Merubah Niat Sholat Saat Sedang Shalat

apakah hukum merubah niat sholat fardhu yang satu ke shalat fardhu yg lain karena lupa menurut ulama empat Mazhab? Soalnya ada yang bilang sah kalo seorang sudah niat sholat magrib sebelumnya, terus pas mau sholat melamun jadi niatnya shalat isya, dan sadar pas setelah takbir. Mohon penjelasan tadz ?
Merubah Niat Sholat Saat Sedang Shalat
MERUBAH NIAT SHALAT FARDHU KE FARDHU YANG LAIN

Assalamu'alaikum Wr.Wb.

Pak ustadz, apakah hukum merubah niat sholat fardhu yang satu ke shalat fardhu yg lain karena lupa menurut ulama empat Mazhab? Soalnya ada yang bilang sah kalo seorang sudah niat sholat magrib sebelumnya, terus pas mau sholat melamun jadi niatnya shalat isya, dan sadar pas setelah takbir. Mohon penjelasan tadz ?

Wassalam

JAWABAN

Imam Nawawi dalam Al-Majmuk, hlm. 4/183-184, menjelaskan pandangan madzhab Syafi'i sbb:

قال الماوَرْدِيُّ: نقلُ الصلاةِ إلى صلاةٍ أقسامٌ: أحدُها: نقلُ فرضٍ إلى فرض: فلا يحصلُ واحدٌ منهما، الثاني: نقلُ نفلٍ راتبٍ إلى نفلٍ راتبٍ؛ كَوِتْرٍ إلى سنةِ الفجر فلا يحصلُ واحدٌ منهما، الثالث: نقلُ نفلٍ إلى فرضٍ فلا يحصل واحدٌ منهما. انتهى .

Artinya: Al Mawardi membagi perubahan niat shalat ke dalam beberapa jenis: satu, merubah niat shalat fardhu ke shalat fardhu yang lain. Kedua shalat sama-sama tidak sah. Dua, merubah shalat sunnah rawatib (tidak mutlak) ke shalat sunnah rawatib yang lain, seperti shalat witir ke shalat sunnah subuh. Keduanya juga sama-sama tidak sah. Tiga, merubah shalat sunnah ke shalat fardhu. Juga tidak sah.

Namun, kalau shalat fardhu dirubah ke shalat sunnah mutlak, maka itu dibolehkan. Sebagaimana penjelasan Al-Malibari dalam Fathul Muin dan Al-Bakri dalam Ianah At-Tolibin, hlm. 1/263, sbb:

ﻭﻧﺪﺏ ﻟﻤﻨﻔﺮﺩ ﺭﺃﻯ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻣﺸﺮﻭﻋﺔ ﺃﻥ ﻳﻘﻠﺐ ﻓﺮﺿﻪ ﺍﻟﺤﺎﺿﺮ ﻻ ﺍﻟﻔﺎﺋﺖ ﻧﻔﻼ ﻣﻄﻠﻘﺎ ﻭﻳﺴﻠﻢ ﻣﻦ ﺭﻛﻌﺘﻴﻦ ﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﻘﻢ ﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﺛﻢ ﻳﺪﺧﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ . ﻧﻌﻢ ﺇﻥ ﺧﺸﻲ ﻓﻮﺕ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﺇﻥ ﺗﻤﻢ ﺭﻛﻌﺘﻴﻦ ﺍﺳﺘﺤﺐ ﻟﻪ ﻗﻄﻊ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﺳﺘﺌﻨﺎﻓﻬﺎ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﺫﻛﺮﻩ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺠﻤﻮﻉ . ﻭﺑﺤﺚ ﺍﻟﺒﻠﻘﻴﻨﻲ ﺃﻧﻪ ﻳﺴﻠﻢ ﻭﻟﻮ ﻣﻦ ﺭﻛﻌﺔ ﺃﻣﺎ ﺇﺫﺍ ﻗﺎﻡ ﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﺃﺗﻤﻬﺎ ﻧﺪﺑﺎ ﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺨﺶ ﻓﻮﺕ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﺛﻢ ﻳﺪﺧﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ .
(قوله أما إذا قام لثالثة الخ …. ) محترز إذا لم يقم لثالثة . (قوله أتمها ندبا) فلو خالف وقلبها نفلا وسلم لم يندب ولكنه يجوز كما مر . (قوله إن لم يخش فوت الجماعة) فإن خشي فوتها قطعها واستأنفها مع الجماعة

Artinya: Sunnah bagi yang shalat fardhu sendirian apabila melihat shalat berjamaah untuk merubah niat shalat fardhu yang hadir (bukan qadha) merubah ke shalat sunnah mutlak dan salam setelah 2 rokaat apabila dia belum berdiri untuk rokaat ketiga. Lalu masuk ikut shalat berjamaah. Akan tetapi apabila takut ketinggalan jamaah apabila menyempurnakan 2 rakaat maka sunnah baginya memutuskan shalat dan memulai ikut shalat jamaah, sebagaimana disebut An Nawawi dalam Al-Majmuk. Al Bulqini berpendapat bahwa dia (orang yang shalat sendirian) hendaknya mengucapkan salam (untuk mengakhiri shalat) walaupun baru satu rakaat. Adapun apabila ia berdiri untuk rakaat ketiga maka sunnah menyempurnakan shalat (fardhu) apabila tidak kuatir akan ketinggalan berjamaah. Lalu lalu masuk ke shalat berjamaah.

Hal yang sama dijelaskan oleh ulama madzhab Syafi'i yang lain yaitu Khatib Al Syarbini. Dalam Al Iqna', hlm. 1/151, ia menyatakan:

( ﻭ ) ﺍﻟﺴَّﺎﺩِﺱ ( ﺗَﻐْﻴِﻴﺮ ﺍﻟﻨِّﻴَّﺔ ) ﺇِﻟَﻰ ﻏﻴﺮ ﺍﻟْﻤَﻨﻮِﻱ ﻓَﻠَﻮ ﻗﻠﺐ ﺻﻠَﺎﺗﻪ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻫُﻮَ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺻَﻠَﺎﺓ ﺃُﺧْﺮَﻯ ﻋَﺎﻟﻤﺎ ﻋَﺎﻣِﺪًﺍ ﺑﻄﻠﺖ ﺻﻠَﺎﺗﻪ ﻭَﻟَﻮ ﻋﻘﺐ ﺍﻟﻨِّﻴَّﺔ ﺑِﻠَﻔْﻆ ﺇِﻥ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠﻪ ﺃَﻭ ﻧَﻮَﺍﻫَﺎ ﻭَﻗﺼﺪ ﺑﺬﻟﻚ ﺍﻟﺘَّﺒَﺮُّﻙ ﺃَﻭ ﺃَﻥ ﺍﻟْﻔِﻌْﻞ ﻭَﺍﻗﻊ ﺑِﺎﻟْﻤَﺸِﻴﺌَﺔِ ﻟﻢ ﻳﻀﺮ ﺃَﻭ ﺍﻟﺘَّﻌْﻠِﻴﻖ ﺃَﻭ ﻃﻠﻖ ﻟﻢ ﺗﺼﺢ ﺻﻠَﺎﺗﻪ ﻟﻠﻤﻨﺎﻓﺎﺓ ﻭَﻟَﻮ ﻗﻠﺐ ﻓﺮﺿﺎ ﻧﻔﻼ ﻣُﻄﻠﻘًﺎ ﻟﻴﺪﺭﻙ ﺟﻤَﺎﻋَﺔ ﻣَﺸْﺮُﻭﻋَﺔ ﻭَﻫُﻮَ ﻣُﻨْﻔَﺮﺩ ﻭَﻟﻢ ﻳﻌﻴﻦ ﻓَﺴﻠﻢ ﻣﻦ ﺭَﻛْﻌَﺘَﻴْﻦِ ﻟﻴﺪﺭﻛﻬﺎ ﺻَﺢَّ ﺫَﻟِﻚ ﺃﻣﺎ ﻟَﻮ ﻗَﻠﺒﻬَﺎ ﻧﻔﻼ ﻣﻌﻴﻨﺎ ﻛﺮﻛﻌﺘﻲ ﺍﻟﻀُّﺤَﻰ ﻓَﻠَﺎ ﺗﺼﺢ ﺻﻠَﺎﺗﻪ ﻻﻓﺘﻘﺎﺭﻩ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺘَّﻌْﻴِﻴﻦ ﺃﻣﺎ ﺇِﺫﺍ ﻟﻢ ﺗﺸﺮﻉ ﺍﻟْﺠَﻤَﺎﻋَﺔ ﻛَﻤَﺎ ﻟَﻮ ﻛَﺎﻥَ ﻳُﺼَﻠِّﻲ ﺍﻟﻈّﻬْﺮ ﻓَﻮﺟﺪَ ﻣﻦ ﻳُﺼَﻠِّﻲ ﺍﻟْﻌَﺼْﺮ ﻓَﻠَﺎ ﻳﺠﻮﺯ ﺍﻟْﻘﻄﻊ ﻛَﻤَﺎ ﺫﻛﺮﻩ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻤَﺠْﻤُﻮﻉ

Artinya: Yang keenam adalah merubah niat pada yang selain diniati. Apabila ia merubah shalat yang sedang dilakukan ke shalat yang lain secara sengaja dan tahu maka batal shalatnya. Apabila menyertakan niat dengan kata "insyaAllah" atau berniat dengan maksud tabaruk atau pekerjaan itu terjadi dengan 'insyaAllah' maka tidak apa-apa, atau taklik (kondisional) atau talak maka tidak sah shalatnya karena itu menafikan. Apabila merubah niat dari fardhu ke sunnah agar dapat mengikuti shalat jamaah sedangkan dia dalam keadaan sendirian dan sunnahnya tidak tertentu lalu mengucapkan salam dari dua rakaat agar bisa mengikuti shalat berjamaah yang disyariatkan maka hal itu sah. Namun apabila mengganti niat ke sunnah yang tertentu seperti dua rokaat dhuha maka tidak sah shalatnya karena itu butuh pada penentuan. Adapun apabila shalat berjamaah itu tidak disyariatkan seperti ia sedang shalat zhuhur lalu dia melihat ada yang shalat berjamaah ashar maka tidak boleh memutus shalat (yg sedang dilakuan) sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi dalam Al-Majmuk.

PANDANGAN ULAMA EMPAT MADZHAB

Ulama dari madzhab empat memiliki pandangan yang kurang lebih sama terkait merubah niat shalat saat sedang shalat. Dalam Al Mausuah Al Fiqhiyah, hlm. 9/297, dijelaskan pandangan empat madzhab sbb:

للفقهاء في أثر تحويل النية تفصيل :
ذهب الحنفية إلى أن الصلاة لا تبطل بنية الانتقال إلى غيرها ولا تتغير , بل تبقى كما نواها قبل التغيير , ما لم يكبر بنية مغايرة , بأن يكبر ناويا النفل بعد الشروع في الفرض أو عكسه , أو الاقتداء بعد الانفراد وعكسه , أو الفائتة بعد الوقتية وعكسه . ولا تفسد حينئذ إلا إن وقع تحويل النية قبل الجلوس الأخير بمقدار التشهد , فإن وقع بعده وقبيل السلام لا تبطل .

وعند المالكية : نقل النية سهوا من فرض إلى فرض آخر أو إلى نفل سهوا , دون طول قراءة ولا ركوع , مغتفر . قال ابن فرحون من المالكية : إن المصلي إن حول نيته من فرض إلى نفل , فإن قصد بتحويل نيته رفع الفريضة ورفضها بطلت ـ أي بطلت الفريضة وصارت نفلا ـ, وإن لم يقصد رفضها لم تكن نيته الثانية منافية للأولى . لأن النفل مطلوب للشارع , ومطلق الطلب موجود في الواجب , فتصير نية النفل مؤكدة لا مخصصة .

وعند الشافعية : لو قلب المصلي صلاته التي هو فيها صلاة أخرى عالما عامدا بطلت , فإن كان له عذر صحت صلاته , وانقلبت نفلا . وذلك كظنه دخول الوقت , فأحرم بالفرض , ثم تبين له عدم دخول الوقت فقلب صلاته نفلا , أو قلب صلاته المنفردة نفلا ليدرك جماعة . لكن لو قلبها نفلا معينا كركعتي الضحى لم تصح . أما إذا حول نيته بلا سبب أو غرض صحيح فالأظهر عندهم بطلان الصلاة .

وعند الحنابلة : أن بطلان الصلاة مقيد بما إذا حول نيته من فرض إلى فرض , وتنقلب في هذه الحال نفلا . وإن انتقل من فرض إلى نفل فلا تبطل , لكن تكره , إلا إن كان الانتقال لغرض صحيح فلا تكره , وفي رواية : أنها لا تصح , كمن أدرك جماعة مشروعة وهو منفرد , فسلم من ركعتين ليدركها , فإنه يسن له أن يقلبها نفلا , وأن يسلم من ركعتين , لأن نية الفرض تضمنت نية النفل , فإذا قطع نية الفرض بقيت نية النفل .

ومن هذا التفصيل يتبين اتفاق الفقهاء على أن تحويل نية الصلاة من نفل إلى فرض لا أثر له في نقلها , وتظل نفلا , وذلك لأن فيه بناء القوي على الضعيف , وهو غير صحيح . (انتهى).

Artinya: "Terkait dampak dari merubah niat, ulama fikih merinci sbb:

a) Madzhab Hanafi berpendapat bahwa shalat tidak batal oleh niat untuk berubah ke shalat yang lain dan shalatnya tidak berubah. Shalatnya tetap sebagaimana niat yang pertama dengan syarat selagi ia belum takbirotul ihrom dengan niat yang baru. Seperti takbir dengan niat shalat sunnah saat sedang shalat fardhu atau sebaliknya; atau niat bermakmum saat sedang shalat sendirian atau sebaliknya; atau niat shalat qadha saat sedang shalat tepat waktu dan sebaliknya. Perubahan niat itu tidak membatalkan shalat kecuali apabila perubahan niat itu terjadi sebelum duduk terakhir dengan perkiraan waktu tahiyat. Apabila terjadi setelah duduk terakhir dan sebelum salam maka tidak batal.

b) Madzhab Maliki berpendapat: merubah niat karena lupa dari fardhu ke fardhu yang lain atau ke sunnah karena lupa, tanpa bacaan panjang dan tanpa rukuk itu dimaafkan. Ibnu Farhun berkata: mushalli (orang yg shalat) apabila merubah niatnya dari fardhu ke sunnah: i) apabila perubahan niatnya itu bermaksud untuk menghilangkan kefardhuan dan menolaknya maka batal - yakni batal fardhunya dan menjadi sunnah; ii) apabila tidak bermaksud menolak kefardhuan maka niat kedua tidak menghilangkan niat yang pertama. Karena sunnah itu yang dikehendaki bagi syari'. tuntutan yang mutlak itu ada dalam wajib. Maka ia menjadi niat muakkad, bukan khusus.

c) Madzhab Syafi'i berpendapat: Apabila mushalli (orang yg shalat) merubah niat shalat dari yang sedang dia lakukan ke shalat yang lain secara sengaja dan tahu dampak hukumnya maka batal shalatnya. Apabila karena udzur maka sah shalatnya dan berubah menjadi shalat sunnah. Hal itu dianalogikan dengan orang yang menduga sudah masuk waktu shalat lalu takbirotul ihrom shalat fardhu dan setelah itu baru menyadari belum masuk waktu shalat lalu dia merubah shalatnya ke sunnah; atau ia merubah shalatnya yg sendirian ke sunnah agar dapat mengikuti shalat berjamaah. Akan tetapi apabila ia merubah niatnya ke sunnah yang tertentu (bukan mutlak) seperti dua rokaat dhuha maka tidak sah. Adapun apabila merubah niatnya tanpa sebab atau tanpa tujuan yang benar maka menurut pendapat terkuat hukumnya batal shalatnya.

d) Madzhab Hanbali berpendapat: Batalnya shalat itu terjadi apabila mushalli merubah niat dari shalat fardhu ke shalat wajib yang lain. Dalam kondisi ini maka shalatnya berubah menjadi shalat sunnah. Apabila ia merubah niat dari shalat fardhu ke shalat sunnah, maka shalatnya tidak batal tetapi makruh. Kecuali apabila perubahan niat itu untuk tujuan yang benar maka tidak makruh. Dalam satu riwayat dikatakan: bahwa shalatnya tidak sah sebagaimana orang yang dapat mengikuti shalat berjamaah sedangkan dia shalat sendirian, lalu mengucap salam dari dua rakaat agar dapat ikut shalat berjemaah. Maka dalam hal ini sunnah baginya untuk merubah niat ke shalat sunnah dan mengucapkan salam apabila sampai dua rakaat. Karena niat fardhu itu mengandung niat shalat sunnah. Apabila ia memutus niat fardhu maka masih tersisa niat shalat sunnah.

Dari uraian ini menjadi jelas bahwa ulama fikih bersepakat bahwa merubah niat shalat dari sunnah ke fardhu itu tidak ada pengaruhnya dan tetap menjadi sunnah. Hal itu terjadi karena ini berarti membangun yang kuat dari yang lemah itu tidak benar."

Kesimpulan

Merubah niat shalat, saat sedang shalat, dari fardhu ke fardhu yang lain itu tidak sah. Baik menurut madzhab Syafi'i maupun menurut tiga madzhab yang lain. Adapun merubah niat dari fardhu ke sunnah mutlak itu boleh terutama bagi mushalli yang sedang shalat fardhu sendirian dan ingin bergabung dengan shalat berjamaah.
Baca detail: Shalat Berjamaah
LihatTutupKomentar