Sunday, May 11, 2014

Hukum Harta Syubhat dan Cara Membersihkan Harta Haram


Hukum Harta Syubhat dan Cara Membersihkan Harta Haram
HUKUM HARTA SYUBHAT YANG BERCAMPUR HALAL DAN HARAM

dan Cara Membersihkan Harta Haram
Hukum Harta Campuran Halal Haram seperti buka toko warung di kompleks pelacuran di mana pembelinya antara lain adalah perempuan PSK yang hartanya pasti haram.
Assalamu'alaikum wr.wb.

DAFTAR ISI
  1. Hukum Harta Campuran Halal Haram
    1. Pendapat Madzhab Syafi'i Tentang Harta Campuran Halal Haram
    2. Pendapat Madzhab Maliki dan Hanafi Tentang Harta Syubhat
    3. Pendapat Madzhab Hanbali Tentang Harta Syubhat
    4. Memakan Harta Halal adalah yang Utama
  2. Hukum Jual Beli Barang Haram
  3. Laba dari Harta Haram
  4. Cara Membersihkan Harta Haram
  5. CARA KONSULTASI SYARIAH ISLAM

HUKUM HARTA CAMPURAN HALAL HARAM (SYUBHAT)

Saya Marina, saya mendapatkan tugas menulis karya ilmiah dari universitas mengenai keberagamaan pedagang yang tinggal di lokalisasi. Saya ingin bertanya mengenai:
Apa hukum dari seorang pedagang yang menjual barang dagangan halal namun menerima uang dari pembeli yang merupakan Pekerja Seks Komersial? dan Dalil apa yang menyertainya.

Terimakasih.
Wassalamu'alaikum wr.wb.

JAWABAN

Pertanyaan Anda lebih tepatnya adalah: Bagaimana hukum membuka warung atau toko dalam kompleks pelacuran? Karena dalam kompleks pelacuran ada 2 macam harta. Yaitu, (a) harta perempuan PSK yang haram; dan (b) harta laki-laki hidung belang yang memakai jasa PSK yang halal atau bercampur halal dan haram (kita tidak tahu).

Pertama, hukum uang yang dihasilkan dari melacurkan diri adalah jelas haram karena uang itu berasal dari perbuatan haram yaitu perzinahan, suatu perbuatan dosa besar. Konsekuensi hukumnya adalah haram bagi siapapun untuk menerima dari uang haram tadi melalui transaksi halal apapun dengan orang yang diketahui hartanya 100% haram. Baik transaksi berupa jual beli, hutang piutang, pemberian, hibah, hadiah atau yang lainnya.

Dengan demikian, hukum yang dihasilkan warung/toko dari pembeli PSK adalah haram.

Kedua, pembeli yang berasal dari laki-laki hidung belang. Latarbelakang uangnya tidak jelas. Bisa halal kalau berasal dari perkara halal atau campuran halal dan haram. Maka jual beli dengan laki-laki hidung balang adalah halal.


HUKUM HARTA BERCAMPUR HALAL DAN HARAM

Nah, dengan demikian maka uang yang dihasilkan pemilik warung atau toko di kompleks pelacuran adalah campuran antara halal dan haram. Bagaimana hukum uang yang bercampur antara uang halal dan haram? Ulama ada 2 (dua) pendapat:

Pendapat pertama, apabila yang haram lebih banyak dari yang halal, maka status uang pemilik toko/warung hukumnya haram. Alasan lain adalah karena orang yang jualan di tempat haram itu sama dengan membantu secara tidak langsung terhadap orang-orang yang berbuat dosa.

Pendapat kedua, hukumnya halal walaupun yang halal lebih sedikit daripada yang haram. Ini disebut harta syubhat. Dan harta syubhat statusnya makruh (tidak sampai haram). Ini adalah pendapat yang dianggap lebih unggul dibanding yang pertama. Berdasarkan pada hadits sahih riwayat Bukhari Muslim:

فمن اتقى الشبهات فقد استبرأ لدينه وعرضه، ومن وقع في الشبهات وقع في الحرام، ‏كالراعي يرعى حول الحمى يوشك أن يقع فيه

Artinya: Barangsiapa yang takut syubhat maka dia telah membebaskan diri dari agama dan harga dirinya. Barang siapa yang terjatuh pada perkara syubhat, maka ia jatuh pada perkara haram. Sebagaimana penggembala yang menggebmlala di sekitar pagar, maka dia hampir mengenai pagar itu.

Dalam hadits di atas seorang muslim dianjurkna untuk menghindari situasi syubhat. Namun, tidak ada larangan di situ. Ulama menyimpulkan bahwa harta syubhat adalah makruh.

PENDAPAT MADZHAB SYAFI'I TENTANG HARTA CAMPURAN HALAL DAN HARAM

Madzhab Syafi'iyah berpendapat bahwa uang yang bercampur antara halal dan haram hukum penggunaannya adalah makruh. Imam Suyuthi berkata dalam kitab Al-Ashbah wan-Nadzair

ومنها: معاملة من أكثر ماله حرام، إذا لم يعرف عينه لا يحرم في الأصح لكن يكره، وكذا الأخذ من عطايا السلطان، إذا غلب الحرام في يده، كما قال في شرح المهذب: إن المشهور فيه الكراهة لا التحريم، خلافاً للغزالي

Artinya: Transaksi seseorang yang kebanyakan hartanya haram, apabila tidak diketahui harta apa yang haram, maka tidak haram menurut pendapat yang paling sahih akan tetapi hukumnya makruh. Begitu juga hukum menerima hadiah dari raja apabila mayoritas harta raja itu haram seperti pendapat Nawawi dalam Al-Majmuk Syarah Muhadzab bahwa yang masyhur dalam masalah ini adalah makruh, bukan haram. Ini berbedda dengan pendapat Al-Ghazali (menurutnya hukumnya haram).


PENDAPAT IMAM MALIK DAN HANAFI TENTANG HARTA SYUBHAT (CAMPUR HALAL HARAM)

Madzhab Malik sependapat dengan madzah Syafi'i bahwa harta yang bercampur antara halal dan haram adalah makruh. Menurut salah satu pendapat dari madzhab Maliki hukumnya haram memakan harta syubhat dan menerima hadiah dari harta syubhat.

Sedang Muhammad bin Mustafa Al Khadimi dari madzhab Hanafi dalam kitab Bariqah Mahmudiyah menyatakan bahwa menurut pendapat terpilih di kalangan ulama Hanafi adalah apabila mayoritas harta itu haram, maka status harta dan penggunaannya adalah haram. Dan apabila mayoritas dari harta itu halal, maka hukumnya makruh. Lihat teksnya di bawah:

أن المختار عندهم أنه إن كان الغالب حراماً فحرام، وإن كان الغالب حلالا فموضع توقفنا.

PENDAPAT MADZHAB HANBALI TENTANG HARTA CAMPURAN HALAL DAN HARAM (SYUBHAT)

Ada 4 (empat) pendapat dalam Madzhab Ahmad bin Hanbal (Hanbali) terkait dengan masalah harta syubhat seperti diterangkan oleh Ibnu Muflih dalam kitab Al-Furu' II/660 sbb:

Pertama, apabila diketahui bahwa dalam harta itu terdapat harta halal dan haram, maka hukumnya haram.

Kedua, apabila perkara yang haram itu melebihi 1/3 (sepertiga), maka haram semuanya. Kalau kurang sepertiga maka halal.

Ketiga, apabila yang haram lebih banyak, maka hukumnya haram. Apabila harta yang halal lebih banyak, maka hartanya halal. karena yang sedikit ikut pada yang banyak Seperti dinyatakan Ibnul Jauzi dalam kitab Al-Minhaj.

Keempat, tidak haram secara mutlak. Baik harta yang haram itu sedikit atau banyak tapi makruh. Kemakruhannya meningkat atau menurun berdasarkan kadar banyak atau sedikitnya harta yang haram. Ini pendapat Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Mughni.


MEMAKAN HARTA YANG HALAL ADALAH YANG UTAMA

Namun demikian, memakan harta yang pasti halalnya 100% sangat dianjurkan dalam Islam seperti tersurat dalam QS Al Baqarah 2:172 يا أيها الذين آمنوا كلوا من طيبات ما رزقناكم (Wahai orang yang beriman, makanlah dari rizi yang halal). Dalam QS Al-Mukminun 23:51 Allah berfirman: يا أيها الرسل كلوا من الطيبات واعملوا صالحاً (Wahai para Rasul makanlah makanan yang baik [halal] dan berbuatlah amal shalih). Dalam hadits sahih riwayat Muslim Nabi bersabda:

إن الله طيب لا يقبل إلا طيباً، وإن الله تعالى أمر المؤمنين بما أمر به المرسلي
Artinya: Allah itu baik dan Ia tidak menerima kecuali perkara yang baik (halal). Allah memerintahkan orang yang beriman perkara yang telah diperintahkan pada para Rasul (yakni untuk memakan makanan halal dalam QS 23:51 di atas).

KESIMPULAN:

1. Harta yang 100% haram, maka haram menggunakannya dan bertransaksi dengannya.
2. Harta syubhat atau campuran halal dan haram hukum menggunakannya adalah makruh.

_____________________________________________________


HUKUM JUAL BELI BARANG HARAM

Assalamualaikum wr..wb....
Yang terhormat para uztadz pengasuh al khoirot yg senantiasa di rahmati oleh Allah swt.
Begini uztadz,saya dan teman-teman sering membawa barang-barang sembako ke kapal tanker yang .rata-rata ABKnya orang-orang bule(bangsa Pilipina,Jerman,Ukraina,dll).
Saya bawakan barang sesuai pesanan orang kapal tersebut,masalahnya kadanag mereka memesan daging babi bahkan minta dibawakan yang masih hidup.Pertanyaan saya :

1 Bagaimanakah hukumnya hasil penjualan dari barang-barang tersebut??

Dalam hal ini saya cuma di kasih gaji dari hasil penjualan barang tersebut bukan bagi hasil.

2. Bagaimanakah hukumnya menikahi bibi dalam hal ini sepupu daripada orang tua(bukan saudara orang tua)?

Demikian pertanyaan saya uztadz,saya mohon pencerahannya.....terima kasih.....wassalam....
bugiez pramana

JAWABAN

1. Jual beli barang haram adalah haram. Dan harta yang didapat dari penjualan itu hukumnya haram. Menjual babi sama halnya dengan menjual minuman keras. Lihat: Hukum Menjual Minuman Keras

2. Bibi sepupu bukanlah mahram. Karena itu sah dan boleh menikahi bibi sepupu. Yang tidak boleh adalah menikahi bibi langsung alias saudara ayah atau ibu. Lihat: Maharam dalam Islam

_____________________________________________________


HUKUM LABA BISNIS HALAL DARI HARTA HARAM

Apabila seseorang memiliki harta haram baik itu didapat dari bisnis haram seperti judi, jual miras, riba, dll; atau didapat dari mencuri harta orang lain lalu harta haram itu dijadikan modal untuk usaha bisnis yang halal maka status laba keuntungannya apakah halal atau haram dan siapa yang berhak memilikinya, maka ulama berbeda pendapat sbb:

Menurut madzhab Syafi'i dan Maliki keuntungan menjadi milik si pelaku (pencuri) karena dia harus menggantinya apabila harta itu rusak atau pemilik harta haram. Menurut madzhab Hanbali, labanya harus dikembalikan pada pemilik uang. Sedangkan Abu Hanifah dari madzhab Hanafi berpendapat laba itu harus disedekahkan karena berasal dari sebab yang rusak atau haram.

Kasus yang sama juga berlaku bagi orang yang menerima uang titipan lalu uang titipan itu dijadikan modal usaha oleh penerima titipan.

As-Syarbini Al-Khatib (madzhab Syafi'i) menyatakan dalam kitab Mughnil Muhtaj hlm. 3/363: sbb:

لو اتجر الغاصب في المال المغصوب فالربح له في الأظهر

Artinya: Apabila ghasib (orang yang ghasab) menjalankan harta yang dighasab, maka keuntungan menjadi miliknya menurut pendapat yang adzhar

Ibnu Qudamah (madzhab Hanbali) dalam Al-Mughni, hlm. 5/159, menyatakan:

وإذا غصب أثمانا فاتجر بها , أو عروضا فباعها واتجر بثمنها , فقال أصحابنا : الربح للمالك , والسلع المشتراة له ... قال الشريف : وعن أحمد أنه يتصدق به

Artinya: Apabila seseorang mengghasab (mencuri) harta lalu dibuat modal usaha atau mengghasab benda lalu dijual dan dibuat modal usaha maka menurut madzhab Hanbali labanya diberikan kepada pemilik.. Al-Syarif berkata: Menurut Ahmad bin Hanbal keuntungan itu disedekahkan.

Pendapat lain dari madzhab Maliki menyatakan ia berhak mendapat separuh keuntungan, sedangkan separuhnya kepada pemilik harta. Dalam Al-Mausuah Al-Fiqhiyah, Vol. 22 hlm. 84 terdapat uraian perbedaan pendapat ulama empat madzhab sebagai berikut:

الربح المختلف فيه، فمنه ما نتج عن التصرف فيما كان تحت يد الإنسان من مال غيره، سواء كانت يد أمانة كالمودع، أم يد ضمان كالغاصب وخلافه، وقد اختلف الفقهاء في هذه المسألة على أقوال:

فالحنفية على أن الربح لا يطيب لمن تصرف في المغصوب أو الوديعة، هذا عند أبي حنيفة ومحمد خلافا لأبي يوسف.ووجه ذلك عند أبي يوسف أنه حصل التصرف في ضمانه وملكه.أما الضمان فظاهر ; لأن المغصوب دخل في ضمان الغاصب، وأما الملك ; فلأنه يملكه من وقت الغصب إذا ضمن، وعند أبي حنيفة ومحمد أن التصرف حصل في ملكه وضمانه، لكنه بسبب خبيث ; لأنه تصرف في ملك الغير بغير إذنه، وما هو كذلك فسبيله التصدق به، إذ الفرع يحصل على وصف الأصل، وأصله حديث الشاة حيث أمر النبي - صلى الله عليه وسلم - بالتصدق بلحمها على الأسرى.

وأما عند المالكية والشافعية في الأظهر فالربح لمن تصرف في الوديعة وليس للمالك ; لأنها لو تلفت لضمنها، وقال الشربيني الخطيب: لو اتجر الغاصب في المال المغصوب فالربح له في الأظهر، فإذا غصب دراهم واشترى شيئا في ذمته ونقد الدراهم في ثمنه وربح رد مثل الدراهم ; لأنها مثلية إن تعذر عليه رد ما أخذه، وإلا وجب عليه رده بعينه، أما إذا اشترى بعينه فالجديد بطلانه.

وعند الحنابلة: الربح لصاحب الوديعة أو مالك المغصوب.

Kesimpulan: Harta yang dicuri harus dikembaikan. Harta haram yang bukan dari hasil mencuri harus disedekahkan pada fakir miskin. Sedangkan keuntungan atau laba dari harta haram itu boleh dipakai menurut madzhab Syafi'i dan Maliki, dan dikembalikan juga ke pemilik harta menurut madzhab Hanbali, disedekahkan menurut madzhab Hanafi.


CARA MEMBERSIHKAN DAN MENYUCIKAN HARTA HARAM

Ibnu Qayyim seorang ulama madzhab Hanbali dalam Zadul Ma'ad hlm. 5/778 menjelaskan cara menyucikan harta haram sebagai berikut:

أن طريق التخلص من هذا المال وتمام التوبة إنما يكون : " بالتصدق به ، فإن كان محتاجا إليه فله أن يأخذ قدر حاجته

Artinya: Adapun cara untuk membersihkan harta haram dan kesempurnaan taubat adalah dengan cara mensedekahkan harta haram tersebut. Apabila ia juga membutuhkan, maka ia boleh mengambil menurut kebutuhannya.



Cari artikel lain:




Copy link berikut untuk referensi kutipan:

Jangan lupa baca yang ini juga ..