Penjelasan Kaidah Bukti Wajib bagi Pengklaim dan Sumpah bagi yang Mengingkari
"البينة على المدعي واليمين على من أنكر"
"Bukti Wajib bagi Penuntut dan Sumpah bagi yang Mengingkari"
عن ابن عباسٍ رضي الله عنهما: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ((لو يعطى الناس بدعواهم، لادعى رجالٌ أموال قومٍ ودماءهم، لكن البينة على المدَّعِي، واليمين على من أنكر))؛ حديث حسنٌ، رواه البيهقي وغيره هكذا، وبعضه في الصحيحين.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Seandainya setiap manusia diberikan (dikabulkan) setiap tuntutannya,
niscaya orang-orang akan menuntut harta dan darah suatu kaum. Namun,
bukti (bayyinah) wajib bagi penuntut (al-mudda'i) dan sumpah wajib bagi
yang mengingkari (al-munkar)."
(Hadits Hasan, diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dan lainnya seperti ini, dan sebagiannya terdapat dalam Shahihain).
منزلة الحديث:
Kedudukan Hadits:
◙ هذا الحديث من أجلِّ الأحاديث وأرفعها، وأقوى الحجج وأنفعها، وقاعدة عظيمة من قواعد الشريعة المطهرة، وأصل من أصول أحكام الإسلام المحررة، وأعظم مرجع عند الخصام، وأكرم مستمسَك لقضاء الإسلام، وقيل: إنه فصل الخطاب الذي أوتيه داود عليه السلام[1].
Hadits ini merupakan salah satu hadits yang paling agung dan tinggi kedudukannya, hujah yang paling kuat dan bermanfaat, kaidah besar dari kaidah-kaidah syariat yang suci, serta landasan hukum Islam yang murni. Ia adalah referensi utama saat terjadi perselisihan dan pegangan paling mulia bagi peradilan Islam. Dikatakan bahwa hadits ini adalah Fashl al-Khitab (keputusan yang adil) yang diberikan kepada Nabi Dawud alaihis salam.[1]
◙ قال النووي رحمه الله: وهذا الحديث قاعدة كبيرة من قواعد أحكام الشرع، ففيه أنه لا يُقبَل قول إنسان فيما يدعيه بمجرد دعواه، بل يحتاج إلى بينة، أو تصديق المدَّعَى عليه، فإن طلب يمين المدعى عليه فله ذلك[2].
Imam An-Nawawi berkata: "Hadits ini adalah kaidah besar dari kaidah hukum syara'. Di dalamnya dijelaskan bahwa perkataan seseorang dalam tuntutannya tidak diterima begitu saja, melainkan membutuhkan bukti atau pembenaran dari pihak yang dituntut. Jika penuntut meminta sumpah dari pihak yang dituntut, maka ia berhak mendapatkannya".[2]
◙ قال ابن دقيق العيد رحمه الله: وهذا الحديث أصل من أصول الأحكام، وأعظم مرجع عند التنازع والخصام، ويقتضي ألا يحكم لأحد بدعواه[3].
Ibnu Daqiq al-Ied berkata: "Hadits ini adalah pokok dari pokok-pokok
hukum, rujukan terbesar saat terjadi sengketa, dan menetapkan bahwa
seseorang tidak boleh dihukum hanya berdasarkan klaimnya".
◙ هذا الحديث قاعدة عظيمة من قواعد الدين الذي يبني أحكامه على الحقائق، وإذا فقد الدليل فلا بد من اليمين، وهو فصل الخطاب[4].
Hadits ini adalah kaidah agung dalam agama yang membangun hukum-hukumnya di atas fakta. Jika bukti fisik/saksi tidak ditemukan, maka harus beralih ke sumpah, dan itulah pemutus perkara.
غريب الحديث:
Kosakata Asing (Gharib):
◙ لو يعطى الناس: لو يجاب في دعواه.
Seandainya manusia diberikan (Lau yu'tho an-naas): Seandainya setiap tuntutan mereka dikabulkan.
◙ دعواهم: بمجرد قولهم أو طلبهم.
Tuntutan mereka (Da'wahum): Hanya berdasarkan perkataan atau permintaan mereka.
◙ لادعى رجال: أي لاستباح الناس دماء غيرهم دون حق.
Orang-orang akan menuntut (La'adda'a rijalun): Manusia akan menghalalkan darah orang lain tanpa hak.
◙ البينة: شهود أو دلالة.
Bukti (Al-Bayyinah): Saksi-saksi atau petunjuk yang kuat.
◙ اليمين: الحلف على نفيِ ما ادُّعِيَ به عليه.
Sumpah (Al-Yamin): Bersumpah untuk meniadakan/menyangkal apa yang dituduhkan kepadanya.
شرح الحديث:
Syarah (Penjelasan) Hadits:
((لو يعطى الناس))؛ أي: الأموال والدماء، ((بدعواهم))؛ أي: لو كان من ادعى شيئًا عند الحاكم يعطاه بمجرد دعواه بلا بينة ((لادعى رجالٌ أموال قومٍ ودماءهم))، وذكر الرجال لا لإخراج النساء، بل لأن الدعوى غالبًا إنما تصدر منهم.
"Seandainya setiap manusia diberikan"—maksudnya diberikan harta dan darah orang lain—"berdasarkan tuntutan mereka"—artinya jika seseorang yang menuntut sesuatu di depan hakim langsung dikabulkan tanpa bukti—"niscaya orang-orang akan menuntut harta dan darah suatu kaum." Penyebutan "laki-laki" (rijal) dalam hadits bukan untuk mengecualikan perempuan, melainkan karena tuntutan hukum biasanya lebih sering terjadi di antara laki-laki.
((لكن البينة على الـمدعِي)) إنما كانت البينة على المدعِي؛ لأنه يدعي خلاف الظاهر، والأصل براءة الذمة، وإنما كانت اليمين في جانب المدعَى عليه؛ لأنه يدعي ما وافق الأصل، وهو براءة الذمة.
"Namun bukti wajib bagi penuntut (al-mudda'i)": Kewajiban bukti dibebankan kepada penuntut karena ia mengklaim sesuatu yang berbeda dari kondisi lahiriah (status awal). Hukum asalnya adalah seseorang terbebas dari tanggungan (bara'atu adz-dzimmah). Sedangkan sumpah diberikan kepada pihak yang dituntut (al-mudda'a 'alaihi) karena ia mempertahankan hukum asal, yaitu kebebasan dari tanggungan.
((واليمين على من أنكر))؛ أي: مَن أنكر دعوى خصمه إذا لم يكن لخصمه بينة، فإذا قال زيدٌ لعمرو: أنا أطلبك مائة درهم، وقال عمرو: لا، قلنا لزيد: ائتِ ببينة، فإن لم يأتِ بالبينة، قلنا لعمرو: احلف على نفي ما ادعاه، فإذا حلف برئ.
"Dan sumpah bagi yang mengingkari": Yaitu siapa saja yang mengingkari tuntutan lawannya jika lawan tersebut tidak memiliki bukti. Contoh: Jika Zaid berkata kepada 'Amr, "Aku menagihmu 100 dirham," lalu 'Amr menjawab, "Tidak," maka kita katakan kepada Zaid, "Bawa buktinya." Jika Zaid tidak membawa bukti, kita katakan kepada 'Amr, "Bersumpahlah untuk menyangkal apa yang dia tuntut." Jika 'Amr bersumpah, maka ia bebas dari tuntutan.
الفوائد من الحديث:
Fawaid (Manfaat) Hadits:
1- الشريعة الإسلامية حريصة على حفظ أموال الناس ودمائهم؛ لقوله عليه السلام: ((لو يعطى الناس بدعواهم..))؛ الحديث.
2- لا يُحكَم لأحد بمجرد الدعوى، وعلى المدعِي إقامة البينة، فإن عجز طولب المدعَى عليه باليمين.
3- قد يوجد من الناس من لا رادع عنده ولا تقوى؛ فيدعي دماء أناس وأموالهم.
4- الأصل براءة الإنسان المسلم من كل تهمة ونقيصة حتى تثبت بينة.
5- الحديث أصل في باب القضاء.
- Syariat Islam sangat menjaga harta dan darah manusia.
- Seseorang tidak boleh dijatuhi hukuman hanya berdasarkan klaim semata. Penuntut wajib mengajukan bukti; jika gagal, pihak yang dituntut diminta bersumpah.
- Di antara manusia, ada yang tidak memiliki rasa takut kepada Allah dan tidak memiliki ketakwaan, sehingga berani menuntut darah dan harta orang lain secara bathil.
- Prinsip dasar seorang Muslim adalah bersih dari segala tuduhan dan kekurangan sampai ada bukti yang membuktikannya.
- Hadits ini adalah landasan utama dalam bab peradilan (Litigasi).
[1] الفتوحات الربانية (7/ 349).
[2] شرح مسلم للنووي (12/4 ج 1711).
[3] شرح الأربعين لابن دقيق العيد (99) المفهم شرح مسلم للقرطبي (5/ 148 ح 1802).
[4] الإلمام (351).
Footnote
[1] Al-Futūḥāt ar-Rabbāniyyah, Jilid 7, Halaman 349.
[2] Syarah Shahih Muslim oleh Imam An-Nawawi, Jilid 12, Halaman 4, Hadits Nomor 1711.
[3] Syarah Al-Arba'in oleh Ibnu Daqiq al-Ied, Halaman 99; Al-Mufhim Syarah Shahih Muslim oleh Imam Al-Qurthubi, Jilid 5, Halaman 148, Hadits Nomor 1802.
[4] Al-Ilmām, Halaman 351.
Courtesy
KESIMPULAN
"Bukti wajib bagi penuntut, dan sumpah wajib bagi yang mengingkari."
Penjelasan Singkat:
Kalimat ini merupakan salah satu kaidah hukum dan peradilan paling mendasar dalam Islam (Qawaid Fiqhiyyah) yang mengatur beban pembuktian di pengadilan atau saat terjadi perselisihan:
Al-Bayyinah 'ala al-mudda'i (البينة على المدعي): Pihak yang mendakwa, menuntut, atau mengklaim sesuatu yang berbeda dari kondisi asal wajib membawa bukti yang sah (seperti saksi, dokumen, atau bukti fisik).
Wal-yaminu 'ala man ankar (واليمين على من أنكر): Pihak yang tertuntut atau tertuduh cukup mempertahankan posisi asalnya (bahwa dia tidak bersalah/tidak punya tanggungan) dengan cara bersumpah atas nama Allah jika pihak penuntut gagal membawa bukti.
