santri.

- Bersikap santun baik dalam kata-kata maupun dalam sikap.
- Tidak memandang ke anggota tubuh manapun selain bola mata,
- Tidak apa-apa sesekali sambil menundukkan pandangan atau melihat ke tempat lain selain fisik yang diajak bicara.
- Berbicara seperlunya sesuai tujuan.
- Hindari bercanda apalagi mengarah ke konotasi negatif.
- Tidak menyinggung atau menyebut apapun yang bersifat pribadi baik itu memuji atau menghina.

Untuk langganan artikel Alkhoirot Net via Email gratis, klik di sini!

No comments:

Post a Comment

Kirim konsultasi Agama ke: alkhoirot@gmail.com Cara Konsultasi lihat di sini!