Sunday, July 09, 2017

Nikah Tanpa Wali Madzhab Hanafi

Nikah Tanpa Wali Madzhab Hanafi
PERNIKAHAN TANPA WALI MADZHAB HANAFI

Assalamu'alaikum
Saya pernah membaca bahwa pernikahan dalam mazhab hanafi tidak memerlukan kehadiran wali berbeda dengan mazhab syafi'i yang harus ada wali.
1. Bagaimana tata cara pernikahan mazhab hanafi?
2. Apakah ada perbedaan ketentuan antara gadis dan janda dengan menggunakan mazhab hanafi?
Terimakasih, mohon pencerahannya.

TOPIK SYARIAH ISLAM
  1. PERNIKAHAN TANPA WALI MADZHAB HANAFI
  2. TERSENYUM SOAL HADITS NABI, APAKAH SAYA MURTAD?
  3. CARA KONSULTASI AGAMA


JAWABAN

1. Pernikahan madzhab Hanafi tidak berbeda dg madzhab lain termasuk dg madzhab Syafi'i kecuali dalam soal wali saja. Itu artinya: wajib adanya dua saksi laki-laki, dan adanya ijab qabul antara dua pihak. Baca detail: Pernikahan Islam

2. Yg berbeda dg madzhab lain adalah soal wali. Wali dalam madzhab Hanafi ada dua macam yaitu wali ijbar dan wali ikhtiyar atau wali nadab (sunnah). Wali ijbar adalah wali yang sempurna yang punya hak penuh untuk menikahkan atau menolak pernikahan anak laki-laki dan perempuan yang belum baligh atau wanita dewasa yang tidak sempurna akalnya. Ibnu Maudud Al-Musoli (ulama madzhab Hanafi) dalam kitab Al-Ikhtiyar li Ta'lil Al-Mukhtar menyatakan:

ويجوز للولي إنكاح الصغير والصغيرة والمجنونة، ثم إن كان المزوّج أبا أو جدّا فلا خيار لهما بعد البلوغ

Artinya: Dan boleh bagi wali menikahkan anak laki-laki kecil atau perempuan kecil atau wanita gila (walaupun dewasa). Lalu apabila yang menikahkan itu ayah atau kakek maka tidak ada pilihan bagi keduanya (anak lelaki dan wanita) setelah baligh.

PENDAPAT EMPAT MADZHAB SOAL WALI NIKAH

Adapun wali ikhtiyar atau wali syirkah adalah wali yang berkaitan dengan wanita dewasa dan berakal sehat. Dalam hal ini, ulama empat madzhab terbagi menjadi dua pendapat:

PERTAMA Menurut mayoritas (jumhur) ulama empat madzhab selain Hanafi, wali dan si wanita mempunyai hak bersama (syirkah) sehingga akad nikah baru sah atas kesepakatan bersama antara si wanita dan walinya. Keduanya berbagi (syirkah) dalam menentukan dan memilih calon suami;

PENDAPAT MADZHAB HANAFI SOAL WALI

KEDUA, Menurut ulama madzhab Hanafi, status wali terhadap perempuan dewasa adalah wali sunnah (wilayat an-nadb, al-istihbab). Artinya, wali tidak punya hak menentukan calon suami. Karena, wanita baligh dan berakal sehat, baik perawan atau janda, memiliki kewalian sempurna atas dirinya sendiri. Oleh karena itu, maka dia boleh menikahkan dirinya sendiri walaupun tanpa izin wali atau walupun tanpa persetujuan walinya. Ibnu Maudud Al-Musoli (Ulama madzhab Hanafi) dalam Al-Ikhtiyar li Ta'lil al-Mukhtar, hlm. 3/120, menyatakan:

وعبارة النساء معتبرة في النكاح حتى لو زوجت الحرة العاقلة البالغة نفسها جاز

Artinya: Hak wanita itu dianggap dalam nikah sehingga apabila seorang wanita dewasa yang berakal sehat menikahkan dirinya sendiri maka hukumnya boleh.

Abu Muhammad Al-Aini (ulama madzhab Hanafi) dalam kitab Al Binayah Syarah Al-Hidayah, hlm. 5/70, menyatakan:

وينعقد نكاح الحرة العاقلة البالغة برضاها وإن لم يعقد عليها ولي، سواء كانت بكرا أو ثيبا عند أبي حنيفة وأبي يوسف _ رحمهما الله _ في ظاهر الرواية، وعن أبي يوسف _ - رَحِمَهُ اللَّهُ - _ أنه لا ينعقد إلا بولي وعند محمد ينعقد موقوفا

Artinya: Sah nikahnya wanita dewasa berakal sehat dengan kerelaannya walaupun tidak diakad oleh wali. Sama saja perawan atau janda. Ini pendapat Abu Hanifah dan Abu Yusuf dalam zahirnya riwayat. Namun, Abu Yusuf termasuk ulama Hanafi yang menyatakan bahwa nikah tidak sah kecuali dengan wali. Sedangkan menurut Muhammad (juga ulama Hanafi), nikahnya seorang perempuan dewasa tanpa wali hukumnya mauquf. Artinya, keabsahan nikahnya menunggu persetujuan wali. Apabila wali setuju, maka baru nikahnya dianggap sah.

Intinya, pernikahan tanpa wali dalam madzhab Hanafi masih menjadi perbedaan pendapat antara ulama mereka. Namun mereka sepakat bahwa perempuan dewasa antara perawan dan janda statusnya sama.

TATA CARA NIKAH HANAFI

Apabila mengikuti pendapat nikah madzhab Hanafi yang membolehkan nikah tanpa persetujuan wali, maka nikah dapat diadakan dengan salah satu dari dua cara:

Pertama, si wanita meminta seorang laki-laki yang dianggap mampu untuk menikahkan dia dengan seorang pria calon suaminya. Tentunya ijab kabul harus dihadiri dua orang saksi laki-laki. Allah berfirman dalam QS Al-Baqarah 2:242 [واستشهدوا شهيدين من رجالكم] "Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu)." Kata 'rijal' selain bermakna laki-laki juga berarti harus baligh (dewasa) dan akil (berakal sehat). Sedangkan anak kecil dan perempuan tidak sah menjadi saksi pada acara ijab kabul perkawinan.

Kedua, si wanita menikahkan dirinya sendiri dan berperan sebagaimana layaknya wali atau wakil wali yang menikahkan. Misalnya dengan mengatakan ijab pada calon suaminya: "Aku menikahkan engkau dengan diriku sendiri dengan mahar sejuta rupiah tunai" dan calon suami menjawab: "Aku terima nikahmu dengan mahar tersebut tunai". Cara kedua ini juga harus dihadiri dua saksi laki-laki dewasa dan berakal sehat. Baca detail: Pernikahan Islam

KESIMPULAN

Walaupun sebagian ulama madzhab Hanafi membolehkan pernikahan tanpa wali, namun mereka tetap mengharuskan adanya ijab kabul yang disaksikan oleh dua saksi laki-laki dewasa. Oleh karena itu, kami menganjurkan agar pernikahan tetap dilakukan oleh wali atau wali hakim yang ditunjuk oleh si perempuan karena ini lebih sesuai dengan pendapat seluruh madzhab dan lebih berhati-hati dalam beragama. Baca detail: Wali Hakim dalam Pernikahan


TERSENYUM SOAL HADITS NABI, APAKAH SAYA MURTAD?

Assalamualaikum ustad
Saya ingin bertanya ustad
Saya pernah membaca tentang ayat tentang At-Taubah ayat 65 sd 66 tentang kafir setelah beriman...
Suatu hari saya mendengar ceramah tentang tetangga, Ustad penceramah membawakan ceramah dengan santai dan terkesan lucu, saat itu ustad penceramah mengatakan Nabi Muhammad sempat mengira bahwa tetangga akan mendapatkan hak warisan karena Malaikat Jibril sering menjelaskan tentang tetangga ke nabi Muhammad

Disitu saya sempat terpikir bahwa ustad ini akan membuat guyonan tentang enaknya jika tetangga mendapat harta warisan.... Saya pun tersenyum, tetapi saat saya tersenyum, saya ingat surat At Taubah ayat 65 sd ayat 66 tersebut, saya takut senyuman itu dianggap menghina Nabi oleh Allah, padahal saya tidak bermaksud sama sekali tersenyum untuk menghina Nabi...

Saya takut ustad, saya sudah bertaubat. .. Kira kira apa yang saya harus lakukan agar saya mendapat ampunan Allah dan tidak seperti itu lagi? Saya adalah orang yang ekspresif, mudah menangis, mudah tersenyum, dll...

JAWABAN

Murtad adalah perkara besar. Tidak sembarangan seorang muslim menjadi murtad. Kecuali kalau dia menghina dan tidak percaya pada syariat Allah. Dan yg anda lakukan sama sekali bukan penghinaan. Jadi tidak apa-apa dan tidak ada masalah dg senyuman anda. Baca detail: Penyebab Murtad

Dapatkan buku-buku Islam karya A. Fatih Syuhud di sini.. Konsultasi agama, kirim via email: alkhoirot@gmail.com