Hukum Olahraga Beladiri Tinju, Gulat, Kungfu, Karate, Pencak Silat, dll

Hukum Olahraga Beladiri Tinju, Gulat, karate, taekwondo, kungfu, pencak silat, MMA, dll apakah haram atau halal ? Hukumnya boleh dengan syarat

Hukum Olahraga Beladiri Tinju, Gulat, dll

Dr. Wahbah Zuhaili dalam kitab Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, hlm. 4/2668, menyatakan terkait seni bela diri tinju (yang banyak memukul wajah) dan gulat:

إن لم يكن في الملاكمة، أو المصارعة ضرر بأحد الطرفين، كانت مباحة، وكذلك تباح إن كان فيها تعويد الإنسان على القوة والقتال، والدفاع عن النفس. اهـ.

Artinya: "Jika tidak ada kerugian (atau bahaya) yang menimpa salah satu dari kedua pihak dalam tinju (al-mulākamah) maupun gulat (al-muṣāra‘ah), maka keduanya menjadi mubah (boleh). Demikian pula, keduanya dibolehkan jika di dalamnya terdapat pembiasaan manusia terhadap kekuatan, pertarungan, dan pembelaan diri." 

Pendapat ini didasarkan pada hadits Nabi riwayat Bukhari dan Muslim: 

 إذا مرَّ أحدكم في مسجدنا، أو في سوقنا ومعه نبل؛ فليمسك على نصالها أن يصيب أحدا من المسلمين منها شيء. رواه البخاري ومسلم. 

Artinya: "Jika salah seorang dari kalian melewati masjid kami atau pasar kami sambil membawa panah (nibl), maka hendaklah ia menutupi/menahan ujung-ujungnya (nushul/nashal) agar tidak melukai seorang pun dari kaum Muslimin." Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.

Meskipun demikian, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tetap mengizinkan orang-orang Habasyah (Etiopia) bermain dengan tombak (harabah) di masjid beliau shallallahu 'alaihi wa sallam.

Al-Suyuthi berkata dalam catatan pinggirnya atas Sunan an-Nasa'i:  

 قال الشيخ عز الدين بن عبد السلام: في تمكينه صلى الله عليه وسلم الحبشة من اللعب في المسجد، دليل على جواز ذلك، فلم كره العلماء اللعب في المساجد؟

قال: والجواب أن لعب الحبشة كان بالسلاح، واللعب بالسلاح مندوب إليه للقوة على الجهاد، فصار ذلك من القرب، كإقراء علم، وتسبيح، وغير ذلك من القرب. اهـ.

 Artinya: "Syaikh Izzuddin bin Abdus Salam berkata: Dalam pengizinan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kepada orang-orang Habasyah untuk bermain di masjid, terdapat dalil atas kebolehannya. Lalu mengapa para ulama memakruhkan bermain di masjid-masjid?

Ia menjawab: Permainan orang Habasyah itu dengan senjata, dan bermain dengan senjata dianjurkan untuk memperkuat diri dalam jihad, sehingga hal itu menjadi bentuk ibadah mendekatkan diri kepada Allah, seperti mengajarkan ilmu, bertasbih, dan bentuk-bentuk ibadah lainnya. "

Al-Qadhi Iyadh berkata dalam Ikmal al-Mu'allim:   

وقال القاضي عياض في (إكمال المعلم): في حديث الحبشة، جواز اللعب بالسلاح والمثاقفة؛ لأن فيه تدريبا على العمل بها في الحرب، وتمرينا للأيدي عليها. اهـ.

Artinya: "Dalam hadits tentang orang Habasyah terdapat kebolehan bermain dengan senjata dan saling beradu pedang (muthaqafah); karena hal itu merupakan latihan untuk menggunakannya dalam perang serta melatih tangan untuk itu."

An-Nawawi berkata:  

وقال النووي: فيه جواز اللعب بالسلاح، ونحوه من آلات الحرب في المسجد، ويلتحق به ما في معناه من الأسباب المعينة على الجهاد، وأنواع البر. اهـ.

Artinya: "Di dalamnya terdapat kebolehan bermain dengan senjata dan sejenisnya dari alat-alat perang di masjid. Hal yang semisal dengannya termasuk segala hal yang membantu jihad dan berbagai jenis kebaikan."

Ibnu Hajar berkata:   

وقال ابن حجر: استدل به على جواز اللعب بالسلاح على طريق التواثب للتدريب على الحرب، والتنشيط عليه. واستنبط منه جواز المثاقفة؛ لما فيها من تمرين الأيدي على آلات الحرب. اهـ.

Artinya: "Hadits ini dijadikan dalil atas kebolehan bermain dengan senjata melalui cara saling melompat (tawathub) untuk latihan perang dan memotivasi diri untuk itu. Dari situ pula disimpulkan kebolehan muthaqafah (saling beradu pedang), karena di dalamnya ada latihan tangan dengan alat-alat perang."

Hal ini juga didukung oleh sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:   

: ستفتح عليكم أرضون ويكفيكم الله، فلا يعجز أحدكم أن يلهو بأسهمه. رواه مسلم.

Artinya: "Akan dibukakan bagi kalian negeri-negeri, dan Allah akan mencukupkan kalian, maka janganlah salah seorang dari kalian merasa lemah untuk bermain-main dengan panahnya." Diriwayatkan oleh Muslim.

Al-Qadhi Iyadh berkata:  

 فيه جواز المناضلة والمسابقة بالسهام، والحض على ذلك، وألا يترك ذلك، وإن استغنى عنه بما كفى الله من الفتح على الأعداء، وظهور الدين، وقد تقدم هذا، ومثله جواز اللعب بالسلاح، والمثاقفة، وإجراء الخيل وأشباه هذا، مع ما عضده من الآثار الأخر؛ إذ في كل ذلك التمرن والاستعداد، ومعاهدة الجسم، ورياضة الأعضاء بها. اهـ. 

Artinya: "Di dalamnya terdapat kebolehan melakukan perlombaan memanah dan berlomba dengan panah, serta dorongan untuk itu, dan tidak meninggalkannya meskipun Allah telah mencukupkan dengan kemenangan atas musuh dan tampaknya agama. Hal ini telah disebutkan sebelumnya. Semisal dengannya adalah kebolehan bermain dengan senjata, muthaqafah (saling beradu pedang), menggelar pacuan kuda, dan hal-hal serupa, ditambah dengan atsar-atsar lain yang mendukungnya; karena semuanya itu merupakan latihan, persiapan, pemeliharaan tubuh, dan olahraga anggota badan dengannya. "

LihatTutupKomentar