Monday, March 21, 2016

Harta Kunci Bahagia Rumah Tangga?


Harta Kunci Bahagia Rumah Tangga?
BENARKAH KUNCI BAHAGIA ADALAH HARTA MELIMPAH?

Bapak Ustad yang terhormat apa benar dengan harta kita bisa mewujudkan keluarga islami yang jauh dari masalah kehidupan

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Bapak Ustad yang terhormat Saya ingin bertanya, Saya memiliki permasalahan hidup yang cukup rumit. Saya dari latar belakang broken home dan memiliki masa lalu kelam yang harus saya tanggung jawabi entah nanti itu jadi masalah berkepanjangan atau tidak. Dasar jiwa saya ingin menjadi muslim sejati dan memiliki keluarga muslim sejati tapi kenyataannya keadaan situasi dan kondisi saya selalu bertentangan. Saya sudah melakukan berbagai amalam ibadah wajib maupun sunnah baik pagi, siang, sore malam dan berbagai waktu. Tapi saya tidak bisa menemukan kedamaian dihati saya selalu ada saja masalah yang membuat iman saya goyah sampai saya berkata dalam hati apa ALLAH itu gak mendengar doa saya.

TOPIK SYARIAH ISLAM
  1. BENARKAH KUNCI BAHAGIA ADALAH HARTA MELIMPAH?
  2. DIPAKSA MENEMANI IBU MERTUA UMROH
  3. CARA KONSULTASI AGAMA

1. Kenapa saya berdoa minta dikalangan keluarga yang islami tapi malah didekatkan dengan lingkungan yang menjauhkan diri dari ALLAH. Dan keadaan ini memaksa saya untuk melakukan segala cara agar bisa bertahan hidup dan mencukupi segala kebutuhan saya dan keluarga saya serta orang tua saya.

Saya merasa ALLAH memberikan cobaan berat kepada saya. Padahal jauh masa waktu saya kecil hati saya sudah tertanam ingin membina dan memiliki keluarga yang dekat sama ALLAH. Tapi kenapa berlawanan itu menyebabkan saya tidak bisa menemukan kedamaian di Hati saya yang ada masalah dan terus masalah.

2. Kenapa ALLAH tidak memberikan saya keluarga yang saleh dan istri saleha. tapi Malah sebaliknya. Saya juga selalu mengintropeksi diri. bersabar, berusaha untuk melakukan yang terbaik dan dijalan yang baik.

3. Apa benar cuma saya sendiri yang bisa merubah keadaan itu

4. dan apa benar cuma dengan banyak harta saya bisa mewujudkan keluarga yang sakinah yang membuat mereka mau (keluarga saya) agar diajak sholat berjamaah kalau tidak ada lagi masalah kesusahan hidup, banyak uang, punya rumah dan lain - lain.
wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,


JAWABAN

1. Hidup itu pilihan. Selagi masih hidup di dunia kita diberi hak untuk memilih antara pilihan baik dan buruk. Kalau ternyata kita memilih buruk, maka salahkan diri sendiri, jangan menyalahkan orang lain apalagi Allah. Dalam QS Al-Balad :10 - 16 Allah berfirman:
Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau kepada orang miskin yang sangat fakir.

2. Istri saleha atau tidak saleha tergantung dari keputusan anda saat memilih calon istri. Kalau anda memilih calon istri berdasarkan pada kecantikannya atau pada hartanya atau pada kekerabatan saja tanpa melihat pada akhlaknya, maka kemungkinan anda akan mendapat istri yang tidak salehah. Sebaliknya, kalau anda memilih istri berdasarkan pada ketaatannya pada agama, pada kebaikan kepribadiannya dan kebaikan keturunannya, maka kemungkinan besar anda akan mendapat istri idaman. Adalah kurang elok menyalahkan orang lain atas kesalahan pilihan diri sendiri. Apalagi sampai menyalahkan Allah.

3. Iya. Walaupun kehidupan di dunia ini pada dasarnya sudah takdir dari Allah. Namun, takdir itu dapat berubah menjadi lebih baik atau lebih buruk tergantung dari perbuatan kita.
Baca detail:
- Takdir dalam Islam
- Rejeki, Jodoh, Mati Sudah Ditentukan?

4. Tidak benar. Memang harta diperlukan untuk mengatasi sebagian masalah kehidupan. Namun ia hanya sebagia penunjang penuntasan masalah bukan yang esensial. Karena, Tidak sedikit orang kaya yang menderita batin. Ketaatan anak istri pada suaminya itu disebabkan oleh beberapa faktor antara lain (a) ketegasan dan kedisiplinan suami; (b) komitmen yang tinggi dari istri untuk taat pada agama dan pada suami; (c) komitmen istri untuk membantu suami dalam menciptakan keluarga agamis. Baca juga: Cara Harmonis dalam Rumah Tangga

_________________


DIPAKSA MENEMANI IBU MERTUA UMROH

Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh

Yth. Ustadz/Ustadzah

Perkenalkan nama saya Toro (33 tahun) di Bogor.

Ada satu perkara umroh yang saya bingung untuk memutuskan ketetapannya.

Saat ini saya sudah menikah dengan T (34 tahun) dan kami belum memiliki anak. Saya adalah anak terakhir dari tiga bersaudara laki-laki. Yang pertama usia 37 tahun dan yang kedua 36 tahun. Ayah masih hidup usia 65 tahun dan Ibu masih hidup usia 55 tahun. Keduanya sudah mendaftar haji pada tahun 2015, menurut perhitungan mereka akan berangkat pada tahun 2025. Ada keinginan yang mendalam dari kami (tiga anaknya) untuk memberangkatkan mereka umroh di tahun 2016/2017, setidaknya mereka telah menunaikan ibadah haji kecil sambil menunggu (bila usia masih ada) berangkat haji pada tahun 2025.

Disisi lain, Ibu mertua (58 tahun) telah mendaftar haji pada tahun 2013 dan pada tahun 2017 juga ingin berangkat umroh untuk ke-2 kalinya (beliau umroh pertama kali pada tahun 2013). Saat itu beliau berangkat bersama rombongan travel di Bogor. Pada keberangkatan umroh yang ke-2 ini, beliau sangat ngotot ingin berangkat bersama saya sebagai anak mantu laki-laki sebagai mahrom beliau, karena ayah mertua telah wafat pada tahun 2010.

Hal inilah yang menjadi kebimbangan saya.

Yang menjadi poin saya adalah:

1. Siapakah yang paling tepat/afdol/lebih utama menjadi mahrom Ibu mertua? Kondisinya adalah beliau janda ditinggal wafat; hanya punya 1 kakak laki-laki yang telah uzur dan tidak memungkinkan berangkat (>75 tahun); tidak memiliki anak laki-laki. Beliau punya banyak keponakan laki-laki.

2. Terus terang saya keberatan bila menjadi mahrom Ibu mertua, karena dalam hati dan sesuai syariat, bahwa kewajiban suami untuk mengajak istri ibadah termasuk menunaikan ibadah haji dan umroh. Maka bila saya menjadi mahrom ibu mertua, lalu siapa yang akan menjadi mahrom isteri saya?

3. Sisi lainnya adalah kebutuhan keuangan yang sangat besar. Dana yang dibutuhkan untuk memberangkatkan umroh saat ini minimal Rp.50 juta untuk 2 orang. Kami (tiga bersaudara anak laki-laki) ingin sekali memberangkatkan orang tua kami, dan bila dana tersebut terkumpul tahun 2016/2017, maka tidak memungkinkan (tidak cukup dana) bagi saya dan isteri untuk berangkat menemani Ibu mertua. Bukankah berbuat baik kepada orang tua kandung lebih utama dibanding kepada mertua?

4. Bagaimana cara meyakinkan dengan cara yang santun agar Ibu mertua dapat mengerti situasi saya ini dan tidak ngotot lagi untuk menjadikan saya sebagai mahrom beliau?

Terimakasih atas perhatian dan jawaban yang akan disampaikan oleh Ustadz/Ustadzah atas kembimbangan saya ini.

Wassalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh

JAWABAN

1. Kalau sekedar menjadi mahrom menemani mertua dengan biaya ditanggung mertua, maka tidak ada masalah. Namun kalau anda harus membiayai sendiri, maka itu langkah yang kurang tepat. Lebih baik keponakan laki-lakinya yang menjadi mahram. Perlu juga diketahui bahwa seorang perempuan tidak harus ditemani mahramnya, bisa saja dia bersama perempuan-perempuan lain. Ini aturan syariat.

2. Yang menemani istri anda adalah anda. Bisa saja anda pergi umroh dua kali atau lebih.

3. Iya betul. Anda sebagai anak lelaki yang secara rejeki cukup lancar wajib menafkahi orang tua anda. Sedangkan mertua tidak wajib dinafkahi.

4. Kalau anda sulit dalam berkomunikasi untuk mengungkapkan hal ini pada mertua, maka mintalah tolong pada pihak yang mudah melakukannya. Misalnya, istri anda atau siapapun. Baca juga: Haji dan Umroh




Cari artikel lain:




Copy link berikut untuk referensi kutipan:

Jangan lupa baca yang ini juga ..