Hukum Bermimpi Bertemu Nabi Muhammad Rasulullah

Hukum Bermimpi Bertemu Nabi Muhammad Rasulullah dapat dianggap sebagai mimpi yang benar dengan syarat yang bermimpi mengetahui betul ciri-ciri fisik

Hukum Bermimpi Bertemu Nabi

 Hukum Bermimpi Bertemu Nabi Muhammad Rasulullah dapat dianggap sebagai mimpi yang benar dengan syarat yang bermimpi mengetahui betul ciri-ciri fisik Nabi berdasarkan penjelasan hadits tentang Rasulullah dan bahwa perintah pada hadits tersebut tidak berlawanan dengan syariah Islam.

1. Hadits Pertama:

 مَن رَأَني في المنامِ فسيراني في اليَقَظَةِ . أو لكأنما رآني في اليَقَظَةِ ، ولا يَتَمَثْلُ الشيطانُ بي     أخرجه البخاري (6993)، ومسلم (2266) واللفظ له

"Barangsiapa melihatku dalam mimpi, maka ia akan melihatku dalam keadaan terjaga (bangun), atau seolah-olah ia melihatku dalam keadaan terjaga. Dan setan tidak dapat menyerupai diriku."

(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari [6993] dan Muslim [2266], dan teks ini adalah lafaz milik Imam Muslim) 

2. Hadits Kedua:

 مَن رآني في المنامِ فقدْ رآني؛ فإنَّ الشيطانَ لا يَتمثَّلُ في صُورتي

 "Barangsiapa melihatku dalam mimpi, maka dia benar-benar telah melihatku; karena sesungguhnya setan tidak dapat menyerupai rupaku."

3. Hadits Ketiga

 وَلا يَتَمَثَّلُ الشَّيْطَانُ بِي

 "Dan setan tidak dapat menyerupai diriku."

 4. Hadits Keempat

من رأني في المنام فقد رأنى فإن الشيطان لا يتصور أو قال لا يتشبه بي 

"Barangsiapa melihatku dalam mimpi, maka dia benar-benar telah melihatku; karena sesungguhnya setan tidak dapat menjelma (dalam bentukku), atau beliau bersabda: tidak dapat menyerupai diriku."

Penjelasan Ibnu Hajar Asqalani tentang Hadits tentang Mimpi Bertemu Nabi 

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari, hlm. 12/384-385, menjelaskan:

 أن الحديث قد روي بثلاثة ألفاظ: فسيراني في اليقظة، فكأنما رآني في اليقظة، فقد رآني في اليقظة، وذكر أن أكثر الروايات كالثالثة إلا قوله في اليقظة. وبعد تفصيل طويل للحافظ -يراجع في موطنه من الفتح- خلص إلى أن لأهل العلم في المسألة ستة أقوال:
أحدهما: أنه على التشبيه والتمثيل، ودل عليه قوله في الرواية الأخرى "فكأنما رآني في اليقظة".
ثانيها: أن معناها: سيرى في اليقظة تأويلها بطريق الحقيقة أو التعبير.
ثالثها: أنه خاص بأهل عصره ممن آمن به قبل أن يراه.
رابعها: أنه يراه في المرآة التي كانت له إن أمكنه ذلك، وهذا من أبعد المحامل كما قال الحافظ.
خامسها: أنه يراه يوم القيامة بمزيد خصوصيته لا مطلق من يراه حينئذ ممن لم يره في المنام.
سادسها: أنه يراه في الدنيا حقيقة ويخاطبه.
قال القرطبي: منكراً على من قال بالقول السادس: وهذا قول يدرك فساده بأوائل العقول، ويلزم عليه أن لا يراه أحد إلا على صورته التي مات عليها، وأن لا يراه رائيان في آن واحد في مكانين، وأن يحيا الآن، ويخرج من قبره، ويمشي في الأسواق، ويخاطب الناس ويخاطبوه، ويلزم من ذلك أن يخلو قبره من جسده، فلا يبقى في قبره منه شيء، فيزار مجرد القبر، ويسلم على غائب، لأنه جائز أن يرى في الليل والنهار مع اتصال الأوقات على حقيقته في غير قبره. وهذه جهالات لا يلتزم بها من له أدنى مسكة من عقل. انتهى 

"Melihat Nabi ﷺ dalam Keadaan Terjaga"


Sesungguhnya hadis ini telah diriwayatkan dengan tiga redaksi (lafaz):

    "Maka ia akan melihatku dalam keadaan terjaga (Yaqazah)."

    "Maka seolah-olah ia melihatku dalam keadaan terjaga."

    "Maka ia benar-benar telah melihatku dalam keadaan terjaga."

Disebutkan bahwa mayoritas riwayat senada dengan redaksi ketiga, kecuali tambahan kata "dalam keadaan terjaga" (fil yaqazah). Setelah penjelasan panjang lebar dari Al-Hafiz (Ibnu Hajar)—yang dapat dirujuk langsung dalam kitab Fathul Bari—beliau menyimpulkan bahwa para ulama memiliki enam pendapat dalam masalah ini:

    Pendapat Pertama: Maknanya adalah penyerupaan dan perumpamaan (tashbih wa tamthil). Hal ini dikuatkan oleh riwayat lain yang berbunyi: "Maka seolah-olah ia melihatku dalam keadaan terjaga."

    Pendapat Kedua: Maknanya adalah ia akan melihat di alam nyata takwil (kenyataan) dari mimpinya tersebut, baik melalui jalur hakikat maupun tafsir mimpi.

    Pendapat Ketiga: Hal ini khusus bagi orang-orang di zaman Nabi ﷺ saja, yaitu bagi mereka yang beriman namun belum sempat melihat Nabi ﷺ secara langsung (sebelum beliau wafat).

    Pendapat Keempat: Ia akan melihat Nabi ﷺ di cermin milik beliau jika hal itu memungkinkan. Namun, Al-Hafiz berkomentar bahwa ini adalah penafsiran yang paling jauh (lemah).

    Pendapat Kelima: Ia akan melihat Nabi ﷺ pada hari kiamat dengan keistimewaan khusus (kedekatan), bukan sekadar melihat seperti orang lain yang melihat Nabi ﷺ di mahsyar namun tidak memimpikannya di dunia.

    Pendapat Keenam: Bahwa ia melihat Nabi ﷺ di dunia secara nyata (fisik/hakiki) dan berbicara dengannya.

Bantahan Imam Al-Qurtubi terhadap Pendapat Keenam

Imam Al-Qurtubi berkata dengan nada mengingkari orang yang berpegang pada pendapat keenam:

    "Ini adalah pendapat yang kerusakannya (ketidaklogisannya) dapat disadari oleh akal sehat yang paling mendasar. Jika pendapat ini benar, konsekuensinya adalah:

 Seseorang tidak akan melihat Nabi ﷺ kecuali dalam rupa saat beliau wafat. 

        Dua orang tidak mungkin melihat beliau di waktu yang sama di dua tempat yang berbeda.

        Nabi ﷺ berarti hidup sekarang, keluar dari kuburnya, berjalan di pasar-pasar, serta berbicara dengan orang-orang dan mereka berbicara kepadanya.

        Hal ini juga berkonsekuensi bahwa kubur beliau menjadi kosong dari jasadnya, sehingga tidak ada lagi yang tersisa di dalam kubur. Maka orang-orang yang berziarah hanya menziarahi kubur kosong dan memberi salam kepada orang yang tidak ada di tempat. Karena sangat mungkin beliau dilihat pada siang dan malam hari secara terus-menerus dalam wujud aslinya di luar kubur.

    Ini semua adalah kebodohan-kebodohan (jahalat) yang tidak mungkin dipegang oleh orang yang memiliki sedikit saja akal sehat." (Selesai kutipan). 

Diantara tanda-tanda Mimpi yang benar : 

1. Fisik Rasulullah ﷺ sesuai dengan apa yang telah diterangkan banyak ulama dalam kitab-kitab syama'il ﷺ. 

Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya al Fusul fi ikhtisori sirotirrosul ﷺ berkata : 

(فإن الشيطان لا يتمثل بي) ،،،لكن بشرط أن يراه على صورته التي هي صورته في الحياة الدنيا.

Dalam hadist : (Karena sesungguhnya setan tidak dapat menyerupaiku). 
Akan tetapi dengan syarat melihat Rasulullah  ﷺ sesuai dengan sifatnya ﷺ dalam kehidupan dunia (sesuai dengan ciri-ciri yang telah disebutkan oleh para ulama).

2. Tidak menyelisihi syari'at.

Imam Jamaluddin as Samhudi as Syafi'i al Misri berkata dalam kitabnya Nasihatul Habib : 

‎ إن النبي ﷺ إذا رئي في المنام فأمر بشيء أو نهى عن شيء، واجبٌ فيه أن يُعرضَ على كتاب الله وسنة نبيه ﷺ، فإن وافق عُلم أن الرؤيا حق وأن الكلام حق، وتكون الرؤيا تأنيسا للرائي وبشارةً له، وإن خالفت عُلِمَ أن الرؤيا حق، وأن الشيطان أوصل إلى سمع الرائي غير ما تكلم به النبي ﷺ. 

Sesungguhnya ketika melihat Rasulullah ﷺ dalam mimpi lalu beliau menyuruh untuk melakukan sesuatu atau melarangnya, maka perintah atau larangan itu harus dikembalikan kepada al Qur'an dan sunnah. Jika hal itu sesuai dengan al qur'an dan sunnah maka mimpi itu benar dan apa yang beliau katakn juga benar, lalu mimpi itu datang sebagai pelipur dan kabar gembira baginya. Apabila perintah atau larangan itu menyeleisihi al qur'an dan sunnah maka mimpi itu tetaplah benar, akan tetapi sesungguhnya setan membisikkan pada telinganya hal yang tidak disampaikan oleh Nabi ﷺ.  

Baca juga:  

  1. Tafsir Mimpi 1 
  2. Tafsir Mimpi 2 
  3. Mimpi dalam Islam 
LihatTutupKomentar