Cara Muadalah Penyetaraan Ijazah Pesantren dengan Al-Azhar Mesir

muadalah pesantren ke al-azhar mesir


Cara mendapatkan Muadalah Penyetaraan Ijazah Pesantren dengan Al-Azhar Mesir
Oleh Litbang Ponpes Al-Khoirot Malang

Apa fungsi dari muadalah atau penyetaraan ijazah pesantren dengan Al-Azhar Mesir?

Tujuannya jelas agar lulusan Pesantren dapat disetarakan dengan Universitas Al-Azhar Kairo Mesir. Sehingga santri lulusan pesantren yang ijazahnya disetarakan dapat langsung melanjutkan ke Al-Azhar secara langsung.

Siapa yang merintis usaha ini?

Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI).
Tekad pimpinan pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) untuk memajukan Sumber Daya Manusia (SDM) lulusan pesantren terus berlanjut. Setelah berhasil mengadakan kerja sama pemberian bea siswa bagi lulusan pondok pesantren untuk mengikuti kuliyah di Universitas Al-Ahqaf Yaman, PP RMI dalam rapatnya yang diselenggarakan Minggu (7/9) di kantornya yang terletak di Jl. Ketintang Madya Surabaya telah membahas kemungkinan untuk mengadakan mu’adalah (penyetaraan) ijazah pondok pesantren dengan madrasah-madrasah di Al-Azhar. Sehingga nantinya, ijazah yang dikeluarkan pondok pesantren diakui oleh Universitas Al-Azhar di Kairo Mesir untuk digunakan masuk ke perguruan tinggi di negeri piramid tersebut.

Para kiai yang hadir pada rapat tersebut umumnya menyambut dengan antusias program PP RMI ini. Mereka dengan tekun mengikuti paparan Ketua Umum PP RMI, KH. A.Aziz Masyhuri dan Khoirul Huda Basyir, Lc dari DEPAG RI

Apa tamatan Aliyah Indonesia sudah banyak yang masuk Al-Azhar?

Masih sedikit. Menurut Kiai Aziz tujuan mu’adalah (penyetaraan) kurikulum Madrasah Aliyah yang berada di pondok pesantren dengan kurikulum / GBPP Madrasah Al-Azhar, karena tamatan pondok pesantren yang belajar ke sana (Al-Azhar) masih sedikit.
“Padahal tiap tahunnya Al-Azhar menyediakan bea siswa untuk mahasiswa dari Indonesia, tidak kurang dari 100 orang,” kata pengasuh pesantren Al-Aziziyah Jombang ini dalam arahannya.

Apa ada program beasiswa untuk sekolah/kuliah gratis ke Azhar?

Setiap tahunnya Al-Azhar menyediakan bea siswa untuk mahasiswa dari Indonesia, tidak kurang dari 100 orang.

Mengapa baru sekarang dirintis?

Mengapa baru sekarang dirintis, menurut kiai yang sudah menghasilkan banyak karya tulis ini, karena tahun-tahun kemarin PP RMI belum memiliki GBPP / Kurikulum Madrasah Al-Azhar. “Alhamdulillah sekarang sudah mendapatkan kiriman kurikulum/GBPP Madrasah al-Azhar beserta kitab/buku pegangannya,” katanya menjelaskan.

Selain membahas masalah mu’adalah, dalam rapat yang dipimpin langsung oleh Ketua Umum PP RMI itu, juga membahas rancangan peraturan pemerintah tentang pendidikan agama dan keagamaan. Sebab menurut Kiai Aziz dalam rancangan peraturan pemerintah itu terdapat aturan yang kurang berkenan bagi sebagian pesantren terutama pesantren salaf. Dan hasil dari rapat ini akan diserahkan kepada fihak yang terkait untuk dilanjutkan kepada pemerintah sebelum rancangan peraturan ini ditetapkan sebagai peraturan.

Bagaimana prosedur agar dapat muadalah Al-Azhar?

Prosedur Mu’adalah

Mu’adalah (penyetaraan ijazah) telah menjadi kebutuhan penting bagi sebuah lembaga pendidikan, apalagi apabila mu’adalah tersebut dilakukan dengan lembaga pendidikan asing yang citra dan kridibilitasnya telah mendapat pengakuan dari publik / dunia internasional, seperti Universitas Al-Azhar Kairo Mesir.

Dengan mu’adalah dapat membantu dan mempermudah para lulusan pondok pesantren yang berminat meneruskan jenjang pendidikannya ke lembaga pendidikan luar negeri terutama negara-negara Timur Tengah, baik melalui kesempatan bea siswa maupun terjun secara bebas.

Khoirul Huda Basyir, Lc utusan dari DEPAG RI menjelaskan, bahwa tujuan mu’adalah ini banyak sekali, diantaranya:

Memanfaatkan tawaran beasiswa negara-negara Arab yang belakangan semakin meningkat, di mana salah satu persyaratannya adalah adanya mu’adalah dengan lembaga pendidikan yang bersangkutan.

Mengembangkan trobosan kerjasama bidang pendidikan, terutama di lingkungan pesantren, Madrasah dan Perguruan Tinggi Agama Islam dengan lembaga pendidikan di negara-negara Arab.

Apa Langkah-langkah Yang Harus Dipersiapkan?

Langkah-langkah Yang Harus Dipersiapkan

Untuk mendapatkan pengakuan persamaan ijazah, maka yang perlu diperhatikan oleh pondok pesantren adalah hal-hal sebagai berikut:

1. Menyusun proposal mua’adalah dengan materi dan kurikulum yang telah disesuaikan dengan kurikulum Ma’ahid / Jami’ah Al-Azhar terbaru (dapat minta contoh proposal di Sekretariat PP RMI Jl. Ketintang Madya 63 Surabaya Jawa Timur).

2. Melegalisir proposal mu’adalah yang telah final ke penerjemahan Arab resmi, Departemen Kehakiman, Departemen Luar Negeri dan Kedutaan republik Arab Mesir.
Memohon surat rekomendasi dari Departemen Agama untuk mendapatkan pengesahan.
Mengirimkan proposal mu’adalah ke Al-Azhar Kairo, bisa lewat pos atau akan lebih baik dan aman apabila ada orang yang dititipi dan bertanggungjawab mengantarkan proposal tersebut ke Al-Azhar (Madrasah kepada Rais Qitho Ma’ahid Al-azhariyah, Perguruan Tinggi kepada Syaikh Al-Azhar).

3. Melakukan monitoring/pemantauan proses pengajuan mu’adalah yang telah diajukan melalui komunikasi kepada pihak-pihak yang terkait sampai berhasil. Apabila dalam perjalanannya mengalami kesulitan atau ketersendatan, maka akan lebih baik – bila memungkinkan – apabila Madrasah/Perguruan Tinggi yang bersangkutan melakukan pengajuan secara langsung ke Al-Azhar.

4. Mempersiapkan segala biaya dan pendanaan untuk keperluan mu’adalah.
Kepada pondok pesantren yang berminat segera mengirimkan proposalnya, karena untuk proposal angkatan pertama akan dikirm pada bulan Oktober ini.

Profil Universitas Al-Azhar

Sejarah Singkat

Asal mula Al Azhar adalah berupa mesjid yang dibangun oleh Jauhar Al Shaqali, seorang panglima perang pada Dinasti Fathimiyah, pada tanggal 24 Jumadil Ula 359 H (970 M). Seiring dengan perkembangan zaman, masjid Al Azhar adalah merupakan tempat dakwah yang semakin hari semakin besar, sehingga menjadi sebuah lembaga pendidikan. Kondisi semacam itu berlangsung lama sampai pertengahan abad 21. Jadi selama itu pula Al Azhar yang berupa masjid mempunyai fungsi ganda; sebagai masjid dan pusat kegiatan Islam, dan sebagai lembaga pendidikan. Kedua faktor inilah yang membuat Al Azhar selalu melakukan pembaruan yang terus berkesinambungan.

Pembaruan yang amat kentara sekali telah dilakukan oleh Syekh Muhammad Abduh ketika masih memegang kendali Al Azhar. Pembaruan tersebut dimaksudkan untuk menegaskan fungsi Al Azhar sebagai pusat pemurnian pemahaman Ajaran Islam dan diharapkan dapat mencetak kader-kader da’i yang tangguh. Dibentuklah dalam tubuh Al Azhar beberapa jenjang pendidikan, sejak tingkat dasar sampai jenjang akademi. Juga membuka fakultas-fakultas umum yang semuanya dengan sistim terpisah antara putra dan putri.

Semakin hari, Al Azhar berkembang semakin besar. Sehingga tidak hanya berpusat di Ibukota, Kairo, tapi hampir menyeluruh di setiap propinsi di Mesir dibuka cabang Al Azhar.

Kebesaran tersebut lebih terasa lagi, demi mengetahui bahwa Al Azhar adalah lembaga sosial yang teramat sosial. Al Azhar, sepeserpun tidak menarik uang kuliah dari mahasiswa. Bahkan ia tiap tahunnya membuka pendaftaran beasiswa. Juga terus mengadakan pembangunan,dan membuka cabang-cabang baru di daerah-daerah.

Prosedur Pendaftaran

Agar persiapan lebih matang, tidak tergesa-gesa, sebaiknya calon mahasiswa sudah berada di Kairo paling lambat pertengahan September. Karena pendaftaran ditutup pada akhir September. Syarat utama berupa ijazah asli yang usianya kurang dari 3 tahun setelah ijazah tersebut dikeluarkan, harus sudah dilegalisir oleh sekolah yang bersangkutan dan oleh Deparemen Agama di daerah. Kedua legalisasi tersebut sangat penting karena tanpa kedua legalisasi tersebut, KBRI tidak akan mau memberikan legalisasinya. Kemudian ijazah akan diterjemahkan di Kairo sesuai dengan teks yang telah ditentukan oleh KBRI Kairo. Setelah KBRI memberikan legalisasinya, selanjutnya ijazah dimintakan legalisir ke Departemen Luar Negeri Mesir di Kairo.

Bagi ijazah yang sudah mu’adalah (disamakan/diakui) dengan Al Azhar, proses selanjutnya adalah minta keterangan mu’adalah (persamaan) ke kantor pendaftaran (muraqabatu al Bu’uts al Islamiyah). Sedang bagi ijazah yang belum disamakan (mu’adalah) untuk masuk di Al Azhar harus melewati “ujian masuk”. Paling tinggi mereka akan diterima di kelas 3 tsanawiyah (2 tahun sebelum kuliah). Syarat-syarat lain adalah akta kelahiran asli, surat keterangan berkelakuan baik dari KBRI Kairo, surat pengantar (rekomendasi) dari KBRI, pas photo sedikitnya 6 lembar. Syarat-syarat tersebut diajukan bareng dengan ijazah asli dan formlir pendaftaran. Proses selanjutnya adalah membeli formulir pendaftaran di idarat al wafidin ( sebuah kantor yang menediakan formulir pendaftaran khusus bagi orang asing). Setelah formulir diisi, maka siaplah memasukkan formulir pendaftaran ke panitia pendataran. Setelah formulir diterima, selesailah proses pendaftaran dan kita tinggal menunggu nama kita turun di masing-masing kampus fakultas yang kita pilih.



======
Courtesy:
(alb@roni)

Untuk langganan artikel Alkhoirot Net via Email gratis, klik di sini!

4 comments:

  1. langkah-langkah ke mesir

    ReplyDelete
  2. wah bagus infonya.....bisa memudahkan kita sekolah ke mesir dong

    ReplyDelete
  3. Salam, Ikhwan/Akhwat, Bagi yang mau melanjutkan study ke Al-Azhar (Khusus bagi yang non beasiswa) insyaAllah kami siap membantu pendaftaranya, silahkan hub. 081234365611

    ReplyDelete
  4. Saya belum jelas apakah PP Al Khoirot sudah dapat penyetaraan dari Univ. Al Azhar atau belum ? apakah penjelasan diatas PP RMI yang sudah dapat penyetaraan. Terima kasih

    ReplyDelete

Kirim konsultasi Agama ke: alkhoirot@gmail.com Cara Konsultasi lihat di sini!