Pengajian Kitab Kuning Pengasuh Pesantren 29042026

Pengajian Kitab Kuning Pengasuh Pesantren 28042026 Video Livestreaming Pengajian Al-Quran dan Terjemahnya QS Hud ayat 58- Tafsir Jalalain QS Hud ay

Nama kitab yang dikaji:  Tafsir Jalalain, Sahih Bukhari, Al-Umm 
Pengajar: Pengasuh Pondok Pesantren Al-Khoirot Malang 
Hari dan Waktu:  Sabtu, 29 April 2026; 
Jam: 05.00 s/d 06.00 WIB PAGI
Livestreaming: Al-Khoirot Official 
Sifat pengajian: untuk Santri dan Masyarakat Umum.  
Pengajian Kitab Kuning Tafsir Jalalain, Sahih Bukhari Hadits No. 2298, Al-Umm Imam Syafi'i, Konsultasi / Tanya Jawab Islam 

Daftar Isi

  1. Video  Livestreaming Pengajian
  2. Al-Quran dan Terjemahnya QS Hud ayat 58-61 
  3. Tafsir Jalalain QS Hud ayat 58-61
  4. Sahih Bukhari Hadits No. 2298
  5. Al-Umm Imam Syafi'i
  6. Konsultasi / Tanya Jawab Islam  

VIDEO Rekaman Livestreaming Pengajian Kitab 29 April 2026 

Al-Quran dan Terjemahnya QS Hud ayat 58-61 

وَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا هُودًا وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِّنَّا وَنَجَّيْنَاهُم مِّنْ عَذَابٍ غَلِيظٍ ‎﴿٥٨﴾‏ 

 Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Huud dan orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami; dan Kami selamatkan (pula) mereka (di akhirat) dari azab yang berat. (11:58) 

وَتِلْكَ عَادٌ ۖ جَحَدُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَعَصَوْا رُسُلَهُ وَاتَّبَعُوا أَمْرَ كُلِّ جَبَّارٍ عَنِيدٍ ‎﴿٥٩﴾‏

Dan itulah (kisah) kaum ‘Ad yang mengingkari tanda-tanda kekuasaan Tuhan mereka, dan mendurhakai rasul-rasul Allah dan mereka menuruti perintah semua penguasa yang sewenang-wenang lagi menentang (kebenaran). (11:59) 

 وَأُتْبِعُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا لَعْنَةً وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ أَلَا إِنَّ عَادًا كَفَرُوا رَبَّهُمْ ۗ أَلَا بُعْدًا لِّعَادٍ قَوْمِ هُودٍ ‎﴿٦٠﴾‏  

Dan mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia ini dan (begitu pula) di hari kiamat. Ingatlah, sesungguhnya kaum ‘Ad itu kafir kepada Tuhan mereka. Ingatlah kebinasaanlah bagi kaum ‘Ad (yaitu) kaum Huud itu. (11:60) 

وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ ۚ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُّجِيبٌ ‎﴿٦١﴾

Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (do’a hamba-Nya).” (11:61)

Tafsir Jalalain QS Hud ayat 58-61

 { ولما جاء أمرنا } عذابنا { نجينا هودا والذين آمنوا معه برحمة } هداية { منا ونجيناهم من عذاب غليظ } شديد

058. (Dan tatkala datang perintah Kami) azab Kami (Kami selamatkan Hud dan orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat) yakni petunjuk (dari Kami; dan Kami selamatkan pula mereka dari azab yang berat) dari siksaan yang keras di akhirat.

{ وتلك عاد } إشارة إلى آثارهم أي فسيحوا في الأرض وانظروا إليها ثم وصف أحوالهم فقال { جحدوا بآيات ربهم وعصوا رسله } جمع لأن من عصى رسولا عصى جميع الرسل لاشتراكهم في أصل ما جاءوا به وهو التوحيد { واتبعوا } أي السفلة { أمر كل جبار عنيد } معاند للحق من روؤسائهم

059. (Dan itulah kisah kaum Ad) ini mengisyaratkan kepada peninggalan-peninggalan mereka. Makna yang dimaksud ialah berjalanlah kalian di muka bumi ini dan lihatlah bekas-bekas peninggalan mereka. Kemudian Allah swt. menggambarkan keadaan mereka, untuk itu Dia berfirman: (Mereka mengingkari tanda-tanda kekuasaan Rabb mereka dan mendurhakai rasul-rasul Allah) ungkapan di sini memakai bentuk jamak, dimaksud karena orang yang mendurhakai seorang rasul berarti sama saja dengan mendurhakai semua rasul. Karena pada apa yang didatangkan oleh para rasul itu hakikatnya bersumberkan dari asal yang sama, yaitu dari ajaran tauhid (dan mereka menuruti) artinya orang-orang yang rendah (perintah semua penguasa yang sewenang-wenang lagi menentang kebenaran) yakni selalu menentang perkara yang hak, yang dimaksud adalah para pemimpinnya.

{ وأتبعوا في هذه الدنيا لعنة } من الناس { ويوم القيامة } لعنة على رؤوس الخلائق { ألا إن عادا كفروا } جحدوا { ربهم ألا بعدا } من رحمة الله { لعاد قوم هود }

060. (Dan mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia ini) dari manusia (dan begitu pula di hari kiamat) mereka akan dikutuk di hadapan makhluk semuanya. (Ingatlah sesungguhnya kaum Ad itu kafir) mereka ingkar (terhadap Rabb mereka. Ingatlah, sesungguhnya amat jauh) dari rahmat Allah (bagi kaum Ad yaitu kaumnya Hud).

{ و } أرسلنا { إلى ثمود أخاهم } من القبيلة { صالحا قال يا قوم اعبدوا الله } وحدوه { ما لكم من إله غيره هو أنشأكم } ابتدأ خلقكم { من الأرض } بخلق أبيكم آدم منها { واستعمركم فيها } جعلكم عمارا تسكنون بها { فاستغفروه } من الشرك { ثم توبوا } ارجعوا { إليه } بالطاعة { إن ربي قريب } من خلقه بعلمه { مجيب } لمن سأله

061. (Dan) Kami utus (kepada Tsamud saudara mereka) yang satu kabilah (Saleh. Saleh berkata, "Hai kaumku! Sembahlah Allah) artinya esakanlah Dia (sekali-kali tidak ada bagi kalian Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kalian) Dialah yang mula-mula menciptakan kalian (dari bumi) yaitu dengan menciptakan bapak moyang kalian, Adam, dari tanah (dan menjadikan kalian pemakmurnya) Dia menjadikan kalian sebagai para penghuni bumi (karena itu mohonlah ampunan-Nya) dari kemusyrikan (kemudian bertobatlah) kembali kalian (kepada-Nya) dengan menjalankan ketaatan. (Sesungguhnya Rabbku amat dekat) kepada makhluk-Nya melalui pengetahuan-Nya (lagi memperkenankan.") doa orang yang meminta kepada-Nya.

Sahih Bukhari Hadits No. 2298

بَابُ الدَّيْنِ

 Bab Tentang Utang. 

٢٢٩٨ - حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ :  حَدَّثَنَا اللَّيْثُ ،  عَنْ عُقَيْلٍ ،  عَنِ ابْنِ شِهَابٍ ،  عَنْ أَبِي سَلَمَةَ ،  عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ «كَانَ يُؤْتَى بِالرَّجُلِ الْمُتَوَفَّى عَلَيْهِ الدَّيْنُ، فَيَسْأَلُ: هَلْ تَرَكَ لِدَيْنِهِ فَضْلًا، فَإِنْ حُدِّثَ أَنَّهُ تَرَكَ لِدَيْنِهِ وَفَاءً، صَلَّى، وَإِلَّا قَالَ لِلْمُسْلِمِينَ: صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ. فَلَمَّا فَتَحَ اللهُ عَلَيْهِ الْفُتُوحَ، قَالَ: أَنَا أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ، فَمَنْ تُوُفِّيَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فَتَرَكَ دَيْنًا، فَعَلَيَّ قَضَاؤُهُ، وَمَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِوَرَثَتِهِ.»

Bab Tentang Utang. 

2298 - Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair: Telah menceritakan kepada kami Al-Laits, dari 'Uqail, dari Ibnu Syihab, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu: Bahwa Rasulullah ﷺ pernah didatangkan kepadanya jenazah seorang laki-laki yang memiliki tanggungan utang. Beliau kemudian bertanya: 'Apakah ia meninggalkan kelebihan (harta) untuk melunasi utangnya?' Jika beliau diberitahu bahwa orang tersebut meninggalkan harta yang cukup untuk melunasi utangnya, beliau akan menyolatkannya. Namun jika tidak, beliau akan berkata kepada kaum Muslimin: 'Shalatkanlah (sendiri) sahabat kalian ini.' Setelah Allah memberikan kemenangan-kemenangan (fathu) kepada beliau, beliau bersabda: 'Aku lebih berhak atas orang-orang beriman daripada diri mereka sendiri. Maka barangsiapa di antara orang beriman yang wafat dan meninggalkan utang, maka akulah yang wajib melunasinya. Dan barangsiapa yang meninggalkan harta, maka itu adalah untuk ahli warisnya'.  

Penjelasan dari Syarah al-Qastalani, hlm. 4/154

وبه قال: (حدّثنا يحيى بن بكير) المخزومي قال: (حدّثنا الليث) بن سعد الإمام (عن عقيل) بضم العين ابن خالد (عن ابن شهاب) الزهري (عن أبي سلمة) بن عبد الرحمن (عن أبي هريرة رضي الله عنه):

(أن رسول الله ﷺ كان يؤتى بالرجل المتوفى) بفتح الفاء المشددة أي الميت حال كونه (عليه الدين فيسأل) عليه الصلاة والسلام (هل ترك لدينه فضلًا) أي قدرًا زائدًا على مؤونة تجهيزه، وللكشميهني: قضاء بدل فضلًا وكذا هو عند مسلم وأصحاب السُّنن وهو أولى بدليل قوله (فإن حدّث) بضم الحاء مبنيًّا للمفعول (أنه ترك لدينه وفاء) أي ما يوفي به دينه (صلّى) عليه (وإلا) بأن لم يترك وفاء (قال للمسلمين صلّوا على صاحبكم فلما فتح الله عليه الفتوح) من الغنائم وغيرها (قال أنا أولى بالمؤمنين من أنفسهم فمن توفي من المؤمنين فترك دينًا) وزاد مسلم أو ضيعة (فعليّ قضاؤه) مما أفاء الله عليّ (ومن ترك مالًا فلورثته)

واستنبط منه التحريض على قضاء دين الإنسان في حياته والتوصل إلى البراءة منه ولو لم يكن أمر الدين شديدًا لما ترك عليه الصلاة والسلام على المديون وهل كانت صلاته على المديون حرامًا أو جائزة؟ وجهان. 

 Dan dari hadis tersebut dapat disimpulkan (istimbat) adanya anjuran kuat bagi seseorang untuk melunasi utangnya semasa hidup dan berusaha membebaskan diri dari tanggungan tersebut. Seandainya perkara utang tidaklah sangat berat, niscaya Nabi ﷺ tidak akan meninggalkan salat jenazah bagi orang yang berutang. Apakah menyalati orang yang berutang itu hukumnya haram atau boleh? Ada dua pendapat (wajhan). 

قال النووي: الصواب الجزم بجوازها مع وجود الضامن كما في حديث مسلم، وفي حديث ابن عباس عند الحازمي أن النبي ﷺ لما امتنع من الصلاة على من عليه دين جاءه جبريل فقال إنما الظالم في الدّيون التي حملت في البغي والإسراف فأما المتعفف ذو العيال فأنا ضامن له أؤدّي عنه فصلّى عليه النبي ﷺ وقال بعد ذلك: «من ترك ضياعًا» الحديث. 

Imam Nawawi berkata: 'Yang benar adalah memastikan kebolehannya jika terdapat penjamin (dhamin), sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Muslim.' Dalam hadis Ibnu Abbas menurut riwayat Al-Hazimi disebutkan bahwa ketika Nabi ﷺ enggan menyalati orang yang berutang, Malaikat Jibril datang kepada beliau dan berkata: 'Sesungguhnya orang yang zalim dalam urusan utang hanyalah mereka yang berutang untuk tindakan melampaui batas dan pemborosan (israf). Adapun orang yang menjaga kehormatan dirinya dan memiliki tanggungan keluarga, maka aku (Jibril/Allah) adalah penjamin baginya, aku akan melunasi untuknya.' Maka Nabi ﷺ menyalatinya dan bersabda setelah itu: 'Barangsiapa meninggalkan beban (utang/keluarga yang telantar)...' dst.

 قال الحافظ ابن حجر: وهو حديث ضعيف، وقال الحازمي: لا بأس به في المتابعات ففيه أنه السبب فى قوله عليه الصلاة والسلام: من ترك دينًا فعلي فهو ناسخ لتركه الصلاة على من مات وعليه دين.

Al-Hafiz Ibnu Hajar berkata: 'Itu adalah hadis yang lemah (dha'if).' Namun Al-Hazimi berkata: 'Hadis tersebut tidak mengapa jika digunakan sebagai penguat (mutaba'at).' Di dalamnya dijelaskan bahwa hal itu menjadi sebab (sabab) bagi sabda Nabi ﷺ: 'Barangsiapa meninggalkan utang maka itu menjadi tanggung jawabku.' Maka hadis ini merupakan penghapus (nasikh) bagi kebijakan beliau yang sebelumnya meninggalkan salat atas orang yang wafat dalam keadaan berutang.

حديث الباب أخرجه أيضًا في النفقات، ومسلم في الفرائض، والترمذي في الجنائز. 

Al-Umm Imam Syafi'i

 بَابُ التَّكْبِيرِ لِلرُّكُوعِ وَغَيْرِهِ

Bab: Takbir untuk Ruku’ dan Gerakan Lainnya 

أَخْبَرَنَا الرَّبِيعُ قَالَ أَخْبَرَنَا الشَّافِعِيُّ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ قَالَ «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - ﷺ - يُكَبِّرُ كُلَّمَا خَفَضَ وَرَفَعَ فَمَا زَالَتْ تِلْكَ صَلَاتَهُ حَتَّى لَقِيَ اللَّهَ تَعَالَى» أَخْبَرَنَا الرَّبِيعُ قَالَ أَخْبَرَنَا الشَّافِعِيُّ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ كَانَ يُصَلِّي لَهُمْ فَيُكَبِّرُ كُلَّمَا خَفَضَ وَرَفَعَ فَإِذَا انْصَرَفَ قَالَ: وَاَللَّهِ إنِّي لَأَشْبَهَكُمْ صَلَاةً بِرَسُولِ اللَّهِ - ﷺ -.

(قَالَ الشَّافِعِيُّ): وَلَا أُحِبُّ لِمُصَلٍّ مُنْفَرِدًا وَلَا إمَامًا وَلَا مَأْمُومًا أَنْ يَدَعَ التَّكْبِيرَ لِلرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ وَالرَّفْعِ وَالْخَفْضِ؛ وَقَوْلَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، وَرَبَّنَا لَك الْحَمْدُ إذَا رَفَعَ مِنْ الرُّكُوعِ وَلَوْ رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ شَيْءٍ مِمَّا وَصَفْت، أَوْ وَضَعَهُ بِلَا تَكْبِيرٍ لَمْ يَكُنْ عَلَيْهِ أَنْ يُكَبِّرَ بَعْدَ رَفْعِ الرَّأْسِ وَوَضْعِهِ وَإِذَا تَرَكَ التَّكْبِيرَ فِي مَوْضِعِهِ لَمْ يَقْضِهِ فِي غَيْرِهِ «قَالَ أَبُو مُحَمَّدٍ الرَّبِيعُ بْنُ سُلَيْمَانَ: فَاتَنِي مِنْ هَذَا الْمَوْضِعِ مِنْ الْكِتَابِ وَسَمِعْته مِنْ الْبُوَيْطِيِّ وَأَعْرِفُهُ مِنْ كَلَامِ الشَّافِعِيُّ».

(قَالَ الشَّافِعِيُّ): وَإِذَا أَرَادَ الرَّجُلُ أَنْ يَرْكَعَ ابْتَدَأَ بِالتَّكْبِيرِ قَائِمًا فَكَانَ فِيهِ وَهُوَ يَهْوِي رَاكِعًا وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ ابْتَدَأَ قَوْلَهُ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَافِعًا مَعَ الرَّفْعِ ثُمَّ قَالَ إذَا اسْتَوَى قَائِمًا وَفَرَغَ مِنْ قَوْلِهِ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَك الْحَمْدُ وَإِذَا هَوَى لِيَسْجُدَ ابْتَدَأَ التَّكْبِيرَ قَائِمًا ثُمَّ هَوَى مَعَ ابْتِدَائِهِ حَتَّى يَنْتَهِيَ إلَى السُّجُودِ وَقَدْ فَرَغَ مِنْ آخِرِ التَّكْبِيرِ وَلَوْ كَبَّرَ وَأَتَمَّ بَقِيَّةَ التَّكْبِيرِ سَاجِدًا لَمْ يَكُنْ عَلَيْهِ شَيْءٌ وَاجِبٌ إلَى أَنْ لَا يَسْجُدَ إلَّا وَقَدْ فَرَغَ مِنْ التَّكْبِيرِ فَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ السُّجُودِ ابْتَدَأَ التَّكْبِيرَ حَتَّى يَسْتَوِيَ جَالِسًا وَقَدْ قَضَاهُ فَإِذَا هَوَى لِيَسْجُدَ ابْتَدَأَ التَّكْبِيرَ قَاعِدًا وَأَتَمَّهُ وَهُوَ يَهْوِي لِلسُّجُودِ ثُمَّ هَكَذَا فِي جَمِيعِ صَلَاتِهِ.

وَيَصْنَعُ فِي التَّكْبِيرِ مَا وَصَفْت مِنْ أَنْ يُبَيِّنَهُ وَلَا يَمْطُطْهُ وَلَا يَحْذِفْهُ فَإِذَا جَاءَ بِالتَّكْبِيرِ بَيِّنًا أَجْزَأَهُ وَلَوْ تَرَكَ التَّكْبِيرَ سِوَى تَكْبِيرَةِ الِافْتِتَاحِ وَقَوْلِهِ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ لَمْ يُعِدْ صَلَاتَهُ وَكَذَلِكَ مَنْ تَرَكَ.
 
الذِّكْرَ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ وَإِنَّمَا قُلْت مَا وَصَفْت بِدَلَالَةِ الْكِتَابِ ثُمَّ السُّنَّةِ قَالَ اللَّهُ عز وجل ﴿ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا﴾ وَلَمْ يَذْكُرْ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ عَمَلًا غَيْرَهُمَا فَكَانَا الْفَرْضَ فَمَنْ جَاءَ بِمَا يَقَعُ عَلَيْهِ اسْمُ رُكُوعٍ، أَوْ سُجُودٍ فَقَدْ جَاءَ بِالْفَرْضِ عَلَيْهِ وَالذِّكْرُ فِيهِمَا سُنَّةُ اخْتِيَارٍ وَهَكَذَا قُلْنَا فِي الْمَضْمَضَةِ وَالِاسْتِنْشَاقِ مَعَ غَسْلِ الْوَجْهِ.

(قَالَ الشَّافِعِيُّ): «وَرَأَى رَسُولُ اللَّهِ - ﷺ - رَجُلًا يُصَلِّي صَلَاةً لَمْ يُحْسِنْهَا فَأَمَرَهُ بِالْإِعَادَةِ ثُمَّ صَلَّاهَا فَأَمَرَهُ بِالْإِعَادَةِ فَقَالَ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلِّمْنِي فَعَلَّمَهُ رَسُولُ اللَّهِ - ﷺ - الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ وَالرَّفْعَ وَالتَّكْبِيرَ لِلِافْتِتَاحِ، وَقَالَ فَإِذَا جِئْت بِهَذَا فَقَدْ تَمَّتْ صَلَاتُك وَلَمْ يُعَلِّمْهُ ذِكْرًا فِي رُكُوعٍ وَلَا سُجُودٍ وَلَا تَكْبِيرًا سِوَى تَكْبِيرَةِ الِافْتِتَاحِ وَلَا قَوْلَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقَالَ لَهُ فَإِذَا فَعَلْت هَذَا فَقَدْ تَمَّتْ صَلَاتُك وَمَا نَقَصْت مِنْهُ فَقَدْ نَقَصْت مِنْ صَلَاتِك» فَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى أَنَّهُ عَلَّمَهُ مَا لَا تُجْزِئُ الصَّلَاةُ إلَّا بِهِ وَمَا فِيهِ مَا يُؤَدِّيهَا عَنْهُ وَإِنْ كَانَ الِاخْتِيَارُ غَيْرَهُ

Bab: Takbir untuk Ruku’ dan Gerakan Lainnya

Telah mengabarkan kepada kami Ar-Rabi’ ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Asy-Syafi’i ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Malik dari Ibnu Syihab dari Ali bin Al-Husain, ia berkata:

«Rasulullah ﷺ bertakbir setiap kali beliau menunduk dan mengangkat (kepala). Shalat beliau tetap demikian hingga beliau bertemu Allah Ta’ala.»Telah mengabarkan kepada kami Ar-Rabi’ ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Asy-Syafi’i ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Malik dari Ibnu Syihab dari Abu Salamah bahwa Abu Hurairah pernah menjadi imam shalat bagi mereka. Ia bertakbir setiap kali menunduk dan mengangkat. Apabila selesai shalat ia berkata: “Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling mirip shalatnya dengan Rasulullah ﷺ di antara kalian.”(Asy-Syafi’i berkata):

Aku tidak suka bagi orang yang shalat — baik sendirian, imam, maupun makmum — meninggalkan takbir saat ruku’, sujud, mengangkat, dan menunduk; serta meninggalkan ucapan “Sami’allahu liman hamidah” dan “Rabbana wa lakal hamd” ketika mengangkat kepala dari ruku’.Jika seseorang mengangkat kepalanya dari gerakan yang telah aku sebutkan, atau meletakkannya tanpa takbir, maka ia tidak wajib bertakbir setelah mengangkat atau meletakkan kepala.

Jika ia meninggalkan takbir di tempatnya, ia tidak perlu menggantinya di tempat lain.(Abu Muhammad Ar-Rabi’ bin Sulaiman berkata: “Aku kehilangan bagian ini dari kitab, tetapi aku mendengarnya dari Al-Buwaithi dan aku mengenalnya sebagai perkataan Asy-Syafi’i.”)(Asy-Syafi’i berkata):

Apabila seseorang hendak ruku’, ia memulai takbir dalam keadaan berdiri, lalu terus bertakbir sambil turun ke ruku’.

Apabila ia hendak mengangkat kepala dari ruku’, ia memulai ucapan “Sami’allahu liman hamidah” bersamaan dengan mengangkat, kemudian setelah berdiri tegak dan selesai mengucapkan “Sami’allahu liman hamidah”, ia mengucapkan “Rabbana wa lakal hamd”.Apabila ia turun untuk sujud, ia memulai takbir dalam keadaan berdiri, lalu turun sambil melanjutkan takbir hingga sampai ke sujud dan selesai dari akhir takbir.

Jika ia bertakbir dan menyempurnakan sisa takbir dalam keadaan sujud, maka tidak ada kewajiban apa pun atasnya, kecuali ia tidak boleh sujud kecuali setelah selesai takbir.Apabila ia mengangkat kepala dari sujud, ia memulai takbir hingga ia duduk tegak dan menyelesaikannya.

Kemudian apabila ia turun untuk sujud lagi, ia memulai takbir dalam keadaan duduk dan menyempurnakannya sambil turun ke sujud. Demikianlah dilakukan dalam seluruh shalatnya.Ia hendaknya melakukan takbir sebagaimana yang aku gambarkan: jelas (dibaca dengan terang), tidak memanjangkannya berlebihan (tamthith), dan tidak memotongnya (hadzf).

Jika ia mendatangkan takbir dengan jelas, maka itu sudah mencukupi.Jika ia meninggalkan takbir selain takbiratul iftitah dan ucapan “Sami’allahu liman hamidah”, ia tidak perlu mengulang shalatnya. Begitu pula orang yang meninggalkan dzikir (tasbih) di dalam ruku’ dan sujud.Aku mengatakan apa yang telah aku sebutkan ini berdasarkan dalil Al-Kitab kemudian As-Sunnah. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: 

﴿ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا﴾ 

(Rukulah dan sujudlah). Allah tidak menyebutkan amalan lain di dalam ruku’ dan sujud selain keduanya. Maka keduanya adalah fardhu. Barangsiapa melakukan gerakan yang disebut ruku’ atau sujud, maka ia telah melaksanakan fardhu tersebut. Adapun dzikir di dalamnya adalah sunnah yang dianjurkan (khiyar). Demikian pula yang kami katakan tentang berkumur (madhmadhah) dan menghirup air ke hidung (istinshaq) bersama membasuh wajah.(Asy-Syafi’i berkata):

Rasulullah ﷺ melihat seorang laki-laki yang shalat tetapi tidak memperbaikinya. Beliau memerintahkannya mengulang shalat. Kemudian ia shalat lagi, beliau tetap memerintahkannya mengulang. Orang itu berkata: “Ya Rasulullah, ajarilah aku.” Maka Rasulullah ﷺ mengajarinya ruku’, sujud, mengangkat (kepala), dan takbiratul iftitah. Beliau bersabda:

“Apabila engkau telah melakukan ini, maka shalatmu telah sempurna.”

Beliau tidak mengajarinya dzikir di ruku’ maupun sujud, dan tidak pula takbir selain takbiratul iftitah, serta tidak mengajarkan “Sami’allahu liman hamidah”. Beliau bersabda: “Jika engkau melakukan ini, maka shalatmu telah sempurna. Apa yang engkau kurangi darinya, maka engkau telah mengurangi shalatmu.”Hal ini menunjukkan bahwa beliau mengajarinya hal-hal yang shalat tidak sah kecuali dengannya, dan hal-hal yang dapat menyempurnakan shalat, meskipun yang lebih utama adalah selain itu. 

Konsultasi / Tanya Jawab Islam 

LihatTutupKomentar