Talak Tafwid dalam Mazhab Syafi'i

Talak Tafwid dalam Mazhab Syafi'i Tentang Pemberian Wewenang Talak kepada Istri(2) Apabila seorang suami yang mukallaf (dewasa dan berakal) berkata ke

Talak Tafwid dalam Mazhab Syafi'i

 Talak Tafwid menurut Mazhab Syafi'i

فصل (١) في تفويض الطلاق إلى الزوجة (٢)إذا قال المكلَّفُ لِزَوجتِه المكلَّفةِ: "طلِّقي نفْسَكِ"، أو: "طلِّقي نفْسَكِ إنْ شئْتِ" فهو تمليكٌ للطلاقِ على الجَديدِ، وفِي القديمِ: توكيلٌ. . هذِه طَريقةُ الخُراسانِيِّينَ، وعلَيْها جَرى الرَّافِعي ومَنْ تَبِعَه.وأمَّا العِراقيونَ (٣) فلَمْ يَذكرُوا هذا الخلافَ، وجَزَمُوا بالتَّمليكِ (٤).

 Pasal: Pendelegasian Talak kepada Istri

Bab (1): Tentang Pemberian Wewenang Talak kepada Istri(2) Apabila seorang suami yang mukallaf (dewasa dan berakal) berkata kepada istrinya yang mukallaf: “Talaklah dirimu sendiri”, atau “Talaklah dirimu sendiri jika engkau mau”, maka menurut pendapat baru (al-jadīd) dalam mazhab Syafi'i, ini merupakan pemberian kepemilikan talak (tamlik ath-thalaq). Sedangkan menurut pendapat lama (al-qadīm): ini adalah pemberian kuasa (taukīl).  Inilah cara yang dianut oleh para ulama Khurasan, dan Al-Rafi'i serta yang mengikutinya berpegang padanya.  Adapun para ulama Irak, mereka tidak menyebutkan perselisihan ini, dan mereka menetapkan secara tegas bahwa itu adalah tamlik (pemberian kepemilikan).

(١) النظر في هذا الفصل في ثلاثة أطراف:
الأول: في ألفاظه التي ينعقد بها.
الثاني: في حقيقته، وهل هو تفويض أو توكيل.
الثالث: في حكم العدد.
(٢) اختلفوا في حقيقة التفويض على قولين:
أحدهما: أنه تمليك، كأنه ملكها نفسها، وهذا هو الجديد من مذهب الشافعي. راجع "المنهاج" (ص ١٠٦)، و"الروضة" (٨/ ٤٦)، و"الغاية القصوى" (٢/ ٧٨٩)، و"فتح المعين" (ص ١١٩).
والثاني: أنه توكيل كتوكيل الأجنبي، قال الغزالي في "الوسيط" (٥/ ٣٨٣): ويبتنى عليه أنها لو طلقت نفسها في مجلس آخر -لا على الاتصال- لم يجز إن جعلناه تمليكًا؛ لأن اتصال القبول لا بد منه، وإن جعلناه توكيلًا جاز.
(٣) "الروضة" (٨/ ٤٦).
(٤) شرط الغزالي لوقوعه أن ينويا، فقال: ولو قال: "أبيني نفسك" فقالت: "أبنتُ" ونويا، وقع، وإن لم ينو أحدهما لم يقع، وقال أبو حنيفة: لا تعتبر نيتهما، بل تكفي الرجل، وقولها يبنى على قولها.

(1) Pembahasan bab ini mencakup tiga sisi:  Pertama: Lafal-lafal yang dengannya akad terjadi.  
Kedua: Hakikatnya, apakah itu tafwidh (pemberian wewenang kepemilikan) atau taukil (pemberian kuasa).  
Ketiga: Hukum bilangan (jumlah talak).

(2) Para ulama berselisih tentang hakikat tafwidh ini menjadi dua pendapat:  Pertama: Bahwa itu adalah tamlik (pemberian kepemilikan), seolah-olah suami telah menjadikan istrinya memiliki dirinya sendiri. Ini adalah pendapat baru mazhab Syafi'i. Rujuk: Al-Minhaj (hlm. 106), Al-Raudhah (8/46), Al-Ghayah al-Qushwa (2/789), Fath al-Mu'in (hlm. 119).  

Kedua: Bahwa itu adalah taukil (pemberian kuasa) sebagaimana taukil kepada orang asing. Al-Ghazali dalam Al-Wasith (5/383) berkata: Berdasarkan ini, jika istri menalak dirinya di majelis lain (tidak secara langsung bersambung), maka tidak sah jika kita anggap sebagai tamlik, karena syarat kesinambungan penerimaan (qabul) harus ada. Tetapi jika kita anggap sebagai taukil, maka boleh.

(3) Al-Raudhah (8/46).  

(4) Syarat menurut Al-Ghazali agar talak terjadi adalah keduanya berniat. Beliau berkata: Jika suami berkata “Pisahkanlah dirimu sendiri”, lalu istri berkata “Aku telah memisahkan”, dan keduanya berniat, maka terjadi. Jika salah seorang tidak berniat, maka tidak terjadi. Menurut Abu Hanifah: Tidak disyaratkan niat keduanya, cukup niat suami saja, dan ucapan istri dibangun atas ucapannya sendiri.

ولَمْ أقِفْ على القَولِ بأنه تَوكيلٌ، وما نُسِبَ إلى الجَديدِ لا يَتأتَّى القَولُ بِظاهِرِه، فإنَّ المرأةَ لا تَملِكُ الطَّلَاقَ أصلًا، ولا يُمكِنُ أَنْ يَكونَ الطَّلَاقُ مِلْكًا للزَّوجِ وللزوجةِ (١)، وجعلُوا تَطليقَها نفْسَها مُتضمنًا للقَبولِ، ولو صرَّحتْ بِقَولِها: "قبلتُ" فلا أثرَ له، وهذه أُمورٌ معضِلةٌ.فالصوابُ فِي التعبيرِ عن ذلك أنَّه يُشبِهُ التَّمليكَ، أو يَجرِي عليه شيْءٌ مِن أحْكامِ التَّمليكِ.ومِن جُملةِ ذلكَ اعتِبارُ الفَوْرِ كما فِي قَبولِ التمْلِيكِ، وجَعلُوا القَولَ بالتَّطليقِ ما دَامَا فِي المَجلسِ ضَعيفًا، وهو المَذْهَبُ المَنصوصُ فِي "مختصر المزني" (٢)، بلْ فيه ما يَقتضِي أنَّه إجْماعٌ، [ولَفظُه: "لا أعلمُ خِلافًا أنَّها إنْ طَلَّقَتْ نفْسَها قَبْلَ أَنْ يتفرَّقَا مِنَ المَجلسِ، أو يَحدُثُ قَطْعًا لذلك: أنَّ الطَّلَاقَ يَقعُ علَيْها، فيَحتمِلُ أَنْ يُقالَ لهذا المَوضعِ إجْماعٌ"] (٣).ونُصوصُ الشافعيِّ ظَاهرةٌ فِي اعتِبارِ مَجلسِ الخِيارِ الذي يَنقطِعُ بالتفرُّقِ كما فِي البَيعِ، فلا يَجوزُ تركُ هذا النَّصِّ، ويؤوَّلُ بما لا يَصِحُّ.ويُستثْنَى مِن اعتِبارِ الفَورِ ما إذا صرَّحَ بالتَّراخِي فقال: "طلِّقِي نَفْسَكِ متى شِئْتِ"، فإنَّ لها أَنْ تُطلِّقَ نَفْسَها أيَّ وقْتٍ شاءَتْ، 

Saya tidak menemukan pendapat yang menyatakan bahwa itu murni taukil (pemberian kuasa). Apa yang dinisbahkan kepada pendapat baru (al-jadīd) tidak sesuai jika diambil secara zhahir (literal), karena wanita pada asalnya tidak memiliki hak talak sama sekali, dan tidak mungkin talak menjadi milik suami sekaligus milik istri secara bersamaan. Mereka menjadikan perbuatan istri menalak dirinya sendiri itu mengandung unsur penerimaan (qabul). Bahkan jika ia secara tegas mengatakan “Aku terima”, ucapan itu tidak berpengaruh apa-apa. Ini adalah perkara-perkara yang rumit dan sulit.Yang benar dalam mengungkapkannya adalah bahwa hal itu menyerupai tamlik (pemberian kepemilikan), atau berlaku padanya sebagian hukum-hukum tamlik. Di antara hukum-hukum tersebut adalah disyaratkannya segera (faur) sebagaimana dalam penerimaan tamlik. Mereka menganggap pendapat yang membolehkan talak selama keduanya masih di majelis itu lemah. Itulah mazhab yang secara tegas dinashkan dalam Mukhtashar al-Muzani (hlm. 193). Bahkan di dalamnya terdapat indikasi bahwa itu merupakan ijma' (kesepakatan ulama). [Teksnya: “Aku tidak mengetahui adanya perselisihan bahwa jika ia menalak dirinya sendiri sebelum mereka berpisah dari majelis, atau terjadi sesuatu yang memutuskan hal itu, maka talak jatuh padanya. Maka bisa dikatakan bahwa pada masalah ini terdapat ijma'.”]Nash-nash Imam Syafi'i zhahir (jelas) dalam mensyaratkan majelis khiyar (majelis pilihan) yang terputus dengan berpisah, sebagaimana dalam akad jual beli. Maka tidak boleh meninggalkan nash ini dan menakwilkannya dengan takwil yang tidak sah.Dikecualikan dari syarat faur (segera) apabila suami secara tegas menyebutkan penangguhan, misalnya ia berkata: “Talaklah dirimu sendiri kapan saja engkau mau”, maka istri berhak menalak dirinya sendiri pada waktu kapan pun yang ia kehendaki.

(١) في (ل): "والزوجة".
(٢) "مختصر المزني" (ص ١٩٣).
(٣) ما بين المعقوفين سقط من (ل).

Catatan kaki:
(١) Dalam naskah (ل): “dan istri”.
(٢) Mukhtashar al-Muzani (hlm. 193).
(٣) Bagian yang berada di antara kurung siku gugur dari naskah (ل).


نصَّ عليه، وجَرى عليه مَنِ اقْتَصرَ على التَّمليكِ (١)، ومَنْ أثْبتَ القَولَينِ (٢).ولو قال: "وكَّلْتُكِ فِي طلاقِ نَفْسِكِ" تمَحَّضَ (٣) حُكْمُ التَّوكيلِ على طَريقِ التَّصريحِ به، وفِي طَريقٍ لَهُم إِثباتُ الخِلافِ، قال القَاضي حُسَينٌ: لأنه يَشوبُه شُعبةُ التَّمليكِ، وإنْ صَرَّحَ بالتَّوكيلِ، وعلى هذا لا يَتمكَّنُ الزَّوجُ مِنْ تَوكيلِها التَّوكيلَ المَحْضَ (٤).ولو قال: "ملكتُكِ طلاقَ نفسِكِ" فهو تَمليكٌ قَطْعًا على طَريقتِهم، ولَمْ أرَ مَن ذَكرَه.* * *ولو قال: "طلِّقي نفسَك ثلاثًا إنْ شِئتِ"، فطَلَّقَتْ نفْسَها واحدةً، وَقعَتْ (٥).ولَو قال: "طلِّقِي نفْسَكِ واحدةً إنْ شِئْتِ" فطَلَّقتْ ثلاثًا، وقَعتْ واحدةً.ولو قَدَّمَ ذِكْرَ المَشيئةِ فِي الصُّورتَينِ بأنْ قال: "طلِّقِي نفْسَكِ إنْ شِئْتِ ثلاثًا" أو قال: "طلِّقي نفْسَكِ إنْ شِئتِ واحدةً" فطَلَّقَتْ (٦) في الأُولى واحدةً، وفِي الثانِيةِ ثَلاثًا (٧).قال ابْنُ القاصِّ وسَائرُ الأصْحابِ: "لا يقعُ شيْءٌ", لأنَّ مَشيئةَ ذلك  صارتْ شَرْطًا فِي أصْلِ الطَّلَاقِ


dinashkan (oleh Imam Syafi'i atau para ulama mazhab), dan diikuti oleh orang yang hanya berpegang pada tamlik (pemberian kepemilikan) (١)، serta orang yang menetapkan kedua pendapat (qadim dan jadid) (٢).Jika suami berkata: “Aku berikan kuasa kepadamu untuk menalak dirimu sendiri” (وكَّلْتُكِ فِي طلاقِ نَفْسِكِ), maka secara murni berlaku hukum taukil (pemberian kuasa) karena disebutkan secara tegas dengan lafal tersebut (٣). Dalam satu riwayat (thariq) bagi mereka, tetap menetapkan adanya perselisihan (khilaf). Al-Qadhi Husain berkata: Karena masih tercampur (yasyūbuhu) unsur tamlik, meskipun suami secara tegas menyebut taukil. Berdasarkan pendapat ini, suami tidak mampu memberikan taukil murni (taukil mahdh) kepadanya (٤).Jika suami berkata: “Aku jadikan engkau memiliki talak atas dirimu sendiri” (ملكتُكِ طلاقَ نفسِكِ), maka itu pasti tamlik secara pasti menurut cara mereka, dan saya tidak melihat ada ulama yang menyebutkannya secara khusus.Jika suami berkata: “Talaklah dirimu sendiri tiga kali jika engkau mau” (طلِّقي نفسَك ثلاثًا إنْ شِئتِ), lalu istri menalak dirinya sendiri satu kali, maka jatuh (satu talak) (٥).Jika suami berkata: “Talaklah dirimu sendiri satu kali jika engkau mau” (طلِّقِي نفْسَكِ واحدةً إنْ شِئْتِ), lalu istri menalak tiga kali, maka hanya jatuh satu talak.Jika suami mendahulukan penyebutan kehendak (masyī'ah) pada kedua bentuk tersebut, yaitu berkata: “Talaklah dirimu sendiri jika engkau mau tiga kali” (طلِّقِي نفْسَكِ إنْ شِئْتِ ثلاثًا), atau berkata: “Talaklah dirimu sendiri jika engkau mau satu kali” (طلِّقي نفْسَكِ إنْ شِئْتِ واحدةً), lalu istri menalak (٦): pada kasus pertama jatuh satu talak, dan pada kasus kedua jatuh tiga talak (٧).Ibnu al-Qashsh dan seluruh ashhab (pengikut mazhab) berkata: “Tidak jatuh apa-apa”, karena kehendak itu (إن شئت) telah menjadi syarat pada pokok talak itu sendiri.

(١) في (ل): "التعليل".
(٢) "الروضة" (٨/ ١٤٦).
(٣) في (أ، ل): "محض".
(٤) "الروضة" (٨/ ١٤٦).
(٥) "الروضة" (٨/ ١٥٢).
(٦) في (ل): "وطلقت".
(٧) "الروضة" (٨/ ١٥٢).
 Catatan kaki:
(١) Dalam naskah (ل): “التعليل” (penjelasan/alasan).
(٢) Al-Raudhah (8/146).
(٣) Dalam naskah (أ، ل): “محض” (murni).
(٤) Al-Raudhah (8/146).
(٥) Al-Raudhah (8/152).
(٦) Dalam naskah (ل): “وطلقت” (dan ia menalak).
(٧) Al-Raudhah (8/152).


. كذا فِي "الروضة" (١) تَبَعًا للشرحِ (٢)، وفيه: وسَاعَدَه (٣) الأصْحابُ، ولَمْ يَتعقَّباهُ (٤).وهُو مَرْدُودٌ، والصوابُ وُقوعُ ما أوقعَتْه، فإنَّ "ثلاثًا" فِي الأُولى و"واحدةً" فِي الثانيةِ ليستْ معمولًا لـ"شِئتِ"، وإنَّما هو مَعمولٌ لِقَولِه: "طَلِّقِي" فإنَّ مَفعولَ الإشاءةِ (٥) يُحذَفُ غالبًا، والحَمْلُ على الأغْلبِ هو المُعتمَدُ، وما قدَّرُوه فِي ذلك رَكيكٌ بَعيدٌ، والمَفهومُ المُتعارَفُ أنه لا فَرْقَ بيْنَ تَقديمِ المَشيئةِ وتَأخيرِها (٦).* * *وصِيغةُ طَلاقِها لِنَفْسِها: "طَلَّقْتُ نفْسِي".فإنْ قالتْ: "طلقْتُكَ"، فهُو كِنايةٌ يَحتاجُ إلى نِيَّةِ الطَّلَاق، ولو قالتْ: "أبنْتُ نفْسِي" ونَوَتْ؛ وَقَع.وليس للمفوَّضِ إليها طَلاقُ نفْسِها إنْ تَعَلَّقَ طَلاقُها, ولَو فَوَّضَ إلَيْها التَعليقَ، كذا قالُوه، والأصحُّ صِحتُه فيما ليس بِحَلِفٍ، وقدْ سَبقَ فِي الوَكالةِ.
Demikian disebutkan dalam Al-Raudhah (١) mengikuti syarah (penjelasan) (٢), dan di dalamnya disebutkan: Ashhab (para pengikut mazhab) mendukungnya (٣), dan tidak ada yang mengkritiknya (٤).  Namun pendapat itu ditolak (mardud). Yang benar adalah jatuhnya talak sesuai apa yang telah dijatuhkan oleh istri, karena kata “tiga kali” pada kasus pertama dan “satu kali” pada kasus kedua bukan maf'ul (objek) dari “إن شئتِ” (jika engkau mau). Melainkan ia adalah maf'ul dari ucapan suami: “طَلِّقِي” (talaklah). Sebab, maf'ul dari isya'ah (kehendak/masyī'ah) (٥) biasanya dihapus (dihilangkan dalam pengucapan), dan mengambil makna yang paling umum (al-aghlib) itulah yang menjadi pegangan (mu'tamad). Apa yang mereka takdirkan (perkirakan) dalam hal itu lemah dan jauh (rakīk ba'īd). Pemahaman yang umum dikenal adalah bahwa tidak ada perbedaan antara mendahulukan penyebutan masyī'ah (kehendak) maupun mengakhirnya (٦).
 
Lafal talak istri atas dirinya sendiri adalah: “Aku telah menalak diriku sendiri” (طَلَّقْتُ نفْسِي).  Jika ia berkata: “Aku telah menalakmu” (طلقْتُكَ), maka itu adalah kinayah (ungkapan sindiran) yang memerlukan niat talak.  Jika ia berkata: “Aku telah memisahkan diriku sendiri” (أبنْتُ نفْسِي) dan berniat, maka jatuh talak.  Orang yang diberi wewenang (al-mufawwad ilaiha) tidak boleh menalak dirinya sendiri dengan talak yang mu'allaq (bersyarat/tergantung), meskipun suami telah menyerahkan wewenang talak mu'allaq kepadanya. Demikianlah yang mereka katakan. Namun yang lebih shahih adalah sah (boleh) dalam hal yang bukan sumpah (laysa bi halif). Dan ini telah dibahas sebelumnya pada bab wakalah (pemberian kuasa).


(١) "الروضة" (٨/ ٥٣).
(٢) وإذا قال: "طلَّقي نفسكِ"، ونوى ثلاثًا، فإن طلقت ونوتْ مثله: نفذ ثلاثًا، وإن لم تنو لم يقع الثلاث؛ وإنما يقع واحدًا، وفيه وجه أنه يقع؛ لأن البناء في العدد أقرب من البناء في أصل النية.
(٣) في (أ): "وما عده".
(٤) في (ل): "يتعقبه".
(٥) في (ل): "الإشارة".
(٦) في (ل): "وتأخرها".
 Catatan kaki:
(١) Al-Raudhah (8/53).
(٢) Dan jika suami berkata: “Talaklah dirimu sendiri”, lalu ia niatkan tiga kali, maka jika istri menalak dan berniat seperti itu: jatuh tiga talak. Jika istri tidak berniat, maka tiga talak tidak jatuh; hanya jatuh satu talak. Dan dalam masalah ini ada wajh (pendapat) bahwa tiga talak tetap jatuh, karena pembangunan (penyandaran) pada bilangan lebih dekat daripada pembangunan pada pokok niat.
(٣) Dalam naskah (أ): “وما عده” (dan apa yang dihitungnya).
(٤) Dalam naskah (ل): “يتعقبه” (mengkritiknya).
(٥) Dalam naskah (ل): “الإشارة” (isyarah/penunjukan).
(٦) Dalam naskah (ل): “وتأخرها” (dan pengakhirannya).
 
 وأمَّا التَّخييرُ (١) فلَه شركةٌ مَع التَّمليكِ فنَذْكُرُه عَقِيبَه، فإذا قال المكلَّفُ لِزَوجتِه المُكلَّفةِ: "اختارِي نَفْسَكِ" ونَوى تَفويضَ الطَّلَاق إليها فقالَتْ: "اخْترْتُ نَفْسِي" ونَوتْ طَلاقَها، وقَعتْ علَيها طَلقةٌ رَجعيةٌ، إلا إذا كان هُناكَ ما يَحصُلُ به البَينونةُ.ولو قال لها: "اخْتارِي"، ولَمْ يَقُلْ "نفسَكِ"، ونَوى تفويضَ الطلاقِ (٢) إليها فقالتْ: "اخْتَرْتُ" ففِي "التَّهذيبِ": لا يَقعُ الطَّلَاقُ حتَّى تَقولَ: "اختَرْتُ نفْسِي"، ويُشعِرُ (٣) كلامُه بأنَّه لا يَقَعُ، وإنْ نَوَتْ كذا فِي "الروضة" (٤) تَبَعًا للشرحِ، وفِي نصِّ الشافعيِّ ما يُخالفُه، وهو قولُه: "لو (٥) قال رَجُلٌ لامرأتِه: اختارِي" لا يكونُ طَلاقًا [إلا أَنْ يُريدَه] (٦)؛ لأنَّه يَحتمِلُ (٧) اختارِي مالًا، وقال: ليس الخِيارُ بِطلَاقٍ حتى تُطلِّقَ المُخيَّرةُ نفْسَها؛ ذكَرَه فِي "المختصر المنبه".وفيه: أنَّ قولَها: "اخترْتُ" مع نِيَّةِ الطَّلَاقِ كافٍ فِي وُقوعِ الطَّلَاقِ، وهذا هو المُعتمَدُ.وقدْ ذكرَ فِي "الروضة" (٨) تَبَعًا للشرحِ عن إسماعيلَ البوشنجيِّ أنها إذا

Adapun takhiyir (pilihan) (١), maka ia memiliki keterkaitan (syirkah) dengan tamlik (pemberian kepemilikan), sehingga kami sebutkan setelahnya.Jika seorang suami yang mukallaf berkata kepada istrinya yang mukallaf: “Pilihlah dirimu sendiri” (اختارِي نَفْسَكِ) dan ia berniat menyerahkan wewenang talak kepadanya, lalu istri berkata: “Aku memilih diriku sendiri” (اخْترْتُ نَفْسِي) dan berniat talak atas dirinya, maka jatuh padanya satu talak raj'i (talak yang masih memungkinkan rujuk), kecuali jika ada sesuatu yang menyebabkan perpisahan permanen (bainunah).Jika suami berkata kepadanya: “Pilihlah” (اخْتارِي), tanpa menyebut “dirimu sendiri” (نفسَكِ), dan ia berniat menyerahkan wewenang talak (٢) kepadanya, lalu istri berkata: “Aku memilih” (اخْتَرْتُ), maka menurut At-Tahdzīb: Tidak jatuh talak sampai ia mengatakan “Aku memilih diriku sendiri” (اختَرْتُ نفْسِي). Ucapannya ini menunjukkan (٣) bahwa talak tidak jatuh meskipun istri berniat. Demikian disebutkan dalam Al-Raudhah (٤) mengikuti syarah (penjelasan).Namun dalam nash Imam Syafi'i ada yang menyalahinya, yaitu sabdanya: “Jika seorang lelaki berkata kepada istrinya: Pilihlah (اختارِي)” (٥), itu bukan talak [kecuali jika ia bermaksud demikian] (٦); karena lafal itu bisa bermakna “pilihlah harta” (اختارِي مالًا). Beliau juga berkata: Pilihan (khiyar) bukan talak sampai orang yang diberi pilihan (al-mukhayyarah) menalak dirinya sendiri. Hal ini disebutkan dalam Al-Mukhtashar al-Munabbih.Di dalamnya juga disebutkan: Bahwa ucapan istri “Aku memilih” (اخترْتُ) disertai niat talak sudah cukup untuk terjadinya talak. Dan inilah pendapat yang mu'tamad (dipegang).Dalam Al-Raudhah (٨) disebutkan mengikuti syarah, dari Ismail al-Busyanji, bahwa jika istri.


(١) في (ل): "المنجز".
(٢) "الطلاق": سقط من (أ) وفي (ل): "التفويض".
(٣) في (ل): "ويشير".
(٤) "الروضة" (٨/ ٤٩).
(٥) في (ل): "ولو".
(٦) ما بين المعقوفين سقط من (ل).
(٧) في (أ، ب): "يحتمله".
(٨) "الروضة" (٨/ ٤٩).
 Catatan kaki:
(١) Dalam naskah (ل): “المنجز” (yang pasti/terlaksana).
(٢) Kata “الطلاق” gugur dari naskah (أ), dan dalam naskah (ل): “التفويض” (pemberian wewenang).
(٣) Dalam naskah (ل): “ويشير” (dan menunjukkan).
(٤) Al-Raudhah (8/49).
(٥) Dalam naskah (ل): “ولو” (dan jika).
(٦) Bagian di antara kurung siku gugur dari naskah (ل).
(٧) Dalam naskah (أ، ب): “يحتمله” (mengandung kemungkinan).
(٨) Al-Raudhah (8/49).


 قالتْ: "اختَرْتُ" ثمَّ (١) قالتْ بعد ذلك "أردتُ اختَرْتُ نَفْسِي" أنه يُقبَلُ قَولُها (٢)، يعني: بِيَمِينِها وتَطْلُقُ.ولو (٣) قالتْ: "اختَرْتُ زَوجِي أو النكاحَ" لمْ تَطْلُقْ.وإنْ قالَتْ: "اختَرتُ الأزْواجَ"، أو: "اختَرتُ (٤) أبَويَّ"، أو أخِي أو عمِّي؛ طَلَقَتْ على الأصحِّ، ولَمْ يذكروا نِيَّتَها لطلاقِ نفْسِها.والقِياسُ: أنَّه لا بدَّ مِن نِيَّتِها لذلك، ولا يَختصُّ ذلك بَلْ يَأْتي فِي الخَالِ وغيرِه مِنَ الأقارِبِ، بلْ يأتِي فِي الأَجانبِ أيضًا إذا كانتْ تَسْكنُ قبْلَ نِكاحِها عند مَنْ ذَكَرَتْ، ونيَّةُ الطَّلَاقِ لابُدَّ مِنها.وإذا (٥) اختلفَا فِي النِّيةِ فادَّعتْها وأنْكرَها الزَّوجُ، أو بالعكسِ، فالقَولُ قولُ مَن أَخبَرَ عن ضَميرِه بِيَمينِه
 

.jika istri berkata: “Aku memilih” (اخْتَرْتُ), kemudian (١) setelah itu ia berkata: “Aku bermaksud ‘Aku memilih diriku sendiri’” (أردتُ اختَرْتُ نَفْسِي), maka diterima ucapannya (٢), yakni dengan disertai sumpahnya, dan jatuh talak.Jika ia berkata: “Aku memilih suamiku atau pernikahan” (اختَرْتُ زَوجِي أو النكاحَ), maka tidak jatuh talak.Jika ia berkata: “Aku memilih para suami” (اختَرتُ الأزْواجَ), atau “Aku memilih orang tuaku” (اختَرتُ أبَويَّ), atau saudaraku atau pamanku, maka jatuh talak menurut pendapat yang ashah (lebih kuat). Namun mereka tidak menyebutkan perlunya niat talak atas dirinya sendiri.
 
Qiyas (analogi yang benar): Harus ada niat talak atas dirinya sendiri dalam hal itu. Hal ini tidak khusus pada kerabat dekat saja, melainkan juga berlaku pada kerabat lain, bahkan pada orang asing (ajnabi) sekalipun, jika sebelum menikah ia pernah tinggal bersama orang yang disebutnya itu. Dan niat talak tetap wajib ada.Jika keduanya (suami dan istri) berselisih tentang niat (٥)—misalnya istri mengklaim telah berniat (talak) dan suami mengingkarinya, atau sebaliknya—maka yang dipegang adalah ucapan orang yang memberitahu tentang batinnya (niatnya), disertai sumpahnya.
 
 (١) "ثم" زيادة من (ل).
(٢) "قولها" زيادة من (ل).
(٣) في (ل): "فلو".
(٤) "اخترت" سقط من (ل).
(٥) في (ل): "فإذا".
(٦) "ما يقتضي" سقط من (ل).
 
Catatan kaki:
(١) “ثم” (kemudian) adalah tambahan dari naskah (ل).  
(٢) “قولها” (ucapannya) adalah tambahan dari naskah (ل). 
(٣) Dalam naskah (ل): “فلو” (maka jika).  
(٤) Kata “اخترت” (aku memilih) gugur (tidak ada) dalam naskah (ل).  
(٥) Dalam naskah (ل): “فإذا” (maka jika / dan jika). 
 
 المصدر:   كتاب التدريب في الفقه الشافعي [سراج الدين البلقيني]، صحيفة: 312-307/ المجلد 3
 
Sumber: Kitab At-Tadrīb fī al-Fiqh ash-Shāfi‘ī [Sirāj ad-Dīn al-Bulqīnī], halaman: 3/312–307 
 

Profil Kitab

  Judul lengkap kitab: At-Tadrīb fī al-Fiqh ash-Shāfi‘ī al-musammā bi-Tadrīb al-Mubtadī wa Tahdhīb al-Muntahī (التدريب في الفقه الشافعي المسمى بـ تدريب المبتدي وتهذيب المنتهي).
 
Pengarang: Al-Imam Sirāj ad-Dīn Abū Hafsh ‘Umar bin Ruslān al-Bulqīnī asy-Syāfi‘ī (w. 805 H / 1403 M), seorang ulama besar mazhab Syafi'i yang terkenal dengan keahliannya dalam fiqih, ushul, dan hadits.
 
Isi kitab: Ini adalah syarah (penjelasan) dan ringkasan atas matan Al-Ghāyah wa at-Taqrīb (matan Abū Syujā‘), yang menjadi salah satu kitab utama untuk pelajar fiqih Syafi'i tingkat menengah hingga lanjutan. Kitab ini biasanya terdiri dari 4 jilid dalam edisi cetak modern (dengan tahqiq seperti Abū Ya‘qūb Nash'at bin Kamāl al-Mishrī).
 
Halaman 307–312: Bagian ini berada dalam Kitab ath-Thalāq (Bab Talak), khususnya pada fashl tafwīdh ath-thalāq ilā az-zaujati (فصل تفويض الطلاق إلى الزوجة) atau pembahasan tentang pemberian wewenang talak kepada istri (tamlik/thafwīdh ath-thalāq) serta at-takhyīr (pilihan: "ikhtārī nafsaki" atau sejenisnya). Ini sesuai dengan teks Arab yang Anda kirimkan sebelumnya, yang membahas lafaz-lafaz, niat, jatuhnya talak, khilaf antara qadīm dan jadīd dalam mazhab Syafi'i, serta rujukan ke Ar-Raudhah (karya An-Nawawī), Al-Mukhtashar al-Muzanī, dll.


LihatTutupKomentar