Ragu anak hasil hubungan setelah nikah atau sebelum nikah, siapa walinya?

Ragu anak hasil hubungan setelah nikah atau sebelum nikah, siapa walinya? Saya berzina dg laki2 yg sekarang menjadi suami saya. Saat itu saya belum ta
Ragu anak hasil hubungan setelah nikah atau sebelum nikah, siapa walinya?

Assalamu'alaikum ustadz, mohon pencerahannya untuk masalah rumah tangga yg sedang saya hadapi ini ustadz Begini ustadz, saya menikah kurang lebih sudah 4 tahun.

Sebelum menikah saya sudah melakukan kesalahan besar. Saya berzina dg laki2 yg sekarang menjadi suami saya. Saat itu saya belum tau saya hamil atau tidak. Lalu kami melakukan akad nikah. Sesudah akad nikah selang 2 jam sebelum kami berhubungan lagi saya mengeluarkan darah, saat itu saya yakini itu adalah darah haid yg berarti saya tidak hamil. Selang beberapa minggu saya baru tahu saya hamil.

Tapi kok tiba2 saya Ragu darah yg keluar setelah akad itu darah haid ataukah darah implantasi (darah tanda awal hamil) sembilan bulan kemudian saya melahirkan anak perempuan.

Seiring berjalannya waktu saya sering bertengkar dg suami saya hingga suami pernah mengucapkan talak kinayah saat saya mengandung anak kedua kami. Setiap setelah dia mengucapkan talak kinayah itu saya selalu bertanya apakah dia niat mentalak saya atau tidak dia bilang tidak namun saya tidak begitu saja percaya sama dia.

Dan sering kali saya meminta dia untuk bilang rujuk ke saya meskipun dia mengaku tidak pernah ada niat talak sama saya. Maksud saya menyuruhnya bilang rujuk untuk jaga2 saja. Selang beberapa bulan saya melahirkan anak kedua saya yg berjenis kelamin laki2. Tapi suami saya sempat mengatakan kata kinayah dg maksud berandai2 dan juga becanda dan dia selalu mengaku tidak berniat talak.

Tapi saya makin2 was2 dg ucapan suami saya hingga pada akhirnya saya meminta dia untuk melakukan tajdid nikah untuk menuju rumah tangga yg lebih baik. Saya bilang sama dia kalau tajdidun nikah yg kami lakukan untuk memberi kenyamanan dan memantapkan hati saya.

Saya masih saja was2 ustadz, malah saya berfikir jangan2 saat saya mengandung anak yg pertama, suami secara tidak sadar sudah mengucapkan kalimat talak shorih, lalu saya terus mengingat- ingat. Dan ternyata memang iya saya pernah bertanya pada suami dan saya bilang gini, "nak aku koyok ngono piye? (kalau aku yg seperti itu gimana?) lalu suami menjawab dg kalimat *pegat*. Entah bagaimana kalimatnya saya lupa shorih atau kinayah. dan juga suami jg minim ilmu agama. Taunya talak itu terjadi kalau memang diniati. Saya juga lupa itu terjadi sebelum saya tau kalau saya hamil atau sesudah hamil? Lalu bagaiman hukum pernikahan saya dg suami saya dan juga bagaimana hukum perwalian anak saya, apalagi anak saya yg pertama ini perempuan bagaimana dg wali nikahnya nnti bisakah diwalikan suami/anak laki2 saya?

Wassalamu'alaikum...

JAWABAN

1. Wali nikah anak anda yang perempuan adalah ayahnya. Yakni suami anda. Karena nikahnya sah. Sama saja kehamilan itu timbul karena zina yang dilakukan sebelum akad nikah atau tidak. Baca detail: Menikahi Wanita Hamil Zina, Bolehkah?

2. Ucapan talak kinayah tidak jatuh talak apabila tidak ada niat. Dan dalam soal ini, ucapan suami yang menyatakan tidak niat itu menjadi bukti kuat dan dianggap oleh syariah. Baca detail: Pengakuan Suami Soal Talak yang Dianggap

3. Ucapan "pegat" dari suami tidak berakibat talak sama sekali karena dalam konteks berandai-andai. Itu sama dengan janji talak yang tidak berdampak cerai. Baca detail: Janji talak, perintah talak, talak masa depan

TAUKID TALAK

Assalamualaikum, saya ingin bertanya tentang taukid talak. Saya bingung sebenernya tentang taukid talak ini gimana? Saya mendengar dan membaca banyak tentang taukid talak ini dan berikut pendapat2nya

1. Taukid talak itu tidak boleh ada jeda dan harus bersambung antara kalimat satu dgn yg lain

2. Boleh ada jeda bernafas

3. Boleh ada jeda menarik nafas

4. Tidak dijelaskan ada jeda atau tidak

5. Jika ada jeda maka ditanyakan pada suami niat berapa

Saya bingung banyak sekali pendapat terkait taukid ini. Mohon penjelasannya sebenernya mana yg harus saya ikuti?

JAWABAN

Ikuti yang mudah dan memberi solusi bagi anda. Pendapat yang berbeda dari kalangan mujtahid (ulama level tertinggi) adalah sama-sama benar. Dan kita boleh memilih salahsatunya. Baca detail: Ijtihad

Baca juga: Orang Awam Tidak Wajib Ikut Satu Madzhab
LihatTutupKomentar