Wednesday, December 30, 2015

Masuk Islam Baca Syahadat dalam Keadaan Junub


Masuk Islam Baca Syahadat dalam Keadaan Junub
HUKUM BACA SYAHADAT SAAT JUNUB KETIKA MASUK ISLAM, SAH APA TIDAK?

pak ustadz saya mau menanyakan

1. apakah sah masuk islam kalau mengucapkan syahadat dalam keadaan junub ?
2. apakah masuk islam itu harus mandi wajib sebelumnya ?
3. apakah sah masuk islam misalnya membaca syahadat hari senin terus mandi wajib atau shalatnya hari selasa atau rabu ?
4. sah kah sholat kalau menelan air ludah atau dahak ?
5. apa hukumnya membawa alquran kedalam wc, halal, makruh atau haram, kalau haram misalnya apakah sampai menyebabkan murtad ?
6. apa hukumnya menyingkat seperti nabi Muhammad SAW atau ALLAH SWT apakah dengan menyingkat itu kita berdosa ?
7. apakah sah syahadat atau keislaman seorang muallaf atau orang murtad yang mau masuk islam kalau belajar bacaanya dari buku hasil nyuri, misalnya belajar bacaan dari buku hasil nyuri atau beli buku untuk belajar bacaan syahadat dari uang haram ?

8. apakah sah sholat kalau belajar bacaan atau tata caranya dari buku hasil nyuri ?

9. pak ustadz didalam bacaan syahadat itu yang benarnya MUHAMMADAN RASULULLAH ATAU MUHAMMADAR RASULULLAH saya jadi bingunG pak ustadz mana yang betul apakah DAN ATAU DAR ?

tolong jelaskan pak ustadz menurut ulama mazhab

TOPIK SYARIAH ISLAM
  1. SAAT MASUK ISLAM APAKAH HARUS SUCI DARI HADAS BESAR?
    1. HUKUM BACA SYAHADAT UNTUK MASUK ISLAM SAAT SEDANG JUNUB
    2. MUALAF YANG MASUK ISLAM DALAM KEADAAN SUCI DARI HADAS KECIL DAN BESAR
    3. MUALAF YANG SAAT MASUK ISLAM DALAM KEADAAN HADAS BESAR (JUNUB, HAID, NIFAS)
  2. HUKUM MENELAN LUDAH ATAU DAHAK SAAT SHALAT
  3. HUKUM MEMBAWA KITAB AL-QURAN KE DALAM WC
  4. HUKUM MEMBACA AL-QURAN DI TOILET
  5. MENYINGKAT SHALAWAT PADA NABI MENJADI SAW ATAU SWT PADA ALLAH
  6. CARA KONSULTASI AGAMA


JAWABAN SINGKAT

1. Sah syahadatnya. Karena saat sebelum syahadat, dia belum wajib mandi besar karena bukan muslim.
2. Tidak harus. Namun sunnah mandi terlebih dahulu.
3. Sah. Hanya saja dia berdosa karena telah meninggalkan shalat pada hari Senin. Seharusnya, ketika dia masuk Islam pada jam 11 siang, maka dia sudah wajib shalat zhuhur pada jam 12 siang dan shalat-shalat lainnya. Kalau dia tidak melakukan itu, maka dia wajib mengqadha shalat yang ditinggalkan tersebut.

4. Menelan air ludah atau dahak saat shalat tidak membatalkan shalat. Alias sah salatnya.

5. Membawa kitab suci Al-Quran dalam bentuk kertas ke dalam wc itu haram tapi tidak menyebabkan murtad. Sedangkan membawa ponsel pintar yang ada aplikasi Al-Quran ke dalam WC hukumnya boleh asalkan waktu masuk WC tidak membuka aplikasi tersebut.

6. Tidak. Hanya makruh

7. Sah. Tapi ia wajib mengembalikan buku atau uang yang dicuri itu pada pemiliknya. Baca detail di sini.

8. Sah. Itu sama dengan haji dari hasil korupsi. Tapi tidak mendapat pahala. Baca: Haji dari Uang Haram

9. Yang benar yang kedua yaitu Muhammadar Rasulullah.

URAIAN:

HUKUM BACA SYAHADAT UNTUK MASUK ISLAM SAAT SEDANG JUNUB

Ketika seorang non-muslim masuk Islam pertama kali lalu dia membaca syahadat untuk memproklamirkan keislamannya maka bacaan syahadatnya sah secara mutlak baik dia dalam keadaan junub atau tidak, habis kentut atau tidak. Karena, tidak ada syarat proses masuk Islam harus dalam keadaan suci dari hadas kecil dan/atau besar. Syarat wajib wudhu apabila hadas kecil dan mandi junub apabila hadas besar hanya dalam situasi hendak shalat sebagaimana disebut dalam QS Al-Maidah 5:6 atau ibadah yang lain seperti tawaf haji, memegang kitab suci Al-Quran, dll.

Yang menjadi perselisihan pendapat di kalangan ulama adalah soal setelah masuk Islam apakah mandi besar itu wajib atau sunnah?

Sebelum masuk Islam, seorang non-muslim ada dua kemungkinan, a) dia dalam keadaan suci; b) dia dalam keadaan junub (keluar mani, hubungan intim, nifas, haid).


MUALAF YANG MASUK ISLAM DALAM KEADAAN SUCI DARI HADAS KECIL DAN BESAR

Apabila dia dalam keadaan suci, maka ada dua pendapat di kalangan ulama empat madzhab.

Pendapat pertama, sunnah hukumnya bagi dia untuk mandi besar tapi tidak wajib. Ini pendapat mayoritas ulama empat madzhab yaitu madzhab Syafi'i, Hanafi, Maliki (Lihat, Al-Majmuk, 2/152, Al-Durr Al-Mukhtar 1/167, Mawahib Al-Jalil 1/453).

Pendapat kedua, wajib mandi besar. Ini pendapat madzhab Hanbali (lihat, Al-Insof, 1/174).

Hadits-hadis yang mendasari perbedaan ini adalah sbb:

a) Hadis sahih riwayat Nasai (no. 188) dari Qais bin Ashim dari ayahnya: Bahwa ayahnya masuk Islam lalu Nabi memerintahkannya untuk mandi dengan air dan daun sidr. (Teks hadis: أنه أسلم فأمره النبي صلى الله عليه وسلم أن يغتسل بماء وسدر)

b) Hadits riwayat Ahmad (no. 8037) di mana Nabi menyuruh Tsumamah bin Atsal untuk mandi besar ketika masuk Islam. (Teks hadits: أمر النبي صلى الله عليه وسلم لثمامة بن أثال رضي الله عنه عندما أسلم أن يغتسل)

c) Hadits sahih riwayat Bukhari (no. 450) dan Muslim (no. 1764) bahwa Tsumamah bin Atsal mandi sendiri (tanpa diperintah Nabi) lalu dia mengumumkan keislamannya dan tidak ada perintah dari Nabi untuk mandi besar (Lihat, Al-badr Al-Munir, 4/336; Talkhis Al-Habir, 2/68).

Pendapat yang kuat adalah yang pertama yakni sunnah mandi besar dan tidak wajib. Al-Baghawi dalam Syarh Al-Sunnah, hlm. 2/172, menyatakan:

والعمل على هذا عند أهل العلم: يستحبون للرجل إذا أسلم أن يغتسل ويغسل ثيابه، والأكثرون على أنه غير واجب إذا لم يكن لزمه غسل في حال الشرك، وذهب بعضهم إلى وجوب الاغتسال عليه بعد الإسلام.

Artinya: Makna hadits ini adalah Ulama mensunnahkan bagi yang masuk Islam untuk mandi besar dan mencuci bajunya. Kebanyakan ulama tidak mewajibkan apabila saat kafir tidak junub. Sedangkan sebagian ulama berpendapat wajib mandi setelah masuk Islam.


MUALAF YANG SAAT MASUK ISLAM DALAM KEADAAN HADAS BESAR (JUNUB, HAID, NIFAS)

Apabila saat masuk Islam seorang mualaf dalam keadaan pernah junub di saat kafirnya, maka ada dua pendapat ulama.

Pendapat pertama, wajib mandi besar. Ini adalah pendapat mayoritas madzhab empat. Imam Nawawi dalam Al-Majmuk, hlm. 2/152, menyatakan:

لأنه لا خلاف أنه يلزمه الوضوء، فلا فرق بين أن يبول ثم يسلم أو يجنب ثم يسلم، وأما الآية الكريمة والحديث فالمراد بهما غفران الذنوب فقد أجمعوا على أن الذمي لو كان عليه دين أو قصاص لا يسقط بإسلامه

Artinya: Tidak ada perbedaan ulama bahwa ia (mualaf) wajib wudhu. Tidak ada bedanya antara dia kencing lalu masuk Islam atau junub lalu masuk Islam. Adapun ayat Quran dan hadis tentang dimaafkan dosanya mualaf [1], maka ulama sepakat bahwa kafir dzimmi apabila dia punya kewajiban hutang atau qisas maka tidak gugur karena keislamannya. (Pendapat dari madzhab lain, lihat: Al-Bahr Al-Raiq, 1/68, Al-Taj wal-Iklil, 1/311, Kasyaf Al-Qinak, 1/145).

_____

[1] Yang dimaksud Imam Nawawi adalah QS Al-Anfal 8:38 [قُل لِلَّذِينَ كَفَرُواْ إِن يَنتَهُواْ يُغفَرْ لَهُم مَّا قَدْ سَلَفَ] "Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu" dan hadits [الإسلام يهدم ما قبله] "Keislaman seseorang menghapus dosa sebelumnya."
_____

Pendapat kedua, tidak wajib mandi besar walaupun dalam keadaan junub. Ini pendapat sebagian ulama dari madzhab Hanafi dan salah satu ulama madzhab Syafi'i dan Maliki. (Lihat, Bada'i Al-Shanai' 1/35, Mawahib Al-Jalil 1/435; Al-Majmuk 2/152).

Baca juga:
- Tata Cara Masuk Islam Menjadi Mualaf
- Gadis ABG Masuk Islam, Perlukah Sertifikat Mualaf?


HUKUM MENELAN LUDAH ATAU DAHAK SAAT SHALAT

Orang yang salat lalu menelan ludah, maka shalatnya tidak batal asalkan dalam ludah tersebut tidak ada makanan. Pada dasarnya dalam soal menelan ludah ini hukumnya sama antara menelan ludah saat shalat dan puasa. Kalau ludah tidak bercampur dengan makanan apapun, maka shalat atau puasanya tidak batal. Sebaliknya, kalau dalam ludah itu bercampur dengan makanan maka batal. Begitu juga, ketika saat shalat atau puasa ada makanan di mulut lalu ditelan, maka batal salat atau puasanya. Walaupun makanan itu sedikit.

Al-Bakri dalam Ianah At-Talibin, hlm. 2/257, menyatakan:

لو كان في الصلاة وحصل له ذلك لم تبطل به صلاته ولا صومه إذا ابتلع ريقه

Artinya: Apabila seseorang yang shalat menelan ludahnya saat shalat atau puasa, maka hal itu tidak batal shalat atau puasanya.

Al-Syarbini dalam Al-Iqna', hlm. 1/152, menyatakan:

( و ) التاسع ( الشرب ) وهو كالأكل فيما مر ومثل الشرب ابتلاع الريق المختلط بغيره إذ القاعدة أن كل ما أبطل الصوم أبطل الصلاة

Artinya: Yang ke-9 dari perkara yg membatalkan sholat adalah minum dan minum hukumnya sama dengan makan sebagaimana keterangan yg telah lewat, disamakan dengan minum adalah menelan ludah yang bercampur dengan sesuatu yang lain karena ada kaidah sesungguhnya setiap sesuatu yang membatalkan puasa itu juga membatalkan sholat

Khatib Syarbini dalam Mughnil Muhtaj, hlm. 1/200, menyatakan:

( فلو كان بفمه سكرة ) فذابت ( فبلع ) بكسر اللام وحكي فتحها ( ذوبها ) بمص ونحوه لا بمضغ ( بطلت ) صلاته ( في الأصح ) لمنافاته للصلاة كما مر والثاني : لا تبطل لعدم المضغ

Artinya: Seandainya dimulut orang sholat ada manisan dan ditelan cairan manisan tersebut dengan sesapan tidak dengan mengunyah maka batal sholatnya menurut pendapat yg ashoh dan pendapat yg ke-2 sholatnya tidak batal karena tidak adanya mengunyah.


HUKUM MEMBAWA KITAB AL-QURAN KE DALAM WC

Membawa kitab suci Al-Quran atau biasa disebut mushaf ke dalam WC hukumnya haram karena berarti tidak menghormatinya. Imam Nawawi dalam kitab Al-Tibyan fi Adab Hamla Al-Qur'an, hlm. 128, menyatakan:

أجمع المسلمون على وجوب صيانة المصحف ، واحترامه . قال أصحابنا وغيرهم : ... ويحرم توسده ؛ بل توسد آحاد كتب العلم حرام ـ

Artinya: Ulama sepakat atas wajibnya menjaga mushaf dan menghormatinya. Ulama madzhab Syafi'i dan lainnya berkata: .. Haram menjadikannya sebagai bantal. Bahkan menjadikan bantal pada buku-buku keilmuan lain hukumnya haram.


HUKUM MEMBACA AL-QURAN DI TOILET

Dalam madzhab Syafi'i, membaca Al-Quran di dalam toilet (ada WC atau tidak) tidak makruh. Tentu saja membacanya luar kepala, bukan membaca pada kitab suci (mushaf). Imam Nawawi dalam Al-Majmuk, hlm. , menyatakan:

( السابعة ) لا يكره للمحدث قراءة القرآن في الحمام ، نقله صاحبا العدة والبيان وغيرهما من أصحابنا ، وبه قال محمد بن الحسن ونقله ابن المنذر عن إبراهيم النخعي ومالك . ونقل عن أبي وائل شقيق بن سلمة التابعي الجليل والشعبي ومكحول ، والحسن وقبيصة بن ذؤيب كراهته ، وحكاه أصحابنا عن أبي حنيفة ، ورويناه في مسند الدارمي عن إبراهيم النخعي ، فيكون عنه خلاف . دليلنا أنه لم يرد الشرع بكراهته فلم يكره كسائر المواضع .

Artinya: Tidak makruh bagi orang yang hadas membaca Al-Quran di dalam toilet. Pendapat ini dinukil dalam Al-Iddah dan Al-Bayan dan lainnya dari madzhab Syafi'i. Ini juga pendapat Muhammad bin Al-Hasan yang dinukil oleh Ibnul Mundzir dari Ibrahim An-Nakhai dan Malik. Dan dinukil dari Abu Wa'il Syaqiq bin Salamah, seorang Tabi'in, Sya'bi dan Makhul, Al-Hasan, Qubaishah bin Dzuaib bahwa ini makruh. Pendapat ini diriwayatkan oleh ulama madzhab Syafi'i dari Abu Hanifah. Kami meriwayatkan dalam Musnad Al-Darimi dari Ibrahim Al-Nakha'i. Maka, masalah ini terjadi perbedaan pendapat. Dalil kami (mengapa tidak makruh) karena tidak ada dalil syariah yang memakruhkan, karena itu maka tidak makruh (membaca Quran di WC) sebagaimana tempat-tempat lain.

Jadi, membaca Al-Quran di luar kepala bagi orang yang tidak punya wudhu hukumnya boleh asal tidak memegang Al-Quran. Kalau memegang mushaf, maka harus berwudhu dulu. Ahmad Hatibah dalam Syarah Kitab Al-Jamik li Ahkam Al-Shiyam wa A'mal Ramadhan, hlm. 15/27, mempertegas maksud baca Al-Quran di toilet sbb:

أجمع المسلمون على جواز قراءة القرآن للمحدث الحدث الأصغر. سواء تبول أو تغوط وأراد أن يقرأ من حفظه، وهنا فرق بين القراءة من حفظه وبين القراءة من المصحف. فإذا أراد أن يمس المصحف فلابد أن يكون طاهراً، قال الله عز وجل: {لا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ} [الواقعة:79]، وهذا في اللوح المحفوظ، فاللوح الذي عنده في السماء سبحانه وتعالى {لا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ} [الواقعة:79]، فالقياس ألا يمسه في الدنيا إلا المطهرون، وإن كان هذا لا يصلح دليلاً وحده، إنما الدليل في قول النبي صلى الله عليه وسلم: (لا يمس القرآن إلا طاهر). يقول: ولا يكره للمحدث قراءة القرآن في الحمام. والحمام هنا: مكان الاستحمام، أي: المكان الذي يستحم فيه، وليس مكان النجاسة، فيقول: إذا كان يقرأ القرآن وهو يغتسل في مكان منفصل ليست فيه نجاسة، فلا يكره ذلك.

Artinya: Ulama sepakat atas bolehnya membaca Al-Quran bagi orang yang hadas kecil baik karena kencing atau buang air besar (BAB) dan ingin membaca hafalannya. Ada perbedaan antara membaca hafalan dengan membaca dari mushaf. Apabila ingin menyentuh mushaf maka harus dalam keadaan suci (dari hadas kecil dan besar) sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Waqiah :79)... Ia berkata: Tidak makruh bagi orang yang hadas (kecil) membaca Quran di toilet (hamam). Maksud hamam di sini adalah: tempat mandi yakni tempat yang dipakai untuk mandi. Bukan tempat najis. Jadi, apabila orang membaca Quran saat sedang mandi di tempat yang terpisah yang tidak ada najisnya, maka hal itu tidak makruh.


MENYINGKAT SHALAWAT PADA NABI MENJADI SAW ATAU SWT PADA ALLAH

Hukumnya makruh menyingkat doa dan shalawat ketika menulis nama Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam menjadi SAW atau Allah subhanahu ta'ala menjadi SWT
Al-Hafidz Al-Iraqi dalam Fathul Mughits menyatakan:

يكره أن يرمز للصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم في الخط بأن يقتصر من ذلك على حرف أو حرفين ونحو ذلك كمن يكتب صلعم يشير بذلك إلى الصلاة والتسليم.

Artinya: Makruh menyingkat shalawat pada Nabi dalam tulisan dengan cara memendekkan satu huruf atau dua huruf dst. Seperti menulis صلعم yang maksudnya adalah الصلاة والتسليم

Imam Suyuthi dalam Tadrib Ar-Rawi, hlm. 1/502, menyatakan:

ويكره الرمز إليهما في الكتابة بحرف أو حرفين كمن يكتب صلعم بل يكتبهما بكمالهما ويقال إن أول من رمزهما بصلعم قطعت يده

Artinya: Makruh menyingkat tulisan dengan satu atau dua huruf seperti menulis صلعم Tapi hendaknya menulis dengan sempurna. Ada pendapat, orang yang pertama kali menulis صلعم hendaknya dipotong tangannya.



Cari artikel lain:




Copy link berikut untuk referensi kutipan:

Jangan lupa baca yang ini juga ..