Thursday, July 28, 2011

Pengajian Sistem Sorogan


Pengajian Sistem Sorogan
Salah satu sistem pengajian dalam proses belajar mengajar di pesantren salaf adalah sorogan. Salah satu ciri khas sistem pendidikan di pesantren salaf adalah pengajian sorogan.

Sorogan, berasal dari kata sorog (bahasa Jawa), yang berarti menyodorkan, sebab setiap santri menyodorkan kitabnya di hadapan kyai atau ustadz yang menjadi asisten kyai.

DAFTAR ISI
  1. Pengertian Metode Sorogan
  2. Sejarah Pengajian Sorogan
  3. Berita Pengajian Sorogan
  4. Penelitian tentang Efektivitas Sorogan

PENGERTIAN METODE SOROGAN

Menurut Zamakhsyari Dhofier metode sorogan adalah “sistem pengajian yang disampaikan kepada murid-murid secara individual”.

Mastuhu mengartikan metode sorogan adalah “Belajar secara individual di mana seorang santri berhadapan dengan seorang guru, terjadi interaksi saling mengenal diantara keduanya”.

Dalam buku sejarah pendididkan Islam dijelaskan, metode sorogan adalah “metode yang santrinya cukup men-sorog-kan (mengajukan) sebuah kitab kepada kyai untuk dibacakan di hadapannya.

Menurut Dr. Manfred Ziemak metode sorogan adalah : “Pelajaran individual atau kelompok kecil dalam setudi dasar”.
Menurut Karel A. Seenbrink metode sorogan adalah : “pengajaran individual”.[6]M.H Chirzin menjelaskan metode sorogan adalah : “Santri menghadap guru seorang demi seorang dengan membawa kitab yang akan dipelajarinya”.

Jadi, pengajian sistem sorogan adalah Cara penyampaian bahan pelajaran dimana kyai atau ustazd mengajar santri seorang demi seorang secara bergilir dan bergantian, santri membawa kitab sendiri-sendiri. Mula-mula kyai mebacakan kitab yang diajarkan kemudian menterjemahkan kata demi kata serta menerangkan maksudnya, setelah itu santri disuruh membaca dan mengulangi seperti apa yang tela dilakukan kyai, sehingga setiap santri menguasainya.

Kelemahan dan Kelebihan Metode Sorogan
a) Kelemahan Metode Sorogan
(1) Apabila dipandang dari segi waktu dan tenaga mengajar kurang efektif, karena membutuhkan waktu yang relatif lama, apalagi apabila santri yang mengaji berjumlah banyak.
(2) Banyak menuntut kerajinan, ketekunan, keuletan, dan kedisiplinan pribadi seorang kyai.
(3) Sistem sorogan dalam pengajaran merupakan sistem yang paling sulit dari seluruh sistem pendidikan islam.
b) Kelebihan Metode Sorogan
(1) Kemajuan individu lebih terjamin karena setiap santri dapat menyelesaikan seluruh program belajarnya sesuai dengan kemampuan individu masing-masing.
(2) Memungkinkan kecepatan belajar para santri, sehingga ada kompetisi sehat antar santri.
(3) Memungkinkan seorang guru mengawasi dan membimbing secara maksimal kemampuan seorang murid dalam menguasai pelajarannya.
(4) Memiliki ciri penekanan yang sangat kuat pemahaman tekstual atau literal.


SEJARAH PENGAJIAN SOROGAN

Sistem sorogan ini termasuk belajar secara individual, dimana seorang santri berhadapan dengan seorang guru, dan terjadi interaksi saling mengenal di antara keduanya. Sistem sorogan ini terbukti sangat efektif sebagai taraf pertama bagi seorang murid yang bercita-cita menjadi seorang alim. Sistem ini memungkinkan seorang guru mengawasi, menilai dan membimbing secara maksimal kemampuan seorang murid dalam menguasai bahasa berbagai macam keilmuan agama yang ditulis oleh penulis muslim era pertengahan dan dalam bahasa Arab klasik.

Dalam metode sorogan, murid membaca kitab kuning dan memberi makna sementara guru mendengarkan sambil memberi catatan, komentar, atau bimbingan bila diperlukan. Akan tetapi, dalam metode ini, dialog antara guru dengan murid belum atau tidak terjadi. Metode ini tepat bila diberikan kepada murid-murid seusia tingkat dasar (ibtidaiyah) dan tingkat menengah (tsanawiyah) yang segala sesuatunya masih perlu diberi atau dibekali.


BERITA PENGAJIAN SOROGAN

Masjid Nabawi Buka Pengajian Sorogan dan Bandongan

"Kegiatan pengajian dengan seorang guru yang membacakan kitab dengan dikelilingi jamaah bandongan), dapat diikuti oleh semua orang dengan kitab dan keilmuan yang berbeda-beda. AdaFikih ada Hadits dan ada juga Tafsir Alquran," terang Faris.

Pengajian bandongan ini, terang Faris, dilaksanakan usai sholat maktubah di empat sayap bangunan Masjid Nabawi. Pengajian ini dapat diikuri oleh siapa pun.

Lebih lanjut Faris menyatakan, para jamaah juga dapat mengaji kepada guru tertentu dengan enyodorkan kitabnya sendiri kepada seorang syeikh (sorogan) yang telah ditunjuk oleh pengelola Masjid Nabawi. (Republika, 11/10/10)


PENELITIAN TENTANG EFEKTIVITAS SISTEM PENGAJIAN SOROGAN

Judul: Efektivitas Metode Soro gan Terhadap Peningkatan Motivasi Belajar Santri dalam Pembelajaran Al-Qu’an di TPQ Bustanul Muta’allimin Dusun Seseh Ngadisepi Gemawang Temanggung, Yogyakarta
Penulis: ROCHMAN SULISTIYO
Level: Skripsi
Tahun: 2012
Universitas: Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

ABSTRAK,

Latar belakang penelitian ini adalah bahwa metode sorogan merupakan satu-
satunya metode yang dipergunakan dalam kegiatan pembelajaran Al-Qur’an di TPQ
Bustanul Muta’allimin, akan tetapi meskipun hanya menggunakan satu metode yaitu
metode sorogan, kegiatan pembelajaran di TPQ Bustanul Muta’allimin ini tetap
berjalan dengan efektif dan efisien, hasil dari kegiatan pembelajaran tersebut
mendapatkan hasil yang baik. Tujuan penelitian iniadalah untuk mengetahui
pelaksanaan pembelajaran Al-Qur’an dengan metode sorogan di TPQ Bustanul
Muta’allimin, untuk mengetahui motivasi belajar santri dalam pembelajaran Al-
Qur’an di TPQ Bustanul Muta’allimin dengan menggunakan metode sorogan dan
untuk mengetahui efektivitas metode sorogan terhadap peningkatan motivasi belajar
santri.

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, metode yang digunakan dalam
kegiatan penelitian ini adalah metode observasi, wawancara, dokumentasi dan angket.
Analisa data dilakukan dengan cara memberikan makna terhadap data yang sudah
berhasil dikumpulkan, penyajian data yang sudah berhasil dikumpulkan dan
penarikan kesimpulan.

Hasil penelitian menunjukkan :

1) Pelaksanaan pembelajaran sorogan Al-Qur’an di TPQ Bustanul Muta’allimin dilaksanakan dengan dibagi menjadi 3 kelas yaitu kelas Ula, Tsani dan Wustho, adapun teknisnya dilaksanakan dengan sistem individual yaitu santri menghadap kyai untuk membaca atau menghafal Al-Qur’an secara bergantian dihadapan ustadz,
2) Motivasi belajar santri dalam pembelajaran Al-Qur’an dengan metode sorogan meningkat,
3) Efekt ivitas Metode Sorogan terhadap peningkatan motivasi belajar santri “Efekt
if” yaitu dapat diketahui dari peningkatan indikator motivasi belajar menggunakan
analisa rata-rata angket(mean) sebelum dan sesudah menerapkan metode sorogan, peni
ngkatan motivasi belajar yang semula berada pada angka 3,40 meningkat menjadi 3,4
6, kemampuan bacaan Al-Qur’an santri yang semula berada pada angka 2,76 me
ningkat menjadi 3,5, sikap santri dalam belajar Al-Qur’an yang semula berada pada angka 2,46 meningkat menjadi 3,66.

KESIMPULAN HASIL PENELITIAN

1. Pelaksanaan kegiatan pembelajaran Al-Qur’an dengan metode sorogan di
TPQ Bustanul Muta’allimin dilaksanakan dengan cara klasifikasi kelas yaitu : Kelas Ula (tingkatan kelas terendah) Kelas Tsani (tingkatan kelas menengah), Kelas Wustho (tingkatan kelas tertinggi). Pembagian kelas didasarkan pada tingkat kemampuan masing-masing santri, bukan pada taraf usia santri. sistem sorogan di TPQ Bustanul Muta’allimin hanya dipergunakan dalam tingkat kelas Tsani dan kelas Wustho, pada kelas Ula belum menggunakan sistem sorogan. Adapun langkah-langkah (cara mengajar) para Ustadz dan Ustadzah di TPQ Bustanul ta’allimin dalam memberikan pengajaran Al-Qur’an dengan metode sorogan pada dasarnya mempunyai langkah-langkah (cara mengajar) yang sama baik pada tingkatan kelas Tsani maupun Kelas Wustho.

2.Motivasi santri dalam pembelajaran Al-Qur’an dengan menggunakan metode sorogan mengalami peningkatan, peningkatan tersebut dapat diketahui dari hal-hal berikut ini :

a. Motivasi belajar santri sebelum diterapkan metode sorogan “rendah” yaitu ditunjukkan dengan angka hasil analisa angket yang menunjukkan angka 53,33% dan setelah menggunakan metode sorogan motivasi belajar santri “ tinggi” ditunjukkan dengan angka 66,67%.

b. Meningkatnya minat santri dapat dilihat dari sikap santri sebelum menerapkan metode sorogan setelah dianalisa menggunakan rumus mean menunjukkan angka 2,46 yang menunjukkan bahwa motivasi belajar santri “ rendah” dan setelah menerapkan metode sorogan mengalami peningkatan menjadi 3,66 yang menunjukkan bahwa motivasi belajar santri “tinggi”.

c. Perhatian ustdaz dan ustdazah kepada santri, sebelum menerapkan metode sorogan ustadz terkesan acuh tak acuh terhadap perkembangan santri, setelah menerapkan metode sorogan para ustadz dan ustadzah selalu melihat perkembangan santri, bahkan
melakukan pengecekan setiap minggunya. Perhatian yang diberikan oleh ustadz dan ustadzah ini berperngaruh pada peningkatan motivasi santri.

3. Efektivitas Metode Sorogan terhadap peningkatan motivasi belajar santri dapat dilihat dari beberapa hal berikut ini yaitu :

a. Peningkatan minat santri dalam belajar Al-Qur’an dengan metode sorogan yang menunjukkan angka 3,4 sebelum menerapkan metode sorogan meningkat menjadi 3,46 setelah menggunakan metode sorogan. Hal ini menunjukkan bahwa metode sorogan
“efektif” terhadap peningkatan motivasi belajar santri.

b. Dorongan santri dalam belajar Al-Qur’an setelah menerapkan metode sorogan yang menunjukkan angka 73,33%. Hal ini menunjukkan bahwa metode sorogan “efektif” terhadap peningkatan motivasi belajar santri.

c. Peningkatan kemampuan bacaan Al-Qur’an santri sebelum menerapkan metode sorogan menunjukkan angka 2,76 setelah menggunakan metode sorogan menunjukkan angka 3,5. Ha
l inimenunjukkan bahwa metode sorogan “efektif” terhadap peningkatan motivasi belajar santri.

d. Sikap santri dalam belajar Al-Qur’an. Sikap ini ditunjukkan dengan kehadiran santri ke TPQ sebelum menerapkan metode sorogan menunjukkan angka 2,46 dan setelah menerapkan metode sorogan ditunjukkan dengan sikap santri dalam belajar Al-Qur’an
menujukkan angka 3,66. Angka tersebut menunjukkan bahwa metode sorogan “efektif” terhadap peningkatan motivasi belajar santri.



Cari artikel lain:




Copy link berikut untuk referensi kutipan:

Jangan lupa baca yang ini juga ..