Thursday, February 27, 2014

Wakaf dalam Islam


Wakaf dalam Islam
PANDUAN WAKAF (WAQAF) DALAM ISLAM

Wakaf (waqaf) adalah salah satu dari jenis sedekah yang bertujuan untuk ibadah mendekatkan diri pada Allah. Wakaf termasuk ibadah yang dianjurkan oleh syariah dan menjadi salah satu jalan berbuat amal kebaikan dan mendapatkan pahala bagi yang beramal apabila dibarengi dengan niat yang baik dan tujuan yang benar.

DAFTAR ISI
  1. Pengertian Wakaf
  2. Dasar Hukum Dalil Wakaf
  3. Hukum Melaksanakan Wakaf
  4. Persyaratan Wakaf
  5. Rukun Tata Cara Wakaf
  6. Hukum Menukar Atau Menjual Tanah Wakaf Masjid
  7. Menarik Kembali Harta Waqaf
  8. CARA KONSULTASI SYARIAH ISLAM

PENGERTIAN DAN DEFINISI WAKAF

Pengeretian wakaf dalam madzhab Syafi'i adalah menahan harta yang dapat diambil manfaatnya tapi bendanya tetap dengan cara memanfaatkannya untuk kebaikan dengan niat ibadah pada Allah.

Teks bahasa Arab menurut Imam Nawawi dalam Tahdzibul Asma wal Lughat 4/194 sbb:

حبس مال يمكن الانتفاع به مع بقاء عينه بقطع التصرف في رقبته وتصرف منافعه إلى البر تقربا إلى الله تعالى

Dr. Muhammad Al-Ahmad Abu Al-Nur, mantan Menteri Wakaf Mesir Wakaf mendefinisikan wakaf sebagai harta atau tanah yang ditahan oleh pemiliknya sehingga dapat menghalang penggunaannya dengan dijual atau dibeli ataupun diberikan sebagai pemberian dengan syarat dibelanjakan faedahnya atau keuntungannya atau hasil kepada orang yang ditentukan oleh pewakaf (waqif).


DASAR HUKUM DAN DALIL WAKAF

Dalil-dalil yang menjadi dasar hukum atas boleh dan sunnahnya wakaf adalah sbb:

- QS Ali Imron 3:92

لن تَنَالُوا البرَّ حتى تنفِقُوا ممَّا تُحِبُّونَ

Artinya: Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai.

- Hadits sahih

إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلاّ من ثلاثة : صدقة جارية ، أو علم ينتفع به ، أو ولد صالح يدعو له

Artinya: Apabila seorang anak Adam mati, maka putuslah amalnya kecuali tiga: sadaqah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.

- Hadits sahih riwayat Bukhari
ما ترك رسول الله صلى الله عليه و سلم إلاّ بغلته البيضاء وسلاحه ، وأرضاً تركها صدقة

Artinya: Rasulullah (saat meninggal) tidak meninggalkan (apa-apa) kecuali keledai putih, senjata dan tanah yang disedekahkan.

- Hadits sahih riwayat Bukhari Muslim (muttafaq alaih) dari Ibnu Umar
عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: أصاب عمر أرضا بخيبر فأتى النبي صلى الله عليه وسلم يستأمر فيها فقال: يارسول الله أصبت أرضا بخيبر لم أصب مضالا قط هو أنفس عندي منه فما تأمرني به. فقال له رسول الله صلى الله عليه وسلم, إن شْئت حبست أصلها وتصدقت بها فتصدق بها عمر, أنها لاتباع ولاتوهب ولاتورث. قال وتصدق بها فى الفقراء وفى القربى وفى الرقاب وفى سبيل الله وابن السبيل والضيف لاجناح على من وليها أن يأكل منها بالمعروف ويطعم غير متمول مالا(متفق عليه) واللفظ لمسلم وفي رواية للبخاري: تصدق بأصلها لايباع ولايوهب ولكن ينفق ثمره

Artinya Dari Ibnu Umar RA. berkata, bahwa sahabat Umar RA memperoleh sebidang tanah di Khaibar, kemudian menghadap kepada Rasulullah untuk mohon petunjuk. Umar berkata: Ya Rasulullah! Saya mendapatkan sebidang tanah di Khaibar, saya belum pernah mendapatkan harta sebaik itu, maka apakah yang engkau perintahkan kepadaku? Rasulullah bersabda: bila kau suka, kau tahan tanah itu dan engkau shodaqohkan. Kemudian Umar melakukan shodaqah, tidak dijual, tidak diwarisi dan tidak juga dihibahkan. Berkata Ibnu Umar: Umar menyedekahkan kepada orang-orang fakir, kaum kerabat, budak belian, sabilillah, ibnu sabil dan tamu. Dan tidak dilarang bagi yang menguasai tanah wakaf itu (pengurusnya) makan dari hasilnya dengan cara yang baik dengan tidak bermaksud menumpuk harta” (Muttafaq ‘Alaih) susunan matan tersebut menurut riwayat Muslim. Dalam riwayat al-Bukhari: Beliau sedekahkan pokoknya, tidak dijual dan tidak dihibahkan, tetapi diinfakkan hasilnya.


HUKUM BER-WAKAF

Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa wakaf hukumnya boleh dan sunnah berdasarkan dalil Al-Quran dan hadits yang tersebut di atas. Baik dalil yang bersifat umum tentang anjuran bersedekah dan amal jariyah atau khusus terakait hadits tentang Umar bin Khatab yang mewakafkan tanahnya.


PERSYARATAN WAKAF

Syarat yang harus terpenuhi pada unsur-unsur penting dalam wakaf

1. Orang yang mewakafkan (waqif).

Syarat sahnya menjadi waqif adalah (a) akil baligh; (b) berakal sehat dan normal; (c) sukarela (tidak terpaksa dan tidak ada yang memaksa); (d) pemilik dari harta yang akan diwakafkan.

2. Harta atau benda yang diwakafkan (mauquf).

Syarat sahnya mauquf adalah (a) harus berupa harta yang berharga atau ada nilainya; (b) dapat dan boleh diambil manfaatnya (bukan barang haram seperti alkohol); (c) dimiliki oleh waqif saat melakukan wakaf; (d) diketahui keberadaan harta saat pelaksanaan wakaf.

Mauquf atau harta yang diwakafkan boleh dalam bentuk (a) harta tunai; (b) tanah atau harta tak bergerak lain; (c) saham; (d) segalam macam harta bergerak yang dapat diambil manfaatnya; (e) dapat dimanfaatkan secara terus menerus dalam arti tidak berupa benda yang mudah rusak seperti makanan; atau wakaf untuk anak dan kerabat dalam masalah wakaf keluarga.

3. Tujuan pemanfaatan harta wakaf (mauquf alaih)

Syarat mauquf alaih atau tujuan wakaf adalah (a) tidak untuk sesuatu yang diharamkan syariat; (b) mengandung tujuan yang tidak terputus seperti wakaf untuk tujuan kebaikan seperti Al-Quran, orang fakir miskin, memberi makan, dan lain-lain.


RUKUN TATA CARA WAKAF

Rukun yang harus ada saat transaksi wakaf berlangsung ada 4 (empat) yaitu:

1. Waqif atau orang yang mewakafkan.
2. Mauquf atau harta benda yang diwakafkan.
3. Mauquf alaih atau tujuan pemanfaatan harta wakaf.
4. Sighat atau lafadz atau kata terkait dengan harta dan tujuan wakaf.


HUKUM MENUKAR ATAU MENJUAL TANAH WAKAF MASJID

Menurut madzhab Syafi'i menukar tanah masjid wakaf tidak boleh dalam keadaan apapun. Sedangkan menurut mazhab Hanafi, boleh menukar atau menjual barang wakaf dengan syarat tertentu. Berikut rinciannya:

Al-Bakri dalam Kitab I'anatut Thalibin hlm. 3/181 menyatakan:

وَلاَ يَنْقُضُ الْمَسْجِدُ اَيِ الْمُنْهَدِمُ الْمُتَقَدِّمُ ذِكْرُهُ فِى قَوْلِهِ " فَلَوِ انْهَدَمَ مَسْجِدٌ " ، وَمِثْلُ الْمُنْهَدِمِ اَلْمُتَطِّلُ . ( وَالْحَاصِلُ ) اَنَّ هذَا الْمَسْجِدَ الَّذِى انْهَدَمَ اَىْ اَوْ تَعَطَّلَ بِتَعْطِيْلِ اَهْلِ الْبَلَدِ لَهُ كَمَا مَرَّ لاَ يُنْقَضُ اَىْ لاَ يُبْطَلُ بِنَاؤُهُ بِحَيْثُ يُتَمَّمُ هَدْمُهُ فِىْ صُوْرَةِ الْمَسْجِدِ الْمُنْهَدِمِ اَوْ يُهْدَمُ مِنْ اَصْلِهِ فِى صُوْرَةِ الْمُتَعَطَّلِ ؛ بَلْ يَبْقَى عَلَى حَالِهِ مِنَ الاِنْهِدَامِ اَوْ التَّعْطِيْلِ . وَذلِكَ لإِمْكَانِ الصَّلاَةِ فِيْهِ وَهُوَ بِهذِهِ الْحَالَةِ وَلإِمْكَانِ عَوْدِهِ كَمَا كَانَ .
Artinya: Dan tidak boleh masjid dirusak. Artinya, masjid yang roboh yang telah disebutkan sebelumnya dalam ucapan mushannif (Al-Malibari penulis Fathul Muin) "Maka andaikata ada sebuah masjid yang roboh". Masjid yang menganggur adalah seperti masjid yang roboh. Walhasil, sesungguhnya masjid yang telah roboh ini, artinya, atau telah menganggur sebab dianggurkan oleh penduduk desa tempat masjid tersebut berada sebagaimana keterangan yang telah lalu, maka masjid tersebut tidak boleh dirusak, artinya bangunannya tidak boleh dibatalkan dengan jalan disempurnakan penghancurannya dalam bentuk masjid yang roboh, atau dihancurkan mulai dari asalnya dalam bentuk masjid yang dianggurkan. Akan tetapi hukum masjid tersebut tetap dalam keadaannya sejak roboh atau menganggur. Yang demikian itu ialah karena masih mungkin melakukan shalat di masjid tersebut dalam keadaannya yang roboh ini dan masih mungkin mengembalikan bangunannya seperti sediakala".

Pendapat Al-Bakri selaras dengan pendapat ulama mazhab Syafi'i yang lain. Abdullah bin Hijazi dalam Kitab Hasyiyah As Syarqawi hlm. 2/178 selain mengutip pendapat ulama Syafi'iyah juga menukil pendapat ulama mazhab Hanafi yang membolehkan dengan syarat tertentu:

وَلاَ يَجُوْزُ اسْتِبْدَالُ الْمَوْقُوْفِ عِنْدَنَا وَاِنْ خَرَبَ ، خِلاَفًا لِلْحَنَفِيَّةِ . وَصُوْرَتُهُ عِنْدَهُ اَنْ يَكُوْنَ الْمَحَلُّ قَدْ آلَ اِلَى السُّقُوْطِ فَيُبْدَلُ بِمَحَلٍّ آخَرَ اَحْسَنَ مِنْهُ بَعْدَ حُكْمِ حَاكِمٍ يَرَى صِحَّتَهُ .
Artinya: Tidak boleh menukarkan barang wakaf menurut madzhab kami (Syafi'i), walaupun sudah rusak. Berbeda dengan madzhab Hanafi yang membolehkannya. Contoh kebolehan menurut pendapat mereka adalah apabila tempat yang diwakafkan itu benar-benar hampir longsor, kemudian ditukarkan dengan tempat lain yang lebih baik dari padanya, sesudah ditetapkan oleh Hakim yang melihat kebenarannya.

Pendapat ulama mazhab Hanafi dalam soal ini dapat dilihat dari pernyataan Muhammad Amin bin Umar (Ibnu Abidin) seorang ulama mazhab Hanafi dalam Kitab Raddul Mukhtar hlm. 3/512:

اَرَادَ اَهْلُ الْمَحَلَّةِ نَقْضَ الْمَسْجِدِ وَبِنَاءَهُ اَحْكَمَ مِنَ الاَوَّلِ ، إِنِ الْبَانِى مِنْ اَهْلَ الْمَحَلَّةِ لَهُمْ ذلِكَ ، وإِلاَّ فَلاَ .
Artinya: Penduduk suatu daerah ingin membongkar masjid dan membangunnya kembali dengan bangunan yang lebih kokoh dari yang pertama. Jika yang membangun kembali masjid tersebut adalah penduduk daerah tersebut, maka hukumnya boleh, dan jika tidak maka hukumnya tidak boleh".

Pendapat senada juga terdapat dalam Kitab Syarhul Kabir 3/420:

فَاِنْ تَعَطَّلَتْ مَنَافِعُهُ بِالْكُلِّيَّةِ كَدَارٍ اِنْهَدَمَتْ اَوْ اَرْضٍ خَرَبَتْ وَعَادَتْ مَوَاتًا لَمْ يُمْكِنْ عِمَارَتُهَا اَوْ مَسْجِدٍ اِنْتَقَلَ اَهْلُ الْقَرْيَةِ عَنْهُ وَصَارَ فِى مَوْضِعٍ لاَ يُصَلَّى فِيْهِ اَوْ ضَاقَ بِاَهْلِهِ وَلَمْ يُمْكِنْ تَوْسِيْعُهُ فِى مَوْضِعِهِ ، فَاِنْ اَمْكَنَ بَيْعُ بَعْضِهِ لِيُعَمَّرَ بَقِيَّتُهُ جَازَ بَيْعُ الْبَعْضِ وَاِنْ لَمْ يُمْكِنِ الإِنْتِفَاعُ بِشَيْءٍ مِنْهُ بِيْعَ جَمِيْعُهُ .
Artinya: Jika manfaat dari wakat tersebut secara keseluruhan sudah tidak ada, seperti rumah yang telah roboh atau tanah yang telah rusak dan kembali menjadi tanah yang mati yang tidak mungkin memakmurkannya lagi, atau masjid yang penduduk desa dari masjid tersebut telah pindah; dan masjid tersebut menjadi masjid di tempat yang tidak dipergunakan untuk melakukan shalat, atau masjid tersebut sempit dan tidak dapat menapung para jama'ah dan tidak mungkin memperluasnya di tempat tersebut, ... jika mungkin menjual sebahagiannya untuk memakmurkan sisanya, maka boleh menjual sebahagian. Dan jika tidak mungkin memanfaatkannya sedikitpun, maka boleh menjual seluruhnya".


MENARIK KEMBALI HARTA WAQAF

Kalau waqaf sudah dilakukan, maka hukumnya haram menarik kembali harta yang diwakafkan. Harta yang diwakafkan tidak boleh dijual atau diwariskan karena sudah menjadi milik umat. Berikut dalil dan rujukan referensinya:

- Al-Mawardi dalam Al-Hawi Al-Kabir, hlm. 7/511

فإذا وقف شيئا زال ملكه عنه بنفس الوقف ولزم الوقف، فلا يجوز له الرجوع فيه بعد ذلك ولا التصرف فيه ببيع ولا هبة، ولا يجوز لأحد من ورثته التصرف فيه، وليس من شرطه لزوم القبض ولا حكم الحاكم

Artinya: Apabila seseorang mewakafkan sesuatu maka hilanglah kepemilikannya dari barang tersebut karena wakaf dan wajib wakaf. Maka tidak boleh baginya menarik kembali setelah itu dan tidak boleh menggunakannya dengan cara membeli atau hibah dan tidak boleh bagi seorang pun dari ahli warisnya untuk menggunakannya. Tidak termasuk syarat wakaf adanya serah terima atau ketetapan hakim.

- Al-Mausuah al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah hlm. 44/119-120 menyimpulkan pendapat berbagai mazhab sbb:

اختلف الفقهاء في لزوم الوقف، فذهب جمهور الفقهاء المالكية والشافعية والحنابلة في المذهب وأبو يوسف ومحمد من الحنفية إلى أن الوقف متى صدر ممن هو أهل للتصرف مستكملا شرائطه أصبح لازماً، وانقطع حق الواقف في التصرف في العين الموقوفة بأي تصرف يخل بالمقصود من الوقف، فلا يباع ولا يوهب ولا يورث، وذلك لقول النبي صلى الله عليه وسلم لعمر بن الخطاب ـ رضي الله عنه ـ: (تصدق بأصله، ولا يباع ولا يوهب ولا يورث)، ولأن الوقف تبرع يمنع البيع والهبة والميراث فلزم بمجرد صدور الصيغة من الواقف كالعتق، ويفارق الهبة فإنها تمليك مطلق، والوقف تحبيس الأصل وتسبيل المنفعة، فهو بالعتق أشبه ، فإلحاقه به أولى.

وعند أبي حنيفة : الوقف جائز غير لازم وللواقف الرجوع فيه حال حياته مع الكراهة، ويورث عنه، وإنما يلزم الوقف عنده بأحد أمرين: أن يحكم به القاضي، أو يخرجه مخرج الوصية، ولكن الفتوى عند الحنفية على قول أبي يوسف ومحمد وهو اللزوم، قال ابن عابدين نقلا عن "الفتح": والحق ترجيح قول عامة العلماء بلزومه؛ لأن الأحاديث والآثار متضافرة على ذلك، واستمر عمل الصحابة والتابعين ومن بعدهم على ذلك ، فترجح قولهما" وفي رواية عن الإمام أحمد أن الوقف لا يلزم إلا بالقبض وإخراج الواقف له عن يده؛ لأنه تبرع بمال لم يخرجه عن المالية، فلم يلزم بمجرد اللفظ كالهبة والوصية



Artinya: Ulama fiqih berbeda pendapat soal ketetapan wakaf. Jumhur ulama dari mazhab Maliki, Syafi'i, Hanbali (dalam pendapat yang kuat), Abu Yusuf, Muhammad dari mazhab Hanafi berpendapat bahwa wakaf apabila dilakukan oleh ahli tasharuf (akil baligh) dan sempurna syaratnya maka menjadi ketetapan. Dan terputus hak yang mewakafkan (al-waqif) dalam menggunakan harta yang diwakafkan dengan penggunaan yang merusak maksud dari wakaf. Dalam arti harta tersebut tidak boleh dijual, diberikan dan diwariskan. Berdasarkan pada sabda Nabi pada Umar bin Khattab, "Sedekahkan pokoknya, tidak boleh dijual, diberikan, diwariskan). Dan karena wakaf itu ibadah yang mencegah dijual, dihibahkan dan diwariskan. Maka wakaf menjadi tetap dan sah dengan keluarnya shighat atau ucapan wakaf dari yang mewakafkan (waqif) sebagaimana memerdekakan budak. Ini berbeda dengan hibah karena hibah itu kepemilikan mutlak sedangkan wakaf itu menahan yang asal dan mengalirkan manfaat, maka lebih serupa dengan itiq (memerdekakan budak). Menganalogikan dengan itiq itu lebih utama.

Menurut mazhab Hanafi, waqaf itu boleh dan tidak tetap (lazim). Waqif boleh menarik kembali saat ia hidup namun hukumnya makruh dan dapat diwariskan...



Cari artikel lain:




Copy link berikut untuk referensi kutipan:

Jangan lupa baca yang ini juga ..