Tuesday, October 06, 2015

Problematika Rumah Tangga Tidak Taat Agama


Problematika Rumah Tangga Tidak Taat Agama
STATUS ISTRI SIRI DAN SUAMI PERNAH MURTAD

Saya perempuan umur 30 tahun agama Islam. Sedikit cerita tentang awal mula kehidupan rumah tangga saya. Suami saya seorang duda beranak satu. Terlahir Islam dan ikut agama istri sebelumnya saat menikah. Saya kenal suami sudah cukup lama, dan sedikit banyak tau dengan kehidupan keluarganya yang sudah berpisah 6 tahun lamanya dengan istrinya tanpa putusan resmi.

TOPIK KONSULTASI ISLAM
  1. STATUS ISTRI SIRI DAN SUAMI PERNAH MURTAD
  2. PERNIKAHAN HAMIL ZINA YANG TIDAK DIAKUI ORANG TUA
  3. CARA KONSULTASI SYARIAH ISLAM

Setelah kenal dengan saya, akhirnya suami memutuskan untuk ikut saya, dan kami menikah secara agama islam. Keputusan saya menikah tentunya karna saya tidak ingin berzinah, sehingga saya berharap setelah dengan saya, suami dapat segera menyelesaikan proses perceraian dengan istrinya dan kami bisa hidup seperti keluarga pada umumnya.

Tahun pertama pernikahan, kami tinggal di kota tempat saya bekerja, dan masuk di tahun kedua kami bersepakat untuk pindah ke kota kelahiran suami saya.

Dikota ini kami kontrak rumah, bersama ibu mertua dan adik laki-laki suami. Hanya saja, status saya sebagai istri, tidak diketahui oleh keluarga besar suami, dan bahkan keluarga dari istri sebelumnya pun menganggap hubungan pernikahan mereka masih ada. Sebagaian besar keluarga suami menganggap saya sebagai pacar suami saya, dan keluarga dari istrinya menganggap bahwa sampai saat ini mereka masih ada hubungan pernikahan, dan saya sebagai teman kerja suami.

Dengan pertimbangan diatas, maka saya memilih tinggal di kost. Dengan harapan, persoalan suami dengan istri sebelumnya dapat segera tuntas dan kami bisa tinggal serumah. Suami menuntut saya untuk tinggal bersama, sementara dari sisi saya merasa janggal, karna status pernikahan kami yang belum diketahui. Dilain sisi, ibu mertua suami sering datang ke rumah kontrakan kami.

Proses pendekatan saya dengan anak suami yang sekarang duduk di bangku kelas 1 SMP, cukup cepat, secara komunikasi berjalan baik. saya dituntut untuk mengambil hati anak, dan itu sudah saya lakukan. Namun ada sikap kasar anaknya, yang terkadang membuat saya tersinggung. Sikap tidak hormat kepada saya, keluarga bahkan teman suami sering ditunjukkan, berkali-kali saya dibentak dan bahkan dilihat sendiri oleh suami. Saya, memilih diam agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan yang berbuntut pada pertengkaran dengan suami.

Sejak tinggal di kota ini, saya merasa jauh dari suami. Waktu saya dengan suami hanya saat anak berada di sekolah, itupun kalau suami tidak ada pekerjaan. Sementara sisa waktu lainnya hingga hari libur, suami memilih menghabiskan waktu dengan anaknya. Saya pernah protes sama suami, namun kembali saya dituntut untuk tinggal di rumah kontrakan dengan kondisi hubungan "rahasia" jika ada keluarganya yang datang.

Pernah sekali saya ingin ke rumah kontrakan, saya telp suami untuk jemput saya, tapi suami mengatakan kalau di rumah kontrakan ada mertuanya, awalnya saya nekat ingin pergi, tapi kekecewaan datang karna jawaban suami, yang seolah meminta saya untuk tidak usah datang. Posisi saya merasa dilema, saya harus ikut kemauan suami, atau saya ikuti alur namun tidak tau sampai dimana muaranya.

Semakin hari, hubungan saya dengan suami semakin jauh. untuk komunikasi saja seadanya dan hal-hal yang penting saja. Karna tidak ingin bertengkar, saya memilih diam dikost dan mencari kesibukan saya sendiri.

Pernah saya bertanya kapan suami lakukan proses cerai terhadap istrinya dan sampai kapan kami harus sembunyikan status kita sebenarnya. Jawaban suami, jika saya mengingikan proses cerainya cepat, maka dia akan kembali ke agamanya atau menunggu sampai anaknya dapat menerima saya sebagai ibu pengganti, dan itu akan dilakukan setelah anaknya kelas 3 SMA.

Disini saya mulai berpikir, bahwa kehadiran saya di kota ini tidak ada artinya sama sekali. Berkali-kali saya protes, hingga saya membiarkan namun kondisinya tidak pernah berubah. Sayapun sudah berusaha bicara, tapi sia-sia karna terkesan hanya saya yang berambisi sementara suami terkesan enjoy dengan situasi ini.

Terkait dengan agama, sejak nikah hingga sekarang suami tidak pernah melakukan ibadah, baik sholat, bahkan saya sering tersinggung saat saya memintanya untuk ikut sholat, dan jawabannya selalu menolak dengan keras.

Pertanyaannya,
1. bagaimana saya menyelesaikan persoalan ini, karna semakin lama saya membiarkan, maka keluarga saya akan semakin hancur, sementara dari suami tidak ada upaya untuk segera menyelesaikan persoalan.

2. Terkait dengan persoalan anak, saya harus bertindak bagaimana? Karna berkali-kali saya meminta waktu kepada suami, namun saya dituding cemburu dengan anaknya?
3. Dan bagaimana saya meyakinkan suami untuk beribadah, sementara hingga saat ini suami terkesan malu mengakui bahwa sebenarnya dia sudah kembali Islam.

Saya mohon bantuannya.. Makasi.


JAWABAN

1. Solusinya tergantung dari apa yang anda inginkan. Kalau anda ingin bercerai, maka secara syariah anda bisa melakukan itu dengan meminta cerai padanya apabila merasa tidak mendapat perhatian yang cukup dari suami. Kalau anda masih ingin mempertahankan rumah tangga dan masih mencintainya, maka anda harus mulai berterusterang pada keluarga suami bahwa anda adalah istrinya. Mulailah dari sini dan setelah itu lihat apa yang terjadi.

2. Sebelum status anda jelas sebagai ibu tirinya, sebaiknya berkomunikasilah secara terukur. Baik dari cara pendekatan maupun dari segi intensitas komunikasi.

3. Ajak dia berkunjung ke rumah ustadz atau ustadzah untuk sekedar silaturahmi atau shalat berjamaah ke masjid. Dia sudah lama murtad, maka dia perlu suasana yang dapat mengingatkannya ke masa lalunya sebagai muslim.

Baca juga: Cara Harmonis dalam Rumah Tangga

______________________


PERNIKAHAN HAMIL ZINA YANG TIDAK DIAKUI ORANG TUA

Assalamu Alaikum wr. wb.
Nama saya N. Saya adalah seorang istri dan ibu. Begini ustad, saat ini saya sedang menghadapi masalah rumah tangga yang sangat membuat saya bingung harus melakukan apa dan mengadu pada siapa, pasalnya pernikahan kami bahkan anak dari pernikahan kami sama sekali tidak di akui oleh kedua mertua saya. Bahkan bukan sekedar tidak di akui, tapi memang ditutupi oleh kedua mertua saya. Alhasil, selain kedua mertua dan ipar2 saya dari suami tidak ada yang mengetahui pernikahan kami. Bahkan saudara saudara kandung kedua mertua - tetangga mertua saya tidak ada yang mengetahui pernikahan kami. Jadi sekarang di lingkungan suami, orang - orang tahunya suami
belum berkeluarga.

Sekarang putra kami sudah berumur 10 bulan, tapi kedua mertua belum pernah datang menjenguk sang cucu padahal jarak rumah kami hanya 15 menit dg kendaraan bermotor.
Sebelumnya ustad, saya dan suami mengaku salah & paham kesalahan kami karena kami tahu mertua begitu karena kecewa kami hamil diluar nikah. Jadi saya paham tidak berhak marah & mendapat restu. Selama setahunan ini saya dan suami juga berusaha memperbaiki diri & bertaubat agar kelak anak kami juga tidak mendapat ganjaran (balasan - red) dari perbuatan kami, karena kami benar2 sayang pada si kecil.

Tapi saya juga tidak bisa bohong, sebagai manusia biasa ada rasa kecewa saya & keluarga besar saya karena mertua tidak pernah sekalipun datang menggendong anak saya, bagi saya tidak apa saya tidak di akui, tapi ketika mengetahui mertua memutuskan silaturahmi dengan cucunya yg merupakan anak kandung saya, saya sangat sakit. apalagi mertua orang yang paham agama, karena mertua adalah ketua MUI Makassar saat ini. maka lengkaplah kemarahan dari keluarga besar saya mengetahui siapa mertua saya & sikapnya tersebut.

Sekarang putra saya makin besar, keluarga saya makin benci dg mertua saya.

1. Apakah yg harus saya lakukan ustad?
2. haruskah saya mengikuti nafsu saya untuk ikut tidak mengakui mereka sebagai nenek anak saya & kelak mengatakan pada anak saya mereka sudah mati? karena menurut kakak suami saya foto anak sayapun enggan dilihat.
3. Lalu apakah yang harus saya lakukan pada sikap mertua yang menutupi pernikahan kami? untuk teman - teman saya saya terbuka dengan pernikahan saya tapi belum terbuka dg anak saya, karena saya paham itu aib jadi saya & suami ingin teman - teman saya tahu anak kami lewat pertemuan yang tidak disengaja, jd bukan lewat mulut kami langsung.
4. Saya bingung ustad haruskah saya juga menutupnya rapat karena memang kami paham ini aib atau kami buka perlahan mengingat anak kami makin besar, & rasanya tidak nyaman berjalan - jalan bertiga tanpa orang tahu status kami.

Terimakasih sebelumnya atas jawabannya ustad.

JAWABAN

1. Yang harus dilakukan adalah bersabar. Butuh waktu bagi mertua anda untuk bisa menerima kenyataan bahwa anak seorang anggota MUI ternyata harus menikah karena menzinahi perempuan sampai hamil. Ini pukulan yang sangat menohok bagi mertua anda dari banyak segi: dari segi agama zina adalah dosa besar; dari segi martabat sungguh sangat menjatuhkan; dari segi sosial mereka tidak bisa lagi menanggung malu apabila hal ini diketahui kolega mereka maupun publik Makassar khususnya. Untuk itu, anda harus sabar dan memaklumi ini. Butuh waktu panjang bagi mereka untuk menerima kenyataan ini. Mungkin bulanan, mungkin tahunan. Sampai kapanpun anda harus sabar menunggu karena bagaimanapun ini kesalahan anda dan suami anda yang menjadi penyebab utama semua ini.

2. Percuma anda membalas, apa untungnya buat anda dan anak anda? Bila itu yang dilakukan, maka pada dasarnya anda telah merusak masa depan anak anda dan anda sendiri. Sekali lagi anda harus ingat satu hal: siapa penyebab dari semua ini? Anda berdua bukan? Maka, bersabarlah dan teruskan hidup seperti air mengalir. Cobalah move on. Kedua mertua anda juga sedang mencoba untuk move on dan menghadapi kenyataan pahit ini. Mereka mungkin sedang melakukan evaluasi diri.

3. Satu hal yang harus lakukan saat ini adalah bersyukur. Bersyukur karena bagaimanapun nasib anda masih jauh lebih baik dibanding banyak wanita lain yang ditinggal oleh pacarnya dalam keadaan hamil atau yang orang tua si pria sama sekali tidak mau menikahkan. Bersyukur adalah cara terbaik daripada mengeluh. Anda telah menciptakan keadaan yang tidak ideal, dan konsekuensinya tercipta suasana yang tidak ideal terjadi pada anak anda sekarang.

4. Mungkin sementara anda berdua sebaiknya tinggal di tempat yang anda berdua tidak dikenal oleh lingkungan. Di situ anda dapat mengakui sebagai suami istri pada lingkungan yang baru dan mulai membesarkan anak sambil menunggu mertua anda dapat mengakui dan menerima kenyataan yang pahit ini.

Hikmah yang dapat diambil dari peristiwa ini: Jangan biarkan kasus yang terjadi pada anda, yakni hamil zina, terjadi juga pada anak anda kelak. Didik anak anda dengan baik secara agama dan beri pendidikan terbaik menuju masa depan yang cerah.

Baca juga:

- Cara Taubat Nasuha
- Cara Harmonis dalam Rumah Tangga
- Cara Mendidik Anak



Cari artikel lain:




Copy link berikut untuk referensi kutipan:

Jangan lupa baca yang ini juga ..