Hukum Kawin Paksa

Hukum Kawin Paksa

HUKUM KAWIN PAKSA

Asalam mualaikum. Bapak /ibu saya mau konsultasi.saya langsung aja kepermasalahannya. Sy seorang wanita (27 thn)seorang guru, sudah berkeinginan untuk menikah. dan saya juga sudah mempunyai calon yg sudah siap untuk menikah.kami sudah 3 tahun pacaran.sejak kami bru pacaran kira2 6 bulan,sy sudah mengutarakan keinginan untuk menikah sama orang tua saya. ayah sy setuju namun ibu tidak setuju. karena calon sy tidak sarjana,tdk berpenghasilan tetap,dan orang medan(batak). dari 6 bln pacaran sy terus berusaha meminta restu pada ibu sampai saat sekarang.tapi ibu tetap tdk mengizin kan.saya sudah mengajak ibu bermusawarah dengan keluarga saya dan musyawarah dengan kepala sekolah tempat saya bekerja. Saya sendiri sudah takut akan dosa, selain itu omongan masyarakat yg sudah tidak enak,selain itu usia sy sudah semakin bertambah. Sekarang saya sudah mengambil keputusan kalau saya tetap menikah tanpa restu ibu disaat usia saya 28 tahun. Saya sudah melakukan shalat istikharah beberapa kali,dan saya mantap untuk mengambil keputusan tersebut. Untuk saat ini ibu juga belum ada jodoh buat saya. Yg saya mau tanyakan

TOPIK KONSULTASI ISLAM
  1. HUKUM KAWIN PAKSA
  2. ORANG TUA MENYURUH PUTRINYA CERAI
  3. SUAMI KASAR BOLEHKAH DITINGGAL PERGI?
  4. CARA KONSULTASI SYARIAH ISLAM

1. bagaimana pandangan islam tentang sikap ibu saya ?
2. apakah saya dikatakan anak durhaka jika tetap memilih untuk menikah?
3. bagaimana hukumnya jika seorang anak wanita yg sudah dewasa meminta izin untuk menikah namun tidak diizin kan?
4. Seandainya saya tetap menikah namun walinya diwakilkan kepada adek kandung saya karena ayah tidak mau menjadi wali dengan alasan menenggang perasaan ibu?
5. Jika besok2 ibu saya memilihkan jodoh untuk saya, apakah saya berdosa kalau saya menolak jodoh dari ibu ? Jujur untuk saat ini saya sudah mantap hatinya dan tidak mau dijodohkan.
6. Apakah hukumnya kalau kawin paksa tanpa persetujuan dari pihak wanita.

Saya minta maaf sebelumnya pertanyaan saya terlalu panjang. Saya sangat mengharapkan jawaban dari bapak/ibu agar saya tidak salah dalam mengambil keputusan. Atas perhatian dan perkenaanya saya ucapkan terima kasih.tolong di balas ke e-mail saya.
EF


JAWABAN

1. Ketidaksetujuan ibu Anda adalah hak pribadi beliau. Namun alasan yang disampaikan dapat dikategorikan sebagai alasan non-syar'i (tidak berlandaskan syariah Islam). Contoh alasan yang syar'i adalah calon suami non-muslim, atau tidak salih, dst.

2. Taat dan berbakti pada orang tua (birrul walidain) adalah wajib dalam Islam kecuali kalau Anda disuruh melakukan maksiat maka boleh dilanggar atau tidak diikuti. Dan uququl walidain (tidak mentaatinya) adalah dosa besar.

AYAH TAK SETUJU DAPAT DINIKAHKAN WALI HAKIM

3. Anda bisa saja meminta wali hakim untuk menikahkan. Wali Hakim dalam Islam

Menurut Imam Nawawi dalam kitab Raudlatut Talibin, ayah wajib memenuhi pinangan laki-laki yang meminang putrinya yang sudah dewasa. Apabila tidak setuju, maka perwalian jatuh pada Wali Hakim (di Indonesia, KUA atau naib). Teks pendapat Imam Nawawi sebagai berikut:

إذا التمست البكر البالغة التزويج وقد خطبها كفء ، لزم الأب والجد إجابتها ، فإن امتنع ، زوجها السلطان

4. Tidak apa-apa. Hukum pernikahan sah. Asal calon suami memenuhi persyaratan.

5. Secara umum iya berdosa karena taat orang tua itu wajib. Namun, dalam urusan menentukan jodoh perkawinan, tidak mengikuti orang tua tidak apa-apa tapi sebaiknya dikomunikasikan dengan baik. Walaupun idealnya mengikuti mereka agar terjadi keharmonisan.

WALI MUJBIR MEMILIKI HAK MEMAKSA

6. Kalau yang memaksa adalah ayah (orang tua laki-laki), maka hukumnya sah. Karena ayah adalah wali mujbir yaitu wali yang punya hak untuk memaksa putrinya yang masih perawan (kalau janda tidak boleh) untuk menikah dengan pilihan sang ayah tanpa seijin putrinya. Sedangkan kalau wali lain selain ayah harus seijin yang hendak menikah. Ini menurut pendapat madzhab Syafi'i. Sedang menurut pendapat lain seperti Al-Jashas, ayah tidak boleh memaksa putrinya walau masih perawan untuk menikah dengan pria tertentu.

Al Jaziri dalam Al-Fiqh ala Madzahibil Arba'ah menyatakan:
اتفق القائلون بالإجبار على أن الولي المجبر له جبر البكر البالغة بأن يزوجها بدون إذنها ورضاها، ولكن اختلفوا في الشروط التي يصح تزويج المجبرة بها بدون إذنها على الوجه المبين فيما مضى
Artinya: Wali mujbir (yakni ayah) boleh memaksa putrinya yang perawan dan sudah baligh untuk menikahkan tanpa ijin dan kerelaannya. Akan tetap ulama berbeda pendapat tentang syarat-syarat yang menjadi sahnya kawin paksa.

Baca juga urian mendalam: Hukum Kawin Paksa dalam Islam

__________________________


ORANG TUA MENYURUH PUTRINYA CERAI

Assalamualaikum wr. Wb..
Ustadz, saya ingin bertanya, apa hukumnya kalo kedua orang tua yang telah mengetahui anak perempuannya di permainkan oleh suaminya.. Suami yg suka main perempuan sampai dia kawin lagi tanpa sepngetahuan anaknya yg menjadi istri pertama, terus juga sisuami yg mengonsumsi obat2 terlarang, hutang dimana2, suka mengambil tanpa membayar,memaki2 anaknya, sudah menelantarkan anaknya.. Tidak bertanggung jawab.. Dan uang yg didapat oleh suaminya juga belum tentu halal..

1. Apa berhak jika kedua orang tua siperempuan itu menyuruh pulang anaknya??

Trma kasih.. Mohon pencerahannya ustadz..

JAWABAN

1. Dalam konteks di atas di mana suami sudah melakukan pelanggaran pernikahan yang disepakati bersama yakni melakukan perzinahan, kawin lagi tanpa ijin istri, konsumsi narkoba, dll, maka istri berhak melakukan gugat cerai pada suami. Orang tua istri dalam ini dapat membantu memfasilitasi proses gugat cerai tersebut. Syariah Islam juga menganjurkan dalam situas seperti di atas agar bercerai.

Lebih detail baca artikel berikut:

- Panduan Cerai
- Menyikapi Suami Istri Selingkuh


SUAMI KASAR BOLEHKAH DITINGGAL PERGI?

Saya sudah 3 tahun menikah, tapi belum punya keturunan, suami saya kasar, suka mukul saya, suka maki2 saya, mengusir saya, dan ga perduli sama saya, sekarang jarang pulang, dan sering bilang kalau gak tahan lagi silahkan pergi,, dia menyuruh saya meninggalkan dia,,,,Saya sudah tidak kuat lagi begini,, punya suami tapi kemana2 sendiri segalanya saya urus sendiri,,,,

1. apa berdosa kalau saya pergi dari rumah dam meninggalkan suami saya?

JAWABAN

1. Anda boleh bercerai dengan suami yang tidak memberi nafkah dan suka melakukan KDRT. Selain itu, ucapan suami yang mengusir anda itu termasuk dalam kategori Talak Kinayah atau cerai implisit dalam hukum Islam talak kinayah hukumnya sah dan terjadi talak apabila disertai niat dari suami. Coba tanyakan pada suami anda apakah saat mengusir itu ada niat cerai, kalau iya maka anda dan dia statusnya sudah cerai. Kalau demikian, maka anda bebas untuk meninggalkan dia karena status sudah diceraikan secara agama. Namun anda tetap perlu mengajukan gugat cerai ke Pengadilan Agama agar perceraian tersebut sah dan legal menurut negara sehingga anda dapat melakukan pernikahan dengan pria lain di masa yang akan datang.

Ini juga pelajaran bagi anda agar tidak mudah jatuh cinta pada sosok pria yang berpenampilan menarik baik dari segi fisik atau perkataan. Carilah sosok pria yang soleh dan taat agama dan selidiki rekam jejaknya sebelum memutuskan menikahinya.

Untuk langganan artikel Alkhoirot Net via Email gratis, klik di sini!

27 comments:

  1. terima kasih untuk infonya,,saya jadi tahu tentang hukun kawin,,,hhe

    ReplyDelete
  2. terima kasih atas artikelnya,,berguna sekali artikelnya

    ReplyDelete
  3. AnonymousJuly 29, 2012

    nikah paksa adalah pernikahan yg tertolak,haram hukumnya...

    durhaka terhadap org tua..? jwbnya "tdk sama sekali" tdk ada hak org tua sama sekali dlm memilih pasangan hidup bagi si anak terbukti harus meminta ijin dan kerelaannya..

    An Nisaa' (4:19): Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka (untuk kawin) karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata . Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.

    Rosululloh bersabda:“Wanita janda tidak boleh dinikahkan sebelum dimintai pendapat, dan wanita gadis tidak boleh dinikahkan sebelum dimintai izin darinya.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana izinnya?” Beliau menjawab, “Ia diam.” (Riwayat Bukhori& Muslim)

    hukum mana lagi yg lebih lurus daripada al-qur'an dan hadits sohih di dlm agama islam..?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau cuma tahunya 1 hadits saja sebaiknya tidak berlagak seperti ahli hukum fiqh. Orang sok pede dan asbun gini yg bikin rusak syariah.

      Delete
  4. AnonymousJuly 30, 2012

    Imam Bukhari rahimahullah membuat bab dalam shahihnya “Bab apabila seorang wanita dinikahkan oleh walinya dalam keadaan dia tidak suka, maka nikahnya itu tertolak�?. Kemudian beliau berkata, telah menceritakan kepada kami Ismail, dia berkata, telah menceritakan kepadaku Malik dari Abdurrahman ibnul Qasim dari bapaknya dari Abdurrahman dan Mujamma’, keduanya putra Yazid bin Jariyah,dari Khansa’ bintu Khidam Al Anshariyah. Khansa yang telah menjanda ini dinikahkan oleh ayahnya, namun dia tidak suka dengan pernikahan tersebut, maka dia mendatangi Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam mengajukan perkaranya, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam pun menolak pernikahan tersebut.

    ReplyDelete
  5. AnonymousJuly 30, 2012

    Abu Buraidah mengkhabarkan dari ayahnya yang bertutur, Telah datang seorang pemudi menemui Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam ia mengadu, “Ayahku telah menikahkan aku dengan putera saudaranya untuk mengangkat kemiskinan dan kerendahan yang ada padanya.�? Maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam pun menyerahkan perkara itu kepada si wanita, bila dia mau dia lanjutkan, bila tidak, maka dia bisa menolak pernikahan itu. Maka wanita tadi berkata, “Sungguh aku telah membolehkan ayahku terhadap apa yang dia perbuat, akan tetapi aku ingin kaum wanita itu tahu bahwasanya ayah-ayah mereka tidak mempunyai kekuasaan sedikitpun dalam urusan pernikahan mereka�? (HR. Ibnu Majah dengan sanad shahih)

    ReplyDelete
  6. AnonymousJuly 30, 2012

    Diriwayatkan dari Khansa' binti Khaddam al-Anshariyyah, "Bahwa ayahnya telah menikahkannya dengan paksa sementara ia adalah seorang janda. Lalu ia mendatangi Rasulullah saw. lalu beliau membatalkan pernikahan itu," (HR Bukhari [5138]).

    ReplyDelete
  7. AnonymousJuly 30, 2012

    Aisyah radiyallahu ‘anha berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam tentang seorang gadis yang dinikahkan keluarganya, apakah dia dimintai pendapat atau tidak?? Maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ya, dia dimintai pendapatnya. Aisyah berkata, “Gadis itu biasanya malu.? Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Yang demikian itu adalah izinnya bila diam" (HR. Bukhari dan Muslim)

    ReplyDelete
    Replies
    1. mengetahui satu dua hadits tanpa tahu ilmu untuk menyimpulkan hadits2 itu ke dalam produk hukum adalah modal untuk para mubaligh/da'i. bukan faqih.

      Jangan ke-GE'ER-an.

      Delete
  8. AnonymousJuly 30, 2012

    astaghfirullohal'adziim...sudah ada ayat al qur'an,sudah ada hadits shohih,sudah ada contoh peristiwa yg diketahui Rosululloh...semoga ALLOH memberi petunjuk kpd kita semua..Amiiin..mari kita kembali kpd Al Qur'an dan sunnah tanpa menggolong2kn diri kita..umat islam adalah satu...insya ALLOH semuanya adalah ingin mencari ridho ALLOH dengan mengikuti petunjuk dari AL Qur'an dan sunnah..jgn saling mengolok2 satu sama lain..bersatulah umat islam,buang ego dan kecintaan yg berlebihan terhadap dunia...do'a saya untuk seluruh kaum muslim..AMIIIIN ya ALLOH..!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tidak mengolok-ngolok cuma mengingatkan bahwa syariah/fiqih adalah hukum Islam. Diperlukan pengetahuan yg komplit selain Quran dan Hadits untuk menjadikan dalil Quran/hadits ke dalam suatu kesimpulan hukum. Seperti ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu ushul fiqh, dll. Itulah yg dilakukan para fuqaha besar seperti empat madzhab dll.

      Di bidang hukum umum juga begitu. Kalau bukan pakar hukum tidak bisa sembarang membuat undang-undang. Walaupun mungkin pakar di bidang lainnya.

      Mari kita tawadhu dan harga pendapat ulama fuqaha sesuai dengan keahliannya. HadanaAllah wa iyyakum ajma'in. Amin.

      Delete
  9. AnonymousJuly 30, 2012

    Rosulullohlah sebagai panutan dan panduan hukum karena Rosululloh adalah ahli tafsir Al Qur`an yg terbaik,,kecuali jk kita menghadapi suatu masalah yg blum pernah terjadi dijaman rosululloh/belum pernah dialami oleh para sahabat...klu yg jelas2 telah terjadi dan pernah dialami dan sudah ditetapkn oleh ALLOH dan RosulNYA,maka umat islam tinggal menjalaninya...saya tdk ingin berdebat lg karena semuanya sudah jelas..dan setiap manusia mempunyai hak untuk memilih jalan hidup dgn segala konsekuensinya..akhir kata semoga umat islam kembali tegak dan lurus kpd Al Qur`an dan sunnah Rosululloh..AMIIIN..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya mari kita bersama-sama belajar Quran dan hadits dan ilmu-ilmu yg lain supaya otak kita tidak jutek dan jadi seperti katak dalam tempurung. Quran sudah jelas jumlah ayatnya. Tapi ada puluhan ribu hadits dalam kutubussittah--bukan hanya Bukhari Muslim saja-- yang perlu dibaca untuk menyimpulkan suatu hukum halal haram makruh mubah dan terkadang hadits-hadits itu terkesan bertentangan satu sama lain. Bagaimana solusinya? maka harus diteliti derajat hadits, status hadits, riwayat rijalul hadits dan matan hadits dan lain-lain.

      Dari perbedaan dalam menilai derajat hadits dan status kesahihan hadits inilah antara lain terjadi perbedaan hukum yg diambil oleh fuqaha seperti madzhab yg empat. Sekedar contoh, ada hadits yg mengatakan bahwa wanita tidak boleh menikahkan diri sendiri dan menikahkan orang lain. Hadits ini dipakai oleh 3 madzhab (selain hanafi) dan hasil produk hukumnya adalah wanita harus menikah dengan wali. tidak sah tanpa wali. Dan tidak boleh/tidak sah menikahkan orang lain.

      Namun madzhab Hanafi menilai hadits di atas kurang sahih. dan bahwa ada hadits lain di mana Aisyah menikahkan budaknya yg perempuan. Hadits ini oleh madzhab hanafi dijadikan dasar untuk produk hukum bahwa perempuan dewasa walaupun perawan boleh menikahkan dirinya sendiri. (lihat di Al-Jaziri dalam Al-Fiqh ala Madzahibil Arba'ah; dan kitab madzhab Hanafi seperti Mishkatul Mashabih).

      Semoga kita tawadhu' atas segala kebodohan dan kesembronoan kita dan mau dengan ikhlas menundukkan kepala kepada ahlinya.

      Hadana Allah wa iyyakum ajma'in.

      Delete
  10. AnonymousJuly 31, 2012

    saya cuma bisa bilang.."kasihan" buat yg dinikahkn secara paksa,semoga anak anda tdk anda nikahkn secara paksa dan insya ALLOH anda bknlah termasuk korban nikah paksa...Rosululloh tdk pernah menikahkan org dgn memaksa...bukhori dan muslim adalah perawi yg diakui oleh umat islam atas kesohihannya..dan semua yg saya tuliskn diatas adalah bkn pendapat imam mahdzab,ulama,kyai atau ustadz ataupun pendapat saya,,tp adalah Al qur'an dan sabda Rosul(keputusan Rosululloh)yg dipatuhi pula oleh para sahabat dan pengikutnya...jk terjadi perbedaan maka kembalilah kita kpd al qur'an dan sunnah.

    NB;para perawi,imam mahdzab,ulama,kyai,ustadz,mereka adalah org2 yg mulia,dari merekalah islam sampai kpd kita...jk ada perkara2 yg blum ada contoh pd masa Rosululloh,maka kpd merekalah kita bertanya,tp jk suatu perkara itu telah dijelaskn oleh Rosululloh ,maka tdk lah baik bagi kita untuk menyelisihinya...semoga saya dan anda bknlah termasuk org2 yg menyelisihi ALLOH dan RosulNYA..AMIIIIN.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sungguh kasihan. Membahas masalah hukum bisa lari ke masalah praduga pribadi yg aneh. Memang sulit mengakui kebodohan kita rupanya ketika kita terlanjur menganggap diri kita pintar walaupun dengan berbekal sepotong dua postong bukhari muslim...

      Sekedar diketahui bahwa adalah para fuqaha yang membagi format hukum menjadi wajib, haram, sunnah, makruh dan mubah. Dari situ kemudian mereka mengolah isi Quran dan hadits apakah masuk kategori wajib, haram, sunnah, makruh dan mubah.

      Sebagai contoh, apakah suatu perintah yg memakai fi'il amar yang terdapat dalam sebuah hadits sahih itu menjadikan perintah di situ menjadi wajib, atau sunnah atau hanya boleh saja? Di situlah kemudian dianalisa dg analisa ilmu fiqih.

      Kata perintah atau fi'il amar dari perkataan Nabi itu bermakna wajib, tapi juga bermakna sunnah yg kalau ditinggal tidak apa2. Contoh perintah menkah dalam hadits muttafaq alaih berikut:
      يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِيعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وَجَاءٌ

      Kata "falyazawwaj" (menikahlah) adalah kata perintah. Kalau berdasar logika orang yg tahu hadits sepotong dua potong, tentu perintah ini akan dimaknai "wajib/harus menikah" Karena di situ jelas perintah menikah.

      Para ulama sepakat perintah di atas jatuh ke sunnah kecuali apabila tanpa menikah akan berakibat zina. dst dst.

      Ini sekedar contoh. Dan semoga kita mau terus belajar ilmu-ilmu agama yg begitu luas. Tidak hanya hanya hadits bukhari muslim yang hanya sepotong dua potong... :)

      Hadana Allah wa iyyakum ajma'in.

      Delete
  11. AnonymousJuly 31, 2012

    tdk ada yg merasa pintar..yg pintar adalah ALLOH dan RosulNYA..umat islam hanya berusaha dgn sungguh2 utk mengikuti Nabi nya..dan do'a saya kpd anda adalah tulus dari hati,karena saya membayangkn alangkah tersiksanya se2org yg menikah dlm keterpaksaan dan saya juga berharap itu tdk terjadi pd saya dan keluarga serta seluruh umat muslim,terkecuali jk pilihannya bknlah seorg muslim maka kita harus sama2 mnghindarinya....dan paling penting adalah saya tdk/blum menemukn satu riwayatpun yg diakui keabsahannya bhw Rosululloh pernah menikahkn se2org dgn paksaan (tanpa izin yg bersangkutan)..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Contoh riil dari seseorang yg menyebut nama Allah dan Rasulnya untuk menyembunyikan ego dan keras-kepala-nya. Jangan kuatir, Anda tidak sendirian. Ada sebagian kelompok umat yg juga bersikap seperti itu. Selamat.

      Delete
    2. iya benar..imam bukhori adalah salah satu org yg anda tuduh,dan anda akn pertanggungjwbkn tuduhan itu di hadapan ALLOH...semoga anda yg benar dan kami org2 yg salah,dan semoga ALLOH memberi ampunan dan petunjuk pd kami..AMIIN.

      Delete
    3. AnonymousJune 10, 2014

      +animo, sy membaca semua komen anda, sepertinya dari awal anda yg merasa lebih hebat, lebih tau dan lebih pakar hukum, anda juga seenaknya menuduh org lain yg berbeda pendapat dgn anda sebagai sesuatu yg rendah dan salah..
      siapa anda ??...apakah anda seorang ustadz, syekh, kyai, ??..atau jangan-jangan anda ini mau mengaku jadi org yg paling pakar soal islam..?
      ornag-orang seperti anda inilah yang membuat islam di cemooh dan diasingkan oleh dunia..orang seperti andalah yg membuat segala sesuatunya bertambah rumit.
      dan orang seperti anda ini tidak mencerminkan org islam yg cinta damai dan terbuka dgn segala pemikiran/pendapat.
      saran saya..jika kaji anda sdh tinggi, bertobatlah..jgn jd org-org yg mahir menggunakan ayat-ayat mutasyabihat..
      saya hanya org bodoh yg hanya menonton debat ini, cm sy org bodoh yg hanya bs menilai..tindakan anda.!!

      Delete
  12. AnonymousJuly 31, 2012

    waah,,dah gk baguss...menuduh yg bkn2 dan su'udzon serta berprasangka buruk...apalagi telah menuduh sekelompok org..astaghfirulloh...pdhal benar2 mencari kebenaran dari peristiwa semacam ini dijaman rosululloh bkn dijaman lain..wassalamu'alaikum...semoga suxes dunia dan akhirat..

    ReplyDelete
    Replies
    1. "pdhal benar2 mencari kebenaran"

      Mencari kebenaran tidak cukup dg perasaan dan bekal sedikit hadits dan Quran saja. Tapi butuh ilmu yg terkait dg-nya.

      Apa yg anda lakukan dg mengambil keputusan hukum (boleh, tidak boleh) berdasarkan beberapa hadits itu dilarang secara ijmak oleh ulama klasik dan modern. termasuk ulama Wahabi. Karena pengambilan hukum itu bukan milik orang awam seperti Anda dan saya. Ia bidang ulama ahli di bidang agama yg sudah memenuhui kualifikasi menjadi faqih.

      Orang yg tidak ahli lalu ke-Ge-er-an menjadi ulama fiqih kagetan hasil hukumnya akan sesat dan menyesatkan betapapun dia sudah berniat baik. Niat baik tidak cukup tanpa ilmu.

      Kalau memang ingin mencari kebenaran banyaklah membaca supaya tidak tersesat. Terutama terkait cara instibat hukum. Sebagai starter, bisa lihat link berikut: http://goo.gl/eBgMb

      Baca link di atas yg merupakan pendapat ulama Wahabi yg dikenal sangat mendorong ijtihad tapi mensyaratkan syarat2 tertentu karena mereka juga sadar tidak semua orang dapat berijtihad.

      Selamat belajar. Dan renungkan dg hati yg damai. Hadana Allah wa iyyakum.

      Delete
    2. +animo, jika semua org berpendapat spt anda, maka siap-siaplah islam kembali ke zaman jahiliyah kembali..sepertinya anda mengagungkan ulama-ulama anda, jangan sampai akhirnya anda menuhankan mereka, ingat..Allah membenci org-org yg melampaui batas,
      mengapa anda melarang org utk ijtihad?, jika mrk salah, tegurlah dgn baik..bukan dgn cara yg arogan spt anda,..hebat..apakah anda takut akan menjadi pemahaman yg salah, apa anda tdk pcy bahwa Allah akan menjaga kemurnian agama Islam?...
      seperti kata pepatah, kutu diseberang laut tampak, tp gjah di pelupuk mata tidak tampak..seperti ini kayaknya ciri-ciri org munafik..Wallahuallam..

      Delete
  13. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by a blog administrator.

      Delete
  14. dari jaman nabi tidak ada hukum yg melegalkan nikah paksa di arab saudi ( tempat lahir agama islam),namun sekarang telah di legalkan di arab saudi oleh ulama wahabi. wahabi oh oh wahabi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang tidak ada. Tapi bukan berarti tidak sah.

      Delete
  15. nambah wawasan baru nih, utk meyakinkan si calon isteri perlu pendekatan juga dg si wali mujbir :D

    ReplyDelete

Kirim konsultasi Agama ke: alkhoirot@gmail.com Cara Konsultasi lihat di sini!