Biografi Sayid Amin Kutbi Makkah al-Mukarramah
Biografi Sayid Amin Kutbi Makkah al-Mukarramah
Daftar Isi
As-Sayyid Muhammad bin Amin al-Kutbi
Ringkasan Biografi Hidup "Nātiq al-'Ashr"
Fadhīlat al-Imām al-'Allāmah
Mawlānā as-Sayyid Muhammad bin Amin al-Kutbi
al-Hanafi al-'Umrāni al-Idrīsī al-Hasani al-Hāshimi al-Makki
Pertama: Nasab Mulia dan Tingginya
Beliau adalah as-Sayyid asy-Syarīf Muhammad Amin, putra as-Sayyid Amin, putra as-Sayyid Muhammad Shālih, putra as-Sayyid Muhammad Husain al-Hanafi yang terkenal dengan al-Kutbi, mufti Mekkah dan salah seorang ulama Al-Azhar asy-Syarif. Nasab mulianya kembali kepada as-Sayyid Idrīs, putra as-Sayyid 'Abdullah al-Mahdh, putra as-Sayyid al-Hasan al-Mutsannā, putra Imam kita al-Hasan as-Sibth radhiyallahu 'anhu, putra Sayyidina 'Ali bin Abi Thālib radhiyallahu 'anhu dan putra Sayyidah Fāthimah az-Zahrā' 'alaihā ar-ridhwān wa as-salām—putri Sayyidina dan cahaya mata kita, Nabi kita yang agung dan paling mulia, Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wa ālihi wa sallam.
Kedua: Kelahiran, Masa Kecil, dan Pendidikannya
Beliau lahir pada bulan Dzulhijjah tahun 1327 H di rumah ayahnya di Mekkah al-Mukarramah, kawasan Harah al-Bāb.
Pada usia tujuh tahun, beliau dimasukkan ke kuttāb Ahmad Hammām di Masjid Khālid bin al-Walīd radhiyallahu 'anhu, dan tetap di sana hingga menyelesaikan hafalan Al-Qur'an secara luar kepala pada usia sepuluh tahun.
Kemudian ayahnya memasukkannya ke Madrasah al-Falāh di Mekkah al-Mukarramah, dan beliau bergabung dengan bagian huffāzh (penghafal Al-Qur'an), sehingga beliau membacanya dengan tajwid di tangan asy-Syaikh Hasan as-Sannāri al-Bakri.
Setelah memperoleh ijazah dengan prestasi unggul, beliau memulai studi beragam dalam ilmu Al-Qur'an, tafsir, hadits, sirah nabawiyah, fiqih beserta ushulnya, farāidh (ilmu waris), sejarah Islam, serta ilmu bahasa Arab di tangan para ulama besar zamannya, sambil rutin menghadiri halaqah ilmu di Haram Mekkah asy-Syarif.
Ketiga: Para Guru dan Syaikhnya
- Asy-Syaikh 'Abdullah Hamdūh (direktur Madrasah al-Falāh)
- Asy-Syaikh 'Īsā bin Muhammad Rawwās
- Asy-Syaikh Muhammad Amin bin Ibrāhīm Fūdah
- Asy-Syaikh 'Umar bin Hamdān al-Mahrasī (guru di Masjidil Haram); beliau menemani beliau selama beberapa tahun setelah lulus hingga mendalami ilmu dan memperoleh berbagai ijazah darinya
- Asy-Syaikh Ahmad Nādhirīn
- Asy-Syaikh Sālim Syafī
- Asy-Syaikh Yahyā Amān (dijuluki Abu Hanīfah ash-Shaghīr)
- Asy-Syaikh as-Sayyid Muhammad al-'Arabī at-Tabbānī
- Asy-Syaikh Muhammad ath-Thayyib
- Asy-Syaikh khaththāth Sulaimān Ghazzāwī
- Asy-Syaikh as-Sayyid Ahmad Hāmid at-Tījī; beliau memperoleh ijazah qirā'āt Al-Qur'an yang dikenal darinya.
Keempat: Keunggulan Sang Ulama yang Beramal
- Beliau memperoleh ijazah tinggi dari Madrasah al-Falāh pada usia sembilan belas tahun, dan karena keunggulan serta kecerdasannya, beliau diangkat sebagai guru di madrasah yang sama.
- Kemudian menjadi guru di Madrasah Tahdhīr al-Ba'atsāt.
- Lalu menjadi guru dan dosen di Kuliah Persiapan Guru di Mekkah al-Mukarramah.
- Karena keunggulan khusus dan penguasaan ilmunya, Kementerian Pendidikan menugaskannya mengajar di Haram Mekkah.
- Keunggulannya terlihat dalam karya-karyanya, yang terpenting adalah kitabnya (Basyīr al-Kirām bi Bulūgh al-Marām li al-Hāfizh Ibni Hajar) — catatan ringan atas kitab Bulūgh al-Marām.
- Beliau luas wawasannya, banyak hafalannya dalam berbagai ilmu Arab seperti nahwu, balāghah, dan qashā'id, sehingga dijuluki "Sibawayh al-Hijāz".
- Gaya bahasanya mudah, menarik, cerdas dalam berimprovisasi, penuh peribahasa tepat, berakhlak mulia dan kepribadian menyenangkan.
- Kesibukan menuntut ilmu membuatnya menunda pernikahan meskipun pernah menikah namun tidak berlanjut.
- Beliau memiliki ketertarikan khusus pada sirah nabawiyah, khashā'ish syarīfah, dan sejarah Islam.
- Beliau memiliki halaqah terkenal di Bāb al-Bāsithiyyah, kemudian Bāb Ibrāhīm, lalu kembali ke Bāb al-Bāsithiyyah.
- Puisi beliau dimulai dari acara sosial seperti pujian, elegi, dan ucapan selamat, kemudian beralih sepenuhnya ke madh (pujian) Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam hingga lima tahun sebelum wafatnya.
- Beliau memiliki diwan berjudul Diwān al-Muhibb al-Amīn fī Madh Sayyid al-Mursalīn, dan dalam edisi lain berjudul Nafh ath-Thīb fī Madh al-Habīb.
Kelima: Sifat-sifatnya
Beliau rahimahullah adalah pria bertubuh sedang, berkulit putih kemerahan, jenggot tipis, dahi lebar, hidung mancung, mata lebar, wajahnya memancarkan cahaya.
Beliau biasanya mengenakan pakaian dan jubah putih, di musim dingin jubah berwarna, memakai thāqiyyah di kepala dengan ghutrah di atasnya, kadang dengan 'imāmah, kadang tanpa.
Beliau rahimahullah berakhlak lembut, jiwa lapang, ramah bergaul, mudah bergaul, membenci sikap memaksakan diri, berlebihan, kaku, dan berpura-pura. Cerdas, cepat tanggap, hafalan kuat, ramah, selalu tersenyum, tenang, sabar, lembut dalam urusan, wara', membenci ketenaran dan popularitas, penyayang, dermawan, suka melayani, tawadhu, berprasangka baik, tidak pernah menyebut orang dengan buruk, membenci perdebatan dan ghibah, berbakti kepada kerabat, tidak menolak peminta.
Rumahnya rahimahullah di Bāb al-Bāsithiyyah kemudian Bi'r Bulailah selalu terbuka bagi penuntut ilmu, murid, dan pengunjung Haram. Waktu kunjungan pada musim haji setelah 'ashar hingga pukul 10 malam, bahkan sepanjang hari, sambil memenuhi kebutuhan tamu seperti makanan dan lainnya.
Cinta kepada al-Mushthafā shallallahu 'alaihi wa sallam menguasai perasaan dan emosinya hingga menguasai hatinya. Beliau sering mengunjungi makam Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, dan puisi serta pujiannya adalah hembusan dari hubungan tersebut.
Keenam: Wafatnya Menuju Kekasih Tertinggi
Di akhir hayatnya, beliau rahimahullah meninggalkan pengajaran dan pergaulan dengan orang banyak karena zuhud dan mengkhususkan diri untuk ibadah serta khalwat bersama Allah 'azza wa jalla.
Beliau berpulang ke sisi Tuhannya pada waktu zhuhur hari Senin, tanggal 4 Muharram 1404 H, pada usia 77 tahun. Beliau dimakamkan di Jannat al-Ma'lāh, di sebelah kanan menghadap Ummul Mu'minīn Sayyidah Khadījah radhiyallahu 'anhā.
Kepergiannya meninggalkan duka dan kesedihan mendalam di hati banyak orang. Aku merasa tak mampu mengungkapkan kehilangan seorang ulama agung seperti beliau; di saat itu kata-kata terhenti.
(Nātiq al-'Ashr)
Julukan yang diberikan oleh as-Sayyid Hasan bin Muhammad Fada'q kepadanya.
(Amīn Madh an-Nabī)
Julukan yang beliau berikan pada dirinya sendiri dalam qasidah terkenalnya:
"Aku adalah al-Amīn dalam memuji Nabi, jika penyeru berseru dan al-Mushthafā berkata: Bawakan!"
Semoga Allah merahmati beliau, memberikan manfaat kepada kami melalui ilmu, amal, dan rahasianya di dunia dan akhirat. Āmīn.
Dikutip dari Diwan Fadhīlat al-Imām al-'Allāmah as-Sayyid Muhammad Amin al-Kutbi
(Nafh ath-Thīb fī Madh al-Habīb shallallahu 'alaihi wa sallam)
Diedit oleh: (Muhammad Fā'iz ad-Durrah) 'afā Allāh 'anhu
