Sunday, October 11, 2015

Rumah Tangga Selalu Konflik Bolehkah Bercerai?


Rumah Tangga Selalu Konflik Bolehkah Bercerai?
RUMAH TANGGA SELALU KONFLIK BOLEHKAH BERCERAI?

Assalamualaikum.wr.wb
Saya seorang wanita berusia 28 tahun sudah menikah hampir 7 bulan. Tetapi di bulan yang ke 4 saya sudah pisah ranjang dengan suami selama 3 bulan ini dan sekarang saya tinggal dengan orang tua saya. Pada awal pernikahan, sebenarnya sudah terlihat bahwa suami tidak perhatian dengan istri karena setelah acara resepsi di rumah mertua, saya disuruh pulang sendiri dengan membawa 2 tas besar. Untung saat itu orang tua saya datang ke rumah suami jadi saya bisa pulang dengan orang tua. Orang tua saya tahu tentang kejadian tersebut dan orang tua saya menjadi tidak suka dengan suami saya.

TOPIK KONSULTASI ISLAM
  1. RUMAH TANGGA SELALU KONFLIK BOLEHKAH BERCERAI?
  2. SELALU RAGU-RAGU SAAT IBADAH
  3. CARA KONSULTASI SYARIAH ISLAM

Saya tetap menjalani pernikahan ini dengan harapan suami saya bisa berubah. Saya dan suami hanya bisa bertemu 1 minggu sekali karena kota tempat kami bekerja berbeda dengan jarak yang tidak begitu jauh (1,5 jam perjalanan). Saat kami belum menikah kami sudah berkomitmen bahwa saya baru akan pindah ke rumah suami setelah saya mendapat pekerjaan, tetapi selama pernikahan suami selalu membujuk saya untuk berhenti bekerja atau tidak memperpanjang kontrak di tempat saya bekerja tapi saya menolaknya karena komitmen yang sudah kami buat sebelum menikah tetapi suami selalu saja membahas masalah tersebut.

Pertimbangan saya menolak permintaan suami karena sulitnya mencari pekerjaan di kota tempat suami tinggal apalagi dengan faktor usia saya yang sudah hampir 30 dan dengan status sudah menikah. Apabila saya berhenti bekerja, pendapatan dari suami tidak bisa mencukupi kebutuhan kami berdua dengan kondisi semua harga kebutuhan naik. Selain itu kami pernah berkomitmen bahwa saya 1 minggu sekali pulang ke rumah suami dan saya minta suami juga sering ke rumah saya (seminggu sekali) dengan pertimbangan dia mengendarai kendaraan dengan jarak rumah kami yang tidak terlalu jauh (1,5 jam perjalanan sedangkan saya harus naik kendaraan umum tiap minggu. Awalnya suami menyanggupinya tetapi itu hanya berlangsung selama 1 minggu. Minggu berikutnya dia meminta 2 minggu sekali ke rumah dengan alasan capek setelah bekerja. Akhirnya saya tetap mengalah 1 minggu sekali pulang ke rumah suami dan itu berlangsung selama kami menikah.

Akan tetapi lama kelamaan para tetangga di sekitar rumah saya mulai bertanya tentang suami saya yang tidak terlihat di rumah saya saat akhir minggu, dengan sedikit berkilah saya menjawab suami seminggu sekali ke rumah. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah suami saya tidak pernah ke rumah saya kecuali saya sms dan saya minta untuk menjemput saya, itupun saya tidak minta setiap minggu sehingga saya lebih sering mengendarai kendaraan umum saat pulang ke rumah suami saya tiap minggu. Tetapi saya lama kelamaan tidak bisa bolak balik dengan keadaan seperti itu dan orang tua saya jadi sering berbohong ke tetangga saat ditanya tentang menantunya, saya jadi sedih melihat dan mendengar omongan tetangga yang menyakiti hati orang tua saya. Akhirnya saya minta suami agar bisa lebih sering ke rumah saya (3 - 4 kali dalam seminggu) apabila tidak capek.

Tetapi suami saya menolak dengan alasan takut sakit apabila sering bolak balik ke rumah saya. Dari alasan tersebut saya menangkap bahwa dia adalah laiki - laki yang tidak mau berkorban demi istrinya, padahal saat itu terhitung baru 1 bulan kami menikah. Akhirnya saya tetap bersabar dengan sikapnya tersebut, tetapi semakin lama saya tidak tahan lagi dengan sikapnya yang suka membantah oang tua saya saat dinasehati, apabila diajak bicara oleh orang yang lebih tua dia tidak memperhatikan orang yang mengajak bicara (sibuk dengan handphonenya), saat di rumah saya dia selalu saja bermain dengan handphonenya (sibuk dengan memegang handphonenya saja), padahal dia ke rumah saya untuk bertemu dengan istrinya yang hanya bisa bertemu 1 kali dalam seminggu, dia meminta saya untuk melepas jilbab (padahal saat berkenalan, saya sudah mengenakan jilbab selama 5 tahun) dan meminta saya untuk memakai pakaian yang mengumbar aurat.

Puncaknya adalah saat bulan puasa saya meminta dengan halus kepada suami untuk bisa sholat tarawih di rumah saya sekali saja agar omongan tetangga tidak semakin menjadi. Tetapi dengan nada keras suami menolak permintaan saya dengan kalimat "tidak, itu tidak perlu, tetangga di sana tidak perlu kenal dengan aku, kan kita tinggalnya di sini (di rumah suami saya). Setelah mendengar jawaban dari suami saya bujuk sekali lagi, tetapi suami hanya diam saja.

Setelah itu saya hanya diam saja. Keesokan harinya saya memutuskan untuk pulang ke rumah orang tua saya dengan ijin dari suami. Beberapa hari suami saya sms dan hanya saya jawab seperlunya saja, setelah beberapa minggu saya mencoba untuk tidak membalas sms atau mengangkat telefon dari suami dengan pemikiran agar suami bisa berpikir dan menyadari kesalahannya, tetapi dia tidak pernah menyadarinya (menganggap sikapnya tidak ada yang salah).

Akhirnya saat dia sms lagi saya menjawabnya dan mengatakan bahwa saya ingin berpisah dengannya, seketika itu dia langsung datang ke rumah saya dan meminta penjelasan dari saya tetapi saya hanya menjelaskan bahwa pola berpikir kami berbeda dan saya juga menjelaskan bahwa saya sudah mencoba untuk memahaminya tetapi sekarang saya sudah tidak sanggup lagi menghadapi sikapnya yang sangat keras kepala dan mementingkan dirinya sendiri (saat saya di rumah suami, saya kurang diperhatikan oleh suami dan hanya diperhatikan saat dia ingin dilayani (berhubungan suami istri saja)).

1. Apakah salah apabila saya meminta berpisah? Apalagi selama pisah ranjang selama 3 bulan ini dia tidak pernah memberi saya nafkah (nafkah lahir). Saya juga ingin menambahkan bahwa selama pernikahan kami selalu saja berselisih paham tentang sesuatu dan saya yang akhirnya harus mengalah (padahal terkadang suami yang bersalah).

Waalaikumsalam.wr.wb


JAWABAN RUMAH TANGGA SELALU KONFLIK BOLEHKAH BERCERAI?

1. Dalam kasus anda tidak salah kalau anda minta berpisah. Ini berdasarkan pada beberapa aspek baik aspek agama ataupun negara. Dalam agama, faktor tidak lagi mencintai suami sudah bisa menjadi alasan syar'i untuk meminta cerai. Baca detail: Istri Boleh Minta Cerai karena Tidak Cinta Suami

Faktor-faktor lain seperti sering konflik, tidak diberi nafkah, suami kurang taat agama dan semacamnya menjadi unsur-unsur yang menjadi penyebab dibolehkannya istri untuk meminta cerai. Kalau suami tidak mau menceraikan, maka istri dapat melakukan gugat cerai ke Pengadilan Agama. Baca detail: Cerai dalam Islam

Kegagalan perkawinan anda yang pertama ini hendaknya menjadi pelajaran dan dapat mengambil hikmah darinya yakni bahwa suatu pernikahan akan langgeng atau berpotensi akan langgung apabila kedua pasangan memutuskan untuk menikah tidak hanya berdasarkan rasa cinta atas tampilan fisik masing-masing, tapi juga hendaknya cinta itu tumbuh karena faktor kecantikan dan ketampanan internal. Baca juga: Cara Memilih Jodoh

______________________


SELALU RAGU-RAGU SAAT IBADAH

Awalnya saya hanya ragu apakah saya sudah alfatihah saat sholat, lalu perasaan ragu itu lama lama merambat ke hal yang lainnya, seperti wudhu, bersuci, bahkan perbuatan sepele,
1. bagaimana caranya agar saya kembali normal lagi alias tidak terus ragu ragu lagi?

JAWABAN

1. Caranya dengan menghilangkan keraguan tersebut berdasarkan panduan syariah yang benar. Untuk itu, silahkan baca artikel berikut untuk setiap masalah yang anda hadapi:
- Ragu-ragu dalam soal ibadah
- Was-was dalam Shalat dan Wudhu
- Cara Mengobati Penyakit Was-was
- Cara Mengatasi Was-was pada Najis
- Was-was Najis Anjing dan Babi



Cari artikel lain:




Copy link berikut untuk referensi kutipan:

Jangan lupa baca yang ini juga ..