Tuesday, June 09, 2015

Hukum Menabuh Rebana di Masjid


Hukum Menabuh Rebana di Masjid

HUKUM BACA SHALAWAT DI MASJID DENGAN MUSIK REBANA (TERBANG)

Assalamualaikum...
Yth Pengasuh Bahsul Masail
1. Bagaimana hukumnya membaca sholawat di masjid diiringi dengan alat musik terbang (rebana), misalnya terbang al-Banjari, Mohon jawabannya dilengkapi dengan dalil. Karena ada yang bilang sholawatan di masjid yang diiringi dengan al-banjari hukumnya haram.
Sukron sebelumnya.

TOPIK KONSULTASI ISLAM
  1. HUKUM BACA SHALAWAT DI MASJID DENGAN MUSIK REBANA (TERBANG)
  2. MENYUKAI SESAMA JENIS DALAM HATI APAKAH DOSA?
  3. CARA KONSULTASI SYARIAH ISLAM


JAWABAN

1. Hukum membaca shalawat dengan diiringi rebana (Jawa, terbang) adalah boleh alias mubah. Adapun uraian dalilnya adalah sebagai berikut:

a. Hadits sahih riwayat Bukhari dari Aisyah

عن عائشة رضي الله عنها أنها زفّـت امرأة إلى رجل من الأنصار فقال نبي الله صلى الله عليه وسلم : يا عائشة أما كان معكم لهو ؟ فإن الأنصار يعجبهم اللهو
Artinya: Dari Aisyah: Dia (Aisyah) pernah menikahkan seorang wanita kepada pemuda Anshar. Lalu Rasulullah SAW bersabda: "Wahai Aisyah, Mengapa tidak kalian adakan permainan (lahw)? Sesungguhnya orang Anshar itu suka pada permainan."

b. Hadits sahih riwayat Bukhari dari Rubai binti Muawwadz
قالت الربيع بنت معوذ بن عفراء جاء النبي صلى الله عليه وسلم فدخل حين بني علي فجلس على فراشي كمجلسك مني فجعلت جويريات لنا يضربن بالدف ويندبن من قتل من آبائي يوم بدر إذ قالت إحداهن وفينا نبي يعلم ما في غد فقال دعي هذه وقولي بالذي كنت تقولين

Telah berkata Ar-Rubayyi’ binti Mu’awwidz bin ’Afraa’ : "Nabi datang ketika acara pernikahanku. Maka beliau duduk di atas tempat tidurku seperti duduknya engkau (yaitu Khalid bin Dzakwaan – orang yang diajak bicara Ar-Rubayi’) dariku. Lalu beberapa anak perempuan memainkan/memukul duff (rebana) sambil menyebut kebaikan-kebaikan orang-orang yang terbunuh dari orang-orang tuaku pada waktu Perang Badar. Salah seorang dari mereka berkata : "Di antara kami terdapat seorang Nabi yang mengetahui apa yang terjadi esok hari". Maka Nabi berkata : "Tinggalkan perkataan ini dan ucapkanlah perkataan yang engkau katakan sebelumnya."

Hadis pertama menunjukkan bahwa mendendangkan lagu itu boleh, sedangkan pada hadis kedua menunjukkan bolehnya mendendangkan lagu yang diiringi rebana sebagaimana pernyataan Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari 9/203

( باب ضرب الدف في النكاح والوليمة ) يجوز في الدف ضم الدال وفتحها ، وقوله : ( والوليمة ) معطوف على النكاح أي ضرب الدف في الوليمة ، وهو من العام بعد الخاص ويحتمل أن يريد وليمة النكاح خاصة ، وأن ضرب الدف يشرع في النكاح عند العقد وعند الدخول مثلا وعند الوليمة كذلك .

Artinya: (Perihal memukul rebana di pernikahan dan walimah)... Boleh memukul rebana di saat walimah. Ini termasuk bolehnya perkara umum setelah khusus. Dan ada kemungkinan khusus walimah nikah saja. Bahwa memukul rebana itu disyariatkan saat nikah, ketika akad nikah, dan ketika masuk dan saat resepsi.

Dalam memahami kedua hadis di atas, ulama berbeda pendapat tentang apakah lagu dan rebana itu hanya boleh dilakukan di acara walimah saja atau dalam kesempatan yang lain? Dan kalau boleh, apakah boleh dilakukan di dalam masjid atau di luar masjid? Berikut beberapa pendapat ulama yang membolehkan menabuh rebana di dalam masjid:

a. Ibn Hajar al-Haitsami dalam Kaff ar-Ria’a 'an Muharramat al-Lahwi wa as-Sima’, hlm. 45 menyatakan:

قال الشيخان، أي الرافعي والنووي رحمهما الله تعالى: حيث أبحنا الدف فهو فيما إذا لم يكن فيه جلاجل، فإن كانت فيه فالأصح حلّه أيضًا

Artinya: Dua syaikh yakni Imam Rafi’i dan Nawawi mengatakan: "Bahwa kami telah memperbolehkan rebana yakni yang tidak ada gentanya (Arab: jalajil), tapi jika ada gentanya maka pendapat yang sahih pun juga membolehkannya."

b. Ibnu Hajar Al-Haitami dalam kitab Fatawa Al Kubro Al Fiqhiyyah, hlm. 4/356 menyatakan:

وَفِيهِ إيمَاءٌ إلَى جَوَازِ ضَرْبِ الدُّفِّ فِي الْمَسَاجِدِ لِأَجْلِ ذَلِكَ فَعَلَى تَسْلِيمِهِ يُقَاسُ بِهِ غَيْرُهُ وَأَمَّا نَقْلُ ذَلِكَ عَنْ السَّلَفِ فَقَدْ قَالَ الْوَلِيُّ أَبُو زُرْعَةَ فِي تَحْرِيرِهِ صَحَّ عَنْ الشَّيْخِ عِزِّ الدِّينِ بْنِ عَبْدِ السَّلَامِ وَابْنِ دَقِيقِ الْعِيدِ وَهُمَا سَيِّدَا الْمُتَأَخِّرِينَ عِلْمًا وَوَرَعًا وَنَقَلَهُ بَعْضُهُمْ عَنْ الشَّيْخِ أَبِي إِسْحَاقَ الشِّيرَازِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى وَكَفَاكَ بِهِ وَرِعًا مُجْتَهِدًا

Artinya: Hadits tersebut mengisyaratkan kebolehan memainkan rebana di masjid-masjid, dan diqiyaskan pula kebolehan memainkan rebana untuk acara-acara lainnya. Adapun penukilan hal itu dari ulama salaf, maka telah berkata Abu Zur’ah dalam Tahrirnya bahwa itu sah berasal dari Syaikh Izzuddin bin Abdissalam dan Ibnu Daqiq Al-Id, keduanya adalah pemimpin ulama mutakhkhirin dalam segi keilmuan dan kewara’annya, sebagian mereka juga menukilnya dari Syekh Abu Ishaq Asy-Syairazi seorang ulama mujtahid yang wara’.

c. Kitab Tasywif Al Asma, hlm. 28.

وفي إيضاح الدلالة للشيخ القطب عبد الغني الحنفي النابليسي قدس الله سره, وأما ضرب الدفوف والرقص فقد جاءت الرخصة في إباحته للفرح والسرور في أيام العيد والعرس وقدوم الغائب والوليمة والعقيقة وقد ثبت جواز ذلكم بالنص, ثم قال وسواء كانت الدفوف بالجلاجل أولا سواء كان الضرب بذلك بنغمات أو بغير نغمات . اقترن به رقص وتوجد أولا سواء كان ذلك في عرس أو وليمة أو يوم عيد أو قدوم غائب أو على ذكر وتهليل أو صلاة على النبي صلى الله عليه وأله وسلم أو لم يكن كذلك وسواء كان وحده في بيته أو في المسجد أو بين جماعة من أهل العلم والصلاح أو غيرهم
Artinya: .. adapun memukul rebana dan menari ada rukhsoh atas kebolehannya karena saat sedang gembira pada hari lebaran, pernikahan, kedatangan yang pergi, walimah (resepsi), dan aqiqah. Bolehnya hal itu ditetapkan dalam nash. Al-Qutub berkata sama saja rebana itu disertai dengan bel atau tidak. Sama saja pemukulan rebana itu disertai nada atau tidak dengan tarian atau tidak. Sama saja hal itu saat pernikahan atau resepsi atau hari raya atau datangnya orang yang bepergian atau berzikir atau tahlil atau sholawat pada Nabi atau tidak seperti itu. Baik itu dilakukan sendirian di rumahnya atau di masjid atau antara golongan ahli ilmu dan kebaikan atau lainnya. Baca juga: Musik dalam Islam

_______________________________


MENYUKAI SESAMA JENIS DALAM HATI APAKAH DOSA?

Assalamualaikum

Saya ingin bertanya. saya seorang pria. saya tahu pasti bahwa hubungan seks sejenis adalah haram dan merupakan dosa besar. tapi bagaimana dengan yang ada didalam hati saya? maksudnya, saya sama sekali tidak berpacaran atau mengikat diri seperti layaknya pasangan sejenis. hanya saja saya terkadang tertarik dengan sesama pria layaknya pria normal yang tertarik dengan wanita.

1. bagaimana hukumnya? terima kasih. wassalam

JAWABAN

1. Selagi ketertarikan itu masih terbatas dalam hati dan tidak sampai terjadi dalam perbuatan, maka tidak ada dosa. Dalam sebuah hadits sahih riwayat Bukhari dan Muslim:

إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِي مَا حَدَّثَتْ بِهِ أَنْفُسَهَا مَا لَمْ تَعْمَلْ أَوْ تَتَكَلَّمْ
Artinya: Allah memaafkan umatku atas niat melakukan perbuatan buruk selagi dia tidak melakukan atau membicarakannya.

Namun, kalau ketika anda melihat seorang lelaki itu membangkitkan gairah syahwat anda, maka itu sudah termasuk dosa. Ini sebenarnya hukum yang umum dalam Islam bahwa bangkitnya syahwat oleh suatu sebab yang selain karena faktor suami-istri hukumnya haram baik dengan cara melihat sesama jenis, atau lawan jenis atau karena melihat gambar atau video yang membangkitkan birahi. Baca juga: Mengatasi Penyakit Gay dan Homoseksual




Cari artikel lain:




Copy link berikut untuk referensi kutipan:

Jangan lupa baca yang ini juga ..