Bid'ah Hasanah dan Dhalalah

Bid'ah Hasanah dan Dhalalah

Pembagian bid'ah menjadi dua yakni bid'ah hasanah (baik) dan bid'ah dhalalah (sesat) merupakan perspektif yang disepakati oleh Sahabat, dan para ulama salaf seperti Imam Syafi'i, Nawawi, Imam Suyuti, dan lain-lain. Hanya kaum Neo Khawarij Wahabi Salafi yang tidak mau mengakui pendapat ini.

Dalam pengertian yang umum, bid'ah adalah segala sesuatu perilaku yang tidak dilakukan oleh Nabi Muhammad. Pengertian yang khusus adalah segala bentuk ibadah yang tidak disyariatkan oleh Rasulullah. Hukum bid'ah adalah haram. Namun bid'ah yang haram itu adalah bid'ah dalam soal ibadah sebagaima dikatakan dalam kaidah fikih bahwa "hukum asal dari ibadah adalah haram". Adapun bid'ah yang bukan ibadah hukumnya boleh karena dalam kaidah fiqih dikatakan "hukum asal dari segala sesuatu (muamalah, adat, non-ibadah) adalah boleh." Inti perbedaan yang sering terjadi antara Wahabi dengan non-Wahabi terutama NU adalah apakah melakukan sesuatu yang baru -- seperti tahlil, maulid Nabi, dll -- termasuk ibadah atau muamalah?

DAFTAR ISI
  1. Definisi dan Pengertian Bid'ah
  2. Dalil Dasar Bid'ah
  3. Jenis Bid'ah
  4. Pembagian Bid'ah menurut Ulama Salaf
    1. Imam Syafi'i: Bid'ah Hasanah (baik), Bid'ah Dlalalah (Sesat)
    2. Imam Nawawi: Bid'ah Hasanah (baik), Bid'ah Qabihah (Buruk)
    3. Izzuddin Ibnu Abdissalam: Bid'ah Wajib, Sunnah, Haram, Makruh, Mubah
    4. Jalaluddin Suyuti: Maulid Nabi adalah Bid'ah hasanah
    5. Ibnu Hajar Al-Asqalani: Bid'ah Hasanah dan Mazmumah
  5. CARA KONSULTASI SYARIAH ISLAM


DEFINISI DAN PENGERTIAN BID'AH

Secara etimologis bid'ah adalah inovasi yakni segala sesuatu yang baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya (الإختراع على غير مثال سابق) baik itu menyangkut teknologi, kebiasaan atau tradisi, interaksi sosial, bisnis atau masalah ibadah. Lihat QS Al-Baqarah 2:117 dan Al-Ahqaf 46:9. Dengan kata lain, bid'ah adalah inovasi.

Dalam terminologi syariah bid'ah adalah melakukan sesuatu yang baru dalam masalah ibadah yang tidak disyariatkan oleh Islam (Quran dan Hadits).


DALIL DASAR SEPUTAR BID'AH

Ulama salaf membagi bid'ah menjadi dua kategori yaitu bid'ah yang baik (hasanah, mahmudah) dan bid'ah sesat (dhalalah, mazmumah)

DALIL BI'DAH HASANAH


- Hadits riwayat Muslim
من سن في الإسلام سنة حسنة كان له أجرها وأجر من عمل بها من بعده لا ينقص ذلك من أجورهم شيئا، ومن سن في الإسلام سنة سيئة كان عليه وزرها ووزر من عمل بها من بعده لا ينقص ذلك من أوزارهم شيئا

Artinya: Barang siapa yang melakukan perbuatan yang baik maka dia akan mendapat pahala dan pahala orang yang melakukan itu setelahnya tanpa kurang sedikitpun. Barangsiapa yang melakukan perbuatan buruk maka ia akan mendapat dosa dan dosa orang yang menirunya tanpa kurang sedikitpun.

- Hadits riwayat Muslim

من دعا إلى هدى كان له من الأجر مثل أجور من تبعه لا ينقص ذلك من أجورهم شيئا ومن دعا إلى ضلالة كان عليه من الإثم مثل آثام من تبعه لا ينقص ذلك من آثامهم شيئا

Artinya: Barangsiapa yang mengajak kepada hidayah (kebaikan) maka ia akan mendapat pahala seperti pahala yang mengikutinya tanpa kurang sedikitpun. Barang siapa yang mengajak pada kesesatan maka ia akan mendapat dosa seperti dosa yang mengikutinya tanpa berkurang sedikitpun.

- Hadits riwayat Muslim
من دل على خير فله مثل أجر فاعله

Artinya: Barangsiapa menunjukkan pada kebaikan maka pahalnya sama dengan yang melakukannya,

- Perkataan Umar bin Khattab dalam soal shalat taraweh berjamaah
قول عمر رضي الله عنه في صلاة التراويح جماعة: نعمت البدعة هذه

Artinya: Perkataan Umar bin Khattab dalam shalat tarawih yang dilakukan secara berjamaah (atas inisiatif Umar): "Sebaik-baik bid'ah adalah ini."

DALIL BID'AH DHALALAH

- Hadits riwayat Bukhari & Muslim (muttafaq alaih)
من أحـدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد

Artinya: Barangsiapa membuat hal baru dalam perkaraku maka ia tertolak.

- Hadits riwayat Bukhari & Muslim

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد

Artinya: Barangsiapa yang melakukan suatu perbuatan yang tidak berasal dari kami maka ia tertolak.

- Hadits riwayat Tirmidzi & Nasa'i (muttafaq alaih)

إِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ ، فَإِنَّ شَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ

Artinya: Jauhkan dari memperbarui perkara. Karena seburuk-buruk perkara adalah membuat hal baru (inovasi). Setiap perkara baru adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat.


JENIS BID'AH

Ada 2 (dua) jenis bid'ah yaitu (a) bid'ah non-ibadah (muamalah) dan (b) bid'ah ibadah.

Ulama sepakat atas bolehnya bid'ah masalah duniawi (non-ibadah) sesuai dengan kaidah fiqih bahwa "asal segala sesuatu itu adalah boleh kecuali ada dalil yang mengharamkannya" (الأصل في الأشياء الإباحة حتى يدل الدليل على التحريم)

Ulama juga sepakat atas dilarangnya bi'dah dalam bidang ibadah sesuai dengan dalil kaidah fiqih "asal dari ibadah adalah haram" (الاصل في العبادات التحريم) kecuali yang telah disyariatkan Allah. Contoh, shalat isya' 4 rakaat ditambah menjadi 5 rakaat atau dikurangi menjadi 3 rakaat.

Yang terjadi perbedaan di kalangan ulama-- antara ulama Wahabi dan ulama Ahlussunnah Waljamaah-- adalah: apa saja yang masuk dalam kategori ibadah itu?


MACAM-MACAM BID'AH

Ulama selain dari kalangan Wahabi membagi bi'dah kepada sedikitnya dua macam. Yaitu, bid'ah yang baik (hasanah) dan yang buruk (dhalalah). Bahkan menurut Izzuddin bin Abdussalam, bid'ah ada lima macam sesuai dengan hukum syariah: wajib, haram, sunnah, makruh dan mubah.


Imam Syafi': Bid'ah hasanah dan dhalalah (sesat)

Menurut Imam Syafi'i (767 - 820 M /150 - 204 H), seperti dikutip oleh Imam Baihaqi dalam Isnad-nya, bid'ah ada dua macam yaitu bid'ah hasanah (baik) dan bid'ah dhalalah (sesat). Imam Syafi'i berkata (dikutip dari Imam Nawawi, Tahdzibul Asma wal Lughat, 277):

المحدثات من الأمور ضربان أحدهما: ما أحدث مما يخالف كتابا أو سنة أو أثرا أو إجماعا، فهذه البدعة الضلالة والثاني: ما أحدث من الخير لا خلاف فيه لواحد من هذا، وهذه محدثة غير مذمومة وقد قال عمر رضي الله عنه في قيام شهر رمضان: (نعمت البدعة هذه) يعني أنها محدثة لم تكن،

Artinya: Perkara baru itu ada dua macam. Pertama, yang berlawanan dengan Quran, Sunnah, atsar (perilaku Sahabat) dan ijmak ulama, ini disebut bid'ah sesat (dhalalah). Kedua, Bid'ah hasanah adalah suatu hal baru yang baik yang tidak bertentangan dengan prinsip Quran, hadits, atsar Sahabat, ijmak ulama. Ini bid'ah yang tidak tercela. Umar bin Khattab berkata dalam soal shalat sunnah tarawih bulan Ramadhan: sebaik-baik bid'ah adalah ini. Yakni, bahwa shalat tarawih itu adalah hal baru yang tidak ada pada zaman Nabi.


Imam Nawawi: Bid'ah hasanah dan qabihah.

Menurut Imam Nawawi (631 - 676 H/ 1233 - 1277 M), dalam kitab Tahdzibul Asma' wal Lughat [تهذيب الأسماء واللغات] hlm. 276, bid'ah ada dua macam:

البدعة في الشرع هي إحداث ما لم يكن في عهد رسول الله صلى الله علبه وسلم وهي منقسمة إلى حسنة وقبيحة
Artinya: bid'ah menurut syariah adalah perbuatan yang tidak ada pada zaman Rasulullah. Ia terbagi menjadi dua: bid'ah hasanah (baik) dan bidah buruk (qabihah).

Imam Nawawi dalam Syarah Muslim hlm. 7/92 berkata:
قوله : من سن في الإسلام سنة حسنة فله أجرها إلى آخره فيه الحث على الابتداء بالخيرات وسن السنن الحسنة والتحذير من اختراع الأباطيل والمستقبحات وفي هذا الحديث تخصيص قوله : كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة. وأن المراد به المحدثات الباطلة والبدع المذمومة وقد سبق بيان هذا في كتاب صلاة الجمعة وذكرنا هناك أن البدع خمسة أقسام : واجبة ومندوبة ومحرمة ومكروهة ومباحة

Artinya: Sabda Nabi "Barangsiapa menjadi pelopor kebaikan dalam Islam maka dia akan mendapat pahala... dst" Hadits ini adalah dorongan untuk menjadi pelopor dalam kebaikan dan peringatan bagi yang memelopori kejahatan dan dosa. Adapun sabda Nabi "Setiap sesuatu yang baru adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat" maksudnya adalah bid'ah yang batil dan tercela. Dan sudah dijelaskan dalam bab Shalat Jum'at bahwa bid'ah terbagi menjadi lima yaitu wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah.


Izzuddin bin Abdussalam: Bid'ah ada lima macam

Menurut Izzuddin bin Abdussalam dalam kitab Al Qawaid, bid'ah terbagi menjadi lima, yaitu, wajib, sunnah, mubah, makruh, haram (sebagimana dikutip oleh Imam Nawawi dalam Tahzibul Asma wal Lughot, hlm. 276).

البدعة منقسمة إلى واجبة ومحرمة ومندوبة ومكروهة ومباحة والطريق في ذلك أن تعرض البدعة على قواعد الشريعة فإذا دخلت في قواعد الإيجاب فهي واجبة، أو في قواعد التحريم فهي محرمة، أو الندب فمندوبة، أو المكروه فمكروهة، أو المباح فمباحة.

وذكر لكل قسم من هذه الخمسة أمثلة إلى أن قال

وللبدع المندوبة أمثلة: منها: إحداث الربط والمدارس، وكل إحسان لم يعهد في العصر الأول، ومنها: التراويح، والكلام في دقائق التصوف، وفي الجدل، ومنها: جمع المحافل للاستدلال في المسائل إن قصد بذلك وجه الله تعالى

Artinya: Bid'ah terbagi menjadi lima yaitu wajib, haram, sunnah, makruh, dan mubah (boleh). Hukum bid'ah tergantung dari karakteristiknya berdasarkan pada kaidah syariah. Apabila masuk dalam kaidah yang wajib, maka ia wajib; atau masuk dalam kaidah haram maka ia haram. Atau sunnah, maka menjadi sunnah. Atau masuk kaidah makruh, maka menjadi makruh atau masuk kaidah mubah, maka menjadi mubah.

Contohnya sebagai berikut: Contoh bid'ah sunnah antara lain seperti sistem madrasah dan setiap kebaikan yang tidak ada pada era Nabi. Termasuk bid'ah sunnah adalah tarawih, pembahasan tasawuf dan perdebatan. Termasuk juga forum-forum untuk membahas sesuatu apabila semua itu dimaksudkan untuk ibadah dan mencapai ridha Allah.


Jalaluddin Suyuti: Maulid Nabi adalah Bid'ah hasanah

Imam Jalaluddin Al-Suyuti (w. 911 H) dalam kitab Al-Hawi lil Fatawa hlm. 1/221 menyatakan:
فقد وقع السؤال عن عمل المولد النبوي في شهر ربيع الأول ما حكمه من حيث الشرع وهل هو محمود و مذموم، وهل يُثاب فاعله أولا. والجواب عندي، أن أصل عمل المولد الذي هو اجتماع الناس وقراءة ما تيسر من القرآن ورواية الأخبار الواردة في مبدأ أمر النبي وما وقع في مولده من الآيات ثم يُمدّ لهم سماط يأكلونه وينصرفون من غير زيادة على ذلك هو من البدع الحسنة التي يثاب عليها صاحبها لما فيه من تعظيم قدر النبي وإظهار الفرح والاستبشار بمولده الشريف. أول من أحدث فعل ذلك صاحب اربل الملك المظفر ابو سعيد كوكبري بن زين الدين علي بن بكتكين احد الملوك الأمجاد والكبراء الأجواد وكان آثار حسنة وهو الذي عَمَّر الجامع المظفري بسفح قاسيون

Artinya: Ada yang bertanya apa hukum peringatan Maulid Nabi pada bulan Rabiul Awal menurut syariah, apakah terpuji atau tercela, apakah pelakunya mendapat pahala atau tidak? Jawabannya menurutku adalah: bahwa asal peringatan maulid Nabi berupa berkumpulnya manusia yang membaca Al-Quran dan riwayat kisah-kisah yang terjadi di masa Nabi, dan tanda-tanda yang terjadi saat kelahiran Nabi, lalu disuguhkan buat hadirin hidangan makanan lalu mereka membubarkan diri tanpa lebih dari itu, maka ini termasuk bid'ah hasanah yang pelakunya mendapat pahala karena telah mengangungkan Nabi dan menampakkan kegembiraan pada kelahirannya. Adapun orang pertama yang menyelanggarakannya adalah penguasa Irbil Raja Muzaffar Abu Said Kukubri bin Zainuddin Ali bin Baktakin salah satu raja besar dan dermawan. Dialah yang mendirikan universitas Muzaffar di bukit Qasiyun, Damaskus Suriah.


Ibnu Hajar Al-Asqalani: Bid'ah Hasanah dan Mazmumah

Ibnu Hajar (w. 852 H.) berkata dalam kitab Fathul Bari Syarh Sahih Bukhari 4/219 menyatakan:
قوله : قال عمر : نعم البدعة. والبدعة أصلها ما أحدث على غير مثال سابق وتطلق في الشرع في مقابل السنة قتكون مذمومة والتحقيق أنها إن كانت مما تندرج تحت مستحسن في الشرع فهي حسنة وإن كانت مما تندرج في الشرع فهي مستقبحة وإلا فهي من قسم المباح وقد تنقسم إلى الأحكام الخمسة

Artinya: Umar berkata: 'Sebaik-baik bid'ah adalah ini'. Bid'ah adalah hal baru yang dilakukan tanpa ada contohnya di masa lalu. Secara syariah bid'ah dianggap berlawanan dengan sunnah oleh karena itu ia dianggap tercela (madzmumah). Yang benar adalah apabila baik mnurut kacamata syariah maka ia bid'ah hasanah (baik). Dan apabila buruk menurut perspektif syariah maka disebut bid'ah buruk (qabihah). Apabila tidak masuk pada keduanya, maka termasuk dalam bid'ah yang mubah. Dan bid'ah bisa terbagi ke dalam hukum syariah yang lima (wajib, haram, sunnah, makruh, sunnah).

Untuk langganan artikel Alkhoirot Net via Email gratis, klik di sini!

Cari Artikel Lain:

4 comments:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  2. wahaby punopo Gus....??? kok saya dulu di madrasah hgga Aliyah g pernah diajarkan.....guru kita para Kyai Juga, katanya pernah ngaji di tebuireng juga...

    Nuwun, syukron

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alkhoirot.netAugust 09, 2012

      Syukur kalau begitu. Tapi tidak semua seperti itu. Dan Wahabi punya cara lain untuk menyusup. Contohnya, tidak sedikit buku2 pelajaran agama di SLTA/SLTP yg kesusupan ajaran wahabi. Seperti kasus di Jawa Tengah pada juli 2012.

      Delete
  3. bid ah disini yang berkaitan tentang menambah/mengurang ngurangi ibadah memang harus diberantas karena menyusahkan

    ReplyDelete

Kirim konsultasi Agama ke: alkhoirot@gmail.com Cara Konsultasi lihat di sini!