Bid'ah Hasanah dan Dhalalah




Bid'ah Hasanah dan Dhalalah
PEMBAGIAN BID'AH BAIK DAN BID'AH SESAT

Pembagian bid'ah menjadi dua yakni bid'ah hasanah (baik) dan bid'ah dhalalah (sesat) merupakan perspektif yang disepakati oleh Sahabat, dan para ulama salaf seperti Imam Syafi'i, Nawawi, Imam Suyuti, dan lain-lain. Hanya kaum Neo Khawarij Wahabi Salafi yang tidak mau mengakui pendapat ini.

Dalam pengertian yang umum, bid'ah adalah segala sesuatu perilaku yang tidak dilakukan oleh Nabi Muhammad. Pengertian yang khusus adalah segala bentuk ibadah yang tidak disyariatkan oleh Rasulullah. Hukum bid'ah adalah haram. Namun bid'ah yang haram itu adalah bid'ah dalam soal ibadah sebagaima dikatakan dalam kaidah fikih bahwa "hukum asal dari ibadah adalah haram". Adapun bid'ah yang bukan ibadah hukumnya boleh karena dalam kaidah fiqih dikatakan "hukum asal dari segala sesuatu (muamalah, adat, non-ibadah) adalah boleh." Inti perbedaan yang sering terjadi antara Wahabi dengan non-Wahabi terutama NU adalah apakah melakukan sesuatu yang baru -- seperti tahlil, maulid Nabi, dll -- termasuk ibadah atau muamalah?

DAFTAR ISI
  1. Definisi dan Pengertian Bid'ah
  2. Dalil Dasar Bid'ah
    1. Dalil Bid'ah Hasanah
    2. Dalil Bid'ah Dholalah
  3. Pembagian Bid'ah menurut Ulama Salaf
    1. Imam Syafi'i: Bid'ah Hasanah (baik), Bid'ah Dholalah (Sesat)
    2. Imam Nawawi: Bid'ah Hasanah (baik), Bid'ah Qabihah (Buruk)
    3. Izzuddin Ibnu Abdissalam: Bid'ah Wajib, Sunnah, Haram, Makruh, Mubah
    4. Jalaluddin Suyuti: Maulid Nabi adalah Bid'ah hasanah
    5. Ibnu Hajar Al-Asqalani: Bid'ah Hasanah dan Mazmumah
  4. Bid'ah Menurut 4 Mazhab
    1. Madzhab Hanafi
    2. Madzhab Maliki
    3. Mazhab Syafi'i
    4. Mazhab Hanbali
  5. Bid'ah menurut Ibnu Taimiyah
  6. CARA KONSULTASI SYARIAH ISLAM


DEFINISI DAN PENGERTIAN BID'AH

Secara etimologis bid'ah adalah inovasi yakni segala sesuatu yang baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya (الإختراع على غير مثال سابق) baik itu menyangkut teknologi, kebiasaan atau tradisi, interaksi sosial, bisnis atau masalah ibadah. Lihat QS Al-Baqarah 2:117 dan Al-Ahqaf 46:9. Dengan kata lain, bid'ah adalah inovasi.

Dalam terminologi syariah bid'ah adalah melakukan sesuatu yang baru dalam masalah ibadah yang tidak disyariatkan oleh Islam (Quran dan Hadits).


DALIL DASAR SEPUTAR BID'AH

Ulama salaf membagi bid'ah menjadi dua kategori yaitu bid'ah yang baik (hasanah, mahmudah) dan bid'ah sesat (dhalalah, mazmumah)


DALIL BI'DAH HASANAH


- Hadits riwayat Muslim
من سن في الإسلام سنة حسنة كان له أجرها وأجر من عمل بها من بعده لا ينقص ذلك من أجورهم شيئا، ومن سن في الإسلام سنة سيئة كان عليه وزرها ووزر من عمل بها من بعده لا ينقص ذلك من أوزارهم شيئا

Artinya: Barang siapa yang melakukan perbuatan yang baik maka dia akan mendapat pahala dan pahala orang yang melakukan itu setelahnya tanpa kurang sedikitpun. Barangsiapa yang melakukan perbuatan buruk maka ia akan mendapat dosa dan dosa orang yang menirunya tanpa kurang sedikitpun.

- Hadits riwayat Muslim

من دعا إلى هدى كان له من الأجر مثل أجور من تبعه لا ينقص ذلك من أجورهم شيئا ومن دعا إلى ضلالة كان عليه من الإثم مثل آثام من تبعه لا ينقص ذلك من آثامهم شيئا

Artinya: Barangsiapa yang mengajak kepada hidayah (kebaikan) maka ia akan mendapat pahala seperti pahala yang mengikutinya tanpa kurang sedikitpun. Barang siapa yang mengajak pada kesesatan maka ia akan mendapat dosa seperti dosa yang mengikutinya tanpa berkurang sedikitpun.

- Hadits riwayat Muslim
من دل على خير فله مثل أجر فاعله

Artinya: Barangsiapa menunjukkan pada kebaikan maka pahalnya sama dengan yang melakukannya,

- Perkataan Umar bin Khattab dalam soal shalat taraweh berjamaah
قول عمر رضي الله عنه في صلاة التراويح جماعة: نعمت البدعة هذه

Artinya: Perkataan Umar bin Khattab dalam shalat tarawih yang dilakukan secara berjamaah (atas inisiatif Umar): "Sebaik-baik bid'ah adalah ini."


DALIL BID'AH DHALALAH

- Hadits riwayat Bukhari & Muslim (muttafaq alaih)
من أحـدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد

Artinya: Barangsiapa membuat hal baru dalam perkaraku maka ia tertolak.

- Hadits riwayat Bukhari & Muslim

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد

Artinya: Barangsiapa yang melakukan suatu perbuatan yang tidak berasal dari kami maka ia tertolak.

- Hadits riwayat Tirmidzi & Nasa'i (muttafaq alaih)

إِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ ، فَإِنَّ شَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ

Artinya: Jauhkan dari memperbarui perkara. Karena seburuk-buruk perkara adalah membuat hal baru (inovasi). Setiap perkara baru adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat.

CATATAN PENTING:

Hadis-hadis di atas oleh kalangan Wahabi Salafi dijadikan dalil bahwa semua bid'ah dan muhdas (perkara baru) itu sesat. Padahal menurut kalangan ulama salaf, hadits di atas jelas menyatakan bahwa bid'ah yang sesat itu yang tidak sesuai dengan syariah (ما ليس منه). Adapun bid'ah yang sesuai syariah maka dibolehkan bahkan baik (hasanah).

Adapun hadits riwayat Abu Dawud yang melarang kita dari membuat perkara baru (muhdasat al-umur - وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة), maka hadits ini lafadznya umum tapi maknanya khusus untuk bid'ah yang menyalahi syariah saja dengan dalil takhshish hadits-hadits lain yang disebut di atas


MACAM-MACAM BID'AH

Ulama selain dari kalangan Wahabi membagi bi'dah kepada sedikitnya dua macam. Yaitu, bid'ah yang baik (hasanah) dan yang buruk (dhalalah). Bahkan menurut Izzuddin bin Abdussalam, bid'ah ada lima macam sesuai dengan hukum syariah: wajib, haram, sunnah, makruh dan mubah.


Imam Syafi': Bid'ah hasanah dan dhalalah (sesat)

Menurut Imam Syafi'i (767 - 820 M /150 - 204 H), seperti dikutip oleh Imam Baihaqi dalam Isnad-nya, bid'ah ada dua macam yaitu bid'ah hasanah (baik) dan bid'ah dhalalah (sesat). Imam Syafi'i berkata (dikutip dari Imam Nawawi, Tahdzibul Asma wal Lughat, 277):

المحدثات من الأمور ضربان أحدهما: ما أحدث مما يخالف كتابا أو سنة أو أثرا أو إجماعا، فهذه البدعة الضلالة والثاني: ما أحدث من الخير لا خلاف فيه لواحد من هذا، وهذه محدثة غير مذمومة وقد قال عمر رضي الله عنه في قيام شهر رمضان: (نعمت البدعة هذه) يعني أنها محدثة لم تكن،

Artinya: Perkara baru itu ada dua macam. Pertama, yang berlawanan dengan Quran, Sunnah, atsar (perilaku Sahabat) dan ijmak ulama, ini disebut bid'ah sesat (dhalalah). Kedua, Bid'ah hasanah adalah suatu hal baru yang baik yang tidak bertentangan dengan prinsip Quran, hadits, atsar Sahabat, ijmak ulama. Ini bid'ah yang tidak tercela. Umar bin Khattab berkata dalam soal shalat sunnah tarawih bulan Ramadhan: sebaik-baik bid'ah adalah ini. Yakni, bahwa shalat tarawih itu adalah hal baru yang tidak ada pada zaman Nabi.


Imam Nawawi: Bid'ah hasanah dan qabihah.

Menurut Imam Nawawi (631 - 676 H/ 1233 - 1277 M), dalam kitab Tahdzibul Asma' wal Lughat [تهذيب الأسماء واللغات] hlm. 3/22, bid'ah ada dua macam:

البدعة في الشرع هي إحداث ما لم يكن في عهد رسول الله صلى الله علبه وسلم وهي منقسمة إلى حسنة وقبيحة
Artinya: bid'ah menurut syariah adalah perbuatan yang tidak ada pada zaman Rasulullah. Ia terbagi menjadi dua: bid'ah hasanah (baik) dan bidah buruk (qabihah).

Imam Nawawi dalam Syarah Muslim hlm. 7/92 berkata:
قوله : من سن في الإسلام سنة حسنة فله أجرها إلى آخره فيه الحث على الابتداء بالخيرات وسن السنن الحسنة والتحذير من اختراع الأباطيل والمستقبحات وفي هذا الحديث تخصيص قوله : كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة. وأن المراد به المحدثات الباطلة والبدع المذمومة وقد سبق بيان هذا في كتاب صلاة الجمعة وذكرنا هناك أن البدع خمسة أقسام : واجبة ومندوبة ومحرمة ومكروهة ومباحة

Artinya: Sabda Nabi "Barangsiapa menjadi pelopor kebaikan dalam Islam maka dia akan mendapat pahala... dst" Hadits ini adalah dorongan untuk menjadi pelopor dalam kebaikan dan peringatan bagi yang memelopori kejahatan dan dosa. Adapun sabda Nabi "Setiap sesuatu yang baru adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat" maksudnya adalah bid'ah yang batil dan tercela. Dan sudah dijelaskan dalam bab Shalat Jum'at bahwa bid'ah terbagi menjadi lima yaitu wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah.


Izzuddin bin Abdussalam: Bid'ah ada lima macam

Menurut Izzuddin bin Abdussalam dalam kitab Al Qawaid, bid'ah terbagi menjadi lima, yaitu, wajib, sunnah, mubah, makruh, haram (sebagimana dikutip oleh Imam Nawawi dalam Tahzibul Asma wal Lughot, hlm. 276).

البدعة منقسمة إلى واجبة ومحرمة ومندوبة ومكروهة ومباحة والطريق في ذلك أن تعرض البدعة على قواعد الشريعة فإذا دخلت في قواعد الإيجاب فهي واجبة، أو في قواعد التحريم فهي محرمة، أو الندب فمندوبة، أو المكروه فمكروهة، أو المباح فمباحة.

وذكر لكل قسم من هذه الخمسة أمثلة إلى أن قال

وللبدع المندوبة أمثلة: منها: إحداث الربط والمدارس، وكل إحسان لم يعهد في العصر الأول، ومنها: التراويح، والكلام في دقائق التصوف، وفي الجدل، ومنها: جمع المحافل للاستدلال في المسائل إن قصد بذلك وجه الله تعالى

Artinya: Bid'ah terbagi menjadi lima yaitu wajib, haram, sunnah, makruh, dan mubah (boleh). Hukum bid'ah tergantung dari karakteristiknya berdasarkan pada kaidah syariah. Apabila masuk dalam kaidah yang wajib, maka ia wajib; atau masuk dalam kaidah haram maka ia haram. Atau sunnah, maka menjadi sunnah. Atau masuk kaidah makruh, maka menjadi makruh atau masuk kaidah mubah, maka menjadi mubah.

Contohnya sebagai berikut: Contoh bid'ah sunnah antara lain seperti sistem madrasah dan setiap kebaikan yang tidak ada pada era Nabi. Termasuk bid'ah sunnah adalah tarawih, pembahasan tasawuf dan perdebatan. Termasuk juga forum-forum untuk membahas sesuatu apabila semua itu dimaksudkan untuk ibadah dan mencapai ridha Allah.


Jalaluddin Suyuti: Maulid Nabi adalah Bid'ah hasanah

Imam Jalaluddin Al-Suyuti (w. 911 H) dalam kitab Al-Hawi lil Fatawa hlm. 1/221 menyatakan:
فقد وقع السؤال عن عمل المولد النبوي في شهر ربيع الأول ما حكمه من حيث الشرع وهل هو محمود و مذموم، وهل يُثاب فاعله أولا. والجواب عندي، أن أصل عمل المولد الذي هو اجتماع الناس وقراءة ما تيسر من القرآن ورواية الأخبار الواردة في مبدأ أمر النبي وما وقع في مولده من الآيات ثم يُمدّ لهم سماط يأكلونه وينصرفون من غير زيادة على ذلك هو من البدع الحسنة التي يثاب عليها صاحبها لما فيه من تعظيم قدر النبي وإظهار الفرح والاستبشار بمولده الشريف. أول من أحدث فعل ذلك صاحب اربل الملك المظفر ابو سعيد كوكبري بن زين الدين علي بن بكتكين احد الملوك الأمجاد والكبراء الأجواد وكان آثار حسنة وهو الذي عَمَّر الجامع المظفري بسفح قاسيون

Artinya: Ada yang bertanya apa hukum peringatan Maulid Nabi pada bulan Rabiul Awal menurut syariah, apakah terpuji atau tercela, apakah pelakunya mendapat pahala atau tidak? Jawabannya menurutku adalah: bahwa asal peringatan maulid Nabi berupa berkumpulnya manusia yang membaca Al-Quran dan riwayat kisah-kisah yang terjadi di masa Nabi, dan tanda-tanda yang terjadi saat kelahiran Nabi, lalu disuguhkan buat hadirin hidangan makanan lalu mereka membubarkan diri tanpa lebih dari itu, maka ini termasuk bid'ah hasanah yang pelakunya mendapat pahala karena telah mengangungkan Nabi dan menampakkan kegembiraan pada kelahirannya. Adapun orang pertama yang menyelanggarakannya adalah penguasa Irbil Raja Muzaffar Abu Said Kukubri bin Zainuddin Ali bin Baktakin salah satu raja besar dan dermawan. Dialah yang mendirikan universitas Muzaffar di bukit Qasiyun, Damaskus Suriah.


Ibnu Hajar Al-Asqalani: Bid'ah Hasanah dan Mazmumah

Ibnu Hajar (w. 852 H.) berkata dalam kitab Fathul Bari Syarh Sahih Bukhari 4/219 menyatakan:
قوله : قال عمر : نعم البدعة. والبدعة أصلها ما أحدث على غير مثال سابق وتطلق في الشرع في مقابل السنة قتكون مذمومة والتحقيق أنها إن كانت مما تندرج تحت مستحسن في الشرع فهي حسنة وإن كانت مما تندرج في الشرع فهي مستقبحة وإلا فهي من قسم المباح وقد تنقسم إلى الأحكام الخمسة

Artinya: Umar berkata: 'Sebaik-baik bid'ah adalah ini'. Bid'ah adalah hal baru yang dilakukan tanpa ada contohnya di masa lalu. Secara syariah bid'ah dianggap berlawanan dengan sunnah oleh karena itu ia dianggap tercela (madzmumah). Yang benar adalah apabila baik mnurut kacamata syariah maka ia bid'ah hasanah (baik). Dan apabila buruk menurut perspektif syariah maka disebut bid'ah buruk (qabihah). Apabila tidak masuk pada keduanya, maka termasuk dalam bid'ah yang mubah. Dan bid'ah bisa terbagi ke dalam hukum syariah yang lima (wajib, haram, sunnah, makruh, sunnah).


PENDAPAT MADZHAB EMPAT TENTANG BID'AH

Berikut pendapat ulama fiqih dari empat madzhab tentang bid'ah. Mereka sepakat bahwa bid'ah terbagi dua yakni bid'ah baik (hasanah) dan sesat (dhalalah). Sedangkan hukumnya bisa meliputi lima hukum syariah yaitu wajib, haram, sunnah, makruh dan mubah.


BID'AH MENURUT MAZHAB HANAFI

Ibnu Abidin dalam Hasyiyah Ibnu Abidin, hlm. 1/376, menyatakan:

فقد تكون البدعة واجبة كنصب الأدلة للرد على أهل الفرق الضالة، وتعلّم النحو المفهم للكتاب والسنة، ومندوبة كإحداث نحو رباط ومدرسة، وكل إحسان لم يكن في الصدر الأول، ومكروهة كزخرفة المساجد، ومباحة كالتوسع بلذيذ المآكل والمشارب والثياب

Artinya: Bid'ah terkadang wajib hukumnya seperti membuat dalil pada kelompok sesat, belajar ilmu nahwu untuk memahami Al-Quran dan Hadits. Bid'ah terkadang hukumnya sunnah seperti mendirikan pesantren dan sekolah, dan setiap kebaikan yang tidak ada pada zaman Rasulullah. Bid'ah itu bisa juga hukumnya makruh seperti mengukir dan menghias masjid. Bid'ah hukumnya mubah (boleh) seperti berlapang diri dalam memakan makanan lezat dan minuman enak dan pakaian bagus.

Badruddin Al-Aini dalam Syarah Sahih Bukhari, hlm. 11/126, ketika mengomentari perkataan Umar bin Khattab "nikmatul bid'ah hadzihi" saat berkumpulnya manusia untuk shalat tarawih di belakang imam di mana sebelumnya jamaah shalat tarawih dilakukan sendiri-sendiri:

والبدعة في الأصل إحداث أمر لم يكن في زمن رسول الله صلى الله عليه وسلم، ثم البدعة على نوعين، إن كانت مما تندرج تحت مستحسن في الشرع فهي بدعة حسنة وإن كانت مما يندرج تحت مستقبح في الشرع فهي بدعة مستقبحة

Artinya: Bid'ah pada asalnya adalah membuat perkara yang tidak terdapat di zaman Rasulullah. Bid'ah ada dua macam: apabila baik menurut syariah maka disebut bid'ah hasanah (baik). Apabila buruk menurut syriah, maka disebut bid'ah buruk (mustaqbihah).


BID'AH MENURUT MAZHAB MALIKI

Muhammad Al-Zarqoni dalam Syarah Muwatta, hlm. 1/238, ketika menjelaskan perkata Umar "sebaik-baik bid'ah adalah ini" (نعمت البدعة هذه):

فسماها بدعة لأنه صلى اللّه عليه وسلم لم يسنّ الاجتماع لها ولا كانت في زمان الصديق، وهي لغة ما أُحدث على غير مثال سبق وتطلق شرعًا على مقابل السنة وهي ما لم يكن في عهده صلى اللّه عليه وسلم، ثم تنقسم إلى الأحكام الخمسة. انتهى

Artinya: Umar bin Khattab menyebutnya bid'ah karena Nabi tidak pernah melakukan shalat taraweh secara berjemaah juga tidak di zaman Abu Bakar Ash-Shiddiq. Bid'ah secara bahasa adalah sesuatu yang dibuat tanpa ada contoh sebelumnya. Secara syariah bid'ah secara mutlak bermakna sesuatu yang berhadapan dengan sunnah yang tidak ada pada zaman Nabi. Bid'ah terbagi menjadi hukum yang lima.

Ahmad bin Yahya Al-Wansyarisi dalam Al-Mi'yar Al-Mu'rib, hlm. 1/357, menyatakan:

وأصحابنا وإن اتفقوا على إنكار البدع في الجملة فالتحقيق الحق عندهم أنها خمسة أقسام ... فالحق في البدعة إذا عُرضت أن تعرض على قواعد الشرع فأي القواعد اقتضتها ألحقت بـها، وبعد وقوفك على هذا التحصيل والتأصيل لا تشك أن قوله صلى الله عليه وسلم:" كل بدعة ضلالة"، من العام المخصوص كما صرح به الأئمة رضوان الله عليهم

Artinya: Ulama mazhab Maliki walaupun mereka sepakat untuk mengingkari bid'ah secara umum, namum kenyataannya adalah bid'ah menurut mereka terbagi dalam lima bagian ... Yang benar dalam soal bid'ah adalah apabila dihadapkan pada kaidah syariah maka dengan kaidah syariah mana yang sesuai maka itulah hukumnya. Dari kesimpulan ini, maka sabda Nabi bahwa "setiap bid'ah adalah sesat" itu termasuk dari kalimat umum yang berlaku khusus sebagaimana dijelaskan oleh para ulama.


MAZHAB SYAFI'I TENTANG BID'AH

Imam Syafi'i

Imam Syafi'i sebagaimana dinukil oleh Baihaqi dalam Manaqib Al-Syafi'i, hlm. 1/469, dan disebutkan juga oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, hlm. 13/267, menyatakan:

المحدثات من الأمور ضربان أحدهما ما أحدث يخالف كتابا أو سنة أو أثرا أو إجماعا فهذه البدعة الضلالة، والثاني ما أحدث من الخير لا خلاف فيه لواحد من هذا، فهذه محدثة غير مذمومة..

Artinya: Perkara baru (muhdas al-umur) ada dua macam. Pertama, perkara baru yang berlawanan dengan Al-Quran, Sunnah Nabi, Atsar Sahabat atau ijmak ulama, maka disebut bid'ah dolalah. Kedua, perkara baru yang baik yang tidak menyalahi unsur-unsur di atas maka tidaklah tercela.

Abu Nuaim dalam kitab Hilyah Al-Aulia, hlm. 9/76 meriwayatkan pernyataan Imam Syafi'i di mana ia berkata:

البدعة بدعتان، بدعة محمودة، وبدعة مذمومة. فما وافق السنة فهو محمود، وما خالف السنة فهو مذموم، واحتج بقول عمر بن الخطاب في قيام رمضان: نعمت البدعة هي

Artinya: Bid'ah itu ada dua: bid'ah terpuji (mahmudah) dan bid'ah tercela (madzmumah). Bid'ah yang sesuai Sunnah disebut bidah terpuji. Yang berlawanan dengan sunnah disebut bid'ah tercela. Imam Syafi'i berargumen dengan perkataan Umar bin Khattab dalam soal shalat tarawih bulan Ramadan: "Sebaik-baik bid'ah adalah ini."

Imam Ghozali

Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, hlm. 2/3, "Bab Tatacara Makan", menyatakan:

وما يقال إنه أبدع بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم فليس كل ما أبدع منهيا بل المنهي بدعة تضاد سنة ثابتة وترفع أمرا من الشرع مع بقاء علته بل الإبداع قد يجب في بعض الأحوال إذا تغيرت الأسبابـ

Artinya: Apa yang dikatakan bahwa itu adalah bid'ah, maka tidaklah semua bid'ah itu dilarang. Yang dilarang itu adalah bid'ah berlawanan dengan sunnah yang tetap ... Bid'ah terkadang wajib dalam sebagian situasi apabila sebab-sebabnya berubah.

Imam Nawawi

Imam Nawawi dalam Syarah Muslim, hlm. 6/154-155, menyatakan:

قوله صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: (وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ) هذا عامٌّ مخصوص، والمراد: غالب البدع. قال أهل اللُّغة: هي كلّ شيء عمل عَلَى غير مثال سابق. قال العلماء: البدعة خمسة أقسام: واجبة، ومندوبة، ومحرَّمة، ومكروهة، ومباحة. فمن الواجبة: نظم أدلَّة المتكلّمين للرَّدّ عَلَى الملاحدة والمبتدعين وشبه ذلك. ومن المندوبة: تصنيف كتب العلم وبناء المدارس والرّبط وغير ذلك. ومن المباح: التّبسط في ألوان الأطعمة وغير ذلك. والحرام والمكروه ظاهران، وقد أوضحت المسألة بأدلَّتها المبسوطة في (تـهذيب الأسماء واللُّغات) فإذا عرف ما ذكرته علم أنَّ الحديث من العامّ المخصوص، وكذا ما أشبهه من الأحاديث الواردة، ويؤيّد ما قلناه قول عمر بن الخطَّاب رَضِيَ اللهُ عَنْهُ في التّـَراويح: نعمت البدعة، ولا يمنع من كون الحديث عامًّا مخصوصًا قوله: (كُلُّ بِدْعَةٍ) مؤكّدًا بـــــــ كلّ، بل يدخله التَّخصيص مع ذلك كقوله تعالى: {تُدَمّرُ كُلَّ شَىءٍ} [الأحقاف،ءاية 25]اهـ

Artinya: Sabda Nabi "Setiap bid'ah itu sesat" Kalimat ini bersifat umum yang khusus. Maksudnya adalah umumnya bid'ah. Ahli bahasa berkata: Bid'ah adalah setiap sesuatu yang dilakukan tanpa ada contoh sebelumnya. Ulama berkata: Bid'ah ada lima bagian yaitu wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah. Termasuk bid'ah wajib adalah penyusunan argumen kalangan ulama ilmu kalam untuk menolak kalangan mulhid dan mubtadi' dan sejenisnya. Termasuk bid'ah sunnah adalah penyusunan kitab ilmu dan membangun madrasah dan asrama dan lainnya. Termasuk bid'ah boleh (mubah) adalah tidak membatasi dalam membuat warna makanan dan lainnya. Sedangkan bid'ah yang haram dan makruh sudah jelas dan sudah saya jelaskan hal ini dengan dalil-dalilnya yang luas dalam kitab Tahdzib al-Asma wa Al-Shifat. Apabila sudah diketahui apa yang saya sebut, maka dapat disimpulkan bahwa hadits di atas termasuk hadits umum yang berlaku khusus. Begitu juga dengan hadits-hadits lain yang serupa. Hal ini dikuatkan oleh perkataan Umar bin Khattab dalam shalat taraweh "sebaik-baik bid'ah." Sabda Nabi "setiap bid'ah" (كُلُّ بِدْعَةٍ) -- walalupun dikuatkan dengan kata 'setiap'-- tidak mencegah dari adanya hadis ini bersifat umum yang khusus. Bahkan kata "kullu" itu berfungsi takhsis (pengkhususan) sebagaiman firman Allah dalam QS Al-Ahqaf :25 (ُُتُدَمّر كُلَّ شَىءٍ) "yang menghancurkan segala sesuatu."


MADZHAB HANBALI TENTANG BID'AH

Syamsuddin Muhammad bin Abil Fath Al-Ba'li dalam Al-Muttali' ala Abwab Al-Muqni', hlm. 334, pada "Kitab Talaq" menyatakan:

والبدعة مما عُمل على غير مثال سابق، والبدعة بدعتان: بدعة هدى وبدعة ضلالة، والبدعة منقسمة بانقسام أحكام التكليف الخمسة.

Artinya: Bid'ah adalah perkara yang dilakukan tanpa ada contoh sebelumnya. Bid'ah terbagi dua: bid'ah hidayah (huda) dan bid'ah sesat (dhalalah). Bid'ah terbagi sesuai dengan pembagian hukum-hukum taklif yang lima (wajib, sunnah, haram, makruh, mubah).


BID'AH MENURUT IBNU TAIMIYAH

Berikut definisi dan hukum bid'ah menurut Ibnu Taimiyah:

Ibnu Taimiyah dalam Majmuk Al-Fatawa, hlm. 1/161-162 dan dalam kitabnya yang bernama Qaidah Jalilah fi Al-Tawassul wa Al-Wasilah, hlm. 2/28, ia menyatakan:

وكل بدعة ليست واجبة ولامستحبة فهي بدعة سيئة، وهي ضلالة باتفاق المسلمين. ومن قال في بعض البدع إنها بدعة حسنة فإنما ذلك إذا قام دليل شرعي على أنها مستحبة، فأما ما ليس بمستحب ولا واجب فلا يقول أحد من المسلمين إنها من الحسنات التى يتقرب بها إلى الله

Artinya: Setiap bid'ah yang tidak wajib dan tidak sunnah maka disebut bid'ah buruk (sayyi'ah). Bid'ah buruk hukumnya sesat menurut kesepakatan ulama. Yang mengatakan bahwa sebagian bid'ah itu bid'ah hasanah maka itu bisa terjadi apabila ada dalil syar'i yang menyatakan sunnah. Adapun bid'ah yang tidak sunnah dan tidak wajib maka tidak ada satu ulama pun yang menyatakan sebagai bid'ah hasanah untuk beribadah pada Allah.

Ibnu Taimiyah dalam Majmuk Al-Fatawa, hlm. 20/163, mengutip pembagian bid'ah menjadi dua oleh Imam Syafi'i:

قال الشّافعيّ - رحمه اللّه -: البدعة بدعتان: بدعة خالفت كتابًا وسنّةً وإجماعًا وأثرًا عن بعض أصحاب رسول اللّه صلّى اللّه عليه وسلّم فهذه بدعة ضلالةٍ. وبدعة لم تخالف شيئًا من ذلك فهذه قد تكون حسنةً لقول عمر: نعمت البدعة هذه هذا الكلام أو نحوه رواه البيهقي بإسناده الصّحيح في المدخل.

Artinya: Imam Syafi'i berkata: Bid'ah ada dua: Bid'ah yang berlawanan dengan Al-Quran dan Sunnah Nabi, ijmak ulama dan atsar Sahabat maka disebut bid'ah sesat (dholalah) dan bid'ah yang tidak menyalahi Al-Quran dll maka disebut bid'ah baik (hasanah) berdasarkan ucapan Umar: "Sebaik-baik bid'ah adalah ini." Perkataan Imam Syafi'i ini diriwayatkan oleh Baihaqi dengan sanad yang sahih.

Dalam Majmuk Al-Fatawa hlm. 27/152 Ibnu Taimiyah menyatakan:

إذًا البدعة الحسنة - عند من يقسّم البدع إلى حسنةٍ وسيّئةٍ - لا بدّ أن يستحبّها أحد من أهل العلم الّذين يقتدى بـهم ويقوم دليل شرعيّ على استحبابـها وكذلك من يقول: البدعة الشّرعيّة كلّها مذمومة لقوله صلّى اللّه عليه وسلّم في الحديث الصّحيح: {كلّ بدعةٍ ضلالة} ويقول قول عمر في التّراويح: " نعمت البدعة هذه " إنّما أسماها بدعةً: باعتبار وضع اللّغة. فالبدعة في الشّرع عند هؤلاء ما لم يقم دليل شرعيّ على استحبابه اهـ

Artinya: Jadi, bid'ah hasanah (baik) - menurut mereka yang membagi bid'ah menjadi hasanah dan sayyi'ah - harus disunnahkan oleh seorang ulama yang jadi panutan dan menunjukkan dalil syar'i atas kesunnahannya. Begitu juga ulama yang menyatakan bahwa semua bid'ah syar'iyah itu tercela (madzmumah) berdasarkan pada sabda Nabi "setiap bid'ah itu sesat" dan mengatakan bahwa ucapan Umar dalam shalat tarawih "sebaik-baik bid'ah itu ini" dialihkan sebagai bid'ah secara bahasa. Menurut golongan kedua ini, bid'ah secara syariah adalah suatu perbuatan yang tidak berdasarkan pada dalil syar'i atas kesunnahannya.

Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Al-Furqon baina Auliya Al-Rahman wa Aulia Al-Syaiton, hlm. 1/162, menyatakan:

قال الشّافعيّ " البدعة بدعتان: محمودة ومذمومة، فما وافق السّنّة فهو محمود وما خالفها فهو مذموم " أخرجه أبو نعيم بمعناه من طريق إبراهيم بن الجنيد عن الشّافعيّ، وجاء عن الشّافعيّ أيضًا ما أخرجه البيهقيّ في مناقبه قال"المحدثات ضربان ما أحدث يخالف كتابًا أو سنّة أو أثرًا أو إجماعًا فهذه بدعة الضّلال، وما أحدث من الخير لا يخالف شيئًا من ذلك فهذه محدثة غير مذمومة " انتهى. وقسّم بعض العلماء البدعة إلى الأحكام الخمسة وهو واضح.ا

Artinya: Imam Syafi'i berkata: Bid'ah terbagi dua, terpuji (mahmudah) dan tercela (madzmumah). Yang sesuai dengan sunnah disebut terpuji sedangkan yang menyalahi sunnah disebut tercela. Pernyataan Imam Syafi'i ini diriwayatkan oleh Abu Nuaim dari jalur Ibrohim bin Junaid dari Syafi'i. Juga dari Syafi'i pernyataan yang diriwayatkan oleh Baihaqi dalam Manaqib Syafi'i di mana Syafi'i berkata: "Perkara baru itu ada dua macam, pertama, perkara yang menyalahi Al-Quran, Sunnah, atsar Sahabat Nabi, ijmak ulama, maka ini disebut bid'ah sesat. Kedua, perkara baru yang baik yang tidak berlawanan dengan sesuatu pun dari yang disebut maka ini disebut perkara baru yang tidak tercela." Sebagian ulama membagi bid'ah berdasarkan hukum yang lima. Ini jelas.

Dalam kitabnya yang lain yaitu Iqtishad Al-Shirat al-Mustaqim, hlm 297, Ibnu Taimiyah mengatakan:

فتعظيم المولد واتخاذه موسما قد يفعله بعض الناس ويكون له فيه أجر عظيم لحسن قصده وتعظيمه لرسول الله صلى الله عليه وآله وسلم.

Artinya: Mengagungkan maulid Nabi dan menjadikannya sebagai rutin dilakukan oleh sebagian orang dan ia akan mendapat pahala besar karena kebaikan niatnya dan pengangungannya pada Rasulullah.

Ibnu Arabi (25 July 1165 – 8 November 1240)

Ibnu Arabi menyatakan bahwa bid'ah dan perkara baru tidak otomatis sesat:

ليست البدعة والمحدَث مذمومين للفظ بدعة ومحدث ولا معنييهما، وإنما يذم من البدعة ما يخالف السنة، ويذم من المحدثات ما دعا إلى الضلالة

Artinya: Bid'ah dan perkara baru tidaklah otomatis tercela. Bid'ah itu tercela apabila menyalahi sunnah. Perkara baru itu tercela apabila membawa pada kesesatan.



Cari artikel lain:






Jangan lupa baca yang ini juga ..




Buku Islam Terbitan Al-Khoirot