Friday, September 18, 2015

Kewajiban Istri Taat Suami


Kewajiban Istri Taat Suami
KEWAJIBAN ISTRI TAAT PADA SUAMI

Assalamu Alaikum Wr. Wb.

Saya mau menanyakan perihal kewajiban seorang suami terhadap keluarga (istri dan anak) yaitu memenuhi kebutuhan sandang pangan dan papan serta kebutuhan biologis. Pemahaman istri akan hal itu sebagai berikut :

- Tidak ada kewajiban istri memasak, yang ada hanya makan yang siap makan. Sebagai suami berusaha memenuhi akan tetapi lebih sering makanan yang diminta merupakan makanan mewah akibatnya kebutuhan hidup yang sering tidak tercukupi

TOPIK KONSULTASI ISLAM
  1. KEWAJIBAN ISTRI TAAT PADA SUAMI
  2. SUAMI SERING SELINGKUH, HARUSKAH DIMAAFKAN?
  3. SERING BERMASALAH DENGAN SUAMI
  4. CARA KONSULTASI SYARIAH ISLAM

- Kewajiban mencuci dan membersihkan rumah juga tidak ada. Akibatnya istri meminta pembantu yang mengurusi semua itu termasuk memandikan anak, memberi makan anak, bahkan menemani anak. Kalau merasa bosen dengan pakaian, harus dibelikan pakaian yang baru meskipun pakaian lama baru sekali pakai.

Inti dari semuanya adalah istri tidak melakukan pekerjaan apapun dirumah kecuali menghias diri dan meladeni kebutuhan biologis suami, rumah tangga dan anak adalah kewajiban suami. Sebagai suami kalau memenuhi itu saja, maka penghasilan sebulan hanya cukup untuk urusan makan, baju dan bayar pembantu. Sedangkan tabungan untuk kebutuhan lain seperti biaya sekolah sudah tidak ada.

Pertanyaan saya,

1. apakan kewajiban suami itu tidak ada batasannya ?
2. dan yang dimaksud layak itu seperti apa ?

Mohon maaf atas pertanyaan saya yang sangat awam

Wassaalam


JAWABAN

1. Memang pada dasarnya tugas-tugas rumah tangga seperti di atas bukan kewajiban istri. Namun, itu semua bisa menjadi wajib kalau suami memerintahkan istri untuk melakukannya. Islam memerintahkan agar istri taat pada perintah suaminya selagi perintah itu bukan perintah berbuat dosa. Berikut dalil-dalilnya:

Dalam Al-Quran Surah An-Nisa' 4:34 Allah berfirman:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِم

Artinya: Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.

Dalam QS Al-Baqarah 2:228 Allah menekankan hak dan kewajiban bagi suami istri:
Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Dalam hadits sahih riwayat Bukhari Nabi bersabda:

لا يحل للمرأة أن تصوم وزوجها شاهد إلا بإذنه ولا تأذن في بيته إلا بإذنه

Artinya: Tidak halal bagi istri berpuasa (sunnah) sedang suaminya ada di rumah kecuali atas seizin suami dan istri tidak memberi izin di rumah suami kecuali atas izin suami.

Hadits sahih riwayat Ibnu Hibban Nabi bersabda:

إذا صلت المرأة خمسها و صامت شهرها و حصنت فرجها و أطاعت زوجها قيل لها : ادخلي الجنة من أي أبواب الجنة شئت

Artinya: Apabila istri rajin shalat fardhu 5 waktu, berpuasa Ramadhan, menjaga farjinya (tidak berzina), dan taat pada suaminya, maka akan dikatakan padanya: "Masuklah surga dari pintu manapun engkau suka."

Jadi, suami bukan hanya terbebani oleh kewajiban tapi juga memiliki hak atas istri termasuk di antaranya menyuruh istri melakukan apapun asal bukan perintah maksiat seperti memasak, mencuci dan mengurus anak.

Di sini diperlukan ketegasan sikap suami agar tidak diperdaya oleh istri. Suami wajib menafkahi istrinya menurut kemampuan yang dimiliki tapi tidak harus menuruti semua kehendak istri. Dan suami juga wajib mendidik istri apabila istri memiliki sikap yang cenderung berperilaku seenaknya.

2. Maksud layak adalah (a) menurut kemampuan finansial suami; (b) menurut kepantasan secara umum.

Baca juga: Cara Harmonis dalam Rumah Tangga

___________________


SUAMI SERING SELINGKUH, HARUSKAH DIMAAFKAN?

Asslmu'alaikum wrwb

Saya seorang istri dengan satu anak perempuan, dari dulu suami saya sering selingkuh dan saya selalu memaafkannya, dan sekarang terjadi lagi, suami saya selingkuh dengan janda, tapi perselingkuhan mereka dengan surat perjanjian yang isinya kalau ada apa-apa siwanita tidak akan menuntut, bahkan kalau sampai hamilpun tidak akan menuntut pertanggungjawaban dan materi, dan anak menjadi tanggungjawab siwanita seutuhnya, dan sekarang siwanita beneran hamil dan dia beneran tidak menuntut kecuali minta dinikahi secara siri untuk menutup aib,

dan akhirnya pernikahan siri itupun terjadi dibelakang saya, dan kata suami saya dia menikahi wanita itu juga hanya menutup aib saja dan tetap memilih kembali kepada saya dan meninggalkan wanita itu,

pertanyaan saya:
1. Apakah saya harus menerima dan memaafkan suami saya sementara hati saya sangat terluka karena telah dikhianati
2. Apa yang harus saya lakukan pada wanita itu?
3, Apakah saya berdosa bila membiarkan suami saya mengabaikan istri sirinya, walau itu kemauan suami saya sendiri
Mohon jawabannya
Wassalamu'alaikum wrwb

JAWABAN

1. Dalam situasi di mana suami sering melakukan zina atau dosa besar lain, maka syariah Islam memberikan istri dua pilihan yaitu berpisah / meminta cerai atau tetap bertahan. Pilihan yang baik adalah yang pertama: minta cerai atau melakukan gugat cerai karena dia bukanlah imam yang baik dan agar supaya anda dapat melupakan kepedihan hati karena sering tersakiti. Namun apabila anda masih ingin bersamanya, maka itupun boleh saja dan apabila ini pilihan anda maka sebaiknya mulai sekarang anda berhenti mengeluh apabila peristiwa serupa terjadi di masa depan. Baca detail: Perselingkuhan dalam Rumah Tangga http://www.alkhoirot.net/2012/07/istri-ingin-cerai-karena-suami-suka.html

2. Tidak ada yang perlu dilakukan pada wanita itu. Kalau bisa, perlakukan wanita itu dengan baik karena dia saat ini menjadi co-wife anda.

3. Sebaiknya sarankan suami untuk adil dalam menggilirnya. Namun, dosa ketikdakadilan suami dalam menggilir adalah tanggungjawab suami itu sendiri. Baca: Makna Adil dalam Poligami http://www.alkhoirot.net/2012/01/makna-adil-dalam-poligami.html

___________________


SERING BERMASALAH DENGAN SUAMI

Kepada uztad dan uztadzah di tempat.
Perkenalkan saya perempuan, Sudah 3 tahun menikah, alhamdulillah Sudah dikarunai seorang anak perempuan berumur 2thn dan sedang mengandung kembali. Saya ingin berkonsultasi tentang beberapa permasalahan di rumah tangga saya, karena Sudah agak lama saya berpikir dan tidak ketemu solusinya.

1. Selama saya kenal suami saya, beliau rajin shalat tapi hampir tidak pernah membaca al-Quran alasannya tidak bisa, mau saya ajarin mulai Dari iqra tidak mau. Di cari kan uztad untuk belajar mengaji alasannya selalu Ada. Bagaimana ini Pak uztad, saya kok merasa agak menganjal dengan perilaku suami saya ?

2. Beberapa waktu belakangan ini anak saya sering sakit dan perkembangannya sehat walaupun berat badannya Kecil menurut dokter anak, Hal ini selalu menjadi permasalahan di antara kami, yang kadang Ada perkataan yang tidak mengeenakkan di hati saya, saya lebih sering diam, karena saya memang kurang cakap tentang Hal rumah tangga, seperti memasak dan mengurus anak. Kalau saya jawab sesekali pasti persoalan yang lalu diungkit kembali, apakah Hal ini sehat jika dibiarkan berlarut-larut?

3. Pemikiran kami sepertinya berbeda dan suami saya tidak pernah mau mengungkapkan seperti apa visi dan misi untuk keluarga kami. Bagaimana menyikapi Sikap suami yang seperti ini ?

4. Apakah ini berkaitan dengan ketidak fahaman beliau tentang agama ?

5. Sikap saya sebagai seorang istri dan ibu harus bagaimana ?

Terimakasih Sudah meluangkan waktu untuk membaca dan membahas permasalahan keluarga saya.

Wasalamuallaikum wr. Wb

JAWABAN

1. Pertama syukuri saja dulu dengan kenyataan bahwa anda mempunyai suami yang rajin shalat. Bahwa dia tidak rajin membaca Al-Quran karena tidak bisa membaca itu semestinya anda sudah tahu sejak sebelum menikah. Selain itu, membaca Al-Quran di luar shalat itu tidak wajib. Baca: Hukum Membaca Al-Quran http://www.alkhoirot.net/2014/09/menyentuh-membaca-al-quran.html

Jadi tidak perlu menjadikan masalah ini menjadi besar dan membuat renggang rumah tangga. Kalau anda ingin dia belajar mengaji, maka keinginan itu harus anda ungkapkan secara hati-hati agar tidak menyinggung perasaannya. Karena, belajar membaca Al-Quran itu biasanya dilakukan oleh anak-anak kecil jadi kemungkinan besar dia merasa gengsi kalau harus belajar pada usia seperti sekarang. Dan kalau dia tidak mau, maka sebaiknya dibiarkan saja. Yang penting anda sudah mengungkapkan keinginan anda agar dia belajar mengaji dan rajin membaca Al-Quran. Dilaksanakan atau tidak oleh suami itu sepenuhnya terserah dia. Siapa anda yang berhak memaksa dia melakukan sesuatu yang tidak wajib secara syariah? Bahkan terhadap perkara yang wajibpun anda tidak boleh memaksanya apalagi yang tidak wajib. Di sinilah mungkin letak kesalahan anda dan penyebab dia sering bersikap kurang simpati pada Anda. Karena, orang yang terpojok atau dipojokkan akan cenderung mengungkit-ungkit kesalahan 'lawan' yang memojokkannya.

2. Kurang cakap memasak dan mengurus anak memang akan membuat kesal suami. Kekurangan ini lebih besar dibanding ketidakmampun suami membaca Al-Quran Namun kekesalan itu akan disimpannya apabila istri tidak juga mengungkap kekurangan suami. Idealnya, istri meningkatkan kemampuannya terutama di bidang memasak dan mengurus anak. Apabila ini dilakukan, insyaAllah suami juga akan berusaha meningkatkan kemampuannya termasuk dalam hal membaca Al-Quran. Hidup selalu menuntut resiprokal dan timbal balik terutama di antara suami dan istri.

3. Visi misi rumah tangga dan keluarga akan mudah disamakan apabila terjadi komunikasi secara intensif antara kedua belah pihak suami-istri. Maka, lakukan komunikasi berkualitas secara teratur. Ajak suami jalan-jalan ke tempat wisata dan ungkapkan keinginan anda apa yang anda inginkan dari keluarga ini. Dan dengarkan apa yang diinginkan suami. Rumah tangga harmonis akan tercapai apabila (a) sering komunikasi; (b) siap saling kompromsi; (c) mensyukuri hal positif yang dimiliki pasangannya.

4. Sikap yang bijaksana belum tentu berkaitan dengan pemahaman agama. Yang pintar agama belum tentu bijaksana dan tidak mengerti agama belum tentu bersikap semaunya. Rumah tangga yang terasa tidak nyaman disebabkan bukan hanya oleh suami tapi juga oleh istri. Sudahkah anda introspeksi soal ini? Kalau toh secara faktual penyebab konflik mayoritas adalah suami, maka tetap saja ada peran anda di dalamnya yakni mengapa sejak awal anda memilih dia sebagai pendamping hidup kalau tau pengetahuan agamanya kurang?

5. Sikap terbaik bagi anda sebagai istri dan ibu bagi anak-anak sudah diterangkan dalam poin jawaban di atas. Sebagai kesimpulan: (a) syukuri hal positif dari suami; (b) evaluasi hal negatif pada diri sendiri dan perbaiki; (c) jangan biasakan memaksakan kehendak semua hal harus berdasarkan komunikasi dan kompromi.

Baca juga: Cara Harmonis dalam Rumah Tangga



Cari artikel lain:




Copy link berikut untuk referensi kutipan:

Jangan lupa baca yang ini juga ..