Thursday, December 10, 2015

Hukum Salah Bacaan Shalat dan Najis yang Dimaafkan


Hukum Salah Bacaan Shalat dan Najis yang Dimaafkan
KESALAHAN DALAM BACAAN SHALAT DAN NAJIS YANG DIMAAFKAN (MAKFU)

assalamualikum

langsung saja pertanyaannya pak ustadz

1. Sahkah sholat kita kalau bacaan dalam sholat salah, misalnya huruf TSA dibaca Syin, huruf dzal dibaca zay dan panjang pendek hurufnya tidak pas dalam bacaan ??

2. Didalam bacaan syahadat itu dibaca ( ASYHADU AN LA ) ATAU ( ASYHADU ALLA) dan di bacaaan Rasulullah disyahadat itu dibaca RASULULLAH ATAU ROSULULLAH ? tolong tuliskan bacaan yang betul dalam tulisan indonesia pak ustadz.

TOPIK SYARIAH ISLAM
  1. KESALAHAN DALAM BACAAN SHALAT DAN NAJIS YANG DIMAAFKAN (MAKFU)
    1. KESALAHAN BACAAN SHALAT SELAIN AL-FATIHAH
    2. KESALAHAN BACAAN AL-FATIHAH DALAM SHALAT
    3. NAJIS KENCING YANG DIMAAFKAN
    4. BOLEHKAH MENGIKUTI PENDAPAT ULAMA WAHABI SALAFI?
  2. CARA KONSULTASI AGAMA

3a. Standar banyaknya kadar najis air kencing yang dimaafkan itu berapa pak ustadz, apakah benar sebesar koin dirham ? dan koin dirham itu sebesar apa kira-kira pak ustadz ?

3b. dan apakah masih berstatus najis kalau masih ada bau najis yang masih lengket ditangan setelah kita cuci ?

4. Apa hukumya kalau kita menghina/mencaci ustadz atau ulama ? apakah bisa mengakibatkan murtad ?

5. bolehklah mengikuti pendapat dari ulama salafi wahabi ?
Sebelunya terimakasih pak ustadz


JAWABAN BACAAN SHALAT DAN NAJIS YANG DIMAAFKAN

Bacaan shalat yang salah kalau menyangkut Al-Fatihah maka dirinci tergantung dari disengaja atau tidak. Kalau tidak disengaja maka hendaknya diperbaiki dan sah shalatnya. Kalau disengaja maka batal. Sedangkan bacaan non-Fatihah maka asal tidak disengaja dan tidak terjadi perubahan besar, maka sah shalatnya. Najis kencing yang dimakfu adalah najis yang sedikit. Batasannya adalah tidak terlihat mata dan menurut kebiasaan (uruf). Pendapat ulama Wahabi sebaiknya tidak dijadikan pedoman atau dasar karena mereka hanya mendasarkan diri pada Quran dan sunnah, mengabaikan qiyas bahkan pada ijmak. Selain itu, pendapat mereka umumnya radikal ala Khawarij yang mudah mengkafirkan dan mensyirikkan sesama muslim.


KESALAHAN BACAAN SHALAT SELAIN AL-FATIHAH

1. Bacaan shalat terbagi dua yaitu Al-Fatihah dan selain Al-Fatihah. Untuk bacaan non-Al-Fatihah maka tidak ada masalah apabila terjadi sedikit kesalahan yang tidak disengaja. Misalnya, dalam soal tahiyat.

Imam Nawawi dalam Al-Majmuk, hlm. 3/460, menyatakan:

وينبغي أن يأتي بالتشهد مرتبا، فإن ترك ترتيبه نظر إن غيره تغييرا مبطلا للمعنى لم تصح صلاته، وتبطل صلاته إن تعمد، لأنه كلام أجنبي، وإن لم يغير فطريقان، والمذهب صحته وهو المنصوص في الأم، وبه قطع العراقيون وجماعة من الخراسانيين
Artinya: Hendaknya orang yang shalat membaca tahiyat secara tertib. Apabila tidak urut maka dirinci: apabila merubah dengan perubahan yang membatalkan makna maka tidak sah dan batal shalatnya apabila sengaja karena itu ucapan lain. Apabila tidak merubah makna maka ada dua pendapat. Pendapat pertama sah, ini pendapat Imam Syafi'i dalam Al-Umm dan ulama Irak dan ulama Khurasan.

Pada hadits sahih riwayat Muslim dari Abu Hurairah ia berkata:

في كل صلاة قراءة، فما أسمعنا النبي صلى الله عليه وسلم أسمعناكم، وما أخفى منا أخفينا منكم، فمن قرأ بأم القرآن فقد أجزأت عنه، ومن زاد فهو أفضل

Artinya: Pada setiap shalat terdapat bacaan. Apa yang kami dengar dari Nabi, kami perdengarkan pada kalian. Apa yang kami dengar secara samar dari Nabi, kami samarkan pula pada kalian. Barangsiapa membaca Al-Fatihah maka sah baginya shalatnya. Barangsiapa yang lebih dari itu, maka itu lebih utama.

Adapun bacaan Al-Fatihah pada setiap shalat, maka setiap muslim harus bisa membacanya dengan fasih, baik dan benar (tartil). Berdasarkan hadits riwayat Bukhari Nabi bersabda:

لا صلاة لمن لم يقرأ بأم الكتاب

Artinya: Shalat tidak sah bagi yang tidak membaca Al-Fatihah.


KESALAHAN BACAAN AL-FATIHAH DALAM SHALAT

Adapun kesalahan yang terjadi saat membaca Al-Fatihah, maka (a) kalau tidak sengaja dan merubah makna harus diulang bacaannya; (b) sedangkan kalau melakukan itu secara sengaja maka batal bacaan dan shalatnya. Adapun kalau tidak merubah makna maka shalatnya sah secara mutlak. Imam Nawawi dalam Al-Majmuk, hlm. 3/393, menyatakan:

إذا لحن في الفاتحة لحنا يخل المعنى بأن ضم تاء أنعمت أو كسرها، أو كسر كاف إياك نعبد، أو قال: إياء بهمزتين لم تصح قراءته وصلاته إن تعمد، وتجب إعادة القراءة إن لم يتعمد، وإن لم يخل المعنى كفتح دال نعبد ونون نستعين وصاد صراط ونحو ذلك لم تبطل صلاته ولا قراءته، ولكنه مكروه ويحرم تعمده. ولو تعمده لم تبطل قراءته ولا صلاته. هذا هو الصحيح، وبه قطع الجمهور

Artinya: Apabila terjadi kesalahan dalam bacaan Al-Fatihah dengan kesalahan yang merusak makna seperti membaca dhommah atau kasroh pada huruf ta' dalam kalimat [أنعمت]'an'amt', atau membaca kasroh huruf kaf pada kata [إياك نعبد], atau membaca [إياء] dengan dua hamzah maka bacaannya dan shalatnya tidak sah apabila disengaja. Sedangkan apabila tidak disengaja, maka wajib mengulangi bacaannya. Apabila kesalahan itu tidak merusak makna, seperti membaca fathah huruf dal kata [نعبد] dan membaca fathah huruf nun pada [نستعين] dan huruf shat pada kata [صراط] dan semacamnya maka shalat dan bacaannya tidak batal, hanya saja hukumnya makruh dan haram apabila disengaja. Tapi seandainyapun disengaja bacaan dan shalatnya tidak batal. Ini pendapat yang sahih menurut jumhur (mayoritas) ulama.
Jadi, pastikan bacaan Al-Fatihah anda fasih, tartil dan akurat bacaannya. Untuk memastikan, bandingkan bacaan anda dengan bacaan audio di sini

2. Bacaan yang benar: Asyhadu alla. Untuk kata Rasulullah sama benarnya dengan Rosululloh. Namun demikian, untuk bacaan yang betul-betul akurat, anda perlu lihat audionya. Salah satu contohnya lihat di sini.


NAJIS KENCING YANG DIMAAFKAN

3a. Standar kadar najis yang dimaafkan adalah yang sedikit menurut kebiasaan (urf). Tidak ada batasan yang pasti. Dalam menerangkan batasan "najis yang sedikit" yang dimaafkan, Khatib Syarbini menyatakan:

قال شيخنا -أي زكريا الأنصاري-: والأوجه تصويره باليسير عرفاً، وهو حسن.

Artinya: Guru kami berkata -- maksudnya Zakaria Al-Anshari -- yang dimaksud 'sedikit' adalah menurut kebiasaan (urf). Ini adalah pendapat yang baik.

Batasan sebesar koin dirham itu sebenarnya kriteria dari ulama mazhab Hanafi. Namun intinya sama saja yakni najis yang sedikit. Lihat detailnya di sini.

Wahbah Zuhaili menjelaskan najis yang dimakfu itu yang tidak terlihat mata. Dalam Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, hl. 1/173, ia menyatakan:

مَذْهَبُ الشَّافِعِيَّةِ : لاَ يُعْفىَ عَن شَيْءٍ مِنَ النَّجَاسَاتِ إِلاَّ مَا يَأْتِي : مَا لاَ يُدْرِكُهُ الْبَصَرُ الْمُعْتَدِلُ كَالدَّمِ الْيَسِيْرِ وَالْبَوْلِ الْمُتَرَشِّشِ .

Artinya: Dalam madzhab Syafi'i najis tidak dimaafkan kecuali yang tidak terlihat oleh pandangan mata yang normal seperti darah yang sedikit dan air kencing yang memercik.

3b. Kalau setelah dibasuh masih ada bau kencing walaupun bekas kencingnya sudah hilang, maka itu dianggap cukup dan suci. Sayid Sabiq dalam Fiqhussunnah, 1/26 menyatakan:

اَلثَّوْبُ وَالْبَدَنُ إِذَا أَصَابَتْهُمَا نَجَاسَةٌ يَجِبُ غَسْلُهُمَا بِالْمَاءِ حَتَّى تَزُوْلَ عَنْهُمَا إِنْ كَانَتْ مَرْئِيَّةً كَالدَّمِ . فَإِنْ بَقِيَ بَعْدَ الْغَسْلِ اَثَرٌ بَشُقُّ زَوَالُهُ فَهُوَ مَعْفُوٌّ عَنْهُ ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ مَرْئِيَّةً كَالْبَوْلِ فَإِنَّهُ يِكْتَفِي بِغَسْلِهِ وَلَوْ مَرَّةً وَاحِدَةً

Artinya: Pakaian dan badan, apabila terkena najis maka wajib membasuhnya denan air sehingga najis itu lenyap darinya, jika najis itu kelihatan seperti darah. Jika sesudah dibasuh masih tetap bekasnya yang sulit menghilangkannya, maka dimaafkan. Jika tidak kelihatan seperti air kencing, maka sesungguhnya cukup dengan membasuhnya meskipun hanya satu kali.

Al-Ithoh dalam Fiqhul Ibadat alal Madzhab Al-Syafi'i menyatakan:

النجاسة العينية: هي التي لها جرم أو لون أو ريح أو طعم، ولا يطهر ما تنجس بنجاسة عينية، إلا بزوال عين النجاسة، ولا يضر بقاء اللون أو الريح إذا عسر زوال أحدهما، وضابط العسر أن يغسل ثلاث مرات مع الفرك ثم يبقى أثر اللون أو أثر الريح،

Artinya: Najis ainiyah adalah najis yang mengandung benda, memiliki warn atau bau atau rasa. Cara menyucikan najis ainiyah adalah dengan menghilangkan benda najisnya. Dan tidak apa-apa tetapnya warna atau bau apabila sulit menghilangkan salah satunya. Batasan sulit adalah dibasuh tiga kali dengan digosok lalu masih ada bekas warna atau bekas baunya.

Al-Haitami dalam Tuhfatul Muhtaj, hlm. 1/319, menyatakan:

( ولا يضر ) في الحكم بطهر المحل حقيقة ( بقاء لون أو ريح ) يدرك بشم المحل أو بالهواء وظاهر أنه بعد ظن الطهر لا يجب شم ولا نظر

Artinya: Tidak apa-apa tetapnya warna atau bau secara hukum atas sucinya tempat secara hakiki. Zhahirnya adalah setelah diduga suci maka tidak wajib untuk mencium baunya dan melihatnya.

4. Menghina atau mencaci ulama secara umum adalah berdosa sama haramnya dengan menghina sesama manusia, tapi tidak sampai berakibat murtad. Adapun kalau penghinaannya itu sampai tahap mengkafirkan, atau mensyirikkan atau membid'ahkan maka hukumnya dosa besar. Baca: Hukum Mengafirkan Sesama Muslim


BOLEHKAH MENGIKUTI PENDAPAT ULAMA WAHABI SALAFI?

5. Ulama Salafi Wahabi umumnya bermadzhab Zhahiriyah yang mendasarkan opini hukum fiqihnya pada zahirnya teks Quran dan sunnah saja. Seperti disebutkan di sini:
mazhab Zahiri menolak metode Qiyas (analogi) padahal metode ini dipakai oleh keempat mazhab Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hanbali. Lebih parah lagi mazhab Zahiri menolak ijmak ulama sebagai sumber hukum.

Menurut Imam Nawawi dalam Al-Majmuk, hlm. 9/230, pendapat kaum Zhahiriyah adalah pendapat awam yang tidak perlu dianggap:

فكأنهم لم يعتدوا بخلاف داود. وقد سبق أن الأصح أنه لا يعتد بخلافه، ولا بخلاف غيره من أهل الظاهر، لأنهم نفوا القياس، وشرط المجتهد أن يكون عارفاً بالقياس

Artinya: Ulama tidak menganggap pandangan Daud (Al-Zhahiri). Pendapat yang paling sahih adalah pendapat mereka tidak dianggap. Karena, mereka menafikan qiyas. Sedangkan syarat mujtahid adalah harus memahami qiyas.

Jadi, pendapat ulama Wahabi tidak bisa dijadikan pegangan dalam hal apapun. Apalagi sebagian ulama menyebut mereka sebagai Neo Khawarij yakni kelompok garis keras baru yang mudah mengkafirkan dan mensyirikkan sesama Muslim.

Baca juga:
- Pendapat Ulama Sunni Kontemporer tentang Wahabi
- Ulama dan Ciri Khas Ajaran Wahabi



Cari artikel lain:




Copy link berikut untuk referensi kutipan:

Jangan lupa baca yang ini juga ..