Thursday, August 20, 2015

Suami Berkata Sudah Ceraikan Istri pada Orang Lain


Berkata pada Orang Lain Sudah Ceraikan Istri
BERKATA SUDAH CERAI ISTRI PADA ORANG LAIN, APAKAH SAH?

Suami sering berkata kepada temanya kalau akan cerai, kadang berkata juga sudah pisah dengan istri. Tapi terhadap saya tidak berkata cerai. Ketika saya melahirkan kami rukun lagi dan tinggal serumah dengan orang tua saya.

Assalamualaikum wr wb.
Yang terhormat Dewan Alkhoirot, saya mau bertanya.

Sebelumnya mohon maaf jika tulisan saya terlalu panjang, karena ini ada kaitanya dengan pertanyaan yang sekarang.

Ketika pernikahan kami baru 2bulan, saya dan keluarga saya batu tahu kalau suami telah berbohong atas status profesi dan pekerjaannya. saya dan keluarga marah dan kecewa. Suami mengakui dia telah bohong agar bisa kenal saya. Merasa tertipu saya minta untuk dilepaskan (dicerai). Dalam kondisi pertengkaran itu, kami sama2 marah, suami langsung menjawab dengan sms ( kami berada sekamar) "sok nak aku duwe duwit tak unggahke, saiki aku ora duwe duwit. Nak peyan gelem ngunggahke, aku matur nuwun" (besok kalau aku punya uang saya mengajukan cerai, sekarang saya belum punya uang. Kalau kamu mau mengajukan sendiri, aku berterima kasih).

TOPIK KONSULTASI ISLAM
  1. BERKATA SUDAH CERAI ISTRI PADA ORANG LAIN, APAKAH SAH?
  2. BOLEHKAH ISTRI MENGUASAI SELURUH HARTA WARIS SUAMI?
  3. CARA KONSULTASI SYARIAH ISLAM

Seketika itu juga saya tanya bapak, apa sms itu jatuh talak. Sepengetahuan bapak itu jatuh talak. Spontan suami kaget dan menjawab tidak ingin cerai karena masih cinta. Kemudian suami pulang ke rumah orang tuanya. Sebulan kami rujuk, dan sesuai saran orang tua untuk bangun nikah.

Kemudian saat saya hamil 7bulan saya juga baru tahu ternyata suami saya tetap jalan dengan pacarnya dan selama itu suami mengaku sebagai bujangan, tidak mengakui punya istri. sehingga terjadi pertengkaran dan kami tingal terpisah ikut orang tua kami masing2. Saat kondisi pisahan tapi tidak ada kata2 talak, suami sering berkata kepada temanya kalau akan cerai, kadang berkata juga sudah pisah dengan istri. Tapi terhadap saya tidak berkata cerai. Ketika saya melahirkan kami rukun lagi dan tinggal serumah dengan orang tua saya.

Sekarang suami saya bekerja di luar negeri. melalui sosial media saya mengetahui foto suami saya bersama wanita lain (si A). Berdasarkan pengakuan si A, dia pacaran dengan suami saya, kebetulan mereka satu kos.

Saya tanya tentang hubunganya dengan si A, tapi jawaban suami melalui sms begini "mungkin lebih baiknya kita hidup sendiri-sendiri ja, aku kasihan sama peyan"."aku (suami) terlalu banyak nanggung dosa". "Kowe tak colke saiki kowe wis ora duweku" ketika saya tanya apa maksudnya saya ditalak, suami menjawab tidak ngomongke talak. Katanya saya disuruh menyimpulkan sendiri. Besok lagi sms nya "cukup RT kita sampai disini, sampeyan ngajuke cerai aku yang bayar ". Saya menolak karena saya tetap ingin pertahankan RT demi anak kami yang beumur 20bulan. melalui sms juga kalau saya tidak mau mengajukan cerai suamiku yang akan mengajukan cerai kalau sudah pulang.

Suami via tlp berkata bahwa bahwa sms-nya serius. Saya jawab saya tidak mau diajak cerai.

Sms yang senada di ulangi lagi dengan mngatakan bahwa saya (istri) sudah bukan milik suami lagi.

Karena perkataan senada di ulang terus, saya mengingatkan suami untuk tidak bermain dengan kata2 yang mengarah pada talak. Pemahaman saya tentang talak kurang dalam, begitu juga suami.

Kemudian malam tgl 1 ramadlan Melalui pesan suara, suami mengatakan lagi "kita hidup sendiri-sendiri saja, kowe (istri) nggolek liyane (cari laki-laki lain)." Saya tanya apa ucapan itu berniat menjatuhkan talak, tp suami tidak menjawab.

Dan sekarang sudah sebulan lebih. Selama itu saya tetap mengajak suami untuk mempertahankan RT. Dan sesuai saran dari mertua dan kakak ipar agar saya bersabar. pembicaraan itu berlanjut terus.

Terakhir tanggal 4 Juli 2015 kemarin, suami, melalui sms berkata "aku sudah tidak mengharapkan kamu (saya/istri)". saya tanya apakah perkataannya berniat menjatuhkan talak, djawab "ya". "Talak cerai". "Intinya kita sudah nggak kumpul seperti suami istri gitu". Saya jawab memang tidak bisa kumpul karena saya di rumah suami di luar negeri.
Saya tanya talak berapa, kata suami "talak 2". Karena pemahaman kami peristiwa dulu sudah pernah jatuh talak 1.

Dewan alkhoirot yang terhormat, setelah saya membaca artikel2 al khoirot terkait hal ini.
1. Apa berarti yang dulu kami anggap jatuh talak 1 itu tidak sah?
2. Kalau talak 1 itu ternyata tidak sah, bagaimana dengan status talak 2 ini?
3. Apakah berkata kepada orang lain bahwa ia pisah dengan istri/akan cerai bisa jatuh talak?
4. Bagaimana status pernikahan kami? Mohon solusi dan nasehatnya mengingat kami berada di tempat yang berjauhan sedang istri tidak bisa menolak talak karena itu hak suami.

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih, dan mohon maaf jika tulisan saya terlalu panjang.
Wassalamualaikum wr wb.


JAWABAN

1. Peristiwa pertama tidak sah dan tidak terjadi talak. Karena, ucapan talaknya mengandung kalimat masa depan (future tense) : (besok kalau aku punya uang saya mengajukan cerai) Lihat detailnya di sini.

2. Talak ke-2 sah karena mengandung ucapan kata 'talak'. Namun jatuhnya jadi talak 1.

3. Kalau pernyataan suami pada orang lain itu bohong, maka tidak jatuh talak. Kalau jujur, maka jatuh talak. Silahkan tanya suami apakah dia bohong atau jujur soal pernyataan talaknya itu. Zakaria Al-Anshari dalam Asnal Matolib 16/147 berkata:

وإن أقر بالطلاق كاذباً لم تطلق زوجته باطناً وإنما تطلق ظاهراً.

Artinya: Apabila suami berbohong mengaku telah mentalak istrinya, maka istrinya tidak tertalak secara batin, tapi tertalak secara lahir.

Maksud tertalak secara lahir adalah pernyataan itu perlu diverifikasi dan dikonfirmasi pada suami dengan dua saksi apakah ucapan itu bohong atau jujur. Kalau suami menyatakan bohong, maka talak tidak sah dan tidak terjadi.

dalam Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj berkata:

ولو قيل له استخباراً، أطلقتها؟ -أي زوجتك- فقال: نعم.. أو مرادفها.... فإقرار به (الطلاق) لأنه صريح إقرار، فإن كذب فهي زوجته باطناً.

Artinya: Kalau ditanya pada suami, "Apakah kamu menceraikan istrimu?" Lalu suami menjawab, "Iya" ... maka itu termasuk ikrar talak yang sah. (Namun) apabila dia bohong, maka istrinya tetap menjadi istri secara batin.

Maksud "istri secara batin" adalah tetap sah menjadi istrinya dan ikrar talaknya tidak sah.

3. Bisa jatuh talak kalau ia berkata jujur. Kalau suami bohong, maka talak tidak sah.

4. Status rumah tangga anda adalah: (a) bahwa yang pasti adalah sudah jatuh talak 1 (lihat jawaban poin 2). (b) Sedangkan pernyataan suami pada orang lain bahwa sudah mentalak anda, maka itu tergantung apakah ia berbohong atau tidak. Kalau berbohong, maka tidak jatuh talak. Kalau ia jujur, maka sudah jatuh talak. Apabila jujur, maka sudah jatuh talak 2 (dua). (c) pernyataan talak via SMS hukumnya
adalah talak kinayah dan bisa jatuh talak kalau disertai niat suami untuk menceraikan istrinya.

Kalau ternyata suami sudah menceraikan istrinya 3 kali atau lebih maka hubungan suami-istri otomatis putus dan tidak bisa rujuk kembali kecuali apabila istri menikah dengan suami lain. Baca detail: Cerai dalam Islam

Perlu juga diketahui, bahwa istri bisa mengajukan gugat cerai ke pengadilan agama apabila memang ingin bercerai. Dan keputusan pengadilan agama itu sah walaupun seandainya tanpa persetujuan suami. Lihat detail di sini

_______________________________


BOLEHKAH ISTRI MENGUASAI SELURUH HARTA WARIS SUAMI?

Assalamu'alaikum Wr Wb mohon penjelasan cara pembagian waris sbb:

1. Tanggal wafat Pewaris 6 Desember 1990;
Ahli Waris: Istri 1 orang; Anak Laki-Laki 4 orang dan Anak Perempuan 3 orang.

Ibu saya akan menjual rumah peninggalan almarhum ayah saya yang menjadi tempat tinggalnya di palembang, kemudian uang hasil penjualan rumah tersehut akan digunakan ibu saya untuk membeli rumah yang akan dijadikan tempat tinggalnya di bogor dan sisanya untuk modal usahanya.

2. Pertanyaan saya apakah uang hasil penjualan rumah tersebut bisa disebut harta warisan yang harus dibagikan kepada ahli waris ayah saya? Berdosakah ibu saya yang ingin memanfaatkan uang penjualan rumah tersebut untuk keperluan hidupnya sendiri seperti membeli rumah baru dan sisanya untuk modal usahanya? Ayah saya wafat tgl 6 Desember 1990, Ahli waris ayah saya terdiri dari istri 1 orang, anak laki-laki 4 orang dan anak perempuan 3 orang. Sedangkan orang tua ayah saya (ayah dan ibu pewaris) telah wafat. Mohon penjelasannya dan bagaimana cara membagi warisnya. Wassalamu'alaikum wr wb.

JAWABAN

1. Pembagian warisannya sebagai berikut:

a. Istri mendapat 1/8 (seperdelapan) dari seluruh harta suami.
b. Sisanya yang 7/8 dibagikan kepada ketujuh anak kandung di mana anak laki-laki mendapat bagian dua kali lipat dibanding anak perempuan (QS An-Nisa :6 dam 146). Cara pembagian yang sederhana adalah jadikan harta yang 7/8 tsb menjadi 11 (sebelas) bagian. Keempat anak laki-laki masing-masing mendapat 2, sedangkan ketiga anak perempuan masing-masing mendapat 1.

Penting untuk diketahui, bahwa dalam Islam tidak ada harta bersama atau gono-gini antara suami dan istri. Artinya, seluruh harta suami baik sebelum atau sesudah pernikahan menjadi harta warisan yang harus dibagi kepada seluruh ahli waris seperti tersebut di atas. Jadi, istri hanya mendapat 1/8 bagian dari harta suami baik harta yang dimiliki suami sebelum nikah dan setelah nikah. Soal harta gono-gini lihat detail -> www.alkhoirot.net/2014/06/hukum-harta-gono-gini.html

Hukum waris lihat detail

2. Tentang rumah di Palembang, kalau tidak ada pernyataan hibah dari suami baik secara lisan atau tertulis, maka rumah tersebut adalah harta warisan yang harus dibagikan kepada seluruh ahli waris seperti disebut dalam jawaban poin 1. Lihat juga: Hibah dalam Islam



Cari artikel lain:




Copy link berikut untuk referensi kutipan:

Jangan lupa baca yang ini juga ..