Hukum Perkawinan Beda Agama dalam Islam

Hukum Perkawinan Beda Agama dalam Islam

Asslm ustaz, Saya sudah baca blog ustaz dan saya suka karena uraian nya objektif dan wawasan sangat luas. untuk itu saya mengajukan pertanyaan sbb "
Saya lelaki muslim 50 tahun 1 istri 4 anak yang besar 18 tahun yang kecil 11 tahun.

DAFTAR ISI
  1. Hukum Pria Muslim Menikah dengan Wanita Non-Muslim (Kristen Katolik)
  2. Hukum Pria Non-Muslim Menikah dengan Wanita Muslimah

PRIA MUSLIM MENIKAH DENGAN WANITA KRISTEN

1 tahun lalu saya bertemu dengan mantan pacar 28 tahun yang lalu. Wanita Jawa usia saat ini jalan 47 tahun anak 1. anaknya usia 16 tahun

Menurut keterangan anak itu adalah anak diluar nikah karena ia diperkosa saat masih muda dulu. Saya gak tahu benar atau tidak ceritany. Ia tinggal dan kerja di surabaya , anak dan ibunya di yogya , Ia beragama kristen katolik, .
singkat cerita kangen kangenan dan sampai akhirnya agar tidak terjerumus dalam dosa zina , saya ajak dia menikah .

Ia mau. dan ridla menjadi isri kedua dan ridla dengan kehidupan seperti ini (dia di surabaya dan saya di jakarta) bertemu sebulan sekali. kami sudah ketemu sebanyak 4 kali .

Untuk menikah, Ia menawarkan pemberkatan di gereja, Saya menolak, Saya mau menikah dengan cara islam karena kalau dengan cara katolik tetap saja saya tidak menikah dan zina itu yang saya tidak mau . Ia setuju nikah dengan cara islam. Saya PNS dan sudah punya istri. sehingga tidak mungkin menikah di KUA

Kalau mau pakai wali nasab, Ayahnya sudah meninggal, kakak dan adik lelaki katolik dan pasti tidak menyetujui pernikahan ini karena saya sudah beristri. Wali nasab yang lain dari pihak ayah juga tidak menyetujui ya karena saya sudah punya istri itu,
Ia juga ingin agar keluarganya tidak tahu karena saat ini ibunya sakit Jantung parah dan dikhawatirkan kalau mendengar pernikahan ini jantungnya akan makin parah.

Yang jadi pertanyaan
1. apakah saya dan dia bisa menikah dengan menggunakan Wali Muhakkam/hakim.
2. Apakah ia harus baca syahadat lebih dulu dulu agar bisa menggunakan wali muhakkam ini
3. Apakah bisa wanita ini menunjuk wali muhakkam walau ia katolik
4. bagaiaman tata cara atau rukun nikah ini

Saya takut kena hukum Zina ustaz , tolong saya ustaz
AG

JAWABAN

Jawaban pertanyaan ke-1: Boleh.
Jawaban pertanyaan ke-2: Tidak harus. Ia dapat tetap sebagai wanita nasrani tanpa perlu masuk Islam.
Jawaban pertanyaan ke-3: Bisa. Tapi wali hakimnya harus muslim.
Jawaban pertanyaan ke-4: Rukun nikah sama dengan nikah yang biasa.
Dalam kasus Anda intinya sbb: (a) Calon istri menunjuk wali hakim; (b) Menentukan mahar; (c) Wali hakim menikahkan (ijab) atas nama perempuan tadi; (d) Anda menerima pernikahan itu (kabul); (e) disaksikan oleh minimal 2 (dua) orang saksi. Lebih detail lihat: Rukun Pernikahan dan Syarat nikah.

Uraian dan dalil pernikahan pria muslim dengan wanita nonmuslim (Nasrani dan Yahudi) lihat di bawah:

LAKI-LAKI MUSLIM BOLEH MENIKAHI WANITA NASRANI DAN YAHUDI (AHLUL KITAB)

Pertama-tama perlu diketahui bahwa wanita Nasrani boleh dinikahi laki-laki muslim. Allah berfirman dalam QS Al-Maidah 5:5
الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌِ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ
Artinya: Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (Dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu.

Dalam QS 5:5 di atas Allah mensyaratkan bolehnya menikahi wanita Nasrani haruslah wanita yang baik-baik, bukan wanita nakal.

Sebagian Sahabat Nabi juga menikahi wanita ahlul kitab (Yahudi/Nasrani) seperti Utsman bin Affan dan Talhah bin Ubaidillah yang menikah dengan wanita Nasrani dan Hudzaifah yang menikahi wanita Yahudi.

SIAPA WALI NIKAH CALON MEMPELAI WANITA NASRANI (KRISTEN/KATOLIK)

Wali nikah dari calon mempelai wanita Nasrani adalah bapaknya, kalau ayahnya tidak ada maka pindah ke wali kerabat (nasab) yang lain, lihat Panduan Pernikahan Islam. Menurut madzhab Hanafi, Syafi'i dan Hanbali, sah pernikahan wanita Nasrani yang menikah dengan lelaki muslim yang dinikahkan oleh ayahnya yang beragama Nasrani. Seperti yang dikutip oleh Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Mughni berikut:
إذا تزوج المسلم ذمية فوليها الكافر يزوجها إياه ذكره أبو الخطاب وهو قول أبو حنيفة والشافعي لأنه وليها فصح تزويجه لها كما لو زوجها كافراً

Apabila, wali yang ada menolak, maka kekuasaan untuk menikahkan berpindah pada Wali Hakim yaitu pegawai KUA, naib desa, atau ulama/kyai atau siapa saja yang dianggap adil (baca, komitmen pada agama). Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Mughni mengatakan:

فإن لم يوجد للمرأة ولي ولا ذو سلطان ، فعن أحمد ما يدل على أنه يزوجها رجل عدل بإذنها
Artinya: Apabila calon mempelai wanita tidak ada wali (nasab) dan tidak ada wali hakim, maka seorang laki-laki yang adil boleh menikahkannya atas seijin wanita tersebut. Lebih detail lihat: Perkawinan dengan Wanita Ahli Kitab (Kristen Yahudi) dalam Islam.

Fatwa dan uraian mendetail oleh pakar fiqih asal Mesir Yusuf Qaradawi download di sini. (format doc dan dalam bahasa Arab)
___________________________________________________________________


HUKUM PRIA NON-MUSLIM MENIKAH DENGAN WANITA MUSLIMAH

PERTANYAAN

Assalammualaikum,

Saya mengetahui website pesantren Al-Khoirot dari pencarian google.

Saya sedang mencoba mempelajari Islam. Jujur, shalat pun saya belum bisa. Saya datang dari keluarga keturunan. Banyak sekali pertanyaan2 di kepala saya tentang ajaran2 Islam yg belum saya temukan jawabannya.

Saya sekarang tinggal di Eropa, tepatnya di Spanyol. Maka dari itu agak sulit untuk saya mencari pembimbing.

Sekiranya ustadz bisa memberikan sedikit waktu untuk membimbing saya, saya mengucapkan terima kasih yg sebesar2 nya.

Saya ingin tanya ustadz, orang tua saya berbeda agama. Ibu saya seorang muslim, bapak saya seorang kristen. Tp pd saat mrk menikah, keduanya blm benar2 menjalani agama masing2. Setelah krg lbh 11 thn menikah, kemudian mrk secara bersamaan menjalani agamanya masing2 dgn cukup taat.

Skrg keluarga dari ibu saya khususnya menghimbau spy ibu saya bercerai, karena dalam Islam itu termasuk zina.

Jujur ustadz, saya bingung, disamping saya tdk ingin orgtua saya bercerai, tp saya jg tdk ingin dlm pernikahan mrk dianggap berzina.

Bagaimana menurut pandangan ustadz?
Terima kasih byk sebelumnya.
YE

JAWABAN

First of all, saya apresiasi keinginan Anda untuk belajar Islam. Semoga keinginan Anda itu dibarengi dengan usaha yang maksimal sehingga wawasan keislaman Anda menjadi baik dan mantap untuk menjadi muslimah.

Untuk tahap pertama, saya sarankan Anda untuk memupuk kemantapan iman Anda dengan banyak membaca kisah-kisah mualaf (orang-orang yang baru masuk Islam) yang dapat Anda jumpai baik di sejumlah situs maupun youtube.com. Membaca kisah mereka akan sangat membantu Anda untuk merasa mantap dalam memilih Islam sebagai agama pedoman hidup Anda. Setelah itu, secara bertahap Anda dapat membaca panduan-panduan dasar tentang shalat, puasa Ramadan, zakat dan haji yang merupakan 5 pilar dasar yang harus dilakukan seorang practicing muslim.

Tentang pertanyaan Anda terkait dengan perkawinan orang tua yang berbeda agama

Quran, Hadits Nabi dan Ulama ahli hukum Islam dari berbagai madzhab (Syafi'i, Hanbali, Maliki, Hanafi) sepakat bahwa perkawinan antara pria non-muslim dengan wanita muslimah hukumnya haram dan apabila terjadi pernikahan seperti itu maka hukum perkawinannya tidak sah. Ini berbeda dalam kasus sebaliknya -- pria muslim menikah dengan wanita nonmuslim.

Berdasarkan Qur'an Surah Al-Mumtahanah 60:10

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا جَاءَكُمُ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ اللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَانِهِنَّ فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka.

Dalam Quran Surah Al Baqarah 2:221 Allah berfirman:

وَلَا تُنكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا
Artinya: Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman.

Karena bagitu jelas dan eksplisitnya larangan bagi wanita muslimah menikah dengan pria muslim, maka tidak ada satupun ulama yang berbeda pendapat akan hal ini.

Oleh karena itu, maka opsi terbaik apabila Anda ingin melihat kedua orang tua tetap bersama adalah dengan meminta ayah Anda untuk menjadi muslim. Ini jalan terbaik. Kalau ayah Anda bersedia masuk Islam, maka perkawinan hendaknya diperbarui dengan cara Islam. Kalau opsi ini tidak bisa dilakukan, maka tidak ada jalan lain kecuali berpisah.

Dalam situasi seperti ini, bagi seorang yang yakin akan kebenaran Islam tidaklah berat untuk melakukan opsi manapun.

Uraian mendetail oleh pakar fiqih asal Mesir Yusuf Qaradawi download di sini. (format doc dan dalam bahasa Arab)

Untuk langganan artikel Alkhoirot Net via Email gratis, klik di sini!

18 comments:

  1. mohon koreksi,
    menurut saya yang dimaksud dengan ahli kitab itu yahudi/nasrani yg percaya bahwa Tuhan semesta alam itu adalah Allah swt dan tahu nabi muhammad rasulullah, mereka memiliki kitab seperti anjil,taurat dan zabur, kitab mereka bukan al-qur'an. yg mana kitab mereka masih asli belum ada campur tangan manusia.

    bukan seperti ahli kitab yg sekarang, yg percaya kepada yesus sebagai tuhan. dan kitabnya sudah di utak atik manusia.

    bagaimana kita bisa bilang seorang muslim diperbolehkan menikah dengan nasrani yg jelas2 memiliki aqidah yg berbeda ? islam meyakini Allah swt sebagai Tuhan, nasrani/yahudi tidak meyakini Allah swt sebagai Tuhan.

    ahli kitab terbagi 3 :
    1. ahli kitab yg percaya pada Allah swt dan nabi muhammad adalah rasulullah, tetapi mereka memiliki kitab taurat, injil dan zabur yg masih asli

    2. ahli kitab yg percaya kepada Allah swt tapi tidak percaya nabi muhammad sebagai rasulullah

    3. ahli kitab yg tidak percaya kepada Allah swt dan nabi muhammad sebagai rasulullah

    apajadinya kalau dalam satu keluarga, masing2 memiliki Tuhan yg berbeda ?

    dalam Al-Qur'an banyak kata2 ahli kitab, dan yg dimaksud ahli kitab bukanlah satu

    wassalaam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anda ngaji dulu yg benar kalau ingin diskusi ilmiah. Jangan pakai "menurut saya". Boleh dan tidak boleh dalam agama itu domainnya ahli hukum (faqih).

      Delete
  2. saya masih bingung, dan masih ragu tentang dibolehkannya laki laki muslim menikahi wanita non muslim. saya sedikit setuju dengan comment yang pertama mengenai bahwa boleh kalau wanita non muslimnya jika ia benar2 mengimani kitab yang masih asli. dan saya rasa sekarang udah gak ada. hal itu juga pernah saya dengar dari seorang ustad yang mengatakan kita boleh menikahi wanita nasrani, jahudi tapi mereka yang benar2 mengikuti ajaran Nabi Isa & Nabi Musa yang asli. dengan kata lain belum menyimpang.
    apa iya kita islam, istri kita nasrani, jahudi, kita sholat, puasa dll. istri kita ke gereja, yang jahudi ntah kemana. bisa kayak gitu...? gak Zinah kita menyetubuhinya...?
    terus nasib anaknya gimana,...? islam..? kristen..? atau kalau anaknya 4, yang 2 islam, 2 sisanya lagi kristen/Jahudi...?
    tolong dibalas comment saya ini pak, dengan sejelas jelasnya. kemudian semua tanda tanya di comment saya itu juga perlu dijawab juga. agar saya paham betul. jadi saya mungkin bisa berbagi pengetahuan dengan teman nantinya. jadi jika ada seseorang atau teman yang nantinya dilema dengan masalah seperti ini, saya tinggal bilang ke dia " nikah aja, Islam membolehkan koq. gak percaya ? baca aja di artikel www.alkhoirot.net. "
    sebab, baru kali ini saya mendengar penjelasan yang begitu membolehkannya laki laki muslim menikah dengan wanita non mslim tanpa ada kalimat "dengan catatan", atau kata "asalkan" dll....
    saya sangat berterima kasih jika Bapak berkenan menjelaskannya. mohon maaf bila ada kata2 saya yang salah/tak sepantasnya...

    ReplyDelete
  3. alkhoirot.netJanuary 25, 2013

    Uraian lebih detail lengkap dg pendapat ulama fiqh dalam teks Arab lihat Perkawinan Beda Agama dalam Islam

    ReplyDelete
    Replies
    1. yang pertama : Dalam QS 2:221 Allah berfirman

      “Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” [1]

      Kemudian yang kedua: Allah berfirman dalam QS Al-Maidah 5:5 yang Artinya:

      Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (Dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu.

      yang membuat saya bertanya tanya, pada QS 2:221 Allah melarang keras pernikahan dengan wanita non muslim.
      kemudian pada QS Al-Maidah 5:5 Allah SWT membolehkan asalkan wanita itu beriman.

      kesimpulan pada artikel yang anda sarankan adalah membolehkan. malah Imam Nawawi menegaskan boleh tanpa syarat apapun baik Nasrani/Jahudi dulu maupun sekarang.

      pertanyaan saya, bagaimana tanggapan kita jika ada pihak diluar Islam yang sedang meneliti, mempelajari & telah membaca kedua ayat diatas dan kemudian dia berpendapat bahwa Allah itu tidak konsisten dalam menetapkan sesuatu ?

      pendapat saya, mungkinkah begini. awalnya Allah SWT menetapkan di firmanNya ttg larangan pernikahan dengan non muslim. kemudian Allah SWT berfirman kembali dan membolehkan pernikahan dgn wanita non muslim. tidak dijelaskan kenapa, tapi yang pastinya hanya Allah SWT yang mengetahuinya. jadi, dengan kata lain, firman yang pertama harus kita abaikan karna telah ada Firman yang baru mengenai hal itu (bahasa modern nya telah direvisi)...

      mohon tanggapannya, sebelumnya terima kasih. saya mohon maaf jika ada perkataan saya yang tidak pantas. dan saya mohon Ampun kepada Allah SWT.

      Delete
    2. alkhoirot.netJanuary 26, 2013

      Lebih tepatnya ada pengecualian bagi nonmuslim ahli kitab (Kristen Yahudi). Termasuk bolehnya memakan binatang yg mereka sembelih. Kalau anda tertarik ilmu agama, ada baiknya belajar ilmu agama lebih dalam dan mendasar biar tidak terjebak pada mereka-reka. Jangan gunakan logika ilmu umum untuk "membedah" keilmuan yg berbeda.

      Delete
    3. hmmmmmm.......
      jadi, para pakar Islam/ulama bila membuat fatwa atau memberikan suatu pendapat berdasarkan apa ? bukan pikiran mereka ? mereka toh juga manusia, bukan nabi apalagi Tuhan. Imam Syafii, Hambali, ghazali, Nawawi dll. manusia kan....? jadi dari mana pendapat2 mereka itu kita ketahui tidak salah & mutlak kebenarannya sehingga patut kita ikuti & sesuai dengan keinginan Allah SWT....?
      tidakkah jelas Allah SWT menyebutkan di QS Almaidah 5:5 "wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab "
      yang beriman kepada Alkitab bukan BIBLE, beriman kepada Allah SWT tentunya, bukan Jesus, Bunda Maria, Roh Kudus (jadi wanita2 ini bisa dibilang beriman ?)

      dan Bapak/Ibu belum memberikan tanggapan tentang hal ini :
      bagaimana tanggapan kita jika ada pihak diluar Islam yang sedang meneliti, mempelajari & telah membaca kedua ayat diatas dan kemudian dia berpendapat bahwa Allah itu tidak konsisten dalam menetapkan sesuatu ?

      Terima kasih.,,

      Delete
  4. mana....mana...mana...?
    nggak jelas juga ne situs........

    ReplyDelete
    Replies
    1. alkhoirot.netFebruary 04, 2013

      1. Alkhoirot tidak melayani debat kusir.
      2. Alkhoirot tidak melayani komentar orang awam (saya tidak mengatakan sangat bodoh) yg memposisikan diri seperti orang ahli agama.
      3. Kalau ingin bertanya, kirim ke alkhorot@gmail.com.
      Untuk Sekedar membuka horizon berfikir anda lihat: Ijtihad dalam Islam.

      Delete
    2. Saya setuju dgn bapak Fredy Santoso.. Krn jika para wanita non muslim tersebut ditanya 'apakah dia menyembah Alloh atau Yesus?, 'apakah dia punya keyakinan ttg Rasulullah Muhammad? Pasti jawabannya berbeda dgn laki2 muslim yg akan menikahinya.. Krn kitab yg mereka percayai saat ini bukan berasal dr Al Quran

      Delete
    3. Alkhoirot.netOctober 28, 2013

      Lebih detail dg dalil Quran lihat -> http://www.fatihsyuhud.net/2012/11/pernikahan-beda-agama-dalam-islam/

      Delete
  5. saya wanita katolik ingin menikah dengan laki-laki muslim.
    apakah saya bisa menikah dengan dia melalui KUA tanpa harus pindah agama ?
    atau menikah secara katolik tanpa pindah agama?
    tolong saya, kami ber dua sama-sama tidak mau pindah agama.
    tapi kami tidak tau cara yang harus kami pilih itu bagaimana ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alkhoirot.netOctober 28, 2013

      Kirim pertanyaan ke: alkhoirot@gmail.com

      Delete
  6. Situsnya g bs bls pertanyaan freddy santoso

    ReplyDelete
  7. Di zaman nabi muhammad, tidak ada bedanya org yahudi dan nasrani dulu dgn skrg. Ttp sama.
    60thn setelah nabi isa di angkat, injil sudah di selewengkn.
    Jdi pngcualian utk wanita nasrani & yahudi itu, membedakn derajat muliany wanita musyrik pnyembah berhala & api dgn wanita musyrik, yg mngatakn tuhan ku Allah.

    ReplyDelete
  8. TANYA
    Adirianto Wong Farobian

    menurut pandangan fiqih ulama syalafiah.........
    bagaimana hukumnya orang islam menikah dengan orang yang berbeda agama sedangkan undang-undang di indosenia tidak memperbolehkan.........
    syukron....


    JAWAB

    Mbah Jenggot
    A.Nikah antara Muslim dengan Kafir Musyrik
    Allah ta'ala berfirman:

    ) ولا تنكحوا المشركات حتى يؤمن ولأمة مؤمنة خير من مشركة ولو أعجبتكم ولا تنكحوا المشركين حتى يؤمنوا ولعبد مؤمن خير من مشرك ولو أعجبكم أولئك يدعون إلى النار والله يدعو إلى الجنة والمغفرة بإذنه ويبين ءاياته للناس لعلهم يتذكرون( (سورة البقرة: 221)

    Maknanya: "Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran". (Q.S. al Baqarah:221)

    Berdasarkan ayat ini dan dalil-dalil yang lain, para ulama menyepakati (ijma') keharaman pernikahan antara seorang laki-laki atau perempuan muslim dengan orang-orang kafir musyrik laki-laki maupun perempuan.

    ReplyDelete
  9. B. Nikah antara Lelaki Muslim dengan Perempuan Kafir Ahli Kitab

    Allah ta'ala berfirman:

    ) اليوم أحل لكم الطيبات وطعام الذين أوتوا الكتاب حل لكم وطعامكم حل لهم والمحصنات من المؤمنات والمحصنات من الذين أوتوا الكتاب من قبلكم إذا ءاتيتموهن أجورهن محصنين غير مسافحين ولا متخذي أخدان ومن يكفر بالإيمان فقد حبط عمله وهو في الآخرة من الخاسرين( (سورة المائدة: 5)

    Maknanya: "Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang ahli kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar maskawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak pula menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi ". (Q.S. al Ma-idah:5)

    Berdasarkan ayat ini dan dalil-dalil yang lain, mayoritas para ulama berpendapat bolehnya pernikahan antara seorang laki-laki muslim dengan perempuan Ahli Kitab, yahudi dan nasrani saja [5]. Hanya saja menurut Imam Syafi'i Perempuan Ahli Kitab yang dimaksud (yang boleh dinikahi) adalah mereka yang memang memiliki nenek moyang yahudi sebelum diutusnya Nabi Isa dan yang memiliki nenek moyang nasrani sebelum diutusnya Nabi Muhammad. Sebagian ulama melarang lelaki muslim menikahi perempuan Ahli Kitab karena memang mengharamkannya dan sebagian lagi melarang dalam artian menganjurkan dan menasehatkan (Min Bab an-Nashihah wa at-Taujiih wa al Irsyad) agar tidak melakukan hal itu lebih karena alasan kemaslahatan. Mereka menganggap pernikahan semacam ini sedikit banyak akan membawa bahaya dan yang lebih besar maslahatnya adalah menghindari model pernikahan semacam ini.

    Pernikahan dengan perempuan Ahli Kitab ini dilakukan oleh para sahabat Nabi shallallahu 'alayhi wasallam, di antaranya: Utsman ibn 'Affan menikah dengan Ibnatul Farafishah al Kalabiyyah, seorang nasrani kemudian masuk Islam. Thalhah ibn Ubaidillah menikahi perempuan dari Bani Kulayb nasrani atau yahudi. Hudzaifah ibn al Yaman menikahi seorang perempuan yahudi. (Semua diiriwayatkan oleh al Bayhaqi dengan sanad yang sahih) [6].

    ReplyDelete
  10. C. Nikah antara Perempuan Muslimah dengan Lelaki Kafir Musyrik atau Kafir Ahli Kitab

    Allah ta'ala berfirman:

    ) ...فإن علمتموهن مؤمنات فلا ترجعوهن إلى الكفار لا هن حل لهم ولا هم يحلون لهن...( (سورة الممتحنة: 10)

    Maknanya: "…Maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka benar-benar beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka…". (Q.S. al Mumtahanah :10)

    Berdasarkan ayat ini dan dalil-dalil yang lain, para ulama menyepakati (ijma') keharaman pernikahan antara seorang perempuan muslim dengan laki-laki kafir, baik musyrik maupun Ahli Kitab. Orang yang menghalalkan model pernikahan semacam ini berarti telah mendustakan al Qur'an dan telah keluar dari Islam.
    ____________________________________

    [1]. Lihat Mukhtar ash-Shihah, h. 562.

    [2]. Syekh Abdul Ghani an-Nabulsi, al Fath ar-Rabbani wa al Faidl ar-Rahmani, h. 190-191, Syekh Abdullah al Harari, ash-Shirath al Mustaqim, h. 30

    [3]. Syekh Abdullah al Harari, Sharih al Bayaan, Jilid I, h. 172-189 dan ash-Shirath al Mustaqim, h. 18-21

    [4]. Syekh Muhammad Anwar al Kasymiri, Ikfar al Mulhidin, h. 124

    [5]. Tidak masuk ke dalamnya perempuan majusi. Karena Majusi disamakan dengan Ahli Kitab dalam hal jizyah saja, sementara dalam hal nikah dan sembelihan tetap diharamkan seperti orang-orang kafir lainnya. Dalam hadits disebutkan:

    " سنوا بهم (أي المجوس) سنة أهل الكتاب غير ناكحي نسائهم ولا ءآكلي ذبائحهم" رواه البيهقي في شعب الإيمان

    Lihat Syekh Muhammad al Huut al Beiruti, Mukhtashar al Badr al Munir Fi Takhrij Ahaadits asy-Syarh al Kabiir Li Ibn al Mulaqqin, h. 205
    [6]. Syekh Muhammad al Huut al Beiruti, Mukhtashar al Badr al Munir, h. 205

    Artikel Berhubungan Tentang AHLUL KITAB silahkan klik disini : http://www.facebook.com/home.php?sk=group_196355227053960&view=doc&id=207432645946218

    ReplyDelete

Kirim konsultasi Agama ke: alkhoirot@gmail.com Cara Konsultasi lihat di sini!