Wali Nikah Anak Zina

Wali Nikah anak zina

Siapa yang menjadi wali nikah atas perkawinan seorang perempuan yang berasal dari perzinahan tapi ibu dan bapaknya menikah saat kandugan berusia 5 bulan? Apakah wali hakim atau ayah sendiri?

PERTANYAAN

asasalamualaikum pak ustadz,

perkenalkan nama saya psp, dalam waktu dekat ini saya mempunyai rencana menikah. Yang menjadi ganjalan
dalam hati saya adalah persoalan orang tua saya. Sekedar info ustad, saya adalah anak dari MBA (Married By Accident).

Yang saya ingin tanyakan adalah siapa yang berhak untuk menikahkan saya? Ayah kandung saya ataukah Wali Hakim?

Selain itu apa saja akibat hukumnya dalam islam akibat anak di luar nikah ini? Ayah dan ibu saya sudah menikah pada usia kandungannya memasuki 5 bulan, bagaimana kejelasan statusnya pak ustad?

Terima kasih atas penjelasannya

Wassalam,

JAWABAN

Ada dua 3 (tiga) tipe anak hasil zina atau yang lahir dari hubungan seks di luar nikah. Pertama, kedua orang tua biologis anak tidak menikah selama anak hamil. Maka anak ini statusnya disebut anak zina. Kalau perempuan, yang jadi wali nikahnya adalah wali hakim (KUA untuk Indonesia). Lihat Anak Zina.

Kedua, kedua orang tua biologis si anak menikah saat anak dalam kandungan. Maka, ayah biologisnya sah menjadi ayah si anak dan berhak menjadi wali nikah. Info detail.

Ketiga, ibu biologis anak menikah dengan pria lain (bukan dengan ayah biologis anak). Maka, wali nikahnya adalah wali hakim (pegawai KUA). Info detail.

***

Ayah biologis Anda yang menikahi ibu Anda pada saat kehamilan usia 5 bulan berhak menjadi wali nikah Anda. KHI (Kompilasi Hukum Islam) Bab VIII pasal 53 ayat (3) menyatakan "Dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil, tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir."

Itu artinya status perkawinan ayah & ibu Anda sah. Dan status anak juga sah. Lebih detil soal status anak lihat di sini.

Jadi, status Anda sama dengan status anak-anak yang lain. Karena itu, tidak ada masalah dengan pernikahan Anda dengan ayah kandung Anda sebagai wali.

***

PENDAPAT MADZHAB 4 (EMPAT) TENTANG WANITA HAMIL ZINA

Berikut pandangan mayoritas ulama dari keempat madzhab yaitu Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hanbali.

Pendapat Pertama: Madzhab Maliki dan Hanbali berpendapat bahwa tidak boleh menikahi wanita hamil zina baik oleh lelaki yang menzinahinya atau oleh pria yang lain kecuali setelah melahirkan anak zina tersebut.

Alasannya adalah hadits sahih riwayat Abu Daud dan Hakim yang menyatakan: لا توطأ حامل حتى تضع (Artinya: Wanita hamil zina tidak boleh di-jimak (dinikah) sampai melahirkan). Dan juga karena hadits riwayat Ibnul Musayyib yang berbunyi:

أن رجلاً تزوج امرأة، فلما أصابها وجدها حبلى، فرفع ذلك إلى النبي صلى الله عليه وسلم، ففرق بينهما
Artinya: Seorang laki-laki menikahi seorang perempuan. Ternyata dia hamil. Saat dilaporkan kejadian itu pada Nabi, beliau memisah keduanya.

Pendapat Kedua: Madzhab Syafi'i dan Hanafi berpendapat bahwa boleh menikahi wanita zina yang hamil karena tidak ada keharaman/kehormatan pada hubungan perzinahan dengan argumen tidak adanya hubungan nasab (kekerabatan) karena sabda Nabi riwayat Bukhari Muslim: الولد للفراش وللعاهر الحجر

Namun apabila wanita hamil zina itu menikah dengan lelaki lain (bukan yang menzinahinya), maka boleh menikah tapi tidak boleh berhubungan intim sampai melahirkan anak hasil zina tersebut. Berdasarkan pada hadits hasan riwayat Tirmidzi:
من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يسق ماءه زرع غيره
Artinya: Barangsiapa yang beriman pada Allah dan Hari Akhir maka hendaknya tidak menyiramkan airnya pada tanaman orang lain.

Apalagi wanita hamil itu menikah dengan pria yang menghamili, maka pria itu boleh berhubungan intim dengannya saat masih hamil. Demikian pendapat madzhab Hanafi dan Syafi'i.

Perlu dicatat, bahwa kebolehan menikahi wanita hamil menurut pendapat kedua tersebut apabila wanita tersebut bertaubat. Apabila tidak, maka tidak boleh berdasarkan pada QS An-Nur :3

الزَّانِي لا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ
Artinya: Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin.

Walaupun menurut pendapat kedua boleh menikahi wanita hamil, tapi status anak tetap bukan anaknya. Apabila mengikuti pendapat ini, maka wali nikah anak zina adalah wali hakim.

Pendapat ini berbeda dengan pandangan KHI (Kompilasi Hukum Islam) yang menganggap pernikahannya sah dan anaknya juga sah dan karena itu bapaknya berhak menjadi wali nikah.

Untuk langganan artikel Alkhoirot Net via Email gratis, klik di sini!

4 comments:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  2. assalamualaikum... gak da kata yang lebih sopan untuk judulnya???

    ReplyDelete
  3. @anas itc : tidak ada "kata sopan" utk dosa zina ataupun akibatnya , wassalam.

    @Ustad : terima kasih pak ustad utk penjelasan dan dalilnya sukron

    ReplyDelete

Kirim konsultasi Agama ke: alkhoirot@gmail.com Cara Konsultasi lihat di sini!